"Selamat pagi, Sakura-chan!" sapa seorang pemuda berambut kuning, menghentikan sepedanya di depan sebuah kios obat. Cengiran lebar terbentang di wajahnya dari ujung ke ujung. "Hari ini kau makin cantik saja!"

"Dasar kau ini," Sakura tidak menanggapi godaan itu dengan serius, tetap sibuk melanjutkan aktivitasnya menyapu halaman. "Sudah, pergi sana. Aku sedang sibuk, jangan ganggu aku."

"Baiklah, aku tidak akan mengganggumu lagi," pemuda itu tidak tampak sakit hati sama sekali dengan penolakan Sakura. "Tapi nanti siang makan ramen bersamaku ya?"

"Kau yang traktir."

"Haaa~h, dasar. Oke, nanti aku yang traktir. Jangan lupa ya, Sakura-chan!" dia pun kembali mengayuh sepedanya sambil bersiul-siul. Sakura hanya menggeleng-gelengkan kepala.

"Dasar Naruto," gumamnya, setengah jengkel setengah geli. "Selalu seenaknya saja!"

Dia kembali melanjutkan pekerjaannya. Setelah selesai, Sakura masuk ke kios obatnya dan mengambil beberapa dedaunan untuk ditumbuk. Kemarin seorang tabib memesan lima puluh bungkus obat ini dan nanti siang dia akan mengambilnya. Sakura sudah membuat empat puluh, kurang sepuluh lagi.

Tak lama kemudian, obat itu selesai. Sakura membagi ramuan bubuk itu ke dalam sepuluh bungkusan kertas dan mengikatnya rapi, lalu meletakkannya di meja bersama empat puluh bungkus yang lain.

"Permisi. Apa kau menjual obat sakit perut?"

Sakura menoleh. Seorang nenek tua sudah berdiri di depan pintu kiosnya sambil memegangi perut. Wajahnya berkeriut menahan sakit.

"Tentu saja ada. Silakan masuk Nek, biar saya periksa dulu obat apa yang cocok untuk Nenek," kata Sakura ramah. Dia mendekati nenek itu dan membantunya berjalan masuk sambil tersenyum.

Pelanggan pertamanya hari ini!

Disclaimer: Kishimoto Masashi-sensei. I gain no financial advantage by writing this.

Setting: Alternate Universe

.

~Camelia Putih~

Chapter 8: Epilog

.

.

"Sakuraaa!" seorang gadis berambut pirang panjang menghampiri Sakura yang baru kembali ke kios obatnya. "Kau dari mana saja?"

"Makan ramen. Naruto mentraktirku," Sakura tersenyum, lalu membuka pintu kiosnya. "Ada apa, Ino?"

"Jadi kau sudah makan, ya? Padahal aku baru saja mau mengajakmu makan bersama," Ino mengekor masuk ke kios.

"Hei hei, apa boleh kau berkeliaran begini? Siapa yang menjaga kios bungamu?"

"Tidak apa-apa. Kalau ada yang datang, mereka pasti akan mencariku ke sini."

"Kenapa kau bisa seyakin itu?"

Ino memutar mata.

"Jangan bodoh, Sakura, ke mana lagi aku bisa pergi? Kios obatmu ini kan terletak persis di sebelah kios bungaku. Kalaupun aku tidak ada di sini, calon pembeli itu pasti akan kemari dan menanyaimu di mana penjual bunganya," Ino menjelaskan dengan nada puas. Memang masuk akal sih kata-katanya itu.

"Baiklah, baiklah," Sakura tidak ingin berdebat. Dia duduk di belakang mejanya dan mulai menghitung penghasilan hari ini. Ino memerhatikannya sekilas, kemudian mengalihkan pandangannya ke sekeliling kios obat yang sebentar lagi memasuki usia dua tahun itu.

Tiga rak kayu memenuhi ketiga sisi ruangan ini. Masing-masing rak dilabeli nama-nama penyakit dengan rapi, pertanda bahwa obat untuk penyakit itu berada di rak tersebut. Sementara sisi yang berhadapan dengan pintu masuk diisi dengan meja kerja Sakura—tempat pembayaran, pencatatan pesanan, atau bahkan juga berfungsi sebagai tempatnya membuat obat. Di belakang meja itu terdapat laci yang juga penuh label, tetapi bukan label penyakit, melainkan label nama tumbuhan herbal sebagai bahan Sakura membuat obat.

Kios ini terletak di pasar sebuah desa yang cukup ramai, berderetan dengan kios-kios lainnya. Kios obat Haruno Sakura diapit oleh kios bunga Yamanaka Ino di sebelah kiri dan kios buah milik seorang paman yang baik hati di sebelah kanan. Sakura tinggal di bagian belakang bangunan kiosnya, tidak seperti pedagang-pedagang lain yang rumahnya terletak di desa, hutan, atau gunung, terpisah dengan kios masing-masing.

"Hei, Sakura," panggil Ino seraya menuang teh herbal yang disediakan Sakura untuk pelanggan, "bagaimana hubunganmu dengan Uzumaki Naruto?"

"Apanya yang bagaimana? Kami hanya berteman, tahu," mata Sakura tetap tertuju pada lembaran-lembaran ryo yang sedang dihitungnya. Jari-jarinya sibuk menulis dan sesekali menghitung dengan sempoa.

Ino menyesap tehnya, lalu terkikik.

"Sudah jelas dia naksir padamu, Sakura! Kenapa kau tidak coba pacaran dengannya saja?" sekarang suara Ino penuh intonasi menggoda. "Setahuku Naruto cukup baik. Dia sangat ulet dalam menjual es lolinya. Katanya dia sering bereksperimen membuat es loli dalam berbagai rasa agar pilihan rasa yang ada semakin beragam."

"Kami hanya berteman, Ino."

