Disclaimer: "Jan-Ken-Pon ..."

"Horreee!! saya menang .. berarti Naruto milik saya!!," ujar Masashi Kishimoto.

"Teme.., lain kali aku akan lebih berusaha ..." gerutu Aojiru sedikit kesal.

(_ _;

Story line by Aojiru

Warning: AU

You Take My Breath Away

Part 1

Seorang pemuda bermata biru yang dikenal dengan nama Uzumaki Naruto tengah berdiri penuh harap, sambil merangkul seorang gadis cantik berambut indigo dan mata lavendernya yang unik, gadis itu terus menatap Naruto tanpa bisa mengalihkan pandangannya, ia begitu terpesona dengan pemuda berambut kuning yang tengah mendekapnya itu.

"Tatap mataku Hinata, dengan begitu kau akan melihat, bahwa akulah satu-satunya orang yang pantas untuk kau cintai dan akan selalu mencintai dan menjagamu setulus hatiku." Ujar Naruto.

"Kau telah meluluhkan hatiku dan kau jugalah yang telah merubah seluruh hidupku."

"Aku akan menyerahkan segalanya untuk mendapatkanmu, aku juga rela mati kalau kau menolak cintaku ini."

"Jadi kumohon, kumohon jangan pergi ..., jangan tinggalkan aku disini seorang diri."

"Dari waktu ke waktu kesepian akan terus melandaku bila kau tak ada disini bersamaku."

"Aku akan mencarimu kemanapun kau pergi, aku akan terus mengejarmu walau sampai ujung dunia sekalipun, aku akan terus terjaga sampai aku menemukanmu 'tuk mengatakan sesuatu padamu, bahwa aku mencintaimu ..."

Seketika itu, wajah Hinata terlihat merah padam, kemudian Hinata memejamkan matanya dan kini kedua tangannya membalas mendekap erat tubuh Naruto.

"Tenang saja Naruto, aku tidak akan pergi kemanapun, apalagi untuk meninggalkanmu sendirian, karena aku, a- aku, aku juga mencintaimu Naruto," balas Hinata dengan mata berkaca-kaca.

"Hinata ..."

Kini keduanya saling memandang satu sama lain, saling mendekap erat satu sama lain dan suasana romantis mulai tercipta diantara mereka berdua, Naruto mulai memandang bibir indah Hinata dan begitu pula sebaliknya, perlahan-lahan jarak diantara mereka semakin menipis, beberapa senti lagi bibir mereka akan saling bersentuhan, dan saat semuanya sudah pasti terjadi ...

"CUT ..." sebuah teriakan menghentikan semuanya.

Dan setelah itu sorak sorai riuh dan tepuk tangan terdengar dari seisi ruangan tempat mereka berdiri.

'CLAP CLAP CLAP CLAP CLAP'

"Hebaaaat, hebat sekali, Naruto Hinata, akting kalian berdua benar-benar terlihat nyata, aku sampai terpesona."

"Benar apa yang dikatakan oleh Shikamaru, akting kalian berdua seperti sungguhan, benar-benar seperti sepasang remaja yang sedang jatuh cinta," tambah Sakura.

"Hahaha, kalian terlalu berlebihan, tidak sampai seperti itu kok, ya 'kan Hinata!?."

"I- iya .." balas Hinata perlahan.

"Hey, kalian berdua tidak perlu merendah seperti itu, kenyataannya akting kalian berdua memang hebat kok, bahkan aku sempat deg-degan tadi, jangan-jangan itu bukan sekedar akting saja, begitu pikirku," goda Kiba.

"Bi- bicara apa kau Kiba, tentu saja itu hanyalah sebuah akting saja, tidak mungkin aku dan Hinata melakukan hal seperti itu, bukan begitu Hinata ..."

"Iya .." balas Hinata dengan sedikit kecewa.

"Yah, mau akting atau bukan terserahlah, tapi yang pasti dengan begini drama kita kali ini pasti akan sukses besar, kita akan menjadi kelas dengan pemasukan terbesar pada festival sekolah tahun ini, nyahahaha ..."

