Halo, minna!

Lagi-lagi aku sangat senang melihat respon kalian untuk chapter 11 dari Flowers…meskipun ada banyak kesalahan pengetikan*padahal yang ngedit 2 orang, plak!* sebetulnya itu terjadi karena aku buru-buru dan kepalaku pusing, jadi malas ngecek ulang*plakkk!* salahin saya saja, soalnya Chopiezu cuma ngecek tanda baca ama spasi doang…

Yosh! SAya bales ripyu dulu yaa!

Youichi Hikari: Ting tong! Kamu benar! Tatoeba soba ni iru kimi ga nani ka de kuzuresou ni nattara…*duet* Iya, aku juga pengen kaya' Hana, hihihi… Itu dari translation inggris yang aku temuin di jpopasia maupun animelyrics, terus kuartikan sendiri ke bahasa Indonesia, begitulah… hoe! Selamat datang! Doumo arigatou!

Chara-chii12: ah, sankyuu*cipika-cipiki sama chii* waa…boleh aja kok kalau mau nyewa jasa mereka (;D) Iya, mereka jadinya jadian, hehe. HanaMasa ke Teikoku? Wah, bahaya…soalnya Hana bisa-bisa pingsan ngeliat Yamato sama Taka… (xP) Sankyuuu!

Aleunaf Acsis: hahahaha…begitulah. Aku juga nggak sangka akhirnya bakal begini*plak!* terima kasih dukungannya!

Ririn Cross: eeehhh…jangan lupa dibaca ya! Hehehe! Nggak apa! Arigatou!

Risa LoveHiru: hiks, hiks…*nangis juga* makasih banyak senpai, dulu 'kan aku tanyanya pertama kali ama senpai, makasih…*nangis lagi* iya juga, mamori udah ditakdirkan stuck sama Hiruma, kekeke! Yang inget cuma HiruMamo n SenaSuzu memang karena mereka yang dibantuin dan juga cukup deket ma Hana. hUwa…makasiiih!*nangis lagi* aku cinta fandom ES 21!

Pablo hirunata: nggak pa-pa…ah, doumo arigatou, Pablo-san… xD

RiikuAyaKaitani: halo! Hwa~…makasih banyak ya… xD

Riichan LuvHiru: makasih! Aku juga sukaaa sekali ending yang hepi! Oke, ini extra joss, eh, extra chapnya!

Readers: huuuhuhuhuhuuu*ikut nangis* makasih banyak ya…hiks hiks…aku mengerti perasaanmuuu*rangkul* waa..terima kasih applausnyaa…*nangis lagi* doumo arigatou gozaimasu!

Uchiha Sakura97: makasih banyak yaaa! Tidak apa, sankyyuuuuwww~!

Arisu Hiromi – Saekawa: hehe..hallooo… makasiiih! Makasih semua karena sudah suka ma Flowers! Mau minta bantu Hana? Boleh, boleh! Waii…makasih…syukurlah perasaannya tersampaikan… iya ada mistypo dan typo dan beberapa kesalahan, saya mohon maaf ya…

Wanna be reviewer: uwaaa…makasiiih*nangis terharu untuk kesekian kalinya* terima kasih banyak…maaf ya udah tamat… ^^

Kurochi agitohana: hya…aku jadi nangis juuga… (T^T) hahaha…iya semoga kali ini Masato-nya banyak! Sankyuu!

Your fan: adegan kisu? Wa…maaf ya…kalo untuk Flowers memang ndak ada kisu, adanya di fic-ku yang lain, It Begins by A Cream Puff*promosi,plak!* hweeehe makasih banyak yaa!

Chiyo churippu: hehehe…makasih banyak…rogeer!

Reader iseng: ketagihan? Hya~! Wah…ceritanya memang sampai sini…gomen ya…makasih banyak ripyunya…ditunggu aja sekuelnya. ;)

Ciel Linda Chisai: waii…kalo gitu caranya jadi burger dong! Cerberos tambah lahap! Iya, ayuk kita naik kereta ajaib!*ngayal mode* doumo arigatou gozaimasu! xD

Baiklah, untuk extra chapter ini isinya hanya kumpulan fic pendek yang kuharap lucu ^^

Di akhir juga ada cerita pendek SenaSuzu, HiruMamo, dan HanaSato (atau MasaHana, atau terserah kalian menyingkat pairing ini, hehehe…atau mungkin HanaMasa? Jadi laper…)

Baiklah, kita akhiri saja omongan gaje author ini! Selamat membaca!