"Kasihan sekali dia," Ino menampilkan wajah memelas. "Tidak seharusnya kau mematahkan hati pemuda polos seperti dia, Haruno Sakura."

Sakura meletakkan penanya dan memandang Ino jengkel.

"Kau cerewet sekali, Ino! Bisa tidak kau tidak menggangguku? Sana, kembali saja ke tokomu sendiri!"

"Iya, iya, aku tidak menggodamu lagi. Dasar pemarah," Ino memonyongkan bibir. Kali ini ia memfokuskan perhatian pada uang yang sedang dihitung Sakura. "Ngomong-ngomong, sepertinya bisnismu belakangan ini bagus."

"Lumayan," Sakura menyahut, seketika berubah ceria. "Sebulan yang lalu seorang tabib kemari untuk membeli beberapa bubuk ramuan. Kami sempat berbincang-bincang dan ternyata dia adalah teman Nona Tsunade, guruku. Dia senang sekali waktu tahu aku ini muridnya. Katanya, asosiasi ahli pengobatan di seluruh negeri ini sangat menyayangkan kematian Nona Tsunade. Makanya dia sangat senang karena menemukanku. Ilmu dan keahlian Nona Tsunade jadi tidak terbawa mati."

Tepat setelah selesai mengucapkannya, keceriaan sesaat itu lenyap secepat datangnya. Membicarakan Nona Tsunade selalu mengingatkan Sakura akan masa lalu yang sudah dikubur dalam-dalam olehnya. Kenangan pahit tentang kematian Nona Tsunade dan Kak Shizune, lalu perseteruannya dengan Kakuzu...

...juga Guru Kakashi yang ditinggalkannya begitu saja.

Sampai saat ini sebersit rasa bersalah masih bercokol di sudut hati Sakura. Ada kalanya ia menyesali keputusannya untuk pergi dan mengharapkan waktu bisa berputar ulang. Seandainya waktu itu Sakura tidak lari lagi, mungkin saat ini dia sudah hidup bahagia bersama Kakashi.

Tapi sudahlah, Sakura merasa tidak pantas menyesalinya. Hidupnya sekarang sama sekali tidak buruk—dia punya tempat tinggal, juga memiliki usaha dan penghasilan yang cukup stabil. Tidak ada lagi penjahat yang mengejar-ngejar, tidak lagi perlu berpura-pura menjadi laki-laki. Dia dikelilingi teman-teman yang baik seperti Ino dan Naruto, walaupun mereka berdua tidak akan pernah bisa menggeser tempat Lee dan Chouji di hatinya.

"...Sakura? Hei, Sakura! Ada apa?" Ino menatapnya khawatir. Sakura buru-buru menggelengkan kepala, tersenyum.

"Tidak apa-apa."

Walaupun Ino juga merupakan orang dari masa lalunya—dia adalah salah satu wanita teman judi di tempat Sakura menyamar dulu—Ino tidak tahu apa-apa mengenai kehidupan penuh luka Sakura. Meski demikian, pada awal-awal mereka bertetangga secara kebetulan di kedua kios ini, Ino pernah menceritakan pada Sakura bagaimana perjalanan hidupnya sehingga sempat terdampar di tempat judi itu. Dia juga menceritakan kisahnya setelah keluar dari sana sampai akhirnya membuka toko bunga ini. Baiknya, dia tak pernah memaksa Sakura bercerita, membuat Sakura sangat berterima kasih karenanya. Di daerah ini tak ada satu orang pun yang tahu masa lalunya dan Sakura ingin tetap membiarkannya seperti itu.

"Kau ini memang tidak asyik. Ya sudah, lanjutkan saja pekerjaanmu! Aku kembali ke tokoku," Ino menghabiskan teh dalam gelasnya, kemudian pergi begitu saja. Rambutnya yang panjang dan terawat melambai di belakangnya.

Sakura hanya mendecakkan lidah dan buru-buru kembali menyibukkan diri dengan pekerjaannya sebelum kilasan-kilasan masa lalu yang ditakutinya kembali datang.

.

.

.

.

.

"Sakura..."

Nona Tsunade dan Kak Shizune mendekatinya. Wajah mereka berdarah-darah, mata mereka putih pucat tanpa bola mata.

"Nona Tsunade... Kak Shizune..." Sakura mundur selangkah, rasa takut menguasainya. Kedua orang itu semakin mendekat, sementara Sakura terus mundur, mundur...

Ia terpojok saat punggungnya menabrak sesuatu. Sakura menoleh dan melihat tebing batu menjulang di belakangnya. Tak ada jalan untuk lari.

Tsunade dan Shizune berhenti satu meter di depannya dan menatapnya dengan mata mereka yang menyeramkan, tapi tidak bicara apa-apa. Rasa ngeri masih meliputi Sakura, tapi kini ia mulai bisa berpikir jernih dan bertanya-tanya, kenapa mereka datang padaku seperti ini?

"Sakura."

Kini Sakura benar-benar membeku. Suara itu...

Seseorang melangkah mendekat, lalu menyibak lewat di antara Tsunade dan Shizune, kini tepat berada di depan Sakura. Seorang pria berambut keperakan dengan bekas luka melintang di mata kirinya menatap Sakura dengan mata menyala-nyala.

"Kenapa waktu itu kau pergi, Sakura?" nada suaranya dingin, tapi ada luka yang bisa Sakura rasakan di sana. "Bukankah aku sudah menjanjikan kebahagiaan untukmu?"

Bulu kuduk Sakura merinding.

"A—aku..."

Tangan Kakashi terulur ke arah lehernya. Sakura menjerit...

"TIDAAAK!"

Matanya membuka, napasnya terengah-engah. Refleks, Sakura meraba lehernya, lalu dengan paranoid memeriksa kanan kirinya.