"Mengingat sekarang kita sudah kelas 3, berarti ini adalah festival terakhir kita disekolah ini, jadi kita harus memberikan yang terbaik dari yang kita miliki, untuk memberikan kenangan terakhir kita disekolah ini ..."

"Huh, kau benar-benar Optimus ya Shikamaru..." jelas Kiba.

"Tunggu dulu Kiba, mungkin yang kau maksud adalah optimis, kalau Optimus dia adalah salah satu tokoh antagonis dalam film robot berjudul Trans***mer yang beredar pada pertengahan tahun 90an, dan sudah pernah ditayangkan secara bersambung oleh salah satu stasiun televisi swasta juga sudah pernah dibuat dalam versi layar lebar beberapa tahun yang lalu, dan berhasil meraup keuntungan sebesar bla bla bla bla ..." Ujar Sakura menjelaskan.

(.org/wiki/Optimus_Prime)

TWEW (semuanya sweatdrop)

"Well, kalau melihat akting mereka berdua sudah pasti kitalah yang akan menjadi juara tahun ini, tidak diragukan lagi. Oke semuanya, pertahankan semangat kalian sampai hari yang ditentukan nanti, kelas kita pasti jadi juara," ujar Shikamaru.

"Baiklah kalau begitu, latihan kali ini kita sudahi sampai disini dulu, jangan lupa untuk membereskan semuanya, festival sekolah tinggal seminggu lagi, mari kita berikan yang terbaik," ujar Kiba.

"YAA," jawab semuanya penuh semangat.

Bunyi decitan kursi dan meja yang saling berbenturan meramaikan suasana selepas latihan drama yang diadakan setiap tiga hari sekali itu, setelah itu semua murid segera mengambil barang bawaan mereka dan bergegas meninggalkan ruang kelas.

"Hinata, ada apa!?, ayo kita segera pulang," ujar Sakura.

"Ah, i- iya, baiklah ..." balas Hinata.

"Ahh, tunggu Hinata, bisa bicara sebentar ..." ujar Naruto yang tiba-tiba muncul.

"Na- Naruto, ada perlu apa denganku ..." tanya Hinata.

"Ti- tidak, anu .. sebenarnya ..." balas Naruto, namun tiba-tiba ia mengalihkan pandangan matanya ke arah Sakura dengan tatapan mengusir.

"Ada apa menatapku seperti itu Naruto!? ..., iya iya, aku mengerti, Hinata, kalau begitu aku pulang duluan ya," ujar Sakura.

"Ah Sakura tunggu dulu ..."

"Tidak apa-apa kok, sebagai sesama pemeran utama dalam drama, yang akrab ya ..." goda Sakura.

"Bu- bukan begitu kok, tidak mungkin aku akan melakukan hal seperti itu dengan Hinata," ujar Naruto.

Mendengar perkataan seperti itu kembali membuat Hinata syok. Sakura yang menyadari akan hal itu bergerak mendekati Naruto dan berkata dengan sedikit berbisik, "Naruto, lebih baik kau hentikan ucapanmu yang seperti itu, kau hanya menyakitinya saja."

"Eh!?, memangnya apa yang sudah kukatakan?," tanya Naruto.

"Dasar laki-laki bodoh, kau ini benar-benar tidak peka ya ..., sudahlah, kujelaskan pun laki-laki bodoh sepertimu tidak akan pernah mengerti," ujar Sakura sambil berlalu pergi. "Aku duluan ya Hinata."

"...!?" Naruto tetap tak mengerti apa maksud perkataan Sakura barusan.

"Na- Naruto, ada perlu apa?, apa yang ingin kau bicarakan?," tanya Hinata.

"Oh iya, bagaimana kalau kita pergi ke kedai teh disebelah sana, kita bicara sambil minum teh saja."

"Ba- baiklah ..."

* * * * *

"Maaf sudah menunggu, ini pesanannya ..." ujar sang pelayan sambil meletakan dua buah cangkir teh di atas meja.

"Ah, terima kasih ..."

