Title: Selamat Datang di Indonesia

Rate: K+

Genre: Humor

Disclaimer: Hetalia belongs to Hidekaz Himaruya, tapi Canada punya saya. :9 –digampar-

Summary: Demi meningkatnya persentase kedatangan turis asing ke Indonesia, Boss Indonesia membuat suatu rencana untuk mengundang setiap negara satu-persatu untuk menikmati keindahan panorama Indonesia dan, tentunya dengan Indonesia sendiri. First of all, it's Canada's turn!


Butiran lembut seputih salju itu turun ke tanah. Seorang pemuda berkacamata, dengan seekor beruan dipelukannya sedang duduk termangu sambil menatap butiran-butiran salju yang turun menghiasi musim dingin di Ottawa.

Mata violet pemuda itu menatap setiap butiran salju yang turun dengan malasnya. Ya, dia sedang bosan karena tidak ada pekerjaan. Beruang ditangannya terus saja menggumamkan kata seperti, "Siapa?" yang entah kepada siapa ditujukannya.

Pemuda itu terlonjak ketika mendengar pintu kamarnya diketuk dari luar. Ia membiarkannya saja, seakan mengetahui seseorang di luar tersebut pastilah nantinya mencoba memutar gagang pintu kamarnya dan mendapati pintu tersebut tidak terkunci.

Pintu pun terbuka, dan terlihatlah seorang pemuda berkacamata lain yang sedang menggosok-gosok hidungnya. Secara sekilas, mereka berdua memang terlihat sangat mirip. Yang membedakan mereka hanyalah warna bola mata mereka, juga rambut mereka.

"Hachii, dingin sekali hari ini. Wahai, saudaraku. Kau sedang apa duduk termangu sendirian seperti itu?" Seru seseorang yang membuka pintu tadi.

Pemuda bermata violet tadi menoleh kearah pemuda tersebut. Sambil menghela nafas ia berkata, "Sejak kapan kau menggunakan ejaan yang baik dan benar, Al? Berhentilah menjadi OOC untuk saat ini."

Pemuda itu hanya mencibirkan bibirnya, "Kemarin kau yang bilang agar aku harus menggunakan ejaan yang baik dan benar, Matt. Sekarang, kenapa kau malah mengatakan aku OOC? Dan apa pula itu OOC?"

Pemuda bermata violet itu hanya berlalu pergi, meninggalkan saudaranya itu.


"Oh, jadi kau merasa bosan, eh?" kata America sambil menenggak teh hangat yang dihidangkan saudaranya.

"Yah, begitulah. Dan aku juga sudah bosan dan muak tidak dianggap seperti ini!" balas Canada sambil menekankan kata 'muak' diperkataannya tadi.

"Ka-kalau yang soal itu, kita kesampingkan saja dahulu. Ngomong-ngomong, tadi aku keluar sebentar mengecek surat. (walaupun isinya sebagian besar dari fangirl-mu semua sih) Tapi, aku menemukan satu surat resmi, sepertinya." ujar America sambil memberikan sepucuk surat berstempel Burung Garuda yang mengepakan sayapnya.

"Surat apa ini?" jawab Canada seraya mengambil surat yang ada ditangan America. Ini stempel Indonesia, pikirnya.

"Tidak tahu. Baiklah, aku mau kencan sama Vietnam dulu." seru America sambil menenggak habis teh panasnya.

"Tapi salju masih turun, Al. Kau tak takut kedinginan?"

"Seorang Hero tidak akan kalah hanya karena udara dingin! Kalau begitu, sampai jumpa, saudaraku!" America pun bangkit dari kursinya, memeluk dan mencium pipi saudara kembarnya itu.

"Bisa kau hilangkan kebiasaanmu mencium kedua pipiku, eh? Aku putus dengan Ukraine karena kau menciumku di depannya tauk!" seru Canada sambil mengelap kedua pipi-nya.

"Jadi, kau berpacaran dengan Ukraine?"

Canada hanya menepuk jidatnya mendengar pernyataan saudaranya barusan. Kenapa saudaranya ini bisa se-telmi ini?


Kepada Yth. Tuan Matthew Williams

Di Ottawa

Selamat Pagi, Siang, Malam. (Terserahlah kapan Anda membaca surat ini)

Saya Indonesia mengundang Anda kesebuah Tour yang mempersembahkan keanekaragaman Indonesia. Jika Anda menemukan sebuah kupon emas didalam amplop ini, berarti Anda berhak mengunjungi Indonesia dengan saya, Indonesia sendiri yang akan menjadi Tour Guide anda.

