Disclaimer : Masih tetap sama, Naruto pada dasarnya punya guru saya, Masashi Kishimoto, *di guyur minyak dari gunung myoboku, 'kamu bukan muridku!*

Tak bosan-bosannya saya ingatkan, Ini fanfic dengan genre humor pertama saya. Namun saya mohon maaf segede-gedenya, karena porsi romance-nya sekarang jadi yang utama. Yah, ceritanya mulai mendekati akhir.

Saya harus siap-siap dibakar Ripiuwers n' para Readers. Habisnya saya bener-bener *sumpeh* kesulitan bikin SaiIno, hahaha, mengingat otak saya lebih gampang membuat cerita ShikaIno. *digebuk rame-rame*

Pairing utamanya adalah SasuHina ! baru urutan selanjutnya NaruSaku n' SaiIno.

Special to : Luth Melody, chapter ini masih kental Sasuhina lho, request yang basket-basket antara Naru n' Saku ada di ending di chapter depan. Tapi mungkin agak sedikit lebey. Hahahaha. Gomen.

Maka,

Don't like don't read don't blame….

Prince VS Princess Chapter 6

"Hei Ino, boleh aku bertanya sesuatu padamu?" tanya Naruto. Ia memutar kursi di depan Ino dan menopang dagunya di meja Ino.

"Ada apa Naruto?" tanya Ino malas.

"Sebenarnya, apa alasan Sakura pingsan Sabtu kemarin?" tanya Naruto penasaran.

Kali ini Ino tersentak mendengarnya, tak menyangka seorang Uzumaki Naruto akan mencari info tentang sahabatnya itu darinya. Ino tersenyum, "Aku tak begitu tahu sih, Naruto, tapi…"

Mata blue shappire Naruto terlihat berkilau. Ia benar-benar ingin mendengar jawaban Ino, "Tapi apa Ino?" tanyanya bersemangat.

Ino tersenyum lagi, "Mungkin teringat pada seseorang yang disukainya." jawab Ino.

"Apa?"

"Aku dengar dari Hinata, ada seseorang yang pernah menolongnya, sama dengan yang kau lakukan Naruto, dia melindungi Sakura dari bola basket yang melayang ke arah kepalanya," jawab Ino ikut bersemangat, "tapi sayangnya, yang menolong Sakura itu malah pingsan terkena bola."

"Oh, begitu, pantas saja," gumam Naruto, "lalu maksudnya 'ditampar' itu apa?"

"Ditampar?" Ino nampak berpikir keras, "oh, aku ingat, mungkin karena Sakura ditampar oleh tunangan si laki-laki itu."

"…" Naruto terlihat berpikir.

"Maklumlah, Sakura masih terpukul karena membuat cinta pertamanya terluka karena dirinya, Naruto," jelas Ino lagi.

"Ap..apa? cinta pertamanya?" tanya Naruto lagi.

"Kau cemburu?" tanya Kiba tiba-tiba. Kiba langsung nimbrung di samping Ino.

"Cemburu apanya Kiba?" tanya Naruto sewot. Ino tersenyum melihatnya.

Kiba tertawa melihat reaksi Naruto, "Bilang saja kau menyukai Haruno Sakura kan?" desak Kiba. "tadi pagi waktu papasan dengannya di dekat gedung olahraga, wajah kalian langsung memerah.". Ino menatapnya dengan tatapan penuh selidik. Wajah naruto memerah.

"Aku jadi penasaran, apa sebenarnya yang terjadi di antara kalian berdua waktu di ruang kesehatan," kata Ino, "bilang saja kau naksir Sakura kan?"

"Bu..bukan," sanggah Naruto, "bukan begitu…, jangan mendesakku, lalu siapa laki-laki itu?"

"Hyuuga Neji, dua tahun diatas kita."

Naruto menoleh ke arah belakang. Sai. Dan di belakangnya lagi ada Sasuke. Sial. Kali ini Sasuke pasti mengejeknya habis-habisan.

"Darimana kau tahu nama itu, Sai?" tanya Sasuke datar. Ia bereaksi karena mendengar nama 'Hyuuga'.

"Yah, dari anak-anak di klub Seni, ada yang pernah cerita bahwa Hinata mempunyai kakak, dan tunangan kakaknya pernah menampar Sakura di gedung olahraga, pasti itu kan?" jelas Sai.

Ino dan Kiba mengangguk semangat.

