Akhirnya!

Berhasil menerjemahkan satu chapter!

Info nih. Nama2 yang digunakan di sini adalah versi Amerika

Jounouchi Katsuya: Joey Wheeler

Seto Kaiba: Seto Kaiba

Yang lainnya akan di beri tahukan saat tokoh2 tersebut muncul.

POV: point of view = sudut pandang

Joey POV maksudnya, Joey yang bercerita.

AU: Alternate Universe = dunia yang berbeda. Cerita ini tidak melulu tentang duel kartu kayak komik dan filmnya.

oh ya, dalam versi Amerika nya, Kaiba sering mengejek Joey dengan sebutan Mutt/anjing kampung. jadi dalam fic ini kalian juga akan sering mendapati Kaiba memanggil Joey "anjing kampung".

moga2 kalian bisa menikmati cerita ini. maaf kalau2 ada yang tidak berkenan di hati kalian.

Cerita ini lucu dan aku suka banget. Moga2 kalian juga suka. Thanks for reading. Jangan lupa review ya. kritik dan saran diterima. Apapun aku terima. Gratis neh.


Ringkasan: Tragedi menghantam. Joey Wheeler pergi selamanya. Atau benarkah demikian? Joey's POV .Setelah duel kingdom, AU. Seto/Joey shonen ai pada akhirnya

Warning: kematian salah satu karakter (semacam itulah), bahasa, angst, shonen ai seto/joey di akhir nya

Disclaimer 1:

Meima: Naskah asli Being Dead Ain't Easy adalah milik D. Draggy . aku cuma menerjemahkan karena aku suka. Dan aku sudah dapat ijin darinya. karena itu, sudah jelas kan kalau aku juga bukan pemilik YuGiOh?

The original text of Being Dead Ain't Easy belongs to D. Draggy. I just doing the translation because i like it. And i got the permission from him (or her?). it is clear that i also not own YuGiOh, right?

Disclaimer 2:

D. Draggy: I don't own YuGiOh or any other brand names you might come across. No shoelaces were harmed in the making of this fic.

Aku tidak memilik YuGiOh atau merek lain yang kamu temui di fic ini. Tidak ada tali sepatu yang dilukai dalam pembuatan fic ini


Being Dead Ain't Easy

Chapter One: The No Good, Very Bad Day

Chapter satu: Nggak bagus. Hari yang sangat buruk


Brengsek, ini hari yang (sangat) menyebalkan. Dibanding hari2 menyebalkan lainnya yang pernah ku alami, ini yang paling buruk, dan percayalah, aku punya beberapa hari yang sangat buruk. Yeah, di awali dengan baik, tapi seiring waktu berjalan, itu mencapai level keseluruhan: menyebalkan.

Kalian ingin tahu kenapa?

Ku beri tahu ya, heh, senangnya membagi kesengsaraan. Dan aku punya cukup banyak untuk dibagikan.

Jadi....mulai dari mana? Gimana kalau pagi ini?

Bangun tidur, ke kamar mandi, berpakaian, kegiatan rutin setiap pagi. Menyelinap di apartemen, mengambil perlengkapan sekolah, berjingkat2 melewati ayahku yang pingsan di lantai (yeah, dia mabuk lagi), dan pergi ke sekolah. Sejauh itu baguslah. Secara keseluruhan, hari2 seperti biasa.

Ke sekolah. Tidak belajar apapun, tapi baguslah karena bisa bertemu teman2 ku. Kami bercanda, bersenang-senang. Mungkin terlalu bersenang-senang karena guru memberiku hukuman. Setidaknya Kaiba juga dapat hukuman. Mungkin seharusnya aku lempar lebih banyak benda ke arahnya, membuat si kantong uang marah, sekali atau dua kali. Atau tiga atau empat. Aku masih merasa seharusnya aku tidak dapat hukuman. Maksudnya, dia yang memulainya! Apa? Memangnya guru berharap aku akan diam saja dan membiarkan nya memanggilku Chihuahua?

Hujan turun deras sekali ketika akhirnya aku keluar dari sekolah, dan aku tidak membawa payung. Kaiba masih di dalam dan mengerjakan hukumannya. Baguslah karena setelah hukuman bareng dia, hal terakhir yang ingin ku dengar adalah dia memanggilku anjing kebasahan. Aku sedikit menggigil. Brengsek, dingin sekali. Aku akan basah kuyup begitu sampai dirumah.

