Temen-temenku tercinta…. #Treaktreak

Lie-chan da update chapter 4 ni. Maaf ya, karena ketelatan ini #BungkukBungkuk.

Ok, langsung aja...

Naruto milik MASASHI KISHIMOTO-SAMA.

Tapi, 'Mai Luphly Stlawbelly' punya Liekichi-chan...

Oh ya, hampir saja lupa.

This fic, Special for my lovely sister #kicked.

Special untuk 'HinamE hiMe-cHan', Nee-chan ku tersayang #ditabok karena ngaku-ngaku. Maafkan Lie-chan, kalau ficnya jelek ya nee... hehheh. . Love you…, muach..muach…

Selamat Membaca ;D

::: Mai Luphly Stlawbelly :::

Previous

"ARRGHH... KAU INI MENYEBALKAN..." teriak Hanabi. Naruto sama sekali tak menggubris teriakan gadis kecil itu sedikitpun. Ia terus melangkahkan kakinya menuju kamar Hinata. Tapi dibalik itu semua, lelaki bermata biru laut itu hanya tersenyum geli melihat tingkah Hanabi yang menurutnya sangat berbanding terbalik dengan Hinata.

'Ternyata, kau dan Hanabi benar-benar berbeda ya, Hinata-chan.' batin Naruto sambil tersenyum.

Chapter 4

Setelah mendekati kamar gadis yang sedang berada dalam gendongannya, Naruto lantas membuka pintu tersebut. Tubuh mungil Hinata, bukanlah masalah besar untuknya. Mengingat betapa mungilnya gadis berambut indigo panjang tersebut. Sesaat setelah pintu itu terbuka, penciumannya langsung dimanjakan oleh aroma lavender yang benar-benar harum khas Hinata. Senyumannya tersungging dan semakin menambah ketampanan wajah Naruto.

Dengan begitu perlahan, Naruto mulai melangkahkan kakinya untuk melihat lebih jelas lagi dalam kamar Hinata. Dan jelas saja, harum itu semakin terasa kentara di indra penciumannya. Membuat lelaki itu memejamkan matanya untuk menyesap dalam-dalam aroma yang sudah sangat ia rindukan.

Membuka mata biru lautnya, kemudian tersenyum kembali.

"Kasihan sekali Hinata-chan. Dia pasti sangat lelah." gumam Naruto sambil memperhatikan Hinata yang berada dalam gendongannya.

Naruto pun mulai mendekati tempat tidur Hinata yang berukuran Queen size dengan seprai bergambar chappy dan berwarna lavender lembut. Selimut tebal juga tak tertinggal dari kamar mewah milik gadis Hyuuga itu. Dengan sangat lembut, lelaki itu mulai meletakkan tubuh mungil Hinata dengan sangat perlahan. Selembut mungkin ia memperlakukan gadis itu, bagaikan seorang putri. Putri yang harus selalu ia jaga dan lindungi. Tak boleh ada sedikitpun luka yang menyakiti.

Hinata sedikit terganggu saat tubuhnya diletakkan diatas ranjang miliknya. Tapi, hal itu tetap tak bisa membuat gadis Hyuuga tersebut untuk terbangun dari tidurnya. Rasa lelah yang mendera tubuh mungilnya, memaksa kelopak indah itu menyembunyikan lavender keperakannya. Membuat wajah mungil itu terlihat sangat lucu dan menggemaskan.

Setelah berhasil meletakkan tubuh Hinata diatas ranjang tersebut, Naruto lantas mengambil posisi untuk duduk disamping tubuh Hinata yang tertidur sangat-sangat pulas. Lelaki itu sampai harus terkekeh kecil karena mendengar dengkuran halus dari gadis itu. Menandakan bahwa tubuh mungilnya sedang sangat membutuhkan istirahat.

Dengan penuh kasih sayang, Naruto mulai merapikan poni indigo Hinata- masih dengan senyuman yang membuatnya semakin bertambah tampan berpuluh-puluh kali lipat. Mengelus pelan pipi Hinata menggunakan punggung tangannya. Lelaki itu merasa sangat rindu dengan wajah mungil nan teduh itu. Tak pernah ia temui gadis secatik Hinata. Sahabat kecil penggila permen strawberry.

Mulanya, Naruto sedikit ragu untuk melakukannya. Tapi, karena rasa rindu yang memang tak mampu untuk dibendung lagi, akhirnya lelaki tampan itu mulai mendekatkan wajahnya dengan Hinata. Memperhatikan wajah gadis itu dengan jarak yang begitu dekat. Setelah itu, ia lantas menutup kedua buah permatanya dan mulai mengecup lembut dahi Hinata. Menghirup dalam-dalam aroma yang memang sangat ia rindukan. Setelah dirasa cukup, barulah ia kembali membuka kedua kelopak penutup permata miliknya, dan mulai menjauhkan wajahnya dari wajah Hinata.

Sekali lagi, lelaki itu merapikan poni indigo milik sahabat kecilnya.

"Hmm.. sudah lama sekali aku tidak mencium aroma ini. Rindu sekali rasanya." gumam Naruto sambil memejamkan kedua bola mata biru lautnya untuk menikmati harum kamar Hinata. Lelaki itu terus menyesap aroma lembut itu dalam-dalam. Mencoba mengingat kembali kenangan antara dirinya dan sahabat kecilnya itu.

