Akatsuki Bences
Maaf telat, lagi ga ada ide.
Tapi ini akan di selesaikan dalam chapter ini. Jadi maaf kalau tiap Tokoh cuma ada sedikit cerita.

Hidan,

Semua orang memandangnya, semua mata tertuju padanya. Apakah karena ia terkenal? Tidak juga. Apa karena ia cantik? Sangat jauh. Apa karena ia seksi? Emm...seksi sih iya, tapi kurasa juga bukan.

Ia dipandang karena keunikannya. Rambut putih penuh uban yang disisir rapi kearah belakang. Bulu mata lentiknya, juga pakaian miko-nya (bayangin aja Kikyou dari Inuyasha). Ia memakai kalung segitiga terbalik, tanda ia pengikut ajaran sesat Jashinisme. Banci kaleng itu, Hidan.

Matanya terpancang pada laki-laki brewok yang sedang menyalakan cerutunya. Asuma.

Tanpa diduga, tiada angin, tiada petir, tiada guntur, tiada hujan, Hidan memeluknya dari belakang. Asuma yang terkejut hanya dapat memegang tangan yang memeluknya tadi.

'wah, ternyata para fansgirlku sangat agresif. Langsung main peluk aja di tempat umum,' batinnya narsis. Wajahnya memerah.

Namun ada yang aneh, dada yang memeluknya ini mengapa datar sekali? Jangan-jangan yang memeluknya ini adalah...

"Iih, kamu ganteng deh. Brewokan pula, tipe ike nih," kata orang yang memeluk Asuma tadi, dengan nada khas penunggu daerah Taman Lawang Konoha ini.

...Banci!

Sontak Asuma berontak, berusaha lepas dengan sekuat tenaga. Namun apa daya, pelukan itu sangat erat. Wajar sih, yang memeluknya kan laki-laki.

Kini Asuma dapat merasakan hembusan napas makhluk itu menyapu tengkuknya. Ia pun mulai berdoa. Semoga apa yang ia pikirkan ini takkan terjadi.

Namun kelihatannya, pengikut Jashin ini beruntung. Ia dapat melakukannya. Mencium pipi Asuma. Oh tidak, MENCIUM saudara-saudara. Meninggalkan bekas merah disana.

Asuma pun tepar kehabisan darah. Bukan karena segel jutsu yang biasa digunakan Hidan. Tapi karena, Asuma muntah darah. Asuma, Hari itu tewas dipelukan Hidan.

Sungguh akhir cerita yang romantis *?*

Kakuzu,

Seperti biasa Kakashi berjalan-jalan disekitar taman dengan Icha-Icha Paradaise di atas hidungnya.

Namun kelihatannya hari ini ada yang mampu membuat matanya teralih dari halaman buku karangan tuan Jiraiya. Seseorang yang memakai jubah hitam (tanpa tanda bulan merah, khas wanita arab). Memakai kerudung dan cadar berwarna hitam sehingga hanya nampak mata kuningnya.

'wow, wanita arab!' batin Kakashi senang, seperti mendapat durian runtuh. 'Kata orang, wanita yang kaya begini bodynya wow, kulitnya putih karena jarang terkena sinar matahari dan wajahnya pasti cantik dengan hidung mancung.'

Tanpa menunggu waktu lama, Kakashi mulai mendekatinya. Biasa, PDKT.

"Hey gadis," sapanya seperti lirik lagu milik Samsons. "Ngapain sendirian? Mendingan jalan sama abang aja, dijamin puas!" sisi playboy Kakashi mulai muncul.

Orang itu (yang menurut Kakashi gadis) hanya diam.

"Kenapa diam?" tanya Kakashi penasaran. "Malu sama abang ya?" katanya sambil menjawil pipi yang terlindung oleh cadar hitam itu.

Orang itu terkikik. Firasat buruk mulai menjalari perasaan Kakashi. Namun ia tak perduli.

"Boleh abangmu ini melihat wajah cantik adinda yang terhalang oleh selembar kain tipis ini?" Kakashi semakin percaya diri untuk menggodanya. Apalagi kini dilihatnya orang itu mengangguk malu.

Perlahan, ia menurunkun cadar itu. Apa yang terjadi.

Gerakan Kakashi terhenti. Cadar itu perlahan jatuh ketanah. Apa yang membuat seorang Kakashi menjadi sangat shock?

Apa pipi yang sangat merah itu? Atau bibir berlepotan lipstik itu? Jawabannya bukan keduanya. Kalau 2 hal itu masih dapat dimaklumi. Tapi wajah orang itu yang tak diragukan lagi, wajah seorang kakek bangkotan.

Kakashi, tak menunggu waktu lebih lama lagi mengambil langkah seribu no jutsu. Melihat kecengannya kabur, Kakuzu pun bertindak. Ia mengejar Kakashi.

"Jangan lari bo, ike ini adindamu!"

Sasori,

Gaara, Kankuro dan Temari hari ini mengunjungi Konoha untuk menyerahkan gulungan resmi milik Godaime Hokage. Tanpa mereka duga, mereka akan bertemu sepupu mereka.

Gaara memandang lurus kearah 'cewek' yang sangat manis. Memakai pakaian lolita gothic yang tentu saja berwarna hitam. Rambutnya merah bata seperti Gaara, namun lebih panjang.

'Manis,' batin Gaara. Mukanya sedikit memerah.

"Kau demam Gaara?" tanya Temari khawatir, mengira Gaara demam karena wajahnya yang memerah. Kan jarang banget Gaara blushing.