Akupun mulai berjalan. Aku merasa sangat sengsara. Hujan menghapus gel rambut dari rambut pirangku dan itu mengganggu pandanganku. Tali sepatuku lepas dan aku harus mengikatnya lagi. Untunglah aku tinggal dekat sekolah. 15 menit lagi aku akan sampai dirumah.

Inilah saat hari ku jadi buruk

Aku berdiri dan melihat limo milik Kaiba melewatiku. Mungkin dia baru saja menjemput adiknya dari sekolah atau entahlah apa yang dilakukannya setelah hukuman. Si kaya Kaiba. Dia punya limonya sendiri. Dia seusiaku dan dia punya perusahaannya sendiri, dia punya mansion pribadi, dia punya segalanya. Adiknya sih baik, kurasa. Kuharap dia tidak tumbuh jadi versi mini Seto Kaiba

Aku harap aku punya limo. Pasti nyaman dan enak didalam, ya kan, Kaiba? Juga kering. Semuanya hitam dan bersinar. Milik perusahaan Kaiba. Aku memperhatikan limo itu.

Heh, kurasa limo mu tidak terlalu hebat karena ada asap keluar dari bagasi.

Tunggudulu

Asap keluar dari bagasi?

Oke, itu bukan urusanku, tapi itu hal yang buruk kan? Jadi akupun berlari mengejar limo itu. Nggak butuh waktu lama untuk mengejarnya karena limo tersebut tiba2 berjalan zigzag di jalanan, menabrak lampu jalan, dan meledak. Semuanya tertutup api.

Sial

Jangan salahkan aku, oke? Aku benci Kaiba. Benci dia. Tapi ini kewajiban warga negara atau semacam itulah untuk mencoba dan menolong nya, dan juga, adiknya ada didalam.

Mungkin bersama sopirnya juga.

Aku berlari ke arah mobil yang terbakar dan mencoba membuka pintunya. Sangat panas jadi aku harus menggunakan jaketku supaya bisa memegang handel pintunya. Ini tidak bagus. Pintunya meleleh. Aku mendengar suara pukulan dan jeritan dari dalam. Seperti suara Mokuba. Aku mendengar suara pukulan lebih keras di pintu. Kaiba pasti menendang pintunya dari dalam.

Suara jeritan berhenti.

Itu hal yang buruk.

Aku menarik, dia menendang dan diantara itu, pintu terlepas dari engselnya dan mengenaiku. Tidak terlalu lama karena jaketku terbakar dan aku hampir2 ikut terbakar.

Kaiba keluar dari bekas limo dengan adiknya di tangannya. Dia sedikit sempoyongan. Kondisinya buruk. Mokuba pingsan tapi dia tidak terluka parah.

Kulihat bangkai mobilnya sekilas. Tidak bisa mendekat karena semuanya terbakar tapi entahlah apa sopirnya cuma pingsan atau mati. Kukira mati karena wajahnya terlihat seperti habis kena bom. Aku mencoba mengeluarkannya tapi api terlalu besar. Aku mendengar suara mobil pemadam kebakaran mendekat, mungkin mereka bisa mengeluarkannya karena aku benar2 tidak bisa.

Kaiba membungkuk kesakitan. Hujan membasahi rambut dan kepalanya. Jaketnya sobek2 dan seluruh tubuhnya kena luka bakar tapi dia menyadari keberadaanku dan menegakkan tubuhnya. Awww, kamu nggak perlu pura2 nggak apa2.

Aku berkata demikian.

Dia melototiku tapi tidak mengatakan apapun. Baik, tetap saja begitu! Kelihatannya dia tidak terluka parah jika dia masih punya energi untuk tetap menyebalkan seperti itu.

Jadi aku berbalik dan pergi.

Yang benar saja. Kau pikir aku akan pergi begitu saja? Tentu saja aku nggak berbalik dan pergi begitu saja. Kamu pikir aku manusia macam apa?

