Maaf seribu maaf semuanya…aku lupa nyantmin kalau fic-ku ini terinspirasi oleh Drama Asia 'Stair Way to Heaven'… angst banget tuch film… aku sampai nangis nontonnya…

Tapi…. Aku akan merubah jalan ceritanya… tentu saja… karena klu tidak itu namanya menjiplak…

Namun, jika ada kesamaan sedikt jalan ceritanya mohon dimaklumi z yach…

(^.^)"

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Genre : Romance/Angst/

Rated : T

Pairing : SasuSaku, ItaSaku, maybe SasoSaku, maybe too GaaSaku…*maaf, author lupa nyantumin pairnya apa*

Happy reading, Minna-san^^

##Sacrifice##

Pemuda bermata onyx itu terus saja memperhatikan wajah dari seseorang yang sedang terbaring lemah di atas tempat tidur yang didorong oleh kedua suster rumah sakit itu. Kedua alis pemuda itu berkedut satu sama lain, dan dahinya sedikit terlipat. Bibirnya secara spontan bergumam sebuah nama seseorang yang ingin sekali ditemuinya. "Sakura.."

Namun, kemudian pemuda itu menggelengkan kepalanya kekiri dan kekanan. Dan bergumam 'Tidak… tidak mungkin orang itu adalah Sakura.' Beberapa kali pemuda itu bergumam hal tadi dan menutup mata onyxnya sebentar. Dia mengatur nafasnya agar sedikit tenang dengan menghembuskannya berkali-kali lewat mulut.

Memang benar emosinya sungguhlah labil jika pikirannya sudah mulai mengingat seseorang yang selalu ingin di temuinya itu. Bahkan pemuda itu memimpikannya berkali-kali pada saat dia terlelap. Dan ketika dia terbangun dari tidurnya dia akan membuka-buka album photo di telepon genggamnya sendiri dan tersenyum senang melihat orang yang dimimpikannya. Dan dia tidak akan tertidur kembali. Dan meninggalkan lingkaran hitam di bawah matanya keesokan paginya.

Drtt.. drtt..

Sebuah getaran di saku celananya membuat pemuda bermata onyx ini sadar dari lamunannya. Dan bergegas merogoh saku celana depannya. 'From My Mother' tertera dengan jelas di layar telepon genggamnya. Segera saja dia dekatkan telepon genggamnya ke telinga sebelah kanannya setelah sebelumnya menekan tombol hijau.

"Sasuke… kau ada di mana sekarang?" bisa terdengar suara seorang wanita dari sebrang telepon Sasuke.

"Aku sudah berada di rumah sakit sekarang. Sebentar lagi aku sampai kekamar kakak… tunggu saja."

"Oh, baiklah… dan ada seseorang yang ingin kami pertemukan denganmu."

"Hn," jawabSasuke dan setelahnya menutup sambungan telepon itu. Memasukkan kembali telepon genggamnya kedalam saku celana bagian depannya. Dan meneruskan kembali langkahnya menuju kamar rawat inap di mana kakaknya di rawat. Namun, pikirannya masih saja belum bisa melupakan kejadia barusan. Di kepalanya kini mulai mulai memutar-mutar kembali sebuahmemori entah itu baik maupun buruk.

"Akhir-akhir ini aku lebih sering memimpikanmu. Apakah ini artinya sebentar lagi aku akan bertemu denganmu?" batin Sasuke dan tersenyum miris.

Kedua langkah kakinya menggema di koridor rumah sakit yang lumayan sepi. Karena memang masih jam-jam makan siang. Namun, sedikit banyak ada suster yang berlalu lalang di koridor. Hak tinggi sepatu para suster itu berdenting nyaring dengan lantai rumah sakit yang bersih. Dan bayangan suster itu terpantul jelas di lantai rumah sakit yang putih seperti cermin itu.

Pemuda bermata onyx itu mengedarkan pandangannya ke seluruh koridor rumah sakit. Dan ekor matanya jatuh tepat di ujung koridor yang akan berbelok ke arah kanan. Pemuda itu menyipitkan kedua matanya untuk membaca tulisan apa yang tertera tepat di bagian atas sebuah pintu menuju ke sebuah ruangan. Dan setelah benar-benar terlihat bibir tipisnya mengeja sebuah nama yang tercetak jelas di pintu itu. "Dr. Haruno Sakura…" ucapnya dan setelahnya dia menaruh jari telunjuknya di dagu.

Pemuda itu nampak berpikir keras. Terlihat dari dahinya yang juga kembali terlipat. Dan dari kejauhan dia bisa melihat ada seorang suster berambut coklat yang keluar dari ruangan itu. Seorang suster yang sama persis di temuinya pada saat mendorong sebuah tempat tidur pasien, suster berambut coklat yang di cepol dua. Sekilas mereka bertatapan dari jauh dan suster itu melemparkan senyumannya yang di balas ramah oleh Sasuke. Dan setelahnya suster itu pergi entah kemana.

Dan Sasuke masih saja berwajah sedang berpikir. Namun, sedetik kemudian dia kembali teringat akan kedatangannya kemari untuk melihat kakaknya. Segera saja dia berjalan dan tak lama kemudian sampailah dia didepan sebuah pintu. Yang terpampang dengan jelas angka 125, ruangan kakaknya dirawat. Segera saja dia memegang knop pintu itu dan mendorongnya kedalam.