"Jadi, kau benar menyukainya?" tanya Sasuke.

Wajah Naruto memerah. Ia tidak menjawab. "Kau akan mengejekku kan, Teme."

"Tidak, Baka." jawab Sasuke singkat. Sasuke memalingkan mukanya.

Sai tersenyum. Sai memang cerads menganalisa pikiran orang. "Ino-chan, apa Hinata hari ini tidak masuk?"

Ino menggeleng, "Sepertinya tidak, mungkin sakit, aku nanti akan datang ke rumahnya."

"Sakit?" tanya Sasuke cepat. Semua langsung memandang ke arah Sasuke. Menatapnya dengan pandangan curiga. Perlahan garis tipis berwarna merah menghiasi pipi seorang Uchiha Sasuke. Naruto terkejut menatapnya. Seingatnya wajah seperti ini hanya muncul sekali. Yaitu ketika Sasuke demam. Dan kali ini, hanya karena mendengar nama Hinata.

"Wah, sepertinya dua temanmu sedang jatuh cinta, Sai." celetuk Kiba seenaknya. Sai tersenyum senang. Tebakannya beberapa hari ini benar.

"Benarkah itu?" tanya Ino kaget.

Sasuke langsung menatap keempat temannya itu dengan death glare. Kiba langsung berniat pergi, "Wah..wah..maaf, sepertinya aku kebanyakan bicara ya…" kata Kiba sambil tertawa.

Sasuke langsung berjalan pergi ke tempat duduk barisan belakang. Naruto dan Sai langsung mengikutinya. Sasuke mengambil tempat duduk di dekat jendela. Sasuke mengusap rambutnya. Pikirannya terlihat kalut.

.

o.O.o.O.o.O.o.O.o.O.o.O

.

Keesokan paginya, Naruto, Sai, dan Sasuke yang baru akan turun dari mobil melihat Sakura berjalan di gerbang sekolah. "hei, lihat itu," perintah Sai. Kedua sahabatnya langsung menoleh. Mereka dapat melihat jelas seorang laki-laki turun dari mobil, menggenggam tangan Hinata dan menghampiri Sakura.

Sai melirik ke arah Sasuke.

"Cemburu?" tanya Naruto.

Sasuke hanya diam. Sai tersenyum lagi, "Kalian ini bodoh ya? Lihat dengan jelas, terutama mata laki-laki itu," perintah Sai. Benar. Matanya sama dengan Hinata. Artinya keduanya ada hubungan saudara. Itu artinya laki-laki itu kemungkinan besar… "itu Hyuuga Neji, Naruto."

"Aku rasa kau yang harus cemburu, Baka." balas Sasuke pada Naruto. Naruto hanya dapat mendengus dan merasakan sedikit rasa perih di dadanya ketika melihat Sakura tersenyum pada Neji dan melihat Neji mengacak rambut Sakura.

Ada sesuatu yang menyakitkan di hati Naruto. Benarkah ini rasa cemburu?

Ketiga Prince Konoha itu langsung turun dari mobil. Sakura dan Hinata juga melangkah memasuki koridor sekolah yang dipadati siswa. Ino yang melihat kedua sahabatnya langsung berlari dari ujung koridor, "Hinata-chan, Sakura-chan.." panggil Ino bersemangat.

Pandangan mata siswa yang ada di sana langsung tertuju pada para Prince dan Princess yang berjalan menyusuri koridor. Ino dapat melihat Sasuke dan Naruto memandangi kedua temannya dari belakang, sementara Sai sibuk membalas sapaan teman-temannya.

Ino memandangi kedua sahabatnya, "Hei, aku rasa, dua anggota Prince yang menghebohkan itu sedang jatuh cinta."

Sakura menoleh pada Ino sementara Hinata tak peduli, "Apa maksudmu Ino-chan?"

"Sepertinya Naruto dan Sasuke menyukai kalian berdua," jawab Ino sambil tersenyum.

"APA?" teriak Sakura tak percaya. Dibanding Hinata, ia terlihat heboh sendiri, "apa katamu Ino?"

Wajah Hinata memerah. Untuk urusan Naruto memang Hinata tak tahu, tapi untuk urusan Sasuke, sepertinya Hinata sudah menduganya. Hinata terus melangkah sementara Sakura dan Ino menghentikan langkahnya.

