Situ Bagendit

Jawa Barat

a/n: Nah, kali ini cerita Situ Bagendit dari Garut yang di request sama Rhaa-san. ^^

Disclaimer: Cerita Situ Bagendit dan karakter Naruto bukan punya Rika.

Warning: AU, OOC, typo, cerita yang rada diubah, Old!Tsunade, straight.

Cast:

Nyai Endit : Karin

Nenek tua : Tsunade

=W=

Baru kali ini setelah sekian hari Sai dapat bersantai di pagi hari, tidak perlu kabur ataupun menerima serangan-serangan mematikan. 'Ternyata hidup ini indah, ya..'

And the story begin...

Karin adalah seorang yang sangat kaya. Paling kaya diantara seluruh penduduk desa.

Desa Konoha dimana rumahnya berada adalah desa yang sangat subur. Mereka tidak pernah kekurangan air, dan itu adalah penyebab tuaian di desa itu selalu berlimpah ruah. Sayangnya, para petani di desa itu tidak dapat merasakan hasil dari jerih payah mereka. Mereka tetap hidup miskin dan menderita.

Alasannya sederhana, karena Karin memaksa para petani tersebut untuk menjual padi dengan harga murah, kalau tidak, centeng-centengnya akan menyiksa mereka. Setelah para petani itu kehabisan padi, Karin akan menjual padi yang dibelinya dari mereka dengan harga yang sangat tinggi.

.

"Hahh... Kenapa nasib kita harus begini sih.. Sudah capek kerja, masih harus membayar mahal untuk beli padi, lagi. Padahal padi itu kan hasil kerja keras kita juga," keluh seorang petani bernama Kiba.

"Jangan bicara terlalu kencang. Nanti kalau terdengar sama centeng-centengnya Nyai Karin saja, baru tahu rasa kau," tegur temannya, Shino.

"Iya, iya.. Huh!" Kiba lalu melanjutkan kegiatan bertaninya.

.

Sementara itu, di rumah Karin, perempuan berambut merah itu sedang mengawasi centeng-centengnya memeriksa lumbungnya.

"Bagaimana? Apa sudah semua?" tanya Karin.

"Sudah, Nyai."

"Bagus. Aku tidak sabar menunggu para petani itu kehabisan persediaan padi mereka dan membelinya padaku. Hahaha.." Karin tertawa kejam.

.

Setelah lewat beberapa minggu, tibalah saat persediaan padi para petani habis. Ada beberapa yang sudah membelinya pada Karin dan ada beberapa yang masih belum karena belum punya uang.

Pasangan Sasuke dan Sakura merupakan salah satunya.

"Beras kita sudah habis, Pak. Bagaimana ini? Mana kita belum punya uang lagi. Anak-anak juga sudah mengeluh kelaparan," kata Sakura.

"Sabarlah sebentar, aku akan mencari pinjaman uang. Berapa harga padi yang dijual Nyai Karin sekarang?" tanya suaminya.

"Menurut kabar yang saya dengar dari Ino, katanya lima kali lipat dari harga waktu kita jual dulu," jawab perempuan berambut pink itu.

"Baiklah, tunggu sebentar ya, Bu."

Sasuke keluar dari rumahnya dan berjalan menuju tetangga-tetangganya. Kalau dilihat dari luar, kelihatannya dia tenang-tenang saja, tapi, sebenarnya di dalam hatinya dia khawatir juga, karena dia tahu meminjam uang tidak akan semudah itu, apalagi tetangga-tetangganya juga hidup miskin.

.

Lain dengan Sasuke, pasangan Shino dan Hinata sudah membeli padi dari Karin. Hinata sedang menumbuk padi yang baru saja dibelinya pada Karin saat seorang nenek tua memanggilnya.

"Permisi, saya mau bertanya, rumah orang paling kaya di sini dimana ya?" tanya nenek itu.

"Ma-Maksud nenek ru-rumah Nyi Ka-Karin?" tanya Hinata gugup. Dia memang tidak terbiasa dengan orang asing. Apalagi bila orang asing itu membicarakan orang yang dibenci seluruh penduduk desa.

"Ya, mungkin itu namanya. Apa kamu tahu dimana?"

"Ne-nenek ha-hanya perlu lu-lurus sampai be-bertemu pertigaan. La-lalu nenek be-belok kiri. Na-nanti nenek a-akan melihat rumah yang be-besar sekali. I-itu adalah tumah Nyi Ka-Karin. Memangnya, ke-kenapa nenek i-ingin ke sana?"

"Aku ingin meminta sedekah di sana."

Hinata memperhatikan wanita tua itu. Rambutnya sudah memutih, walau masih dapat terlihat beberapa helai yang berwarna pirang, matanya yang berwarna biru memancarkan ketegasan dan kebijakan seakan-akan menceritakan pengalaman hidup yang sudah dia lalui, Hinata juga merasa ia melihat rasa iba terpancar dari mata itu. Pakaiannya kumal, sepertinya sudah beberapa hari dia tidak menggantinya.