Dengan langkah yang begitu tenang, Naruto mulai memperhatikan lebih dalam lagi sesuatu yang berada dalam kamar Hinata. Kamar itu kini tampak lebih indah – penuh dengan nuansa feminime. Tertata rapi hingga menimbulkan kesan lembut serta kenyamanan yang tak ternilai harganya.

Naruto mengedarkan pandangannya kesetiap sudut kamar Hinata, tanpa terkecuali. Ya, lelaki itu tengah mencari sesuatu yang ia berikan sejak sepuluh tahun lalu. Sebuah boneka kelinci yang hampir sama dengan miliknya.

Terus, dengan lihai lelaki tampan itu melakukan hal tersebut. Sulit baginya untuk menemukan benda mungil nan lembut pemberiannya.

"Hufft.. kenapa tidak ada? Dimana Hinata-chan meletakkan boneka pemberianku?" gumam Naruto yang terlihat agak kecewa.

"Dimana ya?" tanyanya pada diri sendiri masih dengan mengedarkan matanya kesetiap sudut kamar gadis jelita itu.

"Hmm..."

Gumaman itu spontan keluar dari bibir Naruto. Bukan, dia bukan menemukan boneka pemberiannya. Tapi hal yang ia lihat, adalah hal yang lebih menarik dan mampu menarik perhatiannya pula. Dengan alis yang sedikit terangkat, Naruto lantas mendekati tempat tersebut. Dan ya, rautaun keheranan itu kini tergantikan oleh sebuah senyuman lucu.

"Dasar Hinata, tidak berubah sedikitpun." ucap Naruto sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

Ya, benda yang sejak tadi menarik perhatiannya adalah sebuah toples kaca berbentuk bulat yang dihiasi pita berwarna Violet yang melingkari bagian luarnya. Bukan hanya itu saja, Naruto tahu benar bahwa toples kaca itu sangat penting bagi Hinata.

Karena apa? Yah, tentu saja karena ditempat itulah gadis Hyuuga itu menyimpan semua permen rasa strawberry kesukaannya. Permen yang tak bisa lepas darinya. Sejak dulu sampai sekarang.

Baru saja Naruto hendak mendekatkan tangannya kedalam toples itu untuk mengambil beberapa permen strawberry dari dalamnya. Tapi, niatnya harus ia urungkan karena...

"Ennghh... Pusing.." erang Hinata yang perlahan-lahan mulai membuka mata indahnya.

Naruto yang mendengar eluhan itu langsung membalikkan badannya dengan tangan yang ia letakkan didalam sakunya. Memperhatikan wajah Hinata yang sangat lucu dan polos. Dapat ia terka, bahwa Hinata sama sekali belum menyadari keberadaannya dalam ruangan itu.

Wajah gadis itu tampak sangat polos dengan poni indigo yang sedikit berantakan. Bukan hanya itu, bibir mungil miliknya pun terlihat sangat lucu dan menggemaskan saat ia mengerucutkannya. Belum lagi permata amethystnya yang terus ia kerjapkan hingga beberapa kali- membuat gerakan yang sangat imut.

Hinata sempat terdiam- melamun sesaat diatas tempat tidurnya sebelum akhirnya gadis itu mengusap pelan kelopak matanya dengan tangan kecil itu. Entah kenapa, ia masih merasa sangat lelah karena hukuman itu. Hukuman yang mengharuskannya untuk bekerja keras.

"Engh.. kenapa aku bisa berada disini? Bukannya tadi itu aku..." ucap Hinata sambil mencoba mengingat-ingat kejadian yang terjadi sebelumnya. Gadis itu tampak berfikir keras sambil memejamkan erat matanya, untuk mengingat secercah kejadian yang terjadi sebelum dirinya tak sadarkan diri.

"K...Kami-sama..." ucap Hinata sambil membelalakkan mata indahnya. Membekap bibir mungilnya dengan tangan lentik tersebut. Ya, sepertinya gadis itu telah mengingat sesuatu. Sesuatu yang mampu membuat wajahnya menjadi merah padam seperti sekarang ini.

Tanpa keinginan gadis itupun, jantungnya mulai berdetak tak karuan. Semuanya, Hinata mengingat semuanya. Kejadian itu sungguh-sungguh membuatnya ingin pingsan sekali lagi. Bagaimana tidak? Tadi itu, tadi itu Naruto memeluknya. Kami sama...

Hinata yang merasa sangat malu hanya mampu mengacak pelan rambut indigo panjang miliknya. Gadis itu masih sangat tidak percaya dengan kejadian yang ia alami satu hari ini. Bertemu dengan Naruto membuatnya ingin pingsan, dan berada dalam pelukan Naruto membuat dirinya ingin terbakar saking malunya.

"Ba..bagaimana mungkin? Aku pikir ini hanya mimpi saja." gumam gadis manis itu dengan suara yang sangat pelan.