Setelah terdiam selama beberapa saat.

"A- anu, Hinata, sebenarnya yang ingin kubicarakan adalah ..."

"Apa ..., apa yang ingin Naruto bicarakan ..." tanya Hinata.

" . . . . "

"A- aku harus mengatakannya sekarang juga, kalau terus menunda-nunda aku tak tau apa yang akan terjadi nanti, bisa-bisa keburu terlambat, ta- tapi keberanianu masih belum ..."

"Se- sebenarnya, aku .. soal Hinata ..., sejak dulu aku... su .. su.."

"Eh!?" Mendengar perkataan itu dan melihat reaksi dari wajah Naruto yang tiba-tiba saja berubah menjadi merah padam, Hinata menjadi mengerti apa yang akan dikatakan oleh Naruto, namun ternyata hal itu membuat wajah Hinata menjadi merah juga karena malu.

Namun tiba-tiba ...

"Oi Naruto, apa yang sedang kau lakukan disini ..." tanya Kiba yang tiba-tiba saja mucul. "Oh, sedang kencan ya !?, seperti biasa ya!?, kali ini siapa gadis yang akan kau bodohi..."

Mendengar hal itu, seketika raut wajah Hinata langsung berubah, kesal marah dan benci bercampur menjadi satu. Kedua tangannya mulai mengepal dan gemetar, dengan wajah tertunduk lesu.

"Ki- Kiba, apa yang kau katakan ..., a- anu Hinata, ini tidak seperti yang kau pikirkan, dengar dulu penjelasanku ..., Kiba cepat katakan sesua ..."

PLAAKK

Sebuah tamparan menghentikan apa yang hendak Naruto katakan.

"Bodoh, dasar Naruto bodoh ..."

"Hi- Hinata...," saat itu Naruto menatap wajah Hinata, terlihat air mata menggenangi matanya, dan wajahnya saat itu pun terlhat sangat sedih.

Seketika itu juga Hinata berlari pergi meningggalkan Naruto dengan perasaan kesal.

Naruto langsung jatuh tersimpuh, ia tak tau apa yang harus ia lakukan. "Sial, apa yang telah kuperbuat!?, aku harus bagaimana sekarang ..."

"Ma- maaf Naruto, aku hanya bercanda saja ..., tidak kusangka kalau dia akan menanggapinya dengan serius, a- aku pasti sudah melakukan kesalahan yang fatal .., bagaimana ini ..., aku menyesal ..." ujar Kiba ketakutan.

Naruto hanya bisa tertunduk lesu, sebuah sinar matahari yang masuk melalui celah langit-langit menyinarinya diantara kegelapan dengan diiringi alunan musik sendu.

"Huee, maaf Naruto .., aku minta maaaaaffff ...."

"Ka- kalau begitu sebagai gantinya, hamba akan melakukan 'Seppuku' utnuk menebus kesalahan ini ..." ujar Kiba lagi.

(.org/wiki/seppuku)

Saat itu sebenarnya Kiba berharap Naruto akan mengehentikannya dan berkata "Maaf Kiba, kau tak perlu melakukan itu semua, semua ini terjadi bukan karena kesalahanmu...". Namun saat itu tidak ada reaksi dari Naruto.

"Kubilang aku akan seppuku ...." lanjut Kiba.

Siiiiinnggg (masih tak ada reaksi)

"Kalau begitu tidak jadi saja, aku masih ingin merasakan indahnya dunia ini..."

Seketika itu pandangan mata Naruto berubah menjadi pandangan pembunuh kurang darah (Ehm!!) maksudnya pembunuh berdarah dingin. Dan dengan dinginnya ia berkata "cepat .. Seppuku ..."

"Hiiii, maafkan aku ..." ujar Kiba sambil berlari ketakutan.

* * * * *

Keesokannya

"Selamat pagi ..." ujar Naruto sambil bergerak memasuki kelas bersama Kiba dibelakangnya.

Setelah kejadian kemarin Kiba berjanji untuk menyelesaikan permasalahan yang ia buat itu, maka dari itu ia terus membokongi Naruto.

