Friendship

A Pandora Heart Fanfiction

Written by Gokudera J. Vie

Pandora Heart © Mochizuki Jun

Platonic VincentxAda. Slight ElliotxAda. Out of Characters. Typo(s) and EYD error. Re-written.

Summary: Tak ada yang mengetahui secara pasti siapa yang disukai oleh Eida. Namun suatu hari, Oz dan kawan-kawan memergoki dia dan Vincent Nightray sedang berkencan.

# # #

Pada sebuah hari libur sekolah yang panjang, Eida memutuskan untuk mengunjungi kakaknya di kediaman keluarga Vessalius di desa.

"Selamat datang Nona Eida," sambut para pelayan setibanya Eida di manor Vessalius.

Manor megah tersebut merupakan pemberian dari Glen Baskerville kepada kakaknya, Jack Vessalius, sebagai hadiah ulang tahun. Tapi bukan kakak yang itu yang ingin dikunjungi Eida, melainkan kakaknya yang satu lagi, Oz Vessalius.

"Aku pulang," kata Eida membalas sambutan para pelayan dengan sebuah senyuman sopan.

"Tuan Jack, Tuan Oz, dan Nona Alice sudah menunggu Anda di ruang baca," kata seorang pelayan sembari mengambil barang bawaan Eida.

Eida mengangguk. Ketika salah seorang pelayan maju dan berkata akan mengantar Eida ke ruang baca, Eida menolak. "Tidak usah, terima kasih," ujarnya. "Aku tahu tempatnya kok. Aku bisa ke sana sendiri."

# # #

"Kakak," sapa Eida dan langsung menghambur ke dalam pelukan Oz.

Jack yang tak mendapat pelukan hanya bisa memandang iri pada adik-adiknya yang sedang berpelukan. Sedangkan Alice hanya bisa memberengut kesal melihat tingkah kakak beradik itu.

Alice Baskerville adalah adik perempuan Glen Baskerville. Baskerville bersaudara merupakan tiga bersaudara. Selain Glen, Alice memiliki seorang kakak kembar bernama Alyss. Alice dan Alyss sangat mirip satu sama lain, laiknya pinang dibelah dua. Yang membedakan keduanya secara fisik hanyalah warna rambut mereka—Alice berambut cokelat sedangkan Alyss berambut keperakan.

"Eida! Oz sedang berbicara padaku!" seru Alice sambil menarik Oz ke dekatnya ketika reuni Oz dan Eida tak kunjung berakhir.

Awalnya Oz dan Eida dikagetkan oleh seruan Alice, tapi kekagetan itu segera digantikan oleh sebuah senyum jahil.

"Maaf ya, Alice-san, aku tak menyangka kalau kau akan cemburu," kata Eida berpura-pura polos.

"A-aku tidak cemburu!" bantah Alice dengan wajah merah padam.

Semua yang ada di sana pun tertawa sementara Alice semakin kesal.

"Oh ya, Eida, ada seseorang yang ingin kukenalkan padamu," kata Jack menginterupsi suasana.

"Siapa?" tanya Eida.

"Salah seorang kerabat Nightray," jawab Jack. "Kurasa sebentar lagi dia akan kembali dari acara minum tehnya dengan Alyss."

Selagi Eida sibuk menerka-nerka siapa orang yang dimaksud oleh Jack, pintu ruang baca terbuka. Dan dengan spontan semua mata tertuju kesana. Seorang pria berambut pirang dan bermata heterokromia sedang berdiri disana bersama Gilbert Nightray.

"Ini dia orang yang kumaksud!" seru Jack, menarik pria bermata merah dan emas itu untuk dipamerkan pada Eida. "Namanya Vincent Nightray. Kakak dari Pangeran Eliot Nightray adiknya Gilbert.".

Kalau dijelaskan seperti itu, Eida segera paham. Eliot Nightray adalah teman satu sekolah Eida, sedangkan Gilbert bisa dikatakan teman sejak kecilnya. Sering kali kedua orang tersebut bercerita mengenai Vincent secara implisit tanpa pernah menyebutkan namanya. Demikian, meski belum bertemu dengan Vincent sebelumnya, Eida langsung merasa kenal.

"Salam kenal, Vincent-sama," kata Eida memberikan salam hormat.

"Salam kenal juga, Eida-sama," kata Vincent dengan senyum khasnya. Diraihnya tangan kanan Eida lalu mengecupnya seperti kebiasaan para bangsawan.

Eida tersipu.

Semua yang ada disana segera memandang mereka penuh arti.

"Jack!" seru Alyss yang tiba-tiba menyerbu masuk memecah suasana 'romantis' tadi.

