Disclaimer: Bleach punya Tite Kubo.

Kalo punya diriku, pasti Ulquiorra hidup ampe ne manga selesai. Huh dasar Tite, bikin Ulqui mati, ga terima diriku *Bhukk - dihajar Tite - kan aku yang bikin Bleach*

Pairing: UlquiHime *kyaa*

Genre : Diriku bikin Romance

Rated : Cuma T koq

Warning : Typo, EYD, Judul ga nyambung bgt. Apaan tu? YOU? K-A-M-U? Ada apa dgnmu….

Agak gaje, bukan agak lagi malah. Ripyuw ya…

Fic pertamaku di fandom Bleach….

Ganbatte!

Don't Like. Don't Read. Just Review. Write everything you want to say.

Roll and…. Action!

You Chapter 1 : Welcome!

"Dan aku akan hidup untuk menyukai laki-laki yang sama sebanyak lima kali" Orihime tersenyum dalam tangisnya.

o0o0o

Lubang hitam itu terbuka, "Ikut denganku, Onna" Gadis berambut orange itu menatap lelaki yang mengulurkan tangan putih pucatnya, wajah tampannya, datar tak menyiratkan secuil ekspresipun. *kyaa! Ulqui-kun - plakk*

Gadis bermata abu-abu mendekat dan meraih tangan lelaki itu. Sang pemuda mengalihkan pandangan mata emerald miliknya. Kedua sosok itu menghilang dalam lubang hitam itu, Garganta.

o0o0o

Orihime menyadari kakinya kembali berpijak. Lelaki pucat berambut hitam melepas tangan Orihime. Orihime menyadari bahwa dirinya telah sampai di Hueco Mundo, dunia para Hollow.

"Ikuti aku, Onna" Ucapnya. Orihime mengikuti pemuda itu dengan patuh . Diam menyelimuti langkah dua pasang kaki. Hampir saja Orihime tidak menyadari bahwa lelaki itu berhenti. Lelaki itu menoleh pada Orihime, lalu membuka salah satu pintu besar itu denga tangan kirinya. Orihime melangkahkan kakinya masuk, dia melihat sosok berambut coklat dengan wajah tampan di atas sana, menatap dirinya, seringai indah terpampang di wajahnya.

"Selamat datang di Hueco Mundo, Orihime Inoue" Seketika reiatsu orang itu meningkat. Orihime dapat merasakannya. Reiatsu tersebut membuatnya tertekan, 'kuat sekali' batinnya. Orihime mengenal orang ini sebagai mantan kapten divisi 5 gotei 13, Sousuke Aizen.

Aizen meminta Orihime menunjukkan kekuatannya. Orihime memperlihatkan kekuatan penyembuhan yang dimilikinya, dia mengembalikan tangan salah satu Espada yang telah terpotong. Espada berambut biru itu menyeringai, setelah Orihime memenuhi permintaan pribadinya, luka pada punggungnya disembuhkan. Lelaki bermata safir itu membunuh salah satu Espada dan tertawa bangga dengan kerasnya.

"Ulquiorra… Kau yang akan mengurus dan menjaga Orihime Inoue selama berada disini" Aizen berkata dan bangkit dari tempat duduknya. Ulquiorra mengangguk tanda mengerti.

" Selamat… Grimmjow" Aizen menyeringai. Lelaki yang di panggil Grimmjow itu kembali menyeringai.

" Selamat tinggal Mantan nomor 6" Tawanya kembali menggema. Aizen telah benar-benar meninggalkan ruangan tersebut.

Lelaki pucat melangkahkan kakinya lalu menoleh pada gadis berambut orange, "Apa kau tetap ingin disini, Onna?" Orihime menyadari bahwa ia harus mengikuti pemuda ini. 'Ulquiorra ya' batin Orihime. Orihime mengikuti langkah sepasang kaki di depannya.

