Yeaaaahhhh! Akhirnya kita mulai lagi, sodara! Kangenkah sodara pada saya dan cerita saya (yang asli cacad ini)? XDDDD

Jadi, ini bagian keduanya...

Sebelum baca, coba lihat genre-nya baik-baik... sudah?... baca lagi... Nah, genrenya sekarang FANTASY dan ROMANCE. Beda sama bagian satu. FANTASY, sodara. FANTASY. Jadi kalo banyak hal yang bermau magic2 n mistik2, ya jangan heran lha wong emang ini sudah jadi cerita FANTASY... Hmmm... tapi Fantasy di sini bukan kayak fantasynya dongen2... kira2 Fantasynya kayak Kingdom Hearts Universe getu... ^^ hehehe...

BTW, ini proolognya dulu... dan langsung muncul para orang Shu. Hmmm... ini bagi yang *ehm* sudah merasa ingin melihat chara dari Shu... *ehm* (nyindir...) *dinuklir* XDDDD

Now, Happy reading! ^^ (moga2 tidak mengecewakan...)

BTW, di bagian ini aja belum2 udah banyak PENGUNGKAPAN MISTERI! Jadi bacanya jangan bingung, ya... ^^


Gunung Ding Jun

Pang Tong tidak henti-hentinya memandangi langit malam yang cerah itu dengan dahi berkerut. Tangannya di bawah dagu, kelihatan sekali kalau ia sedang berpikir keras saat melihat bintang-bintang itu. Sesekali disapukannya padangan ke hamparan langit berwarna hitam beludru, tetapi matanya tetap terfokus ke sebuah bintang. Bintang itu adalah bintang yang terindah dan paling terang yang pernah ia lihat. Bintang itu tidak berkelip, tetapi terus memancarkan cahaya yang konstan, tidak meredup.

"Ini aneh..." Gumam penasihat Shu itu.

"Ada apa, Penasihat Pang?"

Pang Tong menoleh ke belakang saat seorang jendral tua menghampirinya. Rupanya veteran Huang Zhong. Pang Tong pun menjawab pertanyaannya sambil mengembalikan pandangannya ke bintang itu. "Tidak ada apa-apa, Jendral Huang." Jawabnya. "Tetapi coba kau lihat bintang itu." Katanya sambil menunjuk.

Huang Zhong mengamatinya sekilas. "Iya, aku pun sudah sering melihatnya." Jawabnya. "Sejak beberapa tahun yang lalu, kurang lebih tujuh belas sampai delapan belas tahun bintang itu tidak pernah tidak bersinar pada malam hari. Hanya saja, tempat bintang itu berada-lah yang berbeda."

"Aku pun menyadarinya." Kata Pang Tong. "Kupikir lima bulan yang lalu kulihat bintang itu masih di sebelah timur, di daerah Kerajaan Wu, tetapi sekarang bintang itu sudah berada di utara, Kerajaan Wei."

Setelah itu, keheningan-lah yang mengisi udara malam. Sampai tiba-tiba Pang Tong bertanya lagi. "Jendral Huang, apa kau pernah mendengar tentang Phoenix?"

"Phoenix..." Jendral tua itu mengulanginya. "Siapa di Shu ini yang tidak mengenal Phoenix? Bukankah Phoenix itu, FengHuang, sudah dinanti-nantikan China sejak dulu?"

"Benar." Pang Tong mengangguk menyetujuinya. "Bintang itu adalah bintang yang menunjukkan keberadaa Phoenix." Mendengar ini, Huang Zhong langsung menoleh. "Bintang yang tidak akan kehilangan cahayanya, yang akan selalu bersinar. Aku sering membaca teks-teks kuno, dan bintang adalah seperti suatu pesan dari Tian tentang apapun, termasuk Phoenix."

"Tapi jika begitu..." Huang Zhong menyela. "Bukankah seharusnya bintang itu ada dua? Yang satu melambangkan Feng dan yang satu Huang? Kalau hanya ada satu bintang, siapa yang sebenarnya dilambangkan?"

Penasihat Shu itu diam sejenak sebelum menjawab. "Aku juga tidak mengerti. Tapi ingatkah kau tentang legenda itu?" Veteran tua itu mengangguk. "Aku hanya merasa... bintang itu adalah milik Feng, bukan Huang. Mengapa? Begini, legenda itu mengatakan Huang diculik oleh T'an Mo dan membawanya ke dunia manusia, sekaligus membujuk manusia untuk melawan Feng yang kemudian turun untuk mencari Huang. Jika begitu, bukankah yang bertemu dengan para manusia itu secara langsung adalah Feng dan bukan Huang? Siapakah yang kepadanya manusia memulai perang? Feng, bukan?" Sekali lagi Huang Zhong mengangguk. "Kalau begitu, logikanya, jika Phoenix itu turun untuk membawa kedamaian, bukankah berarti yang kita temui nantinya adalah Feng? Sementara Huang, saat dia berada 'bersama' Feng, dia akan menjadi satu dalam bintang itu. Tetapi jika dia 'terpisah', maka bintang itu seratus persen adalah yang menunjukkan keberadaan Feng."

