Well, akhirnya sampai ke bagian terakhir, 5 dari 5, sampe ke tanggal yang saia tunggu-tunggu. Saengil chukkaehmnida, oppa. You're the first one of something in my life... :))

Yang Pertama, a kazuka's

.

BLEACH © TITE KUBO

Yang Pertama, atas namaku untukmu

.

5th : Yang Pertama Kau Ajarkan Padaku

.

.

.

Aku merapikan lagi pakaianku.

Tunggu, ini bukan gaun sutra yang begitu licin dan mudah terlipat! Ini hanya seragam biasa, Hime, seragam biasa! Tak perlu terlalu susah memikirkan penampilan. Aku merutuk dalam batin. Ah, aku begitu gugup hari ini.

Memang hari ini hari penting—acara formal pelepasan para siswa yang sebentar lagi akan menerima hasil ujian. Farewell party, itu yang disebut teman-temanku. Tapi bukan pesta perpisahan yang identik dengan gaun manis para siswi, dan siswa yang tampan tinggi dengan kemeja atau jas mereka. Ini cuma acara resmi. Acara seperti itu baru akan diadakan ketika kami benar-benar sudah memerima hasil kami.

Dan aku gugup, bukan karena ini hari terakhir kami berkumpul bersama dalam satu lingkup nama resmi sekolah, tapi...

Eh, ada Ishida-kun di sana!

Kulihat ia sibuk mengatur acara yang lima belas menit lagi akan diadakan. Bisa kumaklumi, dia adalah calon alumni yang sangat bepengaruh di sekolah ini.

Ia cerdas, pandai berorganisasi, hingga membuatnya terpilih menjadi wakil ketua organisasi siswa saat di tingkat satu dan menjadi ketua di tingkat kedua sekolah menengah atas ini.

Bukan hanya itu alasanku mengaguminya—ah, patutkah aku mengakuinya?—ia adalah seorang yang apa adanya. Lebih memilih buku daripada berkumpul khas anak laki-laki di kelasku. Buang waktu, katanya.

Dan kabarnya, ia telah mendapat beasiswa resmi dari negara untuk menuntut ilmu ke negara adidaya itu.

"Beranikan dirimu, Hime. Tak ada waktu yang lebih baik dari ini," Tatsuki-chan datang dengan tiba-tiba dan menepuk pundakku. Hampir aku terlonjak kaget.

"Ah, Tatsuki-chan!"

"Ingat, dua tahun kamu menahannya. Aku tidak mau melihatmu menangis karena tak sempat mengungkapkannya saat ia pergi nanti."

"Ba-baiklah," aku tertunduk—tersipu.

"Berjuang. Aku berdoa untukmu," Tatsuki menjauh dariku. Ia kembali membaur dengan panitia—ia bagian peralatan.

Kulihat Ishida-kun berjalan menuju padaku. Jantungku mempercepat lajunya. Aku yakin, wajahku sudah merah.

Sedikit ia memberiku senyum.

Aku tidak yakin aku terlihat normal.

"Inoue-san, kau sakit?" ia makin mendekat.

"E, a-ano—ti-tidak! Tidak sama sekali!" aku berusaha mencerahkan rona wajahku.

"Kau terlihat—merah?"

"E-eeh, tidak, mu-mungkin aku sedikit kepanasan, Ishida-kun," aku berusaha tertawa seadanya. Mungkin sedikit dapat kunetralkan diriku.

Ia meneruskan jalan. Menghampiri Kurosaki-kun yang ada di belakangku. Kudengar mereka membicarakan sesuatu—berkaitan dengan waktu acara. Sepertinya, acara akan segera dimulai.

Benar saja. Pembawa acara—Hinamori-chan telah berucap dari sudut sana.

Bagus, aku harus menunggu berapa jam lagi?

.

Satu setengah jam terlewat. Acara resmi masih berlangsung, membuatku tak enak kalau harus pergi keluar. Mataku terus mencari Ishida-kun.

Mungkin ia berada di luar, analisaku. Atau ia menonton dari pintu masuk. Ia termasuk orang penting yang hampir menjadi maskot sekolah. Berlebihan? Tidak. Itu semua benar. Ia murid cerdas yang selalu dapat diandalkan.

Tiba-tiba aku merasa ingin ke toilet.

Baiklah, aku menyerah. Aku memberanikan diri berdiri dan menuju pintu keluar. Kebetulan sedang ada pergantian acara, hingga aku sempat melarikan diri.

Ke toilet hanya beberapa menit. Aku merapikan seragamku dan berjalan masuk kembali ke gedung. Kulihat sesaat diriku di pantulan kaca. Rambutku masih agak rapi.

Patut kuakui, aku jadi lebih sering memperhatikan soal rambutku semenjak aku tahu aku menyukai Ishida-kun. Ya, itu benar.

BRUK!

Aku mendongak pada seseorang yang menabrakku.

Ishida-kun!

"Sumimasen!" Ishida-kun mengulurkan tangannya padaku. "Aku agak terburu-buru, Inoue-san."