Sasuke berlari mengejar Hinata dan mencoba menghentikannya. "Hinata?" panggil Sasuke. Hinata tetap melangkah pergi menyusuri koridor sekolah yang panjang dan padat murid, "kenapa kau tiba-tiba tak ada di kamar Minggu pagi kemarin?" tanya Sasuke dengan suara lantang.

Hinata tersentak kaget. Ia menghentikan langkahnya tanpa berbalik. Tak hanya Hinata, semua orang di sepanjang koridor itu terkejut. Bahkan Sai tidak menduga Sasuke mengatakannya.

Sunyi. Dan kini semua menoleh pada dua orang remaja itu.

"kenapa kau pulang tanpa membangunkanku?" tanya Sasuke lagi.

Semua murid-murid langsung berbisik-bisik dan beradu argument. Sementara Sakura, Naruto, Sai, dan Ino melongo, Hinata tetap tak mau menoleh. Ia bingung harus berkata apa pada Sasuke.

Minggu pagi lalu. Hinata bangun pagi-pagi. Ia mengintip Sasuke yang masih tertidur pulas dari pintu kamar Itachi. Hinata tak membangunkan Sasuke. Ia hanya memasakkan makanan untuk sarapan Sasuke sesuai bahan yang ada di kulkas lalu merapikan kamar Sasuke dan langsung bergegas pulang tanpa pamit pada Sasuke. Hatinya masih kacau karena kejadian Sabtu malam. Dan sekarang ia harus membuat alasan apa?

"Dan kemarin kau tidak sekolah, lalu Ino bilang kau sakit." kata Sasuke lagi. Semua orang mendengarkan baik-baik dialog drama antara Sasuke dan Hinata.

Hinata masih terdiam dan bingung. Sasuke yang tak sabar menarik lengan Hinata dan membalikkan badan gadis itu agar menatap kedua matanya. Hinata tersentak kaget. Ia benar-benar gugup melihat kedua mata Sasuke. Gadis itu bahkan dapat merasakan tangan Sasuke yang sedang menahan lengannya bergetar hebat. Tatapan matanya hangat. Sama seperti malam itu. Itu cinta.

"Aku mengkhawatirkanmu, tahu!" kata Sasuke lagi.

Suasana hening lagi. Hinata tak sanggup mengatakan apa-apa. Sasuke masih memandanginya, dan semua mata masih memandangi mereka berdua.

"Apa kalian bilang tadi? Kau menginap di rumah Sasuke, Hinata?" tanya seseorang di belakang Sai dan Naruto.

Hinata dan Sasuke menoleh. Seorang guru yang pernah mengisi hati Hinata berdiri tegak di sana. Sang guru sastra bahasa. Hatake Kakashi.

"Se..sensei," gumam Hinata. Ia kehilangan keseimbangan. Jatuh. Ditopang Sasuke.

"Hinata!" panggil Sasuke.

Hinata pingsan.

.

o.O.o.O.o.O.o.O.o.O.o.O

.

Cahaya matahari menyeruak masuk dari jendela ruang kesehatan. Tempat Hinata terbaring. Sudah 30 menit Hinata belum sadar. Di ruang itu ada Sasuke yang menungguinya sejak tadi, Sakura, Naruto, Ino, dan Sai serta Hatake Kakashi. Semua terlihat cemas. Wajah Hinata nampak pucat. Dan Sasuke juga sama. Sasuke terus memandangi Hinata. Dan semua yang disana tahu, Sasuke memang benar-benar jatuh cinta pada gadis itu.

Hatake Kakashi menghela napas panjang, "Kapan walimu datang, Sasuke?"

"Sebentar lagi," jawab Sasuke singkat tanpa mengalihkan pandangannya.

Tak lama kemudian seseorang masuk ke dalam ruangan. Kakashi, Sakura, dan Ino yakin pasti dialah wali Sasuke. Wajah mereka sama, hanya lebih terlihat sebagai 'versi dewasa'-nya Sasuke.

Itachi memandangi punggung adiknya tanpa bersuara lalu memandang wajah Hinata. Ia terlihat senang. Itachi melirik pada Sai yang tersenyum. 'ternyata benar ceritamu, Sai.' pikir Itachi dalam hati.