Aku menghampiri tuan manajer. "Kaiba, kamu baik2 saja?" Nggak. Aku nggak khawatir dengannya. Nggak bakal

Melotot. "apa pedulimu, anjing bodoh!" dia mendesis. Dia berbalik dan sibuk dengan adiknya

Ok, dia lebih mengkhawatirkan adiknya. Aku paham. Jika itu adikku yang pingsan di jalan, aku akan marah2 juga.

Aku nggak tahu harus ngapain lagi, jadi aku cuma berdiri di situ, semisal Kaiba butuh bantuanku. Bukannya aku peduli tentang dia atau gimana. Aku cuma ingin memastikan adiknya baik2 saja. Yeah.

…yang benar saja? Aku khawatir dengannya, oke?

Tapi cuma sedikit.

Diam.

Terima kasih.

Sampai dimana tadi? Oh ya, diam di sisi kaiba.

Dan ternyata itu tempat yang buruk untuk berada karena tiba2 rasanya ada seseorang yang meninjuku dari belakang, tapi rasanya lebih sakit. Kaiba memegangiku ketika aku jatuh. Dia tidak meneriakiku. Matanya terbelalak kaget

Kemudian aku merasa sangat sakit.

sialanbrengsek sakit sekali! sakit banget! bahkan aku tidak bisa berteriak. Sangat sakit sekali….

Apakah aku berteriak? Nggak tahu. Mungkin, tapi aku nggak ingat

sialsialsialsial

Kaiba memandangiku. Tidak, dia memandangi tubuhku. Tangan dan seluruh tubuhnya berlumuran darah tapi itu bukan darahnya. Matanya sedikit berkaca2 saat dia memandangi darah itu.

Nggak ingin melihat. Nggak ingin….

…..lihat

….Seseorang menembakku. Kelihatannya parah sekali. Aku bukan dokter; aku tidak tahu separah apa. Aku harus mengerahkan seluruh tenagaku hanya untuk menoleh sehingga aku bisa melihat siapa yang menembakku dari belakang.

Seorang pria dengan setelan jas. Berambut hitam. Terlalu jauh untuk bisa melihat matanya, tapi dia terlihat kecewa. Harusnya dia menembak Kaiba.

Baguslah. Aku telah menyelamatkan hidup Kaiba walaupun tanpa sengaja. Dia harus menghargainya.

Si penembak kabur.

Kembali! Dasar penembak pengecut! Aku mencoba mengejarnya tapi aku tidak bisa bergerak….

Banyak sekali darah. Mungkin itulah kenapa aku merasa agak pusing. Yah, setidaknya sudah tidak terlalu sakit lagi. Penglihatanku pun agak sedikit kabur. Apa karena terhalang hujan?

Oh. Itu karena Kaiba mengguncang2 ku. Pasti begitu. Kurasa dia mengatakan sesuatu, tapi sulit sekali mendengar suaranya. Tapi akan ku coba

Ayo, konsentrasi….

"…anjng bodoh! Bertahanlah! Buka matamu dan bertahanlah, dasar anjing kudis berkutu!

"huh, bisa nggak sih berhenti menghina sebentar, Kaiba. Aku sedang terluka!" aku berusaha mengucapkankannya, tapi tidak ada suara yang keluar. Hanya darah. Aku masih terbaring di pelukannya, membuat darah bertebaran di seluruh bajunya. Bajunya benar2 berantakan. Seperti mobilnya. Seperti aku.

Kau tahu, sebenarnya menyenangkan juga saat dia memelukku seperti ini. Kami basah kuyup tapi dia….hangat. aku pasti hampir kehilangan akal. Satu2nya saat Kaiba menjadi hangat hanyalah jika dia kena radioaktif. Mungkin ini karena darah ku yang terus mengalir

Terserahlah. Aku nggak peduli. Setidaknya aku hangat dan tidak merasa sakit lagi. Aku bahkan tidak merasa dia mengguncang2ku lagi. Dan aku benar, benar lelah.

Mau memejamkan mata sebentar. Aku benar2 ngantuk…..nggak bisa tetap membuka mata….

Baik2 ya…bangunkan aku jika ambulan sudah datang. Oke?

"Joey, TIDAK!

….mungkin…aku mau….tidur sebentar. Lelah sekali. Nggak….apa…apa..kan…Kaib-