Yei, Hallo sempai ^o^

Ketemu lagi nih sama Aoi..

Gimana kabarnya? Semoga sehat selalu ya! Amien!

Aoi bikin Fict lagi nih, dan lagi-lagi NaruHina ^_^; (semoga ngga bosen baca NH versi Aoi)

Judulnya seperti yang tadi sempai click didepan, yup, "The Melancholy Of Uzumaki Naruto."

. . . . . ?

Mungkin, judulnya sedikit terdengar tidak asing ya, atau mungkin ada yang berpikir, "Lho, bukankah ini seharusnya The Melancholy Of Haruhi Suzumiya? Dan sebagainya dan sebagainya."

Tapi tenang saja, disini Aoi sama sekali tidak meniru Maha Karya tersebut, hanya saja sewaktu membuat Fict ini, Aoi merasa hanya itulah judul yang menurut Aoi pantas untuk dipakai dalam Fict Aoi kali ini, jadi mau tidak mau, Aoi terpaksa mengambilnya dan memakainya. Cerita disini pun murni adalah karya Aoi sendiri dan tidak ada sangkut pautnya dengan Maha Karya tersebut diatas, jadi mohon sempai-sempai memakluminya.

"Akh, banyak bacot nih Author, kaya' cerita lu bagus ajah!" seru sempai A.

"Udah, buruan pergi sana, gua kesini cuman mao baca," Keluh sempai B.

"Hei, emangnya gua peduli ama yang begituan, hush hush hush" Sungut sempai C.

WAS WES WOS WAS WES WOS WAS WES WOS WAS WES WOS _

Ugh, sepertinya Aoi terlalu banyak bicara ya, dari pada pusing membaca celotehan Aoi yang bikin mata sakit, lebih baik segera kita mulai saja.

Kalau begitu selamat membaca ^^

All Characters Created and Belongs to Masashi Kishimoto sensei

Storyline : Aojiru

Warning : AU, OOC dan sebagainya.

The Melancholy Of Uzumaki Naruto

Chapter 1

Namaku Naruto Uzumaki, saat ini aku adalah murid kelas XI di sebuah sekolah swasta di kota Konohagakure. Seperti biasa, saat ini aku hendak berangkat ke sekolah, tentu saja dengan sedikit lesu, entah mengapa beberapa terakhir ini aku tidak terlalu bersemangat untuk pergi kesekolah, sepertinya ada sesuatu yang hilang dari diriku, tapi aku tak tau apa itu, aku terlalu malas untuk mencari tau.

KRRIIIIIIIIIIINNGG

Dan akhirnya bel masuk pun berbunyi, saat itu aku sudah berada persis di depan gerbang sekolah, dan hal itu berhasil membuatku lolos dari hukuman terlambat datang kesekolah. Kemudian kususuri jalan setapak yang tersusun rapi diantara hijaunya rerumputan, kulalui beberapa buah anak tangga yang nampak sedikit kotor dan setelah berjalan beberapa langkah sampailah aku didepan pintu kelas tempat aku biasa belajar.

"Ahh, hari yang membosankan ini kembali terulang, aku benar-benar terjebak dalam dimensi yang membosankan seperti ini, entah hal apa yang membuatku terus bertahan..."

Perjalananku terhenti pada sebuah pintu berwarna coklat tua dengan gagang yang juga sudah usang, namun hal itu bukanlah sesuatu yang baru bagiku, aku sudah terbiasa melihatnya setiap hari, karena itulah pintu yang selalu kulalui untuk masuk kedalam kelas. Aku membuka pintu dengan perlahan, dan begitu pintu terbuka, terdengarlah hiruk-pikuk keramaian para murid yang sedang bergunjing ria sambil menunggu kedatangan guru yang akan mengajar, kebisingan itu benar-benar mengganggu pendengaran, namun bagi mereka yang sudah terbiasa, hal itu bukanlah apa-apa.

Segera kududukkan tubuhku di kursi tempat biasa aku duduk, terdengar bunyi gemercit kursi saat aku mendudukan tubuhku ini, begitu pula dengan meja yang sudah reot dan penuh dengan coretan disana-sini, maklum, katanya sekolah ini sudah lama berdiri, bahkan sebelum aku dilahirkan, tapi aku tak terlalu ambil pusing akan hal itu.