Tidak ada apa-apa. Kamarnya tetap sama seperti biasa.

Itu tadi hanya mimpi.

Sakura menghela napas lega. Dengan tangan yang sedikit gemetar, dituangnya kendi berisi air ke gelas dan buru-buru diminumnya cairan itu. Sejak dulu Sakura selalu membiasakan diri menyiapkan sekendi air dan gelas di samping futonnya agar ia bisa langsung meneguk segelas air putih setiap bangun tidur.

Setelah ketenangannya kembali, Sakura duduk diam memegangi gelasnya.

Sudah lama sekali ia tidak bermimpi buruk. Dua tahun ini hidupnya sangat damai. Apa karena tadi siang ia sempat teringat masa lalu? Makanya malam ini dia bermimpi seperti itu.

Memimpikan Nona Tsunade, Kak Shizune, Guru Kakashi...

Sakura meneguk lagi air dalam gelasnya. Ketika tetes terakhir sudah berpindah ke kerongkongan, diletakkannya lagi gelas itu ke tempatnya semula. Perlahan ia berbaring lagi, tapi kali ini ia tidak bisa memejamkan mata sama sekali.

Pikirannya terus melayang-layang. Katup yang selama ini dipasangnya untuk menyekat kenangan masa lalu kini sengaja ia buka. Memori-memori membanjir di benaknya, mulai dari ketika Nona Tsunade menyuruhnya tinggal bersama Kakashi sementara waktu sampai saat dirinya memilih meninggalkan gubuk reyot itu untuk kedua kalinya.

Sakura tidak ingat kenangan itu terhenti sampai mana ketika akhirnya ia jatuh tertidur lagi. Waktu terbangun, matahari sudah tinggi. Sinarnya merembes dari celah teralis kayu yang memagari jendelanya.

Kesadaran akan rutinitas yang harus dijalani membuatnya segera bangun dan tidak lagi memikirkan mimpinya semalam. Ia melipat futon dengan rapi dan bersiap-siap membuka kios. Pagi yang cerah selalu memberi suasana menyenangkan akan sebuah hari baru.

Sakura menyapu kios obatnya, membersihkan debu bandel yang menempel di rak, lalu merapikan beberapa barang. Saat sedang sibuk itulah terdengar suara yang tidak asing.

"Sakura-chaaa~n!" sapa Naruto dari luar. Dengan usil ia membunyikan bel sepedanya yang nyaring agar Sakura keluar.

"Jangan berisik, nanti pedagang-pedagang lain terganggu!" Sakura menjitak kepala Naruto. Yang dijitak hanya cengar-cengir sambil mengusap-usap kepalanya.

"Nanti siang makan ramen lagi yuk?" ajak Naruto segera.

"Kau ini. Memangnya kau tidak tahu, makan ramen setiap hari itu tidak sehat?"

"Kalau aku sakit kan tinggal minta obat ke Sakura-chan."

Sakura memutar bola matanya. Naruto cengengesan.

"Sudahlah, sana pergi. Nanti siang aku akan bawakan makanan sehat untukmu."

"Eh? Benarkah?" mata biru Naruto berbinar-binar. "Sakura-chan mau memasak untukku?"

"Itu biar kau tidak makan ramen setiap hari, Bodoh," Sakura mengulum senyum. "Aku juga yang akan repot kalau kau sakit."

Naruto menunjukkan reaksi kesenangan yang berlebihan.

"Sudah sana, cepat pergi. Siapa tahu sudah banyak yang ingin membeli es loli."

"Siap! Terima kasih ya, Sakura-chan! Kutunggu nanti siang dengan tidak sabar!" Naruto mengayuh sepedanya sambil bersiul-siul riang menuju tempatnya mangkal. Di pasar ini dia tidak punya kios sendiri, setiap hari hanya berdiam di satu tempat tertentu dengan kotak es loli yang diikatkan di boncengan sepedanya.

Sakura menatap kepergian Naruto sambil tersenyum sendiri. Naruto selalu ceria dan bersemangat, orang yang sangat menyenangkan. Dia selalu secerah dan sehangat mentari sehingga Sakura terkadang merasa silau karenanya. Karena itulah Sakura selalu menjaga agar perasaannya pada Naruto tidak terlampau jauh. Walaupun Naruto jelas-jelas menyukainya, Sakura tahu dirinya tak akan pernah sepadan untuk Naruto. Seorang Haruno Sakura terlalu kelam untuk berdampingan dengan Uzumaki Naruto yang bersinar.

Selain itu... sudah ada satu nama pria lain yang terpatri di hati Sakura. Nama yang tidak akan dengan mudah tergantikan oleh siapa pun.

Hari itu pelanggan kios obatnya tidak terlalu ramai. Yang datang hanya segelintir orang, mencari obat-obat untuk penyakit biasa seperti demam atau sakit kepala. Ada juga seorang ibu muda yang minta ramuan agar dirinya bisa cepat hamil. Tapi tidak ada tabib yang memesan dalam jumlah besar seperti kemarin-kemarin.

Sepinya kios membuat Sakura memutuskan untuk beristirahat lebih awal, apalagi dia sudah berjanji akan membuatkan makan siang yang sehat untuk Naruto. Setelah menutup pintu kiosnya, ia pergi ke dapur dan memasak nasi. Setelah itu dia menyiapkan sayur-sayuran untuk dimasak.

Satu jam kemudian, tiga bento sudah terbungkus rapi. Sakura tersenyum bangga melihat hasil karyanya. Dulu, ketika masih bersama Nona Tsunade dan Kak Shizune, Sakura tidak pernah memasak dan tak bisa melakukannya. Tapi sejak tinggal di sini, sedikit demi sedikit ia mulai belajar.

