Aku ingin tempat yang hangat

Aku ingin laut yang tidak membeku sepanjang tahun

Yah, hanya memikirkannya saja sudah membuat hatiku senang

Karena itulah comrade, aku akan mengambil jantungmu—Königsberg


CARDIAC

Deathly

Disclaimer: Hetalia © Hidekaz Himaruya

Warning: OOC. Human names used. History inaccuracy. Gore. Cannibalism. No pairing, actually.

You've been warned. Read at your own risk. Eniwei, saya tak menyediakan ember untuk muntah, jadi silakan bawa sendiri *plak*


Mata merah kosong menerawang jauh ke langit yang semakin gelap. Mendung menggantung di atas Königsberg dan udara bertambah dingin. Seakan turut menangisi nasibnya. Tangannya menggenggam erat Iron Cross di dada. Ia tergeletak di sana, hampir tak berdaya. Ia masih ingat di tempatnya sekarang terbaring, dulunya adalah sebuah bangunan megah dengan corak khas Prussia. Tetapi sekarang hanya potongan kecil dan serpihan kerikil yang tertinggal. Tak ada lagi bangunan yang kokoh berdiri. Semua rata dengan tanah.

Gilbert hampir tak bisa menggerakkan tubuhnya. Rambutnya berantakan. Helainya sudah tak lagi berwarna putih bersih. Tetapi abu-abu, kotor oleh debu-debu dan mesiu mesin perang. Seragamnya tak lagi kelihatan pantas. Prussian blue kebanggaannya ternoda oleh bekas ledakan dan darah yang tak berhenti mengalir dari luka-luka yang memenuhi sekujur tubuhnya.

Battle of Königsberg. Sudah berakhir. Kota itu dibombardir habis-habisan. Ia bisa merasakan dirinya bertambah lemah. Serangan tak kunjung berhenti. Bom meledak dan meratakan semuanya dengan tanah. Hampir tak ada yang tersisa lagi. Pasukan Allied masih mengepung kota itu. Tinggal menunggu waktu saja sampai tentara Germany menyerah.

Kedua mata merah terpejam, menanti kematiannya. Ya, ia memang Prussia—salah satu kerajaan terhebat di Eropa. Tetapi itu dulu, saat masa kejayaannya. Sekarang ia bukan apa-apa lagi. Prussia hanya bagian Germany dan Gilbert berada di bawah adiknya.

Ia mengingat kembali semua kenangan itu. Gilbert melihat Ludwig tumbuh dewasa, dan bisa merasakan kebanggaan dalam dirinya. Semua yang dilakukan Ludwig, seperti yang diajarkannya. Tetapi bos adiknya merubah Ludwig jadi orang yang berbeda. Terkadang ia berpikir apakah itu benar-benar adiknya yang dulu.

Hanya saja ia tak bisa melakukan apa-apa. Satu-satunya yang bisa ia lakukan, adalah berada di sana, berdiri di samping adiknya dan memberikan setiap dukungan bisa ia berikan. Gilbert tahu ia tak akan pernah bisa membenci adiknya—Ludwig hartanya yang paling berharga, yang terpenting di hidupnya bahkan melebihi nyawanya sendiri. Meskipun Germany berubah ambisius dan melakukan berbagai hal yang tak bisa ia terima, ia tak bisa mencegahnya. Bukankah itu yang sudah ia ajarkan pada Ludwig? Untuk menuruti setiap perintah bosnya? Karena itulah, betapapun sulitnya, ia akan berjuang dan berkorban untuk adiknya. Semua demi Ludwig.

Nazi terus bergerak. Memang mereka berhasil di awal. Namun itu hanya kemenangan sesaat saja. Gilbert tahu keadaan akan terputar balik. Mereka mulai jatuh. Tetapi ia tak bisa memperbaiki hal itu. Prussia sudah hancur dan ia tak punya apa-apa lagi. Yang ia bisa hanyalah hadir di sana dan meyakinkan Ludwig kalau semua akan baik-baik saja.

Setitik air mata terbentuk di pelupuk mata merah. Ia sudah gagal mempertahankan Königsberg. Ia tak tahu harus mengatakan apa pada adiknya. Ia tak ingin melihat Ludwig sedih ataupun kecewa karena kakaknya. Gilbert memejamkan matanya, merasakan suara mesin-mesin perang mengabur dari pendengarannya.

"West," gumamnya pelan. "Es tut mir leid."

Gilbert mendengar sayup langkah-langkah kaki berat yang datang mendekat. Mungkin itulah suara kematian yang akan mengambil nyawanya. Karena ia bisa merasakan saat untuknya pergi sudah tiba. Ia sudah terlalu lemah.

Langkah kaki itu terhenti di dekatnya. Gilbert merasakan tubuh tinggi seseorang membayangi dirinya. Ia membuka matanya perlahan dan mulai mengenali sosok itu. Bola mata merah beradu dengan yang mata violet yang lain.

