Disclaimer: NG Life by Kusanagi Mizuho

Pairing: Syricuse (Sirix) & Selena (Serena)

Warning: Abal, alur cepat, typo(s), freak, memuakkan, dsb. Dan yang paling penting ini mengandung spoiler XD. Jadi di last chapter ini kebanyakan adegan diambil dari volume 8 & 9 yang ya begitulah. Juga ada beberapa quote dari manganya langsung. Tapi ga semua, jadi tebak aja mana yang emang cerita di komik atau yang imajinasi saya #eh. Jadi, jikalau anda tidak berminat melihat spoiler, mungkin sebaiknya tahan dulu hahai.

A/N: Ini Last Chapter kawan! Last Chapter! *nangis guling guling*. Bahagia rasanya menyelesaikan ff ini. Ff pertama yang completed haha. Sebenernya udah selesai dari waktu itu tapi ga berani post ;_;. Oh ya di chapter 1 saya nyebut-nyebut nama abang Brutus kan? Maaf itu harusnya Britius. Waktu itu saya salah baca, bacanya malah Brutus dan kemarin-kemarin baru baca lagi Britius. Maafkan hamba ._. Oke saya tahu ini sepertinya sudah ratusan tahun berlalu. MAKA SAYA (kembali) MINTA MAAF YANG SEBESAR-BESARNYA KARENA LAMA UPDATE! *lari ke pojokkan*. Last, bagi yang berminat baca, monggo di nikmati hihi. *tebar bunga kesana-kemari*


Lasting Love

(Chapter 3: Last Time With You)

Aku ingin menyelamatkan semuanya. Aku ingin menyelamatkan Selena dari kengerian ini. Aku juga ingin menyelamatkan Nona Aglaia yang tidak bersalah atas terbunuhnya Duovir Marcus. Loreius pun tahu benar Nona Aglaia yang telah menyelamatkan hidup kami berdua tidak mungkin berani membunuh orang. Ini semua jebakan. Kalau saja tidak ada jebakan ini, aku pasti bisa menyelamatkan semuanya. Semua orang yang kusayangi dan Selena yang kucintai.

*'*'*

Lorieus dan aku segera berlari menuju ke tempat Nona Aglaia ditahan. Nona Aglaia tidak pantas dipenjara atas apa yang tidak pernah ia lakukan. Semua ini pasti ulah dari salah satu kandidat Duoviri yang membenci keluarga Felix. Ini semua pasti ulah Albanus Britius. Dengan Nona Aglaia menjadi tersangka pembunuhan, bukan tidak mungkin Britius dengan mudah menjadi Duoviri selanjutnya, mengalahkan Tuan Gaius, ayah Nona Aglaia. Aku tahu politik itu kejam. Hanya karena adanya suatu persaingan politik, Nona Aglaia terkena imbasnya.

Dilos. Andai saja bukan ia yang menjebak Nona Aglaia pasti Nona Aglaia tidak akan menimpa kesedihan yang berturut-turut. Orang yang ia percayai justru menjebaknya dalam situasi penuh intrik seperti ini. Aku tahu Dilos menyimpan perasaan suka pada Nona Aglaia dan sepertinya begitu pula Nona Aglaia. Tapi mengapa Dilos mengikuti perintah Britius untuk menjebak Nona Aglaia hingga menjadikannya terlihat sebagai pelaku pembunuhan Duovir Marcus?

"Nona Aglaia!" panggil Loreius saat melihat orang yang telah menyelamatkan nyawa kami terlihat rapuh dalam kurungan sel.

Pandangan Nona Aglaia beralih ke arah kami berdua. Tatapannya bagai orang yang telah kehilangan hasrat untuk hidup. "Syricuse? Loreius? Kenapa kalian kemari?" Nona Aglaia segera mendekat ke arah kami berdua. Mendekatkan wajahnya keluar sel selagi kedua tangannya mencengkram tiang sel yang berdiri vertikal. "Aku dengar penjaga berbicara soal Gunung Vesuvius yang akan meletus. Cepat selamatkan diri kalian."

Aku menggeleng. "Waktu itu Nona Aglaia telah menyelamatkan nyawa kami di Amphiteater. Sekarang giliran kami yang akan menyelamatkan nyawa Nona Aglaia."

