"Kagome-chan…" ujar Sango dengan mata yang sudah tergenang oleh air mata.

"Apakah itu siluman yang pernah disegel oleh ayahmu, Inuyasha?" Tanya Mroku. Inuyasha mengangguk lemah. Bagaimanapun dia harus menghabisi siluman itu dan segera menyelamatkan Kagome, kalau tidak nyawa Kagome semakin terancam.

"Hei! Apa yang kau lakukan!" Inuyasha langsung menghentikan Miroku yang hendak membuka segel lubang anginnya, "Dia terlalu besar untuk kau hisap, pendeta cabul!"

"Apa salahnya mencoba? Toh kau juga belum menemukan cara yang tepat untuk menolong nona Kagome, kan?" sahut Miroku.

"Tapi aku tidak akan membiarkanmu melakukan itu!" Inuyasha langsung menahan tangan kiri Miroku, "Aku yang akan menghabisi siluman itu, kau jaga Sango dan yang lainnya saja!"

"Tapi…"

"Tenang saja, aku memang belum tahu cara untuk mengalahkannya, tetapi itu bukan berarti aku tidak bisa, kan?"

Miroku tersenyum mendengar ucapan Inuyasha tadi. Dirinya tidak menyangka Inuyasha dapat berbicara seperti itu. Akhirnya Miroku memutuskan bahwa dia akan membiarkan Inuyasha mengalahkan siluman itu dan dia akan menolong penduduk desa untuk memadamkan api.

Inuyasha langsung menuju tempat yang strategis untuk mengalahkan Ashura sementara Miroku dan lainnya kembali ke arah desa untuk membantu para penduduk. Namun saat Miroku hendak keluar hutan, mereka dihadang oleh saimyosho.

"Cih, saimyosho!" Miroku memasang kuda-kuda untuk menyerang, begitu juga dengan Sango.

"Miroku, kau jangan menelan mereka –apapun yang terjadi— karena mereka…"

"Ya, aku tahu Nona Sango. Terima kasih telah mengkhawatirkan aku…"

Sango tersenyum mendengar jawaban yang meluncur dari Miroku. Walau semburat merah kini muncul di wajahnya, dia tetap tidak menurunkan kesiagaannya.

"Siap…?" Tanya Miroku. Sango dan Shippo menganggukan kepalanya mantap. Saat Miroku memberikan aba-aba, mereka langsung menyerang saimyosho tersebut.

xxXxx

Kagome POV

BYUR!

Aku merasakan air danau itu membungkus diriku. Aku jatuh. Tidak percaya, baru saja aku bertemu dengan Inuyasha sebentar, kini aku harus berpisah dengannya. Dan aku tidak menyangka juga –walau aku sempat memperkirakannya— siluman itu akhirnya membunuhku. Sakit memang, setelah dia menyiksaku dan melecehkanku kini aku harus mati ditangannya. Yah, walau tidak buruk juga sih, daripada aku harus bertemu dengan Inuyasha dalam keadaanku yang seperti ini dan harus menanggung aib karena kelakuan kurang ajar siluman itu.

Sakit.

Darahku terus menerus keluar dari kedua lukaku. Sepertinya aku tidak cukup dengan mati karena tenggelam saja, kehabisan darah mungkin akan menjadi sebab kedua kematianku. Ah tidak, ada sebab lain aku merasakan sakit. Tetapi ini bukan sakit fisik yang kurasakan, namun sakit hati yang kembali terbuka setelah aku berusaha untuk menutupiya.

Dasar siluman bodoh! Aku harus melihat adegan yang paling tidak ingin kulihat. Inuyasha dan kikyo berciuman…

Flashback

Aku membuka mataku perlahan dan menghela nafas panjang. Sudah kali berapa aku melakukan pola yang sama seperti ini dalam satu hari. Saat aku tidak sadarkan diri dan saat aku membuka mataku kembali pasti aku berada di tempat yang berbeda. Sebelumnya aku bertemu dengan siluman itu saat aku sedang dalam perjalanan menuju Mizuumi Village dan saat aku membuka mata aku sedang terikat di suatu kuil yang sudah tidak terpakai lagi. Dan dari situ aku tidak sadarkan diri lagi setelah aku mengatai siluman itu karena ketidaksopanannya, dan sekarang aku sudah tidak berada di kuil itu lagi, kini aku tengah melayang-layang di udara dengan siluman tersebut.

"Hei! Lepaskan aku! Sebenarnya apa sih rencanamu, hah?"

Aku memandang tajam siluman itu tapi memang dasar siluman, dia malah tidak peduli denganku! Aku memandangnya sebal. Andai saja aku bisa sedikit sihir, mungkin dia akan langsung ku sihir menjadi sesuatu yang sangat sangat sangat menjijikkan dan mudah untuk dibunuh!

Walau aku sedang melayang-layang di udara, tetap saja aku tidak dapat menggerakan tubuhku secara bebas. Jangankan kabur, menggerakkan tangan saja aku tidak bisa! Apa sih yang dia lakuakan kepadaku sehingga tubuhku ini rasanya seperti ditancapkan di dalam tanah!

"Hei, apa yang kau lakukan dengan tubuhku, hah? Cepat lepaskan! Aku kesemutan!"

Bohong sih, tapi semoga dia melepaskanku. Namun tetap saja, tidak ada tanggapan dari dia. Harus menggunakan cara apa lagi untuk terbebas dari dia?

"Kau berisik"

Siluman itu langsung menghampiriku begitu dia selesai berbicara –yang lebih tepatnya menghinaku. Apa lagi ini, apakah dia akan mengabulkan permintaanku tadi? Tapi ditunggu selama apapun dia tidak melakukan sesuatu selain memandangku dari ujung rambut hingga ujung kakiku. Ah, aku risih jika diperlakukan seperti itu.

"Aku ingin memperlihatkan sesuatu sebagai ucapan selamat jalan dari diriku"

"Selamat jalan?"

Ah, apakah akhirnya aku dibebaskan juga? Tapi saat aku memperhatikan apa yang dilakukannya setelah berbicara seperti itu kepadaku, aku menjadi ragu dengan dugaanku pertama. Dia sepertinya sedang merapal beberapa mantera dan tidak lama setelah itu, muncul sesuatu di hadapanku yang dapat memperlihatkan apa yang dilakukan Inuyasha,

"Kau kenal dengan makhluk setengah siluman itu kan?"

