Hajimemashite, Minna…

Watashiwa ~ Ruki ~ desu

Disclaimer : Tite Kubo

Disclaimer : Obayashi Miyuki

Warning : OOC, AU, Typo

Pairing : IchiRuki

Rate : T


Trim'z ama semua yang udah nge'r'viu


Riztichimaru

Fitria –AlyssAmarylissJeevas

master of bankai

Yuki-ssme

sava kaladze

So-Chand 'Luph pLend'

Ciel L. Chisai

edogawa Luffy

Jee-ya Zettyra

Aine Higurashi

Zheone Quin

Azalea Yukiko

aRaRaNcHa

Yurisa-Shirany Kurosaki

ichirukiluna gituloh

sarsaraway20


^_^ Kilas balik chap 6


Rukia di bawa Ichigo ke sebuah pulau di tengah samudra, saat malam tiba, sinar rembulan menerangi mereka berdua, Pintu Dunia Lain terbuka di atas langit… Apa yang akan terjadi pada Putri dunia lain?


~DONGENG PUTRI DUNIA LAIN~

== Ruki ==

Chapter 7


Rukia masih terpaku, matanya menatap nanar inti dari cahaya itu, tiba-tiba saja air matanya jatuh membasahi pipinya,

"Apa yang terjadi padaku?" kata Rukia yang heran dengan kesedihannya sendiri.

Perlahan tubuhnya merasa dingin dan ia merasa dadanya sesak. Rukia sulit bernafas. Apa yang terjadi? Sinar dari langit itu memenuhi dan menjadi terfokus hanya pada Rukia.

Ichigo terkejut, ia tidak menduga hal ini akan terjadi. Perlahan cahaya putih berkelip itu semakin menghilangkan sosok Rukia. Rukia memejamkan mata, ada sesuatu yang bergejolak dalam dirinya. Dan Rukia tidak mengerti apa itu.

*(n_n)*

Tiba-tiba sayap putih nan berkilauan membentang dari punggung Rukia. Sayap yang lebar, indah dan sangat cantik. Gaun putih bersih menjalar memenuhi tubuh mungil gadis itu, melambai-lambai dengan pita yang terurai panjang di pinggulnya, anting berupa lingkaran besar berkilauan bagai permata menghiasi kedua telinga Rukia.

Sinar itu mulai lenyap dan Ichigo terkejut begitu melihat suatu sosok yang begitu ia kenal di depan matanya.

"Putri?" hanya itu komentar dari lelaki berambut jingga tersebut.

Degh!

Begitu sang putri membuka mata, terjadi sebuah gelombang tekanan kehidupan yang begitu kuat. Ichigo menahan dirinya agar tidak terjatuh di pasir, ia masih memandang sang putri dengan wajah penuh dengan keterkejutan.

Semua penerangan lenyap, semua menjadi gelap, hanya sinar rembulan yang terfokus menyorot sang putri. Perlahan pasir yang dipijak sang putri menjalar berubah menjadi daratan putih bersalju, semua menjadi putih, bunga, pohon… semuanya membeku. Sang putri menatap sayu lelaki di depannya, lelaki tersebut tersenyum.

Tiba-tiba kupu-kupu putih yang bersinar muncul dari dalam hutan beku di sekitarnya. Kupu-kupu tersebut terbang mengelilingi sang putri, seakan-akan tercipta untuk melindungi sang putri dan meneranginya.

Gaun semata kaki tersebut membungkus sempurna tubuh sang putri, tali spageti dari gaun tersebut menggantung dengan manisnya di pundak sang putri. Uraian pita di pinggulnya melambai-lambai mengikuti irama deruan angin malam, ia tampak mempesona dan misterius.

Perlahan Ichigo berjalan mendekati sang putri, sayap hitam muncul dari punggung kokoh lelaki tampan tersebut. Ia terbang sejenak dan berhenti tepat di depan sang putri, sang putri tidak bereaksi, matanya memancarkan kekosongan, tercermin jelas dengan hamparan salju yang dibuatnya sendiri.

