Okeeeeeee!

update kale ni agak cepat nieh. Makasih banyak buat semua reviewers yang sudah baca n review cerita ini. LOVE U ALL Muah,muah,muah...he..he..he..

juga buat yang baca tapi g review, love u too...

nah, silahkan baca n doain aq supaya bisa update secepat mungkin seperti ini. N doain aq supaya dapat kerja dengan bayaran yang tinggi n di tempat nyaman. AMIN...

Yosh! semangat being job hunter!

semangat translate fic ini!

semangat ketik fic yang laennya!

semangat ketik cerita laennya!

Met 'baca!


Ringkasan: Tragedi menghantam. Joey Wheeler pergi selamanya. Atau benarkah demikian? Joey's POV .Setelah duel kingdom, AU. Seto/Joey shonen ai pada akhirnya

Warning: kematian salah satu karakter (semacam itulah), bahasa, angst, shonen ai seto/joey di akhir nya

Disclaimer 1:

Meima: Naskah asli Being Dead Ain't Easy adalah milik D. Draggy . aku cuma menerjemahkan karena aku suka. Dan aku sudah dapat ijin darinya. karena itu, sudah jelas kan kalau aku juga bukan pemilik YuGiOh?

The original text of Being Dead Ain't Easy belongs to D. Draggy. I just doing the translation because i like it. And i got the permission from him (or her?). it is clear that i also not own YuGiOh, right?

Disclaimer 2:

D. Draggy: I don't own YuGiOh or any other brand names you might come across. No spotted owls were harmed in the making of this fic

Aku tidak memilik YuGiOh atau merek lain yang kamu temui di fic ini. Tidak ada brurung hantu yang dilukai dalam pembuatan fic ini


Being Dead Ain't Easy


Chapter Seven: While You Were Sleeping

Chapter Tujuh: Saat Kau Tertidur


Setelah beberapa saat, Kaiba keluar dari kamar mandi dengan pakaian serba hitam, dan seperti tidak ada masalah sama sekali, nggak kelihatan kalau lima menit yang lalu dia hamper pingsan. Aku mengikutinya menuju kamar tidur. Mungkin kamar nya. Mokuba menunggunya didepan pintu.

Kaiba terlihat bingung. "Ada apa, Mokuba?"

Mokuba menggigit bibirnya. "Uummm…kakak?"

"Ya, Mokuba?"

"Kamu akan memberi tahu Aku…kalau ada masalah kan? Jika ada yang mengganggu pikiranmu, kau akana bilang, iya kan, kak?"

Kaiba tersenyum….dia masih tersenyum, tapi matanya…kedua mata birunya yang dingin itu tetap datar. Aku jadi merinding melihatnya.

"Tentu saja, Mokuba. Sekarang tidurlah, sudah malam."

Mokuba tidak mendengarnya. Dia membuka mulutnya untuk membantah.

Tidak seorangpun membantah Seto Kaiba. Tidak seorang pun. Termasuk adiknya endiri. "Tidur. SEKARANG." Katanya. Bukan. Perintahnya. Aku bisa mendengar "Jangan membantahku atau kamu akan sangat sangat menyesal" dalam nada suaranya. Jelas dia tidak ingin membicarakan tadi. Aku tahu dia menyanyangi adiknya, tapi tampang Kaiba benar-benar menyeramkan sekarang.

Mokuba memandang wajahnya, menelan ludah, dan lari. Anak pintar.

Setelah dia pergi, Kaiba membuka pintu kamar tidur dengan kasar, masuk kedalam, dan membanting pintu tepat didepan wajahku. Aku tidak sempat menjadi mode bayangan dan rasanya benar-benar sakit. Si bodoh Kaiba, kenapa kau lakukan itu! Bisa nggak sih buka dan tutup pintu kayak orang normal! Atau lebih baik lagi, biarkan saja pintunya terbuka. Dan kamu tidak bisa lari dariku semudah itu. Jadi hantu itu menguntungkan. Aku berjalan menembus pintu itu.

Kamar tidur yang bagus. Karpet yang tebal, banyak sekali furniture dari kayu gelap. Ada meja dengan computer di atasnya dan kursi kulit hitam yang nyaman dengan roda didepan meja yang terletak di salah satu ujung ruangan. Tempat tidur king-size (ekstra besar) di ujung satunya. Ada lampu tidur dekat kasur itu. Lampunya sih hidup tapi mungkin nggak lama karena Kaiba terlihat menaiki kasurnya. Waktunya tidur untuk Kaiba.