Aku tidak menjawabnya.

"Heh, sebaiknya kau perhatikan baik-baik mereka!"

Aku tidak mengerti apa tujuan siluman tersebut memperlihatkan hal ini kepadaku. Aku sudah tidak ada urusan dengan mereka. Terserah mereka mau melakukan apa, sudah tidak ada hubungannya denganku!

Aku mendengus kesal. Ternyata benar Inuyasha memang memilih Kikyo. Yah, memang seharusnya seperti itu sih, tapi walau aku sudah berteriak-teriak tidak peduli lagi dengan apa yang mereka lakukan tetap saja aku merasa kesal. Aku mengalihkan pandanganku, jika aku terus menerus melihatnya bisa-bisa aku mengeluarkan air mata! Argh, dasar siluman menyebalkan!

"Sudah kubilang, kau harus memperhatikannya!"

Aku kaget saat tangan dingin itu memegang wajahku dan memaksa untuk menatap adegan di hadapanku. Uh, benar-benar deh!

"Lepaskan tanganmu itu!" tukasku.

"Apakah kau merasa cemburu dengan hubungan mereka? Kau kenal dengan makhluk setengah siluman itu kan?"

"Bukan urusanmu!"

"Aku mengumpulkan jiwa-jiwa itu untuk tetap bertahan di dunia ini, tubuh yang terbuat dari tanah dan tulang ini tidak bisa bergerak bebas tanpa jiwa-jiwa itu dan juga untuk bertemu denganmu"

Selain melihat aku juga bisa mendengar percakapan mereka. Dan sekarang aku harus menyaksikan mereka berdua berciuman. Sakit. Lebih sakit dari saat aku melihat Inuyasha dengan Kikyo waktu itu. Apa benar sudah tidak ada celah sedikitpun untuk diriku, Inuyasha? Apakah memang aku ini hanya pelarianmu saja?

End of Flashback

End of Kagome POV

Normal POV

Kagome membelalakkan matanya begitu melihat Inuyasha dan Kikyo berciuman. Sungguh, Kagome tidak percaya dengan apa yang dia lihatnya sekarang. Kagome menahan isakannya, dia tidak mau siluman itu mendengarnya walau kini air mata sudah menganak sungai di pipinya. Pandangannya kabur oleh air mata

Tanpa disadari, Kagome sudah masuk dalam jebakan yang dibuat oleh siluman itu. Dia sengaja menunjukan hal tersebut di depan Kagome untuk menenggelamkan Kagome dalam kesedihan. Hal itu dibutuhkan siluman tersebut untuk membangkitkan Ashura. Karena darah dari seorang miko saja tidak cukup, haruslah miko tersebut terperangkap dalam kubangan keputus asaan.

Kagome tidak sadar saat siluman tersebut merentangkan tangan kirinya. Kagome benar-benar sudah dalam keputus asaan hingga ia tersadar saat siluman tersebut menggores lengan kirinya.

"Gyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!"

Saat Kagome ingin melawan dengan tangan kanannya yang bebas, dengan gesitnya silmuman itu langsung menghentikannya. Kagome sudah tidak bisa berkutik lagi. Tubuhnya masih kaku, tangan kanannya tertahan dan kini dia sedang terluka. Terluka fisik dan perasaan. Keadaan semakin memburuk ketika siluman itu menggenggam luka Kagome dengan kuat agar darah yang keluar semakin banyak.

"Kenapa…kau tidak bunuh…saja…aku…" ucap Kagome dengan nafas yang tersengal.

"Tidak, itu tidak boleh terjadi," sahut siluman itu, "Seorang miko yang menjadi syarat untuk kebangkitannya tidak boleh mati sebelum dia bangkit".

Lalu kejadian setelahnya terjadi begitu cepat. Siluman itu selain melukai Kagome, dia juga melecehkan Kagome. Lalu sedetik kemudian terjadi getaran yang hebat setelah suara besar seperti bom terdengar dan air di bawahnya langsung mebentuk sebuah pusaran yang melawan gravitasi lalu kembali tenang. Kagome tahu bahwa yang tengah dibangkitkan oleh siluman itu telah berhasil.

"Nah, sebagai penutupnya…"

Kagome sudah ingin mengakhiri semua ini. Saat siluman itu mengucapkan 'penutup' dia tahu bahwa hidupnya berada di ujung tanduk dan Kagome menerima itu jika ia harus kehilangan nyawanya sampai seseorang memanggil namanya. Kagome mencari sumber suara itu dan melihat Inuyasha. Kagome tidak tahu harus merasa senang atau tidak melihat kehadiran Inuyasha. Bukankah tadi saat Inuyasha berbicara dengan Kikyo dia mengatakan bahwa ke desa ini hanya mencari Shikon no Tama dan itu berarti dia tidak tahu bahwa dirinya sedang berada di desa ini?

Saat Kagome tengah menatap Inuyasha, sesuatu menembus tubuhnya. Siluman itu menusuk tubunya dengan kukunya yang memanjang lalu menjatuhkan dirinya ke danau. Sayup-sayup Kagome dapat mendengar tawa siluman itu, kemudian semuanya gelap.

xxXxx

"Bakuryuha!"

Serangan Inuyasha tidak dapat melukai Ashura. Walau sudah di tebas oleh bakuryuha atau kaze no kizuato, tetap saja Ashura tidak terluka sedikitpun. Berbanding terbalik dengan keadaan Inuyasha sekarang, banyak luka yang diderita olehnya. Belum lagi dengan sebilah kaca yang menancap di punggung kanannya. Darah merembes dari luka yang diderita Inuyasha namun Inuyasha tidak pantang menyerah untuk menyerangnya.

"Cih!"

Inuyasha kembali menyerang. Kini tessaiganya tengah beradu dengan tangan Ashura yang telah bertransformasi menjadi sebilah sabit. Muncul sebuah cahaya merah bermuatan listrik saat tessaiga dan tangan Ashura bergesek. Inuyasha terus bertahan begitu juga dengan Ashura. Dalam pertahanan itu Inuyasha menyadari ada sesuatu yang aneh dan ternyata benar. Tidak begitu lama mereka dalam posisi seperti itu, Inuyasha melihat ada sebuah keretakan pada pedangnya. Awalnya hanya retak kecil saja, namun seiring Inuyasha bertahan dalam posisinya, keretakan itu semakin lama semakin membesar. Melihat ada yang tidak beres dengan pedangnya, Inuyasha memutuskan mundur.