"ehm," sapa Itachi membuka pembicaraan, "sepertinya kau membuat keributan lagi sampai-sampai aku dipanggil kesini, Sasuke,"

Sasuke hanya menoleh sebentar lalu tak mempedulikan kakaknya, "gomen, Nii-san,"

Itachi mendesah. Ternyata adiknya terkena 'sakit' separah ini. Ia lalu menoleh pada Kakashi, "Saya Uchiha Itachi, wali Sasuke."

"Saya Hatake Kakashi, guru di SMA ini, bisa kita bicara sebentar? Rasanya saya perlu membawa anda dan Sasuke menemui Tsunade-sama, Kepala Sekolah kami." kata Kakashi.

Akhirnya Kakashi membawa Itachi pergi dari ruang kesehatan dengan Sasuke, Naruto, serta Sai.

Tinggal Ino dan Sakura yang menjaga Hinata. Keduanya nampak simpati pada sahabatnya itu. Mereka sama sekali tidak menyangka kejadian tadi pagi. Kejadian itu membuat siswa gempar dan membicarakan Hinata. Bahkan karena pertanyaan Sasuke, guru-guru memutuskan untuk memanggil Itachi.

"Ino, menurutmu bagaimana perasaan Hinata pada Sasuke?" tanya Sakura memecah keheningan.

Ino menghela napas panjang, "Entahlah, Sakura-chan, ada yang bilang benci dan cinta itu beda tipis, yang aku tahu Hinata sangat mengagumi Kakashi-sensei sejak bersekolah disini, kalau mendadak Sasuke sih… aku juga tak tahu pasti."

"Lalu, apa pendapatmu tentang pertanyaan Sasuke tadi?" tanya Sakura lagi. Ino menoleh. "apa benar Hinata menginap di rumah Sasuke?"

Ino nampak berpikir, "Sasuke bilang minggu pagi ya…"

"ya, artinya Hinata menginap Sabtu malam, setelah pergi dari rumahku," jelas Sakura.

"hari itu, seingatku ada hujan badai kan? Mungkin Hinata memang menginap di rumah Sasuke," tebak Ino.

Sakura memandangi wajah Hinata lagi, "Artinya, malam itu terjadi sesuatu, makanya kejadian seperti ini terjadi, dan perasaan mereka berubah."

"Hei, Sakura-chan, apa pikiranmu tak berlebihan? Mana mungkin malam itu terjadi apa-apa dengan Hinata." kata Ino.

Sakura tersenyum nyengir, "Justru pikiranmu itu yang berlebihan Ino, kenapa kau mengarah kesana?"

"Eh?"

"Maksudku, mungkin terjadi sesuatu yang membuat perasaan mereka berubah, jadi kau jangan berpikir macam-macam." jelas Sakura lagi.

Ino berpikir sebentar, "Kalau Hinata sih tak mungkin macam-macam, tapi kalau Sasuke?"

Sakura menggelengkan kepalanya, "Sepertinya Sasuke juga tak mungkin menyerang Hinata, Sasuke bukan orang seperti itu."

"Kenapa kau menyimpulkan seperti itu?" tanya Ino heran.

"Sai bilang Sasuke orang yang lembut pada perempuan," jawab Sakura.

"Cih," dengus Ino, "kau percaya pada kata-kata anak aneh itu? Kata-katanya sering berputar-putar."

"Hahaha," Sakura tertawa mendengarnya.

"Lembut bagaimana, Sakura-chan? Jelas-jelas dia mengatai kita brengsek." sanggah Ino.

Sakura tersenyum, "Itu kan karena kita musuh mereka, tapi kan kita tak pernah melihat Sasuke bersikap jelek pada siswi selain kita kan? Jangan subyektif begitu Ino."

"Haah, begitu ya…" keluh Ino.

Sakura mengangguk, "Tapi yang penting sekarang adalah Hinata," imbuh Sakura, "eh!"

Ino menoleh, "Hinata-chan?" sapa Ino, "kau sudah sadar?"

.

o.O.o.O.o.O.o.O.o.O.o.O

.

"Wah, setelah ini nenek tua itu akan bicara apa dengan Itachi-san?" tanya Naruto sebal. Selama ada dalam ruangan, Tsunade memandangi Sasuke cukup lama tanpa berkomentar. Sedangkan yang menanyai kronologis dan isi pembicaraan Sasuke tadi pagi adalah Guy-sensei. Dan sekarang ketiga muridnya itu disuruh keluar.

Sai menggeleng, "Apa pendapatmu setelah ini, Sasuke?" tanyanya.