Naruto yang sejak tadi memang sudah berada didalam ruangan itu, hanya mampu memperhatikan Hinata sambil memegangi perutnya yang terasa sakit karena ia harus mati-matian menahan tawa melihat wajah Hinata yang sangat menggemaskan seperti sekarang ini. Lelaki itu bahkan harus membekap mulutnya dengan tangan yang sebelah lagi agar tak mengeluarkan suara sedikitpun.

Dengan pipi yang ia gembungkan, Hinata lantas mengerucutkan bibir mungilnya kedepan. Mencoba untuk mematri kenangan yang baru saja ia alami bersama dengan seseorang yang sudah sangat ia rindukan. Wajah mungil nan putih miliknya pun tampak kian merona saja. Kecantikan yang memang telah terpatri sempurna disana, bertambah menjadi berpuluh-puluh kali lipat kala sang senja memberikan kilauan cahaya bak pancaran emas.

"Haduh... lalu aku harus bagaimana? Ditambah lagi, pasti besok kami akan bertemu disekolah. Apa yang bisa aku katakan pada Naruto-kun..." ucap gadis itu frustasi sambil mengacak sedikit rambut indigo panjangnya.

"Ehm.. Te-terima Kasih Naruto-kun atas yang kemarin."

"Apa? 'Naruto-kun?' Tidak-tidak Hinata, jangan seperti itu. Bisa-bisa kau ditertawakan didepan kelasnya. Walaupun dia teman masa kecilmu, tapi ia tetap senpaimu. Kau tak boleh begitu." ucap Hinata pada dirinya sendiri. Gadis itu semakin merasa frustasi sekarang. Belum lagi ia bisa mengontrol debaran dadanya saat bertatapan dengan Naruto, tapi ia sudah ingin berbicara sepanjang itu dengan lelaki tampan tersebut.

"Lalu aku harus bagaimana?" ucapnya sendiri sambil sedikit merengek.

"Dia itu senpaiku, mana mungkin bisa aku melakukan itu semua. Aku kan malu..." kata Hinata dengan wajah tertunduk.

Naruto yang masih berada didalam kamar Hinata, mati-matian menahan tawanya.

'Lucu sekali gadis itu. Tak berubah sedikitpun, sejak sepuluh tahun yang lalu.' Gumam Naruto dalam hati.

'Ya, biar bagaimanapun aku tahu kebiasaannya. Setiap kali merasa tidak tenang seperti ini, Hinata pasti akan mencari permen Strawberry kesukaannya. Ya, baginya permen strawberry itu adalah segala-galanya. Dasar!' sambung Naruto sambil sedikit memasang ekspresi cemberut pada wajah tampannya.

Kenapa lelaki itu melakukan hal tersebut? Jawabannya adalah karena ia cemburu dengan permen-permen Strawberry itu. Padahal ia juga ingin dianggap segala-galanya oleh Hinata. Ia juga ingin menjadi sesuatu yang bisa menghibur Hinata dikala sedih, memberikan semangat dikala gadis itu terpuruk, bahkan memberikan bahunya sebagai sandaran saat gadis itu tengah menangis.

Ia ingin, sangat ingin melakukan semua itu. Tapi Naruto juga sangat mengerti bahwa Hinata tidak akan bisa tenang tanpa benda manis bernama permen strawberry itu. Hinata sangat-sangat mencintai permen Strawberrynya melebihi apapun -setidaknya itulah anggapan Naruto. Konyol memang. Tapi itulah kenyataan.

Kembali memasang wajah datar dan tenang, Naruto membawa kedua tangan kekarnya didepan dada bidang miliknya. Menyilangkan keduanya disana, hingga lelaki itu tampak benar-benar keren dengan posisinya yang sekarang.

Ia masih menunggu sambil memperhatikan Hinata yang masih sedikit frustasi. Ia menunggu saat –saat Hinata menyadari keberadaannya, saat wajah mungil itu merona karenanya, bahkan saat gadis mungil itu memakan pemen strawberry kesukaannya.

:: Mai Luphly Stlawbelly ::

Hinata tak tahu harus bagaimana. Membayangnkan wajah tampan Naruto saja membuat jantungnya ingin meloncat keluar dari singgasananya. Apalagi kalau harus bertatapan bahkan ngobrol dengan Naruto. Bisa-bisa gadis itu mati ditempat.

Gadis bermata lavender keperakan itu hanya mampu merutuki dirinya. Kenapa bisa-bisanya ia tak berdaya seperti itu saat berhadapan dengan Naruto. Padahalkan mereka sangat dekat- setidaknya itulah yang terjadi sepuluh tahun yang lalu. Bukan hanya itu saja, bahkan ia juga pernah digendong oleh Naruto.

"Huh... ya sudahlah, besok aku akan tetap mengucapkan terima kasih padanya." lirih gadis itu sambil mencoba untuk menggeser tubuh mungil miliknya agar bisa turun dari tempat tidur itu.

Naruto yang memperhatikan gerak-gerik Hinata lantas memajukan dirinya satu langkah dari jarak sebelumnya. Ia tahu, pasti tujuan Hinata turun dari tempat tidur itu adalah untuk mengambil permen strawberry yang berada didalam toples yang terletak tepat disamping tubuh tegapnya.