Inuyasha menarik serangannya dan menjauh dari Ashura, begitu juga dengan Ashura, Ashura langsung menjauh begitu Inuyasha menarik serangannya.

'Ada apa denganmu, tessaiga?'

Inuyasha meneliti retak pada pedangnya. Tidak terlalu parah memang, tetapi akan sangat berbahaya jika dia harus kehilangan pedangnya dalam pertarungan ini.

'Apakah mengeluarkan jurus saja akan memperparah keretakkannya?'

Inuyasha mengambil kuda-kuda untuk mengeluarkan kaze no kizuato. Inuyasha dapat bernafas lega karena mengeluarkan serangan tidak begitu mempengaruhi keretakkan pada tessaiga-nya. Inuyasha selalu penasaran dengan serangannya yang tidak dapat mengenai Ashura, padahal saat mereka saling mengadu pedang dengan tangan mereka dapat bersentuhan dan Inuyasha dapat merasakan aura yang terpancar dari tubuh Ashura. Saat kaze no kizuato yang dikeluarkan Inuyasha sembarang, Inuyasha menyadari sesuatu saat serangannya itu tidak sengaja mengenai Ashura.

Selalu ada selubung yang melindungi Ashura begitu dia di serang oleh jurus-jurus yang dikeluarkan Inuyasha.

"Jadi begitu…" gumam Inuyasha.

Sekarang Inuyasha tahu harus bagaimana mengalahkan monster besar dihadapannya. Sebenarnya jika semua jurus yang dikeluarkannya selama ini mengenai –sungguh mengenai— tubuh Ashura, mungkin sekarang monster itu sudah tumbang dan dia sedang menyelamatkan Kagome. Sekarang yang menjadi pertanyaan di dalam otak Inuyasha adalah…

Bagaimana merobek kekkai yang melindungi tubuh Ashura agar serangannya dapat mengenainya?

Inuyasha mengambil nafas dalam-dalam lalu mengeluarkannya. Saat dia sudah siap untuk menyerang Ashura untuk yang kesekian kalinya, dirinya harus menghentikan langkahnya saat ada serangan yang mendahuluinya. Serangan yang sama saat melumpuhkan siluman sebelumnya, panah Kikyo. Seketika Inuyasha mendapatkan jalan keluarnya, saat anak panah itu mengenai Ashura, kekkai yang diciptakan Ashura robek dan anak panah itu dapat melukai tubuh Ashura. Namun kekkai yang robek itu langsung kembali seperti semula.

Yang menjadi masalahnya sekarang adalah Inuyasha tidak mengetahui dimana posisi Kikyo, sehingga hal itu sedikit menyulitkan Inuyasha karena dia membutuhkan waktu yang sangat tepat untuk menyerang ketika anak panah itu menancap di tubuh Ashura.

"Serang sekali lagi, Kikyo!"

Tidak ada jawaban. Inuyasha mengira bahwa Kikyo berada jauh darinya sehingga dia tidak dapat mendengar teriakkan Inuyasha. Namun perkiraan Inuyasha salah, ketika dia hendak menyerang lagi, tiba-tiba dari arah belakangnya meluncur anak panah milik Kikyo. Inuyasha tidak mau membuang waktu untuk rasa kagetnya, dia langsung menyerang begitu anak panah tersebut mengenai tubuh Ashura. Namun sangat disayangkan, serangan Inuyasha tidak bisa mengenai tubuh Ashura karena pemulihan kekkai Ashura lebih cepat dari perkiraannya.

"Cih!"

Seperti membaca pikiran Inuyasha, anak panah yang lain kembali diluncurkan. Tetapi saat mengenai tubuh Ashura, reaksi yang dihasilkan berbeda. Namun Inuyasha tidak mengambil pusing hal itu, segera saja Inuyasha melancarkan serangannya dan akhirnya selama dia bertarung dengan Ashura kini Inuyasha dapat melukai Ashura dan tentu saja Ashura langsung lenyap.

Inuyasha segera mencari Kikyo karena berkat anak panahnya dia dapat mengalahkan Ashura. Namun bukan Kikyo yang didapat, melainkan Kagome yang sedang berdiri menggenggam busur dengan tubuh yang basah dan gemetar. Luka yang diakibatkan oleh siluman itu masih mengeluarkan sedikit darah, dan keadaan Kagome jauh dari kata baik.

Nafas Kagome memburu. Dirinya sudah tidak kuat lagi. Saat tubuhnya terjatuh karena kehabisan tenaga, Inuyasha langsung berlari menangkapnya. Inuyasha memandang Kagome dengan tatapan yang tidak bisa dijelaskan oleh kata-kata. Walau mata Kagome terttutup, dia masih sadar dan dia dapat merasakan tatapan mata Inuyasha.

"Sebaiknya…kau…jangan pedulikan…aku…" ujar Kagome tersengal-sengal.

"Apa maksudmu?"

"Di-dia…belum mati…"

Inuyasha tidak mengerti dengan perkataan Kagome sampai seseorang menyerang mereka berdua. Inuyasha langsung menangkis dengan tessaiganya dan sesuatu yang menyerangnya tadi terpotong.

"Rambut?" ucap Inuyasha bingung.

"Tubuh sebenarnya Ashura…adalah…"

Kagome menunjuk tempat dimana Ashura tadi dimusnahkan oleh Inuyasha. Mata Inuyasha mengikuti jari telunjuk Kagome. Samar-samar dalam kabut asap yang sedang terjadi Inuyasha melihat siluet orang yang sedang berdiri. Hutan sekitar sudah bisa dipadamkan sebagian karena air danau yang tumpah akibat jatuhnya Ashura ke dalam danau sehingga sekarang kabut asap sedang terjadi. Lalu serangan lainnya terjadi dan itu memaksa Inuyasha harus berlari dari tempat itu. Dengan menggendong Kagome, Inuyasha berlari mencari tempat untuk menyembunyikan Kagome.