Dan bisa terlihat kini di atas sebuah tempat tidur yang di dominasi oleh warna putih itu ditiduri oleh seseorang. Seorang pemuda berwajah sangat pucat, seperti tak ada darah di balik kulitnya itu. Rambutnya yang berwarna hitam agak panjang itu tergerai begitu saja di sisi-sisi wajahnya. Sebuah alat bantu pernapasan bertengger di wajahnya, menutupi hidung dan mulutnya. Sehingga menutupi sebagian wajahnya yang sangat tampan itu. Selang infuse tertancap rapi di tangan kirinya karena di bebat oleh perban. Menancap dalam di bagian kulit yang putih itu. Menembus pigmen kulit dan pori-pori. Dadanya naik turun dengan teratur menandakan keadaannya sudah membaik.

Langsung saja pemuda bermata onyx itu mendekati tepi tempat tidur. Menatap wajah kakaknya yang sangat pucat. Dia juga mengalihkan pandangannya ke sosok dua orang yang tak jauh berdiri di tepi ranjang yang bersebrangan denan tempat di mana dia berdiri.

"Sasuke.." ucap seorang wanita paruh baya berambut hitam kebiruan sambil mendekati sosok di mana Sasuke berdiri. Memegang kedua bahunya dan kemudian merengkulnya dengan erat. Melepaskan kerinduan yang teramat sangat pada salah satu anak kesayanganya ini. Sebuah cairan bening mengalir begitu saja di kedua pipi wanita itu. "Ibu sangat merindukanmu, Nak."

"Hn… bagaimana keadaan kakak? Apa benar dia sudah melewati massa kritisnya?"

"Uhm… kakakmu memang kuat… begitu kata dokter yang menangani operasinya," jawab Mikoto setelah melepaskan pelukan rindunya pada Sasuke.

"Sasuke.." ucap lelaki paruh baya dengan suara berat khas miliknya dan mendekati Sasuke juga Mikoto.

"Ayah.." ucap Sasuke dan merangkul Ayahnya. Sedangkan Fugaku membalasnya dengan menepuk-nepuk punggung Sasuke.

"Ayah senang melihamu sehat-sehat saja," ucap Fugaku dan melepaskan pelukannya. Menepuk sekilas bahu kiri Sasuke. Fugaku merasa bahagia karena Sasuke telah jauh dari kata beruabah dari sikapnya yang dulu. Arogan, egois, dingin dan bersikap selalu labil jika ada masalah dan juga tak peduli dengan orang lain bahkan orang terdekatnya sekalipun. Berbanding terbalik dengan sikapnya yang bersahabat pada setiap orang sekarang. Dan juga tak bersikap dingin pada keluarganya sendiri. Itu semua berkat seorang gadis yang membawa penyejuk di keluarga Uchiha tersebut. Namun, kini gadis itu di tinggal pergi atau di campakan oleh sang pemuda di hadapan Fugaku ini tanpa alasan yang jelas.

Fugaku tersenyum menyesal dan juga miris mengingat kejadian itu. Lantas dia baru saja akan menyebutkan nama gadis itu di hadapan pemuda ini. Namun, kehadiran seseorang yang baru saja datang di dalam ruangan itu membuat Fugaku menghentikan ucapannya dan tersenyum ramah pada orang itu.

"Apa kabar, Nak?" tanya Fugaku pada sosok yang baru saja masuk kedalam ruangan inap Itachi. Seorang lelaki berpakaian dokter, berambut merah marun dan memiliki sepasang bola mata coklat kemerah-merahan. Sekarang noda darah di bajunya sudah tak ada karena dia sudah mengganti jas dokternya yang berwarna putih itu.

"Baik… paman," jawab laki-laki itu dan mendekati sosok Fugaku, Mikoto juga Sasuke. Langkahnya berhenti tepat di tepi tempat tidur Itachi, memeriksa selang infuse dan juga denyut nadi dengan menyentuh pergelangan tangan kanan Itachi, menyamakannya dengan sebuah jam tangan yang bertengger manis di tangan kirinya.

"Keadaannya sudah jauh lebih membaik," ucap Sasori dan itu membuat semua orang yang ada di sana, Mikoto, Fugaku, Sasuke dan juga Sasori bernafas lega bersamaan. Sebuah senyuman mengembang di setiap bibir insan itu.

"Sekarang kalian semua bisa beristirahat. Aku tahu paman dan juga tante selalu menunggu pasca jalannya operasi Itachi bukan? Dan Sasuke kau pasti setelah mendengar kabar ini langsung terbang ke mari bukan? Pasti kalian semua lelah… pulanglah dan istirahatlah..! Ada banyak suster yang akan mengawasinya nanti," ucap Sasori dan menepuk pelan bahu kiri Sasuke yang berdiri tak jauh dari dirinya.

"Tapi aku ingin…"

"Kau dan Sasuke pulang saja..!" ucap Fugaku memotong ucapan Mikoto dan memegang kedua bahu Mikoto dengan lembut.

"Ayah benar, Bu… sebaikanya kita pulang dan setelah itu baru kembali kemari lagi," ucap Sasuke dan mendekati Mikoto.

