All characters cretaed and belongs to Masahi Kishimoto.

Story line by Aojiru.

Warning: AU

Summary: Terkadang cinta juga bisa berakhir menyakitkan, cinta jugalah yang terkadang bisa membuat sesuatu akan sangat menyedihkan, seandainya saja sejak awal aku tidak mengenalmu, pasti penderitaan ini tidak akan pernah kau rasakan, maaf ...

Aojiru mempersembahkan ...

CANCER

(Chapter 1)

Farewell!! Hinata.

Siang itu, di sebuah rumah sakit, di kota Konohagakure.

"Bagaimana Dokter, berapa lama lagi saya bisa bertahan . . ,"

"Kalau seperti ini keadaannya, kemungkinan kau masih punya waktu sampai sekitar dua bulan lagi,

"Du- du- dua bulan lagi . . ,"

"Itu juga kalau kau terus menghabiskan sisa waktumu dengan beristirahat, lain lagi ceritanya kalau kau terus memaksakan dirimu, kalau kau terlalu banyak bekerja dan menyebabkan kelelahan, penyakit ini bisa bertambah parah dan menyebabkan memendeknya sisa usiamu, juga kurangilah hal-hal yang dapat memberikan tekanan pada dirimu, karena hal itu juga memberi dampak yang negatif, jadi semua tergantung padamu, kami hanya bisa memperkirakannya saja."

"A- apa tidak ada cara yang dapat menolong ..."

"Sayang sekali, hanya inilah cara yang tersisa, kami sudah berusaha semaksimal mungkin, dan hanya ini yang bisa kami perbuat."

" . . . . . "

"Ini hasil tes mu tadi, sekarang kau boleh pulang, dan jangan lupa minum obat juga istirahat yang cukup, saya permisi dulu . . ," ujar sang Dokter sambil berlalu pergi.

". . . . . "

"Minum obat ya, kalau sudah begini sih minum obatpun juga sama saja, tidak ada gunanya."

Dengan beberapa lembar kertas hasil tes di tangannya, pria itu pergi meninggalkan rumah sakit dengan tubuh lunglai. Pria malang itu bernama Uzumaki Naruto, pria dengan rambut kuning bermata biru, Naruto divonis mengidap penyakit kanker ditubuhnya, dan penyakit itu sudah lama bersarang ditubuhnya, sayangnya penyakit ini baru Naruto sadari beberapa bulan terakhir, sehingga penanganannya agak sedikit terlambat.

Saat ini Dokter tempat dia sering memeriksakan penyakitnya menyatakan bahwa penyakit ditubuhnya sudah dalam taraf yang berbahaya, dan karena tak ada penanganan yang serius sejak awal, sehingga tak ada lagi yang bisa dilakukan untuk menyembuhkan penyakitnya itu, kini menurut sang Dokter sisa usianya sekarang tidak lebih dari dua bulan lagi, benar-benar pria yang malang. Namun tampaknya Naruto sendiri tidak terlalu mempedulikan hal itu.

"Haaah (menghela nafas), dua bulan lagi ya . . , hanya sedikit waktu yang tersisa, tapi setidaknya tidak ada lagi yang perlu kukhawatirkan, aku juga sedang tidak mengejar sesuatau impian atau apapun, jadi sepertinya di sisa dua bulan ini akan sangat membosankan, aku akan banyak beristirahat dan mengurung diri dalam kamar."

"Mungkin aku akan sekedar berkeliling untuk mengucapkan salam perpisahan kepada teman-temanku, tapi apa aku akan bilang kalau sebentar lagi aku akan mati dan pergi meninggalkan dunia ini, sepertinya sangat tidak keren sekali, aku harus mencaari alasan lain yang lebih bagus . . . ,"

" . . . . Ahh iya, bagiamana dengan dia ya, kalau dia tau tentang keadaanku yang sekarang, dia pasti akan menangis dan bilang akan ikut pergi bersamaku atau semacamnya, haah, merepotkan sekali, lebih baik aku tak usah mengatakan apa-apa padanya, walaupun aku berbohong padanya, paling tidak dia tidak akan menderita selama dua bulan kedepan, itu lebih baik bagi dirinya . . ."