"Russia," geram Gilbert. Ia menyipitkan matanya.

Di depannya, berdiri figur nation besar itu. Ia tersenyum ceria khas anak kecil. Tetapi di matanya sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang gelap dan mengintimidasi siapapun yang berani menatapnya.

Gilbert bisa merasakan keringat dingin mulai merembes keluar dari pori-pori tubuhnya. Tetapi ia mencoba mempertahankan diri, bahkan berusaha bangkit. Susah payah ia berhasil menahan tubuhnya dengan kedua siku tangannya.

"Halo, comrade Prussia," sapa nation berambut pirang kecoklatan itu, masih tersenyum.

"Apa yang maumu, Russia? Tak puaskah kau menghancurkan Königsberg?" tanyanya dingin.

"Mmm… ayo. Kau harus menyatu dengan Russia дa," jawabnya. Ekspresi di wajah Ivan tak pernah berubah.

"Apa?" Mata Gilbert membesar. "Jangan harap!"

"дa?" Senyum Ivan menghilang sejenak. Lalu kembali terkembang di wajahnya. "Kalau begitu aku akan mengambil Königsberg kecilmu saja, comrade Prussia," ulangnya. Senyumnya bertambah lebar.

"Ka-" Perkataannya terjebak di tenggorokan.

"дa? Katakan saja. Karena kau tak akan bisa bertemu comrade Germany."

Gilbert hanya mematung, terdiam memandanginya. Matanya menyorot tajam. Ia akan bertemu West lagi. Itu pasti. Kemudian ia akan kembali lagi dan merebut apa yang telah dirampas para Allied itu. Ya, itulah yang akan terjadi. Mereka seharusnya berlutut dan menyerah sebelum Prussia yang agung menghancurkan mereka. Ah-ha!

…tapi benarkah?

Gilbert terperanjat saat merasakan tubuhnya diangkat dari tanah. Ivan menahan tubuhnya dengan salah satu tangan. Kedua mata merah masih menyorotkan kebencian yang sama. Karena nation di hadapannya inilah Königsberg jadi seperti ini.

"Hm… kau punya kata-kata terakhir, comrade Prussia?" tanya Russia.

"West pasti akan membala- auh!"

Gilbert meringis. Ivan memukul kepalanya dengan sebuah pipa. Cukup keras untuk menyebabkan memar.

Ivan menggelengkan kepalanya. "Itu bukan kata-kata yang bagus дa."

"Sialan kau!" umpatnya.

Dan sekali lagi serangan pipa berhasil melukai tengkorak kepala Gilbert yang keras. Ia merasakan cairan hangat dan kental meluncur turun melewati pelipisnya.

"Ah, sudah lama aku menginginkan tempat hangat," ujar Ivan.

Gilbert tak membalas apa-apa. Ia tahu kemungkinannya mendapat luka lain di kepala akan bertambah besar kalau ia membuka mulutnya.

"Aku ingin lautan yang tidak membeku sepanjang tahun," Ivan melanjutkan.

Ia kembali tersenyum pada Gilbert. Keringat dingin semakin deras mengalir dari dahi Gilbert. Ia merasakan sesuatu yang gelap dan dingin menyelimuti atmosfer, seperti ingin mencekik lehernya. Lama-kelamaan terlihat jelas aura keunguan yang gelap memancar dari tubuh Ivan.

"Dan sekarang aku benar-benar senang karena akan mendapatkannya."

Ivan tertawa senang dan Gilbert menemukan dirinya ketakutan. Tunggu. Takut? Tidak mungkin! Bukankah ia Königreich Preußen! Mana mungkin ia takut! Tetapi kenyataannya, Gilbert sedikit ngeri melihat Ivan tertawa seperti itu di depannya. Adrenalinnya terpacu, tetapi entah mengapa detak jantungnya tak bisa bertambah cepat.

Sebuah hantaman di rahangnya dan Gilbert terjatuh kembali ke tanah. Tubuhnya yang sudah terluka berat terasa semakin lemah. Ia melihat dari sudut matanya Ivan mengeluarkan sebilah pisau. Tajam dan mengkilat. Terasah sempurna dan siap untuk melakukan pekerjaannya. Sepasang mata merah membesar, melihat refleksinya di permukaan pisau itu.

Ivan mengernyit melihat Iron Cross yang tergantung di dada Gilbert. Ia merenggut benda itu terlepas dari leher Gilbert dan melemparnya ke tanah. Refleks Gilbert mencoba menangkap benda metal itu, tetapi Ivan menggenggam erat bahunya, menahannya tetap di tanah.

Dengan satu gerakan cepat, ia merobek seragam Prussia. Gilbert bisa merasakan benda tajam itu menyentuh dadanya. Ia mengerjap dan pisau itu sudah menancap tepat di dadanya. Ia ingin berteriak, tetapi seakan ada sesuatu yang menahan suara keluar dari tenggorokannya. Terasa sangat sakit saat daging dan otot di dadanya tersayat benda tajam itu. Dan lebih buruk lagi, Ivan melakukannya perlahan-lahan. Sial! Dia benar-benar berniat untuk memberi siksaan pada Gilbert.