"Percuma…dia akan…menemukanku…" ucap Kagome.

Inuyasha tidak peduli dengan perkataan Kagome, yang dia inginkan hanyalah Kagome selamat dan dia tidak mau kehilangan dirinya lagi. Namun hal itu harus diurungkan Inuyasha karena apa yang dikatakan Kagome benar. Sejauh apapun Inuyasha berlari, siluman itu dapat menyerang Inuyasha.

"Cih! Lagi-lagi rambut!" umpat Imuyasha.

"Sudah…hentikan…"

Inuyasha menghentikan langkahnya. Memang benar, sejauh apapun berlari jika pada akhirnya akan ditemukan juga, itu terasa seperti sia-sia.

"Hanya ada satu cara…kau…harus mengalahkan…nya…" ucap Kagome.

"Bukankah aku sudah mengalahkannya?" sahut Inuyasha tidak terima jika dia gagal membunuh Ashura.

Kagome menggelang lemah. Dia membuka matanya perlahan dan menatap Inuyasha, "Turunkan aku," pinta Kagome.

"Apa? Tidak! Aku tidak akan menurunkanmu!"

"Ini…bukan waktu yang tepat…untuk…berdebat, Inuyasha. Kau…harus mengalahkan…Ashura, jika tidak desa…ini…akan musnah…"

Walaupun dengan berat hati, Inuyasha mengabulkan permintaan Kagome. Tetapi Inuyasha tidak melepaskan Kagome begitu saja, Inuyasha memeluk pinggang Kagome untuk menjaganya supaya tidak jatuh.

"Keluarkan tessaiga-mu," ucap Kagome.

"Ap-apa? Apa yang mau kau lakukan?"

"Sudah kubilang…ini…bukan tawar menawar, Inuyasha…"

Dengan berat hati (lagi), Inuyasha mengeluarkan tessaiganya. Bukannya Inuyasha pelit untuk memperlihatkan pedangnya pada Kagome, namun Inuyasha tidak mengerti apa yang sedang Kagome rencanakan. Kagome memandang tessaiga milik Inuyasha sejenak lalu melepaskan tangan kanannya yang digenggam oleh Inuyasha. Lalu Kagome mengambil sesuatu dari dalam kantong rok-nya.

Shikon no Tama.

Dengan tidak mempedulikan pertanyaan-pertanyaan yang meluncur dari mulut Inuyasha, Kagome melanjutkan aksinya. Di dekatkan Shiko no Tama pada tessaiga. Seperti yang Kagome duga, tessaiga memiliki respon terhadap Shikon no Tama.

"Semoga, ini dapat memperbaiki pedangmu yang retak,," ucap Kagome.

Tessaiga merespon Shikon no Tama yang tengah dipegang Kagome. Saat Kagome menempelkan Shikon no Tama di bagian yang retak, tessaiga langsung bereaksi. Bukan hanya retaknya yang hilang, kini warna tessaiga sewarna dengan Shikon no Tama.

"Tessaiga menyerap kekuatan Shikon no Tama…?" guman Inuyasha.

Dan seketika Kagome ambruk.

"Kagome! Oi, Kagome!"

"Inuyasha!"

Miroku, Sango dan Shippo menghampiri Inuyasha. Mereka kaget begitu melihat Kagome yang berada dipelukkan Inuyasha tidak sadarkan diri. Langsung saja Inuyasha diburu oleh pertanyaan-pertanyaan yang keluar dari mulut mereka bertiga. Shippo yang paling cerewet, dia menanyakan segala hal hingga detail, Sango juga sama namun dia langsung mengambil alih posisi Inuyasa, sedangkan Miroku hanya menanyakan sekedarnya saja karena pertanyaan yang hendak ia tanyakan sudah diutarakan oleh Sango dan Shippo.

"Jaga Kagome, aku masih ada sedikit urusan"

Inuyasha langsung meninggalkan mereka dan melesat pergi menuju tempat dimana Ashura berada. Sango, Miroku dan Shippo hanya melongo karena buka jawaban yang mereka dapat namun kepergian Inuyasha yang mereka terima.

"Dasar! Dia hutang jawaban pada kita!" tukas Shippo. Sango dan Miroku mengangguk setuju.

"Sebaiknya kita bawa Nona Kagome ke tempat yang aman dan segera obati luka-lukanya," ucap Miroku.

"Kagome-chan…" Sango tidak dapat menahan air matanya begitu melihat kondisi Kagome yang sangat menyedihkan. Banyak luka yang masih mengeluarkan darah. Sango tidak dapat memikirkan bagaimana Kagome pada saat itu, pasti sangat sakit dan begitu menakutkan.

"Sudahlah," Miroku merangkulkan tangannya ke bahu Sango, menenangkan si pemburu siluman itu agar tangisannya segera berhenti. Sango menyandarkan kepalanya di bahu Miroku dan sedikit rasa tenang kini menelusup di dadanya. "Kita tidak kehilangan Kagome, kan? Sebaiknya kita segera membawa Kagome ke desa".

Sango mengangguk dalam pelukan Miroku lalu Sango segera menaikan Kagome ke atas Kirara dan terbang kembali menuju desa bersama Shippo. Miroku sengaja tidak ikut dengan mereka karea dia tahu dia akan diperlukan Inuyasha dalam pertarungan dengan Ashura yang sebenarnya.

xxXxx

Sudah seminggu berlalu semenjak insiden kebangkitan Ashura. Kini para penduduk desa tengah membangun kembali kuil-kuil yang rusak di utara desa juga sedang membenahi hutan yang sempat terbakar. Danau yang menjadi kebanggaan desa tersebut kini rusak akibat pertempuran tempo hari. Danau tersebut masih menyisakan sedikit air dan penduduk setempat juga masih menganggap danau tersebut danau yang keramat. Beberapa penduduk yang rumahnya berdekatan di hutan utara juga sedang memperbaiki rumah mereka yang rusak akibat gempa yang terjadi saat kebangkitan Ashura berlangsung. Penduduk setempat dapat bernafas lega sekarang karena ancaman Ashura yang sewaktu-waktu dapat bangkit kembali kini sudah tidak berlaku.