# # #

Vincent sedang duduk di bangku taman kediaman Vessalius. Matanya terpejam menikmati semilir angin musim semi yang berhembus.

"Vincent-sama," sebuah suara menyapanya.

Vincent membuka mata dan memandang si pemilik suara. Eida.

"Ya, Eida-sama?" tanya Vincent.

"Panggil saja Eida," koreksi si gadis Vessalius. "Ada beberapa hal yang ingin kutanyakan, dan boleh aku duduk disebelah Anda?"

"Silahkan." Vincent menggeser tubuhnya.

Segera, Eida menempati tempat yang disediakan Vincent.

"Jadi, apa yang ingin Anda tanyakan, Eida-sama?"

"Eida saja," koreksi Eida sekali lagi, tiba-tiba wajahnya bersemu merah. "Menurut Anda, Eliot-san itu bagaimana?"

Mulut Vincent melengkung membentuk segaris senyuman tipis. "Ternyata Eliot ya?"

"Eh?" Eida mengerjap-ngerjapkan matanya dengan bingung.

Bagi Vincent, Eida tampak manis dan lucu jika melakukan itu, dan Vincent ingin tertawa karenanya.

"Semua orang sedang menerka-nerka apakah Anda sedang menyukai seseorang, dan kalau 'ya', kira-kira siapa gerangan orang itu. Bahkan mereka memakai acara taruhan."

Wajah Eida merah padam, entah karena malu atau marah.

"Siapa?"

Mengerti apa maksud dari kata itu, Vincent berkata, "Jack-sama yang memulainya."

Eida langsung berdiri. "Saya permisi sebentar, Vincent-sama," gumamnya dengan suara bergetar. Dan diapun pergi untuk menghukum kakak laki-lakinya, Jack, yang kekanak-kanakan.

"Semoga berhasil," seru Vincent.

# # #

"Aw!" pekik Jack ketika Alyss mengobati pipinya yang baru saja ditampar Eida. Di pipi Jack membekas sebuah bentuk tangan berwarna merah.

"Jangan memekik seolah kau perempuan, Jack. Kau laki-laki," kata Alyss memberi penekanan pada kata laki-laki.

"Tapi ini sakit," bantah Jack.

"Siapa suruh kau membuat Eida marah," kata Oz yang sedang bermain kartu dengan Alice dan Break, seorang pria berambut keperakan yang langsung memberikan tatapan meremehkan pada Jack.

"Apa lihat-lihat Break?" bentak Jack pada temannya tersebut.

"Jack !" seru Alyss sambil menyentak tangan Jack untuk duduk kembali. "Kau tahu sendiri kan kalau Break itu jahil, dan kau akan semakin dijahili kalau melawannya, seperti Gillbert itu."

"Aku tak mungkin sejahat itu pada Jack-sama," kata Break melambai-lambaikan tangannya.

Jack cemberut, kemudian menghenyakkan tubuhnya ke sofa semakin dalam.

"Jack, jangan bergerak!" seru Alyss dan diikuti pekikan Jack.

# # #

"Huuhh,... dasar kakak bodoh! Seenaknya saja dia menjadikanku objek taruhan dan ajang hiburan," gerutu Eida dalam hati. "Aku benar-benar dipermalukan, bagaimana jadinya kalau Eliot-sama sampai tahu!"

Kemarahannya yang meluap-luap membuat setiap orang yang berpapasan dengannya segera merapat ke dinding dengan wajah ketakutan dan tubuh gemetar. Kaki Eida yang menghentak-hentak tiba-tiba berhenti, kepalanya bergerak-gerak mencari sesuatu dengan panik. Setelah itu, dia memasuki ruangan terdekat.

"Eliot, bagaimana sekolahmu?" terdengar suara samar Gillbert yang bertanya pada Eliot.

Rupanya, kedatangan Gillbert dan Eliot lah yang membuat Eida memasuki ruangan tadi, untuk bersembunyi.

"Baik-baik saja kok, dan jangan sok jadi kakak," jawab Eliot ketus.

Gillbert terkejut ditolak mentah-mentah oleh adik kesayangan. "E-Eliot?"

"Minggir kau Gillbert payah," bentak Eliot sambil berusaha lari.

Tapi, Gillbert tak mau melepaskan Eliot begitu saja. Terjadilah acara kejar-kejaran sambil berteriak-teriak di sepanjang koridor di kediaman Vessalius.

Sementara itu, Eida yang sedang bersembunyi disebuah ruangan yang tidak dia ketahui ruangan apa dan milik siapa, menghela nafas lega ketika Eliot sudah menjauh.

"Lho, Eida-sama?" tanya seseorang membuat Eida terlonjak kaget.