Nona Aglaia telah menyelamatkan kami berdua dari pertarungan mematikan di Amphiteater. Kalau bukan karena Nona Aglaia, kami berdua sudah tiada dan tidak akan bisa menikmati lagi keindahan kota Pompeii. Bahkan sampai saat terakhir.

"Mana kuncinya Syricuse?" tanya Loreius mengingatkan.

Kedua alisku bertaut. "Kunci?"

"Bodoh! Bagaimana mungkin kita bisa membebaskan Nona Aglaia jika tidak ada kunci sel ini," Loreius memukul kepalaku.

"Maksudmu ini?" kutunjukkan dua buah kunci yang terikat pada sebuah lingkaran dari emas. Aku juga tidak tahu kenapa ada dua buah kunci. Yang jelas, kudapatkan kunci itu dari Raul, sainganku dalam mendapatkan Selena dulu. Kami sepakat bahwa dia yang akan membebaskan Tuan Gaius yang ditahan di distrik dua dan aku yang ia perintahkan untuk membebaskan Nona Aglaia.

Senyum mengembang di wajah Loreus. Kami segera membebaskan Nona Aglaia dari penjara mengerikan ini. Tapi belum sempat kami keluar dari sini, tempat mengerikan ini sepertinya akan runtuh oleh gempa bumi akibat Gunung Vesuvius yang akan meletus.

"Ayo Nona Aglaia. Kita harus bergegas," seru Loreius yang menarik tangan Nona Aglaia, membawanya menaiki anak tangga menuju ke luar bangunan ini.

"Tunggu dulu!" seseorang menghentikan langkah kami. Seseorang dengan luka goresan di wajahnya. Ia bersama seorang lagi, pemuda berambut keriting. Mereka pasti bawahan Britius. Mereka ingin tidak ada dari kami yang selamat.

Aku berdecak kesal, mengeluarkan pedang yang sebenarnya tidak ingin aku gunakan saat ini. "Kalian pasti bawahan Britius 'kan?"

Keduanya hanya tertawa dan tidak menjawab sedikit pun.

Loreius pun ikut mengeluarkan pedangnya. "Cepat! Bawa Nona Aglaia pergi Syricuse. Nona Aglaia harus selamat."

Aku menggeleng dengan pandangan tetap menuju ke arah dua orang pengacau yang baru saja datang. "Tidak. Kau saja yang bawa Nona Aglaia. Aku akan mengalahkan mereka terlebih dahulu," Loreius segera menyerang mereka berdua dengan pedangnya itu. "Cepat! Bawa pergi Nona Aglaia."

"Tidak. Aku akan membantumu disini," aku ikut melawan salah satu dari dua orang tadi hingga Loreius melawan yang berambut keriting dan aku melawan yang memiliki luka goresan di wajahnya. Aku tangkis setiap serangan pedang yang ia berikan dan mencoba untuk melukainya. Setidaknya membuatnya pingsan supaya kami bisa pergi dari tempat ini.

"Bagaimana dengan Selena?" tanya Loreius.

Selena?

Aku telah berjanji untuk kembali padanya untuk kembali. Dia tidak akan pergi menyelamatkan diri. Dia akan tetap menungguku biarpun Vesuvius tengah meletus sekalipun.

"Cepat pergi dari tempat ini. Aku bisa menangani mereka berdua," seru Loreius mengingatkan.

Bawahan Britius yang Loreius lawan terlihat marah. "Kau pikir kau bisa mengalahkan kami berdua?" Ia menyerang Loreius bertubi-tubi.

Aku harus memilih. Aku benci pilihan. Tapi akhirnya aku harus tetap memilih. "Nona Aglaia, cepat keluar dari sini!"

Nona Aglaia menggeleng perlahan. "Tidak! Aku akan tetap bersama kalian apapun yang terjadi."

Memang akan sulit bagi Nona Aglaia untuk pergi keluar dari tempat ini sebelum kedua bawahan Britius dikalahkan karena mereka berdiri tepat di muara tangga. Nona Aglaia begitu juga dengan aku memutuskan untuk tetap bersama Loreius. Aku dan Loreius harus bertarung bersama melawan bawahan Britius. Sesudahnya kami akan segera menyelamatkan Nona Aglaia lalu kembali pada Selena. Asal kami bersama, kami pasti bisa menang.