Kuletakkan tasku disebuah gantungan besi yang sudah berkarat yang terdapat di sisi kiri meja, setelah itu aku menghela nafas panjang, "Perjalanan kesekolah itu ternyata cukup melelahkan juga ya," pikirku dalam hati.

Sesaat kemudian, pandanganku teralihkan pada sebuah kursi kosong yang berada tepat disebelah kananku, kursi yang sudah mulai berdebu karena sudah beberapa hari tidak digunakan.

Kembali aku menghela nafas, "Huh, sepertinya hari ini dia juga tidak datang .." batinku.

Kursi itu dulunya tak pernah terlantar seperti itu, namun karena beberapa hal, orang yang seharusnya menempati kursi itu terlalu sibuk untuk menghadiri pelajaran dan membuat kursi itu menjadi terlantar.

Sampai pelajaran dimulai, orang yang seharusnya menempati kursi itu tidak juga hadir, dan dengan ini sudah genap tiga hari ia tidak datang kesekolah, tanpa kabar atau apapun yang memberikan alasan ketidakhadirannya. Namun, sensei tak pernah menanyakan apapun atau tak pernah memberitahukan apapun, dia hanya melakukan apa yang menjadi tugasnya yaitu mengajar, atau mungkin ia terlalu malas untuk melakukannya.

Jam pelajaran pun usai, tapi tak satupun pelajaran hari itu yang bisa kuingat, karena sepanjang pelajaran, yang kulakukan hanyalah memikirkan kemana perginya orang itu, kenapa ia tak kunjung datang kesekolah, tiga hari bukanlah waktu yang sedikit untuk dilewatkan begitu saja, paling tidak, seharusnya ia memberikan kabar.

Ramai gunjing para murid yang meninggalkan kelas membuyarkan segala lamunanku, kemudian akupun segera membereskan tas dan beberapa buah buku yang masih tergeletak di atas meja, dan setelah itu aku beranjak pergi meninggalkan kelas.

Beberapa murid nampak pergi meninggalkan kelas dengan wajah ceria, banyak diantara mereka adalah sepasang kekasih, mereka saling bergandengan tangan dan bersanda gurau dengan riangnya, kemudian terlihat sang gadis tengah bermanja-manja dengan pasangannya, mungkin ia sedang merengek untuk minta dibelikan sesuatu, atau ia sedang mengajak kekasihnya itu untuk pergi ke suatu tempat, kemudian sang pria beruaha untuk menggoda gadis itu dan membuat sang gadis menjadi semakin merengek, setelah puas menggoda, kemudian sang pria mengucapkan sesuatu dengan wajah tersenyum sambil mengelus halus rambut sang gadis, seketika itu juga sang gadis tersenyum lebar dan semakin merangkul erat tubuh sang pria, merekapun terus berjalan dengan wajah ceria.

Melihat hal itu, entah mengapa aku merasa cemburu, itu adalah sesuatu yang belum pernah kurasakan sampai saat ini. walaupun aku juga punya seorang kekasih, tapi kenapa tidak seperti itu, kenapa tidak kurasakan hal yang seperti itu saat bersama denganya.

Saat hatiku tengah gundah itu, seseorang dari belakang menepuk pundakku dengan perlahan.

"Yo Naruto, kau sedang melamunkan apa ..."

Dari tutur katanya yang halus, dapat kupastikan bahwa itu adalah suara seorang gadis, begitu kutolehkan kepalaku kebelakang, benar saja, pantas suaranya terdengar tidak asing, rupanya dia adalah salah satu gadis yang berada dalam kelas yang sama denganku, namanya adalah Sakura Haruno.

Sebenarnya saat ini aku sedang tidak ingin bicara pada siapapun, tapi tidak sopan rasanya kalau aku hanya diam setelah seseorang menyapa, apalagi kalau ternyata dia adalah seorang wanita.

"Tidak, aku tidak sedang melamun kok ..." jawabku pelan.

