Naruto © Masashi Kishimoto

Yuu-gure/Yuugure © Riztichimaru.

Rate : T

Pairing : N. Shikamaru x Y. Ino

Summary : Senja mempertemukan, senja memisahkan! Andai saja senja itu tidak ada… Tapi antara senja awal dan senja akhir, ada "senja bermakna".

Noto :

Chapter : Part

Terdiri dari : Part I-7 dari YUUGURE

1-Y. 2-U.3-U.4-G.4-U.6-R.7-E

'…' : Pikiran/batin

Bold : Penekanan

Warning : AU, OOC, GAJE, ANEH, HIPERBOLA, DLL

Don't Like Don't Read!


Part-Y

Awal Senja


Yuu-gure dalam bahasa Jepang terdiri dari dua huruf Kanji, Yuu dan Gure. Dalam penulisan romanji bisa ditulis terpisah atau disambung. Yuu-gure dapat berarti Sore atau Senja. Untuk arti sore bisa juga digunakan 'Gogo'sebagai penunjuk waktu. 5-ji gogo misalnya, itu berarti jam 5 sore. Sedangkan untuk arti Senja mungkin agakberbeda dan lebih spesifik. Yuu-gure mungkin lebih cocok diartikan dengan senja. Tapi itu masih mungkin. Tapi sudahlah! Apapun arti kata tersebut hanya ahli bahasa Jepang atau siapapun yang mengerti, merekalah yang tahu tentang itu.

Yuu-gure atau senja merupakan waktu yang singkat namun bermakna! Entah… entah karena apa? Saat senja, dua orang yang bersahabat -Shikamaru dan Ino- selalu memandangnya, meresapi hembusan angin dan mengingat setiap detik waktu yang singkat itu. waktu yang mempertemukan mereka secara tidak sengaja. Tidak sengaja, namun bermakna! Selalu kata 'bermakna' yang ada di benak mereka, 'senja bermakna'.

Saat senja mereka bisa berbagi, berbagi rasa dengan senja walaupun mereka tidak pernah mengatakannya secara langsung. Mereka bisa jujur pada diri mereka sendiri. Tapi, satu hal yang tidak mereka sadari. Senja mungkin akan memisahkan mereka suatu hari nanti… Entah itu perpisahan jarak, waktu bahkan mungkin kematian. Tapi senja tidak akan berhenti semudah itu, tidak akan hilang secepat itu sampai bumi dan matahari menenggelamkan dirinya dalam pusaran kiamat. Terlalu ekstrim mengatakan semua itu. Tapi mungkin itulah realistasnya.

Ada awal pasti ada akhir, ada pertemuan pasti ada perpisahan. Ada senja awal dengan sedikit sisa mentari yang mulai beranjak turun keperaduan dan ada senja akhir dengan sedikit gelapnya malam yang merengkuhnya. Namun diantara awal dan akhir itu, ada banyak hal yang menarik. Sesuatu yang terkadang tidak pernah disadari orang.

Antara awal dan akhir itu, dua orang sahabat ini, Shikamaru dan Ino, selalu duduk berdampingan memandangnya. Memandang setiap detik orange yang perlahan-lahan berubah menjadi hitam, gelap dan pekat. Antara perdetik waktu senja itu ada sesuatu yang tidak pernah mereka sadari, hingga akhirnya terlupakan…

Nara Shikamaru dan Yamanaka Ino sudah sejak lama berteman atau bersahabat, tepatnya saat mereka masih di tahun pertama SMA. Dua orang sahabat ini memiliki kepribadian yang bertolak belakang satu sama lain.

Nara Shikamaru, seorang laki-laki yang lumayan tampan dengan rambut nanasnya. Laki-laki yang tidak terlalu suka banyak bercuap-cuap, memiliki kebiasaan tidur, lebih tepatnya tidur di sembarang tempat. Tidak peduli itu di kamar, ruang tamu, halaman, bawah pohon atau kamar mandi sekalipun. Kebiasaan yang aneh tapi tidak merepotkan menurutnya. Satu lagi laki-laki ini suka atau lebih jelasnya menyukai bahkan mencintai kata "MEREPOTKAN", entah tidak diketahui alasannya. Tetapi dari banyak kebiasaan atau sifat yang aneh dalam dirinya, dia memiliki kelebihan berupa kecerdasan diatas rata-rata atau bahkan luar biasa. Tidak jelas kenapa orang yang gila tidur seperti itu justru cerdasnya minta ampun.

Sedangkan Yamanaka Ino, seorang gadis dengan fisik yang cantik dengan rambut panjangnya. Cukup feminim untuk ukuran seorang gadis yang dipuja-puja banyak laki-laki. Cerewet mungkin iya, banyak celoteh yang sering keluar dari bibirnya. Aktive girl, gadis lincah namun agak ceroboh.