Ichigo berlutut di depan sang putri kemudian menggapai salah satu tangannya. Ia mencium dengan penuh perasaan punggung tangan putri tersebut,

"Selamat datang, Putri…"

Sang Putri menatap ke arah Ichigo yang berlutut di depannya, perlahan ia tersenyum.

"Etsu…" kata sang putri lembut.

Perlahan Ichigo berdiri di depan sang putri, menuntun sebelah tangan putri menuju bahu tegap Ichigo. Sedangkan yang lain Ichigo genggam erat dalam posisi berdansa.

Meskipun tidak tahu apa yang akan terjadi, sang putri tetap tersenyum memandang lelaki di depannya, jantungnya berdebar dan gejolak bahagia meluap dalam dirinya, sungguh indah.

Dengan iringan deru ombak malam, sapuan angin dingin dan lambaian dedaunan, lelaki bersayap hitam tersebut menuntun sang putri untuk berdansa dengannya. Lelaki bersayap hitam tak lepas menatap dalam sepasang violet yang ia rindukan tersebut.

Perlahan daratan salju tersebut berubah menjadi sebuah taman berluaskan padang hijau yang sangat segar dan indah, semua salju dan pohon yang membeku meluruh. Semilir angin berhembus lembut menyejukkan mereka.

Setiap langkah dansa sang putri menimbulkan jejak berupa Bunga Tulip indah dan sangat cantik. Tiada pasir, tiada tanah, hanya padang hijau luas dengan berbagai macam pohon rindang serta bunga-bunga yang cantik. Semua dapat berubah sesuai suasana hati sang putri. Sungguh menakjubkan.

Lelaki bersayap hitam tersenyum melihat segala perubahan yang terjadi. Sang putri hanya bisa diam dan terus menatap sepasang mata musim gugur di depannya, gadis itu merasa sangat damai.

Mereka terus menari, tanpa suara, hanya gerakan dan pandangan yang mewakili perasaan mereka. Sayap sang putri yang berkilauan mulai bergerak, menandakan sang putri mulai dapat berinteraksi dengan lingkungan asing di sekitarnya. Lelaki bersayap hitam membentuk pola memutar pada sang putri, gaun itu melambai dengan pola memutar yang di buatnya sendiri.

Namun tiba-tiba lelaki bersayap hitam menarik sang putri dengan keras hingga menabrak tubuh lelaki bersayap hitam. Tatapan mereka semakin dekat. Lelaki bersayap hitam memeluk mesra sang putri.

*(n_n)*

Kehangatan menjalar begitu saja dalam diri masing-masing insan tersebut. Kupu-kupu di samping sang putri perlahan redup, pulau yang ia pijak semakin gelap. Sang putri masih menatap lelaki bersayap hitam.

Perlahan wajah mereka saling mendekat, sang putri diam melihat ekspresi serius dari lelaki bersayap hitam saat ini. Perlahan kedua mata lelaki bersayap hitam menyipit, reflek sang putri menutup kedua matanya.

Debaran di dada sang putri semakin meraja lela, sang putri merasakan sentuhan hangat di kedua bibir yang kini merapat dengan bibir lelaki bersayap hitam.

Desiran aneh timbul dalam dirinya. Sangat lembut dan manis, sang putri perlahan membuka matanya, meskipun ciuman itu belum selesai, entah kenapa putri tersebut membuka kedua matanya.

Ia melihat wajah lelaki bersayap hitam yang begitu sangat teramat dekat dengannya, namun tiba-tiba pandangan sang putri kabur, kupu-kupu yang menerangi sang putri lebur berubah menjadi abu, sinar rembulan perlahan meredup dan menghilang, sang putri jatuh lunglai dalam pelukan lelaki bersayap hitam, sang putri pingsan dengan bibir yang masih merapat dengan kekasihnya.