Mendengar jawaban itu, Sakura menatapku dalam, seolah ia tau kalau aku tidak mengatakan hal yang sebenarnya, tapi sesaat kemudian ia tersenyum kecil.

"Aku tau, kau pasti sedang memikirkan Hinata 'kan, jatuh cinta itu memang menyenangkan ya ..." tutur Sakura.

"Hah, lagi-lagi kalimat itu..." ujarku dalam hati.

"Ngomong-ngomong, sudah tiga hari Hinata tidak datang kesekolah, apa kau tau sebabnya?" tanya Sakura.

"Heh, kau 'kan sahabat baiknya, kau pasti tau 'kan alasannya .."

"Tentu saja aku tau!, aku 'kan cuma sekedar basa-basi, habis wajahmu terlihat murung sih, jadi aku ingin sedikit mengajakmu mengobrol," balasnya.

"Apa! jadi Sakura tau.."

Aku terkejut, ternyata dia tau.., padahal aku berkata begitu karena aku tidak tau alasannya, tapi ternyata Sakura benar-benar tau alasan kenapa Hinata tidak masuk selama tiga hari ini, padahal aku adalah kekasihnya, tapi kenapa dia tidak memberitahukan hal itu padaku.

"Hei, kenapa kau terkejut seperti itu Naruto, jangan-jangan Hinata tidak memberikan kabar padamu ..." kata Sakura.

"Ga- gadis ini benar-benar berinsting tajam."

Percuma saja kalau aku berbohong, dia pasti akan segera mengetahuinya, jadi aku mengatakan hal yang sebenarnya padanya. "Ya, dia tidak memberitahukan apa-apa padaku, alasan kenapa dia tidak masuk selama tiga hari ini..."

"Hee, jadi Hinata sama sekali tidak memberi kabar apapun padamu?" tanya Sakura.

Aku hanya mengangguk mengiyakan pertanyaan itu.

"Dasar gadis itu, apa dia benar-benar tidak tau makna dari menjalin cinta ..." sungut Sakura.

"Jadi.. apa kau mau memberitahukannya padaku Sakura..."

"Mana mungkin!, kalian 'kan pacaran, kalau aku yang memberitahukannya, keharmonisan diantara kalian akan sedikit terganggu 'kan."

"Masuk akal.." pikirku dalam hati.

"Bagaimana kalau kau menghubunginya dan menanyakan langsung padanya," jelas Sakura.

"Hal itu sih tak perlu kau terangkan, sudah beberapa kali aku mencoba untuk menghubunginya, tapi tak pernah ada jawaban, handphonenya tak pernah aktif ..." jawabku lesu.

"Masa' sih, padahal kemarin kami asik berbincang-bincang sampai pulsaku habis, beberapa hari sebelumnya juga begitu ..."

"Hee, yang benar! ..."

"Iya.. aku tidak bohong kok .." balas Sakura.

"Kalau begitu.., apa Hinata berusaha menjauhiku, kenapa dia tidak pernah menjawab telponku, tapi kalau untuk sahabatnya dia selalu menjawabnya.., jelas ... pasti dia berusaha untuk menjauhiku ..."

"Oh ya Naruto, apa kau tau kalau belakangan ini, Hinata dan Sasuke terlihat sangat akrab?"

"Hee, masa' sih..."

"Benar kok, Sasuke juga sudah tiga hari ini tidak datang ke sekolah lho ..."

"A- apa.. ti- tiga hari ... aku tiidak tau ..."

"Kau terlalu memikirkan Hinata sih, jadi kau tidak memperhatikan sekelilingmu ..." terang Sakura.

"Tunggu dulu .. tiga hari.. berarti sama dengan Hinata dong," tanyaku kaget.

"Ya 'kan..."

"Apa mungkin mereka berdua..."

"Aku juga tidak tau pasti sih, tapi segala kemungkinan pasti ada 'kan.., apalagi kalau dibandingkan dengan Sasuke, siapapun pasti akan sulit untuk melampauinya(dalam segala bidang), termasuk kau Naruto..."

"Yah, aku sih tidak terlalu memikirkan hal itu, setiap orang pasti punya kekurangan dan kelebihan masing-masing kan.." balasku dengan tenang.