Sasuke tidak bereaksi, ia terus melangkah. Berniat kembali ke ruang kesehatan menemui Hinata. Naruto dan Sai terpaksa mengikutinya. Begitu sampai tepat di depan ruang kesehatan, Ino dan Sakura datang menghampiri mereka dan Ino menyeret Sasuke masuk. Sasuke yang bingung hanya bisa menurut sedangkan kedua sahabatnya hanya terbengong.

"Sakura, ada apa?" tanya Sai di belakang Sakura.

Sakura menoleh, "Eh, itu, Hinata sudah sadar,"

Sai mengangguk mengerti. Begitu juga dengan Naruto. Sai melirik ke arah Naruto lalu menyenggol bahunya dan memberi isyarat pada Naruto agar melakukan sesuatu. Naruto sepertinya paham maksud Sai. Ia menunduk sebentar lalu cepat-cepat meraih lengan Sakura dari belakang.

Sakura yang berada di pintu ruang kesehatan menoleh dan kaget melihat Naruto menahan lengannya. Sai hanya tersenyum dan melangkah masuk meninggalkan Naruto dan Sakura. Naruto memasang wajah serius.

Sakura merasa wajahnya memerah. Ada yang tidak beres. Sakura cepat-cepat menunduk, berharap Naruto tidak menyadari reaksinya. Sakura dapat merasakan tangan Naruto yang dingin. Naruto menggeser kayu pintu di antara ia dan Sakura lalu menutup diri masing-masing dengan sisi pintu yang berlawanan agar tak saling terlihat.

Naruto menggenggam pergelangan tangan Sakura. Naruto menarik napas dalam-dalam, mencoba mengontrol detak jantungnya yang tak karuan.

"Sa..Sakura-chan." panggil Naruto.

Sakura menyandarkan kepalanya di pintu yang menghalangi pandangannya, "I..iya, Naruto, a..ada apa?" tanya Sakura gugup.

Ternyata Naruto tak kalah gugup, "Aku mau bertanya sesuatu padamu."

"Hah?" kata Sakura. Sepertinya ia sama sekali tidak siap untuk pembicaraan macam ini, "ta..tapi, Naruto, bisakah jangan sekarang?"

Naruto nampak berpikir dan menyandarkan badannya di pintu. "Tidak bisa, Sakura-chan,"

'deg' Sakura boleh mati kutu saat ini.

"Aku…"

"…"

"Kau…"

"…" Sakura memejamkan matanya kali ini.

"Maukah…"

"…" Sakura kaku, mati rasa, tak tahu harus berkata apa.

"Maukah kau datang ke Suna untuk melihat pertandingan basketku?" tanya Naruto.

"Hah?" Sakura kaget. Ia menggeser tubuhnya dan dapat melihat wajah Naruto. "apa?"

Naruto tersenyum nyengir. Ia melepaskan genggamannya pada pergelangan tangan Sakura lalu menggaruk bagian belakang kepalanya, "Begini… besok sore kan ada final regional antar SMA, lokasinya di SMA Suna, sekolahku yang lama, aku ingin kau menonton pertandingan besok."

Sakura tersenyum getir, "Tapi besok aku, Ino, dan Hinata ada acara,"

Naruto memandang Sakura yang tersenyum getir.

"Aku harus… memberi selamat… untuk pernikahan.. Neji-san," jawab Sakura. Ia menunduk.

Naruto memandanginya. Ia tahu kemana arah pembicaraan dan maksud Sakura, "Tapi aku memaksamu datang Sakura-chan," kata Naruto.

"Eh?" Sakura mengangkat wajahnya.

"Aku tak peduli kau datang telat atau bagaimana, tapi kau harus datang!" pinta Naruto serius. Sakura menatap mata Naruto tak percaya. Apa yang sebenarnya ada di pikiran Naruto.

.

o.O.o.O.o.O.o.O.o.O.o.O

.

Sementara itu Sai mengajak Ino untuk meninggalkan ruangan. Ino yang mendadak diseret Sai menoleh tak percaya. Ia memandang Sai dengan death glare, "Hei, apa tidak apa-apa meninggalkan temanmu dan sahabatku berdua saja?" protes Ino dengan suara pelan. Sai hanya tersenyum pada Ino. Menyebalkan.