Sakura membawa ketiga bungkus bento itu keluar dan mampir ke kios bunga Ino untuk memberikannya satu. Ino sampai terkejut, tapi dia senang sekali karena tidak usah memikirkan makan siang hari itu. Sakura mengajaknya makan siang bersama di tempat Naruto berjualan es lolinya, tapi Ino menolak.

"Kau tidak lihat aku sedang sibuk?" katanya, menunjuk bunga-bunga yang sedang ia rangkai di meja. "Ini pesanan untuk pesta pernikahan putri tuan tanah!"

Akhirnya Sakura meninggalkan Ino dan berjalan menuju tempat mangkal Naruto.

"Sakura-chan! Di sini!" Naruto melambai bersemangat. Sakura tersenyum, lalu mempercepat langkahnya.

"Kau benar-benar datang," ekspresi Naruto menunjukkan seolah-olah ia ingin menangis saking senangnya.

"Kaupikir aku orang yang suka mengingkari janji?" tukas Sakura sambil mendelik. Detik berikutnya ia kembali tersenyum dan menyerahkan bungkusan bento pada Naruto, yang menerimanya dengan bahagia.

Mereka berdua duduk berdampingan di tanah, di dekat sepeda Naruto. Pemuda itu makan lahap sekali, membuat Sakura tak henti-hentinya tersenyum geli melihatnya.

"Ini enak sekali, Sakura-chan!" puji Naruto untuk yang mungkin keduapuluh kalinya dengan mulut penuh. "Jauh lebih enak daripada ramen!"

"Tentu saja, Bodoh. Di mana-mana, masakan rumahan selalu lebih enak daripada masakan restoran."

"Pasti itu karena Sakura-chan memasaknya dengan penuh cinta. Iya kan?"

Sakura memutuskan untuk tidak menanggapinya. Ia senang memerhatikan Naruto makan masakannya dengan lahap seperti itu. Tanpa sadar ia membayangkan, seandainya Kakashi yang—

Astaga, Sakura buru-buru merutuki dirinya sendiri. Kau benar-benar tolol, Haruno Sakura. Pantas saja bayangan masa lalumu yang pahit itu tak pernah pergi darimu.

"Ah, enaknyaaa~" Naruto mengusap mulutnya dengan punggung tangan. "Rasanya ingin lagi deh..."

"Ini, makan saja punyaku, Naruto," Sakura buru-buru menyodorkan kotak bentonya sendiri yang masih tiga perempat penuh. Dari tadi ia lebih sibuk memerhatikan Naruto makan daripada menyuap makanannya sendiri.

"Eh? Mana bisa begitu, Sakura-chan! Kau juga harus makan!"

"Tidak, tidak apa-apa. Aku bisa membuatnya lagi kapan pun, tapi kau kan jarang-jarang makan seperti ini. Ambil saja, Naruto. Aku senang melihatmu makan masakanku."

Naruto cengengesan, lalu akhirnya mengambil kotak bento itu dan memakannya. Sakura tersenyum lagi. Mungkin hanya Naruto-lah yang bisa membuatnya banyak tersenyum seperti ini.

"Permisi, di mana penjualnya?" seorang pria beserta anak laki-lakinya mendekati kotak es loli. Naruto hendak berdiri, tapi Sakura mencegahnya.

"Biar aku saja. Kau makanlah dengan tenang," katanya seraya berdiri. Dia segera melayani pembeli es loli dengan ramah.

Sambil terus mengunyah, Naruto memerhatikan Sakura. Dia benar-benar menyukai gadis itu, bahkan sejak pertama kali melihatnya. Sakura memiliki sesuatu yang tidak dimiliki gadis-gadis lain yang dikenalnya. Seandainya saja dia bisa menikah dengan Sakura!

Tapi Naruto tahu, Sakura selalu menjaga jarak darinya. Ada sesuatu dalam diri Sakura yang tak terjangkau siapa pun, membuat Sakura terkadang begitu jauh. Naruto berpikir, mungkin Sakura memiliki masa lalu yang tidak menyenangkan. Ingin rasanya ia bisa menyembuhkan luka hati Sakura, apa pun itu...

Pembeli es loli bertambah banyak. Siang hari yang panas seperti ini memang teman baik bagi penjual es.

Sakura melayani semuanya dengan cekatan dan efisien. Sesekali ia mengusap rambut anak-anak kecil yang membeli es, juga berbasa-basi ramah dengan orang dewasa yang menyertai mereka. Tak lupa ia mempromosikan betapa enaknya es loli di sini, betapa bervariasi rasa yang ditawarkan. Ia juga berpesan agar besok-besok mereka membeli es loli lagi di sini.

Setelah semua pembeli akhirnya pergi, Sakura mengusap peluh dan menoleh pada Naruto sambil tersenyum lebar. Naruto membalasnya dengan cengiran dan acungan jempol. Makanannya belum habis karena tadi ia terlalu senang memerhatikan Sakura.

"Permisi. Beli es lolinya satu," terdengar suara seseorang.

"Baik, mau rasa apa?" Sakura berpaling pada pembeli itu. Tapi ia langsung terpaku saat melihat siapa yang ada di hadapannya. Orang itu pun tampak sama terkejutnya.

"Sakura...?"

Sakura tergagap sesaat.

"Lee...?"

.

.

.

.

.

Naruto memutar-mutar sumpit di tangannya. Isi kotak bentonya sudah habis, tapi ia tidak berniat membereskannya dan kembali berjualan. Pandangan matanya terpaku pada Sakura dan pemuda bermata besar dan alis tebal itu, yang kini sedang berbicara di depan sebuah kios kosong, beberapa meter dari tempat Naruto duduk.

Betapa inginnya Naruto tahu siapa pemuda itu dan apa yang mereka bicarakan!