"Baiklah Ibu mengerti," ucap Mikoto akhirnya mengalah. Dan menuruti ucapan Sasuke dan Fugaku.

"Kami pamit, Ayah… Sasori," ucap Sasuke dan menggandeng tangan Mikoto keluar ruangan itu.

"Paman… "

"Ya... Nak Sasori?"

"Err… tidak jadi," ucap Sasori akhirnya dan menyibukan diri dengan tabung oksigen dan juga selang infuse Itachi. Namun, pikirannya kini sedang di penuhi dengan pertanyaan-pertanyaan yang Sasori yakin Fugaku maupun anggota Uchiha yang lainnya mengetahui jawabannya. Sasori ingin mengetahui apa hubungan antara Sakura dengan Uchiha. Dan mengapa dia menemukan liontin berisikan dua buah photo yang salah satunya anggota keluarga Uchiha. Dan juga nampak sikap keduanya sangat mesra di dalam photo itu. Apalagi photo Sakura dengan seorang lelaki berambut merah darah.

Dan Sasori juga tak menyadari kini Fugaku menatapnya dengan pandangan curiga. "Apa Sasori mengetahui hubungan antara Sakura dan Sasuke dulu?" batinnya.

##Sacrifice##

Seorang laki-laki tampan bermata onyx kini berjalan dengan santai di koridor Rumah Sakit Konoha yang luas ini. Tak bisa di sembunyikan kini di wajahnya terpeta kelelahan yang teramat sangat. Seorang wanita berambut hitam kebiruan yang berada tepat di sampingnya menatapnya dengan pandangan khawatir. Dengan pelan dia menyentuh bahu kanan pemuda itu. Dan pada akhirnya pemuda itu melirik seseorang di sampingnya dengan ekor matanya.

"Ada apa, Bu?"

"Kau terlihat sangat kelelahan dan juga terlihat… sangat… kurus sekali, Sasuke," ucap Mikoto dan menghentikan langkahnya. Dan hal itu membuat Sasuke juga menghentikan langkahnya. Sasuke menatap kedalam mata onyx di hadapannya dengan lembut. Di bibirnya terlukis sebuah senyuman.

"Aku memang lelah dan sebaikanya kita cepat-cepat pulang. Setelah istirahat yang cukup kita kembali menengok kakak," jawab Sasuke dan kembali melangkahkan kakinya, meninggalkan Mikoto yang masih berdiri kaku ditempatnya.

Mikoto memangdang punggung Sasuke yang sudah agak jauh di depannya. Kedua tangannya dia letakan di dadanya. Kedua mata onyxnya memandang miris dan sayu pada punggung Sasuke. "Kenapa kau tak pernah mau menceritakan apa sebenarnya yang terjadi padamu dulu, Nak?" batin Mikoto dan cairan bening mengalir begitu saja di kedua sudut matanya. Kedua matanya pada saat memandang punggung Sasuke sedikit buram karena air matanya sendiri. Air mata yang jatuh membasahi kedua pipinya dan dengan sukses berakhir jatuh di lantai bening rumah sakit.

"Ibu..!"

Ucap Sasuke sedikit keras karena ternyata Sasuke baru menyadari jika Ibunya masih belum beranjak dari tempatnya berdiri. Dan agak jauh jaraknya dengan dirinya yang sudah mencapai lobi rumah sakit. Mikoto segera saja menghapus aliran air mata di kedua pipinya dengan punggung tangannya kanannya. Sedikit terpaksa di bibirnya di lukiskan sebuah senyuman. Dan sesegera mungkin mempercepat langkahnya mendekati Sasuke.

"Maaf, Nak…"

"Hn.."

Segera saja Sasuke dan Mikoto keluar dari lobi rumah sakit. Keduanya berpapasan dengan seorang laki-laki berambut kuning dan seorang perempuan berambut indigo pada saat akan membuka pintu kaca yang berdaun pintu dua. Sasuke dan Mikoto sama-sama saling pandang dengan kedua orang yang baru datang itu. Mikoto nampak sedikit terkejut melihat sosok keduanya. Sedangkan laki-laki berambut kuning dan juga perempuan berambut indigo melirik sekilas Mikoto tanpa ekspresi. Seolah tak melihat atau mungkin memang tak melihatnya. Entahlah… hati dan pikiran seseorang itu tak bisa kita tebak hanya dengan memandang orang tersebut. Beda dengan ekspresi Sasuke yang sangat luar biasa terkejut, kedua matanya terbelalak lebar dan mulutnya sedikit terbuka.

Mikoto dan Sasuke terus saja berjalan menjauhi halaman depan rumah sakit. Namun, kedua ekor mata mereka masih menatap punggung kedua orang tadi. Di dalam pikiran mereka berdua berenang-renang berbagai pertanyaan yang berbeda satu sama lain.

"Yang tadi itu… Kak Naruto dan Kak Hinata. Kenapa mereka berdua ada di sini?" batin Sasuke.

"Apa terjadi sesuatu dengan Sakura sehingga mereka berdua datang kerumah sakit ini?" batin Mikoto.

##Sacrifice##

"Dimana… Sakura… dia dirawat bukan?" tanya seorang pemuda berambut kuning spike dengan intonasi yang tidak beraturan, karena nafasnya yang memburu tak karuan dan juga sangat panic di setiap kata-kata yang diucapkannya.