Gilbert memejamkan matanya erat dan menggeretakkan gigi-giginya untuk menahan rasa sakit. Air mata menuruni pipinya. Rasa sakit yang seperti ini, ia belum pernah merasakannya sebelumnya. Darahnya mengalir deras keluar, membanjiri tubuhnya dan menggenangi tanah di sekitarnya.

Sakit. Sakit. Sakit. Tolong hentikan. Tolong hentikan! West! Aku harus bertemu dengannya. Ludwig, teriaknya dalam hati.

Gerakan menyayat Ivan terhenti. Ia mulai membuka lapisan otot. Putihnya tulang terlihat menonjol di antara merahnya darah dan daging. Dan di sana, terlindung di balik tulang-tulang rusuk, Königsberg berdetak lemah di antara dua paru-paru Prussia. Jantung itu terlihat merah, segar, dan benar-benar masih hidup dalam thorax Gilbert. Ivan mengarahkan pisaunya ke tulang rusuk Gilbert dan membuat celah. Cukup untuk mengeluarkan organ vital itu.

Sa…kit.. Hen…tikan. Hen…ti…kan…. Hen…ti. . . kan. . . We-e…est.

Gilbert bisa merasakan dirinya tenggelam dalam rasa sakit itu. Semakin ia menahan teriakannya, semakin terasa sakit itu menusuk tubuhnya. Seakan sel sarafnya dipaksa mengirim rangsang sakit itu ke seluruh bagian tubuhnya. Sementara tubuh Gilbert menggeliat karena kesakitan, tangannya meraba-raba tanah di sekitarnya untuk mencari Iron Cross miliknya. Tetapi saat salah satu jarinya menyentuh Iron Cross, adalah tepat rasa sakit itu berada di puncaknya, tiba-tiba semuanya berubah gelap. Ia tak bisa merasakan tubuhnya.

Ivan menarik Königsberg keluar dari tubuh Gilbert. Jantung kecil itu berdetak pelan di tangannya. Senyum puas terkembang di wajahnya. Dari matanya terlihat seorang anak kecil yang tertawa senang karena mendapatkan manisan kesukaannya. Ia menyimpan kembali pisau dan pipanya di balik mantel. Tak melirik lagi ke tubuh yang telah terkoyak dan dibanjiri darah itu.

"Hm… Königsberg kecil, sekarang kau milik Russia." Ivan tertawa senang. Ia memiringkan kepalanya sedikit, memperhatikan organ di tangannya dengan tatapan polos seorang anak kecil. "Kau butuh nama yang lebih baik. Hm… Kalinin. Dia orang hebat. Oh, Kaliningrad! Ya, Kaliningrad namamu sekarang. Ayolah, menyatu dengan Russia дa."

Ivan membawa organ vital itu mendekat. Ia menjilatnya sedikit dan mencoba merasakan jantung itu. Senyum yang terkembang di bibirnya semakin lebar. Ivan membuka mulutnya dan mulai menggigit jantung itu. Darah mengotori tangan serta mantelnya, dan mencorengi wajahnya. Ia menelan setiap gigitan dari organ vital itu. Ia tersenyum lebar, menjilati sisa darah di tangan dan sekitar bibirnya.

"Ah, Kaliningrad memang hangat…" gumamnya senang.

Sementara tubuh Gilbert tergeletak dan terabaikan di tanah penuh debu yang diselimuti bau perang. Tulang rusuknya mulai tumbuh kembali. Luka sayatan besar di dadanya mulai menutup. Tetapi terlalu pelan untuk Gilbert untuk ia bisa bertahan. Di tempat jantungnya seharusnya ada, sekarang hanyalah ruang kosong. Gilbert sudah tak memiliki organ vital itu dan Prussia kehilangan Königsberg. Ia sudah terlalu lemah. Ia tak bisa menggerakkan tubuhnya dan terperangkap di alam bawah sadar. Namun ia masih menunggu sesuatu yang lain untuk datang padanya—kematian Prussia yang sebenarnya.

((jikai e…))

Königsberg—ibukota Prussia. Dihancurkan dalam WW II, terus diserang selama bulan Februari-Maret 1945 dalam Battle of Königsberg. Kemudian menjadi bagian dari Russia setelah perang usai. Namanya diubah menjadi Kaliningrad pada tahun 1946 setelah kematian Mikhail Kalinin (siapa dia silakan pergi ke wiki :P). Satu-satunya pelabuhan Russia di Laut Baltik yang lautnya tak membeku sepanjang tahun. Jelas kalau Russia menginginkannya, дa?

Rambling gapen

Mein Gott, saya memang benar-benar gila. Bagian kedua akan segera saya upload begitu selesai.

Eniwei, review please?

-gK