"Le-Lebih baik ja-jangan, nek. Nyai Ka-Karin tidak akan mem-memberikan sedekah. Ka-Kalau nenek lapar, ne-nenek bisa makan di te-tempatku. Tapi, ha-hanya seadanya."

"Tidak usah. Aku hanya ingin tahu apa reaksinya kalau ada pengemis datang ketempatnya saja. Oh iya, sekalian beri tahu yang lain untuk meninggalkan desa ini. Aku akan mendatangkan banjir ke tempat ini."

"A-Apa? Banjir? Ta-Tapi nek, ini kan musim ke-kemarau. Mana mu-Mungkin banjir?"

"Pokoknya lakukan saja apa yang aku katakan."

"Ba-baiklah, nek." Hinata segera pergi untuk menyampaikan kabar tersebut ke suami dan teman-temannya.

.

Seperginya Hinata, nenek tua itu melanjutkan perjalanannya ke rumah Karin.

Begitu tiba di tempat tujuan, centeng-centeng Karin langsung menghalanginya.

"Nenek tua, sedang apa kamu di sini?" tanya salah satu centeng.

"Aku ingin bertemu dengan pemilik rumah ini. Aku ingin meminta sedekah."

Para centeng yang ada di situ saling berpandangan, sebelum akhirnya tertawa terbahak-bahak.

"Nyadar dong, nek.. Kamu tuh gelandangan. Kotor, bau lagi. Ngaca dulu kalau mau ketemu Nyi Karin," ujar centeng yang berada di dekatnya setalah ia dapat menghentikan tawanya.

"Aku tidak peduli. Pokoknya aku mau ketemu dengan Karin," ujar nenek itu. Dia lalu berteriak, "KARIN! KELUAR KAU! KARIN!"

"Hei, nenek tua, kamu ngapain sih? Nanti kalau Nyai Karin dengar dia bisa marah-marah tau! Sudah, pergi sana!" Centeng tersebut kemudian mendorongnya.

Nenek tua itu tidak bergeming dari tempatnya. Dia bahkan terus memanggil-manggil Karin. "KARIN! "

Mendengar keributan di depan rumahnya, Karin langsung keluar.

"Hoi! Siapa tuh! Nggak tahu orang lagi makan ya? Berisik aja!" serunya.

"Karin! Kamu sudah tega membuat penduduk desa ini sengsara! Aku akan membuatmu menyesalinya!"

"Ha! Banyak bicara kau nenek tua! Aku nggak peduli sama mereka! Aku juga nggak peduli sama kamu! Mau membuat aku menyesal? Dasar orang gila! Centeng! Usir dia dari sini!"

Sebelum centeng-centeng Karin menyentuhnya, nenek tua itu berseru, "Tidak perlu mengusirku! Aku akan pergi bila kau bisa mencabut tongkat ini!" Dia lalu menancapkan tongkat yang sejak tadi dibawanya ke tanah.

"Dasar bodoh. Apa susahnya mencabut tongkat begitu." Karin berjalan menghampiri tongkat itu dan menariknya. Anehnya, meski sudah ditarik sekuat tenaga, Karin tetap tidak dapat mencabutnya.

"Hei, kalian! Kenapa bengong? Ayo, cepat cabut tongkat ini!" perintah Karin pada centeng-centangnya.

Meskipun sudah ditarik oleh sekian banyak orang, tongkat itu tetap tidak bergeming. Akhirnya, nenek tua itu berkata, "Lihat, mencabut tongkat itu saja kamu tidak bisa." Dia lalu mencabut tongkat tersebut dengan satu tangan.

Setelah tongkat itu tercabut, keluar air dari dalam tanah bekas tongkat itu. Karin pun panik.

"Apa yang terjadi?"

"Air itu adalah air mata para penduduk desa yang sengsara karena kamu. Terimalah." Dengan itu, nenek tua tersebut tiba-tiba menghilang.

"Ba-Bagaimana ini? Kalian! Cepat timbun lubang itu dengan tanah," perintah Karin.

Karin lalu masuk kedalam rumahnya untuk menyelamatkan seluruh harta bendanya.

Tapi, semuanya sia-sia, meski sudah ditimbun dengan tanah, air terus saja mengalir. Akhirnya, Karin pun tenggelam bersama seluruh harta bendanya.

Tempat yang dipenuhi air itu sekarang disebut 'Situ Bakarin'. Situ yang berarti danau dan bakarin berasal dari kata Karin.

Sampai sekarang pun, beberapa orang percaya kalau kadang-kadang kalian dapat melihat seekor lintah berukuran sebesar kasur yang berada di dasar danau. Lintah tersebut dipercaya merupakan jalmaan dari Karin yang terkubur bersama hartanya.

Then the story finished

a/n: Begitulah ceritanya... Nama danaunya sih, seharusnya Situ Bagendit, tapi karena ada asal-usulnya, jadi aku rubah deh..

Balesan review:

Naru Mania: Jadi, ceritanya tuh si Mikoto 'kawin' sama Fugaku. Tau kawin kan?

Key Ichi Aroora: Sampe 300? Wah, ga janji ya.. XD