Seorang wanita berambut hitam pendek yang tak bukan adalah seorang resepsionis yang bekerja di rumah sakit tersebut mengekerut sedikit dahinya dan juga mulutnya sedikit terbuka. "Ma… maaf?" ucapnya dan mencodongkan sedikit tubuhnya.

Seorang wanita lagi, yang berada tepat disamping pemuda berambut kuning tersebut mengelus-ngelus punggung pemuda itu. Wajah cantik wanita tersebut, juga senyumannya mampu membuat pemuda berambut kuning tersebut sedikit rileks. Dia mengambil nafas dan mengeluarkannya lewat mulut berkali-kali. Mencoba membuat dirinya tenang dan tidak panic terlebih dahulu. Setelah merasa cukup tenang pemuda tersebut mulai membuka suaranya kembali. Dan tak lupa sebuah senyuman yang menawan tercipta di bibir tipisnya. Membuat sang resepsionis dan juga seorang wanita yang berada disampingnya merona kemerahan.

"Dokter Sasori memberitahu kami bahwa Dokter Sakura mengalami kecelakaan saat bertugas. Lalu, di mana letak kamarnya, Nona Shizune?" tanya pemuda tersebut dengan halus.

"Le… letak kamar Dokter Sakura…" ucap Shizune sembari mencari-cari nama Sakura di layar monitor komputernya. "Ada di lantai 25 no 128."

"Terima kasih, Shizune," ucap seorang wanita yang dari tadi diam saja yang berdiri tepat di samping pemuda tersebut. Tak lupa sebuah senyuman bersahabat terlukis di bibir mungilnya itu. Paras yang lembut namun tersirat sedikit ketegasan di wajahnya membuat daya tarik tersendiri. Juga didukung dengan penampilannya yang terlihat sangat anggun, walaupun hanya memakai celana jeans panjang berwarna biru dan atasan kemeja biru dengan aksen bunga lili di dada kirinya. Juga sebuah syal berwarna putih yang melilit leher jenjangnya.

Dan apabila di badingakan dengan penampilan pemuda di sampingnya, semakin serasi saja mereka berdua. Sang pemuda yang memakai baju kantoran dan terlihat sangat rapih, masih lengkap dengan sebuah jas berwarna biru juga yang di pakainya. Ditambah wajahnya yang tampan juga memiliki sebuah senyuman yang menawan.

"Sayang ayo..! Aku sangat khawatir dengan keadaan Sakura," ucap pemuda berambut kuning dan menarik tangan wanita berambut indigo tersebut setelah melemparkan senyuman kepada resepsionis tersebut.

Mereka berdua berjalan meninggalkan meja resepsionis menuju sebuah elevator di ujung koridor rumah sakit yang merupakan satu-satunaya jalan menuju lantai atas. Dan apabila ada yang takut untuk naik elevator bisa menggunakan tangga darurat di samping kanan elevator tersebut.

Pemuda berambut kuning tersebut menekan-nekan tombol elevator menuju ke atas dengan gusar. Kepanikannya kembali melanda dirinya. Wanita yang ada di sampingnya hanya menghela nafas maklum. Dia sudah tahu jika laki-laki yang ada disampingnya tersebut gampang panik. Apalagi menyangkut adik kesayangannya ini. Jadi, dia memilih diam dan mencoba menenangkannya dengan mengelus-ngelus kembali pemuda itu, namun kali ini bagian tangan pemuda tersebut yang sedang menggandengan tangannya dengan erat sekali.

Ting…

Akhirnya pintu elevator tersebut terbuka. Dan orang-orang yang ada di dalamnya pun satu persatu keluar. Pemuda dan wanita tersebut segera masuk kedalam elevator tersebut setelah semua orang keluar semuanya.

Ting…

Pintu elevator tersebut kembali berdenting dan menutup sepenuhnya. Wanita berambut indigo tersebut segera menekan tombol angka 25 karena dirinya lah yang paling dekat dengan tombol-tombol tersebut.

Wanita itu mengalihkan pandangannya kembali ke sosok pemuda yang berada disampingnya. Setelahnya dia menunjukan sebuah senyuman menenangkan. "Naruto… tenanglah… Sakura adalah gadis yang kuat. Kau percaya padaku?" tanyanya dan menangkupkan kedua tangan mungilnya di sisi wajah pemuda tersebut. Warna kulit wanita tersebut yang seputih persolen sangat kontras dengan kulit pemuda tersebut yang kecoklatan. Namun, salah satu perbedaan itulah yang membuat keduanya cocok satu sama lain. Hidup itu lebih berwarna jika ada sebuah perbedaan. Dan hidup ini akan jadi lebih menarik jika berargumen tentang perbedaan tersebut.

"Tentu aku percaya padamu kalau Sakura adalah gadis yang sangat kuat," jawab pemuda yang di panggil Naruto tersebut oleh wanita tersebut.

"Namun, sekuat apapun seseorang pasti akan rapuh juga pada akhirnya. Benar begitu, Hinata?" tanya pemuda tersebut kepada wanita yang di panggil Hinata tersebut. Kedua tangan mungil yang berada di wajahnya dia turunkan perlahan. Dan memandang kedua bola mata lavender di hadapannya dengan sayu. Shappire bertemu dengan lavender. Memandang satu sama lain tanpa berkedip sedetik pun.