"Apakah 'bersama' di sini maksudmu adalah berada di tempat yang sama?" Tanya Huang Zhong.

Pang Tong menggeleng. "Tidak." Jawabnya. "'Bersama' bukan hanya dalam artian berada di tempat yang sama. Phoenix itu, mereka dua tetapi selalu harmonis, sehati dan sepikir, memiliki kehendak yang sama. Tetapi jika suatu saat salah satu melenceng atau berbeda dari yang lain, saat itulah mereka tidak lagi dikatakan 'bersama'. Itulah yang akan terjadi pada Huang kalau ia 'terpisah' dari Feng. Keduanya sama-sama bercahaya, tetapi jika Huang sampai terlepas dari Feng, maka seperti bintang itu, ia pun akan kehilangan cahayanya. Tetapi bintang milik Feng masih akan bersinar."

Huang Zhong mengerutkan dahi sambil tetap memandang bintang itu. "Kenapa bisa demikian...?"

Sampai di situlah percakapan mereka. Tiba-tiba mereka mendengar sebuah suara langkah kaki dari belakang. Saat mereka berbalik, rupanya pendatang baru itu adalah rekan mereka yang lain. Seorang jendral muda yang membawa tombak di tangannya. Baju besi yang dikenakannya itu kelihatan semakin berkilat-kilat di tengah kegelapan.

"Zhao Yun, kau rupanya." Huang Zhong menyapa jendral muda itu dengan senyum.

Zhao Yun membungkuk memberi hormat. "Daerah ini sudah kupatrol. Tidak ada jejak mata-mata atau pasukan dari Wei. Bahkan hari ini benar-benar tenang, bandit dan rampok tidak terlihat sama sekali." Jelasnya, kemudian segera mengalihkan pembicaraan. "Dari tadi kulihat anda berdua sedang membicarakan sesuatu dengan serius."

Penasihat Shu itulah yang mengangguk. "Benar, Zhao Yun, kami sedang mengamati bintang Phoenix itu."

Mata Zhao Yun mengikuti arah kemana jari Pang Tong menunjuk. Ia melihat bintang yang terang itu, tetapi reaksinya berbeda dari Pang Tong dan Huang Zhong. Kalau kedua orang itu tersenyum dan memandang dengan mata bersinar seperti melihat harapan baru, Zhao Yun malah sebaliknya. "Apa memang benar Phoenix akan datang untuk menghentikan segala perang di China ini dan membawa kedamaian?" Tanyanya pesimis. "Apa bukannya bintang itu sebenarnya bintang biasa, tetapi kebetulan bisa bersinar lebih terang?"

Tak ayal lagi Huang Zhong dan Pang Tong saling berpandangan mendengar pertanyaan Zhao Yun yang meruntuhkan harapan itu. "Tentu saja, Zhao Yun. Dia akan datang. Bukankah orang-orang di China ini sudah menunggunya ribuan tahun lamanya?"

"Justru karena itulah, Penasihat Pang." Balas Zhao Yun. "Kedatangannya sudah dinanti-nantikan ribuan tahun, tetapi dia tidak pernah datang. Bukankah itu seperti penantian yang sia-sia? Lagipula..." Zhao Yun dengan hati-hati mengucapakannya agar tidak menyinggung kedua rekannya itu. "... bagaimana caranya kita menemukan mereka? Kudengar mereka sama saja dengan manusia biasa."

"Kau benar, Zhao Yun." Jawab Pang Tong. "Mereka tidak ada bedanya dengan kita."

"Dan karena itulah kupikir ini mustahil." Potong Zhao Yun. "Menurut Legenda, Penasihat Pang, manusia sudah melawan Feng saat dia mencari Huang. Jadi, untuk apa dia datang kembali lagi? Membawa kedamaian? Aku rasa jika legenda itu tidak bohong, yang akan terjadi sekarang adalah kejadian itu terulang lagi."

"Maksudmu..."

"Yah, kita pasti akan sulit menerimanya." Jawab Zhao Yun sambil mengangkat bahu. "Terutama jika dia cuma manusia. Bagaimana kita bisa membedakannya dengan manusia biasa? Aku pun pasti akan sulit untuk percaya." Dia berhenti sejenak sebelum melanjutkan. "Lain ceritanya jika dia datang dalam wujudnya sebagai Phoenix. Mungkin kita akan lebih mudah percaya."