Penduduk setempat boleh bernafas lega, namun hal itu tidak berlaku dengan Inuyasha. Luka-luka yang diderita olehnya sudah hampir baik namun ada satu hal yang tidak kunjung membaik, yaitu Kagome. Setelah Kagome menyatukan Shikon no Tama dengan tessaiga tempo hari, Kagome kehilangan kesadarannya hingga sekarang. Saat Sango membawa Kagome ke desa untuk diobati, untuk yang kali kedua Kagome lolos dari maut karena kata tabib setempat jika dia terlambat sedikit lagi, nyawanya tidak akan bisa diselamatkan. Sesungguhnya keadaan Kagome pada waktu itu sudah sangat mustahil untuk diselamatkan jika tidak ada daun jinenji. Tabib itu menemukan daun jinenji di kantong rok-nya Kagome sehingga hal itu dapat mempercepat pengobatan Kagome.

Inuyasha memandang wajah Kagome yang kini tengah berbaring di futon. Dalam heningnya ruangan, Inuyasha dapat mendengar hembusan nafas Kagome yang teratur. Luka-luka yang diderita Kagome sudah agak membaik hanya saja kesadarannya saja yang belum kembali. Inuyasha mengusap rambut wajah Kagome dari dahi, lalu turun ke pipi dan berakhir di dagu. Inuyasha memandang sendu gadis di hadapannya. Ada rasa rindu tersendiri yang menelusup di dadanya.

"Bukalah matamu," ucap Inuyasha seraya mencium kening Kagome. Lalu untuk yang terakhir dia memandang wajah Kagome lama dan meninggalkan ruangan Kagome tempat di rawat setelah Sango datang untuk merawat Kagome.

Inuyasha keluar dari peginapan dimana dia dan teman-temannya tinggal di Mizuumi Village. Inuyasha menyusuri jalan setempat untuk menghilangkan perasaan galaunya. Inuyasha tidak tahu mau kemana. Dia hanya mengikuti kakinya kemanapun melangkah.

Otak Inuyasha mengulang kejadian dimana dia bertempur dengan tubuh asli Ashura. Saat dia meninggalkan Kagome pada Miroku, Sango dan Shippo dan mempercayai mereka untuk segera menolongnya, Inuyasha merasa kekuatan lain yang tengah merasuki dirinya. Saat Inuyasha berhadapan dengan Ashura, walau tessaiga-nya sedikit berat dia mampu mengendalikannya dan dapat menggunakannya lebih baik dari biasanya. Melawan tubuh asli Ashura lebih susah dibandingkan saat melawan Ashura dalam bentuk raksasa. Tubuh asli Ashura seperti manusia pada umumnya namun yang membedakan adalah rambutnya yang melilit tubuh Ashura yang polos tanpa pakaian yang juga digunakan sebagai senjata olehnya. Inuyasha mengalami sedikit kesulitan saat berhadapan dengannya, namun Miroku membantunya begitu juga Kouga, Kikyo dan Kagura.

Sebenarnya mereka –kecuali Miroku— tidak sepenuhya membantu. Saat Kouga tiba yang pertama dilakukannya malah menyerang Inuyasha dan menanyakan keberadaan Kagome, lalu saat Kagura datang dia hanya menyerang Ashura ketika Inuyasha telah mengeluarkan jurusnya sehingga jurus Inuyasha dan Kagura bertabrakan dan tidak mengenai sasaran. Hal itu sempat diprotes Inuyasha namun Kagura hanya tertawa dan langsung terbang meninggalkan tempat itu. Inuyasha tidak mengerti apa yang dilakukan Kagura tadi adalah membantunya atau malah menghalanginya sampai Inuyasha melihat perbedaan pada tessaiga-nya. Tessaiga Inuyasha seperti terselubung oleh angin dan Inuyasha mengerti dengan serangan Kagura tadi. Secara tidak langsung, Kagura membantu Inuyasha karena semenjak Tessaiganya ditanamkan Shikon no Tama, tessaiga dapat menyerap serangan dari lawan dan kebetulan Kagura memiliki serangan bertipe angin, sama seperti Inuyasha. Sedangkan dengan Kikyo, dia hanya melepaskan anak panahnya sekali setelah itu tidak ada lagi anak panah lainnya.

Saat Inuyasha sudah berhasil mengalahkan Ashura –bersama Kouga dan Miroku— muncul Seshomaru bersama pengikutnya, jaken dan Rin. Rin adalah seorang anak manusia yang telah ditolong oleh Seshomaru dan sekarang dia mengikuti kemanapun Seshomaru melangkah. Sedikit aneh memang mengingat Seshomaru tidak begitu dekat dengan manusia memiliki pengikut seorang manusia. Seshomaru memberitahu Inuyasha bahwa tidak jauh dari tempat mereka bertempur, dirinya berjumpa dengan Naraku. Tetapi Naraku yang Seshomaru temui hanyalah bonekanya saja karena saat Seshomaru berhasil menghabisi Naraku, tubuh Naraku digantikan oleh sebuah boneka kayu yang biasa digunakan Naraku untuk dijadikan pengganti dirinya.

Tanpa disadari, Inuyasha telah memasuki hutan utara desa, tempat dimana dia bertempur dengan Ashura. Inuyasha mendekati danau dan duduk dengan menyilangkan kakinya di pinggiran danau. Saat memandang danau Inuyasha jadi teringat dengan Kagome. Inuyasha masih memikirkan bagaimana cara Kagome keluar dari danau tersebut. Padahal Inuyasha melihat dengan mata kepalanya sendiri saat Kagome tenggelam di danau dia sudah kehilangan kesadarannya. Inuyasha menjulurkan kepalanya dan menatap air dan pantulan dirinya di danau tesebut. Inuyasha terkejut begitu dia melihat pantulan seseorang yang dia kenal di permukaan air danau. Inuyasha mendongakkan wajahnya dan mendapati Kikyo tengah memandangi dirinya.

"Kikyo…"

"Pada akhirnya kaulah yang mendapatkan Shikon no Tama itu…"

"Apa maksudmu?"

Kikyo berjalan mendekati Inuyasha yang berada di seberangnya, memperkecil jarak diantara mereka berdua. Kikyo menghentikan langkahnya saat jarak diantara mereka tidak terlalu jauh.

"Sekarang apa yang ingin kau lakukan, Inuyasha?"