Eida berbalik, menatap si pemilik suara. Wajah Eida pucat, tapi memaksakan diri bicara. "I-ini kamar Vincent-sama ya?" tanya Eida dengan senyum kaku.

"Pfft ... Anda tenang saja, saya tidak akan menceritakan hal ini pada Eliot kok," kata Vincent diiringi tawa kecil ketika melihat kelakuan Eida. "Kalau Eida-sama masuk ke kamar seorang lelaki dengan berani."

Eida bingung harus merasa lega atau malu. Tapi, detik berikutnya, Eida tidak memilih salah satu. Ekspresinya malah berubah cemberut. "Aku sudah bilang kalau kau harus memanggilku 'Eida' saja kan?"

"Baiklah, baiklah," Vincent mencoba menenangkan Eida yang cemberut. Sedikit kecewa karena Eida tidak menanggapi godaannya. Tapi bukan berarti Vincent kehabisan amunisi. "Sekarang, karena Eliot sudah pergi, Anda sudah bisa kembali berjalan sambil menghentak-hentakkan kaki di sepanjang koridor," lanjutnya sembari mendorong Eida keluar kamarnya.

Wajah Eida kembali memerah. Dan ketika Vincent berhasil mengeluarkan Eida dari kamarnya, Eida meneriakkan nama Vincent penuh kekesalan.

Sedangkan Vincent sendiri sedang berusaha menahan tawa sampai terbungkuk-bungkuk di kamarnya. "Gadis yang menarik," gumamnya.

# # #

Pagi-pagi sekali, Vincent menemukan dirinya berada di sebuah tempat yang asing dengan pakaian yang sudah diubah habis-habisan. Oleh Eida. Dia telah dipaksa mengenakan pakaian rakyat jelata—kemeja putih yang dilengkapi rompi kulit berwarna coklat. Tidak ada jubah, tidak ada emblem kebesaran.

"Sebenarnya, apa yang sedang kita lakukan di tempat ini 'Eida'?" tanya Vincent sedikit gusar.

"Kita akan berbelanja sambil mengobrol sedikit," jawab Eida sambil memilih-milih kubis yang bagus.

"Tapi, kenapa tidak meminta hal ini baik-baik saja? Dan bukan dengan cara menculikku di pagi buta, itu mencurigakan," kata Vincent sambil menggertakkan giginya keras-keras, menahan diri agar tidak berteriak frustasi. Vincent memang susah bangun pagi, dan kalau dibangunkan sebelum jamnya pasti temperamennya buruk sekali.

Eida menatap Vincent dengan mata hijaunya. "Aku pikir kalau tidak begitu, kau tak akan mau ikut denganku."

Vincent menghela nafas pasrah. "Ya sudahlah, karena kita juga sudah terlanjur disini."

Mata Eida langsung berbinar-binar, dan mengingatkan Vincent tentang Sharon—seorang wanita bangsawan yang dia kenal—wanita yang sangat ... seram. Sharon memiliki seribu satu cara untuk membuat orang tunduk padanya dan melakukan apa pun keinginannya.

"Wanita itu mengerikan," batin Vincent membandingkan Sharon dan Eida.

"Selain itu," kata Eida tiba-tiba membuyarkan pikiran Vincent, wajah Eida merona. "Ada beberapa hal yang ingin kutanyakan tentang Eliot-sama."

Entah kenapa, tiba-tiba Vincent dikuasai keinginan untuk mencekik gadis dihadapannya itu dan Eliot. Tapi, dia hanya tersenyum sambil berkata, "Tentu saja pasti begitu."

Sementara itu, tak jauh dari tempat Eida dan Vincent berdiri—

—Eliot bersin, dan langsung dibungkam oleh Jack.

"Jangan berisik Eliot-sama, kita tak mau ketahuan sedang memata-matai mereka kan?" tanya Sharon sambil tersenyum.

Eliot dapat melihat iblis hitam dibelakang Sharon. Segera saja Eliot mengangguk-angguk. Dia tidak punya keinginan mati muda.

Apabila dijelaskan secara singkat, seperti ini kejadiannya: Eida menculik Vincent untuk diajak belanja ke pasar di kota, Vincent terperangkap bersama Eida untuk membantu Eida mendekati Eliot, Eliot terpaksa memata-matai kedua orang tadi karena ajakan Jack dan Sharon yang merupakan saksi mata penculikan Vincent.

"Lho, Eliot? Jack? Sharon?" seru Alyss yang sedang bersama Alice, Oz, Break, dan Gillbert. Sungguh sebuah kebetulan yang menakjubkan.

"Ssssttt!" seru Jack dan Sharon bersamaan.

"Kalau kalian tetap membungkam Eliot-sama, nanti dia bisa mati lho," kata Break yang meliht Eliot sudah megap-megap dengan tangan meronta-ronta.