Tiba-tiba saja Naruto sudah berada di depan apartemen tempat ia tinggal …

Naruto berdiri di depan pintu dengan perasan ragu-ragu, apakah ia akan masuk atau tidak, namun karena pikirannya masih kacau ia memutuskan untuk pergi berkeliling sebentar.

Namun belum sempat Naruto bergerak, pintu apartemennya tiba-tiba terbuka, dan terlihatlah sosok seorang gadis yang amat cantik dari dalam apartemennya.

"Ahh . . Naruto-kun, kebetulan sekali, aku sudah menunggumu dari tadi, ayo cepat masuk, aku sudah memasakkan sesuatu untukmu."

" . . . . . "

"Lho, kenapa diam saja!?, ayo cepat masuk, nanti makanannya keburu dingin," ujar gadis itu sambil menarik tangan Naruto.

Dan nama gadis itu Hinata Hyuuga, dia adalah kekasih Naruto, mereka sudah berpacaran sejak lulus dari universitas Kondoha dan sudah dua tahun sejak saat itu, walaupun mereka masih berpacaran tapi mereka sudah tinggal bersama di sebuah apartemen yang sudah mereka tinggali sejak setahun terakhir.

"Nah, kau tunggu saja disini, aku akan menyiapkan makanannya untukmu," ujar Hinata.

Tak lama kemudian.

"Tadaaa . . , ini dia makanannya, ayo lekas dimakan nanti keburu dingin."

"Ah, iya . . , selamat makan …"

. . . . .

"Rasanya tidak enak ya !?" tanya Hinata.

"Ti- tidak kok, rasanya enak sekali, seperti yang ku harapkan dari seorang Hinata."

"Begitu!?, habis dari tadi Naruto-kun diam saja, kupikir masakannya kurang enak,"

"Ah, aku hanya sedang memikirkan sesuatu kok, tapi masakanmu ini benar-benar enak lho, seperti buatan seorang pro."

"Benarkah!?, syukurlah kalau begitu, aku senang mendengarnya … "

. . . . .

Sambil menyantap, Naruto terus saja memperhatikan wajah Hinata.

"Eh Hinata, boleh aku menanyakan sesuatu?" Tanya Naruto.

"Apa!?"

"Bagaimana jika suatu saat nanti aku pergi jauuuhhhh sekali meninggalkanmu sendiri dan tak pernah kembali."

"Hee, memangnya kamu mau pergi kemana . . ,"

"Bu- bukan begitu, ini hanya misalkan, misalkan lho . . ,"

"Hmm, kalau Naruto-kun pergi jauh meninggalkanku sendirian dan tak pernah kembali, yaa aku akan mencari pacar yang lain, yang tak akan pernah pergi jauh meninggalkanku sendirian, gampang 'kan . . ,"

"Ja- jadi begitu ya . . ," ucap Naruto lesu.

"Hei hei, kau tidak percaya dengan apa yang kukatakan barusan 'kan!?, aku hanya bercanda kok, tidak akan aku mencari pengganti Naruto-kun semudah itu . . ," balas Hinata.

"Eh, bukannya tidak akan, tapi tidak mungkin aku mencari pengganti Naruto-kun, karena orang yang kusukai hanya Naruto-kun dan akan selalu Naruto-kun, tak peduli walau ada orang setampan apapun yang datang untuk menggodaku, di hatiku hanya ada tempat untuk seseorang yaitu Naruto-kun, dan kalau Naruto-kun pergi ke tempat yang jauuuuhh sekali dan tak akan pernah kembali, aku akan tetap menunggumu walau hal itu akan menghabiskan waktu berjuta-juta tahun lamanya, walaupun sendirian, aku akan tetap menunggu, karena hanya Naruto-kun satu-satunya orang yang akan kucintai dan tak akan ada yang bisa merubah hal itu . . ."