Kusambut uluran tangannya. Ini bukan yang pertama kali, jadi aku tidak terlalu memerah. Ia sering membantuku yang begitu ceroboh ini.

Sesudah meminta maaf, ia melangkah cepat dariku. Tunggu, haruskah aku kehilangan kesempatan?

"I-Ishida-kun, tunggu!"

"Ya?" ia berbalik. Berhenti.

"Apa urusanmu penting?"

"Ti-tidak terlalu. Aku cuma menyampaikan bahwa aku ingin meminta dokumentasi langsung dari bagian penyelenggara."

"A-aku punya sesuatu yang lebih penting daripada itu..."

Tampak kedua alis Ishida-kun hampir menyatu. Hingga ia membetulkan letak kacamatanya. Lantas—ia mendekat padaku.

"Apa itu, Inoue-san?"

Aku menarik nafas. Ini momen yang kutunggu semenjak dua tahun lalu. Aku sempat mengucapkan syukur—akhirnya aku bisa tiba ke waktu yang kutiti dari jauh.

"Ishida-kun... tahukah, kalau selama ini..."

Aku terputus. Tapi Ishida-kun tetap mendengarkan. Salah satu poin yang juga kusukai—ia pendengar yang sangat baik.

"Aku... Menyukaimu sejak awal masuk sekolah ini..."

Aku tidak melihat langsung pada matanya, mataku sendiri kututup. Aku tahu aku pengecut... Tapi setidaknya aku masih bisa mengucapkannya, bukan?

"... Aku mengagumimu, tapi aku tidak berani berkata..."

"Inoue-san, aku—"

"Tidak apa-apa, Ishida-kun. Aku tidak bisa berharap kalau kau akan menerimaku. Aku hanya ingin mengungkapkannya, lebih baik daripada aku mendiamkannya hingga kau pergi nanti. Kita terlalu jauh, dalam banyak hal..."

"Demo—maksudku..."

"Baik, hontou ni arigatou, Ishida-kun. Kaulah yang pertama mengajarkanku tentang banyak hal sekaligus. Menjadi pendengar yang baik, berjuang, tidak menyerah, selalu belajar dari kesalahan, rasa suka dan... cinta..."

"Inoue-san..."

Kuputus kata-katanya. Aku tidak ingin pernyataan yang kususun dengan susah payah menguap begitu saja karena aku terlalu serius mendengarkannya. "Aku sangat berterima kasih. Maaf jika aku lancang, Ishida-kun. Aku hanya ingin kau mengetahui, kalau akulah yang selama ini di balikmu, mengagumimu dalam diam... Aku terus bisa tersenyum, salah satunya karena Ishida-kun..."

"I—"

"Baiklah, Ishida-kun, terima kasih waktunya," aku bersiap lari. Dalam hatiku, seperti ada sesuatu yang melayang lepas. Bebanku. Aku lega, itu saja.

"Inoue-san! Tidakkah kau mau mendengarku?" ia menarik tanganku. Aku terhenti. Dengan cepat ia membawaku tepat ke depan wajahnya.

"Aku juga—ingin berterima kasih padamu."

"Te-tentang apa?"

"Kau jugalah yang mengajariku bagaimana untuk serius selain dalam belajar."

"Ma-maksud Ishida-kun?"

"... Serius untuk menyukai seseorang."

Aku rasa waktuku berhenti. Aku menutup mulutku yang ingin berteriak.

Ini mimpi?

Atau—Ishida-kun memang mengucapkan itu dengan mulutnya sendiri?

"I-Ishida-kun?"

"Aku menerimamu, Inoue-san," ia membisikkan tepat pada telingaku. Suara lembutnya... "Aku sadar, tahu, kalau selama ini kamu menyukaiku. Terlihat dari sikapmu. Tapi aku sendiri pun tak bisa mengatakannya. Aku kagum denganmu, Hime..."

Perjuanganku tak sia-sia...

"Ya, Ishida-kun..." aku memberanikan diri memeluknya. Hangat.

Inikah, wujud asli cinta yang kutunggu?

... Untuk pertama kalinya, aku sadar, kekuatan cinta pertama itu sangat kuat. Dan aku juga sadar, kalau usaha yang keperjuangkan itu tak berhasil nihil...

Terima kasih Tuhan, kau telah memberi beberapa hal yang menyadarkanku...

Ishida-kun turut melingkarkan tangannya di punggungku. Pertama kali, aku memeluk cintaku secara langsung.

.

.

- compiuto –

.

The last one, the longest one.. :DD

yap, ini yang terakhir, lima dari lima ficlet saia. Well, sebenarnya gak semua kisah saia lho.. ^3^ Hanya ada beberapa yang mirip, tapi dengan perubahan tentunya. Terlalu manis jika kisah saia seperti dalam fic ini. Huh, kerjaan saia kan banyak mengkhayal... =3=. Jadi realita yang ada pun terkadang berubah seindah pelangi ketika saia poles dengan imajinasi abal... ==a karena itulah saia...

saengil chukkae yo, oppa. i'll pray for you, today... :DD

ne? review?