Pagi hari

Gadis itu masih tertidur pulas di atas kasurnya, namun tak lama kemudian tubuhnya menggeliat-geliat pertanda ia akan segera bangun sekarang.

Kedua mata violet itu terbuka perlahan-lahan, sangat berat. Saat ia membuka sempurna kedua matanya,

"Di mana aku?" tanya Rukia pada dirinya sendiri.

"Ini kan kamarku?" kata Rukia kemudian.

Ia mulai bangun dan kini duduk di sisi kanan kasurnya, ia kembali mengingat-ingat apa-apa saja yang telah terjadi padanya.

"Apa aku bermimpi?" tanya Rukia dalam hati.

Ia mengingat sesuatu, dimana ia menatap langit, berdansa, dan… berciuman. Rukia mengangkat tangan sebelah kanannya kemudian bergerak menelusur ke bibirnya sendiri.

"Seperti nyata… aku masih bisa merasakan ciuman lembut itu…" kata Rukia sendiri dengan pandangan menerawang ke arah tembok.

Tok! Tok! Tok!

"Rukia! Kau sudah bangun? Cepat bersiaplah, hari ini kau ada kegiatan bukan?" tanya Hisana di balik pintu.

Rukia kembali terdiam sejenak, ia berpikir begitu keras dalam otaknya dan saat ia teringat.

"APA? Aku lupa!" dengan cepat Rukia berhambur menuju kamar mandi dan bersiap-siap.

Lapangan Sekolah

Saat ini sudah berkumpul beberapa siswa yang tergabung dalam Organisasi Pecinta Alam. Ichigo sebagai ketua dari organisasi tersebut saat ini sedang berceramah di depan adik-adik kelasnya. Organisasi tersebut membutuhkan kedisiplinan yang sangat karena cukup berbahaya.

Ichigo, Grimmjow, Kaien dan Nel adalah 4 orang senior yang memimpin ekspedisi kali ini. Dan yang lainnya adalah anggota baru dari kelas 2 atau kelas 1.

Dilain pihak

"Sial! Aku terlambat!" kata Rukia dalam hati dengan napas ngos-ngosan.

Saat ini dengan membawa tas ransel yang sangat berat, Rukia berlari dengan kecepatan penuh menuju ke gerombolan di samping lapangan sekolah tersebut. Rukia mulai meruntuki keterlambatannya kali ini.

Begitu sampai, Rukia langsung berlagak tak berdosa berbaris pada bagian paling belakang, tapi sayang sekali gadis itu tidak selamat.

"Hei, kau yang terlambat, Cepat maju!" teriak Ichigo sangar pada Rukia.

Dengan tampang terkejut Rukia mentap Ichigo yang tengah berdiri angkuh layaknya senior yang akan membunuh juniornya. Dengan desahan panjang, Rukia terpaksa berjalan gontai menuju lelaki berambut jingga tersebut, setelah meletakkan ransel berat itu pastinya.

"Apa kau tahu kesalahanmu, Nona?" tanya Ichigo dengan nada menekan.

Rukia hanya merunduk di depan Ichigo.

"A-aku... terlambat…" jawab Rukia.

"Kau yang urus, Grimmjow…" kata Ichigo malas.

Grimmjow menghampiri Rukia dan menjitak pelan kepalanya.

"Hei, Pendek! Kembali, dan jangan diulangi!" kata Grimmjow pada Rukia.

Rukia tersenyum ke arah Grimmjow sedangkan siswa yang lain hanya bisa sweatdrop di tempat. Dengan senang hati Rukia kembali ke barisannya dan masih tersenyum penuh arti pada Grimmjow.

Ichigo kembali ambil bicara, menerangkan setiap rute dari ekspedisinya kali ini. Rukia terus mengamati wajah itu, wajah yang sangat sangar dan selalu membuat Rukia sebal dengan tatapan sinisnya.