Tanpa Hinata sadari, Naruto telah menyunggingkan seringai nakal dibibirnya. Entah apa yang sedang direncanakan oleh lelaki berambut blonde tersebut. Tapi yang jelas sesuatu itu adalah sesuatu yang pastinya bisa membuat wajah mungil gadisnya menjadi merah padam.

Hinata menurunkan sebelah kaki kirinya- lalu menyingkapkan selimut tebal yang sebelumnya membalut tubuh mungilnya. Pandangan lavender itu masih mengarah entah kemana-mana. Ia masih sibuk dengan fikirannya sendiri.

Dengan satu tarikan nafas panjang, Hinata lantas menurunkan kedua kaki kecilnya dengan sempurna lalu membawa tubuh mungil itu untuk berdiri tegak. Melangkahkan kaki kecilnya lalu mengangkat wajah mungil itu hingga...

.

.

.

Wusshhh...

Angin berhembus kencang diantara keduanya.

Hinata membeku ditempatnya. Mata Lavender keperakan miliknya tampak membulat sempurna. Wajah mungil itu tampak merah padam. Ia sama sekali tak mempu bergerak ditempatnya berpijak saat ini. Gadis berparas jelita itu sampai-sampai harus menahan napasnya- saking terkejutnya dengan apa yang sedang ia alami saat ini.

Bagaimana tidak?

Sekarang wajah Naruto berada tepat didepan wajahnya. Hanya berjarak lima senti saja. Bayangkan... LIMA SENTI! Jarak yang ARGGHHH... Entahlah...

Hinata yang menyadari betapa dekatnya wajah mereka saat ini, bisa merasakan bahwa kaki-kakinya semakin melemas saja. Sejak kapan? Sejak kapan lelaki itu berada didalam kamarnya? Hinata bahkan tak menyadarinya sama sekali.

Tapi Naruto, entah setan apa yang merasuki jiwa lelaki bermata biru laut itu hingga rasanya ia tidak puas sampai disini saja mengerjai Hinata. Lelaki itu memasang seringai tajam dibibirnya. Dengan santainya ia lantas semakin membungkukkan badanya yang mengakibatkan wajah tampan itu berjarak semakin dekat dengan wajah Hinata.

Sang Hyuuga hanya terdiam. Mematung ditempatnya. Dari jarak sedekat ini ia benar-benar bisa melihat betapa tampannya wajah lelaki itu. Mata sapphire itu tampak begitu bersinar. Begitu kontras dengan kulit berwarna tan milik Naruto. Lelaki itu tampak begitu sempurna dengan tiga buah goresan bak kumis kucing yang terlukis dikedua belah pipinya.

Sedangkan Naruto, lelaki itupun betapa menikmati ulahnya saat ini. Ia bisa melihat betapa menggemaskannya wajah mungil Hinata yang sedang merah padam seperti saat ini. Belum lagi mata lavender keperakan gadis itu yang membuatnya tersihir seketika. Rasanya ia bisa benar-benar bisa menjadi gila karena Hinata.

Hinata, Hinata, Hinata. Nama itu yang selalu memenuhi fikirannya. Hanya dengan mendengar namanya saja, ia bisa merasakan debaran menggila yang berasal dari dadanya. Gila... gadis itu seperti sebuah perhiasan yang mampu membuat orang tergila-gila untuk memilikinya. Hinata begitu berharga. Gadis itu tak boleh tergores apalagi sampai terluka.

Gadis Hyuuga itu tak tahu apa yang harus ia lakukan saat ini. Tubuhnya seakan-akan sedang mati rasa. Lututnya terasa sangat lemas.

1 detik...

2 detik...

3 detik...

BRUKK

Hinata hampir terjatuh jika tak ada tangan kekar yang menyangga tubuh mungilnya. Gadis itu sudah terlalu lemas. Mata lavendernya terbelalak kaget. Bahkan, nafasnya pun sudah tak beraturan lagi.

Bagaimana mungkin gadis itu bisa bernafas lega jika Naruto mendengar ucapannya. Dan bagaimana mungkin pula gadis itu bisa berdiri tegak jika tatapan bola mata berwarna sebiru laut itu menatapnya dengan begitu tajam.

Kami-sama... Naruto benar-benar telah membuat Hinata bagaikan meleleh ditempatnya.

Kembali, Naruto semakin memasang seringai tajam dibibirnya. Menarik sudut bibirnya, dengan sebelah alis yang ia naikkan. Mata itu menatap langsung kearah lavender keperakan Hinata. Begitu tajam. Tanpa mempedulikan tubuh Hinata yang sudah bergetar.

Seakan tak puas dengan semuanya, lelaki itu kembali mendekatkan wajahnya dengan wajah Hinata hingga hidung mancung miliknya berhasil bersentuhan dengan hidung kecil nan mancung milik Hinata. Oh Naruto, lelaki ini tak tahu betapa Hinata ingin pingsan saat ini juga.

Hinata bisa merasakan dengan jelas hembusan nafas lelaki itu.

TIDAKKK~~~ Apa yang akan ia lakukan?

Lelaki itu kembali mendekatkan wajahnya kearah wajah mungil sang gadis hingga...

Tuukk...