Sementara itu Sakura benar-benar tidak siap menghadapi Lee seperti ini. Tak pernah disangkanya dia akan bertemu lagi dengan Lee di daerah ini, tempat yang ia pikir sudah tak terjangkau oleh orang-orang dari masa lalunya itu. Sakura semakin cemas karena khawatir cepat atau lambat ia juga akan bertemu dengan Chouji, bahkan Kakashi...

"Apa kabar, Sakura?" Lee memecah keheningan di antara mereka. "Kau baik-baik saja, kan?"

"Bisa dibilang sangat baik," Sakura memaksakan seulas senyum. "Aku membuka kios obat tak jauh dari sini."

"Baguslah kalau begitu."

Hening lagi. Keheningan yang canggung.

"Kau sendiri?"

"Aku juga baik. Chouji juga," Lee sengaja berhenti di situ, lalu menatap Sakura, menunggu. Sakura menelan ludah.

"Guru Kakashi...?" suara Sakura sangat pelan, nyaris tak terdengar.

"Dia tidak baik," Lee menarik napas berat. "Dia sangat terpukul karena kepergianmu, Sakura. Benar-benar terpukul."

Sakura menghindari tatapan Lee.

"Aku dan Chouji... kami sudah tidak bersamanya lagi," lanjut Lee. "Guru Kakashi terlalu frustrasi karena kepergianmu. Akhirnya dia menyuruh kami kembali ke rumah orang tua kami. Katanya dia mau menutup gudang pembuatan senjata karena dia ingin berkelana mencarimu."

Panas mulai terasa di mata Sakura. Buru-buru gadis itu mengerjap agar kaca-kaca yang ada segera menghilang.

"Kenapa waktu itu kau pergi, Sakura?" Lee menanyakan pertanyaan yang sama sekali tak ingin Sakura jawab. "Padahal kau bisa berbahagia bersama Guru Kakashi."

"Lee, kumohon—"

"Dia sangat mencintaimu, Sakura."

Sakura memejamkan mata. Setetes air mata jatuh tanpa diminta.

"Lee," suara Sakura lemah, "kumohon, hentikan."

"Sakura, aku sangat kasihan melihat keadaan Guru Kakashi yang seperti itu," kata Lee memelas. "Aku ingin kau mempertimbangkan untuk kembali padanya. Atau kalau tidak, temuilah dia. Bicara baik-baik kalau kau memang ingin menyudahinya. Jangan biarkan dia terus terombang-ambing seperti ini."

"Terombang-ambing apanya? Sejak awal tidak ada apa-apa di antara kami, Lee. Dia guruku dan aku muridnya. Itu saja."

Sakura memantapkan hati, kemudian melanjutkan, "Dia yang terlalu berharap. Aku sama sekali tak pernah menjanjikan apa-apa padanya."

"Tapi kau juga mencintainya kan, Sakura?" kalimat yang sangat menohok. "Iya, kan?"

"Maaf Lee, aku harus pergi. Sudah saatnya kios obatku buka lagi. Aku takut ada yang datang dan sangat membutuhkan obat," Sakura tahu dirinya sangat pengecut karena menghindar secara terang-terangan begitu, tapi ia tak punya pilihan lain. Pertanyaan Lee adalah pertanyaan yang selama ini selalu dihindarinya. Ia belum siap menjawabnya, seperti hari ini ia sebenarnya belum siap bertemu lagi dengan Lee.

Sakura berbalik dan berjalan menjauh tanpa menoleh lagi. Tidak dipedulikannya seruan Naruto. Sakura tahu kalau sekali lagi ia berpaling ke belakang, pasti air matanya akan tumpah.

.

.

.

.

.

Sebenarnya jarak antara tempat Naruto berjualan dengan kios obatnya tidak terlalu jauh, tapi Sakura merasa perjalanan itu tak ada habisnya. Ia melangkah seperti boneka mekanis yang hanya mengandalkan fungsi otomatis tubuhnya, sementara pikirannya melayang dan batinnya tersiksa. Pertemuan singkat dengan Lee itu hampir saja meruntuhkan kemapanan perasaan yang telah berhasil dibangunnya selama dua tahun ini.

"Guru Kakashi sangat mencintaimu, Sakura."

Kalimat itu tak berhenti terngiang di telinga Sakura, membuatnya ingin berteriak keras-keras sambil menangis sepuasnya. Dia tahu kalimat itu benar—dia tak meragukannya sama sekali. Guru Kakashi memang mencintainya.

Dan kebenaran fakta itu membuat hati Sakura terasa disayat-sayat. Sakit sekali rasanya, harus menyakiti orang yang mencintainya seperti itu dan sudah melakukan begitu banyak hal untuknya...

"Kau juga mencintainya kan, Sakura?"

Apa iya? Dua tahun ini Sakura kerap bertanya-tanya. Apakah benar perasaan yang ia rasakan terhadap Kakashi itu cinta?

Sakura membuka pintu kios obatnya dan segera menuju mejanya, lalu terhempas lesu di kursi. Ia menyesal karena tadi menawarkan membuat makan siang untuk Naruto, ia menyesal telah mengantarkannya ke sana, ia menyesal sudah memberikan bentonya sendiri, ia menyesal karena membantu Naruto melayani pembeli, ia menyesal bertemu Lee...

...dan di atas segalanya, kini ia benar-benar menyesal karena telah pergi, menampik tawaran menggiurkan Kakashi untuk hidup bahagia bersamanya.

Sakura tahu, ia tidak bisa begini terus. Penyesalan selalu datang terlambat ketika nasi sudah menjadi bubur. Ia harus bangkit dan menapaki hidup yang sudah dipilihnya, menjauh dari semua luka menyakitkan di masa lalu. Gadis itu mulai berpikir untuk membuka hati bagi Naruto, berpacaran lalu mungkin menikah dengannya. Dengan begitu, perlahan-lahan ia akan bisa melupakan Guru Kakashi.

