Kyaaa~! Akhirnya jadi juga fic ini~~~ 3

Tau Anisha Asakura kan? (OC made by me, not myself~ XP) ceritanya dia tersesat di Gregory Hotel. Kira-kira dia bakalan betah nggak ya tinggal di hotel serem itu? XD

Selamat membaca~!

~-_-_-_-_-~

Di... Mana ini?

Aku berjalan sempoyongan di kuburan luas nan sunyi, dipenuhi dengan kabut tebal. Ditambah dengan malam hari yang sedang berkuasa saat ini, membuat tempat ini diselubungi dengan kegelapan. Aku ingin menangis.

"Eh?"

Aku melihat sebuah rumah. Cukup tua, namun terlihat sangat besar dan hangat. Di atas pintu rumah itu ada tulisan 'GREGORY HOUSE' yang ditulis dengan kasar seolah-olah dibuat dari cakaran kucing. Ya, ya, aku tahu aku punya kucing, tapi aku tak suka kalau kucingku membuat ulah seperti ini. Aku masuk ke dalam hotel itu.

KREK

Tak ada siapa-siapa. Aku menoleh kesana kemari, melihat lobi hotel yang sunyi itu. Ruangannya hanya diterangi dengan lilin dan beberapa lampu yang menempel di dinding. Di bagian meja resepsionis tak ada apapun, hanya ada rak dengan beberapa tulang di sebagian rak-raknya.

ZAT!

"KYAAAAAAAAA!!!!" Aku berteriak kencang sampai terjatuh ke lantai. Ada sesosok (atau seekor?) tikus berbulu kelabu tinggi semampai berambut abu-abu bermantel pink lusuh dengan baju bergaris-garis merah hitam dan berwajah kusam dengan beberapa kerutan muncul dari belakangku.

"Oh, maafkan saya nona, saya tak bermaksud membuat nona secantik anda sekaget ini." sahut tikus itu sambil membantuku berdiri kembali. "Apa anda ingin memesan kamar?"

Bagaimana ini, pikirku. Aku harus segera pulang atau kalau tidak aku akan dimarahi...

"Bagaimana? Kau ingin memesan kamar?" tanya tikus itu kembali. "Lagipula, percuma saja kau pergi dari sini. Kau pasti kelelahan setelah perjalanan jauh. Khihihihi..." tawanya terdengar melengking dan misterius. "... Bagaimana, my dear?"

Aku mengangguk cepat dengan takut-takut.

"Baiklah. Sebelumnya, my dear, siapa namamu?" tanya tikus itu lagi.

"Namaku... Anisha Asakura." jawabku dengan takut-takut.

"Ah, nona Anisha. Nama yang manis, my dear. Tapi sepertinya saya sudah cukup memanggil anda dengan my dear." jawab tikus itu lancang. "Namaku Gregory, pemilik hotel ini." jawabnya sambil mengambil lilin dan sebuah kunci. "My dear, Pasti kau kelelahan kan? Khihihihi..."

Aku terus saja mengikuti kemana Gregory berjalan dari belakang. Aku terlalu takut untuk melihat, jadi kuputuskan saja untuk menundukkan kepalaku selagi mendengar langkah pelan dari Gregory.

"Ini dia kamarmu, my dear." tunjuk Gregory pada pintu kamar bernomor 206. "Silahkan masuk."

KREK.

Gregory membukakan pintu kamarku. Ada kamar yang cukup sederhana dengan tempat tidur dengan selimut berwarna merah darah. Di situ juga ada kamar mandi, lemari tua dan sebuah meja untuk menulis. Aku terkejut saat melihat beberapa bercak darah dari lantai. Aku menatap Gregory dengan ketakutan.

"Oh! My dear, jangan takut," Gregory menenangkanku. "Tamu yang sebelumnya mengalami kecelakaan, dan membuatnya menyisakan ini. Tenang saja, my dear, khihihihi..." tawanya menunda pembicaraannya padaku. "... Aku akan membersihkannya dan menyiapkan vas dengan bunga mawar untukmu di meja. Kau suka bunga mawar, kan?"

Aku mengangguk cepat, karena bunga mawar memang bunga favoritku. Aku langsung tersenyum manis. Gregory ikut tersenyum, entah senyum ceria atau senyum misterius. Dua-duanya sama saja menurutku.

"Baiklah, silahkan beristirahat, nona." sahut Gregory. "Aku akan datang kembali dan membawakan vas dengan bunga mawar yang kujanjikan segera. Kalau ada apa-apa, jangan ragu-ragu berteriak memanggilku."

Aku mengangguk.

Tak lama selagi aku beristirahat, sebuah ketukan pelan terdengar dari pintu kamarku. "Ya, siapa ya?" tanyaku lembut.

"Ini aku, Gregory." jawab Gregory dengan nada serak miliknya seperti biasa. "Aku membawakan ember dan pel. Dan tentu saja, vas dengan bunga mawar yang kujanjikan."

"Ah! Silahkan masuk, tuan Gregory." sapaku ramah sambil mempersilahkan pemilik hotel ini masuk. Dia dengan cekatan membersihkan lantai yang berbercak darah. Awalnya aku juga ingin membantu, namun Gregory melarangku. Aku tersenyum saja dan membiarkannya membersihkan lantai.

