Pagi hari yang suram di Gregory Hotel. Aku terbangun dari kasur hangat mungilku yang agak reyot.

"Huaaahmm..." Kukucek mataku sambil melihat sekeliling. Aku, Anisha Asakura, sang murid SMU yang (agak) bodoh dan (sedikit) tulalit yang tersesat di sebuah hotel angker dari suatu tempat yang berhalaman kuburan. Bertugas untuk mengumpulkan jiwa-jiwa yang tersesat milik para penghuni hotel ini.

"Hari ini... Judgement Boy ya?" tanyaku pada diri sendiri. Yap. Timbangan yang bisa bicara, yang "menimbang" jalan masa depan kita. Memang agak aneh, karena dia selalu melayang di langit-langit sambil bernyanyi "Tahukah kau, siapa aku, mereka memanggilku Judgement Boy! Tahukah kau, siapa aku, mereka memanggilku Judgement Boy!"

Aku hendak bangun saat merasa ada sesuatu yang berat melilit di pinggangku. Dengan penasaran segera kulepas selimutku.

Ternyata... Ada sesosok anak kecil memeluk pinggangku.

"!"

Pagi yang tenang dan suram di hotel berubah menjadi teriakan gadis (sepertinya) dodol yang kedatangan 'tamu' di saat tidur.

"Ada apa, my dear!" teriak Gregory muncul di depan pintu kamarku yang dibukanya dengan cepat.

Aku buru-buru menyembunyikan sang pria kecil yang tertidur di kasurku dengan selimutku. "Ah... Tidak ada apa-apa tuan Gregory. Hanya ada kecoa lewat," jawabku berbohong.

"Sungguh? Oh, syukurlah!" kata Gregory lega sambil melepas kacamata bacanya yang bertengger di hidungnya. "Kalau ada apa-apa, jangan ragu berteriak seperti yang anda lakukan barusan."

"Baik tuan," jawabku sambil menganggguk, menunggu sang pemilik hotel pergi. Setelah Gregory menghilang, aku buru-buru melepas kembali selimutku.

Benar. Seorang anak kecil laki-laki tertidur pulas sambil memeluk pinggangku erat-erat. Apa jangan-jangan dia penghuni hotel baru yang punya jiwa tersesat lagi?

"Nyem..."

Ah! Anak itu terbangun!

"... Anda... Anisha Asakura kan?"

"I... Iya?" jawabku bingung.

"... Aku... Tuan Shinigami... Memerintah..." ucap anak itu tersendat. Tuan Shinigami? "Menyuruh... Melindungi..."

"A, apa maksudmu?" tanyaku bingung.

"Aku... Ditugaskan... Melindungi kalian..." bisik anak itu suram. "Anisha Asakura... Dan Neko Zombie... Oleh tuan Shinigami..."

"Tuan... Shinigami? Kau diminta untuk melindungi kami?" tanyaku lagi.

Anak itu mengangguk.

Mungkin dia anak 'utusan' dari tuan Shinigami untuk membantuku mencari jiwa-jiwa tersesat di hotel ini. Aku tersenyum.

"Bagaimana caramu bisa berada di hotel ini? Apa tuan Shinigami yang memunculkanmu di kamarku ini?" tanyaku penasaran.

"... Tikus tua busuk itu... Mencegatku... Dan hampir saja mau kubunuh..."

"Are?" teriakku setengah kaget. "Ja, jangan begitu... Tu, tuan Gregory... Meski dia sudah tua, dia menjalankan hotel ini dengan sangat baik, aku yakin kok!"

"... Kita dan tikus tua itu... Bermusuhan... Tidak baik mempercayai..."

"... Benar juga sih... Kau benar," jawabku pasrah. "Jadi, kau hanya ditugaskan untuk melindungi kami? Bagaimana kau bisa melindungi kami?"

"Iya. Pokoknya akan kutunjukkan aku bisa."

"Syukurlah!" teriakku sambil memeluk pemuda kecil itu. "Aku awalnya ketakutan untuk tinggal di sini... Tapi sekarang aku lega ada anak manis yang bersedia melindungiku!"

"Terima... Kasih..." jawab anak itu terbata-bata dengan nada datar.

"Kalau begitu, mari perkenalkan diri! Kau pasti punya nama, kan?" tanyaku sambil tersenyum.