An Eyeshield 21 Fanfiction

Flowers

Extra Chapter: Dibuang Sayang

Written by: undine-yaha

Disclaimer: Riichiro Inagaki and Murata Yuusuke

Hana's POV, From Drawing Turnamen Kantou

"Kak Musashi…," aku menghampiri Musashi dengan tatapan bingung dan kecewa,"Apa yang sedang Kakak pegang itu?"

Musashi mengalihkan pandangannya dari benda yang baru saja ia temukan di saku celana kargonya ke arahku.

"Itu…," aku melanjutkan,"Itu rokok 'kan?"

Musashi kembali melihat benda di tangannya dengan tatapan terkejut. Ia lalu berpikir keras.

"Kenapa Kakak diam saja?" aku bertanya dengan nada gusar,"Bukankah Kakak sudah lama berhenti merokok? Terus itu apa?"

Pemuda dengan julukan 60 yard magnum itu menggaruk kepalanya lalu menoleh ke arahku,"Ini bukan milikku."

"Terus kenapa ada di saku Kakak?" suaraku bergetar, sedih dan kecewa,"Kenapa?"

"Hei, ada apa ini?" Kurita menghampiri kami berdua, dengan Daikichi masih bertengger di punggungnya.

"Kak Kurita!" aku menoleh ke Kurita,"Kak Musashi bawa-bawa rokok…bukannya dia sudah berhenti?" tanyaku sedih.

"Tapi ini bukan punyaku," jawab Musashi datar.

"Tapi kenapa ada di saku Kakak?" aku kembali bertanya dengan nada yang sama.

"Aah…Musashi…," Kurita angkat bicara,"Sepertinya ada yang salah menaruh barang di celanamu lagi, ya?"

Hah?

Musashi mengamati celananya,"Wah, iya, sepertinya kamu benar…"

"Ini…apa sih maksudnya…?" sekarang aku sweatdrop.

"Celana yang dipakai Musashi 'kan celana pegawai proyek…jadi sama semua. Sebelum bekerja dan ganti baju dengan baju pegawai, mereka menggantung celana-celana itu di tempat yang sama. Jadi mungkin ada yang salah taruh barang," jelas Kurita panjang lebar.

"Mungkin setelah ini aku akan minta Anezaki menjahitkan namaku di celana milikku," Musashi kembali berkata dengan santai.

"Terus itu baju proyek? Jadi Kakak belum ganti baju?" aku menanyakan topik yang lain.

"Iya. Aku nggak sempat ganti."

OOH MAII GAAD…

-xxx-

Hana's POV, From The Angel Back, The Devil Smiled

"Setelah mengetikkan keyword, sekarang tekan tombol enter," aku berujar.

"Yang ini?" Mamori menekan salah satu tombol dengan kikuk.

"Itu spasssi…bukan enteer…Kak Mamoriiii…," aku berkata dengan nada menahan kesal. Sudah seperempat jam ia memintaku mengajarinya menggunakan laptop dan gadis cantik di sampingku ini belum bisa membedakan enter dan spasi.

"O-oh…," Mamori blushing,"Yang ini ya? Ah…maaf ya…"

Bagus. Tombol enter sudah berhasil ditekan.

"Sekarang kita tinggal menunggu hasil yang ditampilkan oleh search engine. Istilahnya, loading. Datanya sedang dimuat," aku menjelaskan. Mamori mengangguk-angguk.

Sebentar saja keluarlah hasil yang tadi dicari oleh Mamori. American football.

"Wah! Iya benar! Semuanya tentang American Football! Wah! Hebat!" Mamori heboh sendiri melihat screen VAIO-ku.

Aku tidak tahu harus ketawa atau tidak.

"Kekekekeke!" rupanya ada setan yang tertawa,"Dasar manajer gaptek!"

"Mou…Hiruma-kun!" protes Mamori,"Makanya itu aku minta Hana-chan mengajariku!"