Kami mengharapkan kedatangan Anda disini. Atas perhatiannya, terima kasih.

Indonesia

Canada memasang tampang cengo sambil membaca surat tersebut. Apa-apaan ini? Suratnya bahkan berbahasa Indonesia, sementara ia adalah orang Kanada. Mustahil ia bisa berbahasa Indonesia, walaupun ia pernah ke Indonesia beberapa kali. Satu-satunya yang ia pahami adalah, Indonesia tidak melupakan namanya dan ibu kota-nya.

Ia pun kembali mengecek amplop putih besar tersebut, berharap menemukan sesuatu (minimal versi surat ini di Bahasa Inggris deh) dan hanya menemukan sebuah kupon emas.

"Apa ini?" kata Canada sambil mengambil stempel emas bergambar burung garuda tersebut. Di belakang kupon tersebut terdapat beberapa penjelasan yang (untunglah) ditulis dengan Bahasa Inggris.

"Jadi, aku berhak ke Tour ke Indonesia dengan Indonesia sendiri sebagai Tour Guide-nya?" seru Canada girang.

Ia pun segera mengemaskan barang-barangnya, dan memesan tiket ke Jakarta sekarang juga.


Indonesia, wanita berambut hitam panjang dan berkulit sawo matang itu sedang menunggu didepan Bandara Soekarno-Hatta sambil melambai-lambai kan kertas bertuliskan "Welcome to Indonesia, Mr. Matthew Williams." dengan wajah setengah cemberut. Ada-ada saja boss-nya ini, mengundang seorang Negara di kala Negara sendiri sedang dalam masalah, pikirnya.

Bandara Soekarno-Hatta sekarang terbilang cukup ramai (biasanya memang ramai sih), kebanyakan adalah turis-turis asing yang mencari kehangatan sementara di saat negara-nya saat ini sedang dingin-dinginnya.

Mata hitam Indonesia menangkap seseorang berambut pirang mengenakan pakaian hawaii. Itu pastilah Canada, pikirnya. Indonesia pun kembali melambai-lambaikan kertas tadi tinggi-tinggi.

Canada yang melihat sebuah kertas bertuliskan namanya (atau mungkin?) segera berjalan kearah kertas tersebut. Mendapati sesosok wanita berkulit sawo matang dan berkebaya sedang melambai-lambai kan kertas tersebut.

"Ah, Indonesia." serunya kepada Indonesia.

Indonesia pun membungkuk dan memberikan senyum menawannya, "Selamat Datang di Indonesia, saya Indonesia akan menemani tour para nation dalam menjelajahi Indonesia. Selamat menikmati tour beberapa hari bersama saya di Indonesia!" seru Indonesia, lancar. Tentu saja, boss-nya sudah menyuruhnya menghafal kalimat ini semalam suntuk untuk menyambut para Nation yang akan mengunjungi Indonesia setelah mendapatkan surat berisi kupon emas tersebut.

Sebenarnya, di setiap amplop tersebut ada kupon emasnya. Hanya saja, si Boss yang dengan pintarnya sudah mengatur giliran setiap negara tersebut untuk menjelajah Indonesia.

"Biarkan saya mengantarkan Anda ke tempat Anda menginap dahulu. Tenang, saya sudah memilihkan tempat menginap yang tidak akan dijangkau para teroris atau sejenisnya. Aman deh, sumpah!" ujar Indonesia sambil menunjukkan raut muka 'suer-tadi-gue-boker-disiram-kok'.

Setelah mengambil koper-koper milik Canada, kedua negara tersebut meluncur ke 'tempat menginap' yang dimaksud Indonesia tadi.


Canada memperhatikan sekeliling 'tempat penginapan' yang dikatakan Indonesia tersebut. Sebenarnya, tidak bisa dikatakan 'penginapan' karena tempat ini adalah kediaman sang Indonesia sendiri. Di dinding rumah ini terdapat sebuah lukisan Indonesia yang berdiri bersampingan dengan Netherlands yang tersenyum dengan gagahnya. Juga beberapa barang-barang peninggalan penjajahan Japan, seperti sebuah Kamera Tua dan alat musik Koto. Di depan rumah tersebut, bunga melati tumbuh dengan indahnya. Udara disini juga tidak sedingin Ottawa, tentunya.

Indonesia kembali dari dapurnya, membawa dua buah gelas dan beberapa potong pisang goreng khas Indonesia. Pakaian kebaya-nya sudah diganti dengan sebuah baju berlambang Burung Garuda dan celana panjang hitam. Rambut hitamnya dibiarkan tergerai dengan bebasnya.