Naruto menempelkan dahinya kedahi Hinata. Memejamkan mata indahnya untuk merasakan suhu tubuh gadis mungil tersebut. Dan jelas saja, Naruto bisa tahu kalau Hinata tengah demam saat ini.

"Kau demam." lirih Naruto yang kembali membuka mata biru lautnya.

Hinata, gadis itu tak mampu bergerak. Ini terlalu dekat. Jarak ini, sungguh tak pernah dibayangkan oleh gadis itu sebelumnya. Tapi, dari jarak sedekat ini pula Hinata bisa melihat kesedihan dimata Naruto. Kesedihan yang begitu mendalam hingga menyebabkan mata seindah lautan itu terselubung oleh cairan bening berkilauan. Kesedihan dan penyesalan terdalam yang tak pernah Naruto tunjukkan pada siapapun. Jangan... Naruto tak boleh menangis.

Lelaki itu masih melingkarkan sebelah tangan miliknya untuk menyangga tubuh mungil Hinata. Memperhatikan wajah Hinata yang begitu teduh. Ia rindu, sangat rindu dengan semua ini. Ia rindu Hinatanya, ia rindu semuanya, sangat-sangat rindu.

Sepuluh tahun, bayangkan saja- itu bukanlah waktu yang singkat.

Dengan gerakan yang begitu lembut, lelaki itu mulai menjaukan wajah tampannya dari wajah mungil Hinata. Mengambil jarak untuk berdiri tegak didepan Hinata. Tangan yang tadinya melindungi gadis itupun mulai ia jauhkan dan meletakkannya tepat disamping tubuh sang pemilik.

Keduanya terdiam ditempat.

Hinata, gadis Hyuuga itu hanya mampu menundukkan wajahnya dalam-dalam. Mencoba untuk menahan tangis karena rasa rindu yang bergejolak didalam dadanya. Rasa pusing dan lelah membuat gadis itu tak mampu untuk berfikir jernih. Belum lagi pandanganya yang terasa berputar. Entah mengapa tiba-tiba saja Hinata merasa bahwa tubuhnya sangat lemas.

Bukan, rasa lemas ini berbeda saat Naruto memandangnya. Sangat jauh berbeda.

Dan Naruto, melakukan hal yang sama seperi Hinata. Hanya saja tatapannya tak bisa lepas dari wajah Hinata yang masih menunduk. Sunyi... Hening... Tak ada yang berniat untuk memulai percakapan diantara keduanya.

Mata biru laut itu tampak begitu sayu. Naruto sampai-sampai harus mengepalkan erat kedua tangannya untuk menahan getaran ditubuhnya.

"M..maaf, aku tidak bisa melindungimu. Aku bodoh karena membiarkanmu berada digedung gelap itu sendirian. Maaf..." lirihnya dengan suara yang hampir tak terdengar. Tapi lagi-lagi, kesunyian yang ada membuat Hinata mampu mendengar seluruh penuturan Naruto dengan sangat jelas.

"Maaf... Maafkan aku. Ini semua salahku. Aku mohon maafkan aku..." lirihnya lagi.

Gadis jelita itu lantas mengangkat wajahnya untuk melihat langsung wajah tampan Naruto yang tengah tertunduk. Tampak jelas bahwa lelaki itu merasa sangat menyesal akan perbuatannya. Tubuh tinggi itu bergetar hebat. Tidak, Naruto tidak pernah selemah ini sebelumnya.

Gadis itu ingin menangis saat ini juga. Ia tak tega jika Naruto terus-terusan menyalahkan dirinya sendiri. Ia tak akan kuat jika melihat Narutonya menjadi selemah ini hanya karena dirinya yang mungkin hanya berarti sebagai seorang sahabat bagi lelaki itu.

"Maaf... Maaf..." berulang kali Naruto menyebutkan kata maaf itu. Ia takkan pernah berhenti mengucapkannya sampai Hinata benar-benar memaafkan dirinya. Hinata adalah segala-galanya untuk Naruto.

Padahal, ia sudah berjanji akan selalu menjaga Hinata. Tapi apa? Dirinya malah membuat Hinata sampai menangis sesenggukan. Meninggalkan gadis itu dalam kegelapan. Membiarkan gadisnya meringkuk ketakutan karena kejahilannya. Harusnya saat itu ia terus mengamati Hinata. Bukannya malah tidur dan meninggalkan gadis itu.

Salah, ini adalah salahnya. Setidaknya hal itulah yang berada dalam fikiran Naruto.

"Na..Naruto-kun..." panggil gadis itu tak kalah lirihnya dari Naruto. Tapi, Naruto sama sekali tak mendengarnya karena sejak tadi ia terus mengucapkan kata maaf tersebut. Hinata tidak suka Naruto yang seperti ini. Bukan, Naruto bukan seperti ini.

"NARUTO-KUN HENTIKAN!" ucap Hinata sambil menaikkan volume suaranya- dan ya, usahanya kali ini membuahkan hasil yang ia inginkan. Naruto menghentikan ucapannya. Lelaki itu memandang lurus kearah Hinata yang mulai ingin menangis. Gadis itu mati-matian mencoba untuk mengatur nafasnya yang tak beraturan lagi. Emosinya harus tersulut karena Naruto. Mata indah milik sang Hyuuga pun tampak mulai berkaca-kaca.