"Aha…baiklah, sekarang coba sendiri ya, Kak!" kataku sambil ngeloyor ke meja untuk membuat minuman. Aku butuh penyegaran.

"Baik!" jawab Mamori semangat.

Aku menghela nafas sambil menuangkan beberapa sendok coffee cream untuk tehku. Suara kucuran air panas dari termos sedikit bisa menenangkanku.

"Mm…baiklah…tekan enter," terdengar suara Mamori saat aku sedang mengaduk-aduk secangkir teh di tanganku.

"Ah! Sudah keluar hasilnya!"

Aku menyesap tehku sambil menunggu kata-kata berikutnya dari Mamori.

"Ya ampun! Hana-chan!" Mamori terdengar begitu terkejut,"T-ternyata, ternyata Hana-chan seorang penyihir ya?"

Seketika itu juga aku tersedak dan batuk-batuk jelek sekali.

"Mana? Mana?" Suzuna menghampiri Mamori dengan penasaran. Begitu juga dengan Sena dan Monta.

"Ini, lihat! Dia pakai jubah dan juga membawa tongkat sihir!" ujar Mamori,"Disini juga dikatakan kalau dia adalah anak dari Ratu Sihir di Dunia Penyihir!"

Mataku yang hitam bundar melotot. Apa? Sejak kapan aku jadi anaknya Ratu Sihir? Keren amat!

Batukku semakin tidak karuan. Aku bisa merasakan tatapan tajam dan mencurigakan dari Hiruma dan Musashi.

Setelah menenggak segelas air putih, aku mengatur nafas dan menyeruak ke kerumunan SenaSuzuMonKomusubi (yang ternyata ada di bawah dan meloncat-loncat untuk mencoba melihat)

"Mana sih?" tanyaku kebingungan sambil melihat layar laptopku.

Mamori rupanya mengetikkan Hana-chan di search engine dan muncul gambar seorang anak perempuan yang tampak seperti penyihir.

Astaga…

"Kakak…," aku nyengir kesal,"Ini jelas-jelas bukan aku. Lihat deh, rambutnya pirang panjang, ikal, lain sekali bukan denganku?"

"Iya juga!" Mamori mengiyakan dengan polosnya.

"Ini tuh Hana-chan dari Ojamajo Doremi…," aku menjelaskan,"Lagian mana muungkin aku ini penyihir? Iya 'kaan, teman-temaan?" aku menoleh ke kerumunan kecil dibelakangku. Semua mengangguk.

"Ahaha, maaf ya Hana-chan," Mamori tertawa dengan manisnya. Aku hanya tersenyum.

Perlahan, tatapan curiga itu mulai hilang. Pfiuh…

"Baiklah, baiklah," aku menenangkan suasana,"Sekarang coba kita pergi ke situs lain. Klik pada web address, lalu tekan backspace dari keyboard."

Mamori mengklik dengan sempurna.

"Tekan backspace ya?"

"Yosh!"

Mamori menekan salah satu tombol dengan cepat.

PETT!

Layar itu tiba-tiba menjadi gelap, menutup semua aplikasi, lalu tampaklah warna hitam legam.

"KYAAA! AKU MERUSAKNYA!" Mamori memekik.

"Kak Mamori…," aku berkata sambil menahan, kali ini, amarah,"Itu tombol SHUT DOWN! BUKAN BACKSPACE! AARGH!"

-xxx-

Hana's POV

"NGGAK MAU!" aku berkata dengan nada tinggi.

"Kenapa?" Masato menanyakan alasanku.

"Soalnya aku nggak suka! Pokoknya nggak boleh!" bentakku lagi.

"Tapi 'kan keren, Hana…," bujuk Masato,"Kalau aku kaya' gitu, pasti aku kelihatan kaya' tukang pukul! Jadi, kalau aku jalan sama kamu, nggak akan ada yang berani ngisengin kamu!"

"Bodoh amat! Pokoknya nggak boleh!"

"Tapi—"

"Hei, ada apa sih?" Monta bertanya pada kami yang ribut di depan kelasnya.

"Ini nih, Hana…," jawab Masato,"Aku ingin merubah penampilan supaya bisa ngelindungin dia, tapi dia nggak mau!"