Mendengar hal itu Naruto tersenyum lebar dan merasa lega.

"Terima kasih Hinata, aku senang sekali mendengar hal itu darimu . . , andai saja aku bisa terus berada disisimu untuk selamanya …"

"Tapi, semakin dia mencintaiku, akan semakin berat baginya untuk berpisah denganku, kalau terus begini, dia pasti akan sangat menderita saat aku 'pergi' nanti, kalau begitu sebisa mungkin aku harus membuatnya melupakanku walaupun sedikit demi sedikit, agar saat aku pergi nanti dia sudah tak lagi mencintaiku atau setidaknya dia sudah melupakanku."

"Naruto-kun, kenapa diam saja, kau sedang memikirkan apa sih !?" Tanya Hinata.

"Ah tidak . . , sebenarnya aku . . . ,"

"Ada apa!?, kalau ada masalah, katakan saja, mungkin aku bisa membantumu . . ."

"Tidak apa, tidak ada masalah apa-apa kok."

"Apa benar begitu!?, sejak tadi kau terlihat sangat gelisah, kalau memang ada sesuatu lebih baik kita bicarakan saja."

"Tak perlu khawatir, tidak terjadi apa-apa kok, tenang saja …"

" . . . . , kau bohong 'kan, pasti terjadi sesuatu, katakan saja, apa kau tidak mempercayaiku, Naruto-kun …"

GRAKK (kursi bergeser)

Naruto beranjak dari kursinya.

"Naruto-kun ..."

"Aku sudah kenyang ..." ujar Naruto dengan dingin. Kemudian ia pergi menuju kamarnya.

"Tu- tunggu Naruto-kun ..."

BLAMM (pintu tertutup)

"Naruto-kun .., apa aku telah mengucapkan sesuatu yang salah ..." ujar Hinata yang khawatir akan sikap Naruto yang sedikit aneh.

Hinata terus berpikir dan batinnya terus bertanya-tanya, "Sejak tadi, Naruto-kun bertingkah sangat aneh, sikapnya juga sangat dingin, tidak seperti biasanya, apa mungkin telah terjadi sesuatu padanya!?, kalau begitu aku harus menanyakannya ..."

Hinata lalu bangkit dari kursi dan beranjak menuju kamar dimana Naruto berada, kemudian ia membuka pintu.

"Naruto-kun, apa benar kau tidak ap ..." namun Hinata menghentikan kalimatnya sesaat setelah membuka pintu kamarnya. "Eh!?..."

Naruto dengan sigap merespon kedatangan Hinata yang tiba-tiba itu dan menghentikan hal yang sedang ia lakukan tadi.

"Bisakah kau mengetuk pintu dulu sebelum kau masuk ..." ujar Naruto sedikit kesal.

"Eh, ma- maaf Naruto-kun, ..."

"Ada apa ..."

"A- anu, tadi itu apa yang sedang kau lakukan?, apa kau sedang mencoba menyembunyikan sesuatu?" tanya Hinata.

"Aku tidak menyembunyikan apapun ..."

"Ta- tapi tadi aku melihat Naruto-kun mencoba menyembunyikan secarik kertas atau ..."

"Sudah kubilang aku tidak menyembunyikan apapun," potong Naruto dengan agak marah. "Lagipula kalau memang begitu, hal itu tak ada hubungannya denganmu," lanjutnya.

"Eh!?" Hinata syok mendengar apa yang Naruto ucapkan barusan.

"Ta- tak ada hubungannya denganku ...," ucap Hinata lirih. "Kau mengatakannya Naruto-kun, tega sekali kau mengatakan hal seperti itu kepadaku Naruto-kun .., pa- padahal kita sudah lama bersama, tapi ... tapi .." terlihat air mata mulai mengalir membasahi kedua pipi Hinata.

Tanpa melanjutkan kalimatnya Hinata pergi meninggalkan kamar itu dengan cucuran air mata.

"Ahm, Hi- Hinata ..,aku tak bermaksud ..."