"Berhenti menyalahkan dirimu sendiri, Naruto-kun." lirih gadis itu dengan mata yang sangat sayu.

Tidak, ia tak boleh menangis lagi didepan Naruto. Ia harus kuat. Ia tak boleh terlihat lemah saat ini.

"Na..Naruto-kun yang sudah melindungiku. A..aku... aku tidak suka jika Naruto-kun menyalahkan diri sendiri," sambung Hinata dengan nada putus-putus. Gadis itu sudah tak kuat lagi. Ini sudah terlalu menyesakkan. Ia tak sanggup. Bahkan, mata indah miliknya pun sudah terasa sangat memanas.

Naruto terus memperhatikan tubuh mungil itu. Tubuh yang tampak sudah bergetar hebat. Wajah itu, mata itu. Sudan cukup! Hinata tak boleh menangis lebih dari ini. Gadis itu, gadis itu tak boleh menumpahkan kesedihan lagi. Jangan, jangan menangis. Terus, Naruto memperhatikan Hinata tanpa berkedip sedikitpun.

"A...Aku..." lirih Hinata dengan air mata yang siap tumpah kapan saja. Hentikan, lakukan apa saja agar gadis itu tak melanjutkan kata-katanya. Hinata sungguh tak sanggup menahan air matanya lagi..

"A...Aku... hiks.. aku... a..."

.

.

.

.

GREEBB

Tanpa aba-aba, Naruto langsung melangkahkan kakinya. Memeluk tubuh mungil itu dalam dekapannya. Membiarkan dirinya menjadi sandaran untuk Hinata. Apapun, apapun akan ia lakukan demi Hinata. Hinata, Hinata, dan Hinata.

"Jangan menangis lagi, aku mohon..." lirih Naruto sambil mendekap tubuh mungil itu dalam pelukannya.

Tapi, bukannya berhenti, tangisan gadis itu makin pecah dalam pelukan Naruto. Menumpahkan segala kesedihan dan kerinduaan yang telah sepuluh tahun lamanya ia simpan. Gadis itu ingin seperti ini lebih lama lagi. Harum ini, kehangatan ini, semuanya sangat ia rindukan. Dia adalah Naruto... seorang sahabat yang diam-diam ia cintai. Dia adalah lelaki yang selalu melindungi dirinya. Naruto, Naruto, dan Naruto.

Naruto terus memeluk tubuh mungil Hinata. Begitu erat, rasanya ia akan kehilangan Hinata bila tak memeluk gadis mungil itu seerat ini. Tubuh mungil itu masih bergetar hebat. Naruto kembali menundukkan kepalanya untuk mencium puncak kepala Hinata. Meresapi aroma lavender gadis itu. Aroma yang sangat ia rindukan. Lama ia melakukan hal itu sambil memejamkan kedua buah permata indah miliknya.

Dan ya, setelah melakukan hal itu, Naruto lantas meletakkan sebelah pipinya diatas puncak kepala Hinata. Mengistirahatkan kepalanya disana sambil mencoba untuk menenangkan Hinata yang masih saja menangis. Rambut indigo milik Hinata pun, tak luput dari pelampiasan kasih Naruto. Lelaki itu terus membelainya dengan sangat lembut.

"Sudah, jangan menangis terus ya. Nanti kau bisa jadi jelek dengan mata sembab itu." canda Naruto yang masih memeluk Hinata.

Diam...

Hinata sama sekali tak menghiraukan candaan Naruto.

"Hey cadel..." panggil Naruto yang mencoba untuk meledek teman masa kecilnya itu.

"Aku tidak cadel lagi." jawab Hinata lirih- masih berada dalam pelukan Naruto.

"Hinata-chan..."

"Hn,"

Jawab Hinata begitu lemah. Tubuh Hinata memang sudah tak bergetar lagi seperti tadi. Tapi sungguh, tubuh gadis itu benar-benar terasa sangat panas.

"Kau tidak apa-apa?" tanya Naruto yang mulai khawatir.

"Emh.." angguk gadis itu lemah.

Tapi lelaki tersebut tak akan percaya semudah itu.

Dengan gerak cepat Naruto mulai melepaskan pelukannya. Dan benar saja, gadis itu sudah terlihat sangat pucat. Sekali lagi Naruto meletakkan tangannya kedahi Hinata dan laki-laki itu hampir saja menjerit ditempatnya, mengingat betapa panasnya dahi gadis Hyuuga itu.

"Hinata-chan, badanmu panas sekali."

"Aku ..hah baik-baik saja." bohongnya.

Mata Hinata tampak redup. Nafasnya terdengar putus-putus.

Tanpa menunggu lagi, Naruto langsung menggendong Hinata dan meletakkan tubuh mungil itu diatas tempat tidurnya. Gadis itu benar-benar terlihat sangat lemas. Bibirnya pucat, tubuhnya pun terasa sangat panas. Tetapi, disaat yang bersamaan pula Hinata merasakan rasa dingin yang teramat sangat.