"Memang benar, tapi apa kelebihanmu ..."

GLEKH(menelan ludah)

"Ukh... gadis ini bukan hanya berinsting tajam, tapi mulutnya juga tajam seperti pisau ..."

"Hei, kau sedang berpikiran jelek tetangku ya..." ujar Sakura dengan tatapan mencurigai.

"Gee, bu- bukan kok... bukan begitu ..." jawabku panik.

"Yah sudahlah, aku tak perduli dengan apapun tanggapanmu mengenai diriku, toh aku sama sekali tidak berminat pada pria sepertimu ..."

"Cih, gadis ini.. menyebalkan sekali.."

Ia mengangkat lengan kirinya sampai sejajar dengan dada dan memperhatikan jam yang terpasang di pergelangan kirinya itu. "Wah, sudah jam segini, aku harus segera pulang, ada beberapa hal yang harus kukerjakan, kalau begitu aku duluan ya ..." ujarny sambil berlalu pergi.

"Hati-hati ya ..."

"Cepat pergi sana kau jelek ..."

Kemudian Sakura berlari meninggalkanku seorang diri, aku terus menatapnya sampai ia berbelok di sebuah perempatan kecil di pinggir jalan. Setelah itu aku kembali melanjutkan langkahku, kemudian menghela nafas dalam-dalam, memikirkan apa yang baru saja dikatakan Sakura tentang apa yang terjadi antara Hinata dan Sasuke.

"Huh, Sasuke 'kan juga hanya manusia biasa, sama sepertiku, kalau mau diteliti juga dia pasti memiliki kekurangan, misalnya ... misalanya... (berpikir) ... misalnya .. (berpikir keras)..."

"Argh.. sial... aku tidak bisa menemukan satupun kekurangannya... si Sasuke itu ... apa mungkin Hinata benar-benar jatuh hati padanya..."

"Ugh.. memikirkannya benar-benar membuat kepalaku sakit, lebih baik aku berhenti memikirkannya atau sebentar lagi sesuatu yang ada di kepalaku akan meledak karenanya."

Begitulah, akhirnya aku pulang dengan rasa sakit dikepalaku karena memikirkan mereka berdua. Setelah sampai dirumah, segera kurebahkan tubuh letihku ini di atas tempat tidurku, sekaligus mencoba untuk menghilangkan segala penat yang menumpuk di otak kecilku ini. Aku menoleh ke sebuah foto yang berdiri tegap diatas meja, disana terpampang wajah Hinata dengan senyuman manis di bibirnya.

Saat itu segera kubuang semua perkiraan buruk tentang dirinya, aku sudah lama mengenalnya dan aku tau kalau Hinata bukan tipe gadis yang seperti itu, walaupun hal itu tak membuatku sepenuhnya yakin untuk tidak merasa curiga. Dan tentu saja hal itu menyisakan rasa yang mengganjal di hatiku, tapi aku tetap berusaha untuk menahannya.

"Kalau terus dipikirkan, hal seperti ini tidak akan ada habisnya, lebih baik aku menelponnya dan menanyakannya secara langsung."

Segera ku ambil telponku yang terdapat diatas meja, lalu kutekan beberapa nomor yang sudah terrekam jelas dalam ingatanku, dan setelah menunggu beberapa saat...

Ttuuutt.. ttuuuutt.. ttuuuuttt.. ttuuuuttt ..

"Haah, lagi-lagi seperti ini," ujarku dalam hati. Entah ini sudah yang keberapa kalinya dalam beberapa hari terakhir.

"Apa mungkin Hinata memang mencoba untuk menjauhiku, dan alasannya adalah karena dia lebih memilih Sasuke, kalau begitu kenapa dia tidak mengatakannya langsung padaku, apa dia tidak tau seberapa menderitanya aku memikirkan hal itu..."

Hal itu terus terngiang dikepalaku, otakku yang hanya sebesar itu dipaksa untuk memikirkan hal yang berada jauh diluar kemampuan otakku sendiri, dan hal itu membuat kepalaku kembali merasakan sakit. Aku terus terbaring sambil memikirkan ini dan itu, juga segala kemungkinan yang mungkin terjadi pada Hinata, entah berapa lama aku terbaring dalam kondisi seperti itu, saat aku sadar ternyata hari sudah pagi.