"Tsk, tsk, tsk," Monta berdecak,"Jangan begitu dong, Hana…setiap laki-laki pasti ingin selalu melindungi gadis yang disayanginya! Kok malah kamu tolak…," ujarnya.

"Raimon! Aku belum nembak dia!" tegur Masaro panik.

"MUKYA! Lupa, MAX!" sekarang Monta yang panik.

"Bodoh amat!" sentakku, tanpa bertanya apa yang tadi sedang dibicarakan Masato dan Monta,"Pokoknya aku nggak mau kamu potong rambut model Mohawk, pakai anting-anting di telinga sama fitness yang rajin sampai badanmu kekar! NGGAK SUDI!"

Monta tercengang,"Aku rasa jadi orang yang merupakan gabungan Musashi-san, Hiruma-san dan Gaou-san dari Hakushuu bukan pilihan yang bagus…"

-xxx-

Hana's POV, from Flowers in Action

"I just need…a little of your time…a little of your time…to say the words I never said…," nyanyi(celetuk)ku.

BRAK! Hiruma menghajar meja dengan kakinya.

"Anak baru sialan! Suaramu itu tidak ada bagus-bagusnya jadi berhentilah bernyanyi!"

"Oh make you feel it…Can you still feel it…"

"ANAK BARU SIALAN! Kutendang kau nanti!"

"Apa?" aku melepas earphone dari telingaku,"Ditendang? Boleh! Yang jauh sekalian ya, Kak! Ehmm…kemana ya? Ke Venezia! Aku mau ndayung gondola di sana…terus, ke London!"

Semua anak speechless mendengar omonganku barusan. Sang quarterback menggeram marah.

"Ano…kejauhan ya? Gimana kalau ke Ojou aja? Lumayan, bisa ketemu Sakuraba-san!" aku cekikikan sendiri,"Atau ke Bando? Minta ajarin main gitar sama Akaba-san? Uhmm…atau…ke Kyoshin ya?"

TUK!

Aku mematung. Mulut sebuah senapan laras panjang telah menempel tepat dibelakang kepalaku.

"Kekeke…," aura kegelapan menguar,"Aku berubah pikiran, mungkin lebih baik kau kutembak mati di tempat saja."

ASTAGA! MATI! GUE!

"GYAAAAA!" aku menjerit sejadi-jadinya dan berlari secepat mungkin dari sana.

-xxx-

Hana's POV

"Hai!"

Masato menghampiriku yang sedang bermalasan di kelas saat jam istirahat.

Aku menanggapi panggilan Masato dengan lirikan malas. Masih sebel dengan persoalan ganti penampilan itu.

"Yang kemarin itu nggak jadi, kok…," katanya.

"Ya, baguslah," cetusku.

"Sebagai gantinya," mata cokelatnya berbinar,"Aku mau manjangin rambut terus digimbal! Ala anak pantai gitu deh!"

Mataku melotot,"NGGAK BOLEH!"

Aku nggak akan mau ngebayangin Masato dengan rambutnya si Agon-eww!

"Yah…kenapa? Uhm…atau…dibotakin aja gimana?"

"ENGGAAAAAAAK!"

-xxx-

Normal POV, From A Night to Remember

"Senaaa!" gadis berambut biru menegur.

"HIEEE?" pemuda berambut cokelat menjerit kaget.

"Kenapa kamu ngambil jaket warna gelap melulu?" gadis berambut biru itu kembali menegur.

Sena memegangi jaket berwarna cokelat di tangannya dengan gugup. Suzuna memarahinya di dalam Department Store yang ramai. Runningback itu malu setengah mati.

"M-maaf…maafkan aku…," ujar Sena lemah.

"Huuffft…," Suzuna mengambil jaket itu dari tangan Sena dan mengembalikannya ke rak.

"Kau bisa memakan warna yang lebih terang kok, Sena. Yang biru muda ini bagus, 'kan? Seperti warna kausmu."

Suzuna menyerahkan jaket berwarna biru muda itu pada Sena.

"Wah, iya!"

"Atau yang hijau ini? Ini juga bagus!"

"Wah, iya!"