Gadis itu memejamkan kedua mata lavender keperakannya. Kepalanya terasa sangat pusing. Segalanya terasa bagaikan berputar. Panas, dingin, tubuhnya tak kuat dengan rasa itu. Disatu sisi ia seperti merasa terbakar, tapi disisi lain ia juga merasa sangat menggigil kedinginan. Beberapa kali ia menggerakkan kepalanya kesamping kiri dan kanan. Hinata merasa sangat gelisah. Tubuhnya terasa sangat sakit dan panas juga dingin.

Naruto terus menggenggam tangan Hinata. Lelaki itu tak tega melihat Hinataya seperti ini. Tidak, kenapa harus Hinata? Kenapa bukan dirinya saja? Gadis itu terlalu mungil untuk merasakan semua ini. Tubuh kecil itu akan sangat kesulitan untuk bertahan.

"Hiks.. panas sekali, Naruto-kun..."

"Dingin... Panas... S..sakit." Hinata terus merintih. Naruto merasa sangat tak tega melihat keadaan Hinata. Lelaki itu semakin menggenggam erat tangan mungil gadis itu.

"Hinata-chan, tuggulah sebentar. Aku akan mengambil kompres untukmu." ucap Naruto yang langsung membawa langkahnya untuk mengambil air kompres.

:: Mai Luphly Stlawbelly ::

"Haduh Neji-nii... kenapa orang yang menggendong Hinata nee-chan tadi belum keluar juga dari kamar nee-chan sih? Aku tidak suka padanya. Aku takut dia akan melakukan hal yang buruk pada nee-chan..." omel Hanabi sambil menghentak-hentakkan kakinya. Gadis kecil itu sangat khawatir dengan keadaan kakaknya.

"Tenanglah Hanabi, dia tidak akan melakukan hal yang buruk pada Hinata." jawab Neji penuh dengan keyakinan. Senyum kelegaan masih tergambar jelas dibibir lelaki tampan tersebut.

"Kenapa Neji-nii malah bela orang itu sih... dia kan jahat. ARGGHH... membuat orang kesal saja"

"Sebenarnya Hanabi-chan kesal karena dia bilang Hinata-chan lebih cantik dari padamu kan. Ya kan? Hanabi iri kan karena tidak dipuji..." goda Neji pada adiknya itu.

"Tidak kok..!" balas gadis kecil itu sambil mengerucutkan bibirnya. Membuat wajah kecil itu benar-benar terlihat menggemaskan.

Neji terus saja menggoda Hanabi. Membuat gadis kecil itu benar-benar kesal dibuatnya. Tapi, candaan itu harus terhenti saat melihat langkah tergesa Naruto. Keduanya hanya mampu memperhatikan tingkah lelaki bermata biru laut itu. Tak mengerti sama sekali.

Naruto yang memang sudah sangat hafal dengan letak setiap barang dikediaman Hyuuga, mengambil seluruh sesuatunya sendiri. Tanpa berbicara, tanpa permisi, tanpa menghiraukan kedua makhluk yang kini tengah mengamati dirinya dengan tatapan bertanya-tanya.

Tanpa mempedulikan semuanya, Naruto terus melanjutkan aktivitasnya dengan gerakan yang sangat cekatan. Mengambil air dingin dari dalam kulkas, kemudian sebuah handuk kecil. Setelah mendapatkan semua yang diperlukannya, Naruto kembali memacu langkahnya untuk kembali kekamar Hinata.

Dengan cepat, otak jenius Neji mulai memproses benda-benda yang diambil oleh Naruto. Sedangkan Hanabi, gadis itu hanya bisa memasang tampang tak mengerti sama sekali. Gadis kecil itu lantas membawa mata lavender khas klan Hyuga itu, untuk menatap kakak sepupunya yang tampak sedang berfikir keras.

"Jangan-jangan... Hinata,"

Tanpa menunggu lagi, Neji langsung membawa langkahnya untuk menaiki anak tangga menuju kamar Hinata. Lelaki itu bahkan meninggalkan Hanabi yang sedang kebingungan.

"Neji nii... aku ikut.." teriak Hanabi yang langsung mengikuti Neji dari belakang.

Dengan sangat tergesa, keduanya menaiki tangga dikediaman mereka. Neji merasakan jantungnya berdetak lebih kencang dari biasanya. Ia sangat khawatir dengan Hinata. Sungguh.

Setelah melihat pintu kamar Hinata, Neji lantas semakin mempercepat langkahnya. Meninggalkan Hanabi dibelakang dengan omelannya yang tak terkendali.

Lelaki itu memegang knop pintu dengan tangan bergetar. Khawatir, dirinya sangat khawatir dengan keadaan Hinata. Tak tahu apa yang terjadi dengan sang adik. Membuatnya frustasi tak karuan. Dengan perlahan, tangan kokohnya membuka pintu tersebut.

Mata lavender keperakan yang sama dengan milik Hinata, kini terbelalak tak percaya. Bibirnya saja sampai sedikit terbuka, saking kagetnya. Lelaki itu begitu tak mempercayai dengan hal yang sedang ia lihat saat ini.