Sesaat Naruto memandangi seisi kelas, dan ia melihat bangku tempat Hinata duduk masih kosong, "mungkin Hinata belum datang, hari ini aku akan menjelaskan semuanya, menjelaskan semua yang terjadi kemarin, juga tentang apa yang kupikirkan tentangnya selama ini ..."

"Maaf Naruto, maaf soal masalah kemarin, aku benar-benar tidak berniat untuk membuatmu dalam masalah," ujar Kiba dengan sangat menyesal.

"Sudahlah Kiba, aku tau kau tidak sengaja mengatakan hal seperti itu, sekarang yang lebih penting adalah bagaimana agar Hinata mau memaafkanku, itu saja .."

"Tenang saja Naruto, karena aku juga bertanggung jawab akan masalah ini, aku juga pasti akan membantumu sebisaku," ujar Kiba.

"Ya, terima kasih Kiba .."

TENG TONG TENG TONG ...

"Bel masuk sudah berbunyi, tapi aku masih belum melihat Hinata, apa hari ini dia datang terlambat ..." ujar Naruto dalam hati.

"Hidoshi ..."

"Ya"

"Himawari ..."

"Ya"

"Hinata ..."

"Ya"

"Hinata ...!?"

"Ya .."

"Hinataaa....!!???"

"YAAA ..."

"Diam kau Naruto ..." ujar Iruka-sensei sembari melempar penghapus ke arah Naruto.

". . . ."

"Hinata!?, apa Hinata ada?..."

"A- anu Iruka-sensei, sepertinya hari ini Hinata berhalangan hadir," ujar Sakura.

"Apa !?, siapa yang menghalanginya ..."

"Ng!?, bukan begitu, maksudku sepertinya hari ini dia tidak masuk ..."

"Hng!?, kenapa?, apa dia sakit?," tanya Iruka-sensei.

"Entahlah, dia tidak memberikan kabar ..." balas Sakura.

"Begitu ya .., tidak seperti biasanya Hinata tidak hadir ..." ujar Iruka-sensei penasaran. "Baiklah ..., kalau begitu kita mulai saja pelajarannya ..."

"Booo .., selesaikan dulu absensinya ..." jawab beberapa murid serempak.

"Ah maaf, saya lupa, te he he he ..."

* * * * *

TENG TONG TENG TONG

"Baiklah anak-anak, pelajaran kali ini berakhir sampai disini dulu, jangan lupa kerjakan Pr_nya," ujar Iruka-sensei sambil berlalu pergi.

"Wah, pelajaran hari ini berlalu begitu saja ya, tidak terasa sama sekali ..." ujar Kiba.

"Iya, Authornya cuma mencet 'enter' tiga kali (plus ngetik bintang beberapa biji), dan tiba-tiba saja bel pulang telah berbunyi ..."

"Dasar Author yang aneh ..."

(-_-;) aojiru.

"Oh ya, ngomong-ngomong Hinata hari ini tidak masuk ya, padahal aku berniat untuk mendiskusikan tentang adegan terakhir yaitu saat sang pangeran mencium sang putri," ujar Shikamaru.

"Kalau yang itu, seperti yang sudah diputuskan sebelumnya, kita hanya akan berpura-pura berciuman," ujar Naruto.

"Kalau begitu, ijinkan aku menjadi stuntman saat adegan ciuman itu, aku akan menggantikan Naruto ..." seru Kiba.

"Enak saja, tidak akan kubiarkan ... seperti yang kubilang sebelumya, di adegan itu kita hanya akan berpura-pura saja."

"Apa tidak apa-apa kalau hanya berpura-pura berciuman saja?," tanya Shikamaru dengan wajah meledek.

"Tentu saja tidak apa-apa, apa maksudmu mengatakan hal seperti itu," tanya Naruto.

"Tidak ada maksud apa-apa kok, hanya saja ..."

"Dasar kau Shikamaru, yang ada di otakmu hanya hal seperti itu saja ya ..." balas Kiba.