"Kau sudah mau pergi ya, Pet-sama?" Grimmjow tersenyum, lebih tepatnya seringai. " Terima kasih" Ucapnya lagi sambil benar-benar tersenyum. Orihime merasa aneh, seorang espada mengucapkan terima kasih padanya.*bayangkan readers, seorang espada, grimmjow lagi - plakk! memangnya tidak boleh ya author bodoh - sakit*

"Ini kamarmu, Onna." Perlahan tangan kiri yang pucat itu kembali membuka pintu ber-ornamen naga di sampingnya. Orihime dapat melihat sebuah tempat tidur ukuran sedang di sana, sebuah meja agak ke kanan dan sepasang kursi di kiri kanan meja tersebut. Lalu tepat di antara tempat tidur dan kursi terbingkai sebuah jendela dengan jeruji besi terpasang di sana. Bagaimanapun orihime menyadari bahwa dirinya adalah tahanan.

Orihime melangkah masuk, ada pintu lain di kamar itu juga sebuah lemari. 'lemari pakaian mungkin' batinnya. Ternyata ruangan ini tidak terlalu besar seperti dugaan sebelumnya. Namun juga tidak terlalu sempit untuknya, malah lebih besar dari kamarnya di Karakura dulu. 'Karakura ya? Sepertinya aku tidak bisa kembali kesana lagi' batinnya teringat Kota Karakura. Wajah Orihime berubah semakin murung. Ulquiorra menyadari perubahan ini.

"Aku akan datang lagi saat waktu makan malam untukmu" Ulquiorra memberi tahu.

"I-iya" Orihime mengangguk.

"Tukar bajumu dengan baju yang ada di lemari" Ulquiorra menunjuk satu-satunya lemari di situ. "Kau bagian dari kami sekarang, Onna. Masih banyak baju seperti ini dalam lemarimu" U;quiorra menunjuk baju miliknya. Orihime mengangguk tanda mengerti lalu menatap langit melalui jendelanya. Matanya menyiratkan kesedihan yang dalam.

Ulquiorra melangkah untuk pergi. Sebelum ia benar-benar meninggalkan Orihime. Ia mendengar gadis itu berguman. "Kurosaki-Kun" . Akhirnya pintu itu benar-benar tertutup. Ulquiorra bertahan pada posisinya, membebankan berat tubuhnya pada pintu itu. 'Kurosaki ya' Ulquiorra menghela napas, 'Sepertinya lelaki itu sangat berharga baginya. Lelaki yang dia beri salam perpisahan' batin Ulquiorra lagi.

Langkah Ulquiorra untuk menuju kamarnya terhenti saat Nnoitra Jiruga berdiri dihadapannya. "Bagaimana keadaan Pet-Sama, Cuatro? Kalian telah melakukan apa saja? Sepertinya belum ya? Apa aku saja ya?" Ungkapnya.

"Diam. Itu bukan urusanmu, Quinto."

"Cih! Kau melindunginya ya? Ingin menikmati Pet-Sama sendirian"

Ulquiorra memberi deathglare dengan wajah datarnya (?). "Aku hanya menjalankan perintah Aizen-Sama."

"Sayang sekali, kalau aku jadi kau…. Aku tidak akan menahan diri pada gadis manis itu" Ulquiorra melangkah pergi tanpa mendengarkan ucapan Nnoitra.

"Hey… Cuatro. Kau mendengarku tidak? Ingin ku hajar kau ya? Mau bertarung denganku Ha?" Nnoitra berteriak karena Ulquiorra yang semakin jauh. Ulquiorra memberi deathglare (Lagi?)

"Kau tidak pernah menang dariku, Quinto." Lalu Ulquiorra ber-sonido. 'Huh… dasar orang itu' Ulquiorra merutuki Si Quinto.

o0o0o

Ulquiorra melangkahkan kakinya menuju kamar Orihime. Dia berjalan bersama seorang Arrancar pelayan yang mendorong kereta makanan.