Namun entah kenapa tiba-tiba Rukia pusing, jantung Rukia berdetak 3 kali lebih cepat dari sebelumnya, tubuhnya sampai bergetar. Rukia tak mampu menahan debaran tersebut, perlahan tubuhnya merosot hingga terduduk di tanah. Ia masih memegangi dadanya yang bergemuruh tak henti, pandangannya kabur dan bibirnya mulai pucat.

"Hei, terjadi sesuatu pada Rukia!" teriak salah satu teman di samping Rukia.

"Rukia? Ada apa dengan Rukia?" teriak Hinamori yang berada di barisan paling depan.

Dengan kecepatan kilat Ichigo langsung menolehkan wajahnya menuju ke sumber suara, dilihatnya saat ini dengan wajah pucat pasi Rukia terduduk lemah di tanah. Tanpa pikir panjang Ichigo segera berlari ke arah Rukia dan menyandarkan tubuh mungil tersebut pada lengannya.

"Rukia! Oi, Rukia!" teriak Ichigo menatap cemas gadis bermata violet tersebut.

"I-Ichigo…" kata terakhir itu membawa Rukia dalam kegelapan.

Dengan cepat Ichigo menggendong tubuh Rukia dan membawanya lari menuju ke dalam sekolah, cuap-cuap keheranan mulai terdengar dari gerombolan para jenior, sedangkan Nel dan Grimmjow mulai menenangkannya.

"Ada apa dengan mereka? Aneh…" kata Grimmjow sambil menatap kepergian sosok Ichigo.

"Pengacau!" kata Nel dalam hati menatap tajam arah pintu yang baru saja di lewati Ichigo.

Sedangkan Kaien hanya diam, dari awal ia datang memang tidak ada satu kata pun yang ingin ia ucapkan. Ia ikut dalam kegiatan ini saja sangat terpaksa, kalau tidak ketua Toushiro yang memerintahnya langsung, ia tidak akan ikut.

"Sial! Aku bosan." kata Kaien dalam hati menatap semua orang dengan tatapan tajam dan angkuh.

Di Ruang Kesehatan

Perlahan gadis itu membuka matanya dan yang pertama kali ia lihat adalah… jingga…

"Ichigo?" kata Rukia begitu melihat sosok tersebut.

"Ternyata sudah sadar, cepat bangun dan kita akan segera berangkat," kata Ichigo datar dan kini bersandar di samping pintu menunggu Rukia.

Rukia mengambil gerak untuk bangun dan kini duduk di tepi kasur serba putih itu, matanya menatap lurus pada punggung bidang lelaki tinggi yang angkuh itu. Rukia hanya bisa mendengus kesal dan bergerak menginjakkan kakinya di bumi.

Ichigo yang tidak sabar segera menoleh ke belakang,

"Lambat sekali sih!" kata Ichigo judes.

"Iya, iya… Aku sedikit pusing, Bodoh!" kata Rukia tanpa menatap Ichigo.

Tanpa Rukia sadari Ichigo menatap lekat-lekat dirinya dengan tatapan hangat kemudian dengan cepat Ichigo menghampiri Rukia.

"Hup!" kata Ichigo kemudian.

Dengan cepat Ichigo mencangking Rukia dengan cara melingkarkan tangannya di pinggang Rukia dan merapatkannya pada pinggang sebelah kanannya.

"Hei! Lepaskan aku!" teriak Rukia dengan wajah memerah.

"Diamlah, kau lambat!" kata Ichigo kemudian mulai berjalan menuju pintu keluar.

"Dasar, Jeruk bodoh!" kata Rukia pelan di dalam perjalanan menuju ke lapangan depan.

"Gadis pendek! Cih! Merepotkan!" kata Ichigo tak mau kalah.

"APA? Berani-beraninya kau…" kata Rukia namun dengan cepat terpotong.

"Sudahlah, aku malas berdebat denganmu!" kata Ichigo dingin.

Akhirnya Rukia diam dan hanya bisa memaki Ichigo di dalam hati saja.

Di kaki Gunung Sakurajima

Saat ini semua rombongan telah berada di bawah kaki Gunung Sakurajima di Prefektur Kagoshima, Kyushu. Semua anggota kini bersiap untuk merambah menuju ke puncak.