"Tak boleh ..., walaupun ingin, tapi aku tak boleh mengejarnya, kalau aku mengejarnya semua ini akan menjadi sia-sia, aku harus kuat .., aku harus bertahan ...."

Selang beberapa saat kemudian, Naruto beranjak dari kamarnya, saat membuka pintu, ia melihat Hinata sedang duduk di sofa dengan wajah sedih dan muram. Namun Naruto mencoba untuk tidak mempedulikannya dan terus melangkah keluar.

"Naruto-kun ..." ujar Hinata perlahan. Sepenggal kalimat itu menghentikan langkah Naruto.

"Ke- kenapa kau bersikap dingin seperti itu padaku, apa aku telah membuat suatu kesalahan ..."

Namun Naruto hanya diam dan menundukan wajahnya.

Hinata kembali melanjutkan kalimatnya "Aku minta maaf kalau memang aku telah melakukan kesalahan padamu, jadi ..."

"Maaf, aku akan pergi keluar sebentar .." potong Naruto.

"Ah, tu- tunggu Naruto-kun …"

Seolah tak menghiraukan apa yang diucapkan oleh Hinata, Naruto terus melangkah keluar meninggalkan Hinata.

"Maaf Hinata, hanya ini yang bisa kulakukan untuk membuatmu melupakan aku, untuk membuatmu membenciku, untuk membuatmu menjauhiku, untuk membuatmu pergi meninggalkanku, tak ada pilihan lain."

Malam itu, Naruto terus duduk di bangku taman, memikirkan apa yang baru saja ia lakukan terhadap Hinata, memikirkan apa yang akan ia lakukan terhadap Hinata, ia telah menyakiti Hinata dengan segala kepalsuan dan kebohongan, ia akan melakukan apa saja untuk membuat Hinata pergi meninggalkannya, ia tak bisa menunjukan dirinya yang sebenarnya, yang hanya punya waktu sedikit waktu untuk bisa bersama dengan orang yang amat disayanginya, yang tak bisa terus ada untuk bisa menjaga orang yang amat dicintainya.

"Huh, membayangkan wajah Hinata yang tadi kubentak saja aku sudah tidak kuat, apa aku benar-benar bisa menyakitinya lebih dari ini …"

Naruto merasa amat bersalah akan itu semua, tapi tak ada pilihan lain yang yang dapat ia pilih, semua pilihan akan berakhir sama, yaitu menyakiti Hinata, walau apapun yang ia pilih.

Tanpa terasa malam pun akan segera berakhir, dan matahari sudah menampakan sinarnya di ufuk timur, Naruto segera beranjak dari tempat ia duduk dan berniat untuk kembali ke apartementnya. Dan sesampainya disana, ia melihat Hinata tengah tertidur lelap di sofa, masih mengenakan pakaian yang sama dengan yang terakhir ia lihat.

"Mungkin semalaman ia terus menungguku …, walaupun aku telah membentaknya, tapi ia tetap menungguku untuk kembali, dasar gadis bodoh …"

Naruto segera mengambil selimut dan menyelimuti tubuh Hinata, kemudian Naruto duduk di sebelah Hinata, menatap wajah lugunya yang sedang tertidur lelap, membelai perlahan rambutnya yang indah dan lembut.

Suasana begitu tenang, hanya serangga-serangga malam yang masih menyerukan alunan lagunya yang indah, sinar mentari pagi perlahan menyelinap masuk melalui celah-celah jendela kamar.

Naruto berbisik perlahan.

"Maaf ya Hinata, maaf atas apa yang telah kulakukan padamu, juga atas apa yang akan kulakukan padamu mulai saat ini, aku tak bisa jujur dan mengatakan yang sebenarnya padamu, aku takut hal itu malah akan menyakitimu, dan kau pasti tahu dari lubuk hatimu yang paling dalam bahwa aku tidak bisa dan tak akan pernah bisa untuk menyakitimu."