Kutolehkan kepalaku pada jam dinding yang terpasang diatas sana, dan terlihat jarum jam menunjukan pukul enam, biasanya saat ini aku masih terbaring lelap dalam hangatnya tempat tidurku yang nyaman.

Saat itu hal pertama yang kuingat adalah Hinata, Hinata dan Hinata. Berangsur-angsur aku mulai bisa mengingat kejadian surealis yang terjadi kemarin, aku terus memikirkannya sampai akhirnya aku memutuskan untuk beranjak dari tempat tidurku. Tapi batinku jadi bertanya-tanya dalam hati kecilku, apa di saat-saat seperti ini dia juga memikirkanku?, apa dia memikirkanku saat pertama kali bangun dari tidurnya, atau mungkin dia memikirkan orang lain...

Hatiku kembali gundah memikirkannya, segera saja aku masuk kedalam kamar mandi dan mengguyur seluruh tubuhku dengan dinginnya air pagi hari, sambil berharap hal itu bisa membuat pikiranku sedikit lebih jernih.

Selang beberapa saat, aku keluar dari kamar mandi dengan tubuh menggigil kedinginan, segera kukenakan seragam sekolahku untuk menghangatkan tubuhku ini, setelah itu aku bergerak menuju meja makan untuk sarapan, dan di meja makan sudah tersedia sepiring roti yang terpanggang dengan baik, namun tidak ada siapa-siapa disana.

"Ng!, apa ayah dan ibu sudah pergi berangkat ke kantor?, padahal hari masih sepagi ini, bahkan ayam jantan pun masih belum berhenti berkokok, sepertinya mereka benar-benar sibuk..."

Tanpa memikirkannya lebih jauh, segera kutuang segelas susu yang baru saja kuambil dari lemari pendingin sebagai pelengkap beberapa potong roti yang tengah kusantap dengan nikmatnya.

Kuregangkan tubuhku untuk mempersiapkan diri mengahadapi aktivtasku pagi ini, dan setelah membereskan semuanya, aku segera berangkat menuju sekolah, walaupun masih agak terlau dini, toh tidak ada salahnya berangkat pada jam seperti ini, yah, sekali-kali juga tubuhku perlu diisi dengan segarnya udara pagi.

Beberapa murid sudah terlihat mengisi jalan yang biasa kulalui untuk berangkat kesekolah, dan beberapa diantara mereka tengah asyik berbincang bersama teman seperjalanannya, ada juga yang tengah sibuk membaca dan membolak-balik buku pelajarannya, pemandangan pagi hari yang sangat lazim ditemui.

Mengingat masih banyaknya waktu sampai bel pelajaran pertama dimulai, kuputuskan untuk berjalan tanpa tergesa-gesa, sambil memperhatikan pergerakkan awan putih diatas sana, yang sampai kapanpun selalu membuatku takjub dan terkesima bila menatapnya.

Tanpa terasa aku sudah berada di gerbang sekolah, tinggal lima menit lagi sampai bel pertama berbunyi, dan kebanyakan murid sudah berada di kelasnya masing-masing, walaupun meraka masih belum dalam kondisi siap untuk menerima pelajaran.

Saat aku sedang berjalan menuju kelas, bel pertama berbunyi, namun aku tak perlu tergesa-gesa karena jarak kelasku berada tinggal beberapa langkah saja dari tempatku berjalan sekarang, begitu masuk ke kelas, segera kutuju tempatku biasa duduk dan meletakan tasku pada gantungan berkarat yang biasa. Belum sempat aku mendudukan tubuhku ini, sekilas aku merasakan ada sesuatu yang berbeda di kelas ini, detik itu juga aku mengangkat wajahku dan memperhatikan seisi kelas dengan seksama.