Jack langsung melepas bungkamannya dan mendapat tatapan maut dari Eliot.

"Apa yang kalian lakukan disini?" tanya Alice penasaran.

"Membuntuti Eida yang sedang berkencan dengan Vincent," kata Jack dan Break bersamaan. Yang satu menyampaikan fakta, yang lain mengutarakan deduksi setelah menangkap pemandangan ganjil ditengah pasar.

"APA!?" teriak Gillbert yang langsung mencari subjek yang sedang dibicarakan, dan pingsan setelah mendapat pukulan leher dari Jack. Bagaimana kalau sampai Vincent dan Eida mendengar teriakan melengking Gilbert tersebut? Vincent itu telinganya peka sekali terhadap sesuatu yang berkaitan dengan Gilbert.

Benar dugaan Jack—

"Kau dengar sesuatu?" tanya Vincent.

"Dengar apa?" tanya balik Eida.

"Bukan apa-apa." Vincent menggeleng meski dalam hati bertanya-tanya apakah yang dia dengar barusan adalah suara Gilbert atau bukan.

Kembali pada para bangsawan yang saking menganggurnya tengah menguntit dua orang berbelanja.

"Jadi, menurutmu Eida menyukai Vincent?" tanya Oz dengan wajah serius.

Sharon dan Jack serentak mengangguk. Gillbert menggeleng-geleng seolah itu mustahil. Sisanya hanya cuek sambil memperhatikan Eida dan Vincent.

"Itu tak mungkin! Vincent itu menyeramkan, apa sih yang bisa disukai Eida-sama dari orang itu?" kata Gillbert sambil merinding. Sungguh kata-kata yang jahat tentang adik sendiri.

"Kau cemburu?" tanya semua orang dengan serentak.

"ITU TIDAK MUNGKIN!" Gilbert sontak berdiri dengan wajah merah padam.

Semua orang memandangnya sangsi.

"Itu tidak mungkin," bantah Gilbert dengan panik. "Kau percaya padaku kan, Oz?" Gilbert mencoba mencari dukungan dari Oz.

Oz hanya mengangkat bahu.

"O-oz!"

Dan Gilbert pun pingsan lagi karena terlalu panik.

# # #

"Vincent-sama, Anda dekat dengan saudara Anda?" tanya Eida dalam perjalanan pulang mereka.

"Vince saja," koreksi Vincent dengan sebuah senyuman gentleman. Tangannya penuh dengan belanjaan mereka. "Aku menyukai Gil tapi dia tidak menyukaiku. Sedangkan Eliot, kami jarang bertemu," jawab Vincent atas pertanyaan Eida.

"Baiklah, Vince." kata Eida. "Jadi, apakah Anda menyayangi mereka?"

"Entahlah."

Hening sejenak.

"Aku," Eida memulai. "Aku tak pernah menceritakan ini pada siapapun. Aku ini seorang maniak misteri," aku-nya. "Aku tahu kalau kau tak akan setuju kalau adikmu mempunyai tunangan yang aneh. Tapi, bisakah kau membantuku untuk menyatakan perasaanku pada Eliot-sama?" lanjut Eida.

"Kau bisa menceritakan apapun padaku. Dan, aku tak keberatan kok punya adik ipar yang manis sepertimu," jawab Vincent. Jawaban yang sama sekali tidak diduga Eida.

Wajah Eida merona.

"Kau merona tuh," kata Vincent sambil tertawa kecil.

"Ukh." wajah Eida semakin memerah. Dan tawa Vincent pun semakin keras serta tak tertahankan.

"Ja-jangan tertawa!" seru Eida.

Vincent berhenti tertawa, kemudian mendekatkan bibirnya ke telinga Eida, dan berbisik, "Kau manis sekali kalau seperti itu, calon adik ipar."

"Vincent!" Lagi-lagi Eida meneriakkan Vincent penuh kekesalan sementara Vincent tertawa-tawa.

# # #

"Kurasa mereka memang saling jatuh cinta," komentar Sharon.

Jack hanya mengangguk-angguk setuju.

"Bagaiman kalau pertunangan mereka diadakan secepatnya?" usul Oz.

Pintu ruangan terbuka, memotong pembicaraan. Eida masuk ke ruangan itu dengan wajah cemberut bersama Vincent yang masih susah menahan tawa. Dan semua meamndang penuh arti ke arah mereka berdua.

"Sudah diputuskan, Eida dan Vincent akan bertunangan minggu depan," kata Jack dengan senyum mengembang.

"APAA?" seru Vincent dan Eida bersamaan.

Esoknya, Jack tidak diperbolehkan keluar kamar selama sebulan karena patah tulang dan memar.

END