Shika dan Ino begitu memanggil nama kecil mereka, tidak pernah akur. Saling memaki dan melempar kata-kata kasar. Sejak duduk di bangku SMA hingga mereka saat ini duduk di bangku kuliahan, semester 5. Tidak ada kata rukun, kecuali di saat senja. Di saat mereka duduk bersandar di bawah pohon Maple yang saat musim gugur mungkin sangat-sangat terlihat menarik. Guguran dau maple membuat siapapun yang melihatnya pasti mengatakan "Indah!", "Aku ingin menuliskan sesuatu di daun itu untuk kekasihku", "Aku ingin membuat puisi saat aku melihatnya", "Aku ingin melukisnya". Semua pernyataan itu akan terlontar bagi mereka yang memiliki interest pada seni/art, ketika mereka melihat Senja musim gugur ataupun tiga musim lainnya.

Saat senja mereka bisa berdamai, tapi saat itu satu patah kata pun tidak pernah mereka luncurkan dari bibir mereka. Saat senja mereka telah membuat kesepakatan tidak akan berbicara satu patah katapun, hanya memandangi lazuardi orange dan menikmati hembusan angin.

Saat senja telah beranjak menuju malam hanya satu kata penutup senja yang keluar dari bibir dua sahabat itu.

"Indah!"

Satu ekspresi akan kekaguman mereka pada senja orange.

Dan saat inipun Shikamaru dan Ino sedang berjalan menuju pohon maple itu, pohon maple tempat dimana mereka akan menikmati suasana senja.

"Shika, tunggu! Jangan cepat-cepat, aku capek nih!" seru Ino sambil berlari kecil mengejar Shikamaru.

"Cepat! Merepotkan saja, kau ini! Begitu saja sudah capek! Cepatlah nanti keburu hilang senjanya!" sahut Shikamaru tanpa menoleh sedikitpun, kaki panjangnya melangkah semakin cepat bahkan mungkin terlihat berlari.

"Iya, iya."

Ino lalu berlari mengejar Shikamaru dan mensejajarkan diri, berjalan berdampingan dengan sahabatnya itu.

"Hei, Ino! Apa Sai tidak marah lagi?" tanya Shikamaru tiba-tiba saat Ino sudah berjalan di sampingnya.

"Tidak. Aku sudah baikan dengannya tadi siang. Dan besok kami akan kencan untuk pertama kalinya. Menarik bukan!"

Ino bersemangat menjawab pertanyaan Shikamaru dan sesekali dia melirik sahabatnya yang berjalan seperti orang tanpa semangat, walaupun langkahnya tidak bisa dibilang tidak semangat. Dia berharap Shikamaru merespon baik pernyataannya.

"Menarik? Yang benar saja itu merepotkan, tahu!" ujar Shikamaru, terkesan acuh.

"Kau ini, selalu saja mengatakan semua hal yang kulakukan itu merepotkan. Apa kau pikir hidupku ini semuanya merepotkan. Aku rasa berkencan dengan Sai bukan hal yang merepotkan, aku justru senang sekali. Bayangkan! Aku akan pergi nonton dengannya, makan di resto, bermain di taman sambil berpegangan tangan. Dan bahkan dia mungkin akan menciumku. Itu kan menarik, bukannya merepotkan!" ucap Ino sedikit kesal pada sahabat SMA-nya itu.

"Hahahaha… benar-benar merepotkan. Berkencan standar seperti itu benar-benar tidak menarik. Kenapa pula kau berharap dia akan memegang tanganmu dan hahaha… menciummu. Itu lucu! Lucu sekali, hahahha…"

Tawa Shikamaru makin meledak, Ino semakin kesal. Ino berhenti dari langkahnya dan berbalik arah, tepatnya dia tidak jadi menuju pohon maple itu. Dia tidak ingin lagi melihat senja itu bersama dengan sahabat merepotkannya itu.

Shikamaru yang menyadari kalau ia telah jauh meninggalkan Ino, berhenti kemudian menoleh. Dilihatnya Ino telah memunggunginya dan bergegas menjauh darinya. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya dan berbalik untuk mengejar sahabatnya itu.

Ino masih terburu-buru melangkah untuk pulang, tapi saat langkahnya makin cepat ia merasakan adanya tangan yang menangkap lengannya. Menyuruhnya berhenti berjalan dan menghadapnya.

"Kau marah padaku?" tanya Shikamaru sambil menatap mata indah Ino.

"…"

"Tatap mataku kalau aku sedang bertanya padamu! Kau marah padaku, kan! Kau marah karena aku mengatakan kata-kata itu dan bilang kalau itu lucu, iya kan!" tanyanya lagi.

Diam…

Beberapa saat tidak ada yang bersuara, Ino masih memalingkan wajahnya kearah lain sementara Shikamaru memperhatikan wajah Ino yang menampakkan kekesalannya.