"Namaku... Hani." Jawab anak itu. "Hani... Itu saja."

"Hani! Nama yang manis!" pujiku sambil kupeluk kembali."Kau harus bertemu dengan Neko Zombie!"

"Terserah..." jawab Hani datar.

-_-_- Neko's Room -_-_-

Baik Neko Zombie maupun Hani saling menatap dingin satu sama lain. Rasanya kami bertiga berada di kutub utara yang dingin sekali. Mereka berdua sama sekali tidak mengucapkan sepatah katapun.

"Ah... Aaa... Kalian..." ucapku gugup, berusaha membuka topik pembicaraan.

"Neko Zombie." sahut Neko Zombie sambil membuang muka.

"Hani. 10 tahun." balas Hani sambil membuang muka juga, menunjukkan sisi judesnya.

"Kalian akrab sedikit dong..." sahutku sambil tersenyum pasrah. Kedua anak ini sama-sama tidak mau akrab, dan mereka saling acuh satu sama lain.

DUAK!

Kami bertiga mendengar suara keras dari ruang makan.

"Suara apa itu?" tanyaku bingung.

"Hanya James. Acuhkan saja, meong," kata Neko Zombie pelan.

"Hani... Ingin tahu..." bisik Hani.

"Hani... James itu anak yang senang menjahili tikus kakek busuk pemilik hotel ini." jelas Neko Zombie kesal. "Makanya mereka itu harus cepat-cepat dimusnahkan. Sama seperti tikus-tikus pengerat menjijikkan di got kotor yang membuat orang bisa muntah."

"Hani setuju. Mereka harus mati..."

Aku memandang ngeri. Awalnya mereka kelihatan tidak bersahabat, sekarang mereka malah sama-sama mengerikan! ... Benar-benar orang yang sedendam itu sangat bisa diajak kerja sama.

"GAWAT!"

Aku mendengar teriakan-teriakan dari para penghuni. Meski belum seminggu aku tinggal di hotel angker ini, aku sudah mengenal berbagai suara-suara penghuni hotel ini.

"Gawat! Sir Gregory berubah! Sir Gregory berubah!" jerit Catherine.

"Eh? Gregory? Tuan?" teriakku kaget. "Hani, ikut aku ya!"

"Baik... Master..." bisik Hani pelan.

"Neko-san, maaf, kutinggalkan sebentar ya," tambahku tersendat sambil mengunci pintu kamar Neko Zombie. Sedangkan Neko Zombie hanya mengangguk diam dan diam saat melihat pintu kamar (atau lebih tepatnya, pintu penjara) tertutup rapat.

Aku dan Hani berlari menyusuri gang lobi dan masuk ke ruang makan yang besar. Di dalam sana para penghuni sedang berkumpul dengan mata takjub menatap seekor tikus abu-abu muda yang berpakaian persis seperti Gregory.

"T... Tuan Gregory...?" lirikku kaget.

"Apa-apaan ini James! Dasar anak bontot muda bandel brengseeek!" teriak tikus muda itu. Ternyata itu memang Gregory, tapi dengan usia yang terpaut seperti anak berusia 5 tahun.

"Ahaha... Mmmmaaf..." tawa James pasrah pada kakeknya yang sudah hampir sama dengan umurnya.

"Mana bisa aku mengendalikan hotel dengan keadaan muda seperti ini?" bentak Gregory kesal.

"Tenang, tenang, tuan Gregory," aku mengangkat Gregory dan menggendongnya. "Biar salah satu dari para penghuni mengurus hotel ini untuk sementara. Kau pasti lapar kan?" tanyaku ramah sambil mempererat pelukanku ke dadaku dan membelai rambut pirang Gregory.

"Ungg... Nyahahaha! Hauuuu! Nyaaa..." Gregory mulai bertingkah seperti bayi yang super duper manja sambil semakin memelukku. Sial, dasar sial. Aku lupa kakek tikus yang satu ini mesumnya itu luar biasa.

"Etoo... Kira-kira apa ada salah satu dari kalian yang bisa menggantikan tuan Gregory mengurus hotel?" tanyaku pada semua penghuni.

James? Tidak. Dia masih terlalu muda.