"Memang benar… tapi jika seseorang itu di kelilingi oleh orang-orang yang benar-benar menyayanginya. Seseorang itu akan menjadi lebih kuat dan tak akan mudah rapuh kembali," balas Hinata.

"Kau benar, Hinata."

Setelahnya kedua orang tersebut hanya saling diam tanpa ada sepatah kata pun yang keluar dari masing-masing bibir mereka. Sampai pada akhirnya elevator yang mereka naiki sudah mencapai lantai 25.

Ting…

Setelah pintu elevator tersebut terbuka sepenuhnya. Segera saja keduanya langsung keluar dan berjalan sedikit tergesa-gesa. Kedua mata mereka memperhatikan nomor yang tertera di pintu yang mereka lewati.

"126, 127, 128… ini dia," ucap Naruto dan langsung saja masuk kedalamnya. Diikuti oleh sosok Hinata di belakangnya.

"Ya Tuhan Sakura… apa yang terjadi padamu sebenarnya?" ucap Hinata dan menutup mulutnya sendiri dengan kedua tangannya.

Kedua mata lavender dan juga shapiree tersebut menunjukan kesedihan dan juga keterkejutan. Bagaimana tidak? Orang yang sanagt mereka sayangi terbaring lemah di atas termpat tidur yang sepenuhnya di dominasi oleh warna putih ini. Cat dinding dan juga gorden yang di beri warna putih.

Wanita bermata lavender tersebut mendekat ke arah sisi kanan tempat tidur. Sedangkan Naruto ke sisi yang satunya lagi. Kedua tangan orang yang sedang terbaring itu di genggam oleh Hinata dan juga Naruto.

Kini di atas tempat tidur terbaring seorang gadis berambut merah muda panjang yang sedikit berantakan dan tergerai begitu saja di sisi wajahnya. Sebuah perban melilit di bagian dahinya. Wajahnya sangatlah pucat seperti tak ada darah yang mengalir di dalamnya. Padahal kini selang infuse dan juga darah tertancap dalam di pergelangan tangan kirinya. Di bebat sekencang mungkin agar tak lepas. Sebuah alat bantu pernafasan bertengger di wajahnya menutupi mulut dan juga hidungnya yang mancung. Dadanya naik turun saat bernafas dan meninggalkan semacam uap di dalam tabung yang menutupi hidung dan mulutnya tersebut. Kedua matanya terpejam sepenuhnya.

"Sakura kutemukan tergeletak di lantai ruangannya dengan darah segar keluar dari dahinya," ucap tiba-tiba seorang laki-laki berambut merah bata dan berjalan perlahan mendekat ke tempat tidur. Berdiri di samping pemuda berambut kuning yang memandangnya seakan meminta penjelasan lebih lanjut. Hal yang serupa pun terlukis di wajah wanita berambut indigo yang berdiri tepat di depannya.

"Kesehatannya menurun sangat drastis… menyebabkan kerja otak dan juga ototnya mengalami penurunan. Dia kekuarangan asupan makanan dan membuatnya sering mengalami sakit kepala dan keseimbangannyanya juga berpengaruh," jelas Sasori panjang lebar.

Hinata segera menutup mulutnya sendiri, kedua bola mata lavendernya membulat tak percaya. Di kedua sudut matanya mulai terbentuk kristal-kristal bening yang siap jatuh kapan saja. Sedangkan Naruto kedua mata shappire-nya memerah dan kedua tangannya mengepal. Semua orang yang ada di sana merasa tak berguna. Tak berguna untuk membujuk Sakura untuk menghentikan aksi bunuh dirinya ini. Jarang makan dan terus saja bekerja.

Hinata dan Naruto tahu pasti untuk siapa Sakura melakukan ini. Semua kegilaan ini adalah untuk 'dia'. Dia yang selama ini menjadi 'cahaya' dalam kehidupan Sakura di kala Sakura 'jatuh'. Jatuh dalam jurang kesedian karena di tinggal atau di campakan begitu saja oleh 'seseorang' yang sangat dia sayangi dan cintai melebihi dirinya sendiri.

Sudah tak dapat dibendung lagi kini kedua mata lavender itu menurunkan bulir-bulir air mata. Hinata yang tak kuat lagi segera memeluk Sakura yang terbaring lemah. Terisak di dadanya. "Kenapa kau melakukan semua ini, Sakura?" tanyanya dengan suara parau.

"Hinata.." suara lemah dan lirih Naruto terdengar di dalam ruangan itu.

Sasori yang melihatnya hanya terdiam dengan ekspresi bermacam-macam. Sedih, kecewa, khawatir… juga bingung. Bingung kenapa mereka berdua bersikap seperti ini pada Sakura. Sasori tahu rasa sayang kedua orang ini pada Sakura sangatlah besar. Tapi, apakah harus seperti ini? Apakah ada sesuatu hal yang aku tidak ketahui mengenai Sakura? Pikiran bermacam-macam mulai menghantui Sasori.