Agenda kegiatan kali ini adalah mengenali alam dan menanam beberapa pohon di puncak nanti. Masing-masing pohon di bawa oleh setiap peserta, berhubung Rukia begitu menyukai Pohon Sakura, ia pun membawa pohon tersebut di dalam ransel besarnya.

Rukia sudah tidak sabar menanam pohon miliknya tersebut dan Rukia ingin sekali kembali melihatnya 2 tahun setelah ini, pasti sudah berbunga lebat.

"Kenapa kau senyum-senyum sendiri, Rukia?" tanya Hinamori yang kini berada di samping Rukia.

"Tidak, aku hanya ingin cepat-cepat sampai puncak!" jawab Rukia.

"Aku juga begitu, kita harus berusaha, Oke?" kata Hinamori semangat.

"Tentu saja!" kata Rukia optimis.

*(n_n)*

Ternyata tidak semudah yang Rukia kira, lututnya sudah sakit, betisnya pun serasa sudah mengeras. Rukia kelelahan begitu sangatnya. Hingga Rukia pun tertinggal di barisan paling belakang.

"Gila! Kenapa aku harus melakukan hal sesulit ini?" kata Rukia dengan napas yang sudah ngos-ngosan sedari tadi.

"Woi! Kuchiki! Cepat jalannya! Hari sudah semakin gelap! Jangan jauh-jauh!" kata Michiru keras memperingatkan Rukia.

"Iya!" kata Rukia sambil mengangkat satu persatu kakinya yang sangat berat.

Sssttt… sssttt…

Rukia terhenti saat mendengar desisan tersebut, dan saat ia menoleh ke arah samping kananya,

"Kyaaa… ular!" teriak Rukia kemudian.

Dilihatnya dengan jelas, seekor ular meliuk-liuk mendekati Rukia, Rukia yang terkejut, reflek berlari ke sebelah kiri menjauhi ular tersebut. Ia terus berlari melewati jalan tikungan tersebut, ia pejamkan matanya erat-erat berharap ia bisa pergi menjauh dari ular tadi.

"Hah… hah… hah…" Rukia berhenti kemudian memegangi lututnya, sedikit menumpukan badannya yang lelah, begitu napasnya sudah membaik.

"APA? DIMANA AKU?" teriak Rukia baru sadar.

Rukia hanya bisa cengo di tempat, ia tolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri, berjalan ke sana dan ke mari sambil berteriak memanggil Hinamori, tapi hasilnya, Nihil!

"Ba-bagaimana ini?" kata Rukia mulai ketakutan.

Hari menjadi semakin gelap, Rukia memutuskan untuk duduk di bawah pohon besar dan menyandarkan tubuhnya dengan kasar, ia mencoba untuk tenang dan menunggu bantuan datang.

Dilain pihak

Saat ini semua rombongan telah sampai di tempat untuk bermalam, semua tengah sibuk menyiapkan tenda untuk tidur dan menyiapkan makanan serta api unggun.

Hinamori juga ikut membantu teman-temannya memasak dan saat ia memotong-motong jamur di tangannya.

"Rukia… Apa? Rukia tidak ada!" teriak Hinamori tiba-tiba saat mengingat bentuk kepala Rukia yang menyamai jamur di depannya.

"Apa? Kuchiki menghilang!"

"Hei, Kuchiki tidak ada!"

Dalam sekejab suasana menjadi riuh. Mendengar kebisingan tersebut, Ichigo segera mendekat dan berusaha menenangkan.

"Diam! Kalian tidak bisa berkerja dengan tutup mulut!" teriak Ichigo membentak semua juniornya.

"Sudahlah, Ichigo. Kau terlalau emosi…" kata Grimmjow menenangkan.

"Tapi, Kak. Salah satu teman kami hilang…" kata Michiru takut-takut.

"Grimm, ku serahkan padamu," kata Ichigo datar kemudian berbalik menjauh.