"Hah?"

Inuyasha tidak mengerti apa yang dikatakan Kikyo. Tentu saja setelah Kagome siuman dan membaik dia akan kembali ke desa Nenek Kaede dan mengembalikan Kagome ke dunianya utnuk perawatan lebih lanjut. Namun Inuyasha tidak bisa mengatakan hal itu karena Inuyasha masih menganggap bahwa Kikyo tidak tahu keadaan Kagome.

"Alasan utama kau di desa ini bukan karena Shikon no Tama semata saja kan?"

"…"

"Kagome…ya, karena gadis itu kan!"

Kikyo berjalan ke arah Inuyasha dan menarik pakaian Inuyasha, "Lalu kenapa waktu itu kau membalas ciumanku?"

"Itu…"

"Seharusnya itu yang menjadi pertanyaanku".

Inuyasha dan Kikyo menoleh mencari sumber suara. Inuyasha terkejut melihat Kagome karena saat dia meninggalkan penginapan Kagome belum sadarkan diri. Namun Kikyo tampak tidak terkejut dengan kehadiran Kagome dan dia masih mencengkram pakaian Inuyasha dengan kasar, malahan Kikyo makin meremas pakaian dalam genggamannya.

Kagome berjalan menghampiri mereka berdua dengan Kirara yang mengekor di belakangnya. Kagome menghentikan langkahnya tidak begitu jauh dari mereka berdiri dan memandangi Inuyasha dan Kikyo.

"Seharusnya itu menjadi pertanyaanku karena aku juga melihat apa yang kalian lakukan pada waktu itu"

"Apa? Jadi…" Inuyasha tidak meneruskan ucapannya. Dirinya terlalu terkejut untuk meneruskan kata-katanya. Mendadak Inuyasha merasakan sakit dikepalanya karena hari ini Inuyasha terlalu banyak mendapatkan kejutan.

"Apakah kau juga mendengar percakapan kami?" Tanya Kikyo datar.

"Ya…" sahut kagome.

Hening menyapa mereka bertiga. Setelah Kagome menjawab pertanyaan Kikyo tidak ada lagi yang angkat suara. Kagome memandang sendu Inuyasha yang sedang menatapnya juga sedangkan Kikyo memandang Kagome dengan tatapan sebal.

"Kau menang, Kikyo…" akhirnya Kagomelah yang angkat suara. "Aku memang hanya pelarian baginya," ucap Kagome dengan masih memandang Inuyasha.

"Heh, kalau begitu cepatlah pergi dari sini!" tukas Kikyo.

"Aku akan pergi, namun aku tidak akan meninggalkan tanggung jawabku di dunia ini. Setelah Shikon no Tama telah menjadi satu bola yang utuh, aku akan benar-benar meninggalkan semuanya. Namun selama aku masih mencari pecahan Shikon no Tama aku tidak akan menemuimu, Inuyasha," setelah berbicara seperti itu, Kagome melangkah pergi meninggalkan mereka. Belum jauh Kagome melangkah seseorang menahan tangan kirinya dan saat Kagome berbalik ternyata yang menahannya adalah Inuyasha.

"Apa maksudmu dengan pelarian? Dan apa pula dengan ucapan selamatmu pada Kikyo tadi?"

"Bukankah kau memang memilih dia dibandingkan aku? Bukankah kau masih mencintainya dan kebersamaanmu denganku dikarenakan kemiripanku dengannya?"

"Apakah aku pernah mengatakan hal itu?"

"Tidak, tapi jelas dengan sikapmu itu!"

Kagome berusaha melepaskan genggaman Inuyasha dan saat terlepas Kagome melanjutkan langkahnya. Saat Kagome hendak menaiki Kirara, Inuyasha menarik tangan Kagome untuk yang kedua kalinya.

"Lepaskan!" Kagome berusaha lepas dari Inuyasha, namun semakin Kagome berontak Inuyasha semakin kencang menggenggam tangan Kagome dan itu membuat Kagome sedikit meringis kesakitan. Inuyasha menarik Kagome dalam pelukkannya dan memeluknya dengan sangat erat sehingga Kagome kesulitan untuk bernafas.

"Aku tidak mau kehilangan dirimu lagi, Kagome…"

Kagome mendorong tubuh Inuyasha. Dan mencoba menaiki kirara untuk yang kedua kalinya namun hal itu langsung dicegah oleh Inuyasha dengan menarik tangannya Kagome dan menjauhi Kagome dari Kirara. Kagome yang tidak menerima perlakuan Inuyasha langsung menepis tangan Inuyasha dan pegangan mereka terlepas.

"Jika kau tidak ingin kehilangan diriku, kenapa kau menciumnya?"

"Kagome…"

"Aku bukan boneka yang bisa kau mainkan seenaknya, Inuyasha!"

"Kagome, aku…"

"Kau tidak bisa memiliki keduanya," kali ini Kikyo angkat bicara. "Kau harus memilih, aku atau dia…"

Inuyasha memandang Kikyo sejenak lalu mengalihkan pandangannya pada Kagome. Lama Inuyasha memandang Kagome lalu keputusan itu akhirnya terucap dari mulut Inuyasha.

"Aku mencintai Kikyo…"

Kagome membelalakan matanya. Walaupun dia sudah memprediksi hal seperti ini akan terjadi, tetap saja dirinya merasa syok. Mata Kagome memanas. Dia tidak mau menangis di depan mereka, apalagi di depan Kikyo.

"Aku belum selesai berbicara, Kagome…" ucap Inuyasha saat Kagome hendak melangkah pergi lagi. Kagome mengurungkan niatnya itu dan lebih memilih mendengarkan penjelasan Inuyasha. Walau nanti dia akan merasakan sakit dan akan menangis nantinya, mau tidak mau dia harus melakukan itu agar saat dia mencari Shikon no Tama tanpa Inuyasha dan yang lainnya tidak ada rasa penasaran lagi yang menghantuinya dan tidak ada tangisan penyesalan jika suatu saat dia mengingat Inuyasha.

"Aku memang mencintainya dan saat aku bertemu dengannya malam itu yang kuinginkan hanya satu, yaitu terus bersamanya…"

Kagome memejamkan matanya, berusaha agar tidak menangis. Walau sekarang dia sedang membelakangi Inuyasha, rasanya itu tidak cukup untuk mengurangi rasa sakitnya dan akhirnya satu tetes air mata jatuh di pipi Kagome dan Kagome segera menghapusnya.