"Kanada, besok kita akan berangkat mengelilingi pulau Jawa. Karena, menurut jadwal dari boss saya, orang (Ralat: Negara) pertama yang menerima kupon emas akan mengunjungi daerah tersebut. Kita akan menginap selama beberapa hari disana, jadi tolong siapkan barang-barang seperlunya saja, karena saya lihat Kanada membawa cukup banyak barang. Saya sarankan agar Kanada beristirahat dahulu supaya besoknya tidak terlalu kecapaian." ujar Indonesia panjang lebar.

Canada hanya mengangguk pelan, dan mengambil sepotong pisang goreng itu dan memakannya. Tidak heran Netherlands dan America terpikat dengan wanita ini (walaupun America sudah pacaran dengan Vietnam sih), Bahkan Japan juga tertarik. Tutur katanya sopan, belum lagi wajahnya juga menawan. Pakaiannya tertutup, tidak seperti pakaian wanita didaerah barat yang cenderung memamerkan kemolekan tubuh.

Setelah menghabiskan beberapa potong pisang goreng dan meminum habis teh hangatnya, Canada segera masuk ke kamar yang tadinya sudah ditunjuk oleh Indonesia. Mengganti pakaiannya dengan piyama, membaringkan tubuhnya dan memeluk Kumajirou, dan menutup matanya.

Besok pastilah akan jadi sangat menyenangkan, pikirnya.


"Kanada kita sudah sampai..."

Suara lembut milik Indonesia membangunkan pemuda berambut pirang tersebut dari tidurnya. Ia terlelap diperjalanan yang membawanya dari berkeliling pulau Jawa.

Mereka tiba disalah satu 7 keajaiban dunia yang dimiliki Indonesia, candi bercorak Buddha yang terlengkap sepanjang masa. Borobudur. Setelah membayar tiket masuk, dan menaiki kereta yang mengantarkan mereka menuju candi tersebut, mereka segera menaiki candi besar nan tinggi itu.

"Candi Borobudur ini diperkirakan dibangun di masa Dinasti Syailendra. Candi Borobudur sendiri merupakan candi bercorak Buddha terlengkap diseluruh dunia. Mitos mengatakan, jika seseorang mendaki Candi Borobudur dari bawah keatas, impiannya akan tercapai. Bagian candi ini sendiri terdiri dari bagian dasar atau Kamadhatu yang melambangkan kehidupan manusia dan nafsu-nafsunya. Dikatakan juga sebagai Sphere of Desire.

Bagian tengah, atau Rupadhatu yang melambangkan manusia yang mencoba untuk tidak diperbudak nafsu, atau sejenisnya (saya sendiri tidak begitu paham). Dikatakan sebagai Sphere of Form. Bagian atas atau Arupadhatu yang melambangkan para dewa-dewa. Dikatakan juga sebagai Sphere of Formlessness." Jelas Indonesia panjang lebar. Udah berasa kayak Tour Guide sungguhan kali ya?

Canada hanya manggut-manggut paham. Pemandangan di atas Borobudur sungguh mempesona. Keindahan alam Indonesia benar-benar terlihat dari sini, pikirnya. Ia pun sempat meng-abadikan pemandangan ini menggunakan kamera digital yang dulu dibelinya dari Japan.

"Di sini tinggi yah?" bisik Canada

"Ya."

"Kira-kira, kalau aku melempar Kumakichi-san dari sini, dia mati tidak yah?"

"Hah?"


Canada bisa merasakan halusnya pasir Pantai Parangtritis di kakinya. Deburan ombak menghantam pesisir pantai dengan anggunnya. Pemuda Canadian itu hanya mengenakan salah satu pakaian hawaii yang diberikan Cuba, juga sebuah celana pendek. Indonesia sudah melarang pemuda ini untuk tidak mengenakan sesuatu yang berwarna hijau karena adanya kepercayaan warga sekitar.

Ombak waktu itu cukup kuat, sehingga hanya beberapa orang saja yang berani bermain-main ditempat yang agak ketengah pantai. Sisanya, hanya bermain-main dengan pasir, menikmati pemandangan sekitar sambil menaiki sebuah kereta kuda (yang dipanggil orang sekitar, Delman), atau berfoto-foto ria mengabadikan momen indah ditempat menawan.

"Kanada, Anda mau mencoba memenggal kepala ayam dengan gigimu?" tawar Indonesia sambil menyeringai.