"Jadi sebenarnya pertanyaanmu adalah," Pang Tong menyimpulkan. "Kau ingin tahu apa perbedaan Phoenix dan manusia biasa, begitu?"

Zhao Yun berpikir sejenak sebelum mengangguk.

"Itu aku juga tidak tahu." Balas Pang Tong sambil menghela nafas. "Tapi yang pasti adalah, dia akan datang, dan dalam wujud apapun itu kita pasti tahu apakah dia itu Phoenix atau bukan."

"Begitu..." Zhao Yun tidak lagi menutup-nutupi keragu-raguannya. "Kupikir dari antara kita bertiga, akulah yang paling meragukan hal itu. Jangan salah, aku percaya pada legenda itu, tapi yang tidak bisa aku percaya adalah Phoenix yang berwujud manusia itu."

Yang mengagetkan, Huang Zhong tiba-tiba saja tertawa sambil menepuk punggung jendral muda itu. "Kau bilang begitu, Zhao Yun. Tapi kurasa justru jika Feng itu menjumpai kita bertiga – yang aku sangat yakini – kaulah yang paling pertama akan bertemu dengannya." Zhao Yun mengangkat alias karena merasa lucu bercampur kaget dengan perkataan yang ia anggap candaan itu. "Dan dengan kata lain, aku merasa kau-lah yang akan paling percaya padanya, dan bahkan mungkin kau akan hidup sangat dekat dengan Phoenix itu."

Zhao Yun hanya menyangkalnya dalam bibir saja. "Itu mustahil terjadi." Tetapi sebenarnya dalam hatinya yang dipenuhi awan keragu-raguan, ia berharap perkataan Huang Zhong itu akan benar-benar terjadi.

-o-o-o-o-o-o-

Cheng Du, Ibukota Shu

"Perdana Mentri, aku akan pergi sekarang."

Jiang Wei, seorang ahli strategi muda merangkap jendral, berpamitan pada gurunya yang adalah perdana mentri Shu itu sendiri. Ia terus menunduk, berusaha menutup-nutupi wajahnya yang penuh kesedihan. Tanpa menunggu balasan dari Zhuge Liang, ia segera beranjak dari tempat itu untuk pergi.

Zhuge Liang akhirnya melepaskan pandangannya dari langit malam yang bertaburan bintang itu. ia memandang muridnya lekat-lekat sebelum bertanya. "Kau akan pulang ke Tian Shui. Bagaimana keadaan ibumu?"

Sampai di situ langkah Jiang Wei berhenti. "Keadaannya semakin parah, Perdana Mentri." Jawab Jiang Wei dengan suara rendah. "Sudah beberapa bulan lamanya dia sakit dan tidak sembuh-sembuh. Bahkan tabib pun tidak tahu apa penyakitnya. Mungkin dia akan mati besok, atau minggu depan. Tapi mungkin dia bisa hidup lebih lama, sampai..."

Melihat Jiang Wei yang tidak menyelesaikan kata-katanya, Zhuge Liang kembali menatap bintang-bintang itu sambil berjalan mendekati muridnya. "Kau lihat, Jiang Wei, bintang Phoenix sekarang ada di sebelah utara. Tak lama kemudian dia pasti akan tiba di Shu. Penantian kita tidak akan lama lagi."

Sangat berbeda dari respon yang diharapkan Zhuge Liang, Jiang Wei malah mengepalkan tangannya, kemudian berbalik dengan tatapan penuh kemarahan dan kekecewan. Air mata sekarang tersembul keluar dari sudut matanya.

"Tetapi sampai sekarang kita belum melihatnya!" Seru Jiang Wei dalam kefrutrasiannya. "Dan kita juga tidak tahu apa dia akan datang atau tidak! Sejak beribu-ribu tahun lalu nenek moyang kita sudah menunggunya dan dia tetap saja tidak datang! Bagaimana kau bisa yakin bahwa pada zaman kita ini dia akan sungguh-sungguh datang?"

"Jiang Wei," Suara Zhuge Liang tetap tenang seperti biasa. "Kau tidak lihat bintang Phoenix itu? Bukankah sudah kukatakan berkali-kali dia pasti akan datang dan kita pasti akan berjumpa dengannya, hanya kapan itu saja permasalahannya. Apa kau percaya kalau kau bertemu dengannya, ibumu akan selamat? Bahkan tidak hanya itu, seluruh China akan kembali melihat kedamaian?"