Namun, kini dia tiba-tiba saja teringat dengan sebuah benda yang dia temukan berada di tangan Sakura. Sebuah Liontin yang sangat cantik, ukiran dan juga pahatannya tak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Tapi, bukan hal masalah ukiran atau apa yang membuat Sasori tertarik. Sangat tertarik sekali. Melainkan isi dari bandul liontin itu yang berbentuk hati. Di sisi kanan dan juga kiri liontin itu terpajang dua buah photo yang di mana wajah kedua orang pria tersebut Sasori kenal baik. Hal itulah yang membuat Sasori tertarik. Hubungan kedua pria itu dengan Sakura. Itulah yang harus Sasori cari jawabannya. Dan kedua orang yang berada di hadpannya inilah yang Sasori yakin mengetaui jawaban dari segala pertanyaannya.

"Na…"

"Permisi… apa benar Sakura dirawat di sini?" tanya seorang gadis berambut kuning di kuncir kuda secara tak sengaja memotong ucapan Sasori. Kedua bola mata shappire-nya menyiratkan sedikit kebingungan. Sebuah senyuman canggung tercipta di bibirnya.

Hinata yang mengenali suara ini langsung berseru, "Ino..! Kau sudah datang."

"Hi… Hinata… jadi benar kamar ini kamar di mana Sakura di rawat. Ya, Tuhan… Sa… Sakura… apa yang terjadi denganmu?" ucap Ino setelah masuk lebih dalam lagi dan langsung di kejutkan dengan keadaan Sakura. Kedua tangan mungilnya membekap mulutnya sendiri.

Dengan langkah lemah Ino menghampiri Hinata dan juga Sakura. Sebelah tangannya terjulur untuk menyentuh tangan Sakura yang bebas dari selang infuse.

"Ada yang ingin aku beritahu mengenai kondisi Sakura. Kita bicara di luar saja," ucap Sasori dan berjalan keluar ruangan itu. Di belakangnya Naruto menyusul Sasori dengan perasaan takut yang luar biasa. Naruto takut jika ada sesuatu mengenai kesehatan Sakura.

Ceklek…

Pintu itu dengan sukses menutup setelah Naruto keluar. Hinata yang mendengarnya langsung mengalihkan pandangannya pada pintu. Kedua alisnya berkedut satu sama lain. "Apa ada yang Sasori sembunyikan dariku mengenai kesehatan Sakura?" batin Hinata.

"Sakura… hiks… hiks…" suara tangisan Ino menggema di ruangan itu dan sukses mengalihkan pandangan Hinata tertuju pada Ino. Hinata mengelus-ngelus punggung Ino dengan bulir air mata yang masih mengalir di kedua sudut matanya, membasahi pipinya yang seputih susu.

"Apa yang ingin kau beritahu padaku mengenai kesehatan Sakura?" tanya Naruto tak sabaran.

"Kesehatannya terus menurun dan hal itu juga membuat zat antibody-nya menurun. Maka dengan begitu penyakit pun akan dengan mudah hinggap di tubuhnya. Yang ingin aku katakan… bersiaplah untuk kemugkinan yang terburuk."

"A… apa maksudmu?"

"Apa Sakura selama ini pernah mengeluh rasa sakit di bagian perutnya?"

"A… aku tak tahu. Dia tak pernah cerita atau mengeluh apapun padaku selama ini."

"Yang aku khawatirkan Sakura mengidap… Kanker Hati. Namun, itu masih saja praduga. Akan aku cek darah Sakura di laboratorium. Dan akan aku beritahukan hasilnya padamu seminggu lagi. Lalu mengenai ini…" ucap Sasori dan menyerahkan sebuah liontin di sebelah tangannya kehadapan Naruto.

"Liontin Sakura…"

"Ya, aku menemukannya dan dia menggenggam benda ini sewaktu dia pingsan," ucap Sasori.

Naruto segera mengambilnya dari tangan Sasori, "Terima kasih karena sudah menyimpannya."

"Sama-sama… tapi, siapa kedua pria yang ada di dalam liontin itu?"

Naruto mengerutkan keningnya tanda tak mengerti. "Maksudmu?"

"Lihatlah ini..!" ucap Sasori dan mengambil alih kembali liontin itu dari tangan Naruto. Kemudian membuka dengan perlahan bandul liontin itu. Setelahnya meyerahkannnya pada Naruto.

Naruto memperhatikan wajah dari kedua pria yang ada di photo tersebut. Seorang pria berambut merah darah dan seorang pria berambut Hitam. Kedua matanya membulat tak kala dia memusatkan kembali penglihatannya pada pemuda berambut merah. "Di… dia," batin Naruto.

"Kau tahu siapa mereka berdua?"

"Ma… maaf aku tak tahu mereka berdua," jawab Naruto dan langsung menutup kembali liontin itu dan memasukkannya ke saku celananya.

"Aku akan kembali kekamar Sakura," ucap Naruto dan langsung pergi begitu saja. Meninggalkan sosok Sasori yang berdiri mematung.

"Kenapa Sakura masih menyimpan photonya? Lalu, pemuda berambut hitam ini apakah 'seseorang' yang sudah mencampakkan Sakura?" batin Naruto dan terus berjalan menuju kamar rawat Sakura.

Sedangkan Sasori memandang punggung Naruto dengan tatapan curiga. "Ada yang kau sembunyikan dariku ternyata, Naruto?" ucap Sasori dan kemudian berjalan menjauhi punggung Naruto. Berencana untuk kembali ke ruang kerjanya.