"Tapi perasaan itu segera lenyap saat aku berjumpa dengan Kagome dan saat aku harus menyaksikan dia terjatuh ke danau dengan tubuh yang pebuh luka seperti ada sesuatu yang menghilang," ucapnya sambil memegangi dada sebelah kirinya.

"Kikyo, aku memang mencintaimu, tapi semuanya sudah tidak sama lagi. Perasaanku ini hanya untuk Kikyo yang dulu kukenal dan juga…" Inuyasha meraih tangan Kagome, "Kini ada seseorang yang sangat penting bagiku…"

Kikyo memandang dingin Inuyasha dan Kagome. Sebenarnya dia tahu bahwa dia tidak akan memenangkan permainan ini tapi dia tidak pantang menyerah dan saat Inuyasha membalas ciumannya tempo hari, sejenak dia berpikir bahwa Inuyasha akan menjadi miliknya, sepenunya. Dan sekarang Kikyo juga tidak mau mengalah begitu saja, karena perjanjiannya dengan Kagome adalah Inuyasha harus menyatakan perasaannya kepada Kagome di depannya dan itulah saat dimana Kikyo harus menerima kekalahan.

"Heh, aku terima semua ucapanmu, Inuyasha. Tapi yang kutahu kau masih menaruh hati kepadaku, kan?"

"Ya, tapi itu dulu yang sekarang kucintai hanyalah Kagome…"

Dan game over untuk Kikyo…

Kagome membuka menahan nafasnya saat Inuyasha berbicara seperti itu. Matanya kini telah terbuka dan dia menolehkan kepalanya dan melihat Inuyasha yang sedang memandang Kikyo. Wajah Kikyo sangat susah ditebak namun satu yang Kagome tahu, Kikyo akan semakin membenci dirinya.

"Aku mengerti," sahut Kikyo datar, "Tapi kau harus ingat satu hal Inuyasha, aku akan membawamu ke neraka bersamaku dengan begitu semua dendamku padamu akan terlunasi…"

Setelah itu Kikyo pergi dan menghilang di balik rimbunnya hutan utara desa. Kagome masih memandang Inuyasha dengan tatapan tidak percaya. Apakah tadi dia baru saja bermimpi? Apakah tadi dia salah dengar? Semua pertanyaan itu terjawab saat Inuyasha semakin erat menggenggam tangan Kagome lalu Inuyasha membalikkan tubuhnya dan memandang mata Kagome yang sedikit basah dengan air mata.

"Osuwari!"

"Bodoh! Apa yang kau lakukan! Kau mau menyakiti dirimu sendiri, hah?"

Kagome sudah tidak bisa menahan air matanya dan kini dia menangis. Inuyasha yang tidak mau melihat air mata Kagome lagi segera menghapusnya dengan tangannya yang bebas.

"Kumohon jangan menangis la…"

"Apakah yang kau katakana tadi benar?"

"Tentu saja!"

"Lalu kenapa aku masih melihat penyesalan di wajahmu…?

Inuyasha tertegun dengan perkataan Kagome dan langsung menarik kepala Kagome dalam pelukannya, "Ya, aku menyesal. Tapi penyesalanku itu karena akulah yang membuat Kikyo menjadi seperti ini…"

Ternyata, walau mereka sudah tidak ada hubungannya lagi dan Kikyo kerap meyakiti dan melukai Inuyasha, Inuyasha masih saja memeperhatikan Kikyo. Kagome tahu bahwa Kikyo menjadi seperti ini akibat Naraku, namun jika tidak seperti itu dia tidak akan bertemu dengan Inuyasha. Mungkin dulu dia sangat menyesali dia harus terlibat dengan dunia ini, namun sekarang Kagome mensyukurinya karena semuanya sudah membaik sekarang.

Kagome mengangkat kepalanya dan memandang Inuyasha. Lalu bibir mereka saling bertautan, melepas semua kerinduan dan semua kegalauan yang pernah mereka alami.

xxXx

Kagome tengah mempersiapkan barang-barangnya karena siang nanti dia akan kembali ke dunianya. Tadinya dia menolak namun Inuyasha dan yang lainnya memaksa untuk kembali agar Kagome sembuh 100% dan bisa bergabung kembali dengan mereka dalam pencarian Shikon no Tama. Kecuali Kouga, dia menawarkan Kagome untuk ke kawanannya jika tidak mau kembali ke dunianya dan itu membuat Inuyasha memberi jitakkan ke kepala Kouga dan cubitan maut Sango.

"Aku masih ingin tahu kenapa kau waktu itu meninggalkan kelompokku tiba-tiba?" Tanya Kouga.

"Ah itu…" Kagome berhenti sejenak, berusaha mengingat-ingat kejadian waktu itu. "Aku tidak mau merepotkanmu dan aku juga tidak mau dicap sebagai gadis yang memanfaatkan kebaikan seseorang".

"Maksudmu?"

"Kau akan tahu jika kau menanyakan itu kepada anak buahmu," ujar Kagome sambil tersenyum.

Yang dikatakan Kagome memang benar. Pagi itu saat Kagome hendak mencari Kouga tanpa sengaja dia menangkap dengar seseorang yang sedang berbicara dan mereka menyebut-nyebut nama Kagome dan Kouga. Saat Kagome hendak mendengarnya lebih jelas, Kagome merasa seharusnya tidak mendengarnya karena mereka –dua siluman serigala itu— menganggap Kagome sebagai gadis yang langsung membuang sesuatu jika itu tidak berguna lagi dan akan mencari yang baru. Dalam artian, Kagome meninggalkan Inuyasha karena dia sudah bosan dan kini berpaling pada Kouga karena Kagome tahu bahwa Kouga menaruh hati padanya dan langsung memanfaatkannya. Sungguh mereka salah paham dan seharusnya mereka tidak berbicara seperti itu tanpa tahu kejadian yang sebenarnya.

"Sebaiknya kau segera mencari siapa anak buahmu yang telah berani berbicara seperti itu," tukas Inuyasha dan langsung membawa Kagome pergi. Inuyasha membawa Kagome ke atas pohon di hutan tidak jauh dari rumah Nenek Kaede karena pemandangan dari atas pohon ini sungguh indah.