Sena memandangi kedua jaket ditangannya. Simpel dengan sedikit motif yang tidak terlalu mencolok, favorit Sena.

"Baiklah, apa kau ingin beli dua-duanya?"

"HIE, satu saja!" tolak Sena cepat.

"Kalau begitu, pilih salah satu, ya! Sambil menunggumu memilih…aku lihat-lihat ke sana sebentar, ya!"

Suzuna ngacir begitu saja, memberi Sena waktu untuk berpikir.

5 menit kemudian…

"Bagaimana, Sena? Yang biru atau yang hijau?" tanya Suzuna sekembalinya dari tempat jaket untuk remaja perempuan.

"Ano…etto...," Sena memandangi kedua jaket itu dengan bingung,"Entahlah…bagaimana ya…? Aku bingung," jawabnya.

"Ugh, kau ini selalu saja ragu-ragu!" protes Suzuna,"Kalau begitu yang warna biru saja!"

Suzuna menyambar jaket berwarna biru di tangan kanan Sena dan pergi ke kasir. Sena mengembalikan jaket berwarna hijau ke tempatnya dan mengikuti Suzuna sambil menghela nafas sedih. Sebetulnya Sena tak pernah suka dimarahi Suzuna karena sifatnya itu. Dia ingin berubah, tapi mungkin memang sudah wataknya seperti itu. Terbersit pula di hatinya rasa kagum pada Suzuna yang selalu tangkas dan berani.

"Duuh…kupikir sudah beruntung bisa dapat antrean paling depan. Eeh, ternyata kasirnya menghilang entah kemana!" keluh Suzuna di depan meja kasir yang kosong.

"Sabar, Suzuna," ujar Sena kalem,"Situasi pertokoan sedang ramai, mungkin dia sedang membantu pegawai lain di suatu tempat," ujarnya lagi.

"Hu-uh," Suzuna merengut.

Sena tersenyum lembut padanya,"Tunggu disini ya."

Sena beranjak dari sana dan menghampiri seorang pramuniaga di sebuah counter kemeja.

"Maaf, permisi…," tegur Sena sopan.

"Ah, iya. Ada yang bisa saya bantu?" pramuniaga itu menoleh ke arah Sena.

"Ano…kasir yang di kassa 2, ada di mana ya? Saya mau membayar…," ujar Sena dengan gaya khas-nya: tangan di belakang kepala.

"Oh, mohon maafkan kami," pramuniaga itu membungkuk hormat,"Saya akan panggilkan segera!"

"Terima kasih banyak…," Sena nyengir garing.

Tak berapa lama sang kasir kembali sambil berlari kecil.

"Mohon maafkan saya!" ujarnya,"Kondisi pertokoan sangat ramai, dan tadi ada seidkit masalah di sebelah sana, mohon maaf," ujar kasir itu.

"Tidak apa-apa," Sena tersenyum. Suzuna lalu menyerahkan jaket biru itu untuk segera dibayar.

Akhirnya sesi belanja itu selesai juga. Mereka keluar dari Department Store sambil tersipu-sipu nggak jelas.

"Doumo arigatou gozaimasu, Suzuna," ujar Sena malu-malu.

"Sama-sama. Dipakai, ya, jaketnya," jawab Suzuna.

"I-iyah…"

"Hei, Sena," mata Suzuna yang berwarna indigo menerawang ke langit,"Maaf tadi aku marah-marah."

"Ah, tidak apa…," jawab Sena ramah.

"Aku kagum kok sama kamu yang selalu bersikap sopan santun. Soalnya orang pasti akan jadi bersikap ramah juga padamu!" puji Suzuna, mengeluarkan senyum manisnya.

Sena tersipu,"K-kau berlebihan…aku juga kagum padamu yang selalu bersikap berani dan cepat tanggap dalam menghadapi sesuatu…"

"Hihihi," Suzuna cekikikan,"Tapi masih kalah cepat dari larimu!"

Mereka berdua tertawa seiring angin musim gugur yang berhembus, menyapu dedaunan kering dan kecokelatan di sepanjang jalanan itu.

