Hahahaaayy, ini dia si Carmilla Gottschalk kembali! Sekedar pemberitahuan, nama saya ditambahin Violetta didepan, hehehe maklum maklum bo. Eniwei, ini plot bukan punya saya. Jadi ini doujin yang saya terjemahin. Saya sering melakukan itu haha. Anda bisa temukan Doujin ini di YouTube, tulis saja, "Black Tea Part Doujinshi" pasti ada deh! Ceritanya sedih ba— *digebukkin gara gara spoileran*

Yaudah, langsung saja ke Teee- Kaaa- Peee! *emang OVJ haha*

DISCLAIMER:

Kuroshitsuji belongs to Yana Toboso

This plot doesn't belongs to me too

Summary:

Aku sudah mau mati tapi aku punya banyak pertanyaan untukmu Sebastian…

(Fem!CielxSebastian)


BLACK TEA PARTY

Scene 1:Darjeeling

Sebentar lagi….

Ciela dan Sebastian sedang berada di atas air dingin tersebut. Kunang – kunang bertebangan di sekitar mereka. Sebastian sendiri sedang mengayuh perahu kayu tersebut, dan Ciela hanya duduk manis di perahu, menunggu kematiannya.

"Hey Sebastian" panggil Ciela, lalu mata birunya menatap mata crimson Sebastian. "Ada apa young mistress?" tanyanya seraya tersenyum lembut.

Sebelum aku mati…

"Kemana orang pergi setelah mati?" tanya Ciela. Ia memperhatikan kelopak kelopak bunga sakura berjatuhan ke air. Ia mengendus sedikit, wangi bunga sakura yang menenangkan hatinya. "Kalau masih ada perjalanan lagi, aku akan lelah sekali" sambungnya. Sebastian hanya tersenyum, meskipun tahu Ciela tidak akan melihat senyumannya. "Siapa tahu? Saya juga heran" jawabnya.

Kemana kau pergi setelah aku mati?

Aku sudah mau mati, tapi aku punya banyak pertanyaan untukmu Sebastian.

Sebastian menurunkan Ciela dari gendongannya, membiarkan gadis itu duduk di kursi batu yang dingin bukan main. "Apakah sakit?" tanyanya, suaranya sedikit bergetar ketakutan, dan Sebastian mengetahui hal itu, "Agak, tapi saya akan membuatnya tidak sakit sama sekali" jawab butler serba hitam itu. Ciela menyentuh mata kanannya yang ditutupi penutup mata berwarna hitam, dan ia tersenyum sedih, "Tidak apa. Buatlah sesakit mungkin. Ukirlah rasa sakit ini ke diriku" jawabnya. Sebastian, lagi – lagi dibuat terkejut oleh young mistress –nya.

"Yes, My lady"

Hey Sebastian.

Beritahu aku.

Apa aku sebenarnya untukmu?

Sebastian pun mulai menyentuh pipi Ciela, dan menyingkirkan penutup mata Ciela yang berwarna hitam, dengan tangannya yang ditandai kontraknya dengan Earl muda itu. "Well then, Young mistress…"

Ha….Aku bisa merasakan napasnya di wajahku.

Sebastian mendekati wajah Ciela, dan gadis itu sudah menutup matanya sedari tadi. Menunggu ajal menjemputnya. Tapi apa yang terjadi tidak sesuai dengan apa yang dia kira. Darah menetes ke pipinya, dan gadis itu segera membuka matanya, dikejutkan dengan pemandangan yang ada di depannya.

"Se-Sebastian!" teriak gadis itu, ia dapat merasakan bulu kuduknya berdiri. Ya, Sebastian butlernya itu, menggigit tangannya sendiri, entah apa maksudnya."Tidak…" bisik Ciela. Darahnya mulai mengalir semakin deras, dan Ciela semakin panik. "Berhenti!" perintahnya "Jangan lakukan ini!" semakin lama, air mata mulai mengalir ,meninggalkan bekas di pipinya yang seputih boneka porselen. Tetapi Sebastian tidak menurutinya, dan butler iblis itu jatuh berlutut, ia hampir jatuh ke arah Ciela. Gadis itu dengan cepat menangkapnya, dan memegang erat pundaknya. "Sebastian!" teriaknya, "Apa yang ingin kamu lakukan?"

Ciela dapat melihat Sebastian semakin memucat, dan gadis itu menyentuh pipinya, Dingin. Darahnya yang merah pekat mengering di ujung bibirnya, "Dengan begini…" ujar Sebastian, "Kontrak kita dihapuskan…"

Tetapi, Sebastian lagi – lagi dikejutkan dengan tingkah laku young mistress tersebut. Ia memeluk Sebastian, dan ia mencium kening Sebastian dengan lembut. "Kalau kau melanggar kontrak! Kau akan mati! Dan…dan aku…aku…" suaranya serak, dipenuhi kesedihan yang tidak bisa dibendung lagi, "Aku tidak ingin kau mati, Sebastian!"

Gadis itu semakin mempererat pelukannya, dan ia dapat mencium wangi sabun di rambut Sebastian, "Kau terlalu ceroboh…melanggar perintahku…" Sebastian hanya tersenyum tipis, dan balas memeluk gadis itu, "Saya sudah hidup cukup lama. Kalau saya bisa menjadi butler anda sampai mati, saya tidak akan minta lebih…" ujar Sebastian. Ciel menutup matanya, membiarkan air matanya mengalir terus di pipi.

Bodoh sekali aku tidak sadar bahwa aku tidak sendirian selama ini….

Dan bodoh sekali karena aku baru menyadarinya sekarang….

XXX

Pagi pun tiba, dan ketiga pelayan Phantomhive telah tiba di pulau indah tersebut. "Young mistress! Sebastian! Apakah anda dapat mendengar kami!" teriak Maylene sekencang mungkin, "Young mistress!" teriak Bard lebih kencang. "Sebastian!" teriak Finny.

Bard melirik ke suatu tempat, begitu juga Maylene. Hanya Finny yang tidak bisa melihat karena ia membelakangi chef dan maid tersebut. "Oi…Finnian" panggil Bard. "Apa? Kamu melihat mere—"

Ia terkejut melihat pemandangan yang ada di depannya. Sebastian tertidur, -atau mati entahlah-, di pangkuan Ciela. Dan gadis itu sendiri juga tertidur atau mati. Tidak ada yang tahu. "Sialaaaaaan!" teriak Finnian, seperti anjing yang melolong ditinggal tuannya.

XXX

Beberapa tahun kemudian…..

Jam stasiun kereta api menunjukkan waktu 12 siang. Seorang gadis yang mungkin berusia 19 atau 18 tahun berdiri di peron. Rambutnya pendek hanya sebahu atau lebih. Sebuah kereta berhenti, dan gadis bertopi hazel itu hanya memandanginya. Dan ia menengok ke sampingnya, seorang lelaki berambut raven, yang mungkin lebih tua sedikit darinya. Kedua matanya berwarna crimson, dan ia tersenyum.

"Shall we, Ciela?" Gadis itu hanya tersenyum tipis, lalu ia menggandeng lelaki itu, "Yeah"

Dan keduanya menaiki kereta tersebut.

END FOR DARJEELING


Huraaaayy selesai! Bahagianya selesai ulangan umum bisa menulis fanfic! Ya Allah makasih Ya Allah! *lebay*

Setau saya ini masih ada lagi, nanti tunggu aja yah! Makasih udah mau baca, no offensive comments. Dan saya tau cerita ini abalan gaje gubrak krompyang. But please review!