"Tapi maaf, benar-benar maaf, mungkin kali ini aku akan sedikit menyakitimu dan mungkin kau akan menangis karenanya, tapi ini semua adalah untuk kebaikanmu sendiri, aku tak punya banyak waktu lagi untuk bisa terus berada bersamamu, sedangkan waktumu masih panjang, dan saat itu …, kau pasti bisa menemukan seseorang yang lebih baik dariku, yang akan bisa menjagamu sepanjang waktu dan mencintaimu melebihi siapapun, aku percaya kau pasti bisa menemukannya …"

Naruto kemudian terdiam sejenak, mengusap kedua matanya yang mulai dilinangi air mata, ia kembali mengenang masa-masa indahnya bersama Hinata, mulai dari saat pertama kali mereka bertemu, melewati masa-masa itu sampai akhirnya mereka bersama dan menjalin cinta, melewati suka dan duka bersama, menangis dan tertawa bersama, benar-benar masa yang amat membahagiakan, masa-masa yang tak akan pernah bisa ia lupakan sampai kapanpun juga.

"Terima kasih Hinata, terima kasih atas segala waktu dan kasih sayang yang telah kau berikan padaku, terima kasih atas segala kenangan indah yang telah kita lewati bersama …"

Sekuat apapun Naruto menahannya, tetap saja ia tak kuasa untuk membendung air matanya untuk mengalir dari kedua matanya, sambil membayangkan bahwa dia akan menyakiti orang yang paling disayanginya, bahwa dia akan pergi meninggalkan kekasihnya seorang diri.

"Berat…, berat sekali untuk melakukan semua ini padamu Hinata, aku benar-benar tak sanggup …"

Naruto terus menangis menyesali nasibnya, "Kenapa Tuhan, kenapa hal ini harus terjadi padaku, kenapa kau lakukan ini padaku , dosa apa yang telah kuperbuat sehingga kau menghukumku seperti ini …"

"Padahal, aku juga ingin seperti mereka, hidup bahagia bersama dengan orang yang dicintai, menghabiskan banyak waktu bersama dan bisa terus menjaga dan melindungi orang yang dicintainya, tapi kenapa …, kenapa kau lakukan ini padaku, kenapa, kenappaaaa …"

Naruto menjerit ditengah keheningan malam, dan setelah beberapa saat Naruto mencoba untuk menenangkan dirinya kembali, ia sadar bahwa menangis tak akan menyelesaikan apapun, ia kembali meyakinkan dirinya bahwa hanya ini jalan satu-satunya yang bisa ia pilih, setelah hati kecilnya mantap dengan pilihannya, ia kembali menatap wajah Hinata untuk yang kesekiaan kalinya, menyingkap rambut yang menutupi keningnya dan kemudian memberikan sebuah kecupan kecil.

"Selamat tinggal Hinata, kuharap kau berbahagia selalu …"

Itulah kata-kata terakhir yang diucapkan oleh Naruto, setelah itu ia memutuskan untuk pergi meninggalkan Hinata, meninggalkan orang yang amat dicintainya, namun Naruto melakukan semua itu agar Hinata bisa melupakan dirinya yang tidak bisa terus berada disisinya untuk menjaganya selalu, semua ia lakukan demi kebahagiaan Hinata.

"Setelah ini aku akan sendirian, sendirian menanti ajal datang menjemputku, tapi walaupun begitu aku tidak merasakan sedih ataupun kesepian, sebab semua kenangan indah yang telah kita ciptakan bersama akan selalu hadir dan menemaniku sampai saat itu tiba ..."

To be continued …

_( ^o^)// 'kampai' \\(^o^ )_

Fuhh, akhirnya chapter satu beres juga…

Terima kasih buat sempai-sempai yang sudah sudi untuk membaca fik nan membosankan ini,

Walaupun begitu saya berharap sempai-sempai sekalian merasa terhibur …

Dan kalau tidak keberatan, sudilah kiranya sempai-sempai memberikan refyunya guna perbaikan di masa mendatang …

Silahkan dinantikan chapter yang berikutnya.

By, Aojiru.