Hell Chef? Tidak. Dia itu koki.

Catherine? Tidak. Semua penghuni hotel baru bisa-bisa kempes dihisap darah oleh suster maniak darah ini.

Judgement Boy? Tidak. Dia selalu berteriak "JUDGEMEEENT!" dan selalu membuat orang kaget dengan kemunculannya yang selalu mendadak.

Neko Zombie? Bisa-bisa semua penghuni malah menghabisinya hidup-hidup.

Tuan Shinigami? Yang benar saja. Semuanya pasti sudah kabur melihat dewa kematian mengurus hotel.

Cactus Gunman? Tidak. Dia lebih takut suara pintu berderit daripada bunyi suntikan dari Catherine.

Masih ada banyak penghuni di hotel yang belum kukenal, karena itulah aku tidak tahu sifat masing-masing semua penghuni hotel.

"Aku saja." Terdengar suara seorang nenek-nenek tua.

Aku terkejut. Dia sama seperti Gregory, dengan gaun malam hitam hanya saja dia itu wanita.

"Aku, adalah Gregory Mama. Ibu dari Gregory." Sahut tikus itu memperkenalkan diri. "Dan kau. Penghuni baru." Tunjuknya padaku.

GREP

"Kau tidak berhak mengurus hotel ini seenaknya. Dan anak ini biar aku yang urus." Sahut Gregory Mama dingin sambil merenggut Gregory kecil dengan angkuh.

"Maaaa! Nyaaaa!" jerit Gregory sambil loncat dari pelukan ibunya dan berbalik ke gendonganku. Sial. Dia memang memilih dada wanita muda daripada nenek-nenek.

"... Baiklah. Kutitipkan anakku padamu sementara ini." Lirik Gregory Mama kesal padaku. Tapi aku tidak gentar. Ada Shinigami, Neko Zombie, dan Hani di sisiku, yang siap melindungiku.

Setelah Gregory Mama pergi, para penghuni lain juga ikut pergi dari ruang makan.

Aku melirik turun ke arah Gregory. "Dasar... Tuan Gregory mesum."

"Kau tidak sopan berkata seperti itu, my dear. Kau beruntung bisa 'membalas' jasaku saat ini dengan memanjakanku. " jawab Gregory licik sambil mendaratkan kepalanya lagi ke dadaku dengan santai. Kakek tua sialan.

Hani menatap Gregory dengan muka kesal.

"Ada apa, anak ingusan brengsek? Kau kesal?" tanya Gregory dengan nada meledek.

"Ha... Hani, sudah jangan dipikirkan..." Aku berusaha melerai Hani dengan Gregory. "Lebih baik kita mencari James dan memintanya untuk mengembalikan kakeknya seperti semula, ya?"

"... Terserah kamu." jawab Hani dingin sambil berjalan ke arah perpustakaan.

Aku keheranan. Apa aku melakukan sesuatu yang salah?

Hani melihat James sedang sibuk menukar-nukar letak buku di sekitar rak buku-buku berdebu.

"Hei, tikus kecil." Panggil Hani.

"Apa?" jerit James sambil melirik Hani. "Oh... Kau rupanya..." tambahnya lemas, karena sudah tahu kemampuan Hani dalam melakukan psychokinesis.

"Beritahukan cara agar kakekmu yang menjijikan itu kembali seperti semula." ucap Hani tajam sambil melotot ke arah James. "Aku muak melihatnya bergelantungan manja di gendongan masterku. Menjijikkan, sama seperti sampah tua yang harus dimusnahkan secepatnya. Sama seperti kamu!"

"Baik baik baik!" teriak James, langsung sibuk mencari-cari buku.

-_-_- TO BE CONTINUED -_-_-

Ngosh ngosh ngosh...

Cape DX ngebut bikin update 2 fic ternyata cape juga...

Setelah ini apa yang terjadi pada Gregory? Tanyakan pada rumput yang sedang dipangkas, niscaya hidung anda akan mengeluarkan jus tomat segar dengan segera (?). *sedang stress* Hauu~~~ Maafkan anisha yang nggak bisa terlalu aktif di HMI ya QAQ
Tapi untuk review dan apapun, maaf yan kalau anisha balasnya lama DX
Habisnya tugas berjibun banget DX

Oke... Review? :D