##Sacrifice##

Seorang wanita paruh baya berambut hitam kebiruan menghela nafas panjang. "Huufftt… akhirnya sampai," ucapnya dan turun dari mobil taksi. Disusul oleh sesosok pemuda berwarna rambut sama.

Dengan segera pemuda tersebut mendahului sang wanita dan membuka pintu gerbang rumahnya yang megah. Di bibirnya sedikit terbentuk sebuah senyuman.

"Tak ada yang berubah sama sekali," batin pemuda tersebut sambil memandang kesekeliling halaman rumahnya yang luas.

Sebuah rumah kaca yang isinya berbagai tanaman hias, kolam air mancur dengan patung bidadari di tengah-tengahnya masih tetap berdiri tegak. Juga sebuah tempat bersantai di samping rumah kaca tersebut. Sebuah senyuman yang lebih lebar tercipta di bibir tipisnya. Ditambah kini di otaknya bermunculan potongan-potongan memori yang pernah tercipta. Dalam penglihatannya dia melihat dirinya sendiri yang masih muda sedang mengejar-ngejar seorang gadis berambut merah muda pendek.

Gadis dalam penglihatannya tersebut tertawa lepas dan bahagianya ketika memasuki rumah kaca tersebut. Kedua kaki mungilnya bergerak dengan lincah menghindari tangkapan kedua tangan sang pemuda. Beberapa kali gadis tersebut berteriak histeris ketika tangan pemuda tersebut berhasil menangkapnya. Dan pada akhirnya sebelah tangan gadis tersebut berhasil tertangkap dan dengan segera pemuda tersebut menariknya hingga tubuh mungil gadis tersebut denga sukses jatuh kepelukannya. Gadis berambut merah muda tesebut nampak kelelahan dan juga panic. Sedangkan sang pemuda menyeringai melihat wajah gadis di hadapannya.

"Hukuman apa yang pantas untuk gadis usil sepertimu yach?" ucap pemuda tersebut.

Suaranya ditelinga Sasuke seperti nyata.

"Sasukeeee… lepaskan aku..! Kau duluan yang usil."

Bahkan suara gadis tersebut terdengar lembut dan juga jelas bagi pendengaran Sasuke. Seakan terhipnotis Sasuke berjalan mendekat pada kedua sosok itu. Mikoto yang memperhtikan Sasuke dari tdi hanya menaikan sebelah alisnya dan menyusul sosok Sasuke.

"Sakura.." batin Sasuke dan tersenyum tipis.

"Terima hukumannya, Sakura," ucap Sasuke yang masih terlihat sangat muda. Dan bocah Uchiha tersebut dengan segera mencium bibir merah muda Sakura dengan lembut. Sedangkan Sakura yang juga masih sangat muda hanya membelalakan kedua mata emeraldnya. Dan tak lupa sebuah semburat merah menghiasi wajah putihnya, di kedua pipi bocah Uchiha pun juga tecipta semburat kemerahan tipis.

"Sasuke… kau kenapa sayang?" tanya Mikoto dan sedikit mengguncangkan bahu Sasuke.

Guncangan di bahunya telah berhasil kembali membawa Sasuke kealam sadarnya. Sasuke memegang keningnya dan memejamkan kedua matanya. Dan bayang-bayang dirinya sewaktu masih muda bersama Sakura hilang begitu saja.

"Maaf Bu, aku lelah sekali. Aku mau kekamar saja," ucap Sasuke dan meninggalkan Mikoto sendirian di dalam rumah kaca tersebut.

"Sasuke… kau.." ucap Mikoto dan beberapa menit kemudian menyusul Sasuke pergi menuju ke dalam kediaman keluarga Uchiha.

##Sacrifice##

Sakura POV

"Dimana aku?" ucapku yang memandang kesekeliling sebuah tempat yang sepertinya nampak tak asing bagiku. "Sebuah halaman sekolah.." ucapku kemudian dan berjalan entah kemana. Namun, setelah sedikit berjalan ke samping gedung sekolah kedua langkah kakiku berhenti begitu saja.

"Indahnya…" ucapku karena begitu terpesona akan keindahan yang ada di hadapanku sekarang. Sebuah Pohon Sakura yang berdiri kokoh dan bersemi dengan indahnya. Warnanya yang berwarna merah muda sangat kontras dengan latar belakang langit yang begitu cerah di atasnya. Angin sejuk menerbangkan kelopaknya hingga berterbangan di langit. Bagaikan menari-nari di langit menemani awan cumulus yang bergerak kesana kemari.

Aku tersenyum lebar melihat pemandangan indah yang berada di hadapanku ini. Aku terus berjalan mendekat ke pohon yang namanya sama denganku itu. Sudah lama sekali aku tidak berkunjung ke sekolah ini. di hitung-hitung sudah 5 tahun lebih aku tak kemari. Senyumku semakin berkembang tak kala melihat sebuah ayunan yang menggantung di salah satu dahan kokoh pohon Sakura tersebut.

Tak ragu sedikit pun segera ku duduki ayunan yang terbuat dari kayu tersebut. Tapi, sayangnya kedua kakiku tak sampai ketanah dan menggantung. Karena itu tak mungkin aku menggerakan ayunan tersebut. Namun, sebuah dorongan dari belakang punggungku berhasil membuat ayunan tersebut terayun kedepan . Satu dorongan lagi dari belakang punggungku membuat ayunan tersebut terayun ke depan jauh dan tinggi.