"Ah, sudah selesai, my dear." sahut Gregory. Setelah itu dia meletakkan vas berwarna orange krem dengan sekuntum mawar merah terang di mejaku. Kedua mataku langsung berbinar-binar melihat kembang yang wanginya semerbak itu.

"Ouch!" Gregory merintih kesakitan.

Aku terkejut. Ada setetes darah menetes dari jari Gregory. Bunga mawar tadi juga terdapat darah di durinya.

"Ohh, maafkan saya, my dear." ucap Gregory lirih. "Bunga ini memang cantik dan indah, namun berbahaya bila disentuh."

Aku mengangguk saja dan bertanya padanya apakah dia membutuhkan plester atau obat. "Mng... Tuan Gregory, apa kau butuh sesuatu untuk lukamu?" tetapi dia menggeleng saja dan berjalan menuju keluar kamarku.

"Kalau ada apa-apa jangan ragu memanggilku. Khihihihi..."

Aku memutuskan untuk mandi saja dan mengganti bajuku. Setelah itu, langsung saja aku melompat ke kasur dan tidur.

~-_-_-_-_-~

Larut malam. Aku sudah tertidur pulas di kasurku sebelum aku mendengar seseorang memanggilku.

"Hei... Nona... Tolong, sentuh aku... Peluk aku... Sentuh aku... Pegangi aku... Kumohon..."

Aku terbangun. Aku segera terduduk di kasurku sambil mengucek mataku. Suara tadi menghilang. Kupejamkan kembali mataku untuk kembali ke alam mimpi.

"Nona... Jangan tidur kembali... Kumohon... Jangan tidur lagi... Temani aku... Pegangi aku...Sentuh aku..."

Lagi-lagi suara itu. Aku terbangun dan mulai gemetaran. Apakah itu hantu? Saat aku menoleh ke arah meja, aku langsung terdiam.

Bunga mawar itu perlahan-lahan bergerak, memanjang menjadi sulur-sulur berduri yang ingin mengejarku. Seluruh tubuhku kaku, tak mampu kugerakkan. Sulur berduri tadi membuat sulur lagi dari duri-durinya dan membentuk sebuah tangan seperti tangan kucing yang mulai menyerangku dan mencabik-cabik tubuhku. Ajaibnya, aku langsung bisa berteriak keras dan berlari keluar dari kamarku.

"TUAN GREGORRRRYYYYYY!!!!!" teriakku kencang.

GABRUK!

"Whoa! Ada apa my dear?! Kenapa kau panik??" tanya Gregory. Pasti dia sedang berkeliling di sekitar hall hotel, membuatku dapat menemukannya dengan mudah. Aku langsung menjelaskan semua yang terjadi di kamarku dengan panik.

"Hah?! Apa? Bunga mawar di kamarmu??" tanya Gregory heran. Aku hanya bisa membiarkannya masuk ke kamarku.

Saat kami masuk ke kamar, tak ada perubahan di kamar tersebut. Aku langsung kebingungan. Satu-satunya perubahan yang terjadi di kamarku hanyalah bunga mawar yang ada di meja sudah layu.

"Ya ampun, bunga mawar ini sudah layu... Segala sesuatu yang indah terkadang memang menghilang dengan cepat dan begitu saja... Sepertinya kau kepikiran sampai-sampai terbawa alam mimpi... My dear, biarkan aku membakar bunga mawar ini untukmu." ucapnya sambil mendekatkan lilin yang selalu dibawanya dengan tempat lilin dari besi berkarat ke arah bunga mawar layu tadi.

Aku membiarkan saja pemilik hotel ini membakar bunga mawarku. "Oh! Apakah kau punya bunga mawar hitam? Aku ingin sekali melihatnya kembali..."

"Bunga mawar hitam, my dear?" tanya Gregory. "Hmm... Memang susah mendapatkannya, berhubung itu bunga yang langka... Tapi sebagai pemilik hotel aku berjanji akan memesannya untukmu. Mungkin kau bisa menunggu selama dua minggu?"

Aku mengangguk riang. Aku rindu sekali dengan bunga mawar hitam milikku yang berada di kamar milikku dulu.

"Baiklah, my dear. Aku akan menelpon dari kota lain untuk memesankannya untukmu." Gregory pergi keluar menuju pintu kamarku. "Baiklah. Kau tidurlah dan beristirahatlah, my dear..."

~-_-_-_-_-~

AA: Hai semua~! Senang deh bisa publish fic lagi~~

Anisha: A... Anu... *blush* Eng... Apa benar nih cerita ini bakal dibaca sama para pembaca?

AA: Hah? Memangnya kenapa?

Anisha: Itu... *nunjuk ke bagian profil* Tuh, cuma sedikit...

AA: Mereka itu punya kesibukan mereka masing-masing, Anisha-san. Kau harus mengerti.

Anisha: Mng.... Ya sudah, karena kau adalah pembuatku, aku setuju-setuju saja~! ^^ Dinantikan reviewnya~!