"Oh…. Sekarang kau jadi pelayan ya…. Cuatro?" kali ini yang menghentikannya adalah Grimmjow Jaegerjaques, sang Sexta Espada. Tak ada jawaban dari bibir Ulquiorra dan iapun berlalu pergi. Meninggalkan sorot mata mengejek untuk Grimmjow namun tetap dalam wajah datarnya. Grimmjow mendengus kesal. " Setidaknya bantah aku Cuatro" teriaknya menggema.

Ulquiorra sampai dikamar Orihime. Dia mengambil nampan yang berisi makanan. " Aku masuk, Onna". Ulquiorra sempat terkejut melihat Orihime yang tertidur di atas kasur, namun poker face-nya terpasang lagi. Dia mendekati Orihime, meletakkan nampan di atas meja. Lalu pandanganya beralih pada Orihime. Tampaknya Orihime telah mengganti bajunya dan dia terlihat sangat kelelahan.

Ulquiorra menggerakkan tangan kirinya, menyentuh bahu Orihime dan menggoyangnya, seraya berkata," Bangun…. Kau harus makan malam, Onna…. Barulah tidur" Orihime tak bergeming.

"Kurosaki-kun" Orihime malah mengingau. Ulquiora menghela napas, lalu meningkatkan tenaga pada tangannya, dan mengguncang tubuh Orihime lagi. Orihime akhirnya terbangan. Dia tampak terkejut.

"A-da apa?" Orihime bertanya. Ulquiorra mengubah arah pandangannya ke atas meja. Orihime mengerti maksudnya. "Baik" Ulquiorra menunggui gadis itu menghabiskan makan malamnya. 'Lagi-lagi nama itu' batinnya.

Setelah beberapa saat, "Aku sudah selesai" Perkataan Orihime menyadarkan Ulquiorra. Pemuda dingin itu mengambil piring bekas Orihime makan. Dia melangkahkan kakinya hendak meninggalkan kamar. Sesaat orihime berkata. "A-Ano…. Terima kasih" Ulquiorra nyaris melengkungkan bibirnya, namun tidak jadi.*author kecewa*

"Sekarang kau bisa tidur. Aku akan datang esok pagi. Mengantar sarapanmu, Onna" Ulquiorra menutup pintu. Lalu memberikan piring kotor Orihime pada Arrancar pelayan. Ulquiorra ber-sonido menuju kamarnya di menara keempat. Meninggalkan Seorang manusia di menara kedua.

Di dalam kamar Orihime menatap pintu yang baru saja tertutup. Ia menghela napas, lelah. Lalu kembali menatap bulan sabit dari balik jeruji jendela. Perlahan Orihime menuju tempat tidurnya. Ia bersiap untuk menutup matanya malam ini. Air mata menggenang di sudut matanya. Dan berharap bahwa ini semua hanya mimpi. Ulquiorra yang mengajaknya, Hueco Mundo, bulan sabit dan langit gelap serta ruangan ini. Ia berharap semua ini adalah mimpi dan akan terbangun esok pagi. Orihime memejamkan matanya.

Cut!

A/N : Di fic ini, para Espada, Arrancar dan Shinigami bukan makhluk yang telah mati kayak di Bleach. Tapi manusia yang memiliki kekuatan. Bisa dibilang sama aja kayak Quincy. Manusia yang memiliki kekuatan lebih. Walau mereka manusia tapi ga tinggal di bumi, tapi di Hueco Mundo n Soul Society. Cuma itu ja koq yang beda *anggap ja masuk akal ya readers - kukuku*

Cerita berlanjut!

Hah…. Selesai juga akhirnya chap 1….

Ga OOC kan?

*author geblek, kenapa Cuatro bodoh nyuekin aku? aq jadi tampak bodoh juga tahu…

*Grimm?

*kau itu memang bodoh, kucing biru sialan, deathglare ke grimm

*deatglare ke ulqui

*author lari, takut kena tebas. Ntar ga bisa ngelanjutin fic…. Kan kasian readers, pada sedih

*author di timpuk readers pake duit, siapa yg sedih ha?

gomen kalo banyak mistypo dan tidak sesuai dengan harapah readers

ripyuw y