"Siapa orang itu?" tanya Nel pada Hinamori.

"Rukia, Nel-senpai. Dia sahabatku, cepat temukan Rukia…" kata Hinamori yang kini kedua matanya telah berkaca-kaca.

Meskipun lirih Ichigo dapat mendengarnya, dengan cepat ia kembali ke dalam gerombolan tersebut dan menatap tajam mereka.

"Apa kau bilang?" tanya Ichigo tajam.

"Ru-Rukia, Ichigo-senpai…" kata Hinamori lirih.

"Sial!" kata Ichigo dengan cepat membalikkan badan.

"Gadis itu lagi, Cih!" kata Kaien berjalan menuju hutan dan tiba-tiba sosok Kaien hilang di telan kegelapan hutan tersebut.

"Nel, kau tetap disini bersama Grimmjow, aku akan mencarinya!" kata Ichigo tegas tanpa pikir panjang langsung berlari dengan membawa senter.

"Tapi kau sendiri, Ichigo! Hei, Ichigo!" teriak Nel dan tidak di perdulikan sama sekali oleh Ichigo.

"Mereka menghilang," kata Grimmjow tiba-tiba.

"Siapa?" tanya Nel angkuh.

"Kedua rival itu," kata Grimmjow kemudian.

"Seberapa istimewanya gadis itu bagi mereka? Aku jadi muak memikirkannya," kata Nel judes meninggalkan gerombolan para jeniornya tersebut.

Di sisi lain

Saat ini Rukia tengah duduk termenung di depan sebuah api unggun kecil yang ia buat sendiri 5 menit yang lalu. Ia tidak ingin sedikit pun menginjakkan kaki meninggalkan tempatnya tersebut, ia jauh lebih merasa aman dengan tetap duduk dan tidak berkeliaran.

Kini lelaki bersayap hitam tengah terbang menyusuri hutan gelap tersebut, sayap hitam yang sangat kontras dengan malam purnama itu membuat Ichigo nampak samar-samar. Sudah 15 menit ia memutari kawasan tersebut, tapi tak ada seorang pun yang ia temui.

Perlahan ia mendekat pada sebuah cahaya jingga seperti tautan api. Tak lama kemudian ia melihat sosok gadis yang duduk meringkuk memeluk lututnya. Lelaki bersayap hitam tersenyum datar, dan mulai mendekati sosok tersebut.

"Tidak semudah itu, Brengsek!"

Lelaki bersayap hitam langsung mengalihkan pandang menuju ke sumber suara.

"Kau…" kata Ichigo melebarkan kedua matanya terkejut.

"Dengan begini hutang masa lalumu tuntas," kata seseorang yang memiliki sayap di punggungnya.

Buak!

Dengan sekali hantaman, lelaki bersayap hitam langsung terpental keras menuju ke tanah, menimbulkan suara yang amat keras.

Bum!

Hantaman itu menimbulkan kerusakan dimana-mana, bahkan tak seorang pun tahu seberapa keras hantaman itu, mungkinkah ia selamat?

"Hahahaha, kubuat kau menderita sekarang!"

Dengan gerak cepat seseorang itu bergerak menuju ke arah Rukia, Rukia yang saat ini berdiri dan melongok ke sumber suara hanya bisa diam mematung melihat sesuatu yang bergerak cepat ke arah dirinya.

Dengan waktu singkat lelaki tersebut mencekik Rukia dan membawanya ke udara jauh dari bumi.

"Le-pa… kan…" kata Rukia tersendat-sendat.

"Selamat malam, Putri. Aku datang untuk menjemputmu ke alam baka, hahaha…" kata seseorang itu sangat senang.

T`B`C`


Okay! Maaph telat Update! *sujud-sujud* kalu gag diingetin ma readers, bakal lupa Ruki... sekali lagi makaci' dah ngingetin buat update.


Arigatou and Mata Ashita "^_^"


R P

E L

V E

I A

E S

W E