"Dia..." ia menunjuk 'cewek' yang berjalan kearah mereka, "Manis sekali," kata Gaara dengan pandangan berbunga-bunga.

Temari mengorek telinganya sendiri. Mengira telinganya bermasalah. Kankuro melakukan harakiri dengan masuk ke kagutsu-nya sendiri.

"Gaara-kun!" pekik 'cewek' manis tadi setelah ada di depan Gaara. Gaara terkejut bahwa 'cewek' itu ternyata kenal dengannya.

"Kau lupa denganku Gaara-kun?" bahkan suaranya sangat bening ditelinga Gaara.

"K-kau siapa?"

"Ini aku, Sasori-chan!" nada suaranya berubah, menjadi seperti saat Sasori ada di dalam boneka Hiruko.

Temari yang pertama kali sadar, ia mengibaskan kipasnya sekuat tenaga membuat Sasori terbang. Menghilang.

"Gaara?"

Gaara pundung di bak pasir yang ada di taman tersebut. Mungkin ia frustasi. Mengetahui ia jatuh cinta dengan sepupunya sendiri yang notabene adalah laki-laki tulen.

Tak ada yang menyalahkanmu Gaara, ia memang benar-benar manis.

Tobi,

"Pergi dariku! Banci kaleng berkarat!"

Seorang pria agak tua berlari kencan sambil berteriak sepanjang jalan. Ia dikejar oleh makhluk mungil memakai tank top ekstra ketat berwarna pink, ditambah hot pants berwarna hitam. Ia berlari sambil menenteng sepatu berhak tinggi ia lepas karena tidak memungkinkan ia berlari. Ia memakai topeng milik Haku yang telah ia curi. Ialah Tobi.

Dan yang dikejar adalah Jiraiya.

Siapa yang mau dikejar banci kaleng, autis pula?

Deidara,

"Ino, dia mirip deh sama kamu. Malahan kelihatan lebih cantik dari kamu," kata Sakura yang sedang berbicara (baca : bergosip) dengan Ino.

"Yang mana?" tanya Ino celingukan.

"Itu, yang pake gaun sindir rela."

"Cinderela maksudmu?" kata Ino membetulkan.

Siapa lagi yang mirip Ino kalau bukan Deidara. Ia memakai gaun yang mirip sekali dengan gaun Cinderela. Rambut pirangnya dikepang satu. Sepatu kacanya nampak mengkilat di kakinya. Ia juga memakai payung yang berwarna kuning dengan renda putih diujungnya.

Ia nampak anggun, jika saja ia tidak menggoda setiap lelaki yang ia temui di jalan dengan nada khas banci kalengnya.

"Hai boo... Ih, ada yang brondong. Tipe ike bo."

Ino dan Sakura sweatdrop.

Kisame,

Suigetsu yang memisahkan diri dari tim Taka setelah Insiden Itachi. Ia tertarik dengan kerumunan orang-orang yang ada di tengah taman.

"Ma, Ma, itu ikan atau manusia ma?" tanya seorang anak pada ibunya.

"Itu siluman ikan," jawab ibunya ketus sambil menyeret anaknya pergi.

Hal ini membuat Suigetsu semakin penasaran. Ia pun maju merengsek barisan orang-orang yang ada di depannya.

Disana, di tengah air mancur duduk makhluk setengah siluman dan setengah ikan. Ia memakai rambut palsu yang terbuat dari ganggang hijau. Ia hanya memakai bra berwarna biru. Dari pinggang ke kaki, adalah ekor ikan.

Ia tersenyum kepada Suigetsu. Suigetsu menatap horor pada Kisame, 'Itukah ahli pedang terhebat, si Hoshigaki Kisame?' batinnya gusar. Ia pun meluber, pingsan.

Orochimaru,

Sasuke yang lari kalang kabut tanpa arah menabrak seseorang.

"Maaf... Aku tidak se..." Sasuke menatap horor kepada orang yang ditabraknya.

Orang itu memakai pakaian balet, lengkap dengan tutu yang dikombinasikan dengan selendang bulu yang semuanya berwarna pink.

"...ngaja," Sasuke menyelesaikan ucapannya dengan mulut terbuka. Lagi-lagi ia harus bertemu dengan makhluk gaje seperti ini. Apakah ini hari sialnya?

"Sasu-chan... Ike merindukanmu..." Orochimaru memeluk erat tubuh Sasuke yang tidak bergerak karena shock.

Orochimaru menjulurkan lidahnya, menjilat leher Sasuke. Sasuke merinding. Orochimaru tidak menyiakan kesempatannya kali ini. Ia menghisap kuat leher mulus itu, meninggalkan tanda merah disana. Tapi kali ini berbeda dengan segel ghaib yang diberikan Sasuke pertama kali. Kalau dulu tiga titik, sekarang hanya dua dan berwarna merah. Itulah kissmark milik Orochimaru.

Sasuke pingsan dalam pelukan kakek pedhofil yang telah menjelma menjadi banci kaleng ini. Ia pun menggendong Sasuke bridal style.

Ia bertanya pada salah satu pengunjung disana dengan wajah mupeng.

"Dimana hotel terdekat?"

-F I N-

-
akhirnya clear dengan amat sangat dipaksakan. Ini karena keterbatasan ide dan sindrom malas mengetik yang panjang-panjang.

Anggap aja Orochimaru tidak mati saat Sasuke membentuk tim Taka.

Rei ingatkan... Don't like, don't read and Review...