Hinata duduk bersandar dengan bantal di punggungnya, sedangkan Sasuke duduk di kursi di sisi kiri ranjang Hinata. Sasuke menunduk. Kebingungan harus berkata apa. "Ma..maaf Hinata, karena membuatmu pingsan."

Hinata menoleh, "Tidak, bukan karena kau aku pingsan."

Sasuke menoleh heran.

"A..aku pingsan karena kaget," kata Hinata, "kaget karena ada…Kakashi-sensei disana."

"Kau menyukainya ya?" tanya Sasuke. Ada sedikit nada kecemburuan pada suaranya.

Hinata melipat lututnya dan melingkarkan kedua tangannya di kakinya. Ia tersenyum, "Dia cinta pertamaku."

Sasuke hanya bisa terhenyak mendengar kalimat Hinata barusan. Sungguh. Sasuke tak ingin mendengarnya, "Jangan membicarakan laki-laki selain aku di hadapanku Hinata!" pinta Sasuke pelan. Ini dia sifat kekanakan Sasuke. Yang seolah menegaskan Hinata miliknya, dan ia tidak ingin ada nama orang lain yang juga menginginkannya.

Hinata tersenyum lagi, "sekali ini coba dengarkan."

Sasuke hanya diam menatap Hinata.

"Mencintai guru itu menyedihkan ya?" kata Hinata, "aku sering melihat Kakashi-sensei sering kesepian meskipun dia dikelilingi banyak orang, ternyata Kakashi terus menyukai guru Matematika yang sudah mutasi dulu, namanya Anko-sensei."

Sasuke mulai tertarik mendengar cerita Hinata.

"Aku pernah menemukan buku puisinya Kakashi-sensei, semua kata-katanya indah, tentang kerinduan, yah, Anko-sensei cantik sih." tambah Hinata.

"Kau lebih cantik." kata Sasuke tiba-tiba. Membuat wajah Hinata langsung blushing. Begitu juga dengan wajahnya sendiri.

Hinata tertawa kecil, "Kau kan belum pernah melihat Anko-sensei."

"Jadi kau berniat menggantikan Anko itu agar Kakashi-sensei tidak kesepian?" tanya Sasuke. Nada suaranya terdengar bergetar.

"Hn," Hinata tersenyum lalu menggeleng, "kau salah, Kakashi-sensei dua bulan lalu bertunangan dengan Anko-sensei, dan dalam waktu dekat ini menikah."

Sasuke menatap mata Hinata. Hinata langsung cepat-cepat memalingkan mukanya, "Jadi sekarang kau patah hati?"

Hinata terdiam kali ini. Ia tak mau menjawab pertanyaan Sasuke. Dua bulan lalu saat tahu tentang pertunangan itu, ia memang patah hati. Tapi kalau sekarang, ia sendiri tidak yakin.

"Lihat aku, Hinata," pinta Sasuke, "lihat aku saja."

Hinata membenamkan wajahnya yang memerah di lututnya. Jantungnya berdetak kencang. Sama seperti malam itu.

.

o.O.o.O.o.O.o.O.o.O.o.O

.

"Ha~h, membosankan…" teriak Ino sebal. Sesekali ia melirik Sai yang diam dan terlihat tak ada tanda-tanda akan mengajaknya bicara.

Sai memang tidak bisa ditebak pikirannya. Pemuda itu menyeret lengan Ino dan tanpa persetujuannya, ia membawa –menculik- gadis pirang itu ke atap sekolah dan sekarang mendiamkannya.

Tangan Sai sibuk mencoret-coret buku sketsa miliknya dan tidak menghiraukan keluhan Ino yang ke-25 selama sejam ini. Ino kesal setengah mati. Bagaimana bisa ada seorang murid laki-laki yang tidak memperhatikannya sama sekali, mendiamkannya, bahkan tidak menanggapi keluhannya.

"Cih, maniak seni." umpat Ino pelan.

Ia bangkit dan bersiap meninggalkan Sai sampai ia merasa sebuah tangan mencengkeram lengannya dan menahannya seperti gravitasi bumi dan memaksanya untuk duduk lagi.

"Duduklah dulu." pinta Sai.

"Kau itu keterlaluan tahu!" teriak Ino kesal, "jangan mendiamkanku bisa tidak?"

"…" Sai mencoret-coret buku sketsanya lagi.

Ino mulai tak sabar. Tangannya dengan cepat merebut buku sketsa namun dengan cepat Sai merebutnya kembali tanpa Ino sempat melihat gambaran Sai. Ia berdecak kesal, "Sebenarnya kau itu menggambar apa sih?"