Benar dugaanku, rupanya memang ada yang berbeda, kursi kosong yang berada persis di sebelah kananku kini tak lagi kosong, sang pemilik sudah kembali mengisi kekosongan tersebut setelah beberapa hari tak ditempati, hal itu sekaligus membuatku sangat terkejut, karena orang yang mengisi kursi tersebut adalah kekasihku yang selama ini hilang tanpa kabar bak ditelan bumi.

"Hinata.. masuk.. kursi kosong.. padahal.. Sasuke.. tanpa kabar.. selalu.. kenapa.. tiga hari.. kemana saja.. aku.. akhirnya.."

Pikiran-pikiran itu secara acak dan tiba-tiba memenuhi seluruh ruang dalam otakku dan membuatku terdiam untuk sejenak, aku tak tau apa yang harus kukatakan dan kulakukan saat itu, aku hanya terdiam tanpa sempat mendudukan tubuhku di kursiku sendiri. Sambil berpegangan pada sandaran kursi dan meja, aku terus menatapnya yang tengah fokus pada sebuah buku yang sedang dibacanya, sampai akhirnya sebuah teriakan dari sudut ruangan membuyarkan semua lamunanku.

"Berdiri!.. memberi hormat!.. "

"SELAMAT PAGI..." tukas semua murid kompak.

Kemudian sebuah suara yang kecil namun penuh dengan wibawa membalasnya singkat. "Selamat pagi semuanya..."

Dan begitulah, akhirnya pelajaran pertama dimulai, aku belum sempat berkata apa-apa pada Hinata yang sudah tiga hari ini tidak kutemui, begitu pula sebaliknya, dia tidak mengatakan apa-apa, hanya fokus selama pelajaran dan mendengarkan apa yang sedang diterangkan oleh Sensei dari depan kelas.

Akhirnya kuputuskan menunggu sampai waktu istirahat tiba untuk berbicara dengannya, karena saat ini aku juga harus fokus pada pelajaran.

Jam pelajaran pertama pun berlalu, begitu pula dengan jam kedua dan jam ketiga, sampai akhirnya waktu istirahat pun tiba. Segera setelah Sensei meninggalkan kelas, aku berbalik ke arah Hinata dan menatapnya, tapi setelah itu, aku tak tau lagi apa yang harus kulakukan, pertanyaan-pertanyaan yang sejak jam pertama terus memenuhi kepalaku, seolah hilang tanpa bekas, tak ada satupun yang bisa kuingat, aku jadi bingung dan tak tau apa yang harus ku bicarakan dan dari mana aku harus memulainya.

Namun tiba-tiba saja, bibirku yang sudah sejak tadi menunggu-nunggu kesempatan ini, bergerak dengan kemauannya sendiri tanpa bisa kukendalikan.

"Hi- Hinata..."

Kulihat wajahnya sedikit terkejut mendengar panggilanku barusan, begitu ia menolehkan wajahnya dan mengetahui bahwa akulah yang memanggilnya, dia tersenyum kecil.

"Lama tidak bertemu, Naruto-kun.."

"Suara ini.." batinku bergejolak mendengar ucapannya barusan. Seperti yang kuduga, aku benar-benar merindukan suara lembut itu, aku benar-benar haus akan senyuman manis yang selalu terpasang diwajahnya itu ketika ia sedang berbicara denganku, ternyata aku memang benar-benar membutuhkannya.

Namun seketika itu juga, Hinata beranjak dari duduknya dan bergerak pergi meninggalkanku, aku yang terkejut segera memanggil dan menghentikannya.

"Hi- Hinata.. kau mau kemana.." tanyaku.

"Maaf Naruto-kun, aku ada keperluan sebentar..." sanggahnya.

"Tapi.. aku.. ada banyak hal yang ingin kubicarakan.." kali ini aku mengatakannya dengan wajah sedikit memelas, aku tau bahwa dia lemah dengan hal-hal seperti itu. Dengan begini pasti dia akan tinggal.

"Maaf Naruto-kun, tapi keperluanku kali ini sangat penting.. bisakah kita membicarakannya nanti.." ujarnya sambil merapatkan kedua telapak tangannya dan memohon.

"Cih, sial.. aku juga lemah dengan yang seperti ini.."