*'*'*

Kami berhasil mengalahkan kedua bawahan Briutus itu dengan luka yang sebanding. Bahuku tertusuk oleh pedang salah satu dari mereka dan Loreius lebih parah lagi. Pemuda berambut keriting itu menusuk perut Loreius. Biarpun aku telah membungkus lukanya dengan kain dari bajuku sendiri, darah tetap memaksa keluar.

"Syricuse!" ucap Loreius lirih sembari menahan kesakitan. "Cepat bawa Nona Aglaia pergi dari tempat ini," tambahnya hingga akhirnya ia tak sadarkan diri.

Aku segera menggendong Loreius dan menuntun Nona Aglaia keluar dari tempat ini. Kami harus bergegas. Jika tidak kami semua akan terkurung disini dan tidak akan ada satu orang pun dari kami yang selamat. Kami segera berlari menaiki tangga menuju pintu keluar.

Dinding-dinding penjara ini mulai runtuh. Nona Aglaia harus lari meninggalkanku dan Loreius. Jika tidak, ia tidak akan selamat.

"Cepat lari Nona Aglaia. Jangan hiraukan kami," perintahku padanya. Hanya sedikit lagi saja kami berlari dan kami akan sampai di luar. Tetapi jika Nona Aglaia memutuskan untuk menunggu aku dan Loreius, dinding penjara ini akan runtuh lebih dulu.

Nona Aglaia menarik jubahku dan mendorong kami hingga membuatku dan Loreius sampai di luar penjara tersebut alih-alih berlari menyelamatkan dirinya sendiri.

"Nona Aglaia!" panggilku saat dinding-dinding penjara tersebut runtuh menimpa Nona Aglaia.

"Selamatkan Loreius!" teriak Nona Aglaia. "Dan terimakasih karena aku telah memiliki sahabat baik seperti kalian," Nona Aglaia pun tersenyum.

Dinding-dinding itu pun menimpa tubuh Nona Aglaia, mengikatnya selamanya dalam penjara itu. "Nona Aglaia!" teriakku tidak ingin menerima semua kenyataan ini.

Loreius pun terbangun mendengar teriakanku barusan dan melihat reruntuhan penjara di hadapan kami. Ia menyadari Nona Aglaia tidak ada bersama kami. "Tidak! Tidak!" teriaknya berusaha meraih reruntuhan itu namun kucegah. Aku harus menjaga Loreius. Itulah pesan terakhir dari Nona Aglaia.

*'*'*

"Loreius! Kumohon jangan pergi!" teriakku saat melihat Loreius terlihat semakin lemah. Kami bahkan belum menemukan satupun penyembuh disekitar sini. Mereka semua pasti telah mengungsikan diri.

Loreius tersenyum menatapku. "Aku tidak akan pergi. Karena dimanapun kau berada, aku akan selalu menjadi cahaya dan terbang di sisimu."

Aku menangis memeluk sahabatku sendiri. Bisa merasakan semua rasa sakit yang ia derita. Aku tidak mau kehilangan Loreius. Nona Aglaia memerintahkanku untuk menjaga Loreius.

"Cepat pergi. Tinggalkan saja aku disini," kata Loreius seraya menatap mataku.

Aku menunduk, menyesal karena tidak bisa menyelamatkan semuanya. "Tidak."

"Selena menunggumu. Aku ingin kau dan Selena bahagia."

"Loreius…"

Loreius pun menutup matanya, meninggalkan dunia ini menyusul Nona Aglaia. Aku merutuki kebodohanku sendiri yang tidak bisa menyelamatkan orang-orang yang kusayangi. Aku menangis memeluk tubuh Loreius yang kini sudah tak bernyawa. Aku tidak mungkin meninggalkan Loreius disini begitu saja. Aku kembali menggendongnya. Ke arah rumahku. Kepada Selena.

*'*'*

"Tuan Syricuse!" teriak Selena melihatku datang padanya.

Aku tersenyum melihat orang yang kucintai. Setidaknya bebanku terasa semakin ringan saat melihat gadis itu. "Selena. Aku kembali untukmu. Sesuai janjiku."

Selena menengok ke arah punggungku, melihat Loreius yang terkulai tak bernyawa. "Tuan Syricuse, apa yang terjadi pada Loreius?"