"Sakuraaa, Sakuraaa!" lamunan Sakura buyar seketika karena teriakan Ino. Si penjual bunga muncul di depan pintu kios obat, kelihatannya sangat terburu-buru. Ia memegang rangkaian bunga yang sangat besar di tangannya, membuatnya sedikit kewalahan.

"Kenapa teriak-teriak begitu, Ino?"

"Tolong jaga kios bungaku sebentar! Aku harus segera mengantarkan rangkaian bunga ini ke tempat tuan tanah yang kubilang tadi! Tolong ya!" tanpa mendengar jawaban Sakura, Ino langsung pergi begitu saja, nyaris berlari. Sakura hanya bisa melongo dengan mulut terbuka, lalu akhirnya menggelengkan kepala dan keluar dari kios obatnya, melangkah ke kios bunga di sebelah.

Bekas-bekas peralatan rangkaian bunga Ino masih ditinggalkan pemiliknya di situ dengan berantakan. Sakura akhirnya berinisiatif untuk membuang sampah dan merapikan alat-alat itu hingga akhirnya meja Ino rapi kembali.

Berada di toko bunga Yamanaka selalu memberi kenyamanan tersendiri. Sakura merasa tenteram dikelilingi berbagai bunga warna-warni yang harumnya semerbak memanjakan hidung. Ia menatap sekeliling, menikmati bunga demi bunga yang kebanyakan namanya tidak ia hapal. Semuanya terlihat cantik dan menarik.

Sakura ingat Ino punya buku catatan berisi makna-makna bunga. Si gadis berambut merah jambu mencari-cari di bawah meja, yakin bahwa buku catatan yang pastinya sering dipakai itu tidak akan berada jauh dari sini. Saat ia tidak menemukannya di meja, pandangannya beralih ke rak bibit bunga. Ino suka ceroboh, meletakkan barangnya sembarangan. Sakura menghampiri rak itu dan benar saja, buku tersebut ada di sana.

Sama seperti buku catatan pengobatan milik Sakura, buku itu sudah lusuh pertanda sering dibaca dan ditulisi. Catatan Ino sangat lengkap dan rapi di dalamnya. Setiap halaman menjabarkan dua bunga—namanya, cara merawat, harga dan juga maknanya, ditambah dengan gambar bunga tersebut yang digambar sendiri oleh Ino.

Setiap membaca satu keterangan bunga, Sakura mencari-cari bunga tersebut di kios. Ternyata hampir semuanya ada, mulai dari yang paling umum sampai yang belum pernah Sakura dengar.

Bunga yang ada di halaman selanjutnya membuat hati Sakura mencelos. Ia membaca keterangannya sejenak, lalu mencari bunga tersebut dan menemukannya di sudut, diapit oleh anyelir merah dan bunga seruni.

Sakura membungkuk, menghirup aroma bunga itu.

Camelia putih.

Tidak perlu dikatakan lagi bunga camelia putih itu mengingatkan Sakura pada siapa.

Gadis itu mengambil beberapa tangkai bunga camelia putih, lalu merogoh sakunya dan memasukkan beberapa keping uang logam ke tempat uang Ino. Setelah itu ia berjalan keluar, hendak menaruh bunga camelia putih itu di kiosnya sendiri sebelum nanti kembali lagi ke sini untuk melanjutkan menjaga.

Tapi langkahnya langsung terhenti saat melihat siapa yang berdiri di depan kios obatnya.

Bunga-bunga camelia putih itu jatuh dari tangannya, bertebaran di kakinya.

.

.

.

.

.

"Sakura..."

Gemetar, Sakura berlutut, memungut tangkai-tangkai bunga camelia putih yang tadi jatuh. Ia tidak berani mengangkat wajah meskipun tahu orang itu kini mendekat ke arahnya, kemudian ikut berjongkok dan membantunya memungut. Bahkan tangan itu membersihkan sedikit kotoran yang menodai warna putih di mahkota bunga.

"Bunga camelia putih," kata orang itu pelan. Sakura tetap menunduk, tak berani bergerak. Rasanya bernapas pun ia tak berani.

"Bunga favorit ibuku. Simbol gudang pembuatan senjata kita, yang selalu kita ukir di setiap senjata yang kita buat."

Tangan itu terulur, menyerahkan bunga-bunga camelia putih yang sudah dipungutnya pada Sakura.

"Apa kabar, Sakura?"

Kali ini gadis itu tidak lagi menahan tangis.

.

.

.

.

.

Sakura menuang teh. Tangannya masih sedikit gemetar saat memberikan gelas teh itu kepada tamunya.

"Terima kasih," gumam Hatake Kakashi. Ia meneguk tehnya sedikit, lalu mengedarkan pandangan ke sekeliling. "Jadi ini kios obatmu. Bagus juga."

Sakura tidak menyahut.

"Dan kios bunga yang di sebelah itu?"

"Milik temanku," akhirnya Sakura bisa bersuara, meski hanya menyerupai cicitan. "Dia sedang pergi. Aku dimintai tolong untuk menjaganya."

"Kalau begitu aku datang di waktu yang salah?"

Kapan pun kau datang akan selalu menjadi waktu yang salah, batin Sakura getir. Tapi yang keluar dari mulutnya adalah, "Tidak, tidak apa-apa. Aku sudah menutup kios itu. Tidak akan ada yang datang."

"Begitu," Kakashi meminum tehnya lagi, lalu meletakkan gelasnya di meja dan memandangi Sakura, yang masih terus menunduk jengah.

"Kau belum menjawab pertanyaanku tadi," kata Kakashi dengan sangat tenang. "Apa kabar, Sakura?"