Kali ini aku yang kalah, aku menghela nafas panjang sebagai isyarat padanya, kemudian dia melanjutkan langkahnya menuju keluar kelas.

Aku terus memperhatikannya berlalu pergi, namun belum sampai ia meninggalkan ruang kelas, tiba-tiba saja ia melambaikan tangan kanannya ke arah pintu, aku merespon dengan memalingkan wajahku ke arah pintu itu, tentu saja dengan rasa penasaran dan hati yang bertanya-tanya kepada siapa dia melambai.

Tiba-tiba saja jantungku seolah berhenti berdetak, dan membuat darahku berhenti mengalir sehingga menyebabkanku shok setengah mati.

"Tubuh itu.. wajah itu.. dan gaya rambut itu..."

"Sasuke.. !"

"Ti- tidak mungkin.. kenapa Sasuke.. ada urusan apa dia dengan Hinata.."

Mereka saling pandang dan saling melemparkan senyum, kemudian sama-sama melangkah pergi meninggalkan kelas.

"Kenapa pakai senyum-senyum segala.. si Sasuke itu.. apa dia benar-benar ingin merebut Hinata.. tapi.. kalau melihat reaksi Hinata yang sepeti itu.. jangan-jangan mereka berdua.."

"Cih, aku tidak boleh tinggal diam, aku harus segera melakukan sesuatu sebelum terjadi apa-apa pada Hinata."

Segera kulangkahkan kakiku untuk mengejar mereka berdua, namun sial, karena tidak terlalu berhati-hati, aku tersandung oleh kakiku sendiri, dan tanpa bisa dicegah, aku menabrak seseorang yang tepat berada didepanku dan ikut membawanya jatuh.

BRRUUAAKKK

"Adududuhh.. lembut.. ! .. lho.. lembut!.."

Begitu aku menyadarinya, ternyata orang yang kutabrak dan ikut jatuh bersamaku tadi adalah Sakura, dan sekarang tubuhku berada dalam posisi menindih tubuhnya, dan kedua tanganku berada di.. Ehem.. (yah, kau tahulah apa yang kumaksud ^_^;).

"Sa- Sakura.. anu.. maaf.. tidak sengaja..." ujarku sambil melepas cengkraman kedua tanganku dari 'Ehem'-nya.

Tanpa mendengarkan penjelasanku, Sakura merubah tubuhnya kedalam mode bertempur, tangannya yang mengepal kuat dan tubuhnya yang mengeluarkan aura dahsyat itu..

"Mati.. aku pasti mati dibunuhnya.. seseorang.. tolong selamatkan aku.. \\(ToT)//"

"NA~RU~TO~.." ujar Sakura dengan hawa membunuh yang mengerikan.

"Ughh.."

"Ayah.. Ibu.. maaf.. aku pergi duluan..."

BAK BUGH DUAGH DUGH

Sakura dengan membaby(?)-buta menyerangku dengan sekuat tenaga, dan pukulan demi pukulan dia hempaskan ke arahku dengan nafsu membunuh yang begitu besar. Walaupun aku sudah berusaha sekuat tenaga untuk bertahan, tapi tetap saja dia itu adalah Sakura, perempuan yang memiliki kekuatan setara dengan seribu tenaga kuda. Dengan begini, dimulailah penderitaan tiada akhir yang harus kualami...

To Be Contiune...

Inilah cahpter 1 dari The Melancholy Of Uzumaki Naruto...

Setelah cukup lama, akhirnya bisa di publish juga.

Terima Kasih sudah membaca /(_ _)\\

Bagaimana menurut sempai sekalian ^^

Apakah ceritanya sudah bagus, ataukah biasa-biasa saja atau ngga menarik atau 'parah banget' atau ada yang lebih parah dari 'parah banget'(Y_Y)

Yah, mohon maaf kalau ceritanya tidak sebagus yang sempai harapkan, Aoi memang masih amatir.

Karena itu, mohon refyunya, supaya kedepannya bisa lebih baik dari yang sekarang^^

Sekali lagi, Terima Kasih sudah membaca. Sampai jumpa di chapter yang berikutnya.

Cao

Salam hangat, Aojiru B.