Dia menutupi tubuhnya dengan cover, menjulurkan sebelah lengan, mematikan lampu dan berbalik sehingga dia tidur menyamping, memunggungi lampu itu. Aku berkedip hingga akhirnya Aku terbiasa dnegan gelap. Kaiba terlihat mencari posisi yang nyaman, menghela nafas, bergerak lagi, dan akhirnya tertidur.

Kukira dia tidur, tapi kemudian dia mulai bergerak-gerak lagi, telentang, dan berhenti.

Sepuluh menit kemudian, dia melakukannya lagi. Dan lagi.

Aku nggak bisa menghitung berapa kali dia bolak-balik posisi tidurnya. Akhirnya, akhirnya, dia pun berhenti dan terlelap.

Selama beberapa saat Aku mengawasinya tapi dia tidak bergerak. Mungkin dia benar-benar sudah tidur. Apa dia selalu seperti itu setiap malam? Ku periksa jam alarmnya: jam 1.14 pagi.

Oke. Pertunjukan berakhir, teman-teman.

Sekarang, masalah lainnya dengan hal 'hantu' ini adalah Aku tidak butuh tidur. Ketika Aku sedang gentayangan diantara teman-teman dan keluargaku, Aku tetap berkeliaran selama delapan jam sampai mereka bangun tidur. Mungkin sekarang Aku bisa saja berkeliaran lagi, tapi itu sangat membosankan.

Selain itu, Aku kan bilang akan menghantui Kaiba. Jadi Aku tetap disini. Nggak bisa mengganggunya kalau Aku nggak disini kan.

Apa itu artinya Aku hanya akan berdiri disini dan mengawasi dia tidur? Kayaknya sih iya.

….Sebenarnya, Aku punya ide yang lebih bagus. Aku akan duduk di kursi kulitnya yang mahal dan nyaman, dan mengawasinya dari sana. Dan itulah yang kulakukan.

Terlalu jauh. Aku nggak bisa melihat Kaiba dari sini. Pemandangannya jelek banget.

Hmmm….mungkin Aku bisa membuat kursi ini meluncur ke kasurnya? Kalau tadi Aku bisa 'bermain' dengan cermin, mungkin Aku bisa melakukannya juga dengan kursi ini.

Pertama-tama, Aku periksa apakah Kaiba sudah tidur atau belum. Hal terakhir yang dia perlukan setelah insiden di kamar mandi adalah melihat sebuah kursi yang bergerak sendiri. Sebetulnya lucu sih, tapi Aku sedang nggak mood untuk menakut-nakutinya lagi. Kita istirahat dulu. Tapi cuma sekali ini.

Aku mendekatkan wajahku ke telinganya, sangat dekat hingga dia bisa merasakan hembusan nafasku, jika Aku bernafas. "Aku berbaik hati padamu sekarang, tapi jangan salah Kaiba. Aku masih tetap akan menghantuimu. Lain kali, kamu akan bangun"

Dia cuma menggumam "Mmmmhmm…" dan berbalik. Kemudian mendengkur. Sepertinya dia tidak terkesan. Setidaknya dia tidak mendengkur terlalu keras.

Aku memegang kursi itu dan menariknya kearah tempat tidur. Beratnya seperti satu ton. Dorong, istirahat sebentar, dorong, istirahat, dorong, memaki, dorong lagi. Keseluruhannya, membutuhkan DUA JAM untuk membawa kursi menyebalkan itu dari sana ke sini. Dan kemudian setengah jam lagi untuk membalik kursi itu karena salah arah. Dua dan setengah jam kemudian, akhirnya Aku pun bisa duduk. Aku nggak akan mau melakukan itu lagi. Aku pegal karena semua kerjaan itu. Capek.

Aku juga agak khawatir karena hal itu. Aku tidak bisa makan, Aku tidak bisa tidur, jadi dari mana Aku punya energi? Apa suatu saat nanti Aku akan terbakar begitu saja? Poof, tiba-tiba Joey hilang?

Kaiba masih tidur. Dia tidak terlihat menyebalkan saat dia tidur. Dia bergelung di kasur dan masih mendengkur.

Kalian tahu, Aku baru saja menyadari sesuatu. Aku kan bisa saja duduk di kasur dan tidak perlu bersusah payah seperti tadi.

Dan kalian tahu hal lainnya?

Aku harus mengembalikan kursi ini ke tempatnya semula sebelum Kaiba bangun. Karena dia akan pergi ke sekolah besok, dalam, oh, sekitar tiga jam lagi. Sepertinya Aku harus melakukannya sekarang. Olahraga bagus untuk mu.

Yeah, lain kali Aku akan duduk saja di kasur.