"Kenapa kau bisa ada di sini?" tak tahan, akhirnya Sakura melontarkan pertanyaan itu, tidak menjawab pertanyaan Kakashi. Dadanya sedikit gentar harus menatap langsung mata gurunya, tapi ia berusaha menguatkan diri. "Apakah Lee yang memberitahumu?"

"Tentu saja. Siapa lagi?"

"Tapi bukankah kalian bertiga sudah berpisah? Lalu kau menutup gudang pembuatan senjata dan berkelana sendiri—"

"Apa maksudmu? Gudang pembuatan senjata tidak akan pernah kututup. Saat ini aku memang tidak bersama Lee dan Chouji, tapi bukan berarti kami berpisah. Yah, berpisah sih, tapi bukan seperti berpisah yang kaupikirkan."

Melihat pandangan bingung Sakura, Kakashi berbaik hati menjelaskan, "Aku dan Lee sedang dalam perjalanan pulang usai mengantar pesanan pedang yang kami buat untuk sebuah perguruan samurai di daerah ini. Chouji tidak ikut, dia menunggu di rumah."

Mata Sakura membulat. "Jadi kalian tidak..."

"Seharusnya saat ini aku dan Lee sedang dalam perjalanan ke bukit, tapi karena Lee mengabarkan pertemuannya denganmu, aku menyuruhnya pulang duluan karena masih ada urusan yang harus kuselesaikan," Kakashi menatap Sakura lekat-lekat. "Dan kami berpisah jalan tadi. Dia pulang dan aku kemari."

Sialan Lee, geram Sakura dalam hati. Bisa-bisanya dia berbohong seperti itu padaku! Tak pernah kusangka orang seperti dia bisa menipuku.

"Sudahlah. Sekarang kita benar-benar harus menyelesaikan urusan di antara kita, Haruno Sakura."

Hening. Sakura tahu, kali ini tidak ada jalan untuk lari.

"Aku tidak akan berbasa-basi. Sudah dua tahun, Sakura," Kakashi memulai. "Sudah dua tahun kau pergi, hanya meninggalkan selembar surat itu."

"Lalu apa?" suara Sakura meninggi sedikit. "Apa yang kauharapkan dariku? Kurasa aku sudah mengatakan semuanya dalam surat itu. Tidak ada lagi yang perlu dijelaskan."

"Aku mengharapkanmu kembali," ujar Kakashi. Tatapan dan suaranya yang mantap nyaris menggoyahkan hati Sakura. "Aku tak pernah berhenti mengharapkanmu kembali."

"Itu masalahmu," sahut Sakura langsung, berupaya menyembunyikan getaran dalam suaranya.

"Kenapa kau tak mau mencoba menerimaku, Sakura?" kini ekspresi Kakashi menyuratkan kesedihan, ekspresi yang membuat Sakura ingin memeluknya saat itu juga. "Kenapa kau terus-terusan lari dariku? Apa kau lupa, Nona Tsunade sudah menitipkanmu padaku?"

Sakura menggigit bibir.

"Aku..."

"Kau berhak bahagia, Sakura, setelah semua yang kaualami."

"Sekarang aku sudah bahagia."

"Tidak mungkin kau bahagia selama kau masih dalam pelarian."

Sakura bungkam.

"Kumohon, Sakura, pulanglah," pinta Kakashi memelas. "Pulanglah ke bukit. Ke rumah kita. Bersamaku. Dan kita akan hidup bahagia."

Sakura memalingkan wajah, tak mampu menatap Kakashi. Tapi pria itu tidak menyerah. Dengan kedua tangannya, ia hadapkan kembali wajah Sakura ke arahnya.

"Apa yang salah dariku sampai kau menyiksaku seperti ini?"

Meski harus mengerahkan segenap tenaga yang ia miliki, akhirnya Sakura berhasil menepis tangan Kakashi dari wajahnya.

"Tidak ada yang salah darimu. Masalahnya ada padaku," ia berdiri. "Aku terlalu pengecut. Jadi kukatakan dengan jelas padamu, Guru Kakashi: aku tak akan kembali ke rumah itu. Tidak bisakah kau membiarkanku hidup tenang di sini? Dua tahun ini aku sudah berhasil mengisi lembaran baru kehidupanku, hampir melupakan kenangan pahit tentang Nona Tsunade, Kak Shizune, juga Kakuzu. Kenapa kau datang lagi dan membuatku teringat lagi pada semua itu?"

Kakashi diam saja.

"Aku yang memohon padamu, Guru Kakashi. Pulanglah. Pulanglah dan lanjutkan hidupmu, lupakanlah aku dan carilah wanita lain yang bisa membahagiakanmu. Jangan ganggu aku lagi."

Kemudian Sakura berjalan ke pintu kios obatnya.

"Sudah saatnya kios ini tutup," katanya datar. Kakashi bangkit, menatap Sakura selama beberapa detik dengan pandangan tak terbaca, kemudian akhirnya melangkah keluar. Sakura menutup pintu dan menyandarkan punggung di sana, kemudian merosot ke lantai, menangis. Terisak sampai entah berapa lama.

.

.

.

.

.

Semalaman Sakura tidak bisa tidur. Kedatangan Kakashi merusak seluruh keseimbangannya, yang sudah mulai goyah sejak pertemuannya dengan Lee. Dia hanya berbaring di futon dan menatap langit-langit, sesekali air mata mengalir ke pipinya. Tak sekali pun ia mengusapnya.

Kenapa Guru Kakashi masih menungguku? Kenapa dia menyulitkanku saja...

Sakura tak mengerti apa yang dilihat Kakashi dalam dirinya sampai ia rela terus berharap seperti itu. Padahal Kakashi adalah pria muda yang tampan, pasti akan mudah baginya untuk mendapatkan gadis lain yang jauh lebih segala-galanya daripada seorang Haruno Sakura. Tapi kenapa...