"Keindahan." Jawab Sai singkat, "keajaiban alam."

'Hah? Argh… sudahlah! Paling dia menggambar awan!" umpat Ino dalam hati.

Tak sampai lima menit kemudian Sai beranjak berdiri. Ino hanya melongo melihatnya. Mencoba menebak pikiran Sai. Ayolah, mungkin si mayat hidup ini akhirnya menyadari apa arti kata 'bosan'. Sai hanya memasang muka tanpa ekspresinya lalu menyobek salah satu lembaran buku sketsanya dan memberikannya pada Ino.

Sai perlahan melangkah pergi, "Aku mau menemui Naruto dulu."

"He-hei!"

Terlambat. Pemuda itu bahkan sudah menyingkir dari radar penglihatannya. Ino mendecak kesal lagi. Ia meraih kertas sketsa di pangkuannya, melihat gambar 'awan' yang digambar Sai barusan.

Blush.

Wajah Ino seketika memerah. Ia melihat gambar dirinya yang sedang menatap langit sambil tersenyum. 'Keindahan, keajaiban alam...'

Wajah Ino makin memerah mengingatnya. Sekilas, bibirnya mulai menyunggingkan senyum, "Da-dasar…"

.

o.O.o.O.o.O.o.O.o.O.o.O

.

Itachi berjalan pelan memasuki ke ruang kesehatan. Hinata langsung menoleh pada Itachi. Itachi menatap kedua mata Hinata lalu memasang muka menyesal, "Ayo pulang, Sasuke."

Sasuke menoleh.

"Pamitlah pada temanmu itu," perintah Itachi. Sasuke terlihat kaget. Apa benar keputusannya sampai separah ini. Sasuke menatap tak percaya. Tapi kakaknya terlihat serius. Sasuke bangkit dari kursinya. Memandang Hinata sejenak lalu membelai kepalanya.

Hinata hanya memandang wajahnya lalu cepat-cepat mengalihkan pandangannya. Sasuke mendekat dan mencium keningnya tiba-tiba, "Gomen, Hinata," kata Sasuke. Sasuke lalu pergi meninggalkan Hinata.

Sakura, Ino, Sai, dan Naruto masuk ke ruang kesehatan. Sai menghela napas panjang. "Sasuke sudah pergi ya?" tanya Sai. Hinata hanya mengangguk pelan.

"Sai, apa ini artinya, sekarang kita akan kesepian? Sekarang tinggal kita berdua." tanya Naruto tiba-tiba.

"Ya, sebaiknya kita bantu Sasuke merapikan barang-barangnya nanti." balas Sai.

"Hei, tunggu," tanya Ino curiga, "apa maksud kalian?"

Sai memandang Ino serius. Mencoba untuk tidak tertawa karena melihat tampang Ino yang penasaran. "Yah, keputusannya…"

"Sasuke dikeluarkan dari sekolah," tambah Naruto singkat.

"Apa?" teriak ketiga gadis itu. Mereka menatap Naruto dan Sai tak percaya.

"Be..benarkah?" tanya Hinata khawatir.

"Ya, sepertinya kepala sekolah marah besar karena ucapannya si Sasuke berhasil menjadi gossip yang jelek untuk sekolah kita." jelas Sai.

"Mana…mana bisa begitu?" tanya Hinata heran.

"Tenang saja Hinata, Tsunade-sama tak menyalahkanmu, semuanya ditanggung Sasuke." imbuh Naruto.

.

o.O.o.O.o.O.o.O.o.O.o.O

.

Hoah! Chapter 6 selesai.

Full romance memang. Tinggal satu chapter tersisa. Kita lihat apa yang akan terjadi dengan para pasangan ini di akhir cerita, hehehehe.

Ada KakaAnko, hehehe.

Kalau dilihat, Sasuke romantis ya…. Hahahaha… si Naruto mah, karakter aslinya di manga emang penuh kejutan. Oh ya, sorry buat penggemar SaiIno, kisah mereka kubuat yang paling simple.

Ayo! Tinggal satu chapter! Silakan tebak apa yang terjadi pada Sasuke setelah ini. Rencana Naruto selanjutnya, dan bagaimana cara Sai menyatakan perasaannya.

Next / the last chapter seminggu lagi…

Review ya….