"Kyaaaa..!" teriakku senang bukannya takut karena ayunannya terayun kedepan dengan tinggi.

Aku sangat menyukai hal seperti ini. Kututup kedua mata ku rapat-rapat. Merasakan terpaan angin yang menerpa wajahku. Aku merasa tenang dan hal ini sangat menyenangkan bagiku. Setelah beberapa lama dorongan ayunan tersebut berkuarang dan hanya terayun ringan saja kedepan. Dan itu membuatku sedikit kecewa dan aku langsung membuka kedua mataku. Hal partama yang aku liat di depanku adalah sepasang mata Jade yang sangat indah. Kedua bola mata emeraldku terbelalak sempurna. Namun, tak dapat di hindari kini sebuah senyuman terpeta jelas di bibirku. Sesosok orang itu berjalan mendekat kerahku dengan senyumannya yang menawan seperti biasa.

"Sakura.." ucapnya.

Ya Tuhan… sudah lama sekali aku tak mendengar namaku terucap di bibirnya. Sungguh aku sangat bahagia mendengar dia menyebutkan namaku seperti biasanya. Lembut dan juga terasa… hangat.

Ketika ayunanku terayun kedepan, ke hadapannya. Segera saja aku turun dari ayunan tersebut dan dia dengan sukses menangkap tubuh mungilku. Aku memeluknya sangat erat dan dia balas memelukku.

Pelukan penuh kasih sayang ini… betapa sangat aku merindukannya. Harum tubuhnya yang segar juga dadanya yang bidang membuatku nyaman berada di dalam pelukannya.

"Aku sangat merindukanmu," ucapku padanya sambil menengadahkan wajahku meliat wajahnya yang sangat tampan.

"Aku juga merasakan hal yang sama denganmu, Sakura," jawabnya dan melepaskan pelukannya.

"Bagaimana kabar bunga sakuraku ini?"

Masih dengan gaya bicara yang sama. Dan masih juga memanggilku dengan sebuatan kesayangannya yang sama seperti biasa. Aku harap ini adalah nyata. Dan kalaupun sebuah mimpi. Aku berharap aku tak akan pernah bangun dari mimpi dan tidur panjangku. Selamanya aku ingin di sini. Bersama dia. Orang yang paling aku sayangi melebihi siapapun di dunia ini.

"Ada banyak hal yang ingin aku ceritakan. Apakah kau mau mendegarkannya?" tanyaku dan memandang wajahnya yang entah kenapa seperti bersinar.

"Tentu saja. Kita masih punya banyak waktu untuk mendengarkan ceritamu."

"Senang sekali aku bisa bertemu denganmu lagi.."

"Gaara…" ucapku dan memeluknya kembali.

Bersambung…

Mari balas review…wkwkwkw…

Intan SasuSaku :

Gomen ne~ updatennya lama skali*sangat*

Review lg yach…hehehe…

Icha Beside Door :

Nie dah q update… review lg yach…hehehe…

Kiran-Angel-Lost :

Makasih karena dah suka dengan pic-ku ini..wkwkwk

Saku sakit apa yach…? Hehe… rahasia…

Hubungan SasuSaku juga msih rahasia…

Review lg yach…^^

Naru-mania :

Yupz, Saso suka Saku…

S.G. masih rahasia juga…wkwkwk…

Nie dah q update… review lg yach…

Haruchi Nigiyama :

Sakura punya penyakit apa lihat saja nanti…wkwkw…

Nie dah q update… review lg yach…^^

Badboy Sheva :

Nie dah update… review lg yach…^^

Kaori a.k.a Yama :

Ya, kasian Itachi… bru pulang langsung kecelakaan*Ngelus punggung Itachi*

Photo yang ada di liontin akan terjawab seiring jalannya waktu*halah*

Saku punya penyakit pa akan terjawab juga nanti.

Nie dah update… review lg yach…

So-Chan 'Luph pLend' :

Nie dah q update… review lg yach…^^

Misa Miyano :

Makasih dah di bilang keren…^^

Go… Gomen… q ga tahu… Dare desu ka?*wajah polos*

Yui-chan :

Hahahaa… Ya, bener. Yg di operasi itu adalah Cintaku*di getok Itachi fC*.

Lalu soal satu orang yang di sebutin ma Yui-chan di chap ini dah kejawab

Review lg yach…^^

Ok… balas review sudah…wkwkw..

Dan aku mengucapkan minta maaf yang sebesar-besarnya pada readers semua karena update'an yang super lama sekali. Di karenakan banyak tugas dan juga maslah… huuftt… hidup ini sungguh sulit untuk di mengerti… lalu mengenai Sakura POV. Reader mengertikan…jadi Sakura itu sedang berada di alam bawah sadarnya… lalu mengenai siapa kedua orang cowok yang ada di dalam liontin Sakura dah kejawab di chapter ini. hehehe… tp, aku kira readers semua bakalan penasaran banget ma akhir fic ku ini nanti…*masih lama banget*

Yosh… akhir kata…

Salam manis, Miko-chan…

Reviews