"Hahaha, kau sudah mengenalku sejak lama kan, aku tidak akan berpikir seperti itu, sudahlah, kalau begitu aku pulang dulu, dan jangan lupa besok adalah latihan persiapan terakhir karena festival tinggal sebentar lagi..."

"Ya, tenang saja, aku akan berusaha," ujar Naruto.

"Kalau begitu, ayo kita juga segera pulang," ujar Kiba.

"Ya."

"Tapi sebelum itu bagaimana kalau kita pergi restleting sebentar ..."

"Maksudmu refreshing kali ..."

"Ya, terserahlah, bagaimana ..."

"Tunggu dulu Naruto ..."

Naruto menoleh ke asal suara tersebut, dan disana terlihat Sakura yang sedang berdiri dengan wajah menakutkan.

"A- ada apa Sakura .." tanya Naruto sedikit gemetar.

"Jangan berlagak bodoh ya," ujar Sakura kesal.

"Kau salah Sakura, tidak perlu berlagak bodoh pun, Naruto sudah bodoh dari sananya, nyahahaha .."

"Grrrr .., awas kau Kiba ...." geram Naruto.

"Cepat katakan, apa yang sudah kau lakukan pada Hinata, kenapa hari ini dia tidak masuk sekolah, kau tidak melakukan hal yang bodoh lagi 'kan ..."

"Tadi siang saat aku menelponnya dia bilang dia tidak apa-apa, tapi dari suaranya aku tahu bahwa dia habis menangis, apa mungkin kau melakukan sesuatu yang Ecchi kepadanya ..."

"Gheee .., ti- tidak kok, a- aku tidak akan melakukan hal seperti itu pada Hinata, percayalah ..."

"Lalu kenapa kau gugup seperti itu, kau pasti telah melakukan sesuatu padanya, ayo mengaku saja ..."

"Tunggu dulu Sakura, sebenarnya Naruto tidak melakukan apa-apa pada Hinata, akulah yang menyebabkan semua ini ..' ujar Kiba.

"Apa maksudmu!? ..." tanya Sakura.

"Be- begini, sebenarnya kemarin ..."

Kemudian Kiba menceritakan semua yang terjadi kemarin saat Naruto dan Hinata pergi bersama.

DUGG "Aduhhh."

"Dasar bodoh," ujar Sakura sambil memukul kepala Kiba. "Jelas saja dia akan marah, semua juga pasti akan kesal mendengar perkataan seperti itu, apalagi gadis seperti Hinata."

"Ta- tapi 'kan, aku hanya bercanda saja," terang Kiba.

"Bercanda juga ada batasnya tahu, kau itu terlalu berlebihan,"

"Ma- maaf .."

"Kau juga Naruto, kenapa saat itu kau tidak mengejarnya dan menjelaskan segalanya ..."

"Sa- saat itu aku terlalu syok sampai aku tidak bisa berbuat apa-apa."

"Huh, dasar laki-laki tidak berguna, pokoknya kau harus mina maaf padanya apapun yang terjadi, karena festival akan datang sebentar lagi dan kalian berdua adalah pemeran utamanya, kalau sampai kelas kita tidak bisa mementaskan drama kali ini, kalian berdua(Naruto dan Kiba) pasti akan menjadi bulan-bulanan murid sekelas."

"Eh!?, apa sampai seperti itu..., bukannya itu terlalu berlebihan!?" ujar Kiba.

"Tenang saja, apapun yang terjadi aku pasti akan minta maaf padannya," ujar Naruto.

"Aku juga akan mengatakan perasaanku yang sesungguhnya terhadap Hinata, kali ini aku akan berusaha, Ayah dan Ibu di surga, berikanlah aku kekuatan ...."

To be contiuned ...

Wew, akhirnya part one ini kelar juga. [-_-]=3

Maaf kalau ceritanya gaje, ngga keren atau sebagainya ...

Mohon refyunya untuk perbaikan di masa mendatang.

Oh iya, terima kasih sudah membaca, silahkan nantikan chapter berikutnya ... ^^

Aojiru