Semilir angin menghembuskan dayanya, menerpa kulit dua sahabat yang masih bediam diri tanpa suara. Senja semakin ingin menunjukkan batang hidungnya, ingin memperingatkan pada mereka bahwa "Aku telah tampak". Seperti itu mungkin pikiran mentari senja menyuarakan isi hatinya.

"Hei… Ino, masa segitu saja sudah marah. Aku kan cuma bercanda."

"Aku benci padamu Shikamaru. Aku benci padamu… kau tidak pernah mendengarkanku. Selalu saja kau bilang semua yan kuceritakan padamu merepotkan dan mentertawaiku. Kau anggap hanya hal-hal yang merepotkan. Selalu saja begitu!" jawab Ino dengan nada kesal, itu terlihat dari intonasinya yang makin meninggi.

"Hei! Hei.. Ino… Seperti tidak kenal aku saja, aku ini memang seperti ini. Kau tahu sendiri aku ini tidak suka hal-hal yang merepotkan."

"Jadi… curhatanku padamu juga hal-hal yang merepotkanmu, aku berarti merepotkanmu! Iya, kan!" Ino semakin kesal, amarahnya memuncak.

"Tidak! Kau tidak merepotkanku. Satu-satunya orang yang tidak pernah merepotkanku adalah kau."

"Ma-maksudmu?"

Ino mengalihkan pandangannya ke wajah tampan Shikamaru. Mencoba mencari makna dari kata-kata Shikamaru. Mencari makna yang tersirat dari celotehan tidak sengaja Shikamaru.

"Tentu saja kau tidak merepotkanku. Kau satu-satunya sahabatku, sahabat yang mengerti aku. Untuk apa aku terus bersahabat denganmu kalau kau itu merepotkanku. Kau tidak merepotkan sama sekali. Tadi itu aku hanya bercanda. Maaf ya, Ino."

Permintaan maaf ini entah sudah yang keberapa ratus kali diucapkan oleh Shikamaru saat menghadapi kemarahan-kemarahan sahabatnya itu.

"Oh, kupikir maksudmu apa? Oh.. jadi begitu, ya?" tanya Ino polos.

"Eh… memangnya kau mengharapkan apa?" tanya Shikamaru heran.

"Ti-tidak, tidak apa-apa! Ayo cepat kesana nanti keburu malam!" ajak Ino mengalihkan topik dari rasa penasaran Shikamaru.

Shikamaru mengikuti tarikan tangan Ino dan bergegas kearah pohon maple di taman kota Konoha ini. Taman ini adalah tempat pertama kali mereka bertemu dan selalu setiap hari Sabtu mereka akan pergi kesini menghabiskan senja mereka.

Mungkin bukan hanya pada hari Sabtu, di hari lain pun jika mereka ingin kesini mereka akan datang tapi tentunya saat senja. Sebab senja adalah waktu paling menarik menurut mereka.

Saat mentari sudah mulai keorangean, kira-kira pukul 5 sore mereka akan duduk disini memandang senja. Dari tempat ini mereka bisa memandang lazuardi senja dan memandang pusat kota sebagai lantai bumi. Tempat ini mewujudkan keinginan mereka untuk melihat langit dan bumi secara serempak. Tempat ini adalah taman berbukit dan pohon maple ini terletak di puncak bukit di taman ini. Saat mereka berada di taman ini mereka bisa memandang keindahan senja dengan bebas.

"Hei Ino... tidak marah lagi, kan?" tanya Shikamaru pada Ino yang mulai duduk di rerumputan di bawah pohon maple dan bersiap menatap senja.

"Mungkin…"

"Hei Ino, jadi kau belum memaafkanku?" tanya Shikamaru dan segera duduk disamping Ino lalu juga bersiap memandang senja orange itu.

"Ssst… jangan bicara lagi! Saatnya memandangi senja, Shika!"

"Ta-tapi..."

Ucapan Shikamaru terpotong sebab Ino sudah berdesis untuk kedua kalinya, berdesis memperingatkan Shikamaru untuk diam. Shikamaru menurut dan mulai memandang lazuardi senja tersebut dengan satu pikiran yang mengganggunya.

'Ja-jadi, besok Ino akan kencan dengan Sai? Apa benar mereka akan berciuman?'

-TO BE CONTINUED—


Noto :

Wah… gomen kalo Fict ini gaje, ane, Typo banyak, atau apapun itu. Ini fict pertama sy di fandom Naruto. Gomen untuk tokoh Shikamaru dan Ino atau yg laennya, sy tidak terlalu paham sama kepribadian Chara di fandom ini. Tapi sy suka banget Pairing ini, jadilah sy membuatnya dengan ke-gaje-an imaginasi sy. Gomen… masalah tulisan, tatabahasa, tanda baca dan content kalau ada yang salah. Tolong di Review minus Fict ini, tersedia juga kesempatan untuk nge-FLAME. Domo…