-xxx-

Normal POV, From A Night to Remember

Hiruma mengeluarkan VAIO putih,"Kita susun strategi untuk melawan Shinryuuji besok. Mereka benar-benar tidak dapat diremehkan, jadi mungkin kita harus membuat rencana berlapis. Selama masih ada kemungkinan untuk menang, maka aku akan pastikan kita pasti bisa menang," Hiruma berkata dengan lancarnya sambil tersenyum seram.

Mamori terperangah melihat Hiruma yang baru saja meminum espresso-nya.

"Aku susah-susah berdandan dan malu setengah mati karena berjalan di red carpet waktu ke sini…ke kafe ini dan kita di sini untuk menyusun strategi…?" dahinya berkerut.

"Tentu saja! Turnamennya besok! Memangnya apa yang kauharapkan, cerewet?" bentak Hiruma.

"Hhh…," Mamori memegangi kepalanya, lalu pasrah mengikuti perintah quarterback itu. Berikutnya, adegan mendikte-tulis menulis dan berdiskusi.

Beberapa saat kemudian, Mamori menyadari sesuatu.

"Ano, Hiruma-kun!"

"Apaan?" tanya Hiruma dengan mimik rusuh.

"Hihihi," Mamori cekikikan,"Kau tidak sadar ya? Kancing kemejamu yang tengah terbuka, tahu!"

Hiruma mengernyit, melihat ke arah kemeja yang dikenakannya. Mamori benar. Terlihat cukup jelas karena ia tidak mengancingkan jasnya.

"Tch. Sialan," Hiruma mencoba mengancingkan kemejanya,"Shit, kancingnya hilang!"

"Hm? Kancingnya lepas ya?" tanya Mamori.

"Seperti yang kaulihat," jawab Hiruma gusar.

"Aa…chotto matte kudasai," Mamori mengaduk-aduk clutch-nya. Ajaib, gadis itu mengambil sebuah gunting kecil, benang dan jarum jahit.

Hiruma tercengang,"Kau bawa peralatan jahit?"

"Begitulah…Nah, biar kujahitkan saja," ujarnya sambil tersenyum manis.

Mamori menarik kursinya ke dekat Hiruma.

"Permisi!" ia menggunting kancing cadangan yang ada di balik kemeja bagian bawah. Kemudian dengan telaten ia menjahitkan kancing itu.

"Akan jauh lebih mudah kalau kemejanya dilepas, tapi itu tidak mungkin bukan?" ujar Mamori sambil terus menjahit.

"Kekeke," Hiruma terkekeh,"Jangan mikir yang aneh-aneh, manajer sialan!"

"Enak saja!" wajah Mamori bersemu merah,"Nah! Sudah selesai!"

Ia mengembalikan kursinya ke posisi semula dan memasukkan peralatan jahit itu ke dalam clutch-nya. Hiruma hanya bisa memandanginya sambil nyengir senang.

"Ah, aku lupa membalas SMS dari Sara," ujar Mamori sambil mengaduk lagi clutch-nya. Keluarlah sebuah handphone dengan boneka cream puff kecil di ujung phone strap-nya.

"Cepetan! Kita harus bekerja!" tegur Hiruma garang.

"Tunggu sebentar…lho?" Mamori mengamati handphone-nya,"Kenapa mati? Tadi baterainya penuh, kok!"

Gadis bergaun merah itu mencoba menyalakannya, tapi tidak bisa.

"Duuh…masa HP-ku rusak…?" keluhnya kecewa.

"Tch. Sini!"

Hiruma menyambar handphone itu dan memperhatikannya.

"Ah, ini. Sepertinya ada sedikit yang tidak beres."

Keajaiban kembali terjadi. Hiruma mengeluarkan beberapa peralatan dari tasnya, termasuk sebuah kaca pembesar dan obeng.

"Eiii, Hiruma-kun! Mau kauapakan HP-ku?" tanya Mamori panik melihat HP-nya diutak-atik oleh Hiruma.

"Sudah kau tidak usah cerewet. Mau dibetulkan tidak?" tanya Hiruma.

"Mau…"

"Ya sudah," ujar Hiruma singkat dan kembali berkonsentrasi pada HP Mamori. Beberapa saat kemudian, ia telah mengembalikan HP itu ke bentuknya semula, dan menyalakannya.