"Seandainya dulu Nona Tsunade tak pernah menyuruhku pergi ke rumah Guru Kakashi," gumam Sakura lirih. "Seandainya dia tak pernah bertemu denganku..."

Kali ini Sakura benar-benar terjaga semalaman. Menjelang fajar, ia merasa sangat lelah dan pusing, tapi tak ada sedikit pun keinginan untuk memejamkan mata. Kendi berisi airnya sudah habis, jadi Sakura bangkit dari futon dan beranjak ke dapur untuk mengisinya.

Baru saja Sakura hendak menuju bejana berisi air matang di atas tungku, terdengar ketukan di pintu kiosnya. Sakura membeku di tempat, jantungnya berdebar kencang. Siapa yang datang pagi-pagi buta begini...?

Kemudian ketukan itu berhenti, digantikan oleh suara lirih seorang pria.

"Mungkin saat ini kau sedang terlelap, Sakura. Aku bukannya ingin membangunkanmu," kata suara itu, yang Sakura kenali betul pemilik suaranya. "Aku hanya ingin mengatakan padamu, aku sudah mengerti apa yang kauinginkan dan aku akan melakukannya. Aku akan kembali ke bukit dan memulai hidup baru sepertimu, tidak lagi menunggumu. Aku juga tak akan mengganggumu lagi."

Sakura terhenyak. Ia tahu seharusnya ia senang mendengar kata-kata Kakashi itu, tapi kenapa matanya mengkhianatinya dan malah mengeluarkan genangan air?

"Tapi untuk mengakhiri segalanya ini, aku ingin mengatakan padamu," jeda sejenak. "Aku mencintaimu, Sakura..."

Bahu Sakura berguncang. Ia terduduk di lantai, menutup mulut dengan tangannya untuk menahan isak tangis yang mendesak keluar.

"Selamat tinggal..."

Terdengar langkah kaki menjauhi pintu. Sakura lemas di tempatnya, bimbang antara ingin mencegah kepergian Kakashi atau tidak. Namun detik berikutnya ia berdiri dan langsung berlari membuka pintu.

Sosok Kakashi sudah tidak ada di sana.

Sakura memejamkan mata, pasrah. Saat ia membukanya lagi dan menatap ke bawah, ia menemukan seikat bunga camelia putih di lantai.

Sekujur tubuh Sakura bergetar. Makna bunga camelia putih yang tadi siang dibacanya di buku catatan Ino langsung menyeruak ke puncak ingatannya.

Cinta yang abadi.

.

.

.

.

.

Sakura berlari kencang melewati deretan kios yang belum buka. Langit masih gelap, udaranya juga masih dingin. Fajar belum juga menyingsing.

Gadis itu terus berlari, berlari tanpa memedulikan sekelilingnya. Dadanya terasa terbakar, tapi ia tak peduli. Hanya ada satu tujuan di kepalanya saat ini.

Ia melewati desa, memasuki hutan. Bau embun pagi masih kentara sekali di sini. Mulai terengah, Sakura berhenti. Di tengah kegelapan, mata hijau Sakura berusaha mencari.

"Guru Kakashi!" ia bermaksud berteriak, tapi yang keluar hanya suara lemah. Kakinya berjalan lagi, hatinya penuh doa. Berharap agar segera menemukan sosok itu—

Sebuah akar pohon membuatnya tersandung. Sakura terjerembab, telapak tangan dan lututnya terasa sakit sekali. Namun ia buru-buru bangkit. Luka seperti ini saja tak boleh menghambatnya, sama sekali tak boleh.

Entah berapa lama ia terus berjalan, berusaha menemukan sosok yang dicarinya. Sedikit rasa putus asa mulai menghampiri. Hingga akhirnya Sakura berpikir, seandainya ia tak menemukan Kakashi, ia akan kembali ke kios obatnya dan melupakan segalanya.

...tapi rupanya ia tidak ditakdirkan melakukan itu.

Tubuh tinggi itu, punggung itu, rambut keperakan itu! Sakura melihatnya. Hatake Kakashi sedang berjalan mendaki, memanggul buntalan di pundaknya.

"Guru Kakashi...!" sekuat tenaga, Sakura memanggil. Ia melihat Kakashi menghentikan langkah, lalu akhirnya menoleh.

Entah pergi ke mana rasa sakit akibat jatuh tadi. Sakura berlari, sedikit tersandung-sandung, ke arah pria itu. Menghambur langsung ke pelukannya, menangis di dadanya yang bidang.

"Sakura—"

"Aku ingin pulang," Sakura mengisak. "Aku ingin pulang ke gubuk reyot itu. Aku ingin membuat senjata lagi di gudang pembuatan senjata itu. Aku ingin hidup bahagia bersamamu."

Hati Sakura terasa sangat lega ketika merasakan sentuhan tangan kukuh Kakashi mengelus rambut merah jambunya.

"Kau benar-benar ingin pulang...?" suara Kakashi lembut. Sakura menengadah, menatap Kakashi dengan wajahnya yang masih bersimbah air mata.

"Aku mencintaimu, Guru Kakashi. Aku ingin bersamamu."

Kakashi tertegun sesaat, lalu akhirnya tersenyum hangat. Tangannya mengusap air mata di pipi Sakura, lalu ia mendekatkan wajahnya ke wajah gadis itu...

.

.

.

.

.

.

.

BGM: Nunmul (Tears) by HowL

OST Painter of The Wind

.

.

.

.

.

.

Camelia Putih finally ends here.

.

Special thanks for all readers and reviewers,

Those who followed and favorited this fanfiction,

And had been patiently waiting for this epilogue for a year.

Hope you'll be satisfied with this real ending of Camelia Putih.

Please watch "Painter of the Wind", the inspiration of this story.

Thank you~!

-Sanich Iyonni-