"Bagaimana keadaanmu?" Tanya Inuyasha saat mereka sudah duduk di dahan pohon yang paling besar dan merupakan tempat yang sangat bagus untuk memandang desa di bawah mereka.

"Baik," sahut Kagome sambil menyenderkan kepalanya pada bahu Inuyasha.

Lama mereka seperti itu. Menikmati angin yang bertiup ringan dan sinar mentari yang hangat yang menelusup dari rimbunnya daun pepohonan. Mereka sangat menikmati saat-saat seperti ini karena mereka jarang sekali melakukannya.

"Boleh aku menanyakan sesuatu, Kagome?" ujar Inuyasha. Kagome hanya mengangguk dan masih memejamkan matanya. "Bagaimana kau bisa keluar dari danau itu?"

Kagome mengangkat kepalanya dan memandang Inuyasha lembut lalu tersenyum, "Karena aku juga memiliki tanggung jawab untuk melenyapkan Ashura karena berkat aku juga dia bisa bangkit kembali".

"Lalu, kau tahu dari mana bahwa Ashura memiliki dua tubuh?"

"Karena siluman itu. Tidak lama aku jatuh ke dasar danau, siluman itu juga jatuh ke danau. Tiba-tiba ada sesuatu yang masuk kedalam pikiranku dan aku langsung sadar dan segera berenang ke atas. Sesuatu yang masuk ke dalam pikiranku itu adalah ingatan siluman itu tentang Ashura yang dulu adalah kekasihnya. Mungkin karena Shikon no Tama air di danau itu juga bereaksi sehingga aku bisa mendapatkan ingatan itu.

Lalu aku langsung mengambil Shikon no Tama milikku yang dia ambil secara paksa dan Shikon no Tama yang tertanam di tubuhnya. Aku juga mencabut anak panah yang tertancap di tubuhnya lalu aku segera keluar dari danau itu dengan susah payah…"

Inuyasha mengusap kepala Kagome dan mencium keningnya saat Kagome selesai berbicara. Sebenarnya dia bersyukur juga dengan kejadian itu karena berkat itu dia dan Kagome sudah berbaikan dan lebih dari itu, mereka berdua mengetahui perasaan mereka masing-masing.

"Sudah waktunya kau kembali," Inuyasha menggendong Kagome turun dan segera melesat pergi ke rumah Nenek Kaede. Setelah berpamitan dengan Nenek Kaede dan yang lainnya Kagome langsung menuju hutan dimana sumur itu berada. Kagome melambai kepada mereka yang mengantar –Miroku, Sango, Shippo, Kirara, Nenek Kaede dan Kouga. Kouga mau tidak mau harus melepas Kagome pergi walau berat. Kagome hanya tersenyum melihat Kouga seperti itu dan akhirnya dia melompat ke sumur itu bersama dengan Inuyasha menuju dunianya.

O W A R I

A/N :

47 lembar, 15455+ kata!

Huaa! Kelar! Akhirnya selesai juga fic ini! *banzaibanzaibanzai*

Rencana awal selesai dalam 30 lembar, lalu jadi 40 lembar! Target akhir paling banyak 45 lembar dan nyatanya 47 lembar! Huaaaa! Jadi megar begini dah…

Hehhehe *ditimpuk speaker sama readers*

Terima kasih saya ucapakan kepada para readers yang meninggalkan jejak kalian! Sumpah, itu menjadi penyemangat saya! Dan juga kepada silent readers, saya juga ucapkan terima kasih^^

Saya juga mau ngucapin terima kasih kepada teman-teman saya yang bersedia memberi saya masukan dan ide-ide untuk fic ini *peluk-peluk mereka*

Err, maap banget ya, saya lama apdetnya, mianhe m(_ _)m

Saya waktu itu kena WB, jadinya ide mandek, nggak bisa nulis kelanjutannya ditambah waktu untuk nulis nggak ada dan tekanan sewaktu menjadi maru yang sungguh seperti jaman jahiliah membuat saya sedikit stress…

Tapi akhirnya itu semua sudah lewat dan saya menpersembahkan fic terpanjang yang pernah saya buat dan semoga para readers puas dan juga jangan ketiduran ya, karena panjang banget..

Sekedar info, untuk penggambaran monster (Ashura) disini, sepenuhnya bukan hasil ide murni saya. Saya ambil sedikit ide dari sebuah shounen manga dan kalian pasti mengenalnya

Sungguh, kalau bikin adegan pertempuran dan harus menggambarkan monster itu sangat sulit

Seperti biasa, saya akan membalas review dari anonymous reader^^

YuYa Akatsuki eL-Gaara : Gomawo YuYa-ssi udah mau baca fic gaje aku^^

Love u *pelukpeluk* *PLAK*

Zero bie : Arigato Zero-san udah mau baca fic ini

Hahaha, aku juga dapet ide ini karena greget sama kelakuan Inuyasha..

Terima kasih ya, atas dukunganmu untuk Kagome

Ren-chan : udah apdet nih , bagaimana apakah ceritanya masih ngegantung?

Makasih ya Ren-chan, udah mau baca fic aku^^

ZaHrA InDiGo LoVeRs : Salam kenal juga^^,

Makasih banget kamu suka sama fic aku *senyum-senyum gaje*

Akhirya berakhir dengan happy ending *PLAK!* *itu kan menurut author saja*

Hehehe,

Sekali lagi, makasih ya…

Tsuki Sora : Aduh, jangan bunuh saya, ini sudah saya apdet!

Thanks ya sora-san udah mau baca fic aku

UchihaHinataHime : Udah aku lanjutin nih…

Honto ni? Hurt-nya beneran kerasa? Syukurlah…

Thanks ya udah baca fic aku

Untuk yang punya akun, saya balas lewat PM ya….

Ja, Minna-san, bagaimana chap kali ini? Apakah lebih buruk atau lebih baik? Apakah jalan ceritanya gag nyambung? Apakah membosankan?

Bagaimana? Apakah kalian menyukainya?

Aku tunggu ya komen kalian di review….

Onegaishimasu m(_ _)m

Flame will be accept, asal itu membangun. So mind to give me some review?