"Wah…hidup lagi! Doumo arigatou, Hiruma-kun!" Mamori menerima HP-nya lagi dengan senang,"Kau tidak berpikir untuk buka usaha servis HP? Hihihi…," ledek Mamori.

"Ah, tidak perlu. Uangku sudah banyak," jawab Hiruma santai,"Lagipula, sekalian membetulkan alat penyadap yang kupasang di HP-mu."

"Alat…apa?" tanya Mamori, merasa salah dengar.

"Alat penyadap! Kekeke!" Hiruma menjawab dengan riang gembira.

"Mou…Hiruma-kun!"

"Ya-ha!"

-xxx-

Hana's POV

"Heh, anak baru sialan! Mana catatanmu yang kemarin?" tanya Hiruma kasar.

"Oh, itu. Sebentar, komandan!" jawabku santai sambil berjalan ke arah tasku yang kuletakkan di atas kursi.

DEG!

Firasatku buruk saat akan membuka retsleting tasku. Aku juga merasa kalau Hiruma sedang merencanakan sesuatu.

"Heh. CEPETAN!" hardiknya.

Iiih!

Cepat-cepat aku membuka retsleting tasku dan…

Oh my God.

Itu 'kan…

Itu 'kan…

"Oh, jadi kau ada perlu dengan Hana?" tiba-tiba terdengar suara Monta dari luar club house.

"Iya, nggak ngganggu 'kan?" terdengar suara yang sangat kukenal.

Seperti suara Masato…

Masato!

"MASATOOOOOO!" aku menjerit sejadi-jadinya sambil menggeser pintu dan berlari keluar.

"Lho?" Masato kaget melihatku keluar dari ruang klub dengan kepanikan dan berlinang air mata.

"Huuuu…," aku menangis sesenggukan,"Masatoo….!"

"MUKYA! Ada apa ini?" tanya Monta kaget.

"Hei! Kamu kok nangis gini sih? Ada apa?" tanya Masato nggak kalah kaget. Ia menyibakkan helai-helai rambutku yang terjuntai ke bawah karena aku menangis sambil menunduk.

"Huu…ini pasti ulah Kak Hiruma…pasti diaa!" aku menjawab sambil terus menangis. Jari tanganku menunjuk ke dalam ruang klub tempat setan itu bersarang.

Aku kembali melihat mata cokelat yang berkilat marah. Ia lalu masuk dengan langkah garang ke ruang klub.

"SETAN FREAK! Kamu apain Hana, hah?" bentaknya pada Hiruma.

Hiruma meletuskan gelembung permen karetnya,"Aku hanya memberinya hadiah, salah sendiri dikasih hadiah nggak mau," jawabnya santai.

Masato mengernyit,"Hadiah?" Ia menoleh padaku yang mengekor dibelakangnya dengan ketakutan,"Hadiah apa?" tanyanya.

"Itu…hiks…di dalam tas…," jawabku terisak sambil menunjuk tasku yang terbuka.

Masato menghampiri tasku dan melihat ke dalamnya.

"Hwa!" dia sedikit kaget,"Ya ampun…aku kira apa. Hana, Hana…," dia geleng-geleng kepala.

SET!

Dengan sigap ia mengeluarkan makhluk itu dari tasku dengan tangannya.

"Apaan sih?" Monta kembali bertanya penasaran.

"Ini lho," Masato memperlihatkan tangkapannya,"Laba-laba. Gede juga ya."

"HUWEEEEEEEEE!" aku kembali menangis ketakutan karena melihat makhluk itu lagi. Takut! Hanya itu yang ada di kepalaku.

Aku tak tahu sejak kapan aku takut pada makhluk berkaki delapan itu. Setiap kali melihat, rasanya takut, dan kalau ia bergerak, perutku akan terasa mual sekali. Hoekkkk…

Masato keluar dari ruang klub dan melempar makhluk itu entah kemana. Ia kembali dengan tisu di tangannya.

"Ihhh…jelek sekali kamu. Udah, nggak usah nangis!" ujarnya sambil memberikan tisu.

"Aku takut! Hiruma sialannn!" ujarku geram. Bahuku masih sedikit berguncang.

"Sudahlah…sudah," Masato menenangkanku lalu tertawa,"Gitu aja takut! Hihihihihi!"