Canada bergidik ngeri. Mungkin, ini yang dimaksud America soal 'sisi-gelap' Indonesia. Indonesia merupakan salah satu negara yang terkenal dengan hal-hal mistisnya. Seperti England dan Norway.

"Ahh... A-aku lebih baik melihat saja." jawab Canada, terbata-bata.

"Anda tak mau? Ya sudah, jarang juga sih ada turis yang mau. Haha..." tawa Indonesia meledak. "Bagaimana kalau saya coba?"

Canada terbelalak. Beberapa orang lelaki (yang menurut Canada sepertinya adalah penduduk sekitar) memegang seekor ayam yang masih hidup. Kaki dan kepalanya dipegang erat-erat. Indonesia hanya melebarkan seringai-nya.

"Lihat saya yah!" serunya, masih dengan seringainya.

Indonesia menggenggam kepala ayam itu. Dengan cepat, mulutnya menggigit dan memutuskan kepala ayam itu dari ekornya. Para penonton yang sudah terbiasa akan bersorak-sorai gembira. Sedangkan, yang belum pernah melihat hanya bergidik ngeri dan segera menjauh tempat itu.

"Salah satu kekuatan mistis Indonesia, haha... Saya tidak menyangka saya melakukannya." teriak Indonesia.

Ya, pasti bagian ini yang ditakuti America. Pasti!


Canada dan Indonesia kembali ke Jakarta. Indonesia bermaksud mengajak Canada untuk menikmati sedikit wahana hiburan di Indonesia.

Dan disinilah mereka sekarang, Dufan alias Dunia Fantasi. Hari itu hari libur, pengunjung yang mengunjungi tempat ini pun terbilang cukup banyak. Kebanyakan adalah orang tua yang mengajak putra-putrinya sedikit bersenang-senang setelah disuguhi pelajaran selama satu minggu penuh.

"Yah, wahana permainan di Indonesia hanya begini. Mungkin, tidak sebanding dengan yang ditempat Anda atau di America. Tapi, saya berharap semoga Anda menikmatinya." ucap Indonesia sambil tersenyum. Wanita berkulit sawo matang itu mengenakan setelan pakaian khas remaja-remaja, hanya saja dengan lambang Burung Garuda kecil tergambar didadanya.

"Tempat ini keren kok! Saya akui itu, bukan begitu Kumajou?" seru Canada riang sambil memeluk Beruang Kutubnya.

"Who?" ujar si Beruang dengan tak berdosa-nya.

"I'M CANADA!"

"Jadi, wahana mana yang akan kita naiki pertama kali?" tanya Indonesia.

"Wow... this one sounds interesting. Namanya seperti salah satu air terjun di negaraku." jawab Canada sambil menunjuk palang 'Air Terjun Niagara'.

"Good choice, let's go then."


"AWESOME! Wahana yang menyenangkan. Dan, saya tidak percaya ada yang mengingat salah satu nama air terjun di negaraku. Saya terharu~" ucap Canada, mulai OOC.

Sedangkan Indonesia sudah berjalan sempoyongan, mukanya basah kena cipratan air begitu pula dengan pakaiannya. Rambut hitamnya basah kuyup, dan tampangnya cukup kacau. Namun, ia tetap menjaga image-nya. Mencoba untuk tetap 'stay-cool' dihadapan tamu asingnya ini.

"Y-ya, menyenangkan." Ujar Indonesia setengah sadar.

"Hei, bahkan mereka memfoto kita. Saya harus ambil ini!" Canada langsung membayar foto ketika mereka sedang menaiki wahana itu.

"Jadi, setelah ini kita akan kemana?" tanya Indonesia sembari memperbaiki tata rambutnya.

"Roller coaster?"

Indonesia mulai merasa, ternyata saudara America ini jauh lebih ektrim dari America sendiri.


"Tadi itu menyenangkan sekali, walaupun tak seseram yang di America tapi cukup memacu adrenalin-lah." Canada berseru girang sambil memeluk Kumajirou yang sudah bergemetaran.

Sedangkan Indonesia langsung sujud sukur, nyium tanah. Akhirnya, nginjak tanah lagi, pikirnya.

"Indonesia, kau sedang apa?" Tanya Canada ketika melihat 'ritual' aneh yang sedang dilakukan Indonesia.

"Ja-jangan hiraukan saya. Setelah ini, kita akan... naik apa lagi?"

"Wahana yang bernama Tornado!"

Indonesia berasa ingin pingsan ditempat saat itu juga.