"Aku percaya dengan itu! Tapi," Jiang Wei membantah. "Apa dia tidak tahu kalau ibuku sekarang sedang sakit? Kedamaian di China datangnya bisa kapan saja! Tapi ibuku mungkin hanya punya waktu sedikit! Kenapa sekarang dia tidak datang?"

Muridnya itu tidak bisa lagi menahan air matanya. Dengan sekuat tenaga ia menyeka matanya yang basah, tetapi toh air mata itu tidak berhenti mengalir. Zhuge Liang tidak bisa apa-apa selain memberinya harapan. Itu saja. "Ibumu tidak akan meninggal, Jiang Wei." Kata Zhuge Liang. "Ia tidak akan menutup mata sebelum kau bisa melihat Phoenix itu dengan mata kepalamu sendiri dan percaya. Dengan kata lain..." Zhuge Liang memberikan seulas senyum penuh kepastian pada Jiang Wei. "... ibumu akan sembuh begitu kau bertemu dengan Phoenix yang telah ditunggu itu."

Jiang Wei merasa ada secercah harapan baru bagi kesembuhan ibunya, tetapi tidak bertahan lama sampai ia membuang muka dari gurunya itu. "Bagaimana kau bisa begitu yakin, Perdana Mentri? Kau bahkan belum pernah bertemu dengannya."

Zhuge Liang menghela nafas panjang. "Aku tidak punya bukti yang bisa kutunjukkan padamu. Tetapi satu hal yang pasti adalah dia akan datang, dan tidak akan mengecewakan orang yang mengharapkannya." Jawab Zhuge Liang. "Seluruh orang di Shu ini sudah berharap dan menantikannya sejak dahulu. Khususnya kau, Jiang Wei. Bahkan sebelum ibumu jatuh sakit pun, kau sudah menunggunya."

"Kalau begitu, kenapa sekarang ia tidak datang? Kenapa ibuku sakit?" Tanya Jiang Wei lagi dengan penuh emosi. "Apa harus menunggu sampai ibuku mati dulu baru dia akan datang?"

Zhuge Liang menggeleng. "Sudah kubilang dia tidak akan meninggal sebelum kau bertemu dengan Phoenix." Katanya, masih dengan suara yang sama tenangnya. "Anggaplah penyakit ibumu ini adalah suatu pertanda, Jiang Wei, bahwa Phoenix yang telah dinanti-nantikan itu tidak lama lagi akan datang. Dan dengan sakitnya ibumu ini, mungkin kau akan semakin dapat berharap padanya."

Jiang Wei tidak berkata apa-apa, jadi dia melanjutkan. "Kau tahu mengapa Shu ini begitu suram? Bahkan meskipun memiliki Kaisar yang baik dan bijaksana, tanah yang subur dan tidak akan pernah gagal panen, keamanan dan keadaan yang tenang seperti ini? Kau tahu kenapa, Jiang Wei?" Zhuge Liang tidak menunggu sampai Jiang Wei memberi jawaban sebelum ia melanjutkan. "Karena kita semua, meski berada dalam keadaan yang sangat aman ini, sewaktu-waktu akan terancam dengan segala kekacauan dan perang, kecuali jika Phoenix itu yang akan datang kemari. Maka dari itulah sampai sekarang kita masih menunggu dalam kesuraman, sampai yang kita nantikan akhirnya tiba di depan mata kita."

"Perdana Mentri..." Jiang Wei akhirnya berhasil mengendalikan emosinya yang meluap-luap. "Menurut anda, jika Phoenix itu benar-benar datang, dan jika aku bertemu dengannya, apakah dia akan bersedia menyembuhkan ibuku?"

Sekali lagi Zhuge Liang menatap bintang itu, cukup lama sampai Jiang Wei dibuat penasaran. "Aku yakin benar, Jiang Wei." Katanya. "Bahkan diantara seluruh jendral dan penasihat Shu, termasuk aku yang Perdana Mentri atau Yang Mulia Liu Bei yang adalah Kaisar pun, kurasa kau-lah yang akan pertama kali melihatnya melakukan sesuatu yang besar. Dan kaulah yang paling pertama akan melihat yang kau nanti-nantikan itu datang."

Untuk beberapa saat, Jiang Wei diam membisu. Tetapi ia yakin gurunya itu tidak akan memberinya harapan kosong, apalagi berbohong. Jiang Wei mengangguk mantap, kemudian berlari keluar dari kediaman Perdana Mentri Shu itu dan menunggang kudanya untuk menuju ke Tian Shui.

Penantian yang panjang akan segera usai... pikir Jiang Wei dalam hati sambil memacu kudanya.


Yahhh... sekian prolog...

BTW, perhatikan kata2 Pang Tong... itu bakal jadi kunci buat chap2 berikutnya...

Now, continue to the next one: Midnight Silence