"Nggak usah ketawa! Nyebeliiin!" protesku sambil melancarkan beberapa tinjuku ke arahnya. Tapi ia berhasil menangkis semuanya sambil terus tertawa.

Keesokan harinya…

Handphoneku berdering, mengalunkan intro dari lagu Tonight, Tonight, Tonight,

"Ya, Masato…ada apa?" kataku sambil melahap sandwich yang baru saja kubuat.

"Aku mau minta tolong…tolong ke rumahku…ada…ada sesuatu di depan rumahku…," katanya ketakutan.

"Nyem…nyem…ada apa sih?" tanyaku malas.

"Cepetan!" sentaknya,"Kalau nggak aku nggak bisa berangkat sekolah!"

"Haaah?" aku bereaksi heran ala Ha-ha Bersaudara.

Akhirnya aku segera menenteng tas dan berjalan cepat-cepat ke rumah Masato yang berjarak dua blok dari rumahku.

"Masatoo! Ada apaaan?" teriakku sembrono dari depan rumahnya.

"Itu lihaat!" teriak Masato dari balik pintu depan.

Hm? Apaan sih?

"ADA ANJING! ANJING! LIHAT TUH!" ujarnya panik.

Astaga.

Aku tertawa sejadi-jadinya. Salahkan penglihatanku, ternyata memang ada seekor anjing di depan rumahnya, tanpa rantai, dan seakan siap menggigit Masato kalau dia keluar selangkah saja dari rumahnya.

"Dasar anjing nakal! Kaupikir aku tidak mengenalmu, hah?" kataku sambil tertawa dan berjalan mendekat.

Kuhampiri anjing garang berbulu cokelat muda dan memakai kalung leher model punk itu.

"Cerberoooos…," panggilku,"Kau pasti dikirim setan kurang kerjaan itu, ya? Ck, ck, ck…," aku berdecak. Aku dan Masato benar-benar dikerjai.

Aku mengambil sebuah biskuit tulang dari tasku (yang selalu kubawa) dan memancing Cerberos.

"Ayo, ayo…kau mau biskuit inii?"

Cerberos menggonggong semangat.

"Kalau begitu…," aku mengambil ancang-ancang,"Ambil!"

Kulemparkan biskuit itu jauh-jauh. Cerberos berlari mengejar.

"Nah, Masato, sekarang keluarlah!"

Masato keluar dari persembunyiannya di balik pintu dengan muka setengah kesal setengah ngeri.

"Makasih, ya…," katanya,"Untung aja ada kamu," ujarnya lagi.

"Iya…tidak masalah!" jawabku,"Yuk, kita berangkat sekolah!"

Kami berjalan bersama ke sekolah. Aku membalas ledekannya kemarin dengan menertawakannya sepanjang jalan.

-xxx-

Setiap manusia diciptakan berbeda. Mereka memilki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Kekurangan bukanlah sesuatu untuk disesali, dan kelebihan juga bukan sesuatu untuk diagungkan. Untuk itulah kita harus saling mengerti akan kekurangan, dan saling berbagi akan kelebihan. Alangkah indahnya jika kita bisa memahami dan berbagi satu sama lain, dengan begitu kekurangan maupun kelebihan tak akan menjadi sesuatu yang perlu dipermasalahkan.

-Aoihoshi Hana

[Flowers Dibuang Sayang, the end.]

Ya, begitulah yang aku rasakan selama berada di Ffn ini. Aku akan menulis ceritaku, dan para pembaca maupun sesama author akan membantuku mengatasi kekurangan yang aku miliki dalam fanficku. Semua juga tak segan memberitahu saat aku bertanya, dan aku juga tak boleh ragu membantu jika ada yang bertanya padaku. Mungkin ini adalah hal sederhana, namun bagiku ini sesuatu yang berarti dan berharga.

Terima kasih banyak semuanya, Flowers akan Undine akhiri sampai di sini. Sekuelnya akan aku buat dengan segera! xD

Maafkan undine kalau ada kesalahan, ya…jangan lupa berikan review kalian! Anonymous juga silakan!

Sampai jumpa di cerita lain! Grazie, ci vediamo! (Thanks, see you!)