"This one is the coolest! Aku benar-benar teriak tadi. Hahaha… Kumakichi-san, kau merasakan ketakutannya juga kan?" Canada berseru girang, sambil terus memeluk Kumajirou yang mulutnya berbusa.

Sedangkan Indonesia kita? Nasibnya hampir sama dengan Kumajirou, hanya saja wanita berkulit sawo matang itu sudah terbaring dengan mulut berbusa. Menyadari sikapnya yang sekarang terlalu OOC, Indonesia langsung bangkit dan menghapus busa yang tadi ada dimulutnya.

"Disini banyak sekali game ekstrim. Masih ada kora-kora, dan lainnya! I'm so exciting!" Canada mulai berteriak gaje lagi.

"Aku benci hidupku!" teriak Indonesia di dalam hatinya.


Matahari mulai menyembunyikan sinarnya, Bulan mulai terang menyinari langit malam kota Jakarta. Beberapa pengunjung kebanyakan sudah memutuskan untuk pulang dari taman bermain ini. Sebagian memilih untuk tetap tinggal. Menaiki wahana-wahana ditemani langit malam.

Canada sudah menaiki beberapa wahana ekstrim maupun yang non-ekstrim, sedangkan Indonesia terlihat sudah cukup kelelahan. Mereka pun memutuskan untuk mencari kedai makanan untuk makan malam.

"Saya tidak percaya, liburan beberapa hari di Indonesia bisa begitu menyenangkan." seru pemuda pirang tersebut, gembira.

Indonesia sebenarnya cukup kelelahan menjadi Tour Guide pemuda Canadian itu. Walaupun begitu, perkataan Canada barusan membuat Indonesia kembali bersemangat. Pemuda itu menikmati setiap liburannya di Indonesia, dengan komentar yang positif pula. Indonesia hanya berharap, dengan adanya hal acara seperti ini akan kembali meningkatkan persentase turis asing mengunjungi negara-nya.

"Kanada, besok sudah kembali ke Ottawa?" tanya Indonesia sambil melahap nasi gorengnya.

"Iya, saya tidak bisa berlama-lama. Masih ada beberapa tugas kenegaraan yang harus saya urus." Jelas pemuda itu.

Indonesia hanya mengangguk-angguk paham sambil terus memakan nasi gorengnya. Dufan di waktu malam dihiasi dengan lampu-lampu kecil nan lucu, menambah keindahan kota Jakarta waktu malam.

"Bagaimana kalau kita naik Komedi Putar? Menaiki Komedi Putar pada malam hari cukup indah lho." usul Indonesia. "Lagipula, ini malam terakhir Anda disini."

"Boleh saja." Balas Canada sambil tersenyum.


Seperti kata Indonesia, pemandangan kota Jakarta diwaktu malam hari sungguh indah. Bangunan-bangunan pencakar langit (walaupun tak setinggi di America dan Canada sendiri) dihiasi lampu-lampu yang berkilauan. Tak lupa pula, pantulan sinar Bulan yang menyinari langit malam Jakarta. Menambah pesona Indonesia.

Juga Indonesia yang sedang duduk disampingnya ini, wanita berkulit sawo matang dengan mata hitam bulat. Walaupun Indonesia memiliki sisi gelap yang 'cukup' mengerikan, tetapi sisi tersebut tidak akan terlihat jika dibandingkan dengan kecantikan luar biasa beserta kelembutan hati Indonesia.

Tiba-tiba wajah Canada bersemu merah, mungkinkah ia?

Pemuda itu langsung menggeleng-gelengkan kepala-nya. Ia pun mengambil Kamera Digitalnya, dan memotret pemandangan Jakarta, ibu kota Indonesia diwaktu malam.

Liburan kali ini tidak akan pernah ia lupakan, juga kenyataan dimana Indonesia ternyata masih menghiraukan dirinya sebagai seorang negara...


Continued?

Y/N?


Sepertinya, ini merupakan salah satu fic terpanjang yang saya bikin?

Ngomong-ngomong, soal Borobudur tersebut... Jika ada sedikit (atau banyak?) kesalahan, mohon beri tahu saya. Soalnya, saya cuma menuliskan apa saja yang saya ingat sih. Dx

Oh yeah, ini fic Multichap! (AGAIN!) Ada yang mau merequest negara selanjutnya yang mengunjungi Indonesia dan daerahnya? :D

Review please… Review itu seperti makanan yang tetap menjaga saya bertenaga untuk meneruskan fic (lho?)


Created on: Wednesday, April 21st 2010

EDITED on: Sunday, June 6th 2010