Aku menunduk, beban berat itu terasa kembali. Aku kembali menyesal atas apa yang tak bisa kuselamatkan. "Dia telah tiada."

Selena menggeleng sembari menutup mulutnya yang tak percaya akan semua ini. "Tidak mungkin," air mata bergulir menuruni pipi gadis itu. Aku benci melihat ini. Aku tidak suka melihat istriku menangis. Lebih baik aku mendapat banyak luka tusuk daripada harus melihat orang yang kucintai menangis. "Lalu…" tanyanya terbata-bata. "Bagaimana dengan Nona Aglaia?"

Aku merebahkan Loreius di dekat sana. "Nona Aglaia mengorbankan dirinya untuk menyelamatkan kami berdua."

Selena terisak. "Kenapa semua ini terjadi? Kenapa semuanya pergi? Kak Sumiruna juga pergi mencari Tuan Syricuse."

Kualihkan pandanganku dari Loreius pada Selena. "Sumiruna pergi? Pergi keman—argh," aku mengernyit kesakitan memegang bahuku. Lukaku sepertinya semakin parah.

Selena segera membuka jubahku, menampakkan baju penuh darah di bagian bahu kiriku. "Tuan Syricuse! Kau terluka! Akan kuambilkan perban dan obat-obatan," Selena segera berlari ke arah rumah.

"Tunggu Selena!" aku melihat dengan jelas saat ada sebuah tiang yang hendak menimpa Selena. Aku juga tidak ingin kehilangan Selena. Aku segera berlari padanya, melindunginya dari tiang itu hingga punggungku yang terkena alih-alih Selena. Kepalaku semakin pusing, aku pun tanpa sadar menjatuhkan tubuhku hingga terbaring di atas tanah.

"Tuan Syricuse! Kenapa kau menyelamatkanku? Lukamu semakin parah," air mata itu kembali jatuh, membasahi pipi gadis yang kucintai.

Aku tersenyum pada Selena, berharap kekhawatiran gadis itu berkurang. "Aku ingin menyelamatkan semua orang yang kusayangi. Terutama orang yang kucintai," kuhapus air mata Selena dengan jemariku.

"Akan kuambilkan oba—"

"Tidak! Jangan!" kugelengkan kepalaku sembari meraih pergelangan tangan Selena. "Kumohon jangan. Apapun yang kau lakukan, aku tidak akan selamat. Aku pasti akan menyusul Nona Aglaia dan Loreius. Karena itu, selamatkanlah dirimu Selena. Pergilah ke pelabuhan."

Selena menangis dalam diam. Ia memeluk tubuhku yang masih terbaring. "Aku cinta kota ini. Aku cinta Pompeii. Dan aku juga mencintai Tuan Syricuse," kurasakan air mata Selena membasahi bajuku. "Aku tidak akan meninggalkan Tuan Syricuse. Jika Tuan Syricuse pergi, aku juga pergi. Karena aku tidak akan hidup sedetik lebih lama lagi jika Tuan Syricuse pergi. Itulah alasanku terlahir. Aku akan tetap disini bersama Tuan Syricuse apapun yang terjadi. Bahkan biarpun Gunung Vesuvius memuntahkan kemarahannya, aku akan tetap bersama Tuan Syricuse. Biarkanlah kita mati bersama di tempat ini."

"Selena…"

Syricuse menghembuskan nafasnya yang terakhir selagi Gunung Vesuvius mengeluarkan semua amarah yang selama ini ia pendam. Menenggelamkan kota Pompeii yang indah untuk selamanya. Menjadikan cinta Syricuse Lucretius Fronto bersama Selena tetap abadi untuk selama-lamanya dalam memori-memori peradaban kota Pompeii.

The End


A/N: AT LAST! Akhirnya saya bisa menyelesaikan ff ini kawan. Mungkin dengan tidak indahnya karena saya memang tidak berbakat. Entah kenapa saya merasa feelnya Syricuse agak hilang di sini. Jadi saya mohon maaf yang sebesar-besarnya. Dan tentunya terimakasih juga yang sebesar-besarnya karena sudah rela menghabiskan waktunya secara sia-sia hanya untuk membaca ff nan tidak indah ini. TERIMAKASIH *peluk para pembaca*