Hinata, adiknya sedang merintih kesakitan. Tapi entah mengapa, disatu sisi lain ia merasa sedikit tenang karena Naruto mencoba memberikan perawatan untuk Hinata. Setelah mengatur nafasnya, lelaki tampan itu berjalan mendekati Naruto yang sedang mengompres dahi Hinata.

Neji sangat mengerti, bahwa Naruto benar-benar merasa sangat khawatir saat ini. Tampak jelas dari raut wajahnya.

Terus, Naruto memeriksa keadaan gadis itu. Menggenggam erat tangan mungil sang gadis untuk menenangkannya. Beberapa kali Naruto telah mengganti kompres yang berada didahi Hinata. Terus, terus ia lakukan sampai Hinata merasa sedikit tenang.

"Hinata-chan..." lirih Naruto, mencoba untuk memanggil gadis itu. Lelaki itu mengelus pelan puncak kepala Hinata tanpa mempedulikan Neji yang berada disampingnya.

Tak ada jawaban dari sana. Gadis Hyuuga itu kini tengah tertidur pulas. Mungkin, memang itulah hal yang sangat dibutuhkan Hinata saat ini. Ya, ia harus banyak beristirahat. Lelaki berambut blonde itu semakin memandang lekat wajah Hinata yang sedang tertidur pulas.

Begitu polos, begitu damai, begitu cantik. Sempurna, gadis Hyuuga itu sungguh-sangat sempurna.

"Sepertinya Hinata sudah tidur." ucap Naruto yang kemudian mengalihkan pandangannya untuk menatap langsung kearah Neji. Sedangkan Neji, lelaki itu hanya menganggukkan kepalanya sebagai tanda persetujuan.

Naruto masih duduk diatas tempat tidur Hinata sambil menggenggam tangan mungil gadis itu.

"Sepertinya aku harus pulang dulu. Besok aku akan datang lagi. Tolong jaga Hinata..." ucap lelaki itu tegas sambil menegakkan kembali tubuh tingginya. Berhadapan langsung dengan seorang Hyuuga Neji yang sangat dingin.

"Sudah pasti." jawab Neji singkat.

Setelah mendengar jawaban itu, Naruto lantas bergegas meninggalkan ruangan Hinata. Lelaki itu mulai membalikkan badanya dan melangkah. Tapi, baru saja berjalan beberapa langkah, Naruto kembali membalikkan badannya untuk melihat Hinata sekali lagi.

Lelaki itu terdiam cukup lama ditempatnya. Neji yang melihatnya saja sampai heran dibuatnya.

Lagi-lagi, tanpa menghiraukan siapapun yang berada disana, dengan gerakan yang sangat cepat Naruto kembali menundukkan tubuhnya hingga...

CUP...

Satu kecupan berhasil mendarat dipipi kiri Hinata. Membuat Neji membelalakkan matanya saking kagetnya melihat aksi Naruto yang sangat tiba-tiba. Hanabi yang baru sampai dikamar Hinata pun, harus ikut menyaksikan kegilaan Naruto. Gadis kecil itu saja sampai naik darah dibuatnya.

"Cepat sembuh ya, cadel..." bisik lelaki itu tepat ditelinga Hinata.

Setelah melakukan itu, Naruto kembali melanjutkan langkahnya. Meninggalkan sang putri yang tengah berisirahat dan merajut mimpi indahnya.

"HEY! APA YANG KAU LAKUKAN? BERANINYA KAU MENCIUM NEE-CHAN KU... DASAR BODOH!" teriak Hanabi sambil berjalan menghampiri Naruto.

Lelaki itu hanya tersenyum mendapat cacian dari Hanabi. Menunjukkan seringai yang mampu membuat gadis kecil itu bergidik karenannya.

Tanpa merasa bersalah sedikitpun, Naruto lantas mensejajarkan tubuhnya dengan Hanabi. Melihat lebih jelas wajah marah dari gadis kecil itu.

"Memangnya kenapa? Kau cemburu? Ingin kucium juga?" goda Naruto sambil mengacak-acak rambut Hanabi. Setelah melakukan itu, Naruto langsung pergi meninggalkan Hanabi yang mematung ditempatnya.

"DASAR GILA! AKU TIDAK AKAN MAU DICIUM OLEH ORANG SEPERTI MU! BAKA.." teriak Hanabi lebih keras lagi.

"Aku juga tidak ingin menciummu kok. Kau jelek sih... wegg..." balas Naruto tanpa ampun sambil menjulurkan lidahnya.

"BAKA!"

...

...

To Be Continued

Haduh... Maffffffff... ampuni Lie-chan karena udah nelantarin fic ini. Ya, mau gimana lagi.. Lie-chan gag sempet soalnya... huhuhu gomen... #bungkuk-bungkuk

Oh ya, buat yang udah review nih fic dichapter-chapter sebelumnya makasih banyak ya semuanya... I LOVE YOU... muach... #peyuk2-ditampol.

Engh... gimana? Gimana? Chapter 4 nya? Abal ya? Haduh, sekali lagi lie-chan minta maaf kalau fic ini abal... maafff...

Untuk itu Lie-chan mau minta tolong bwat R n R lagi ya….*Chappy eyes no jutsu*

R n R PLIZ…..

ARIGATOU GOZAIMASU ! =)