Bales review dulu:

Sweden-san: Masuk list dulu ya~!

Haefalent: Padahal saya sama sekali gak bermaksud bikin hint-nya loh…M-makasih ya~! ;A; Berikutnya…. Ini~!

Konohana-Sakuya: heheh~ makasih! dan.. masuk list!

Lvna-Chan: *ngangguk setuju* *ditampar Francey* Eheheheheh~ Saya seneng banget ini bisa nambah pengetahuan yang baca! XD Begitulah, manusia itu…. Kalo ada yang baik, baik banget, dan kalo jahat, bisa jahat banget… Udah di Update nih!

DogolBrothers: Iya, tau nih, bli Gupta jarang banget muncul… =3=, ahahahah~ cuman gara-gara baca buku doang kok!

-OwO-

Hetalia Axis Powers © Hidekaz Himaruya –entar lisensinya saya beli-*plak!*

Story © coretTheAwesomecoret Me

Kapten Francis Alexander Carron Scrimger, VC, MD © God, who Creates him

Warning:

OOC, Alur yang terlalu cepat, a bit of history

-OwO-

24 April 1915

'Orang gila'

'Gak Waras'

'Bacot'

'Bego'

'Goblok'

'Gila'

Dan serangkaian kata umpatan hasil ajaran Arthur pada personifikasi Negara Kanada ini langsung terucap dalam otaknya –tentu saja karena dia masih ingat kenyataan bahwa akan sangat tidak sopan untuk diucapkan melalui mulutnya-.

Seandainya dia adalah seorang 'Arthur' atau pun seorang hiperaktif coretyangatraktifcoret seperti Alfred, Matthew pasti akan mengucapkan semua kata-kata itu, kalau perlu semua hewan di wilayahnya ia sebutkan, dan tentu saja, beberapa umpatan dalam bahasa Perancis –meskipun jelas-jelas Arthur sudah melarangnya menggunakan bahasa milik 'kodok' a.k.a Francis-.

Tapi yang paling penting, kenapa dia sampai memikirkan kata-kata kasar seperti itu? Ini bermula dari ide yang Matthew dengar dari –menurutnya adalah orang paling bodoh kedua sedunia, setelah Alfred tentunya- seorang kapten bernama Francis Alexander Carron Scrimger.

"T-tunggu, anda bercanda kan?" Matthew berkata dengan gugup.

"Harus saya ulangi berapa kali lagi?" Kapten itu akhirnya terdengar agak bosan untuk mengulangi ucapannya sampai 7 kali.

"O-oke, t-tapi apa tidak ada cara lain?"

"Begini , saya sendiri sudah tidak punya ide lain untuk melawan gas beracun milik Jerman, apa anda punya?"

"Y-yah… T-tidak-"

"Nah!" Kapten Alexander langsung menyela Matthew begitu mendengar kata 'tidak'.

"Kalau begitu kita bisa menjalankan rencana ini,"

'GUA GAK MAU!' Pikir Matthew, yang rasanya ingin menangis sejadi-jadinya saat mendengarnya.

"Mr. Matthew Williams, andalah yang akan mendapatkan kehormatan menjalankan uji coba untuk melawan gas beracun pasukan Jerman," atau dalam kata lain, kelinci percobaan.

"GAK MAU, POKOKNYA GAK MAU!" Matthew langsung melotot, tidak rela dirinya menjadi 'orang pertama'.

"Anda mau menang melawan pasukan Jerman itu atau tidak?" Pertanyaan bodoh untuk ditayakan, karena pasti jawabannya adalah 'iya'. Begitu juga dengan Matthew.

"Kalau anda ingin menang, anda harus mengambil sampel urin anda, SEKARANG," Perintah Scrimger dengan bersemangat.

Tapi lagi-lagi Matthew menggeleng dengan cepat, menandakan ia masih tidak mau melakukannya.

"Kalau anda tidak mau, silakan pakai urin saya," Mendengar itu, Matthew alias personifikasi negeri Kanada tersebut langsung berlari secepat mungkin.

-OwO-

Matthew mengatur nafasnya setelah berlari cukup jauh untuk menghindari kapten tersebut.

"H-hh…. Dia tidak akan mencariku kan?" Gumam Matthew yang capek karena berlari terlalu jauh.

"Tapi… Ini di mana ya?" Matthew linglung, karena dia sendiri tidak pernah menghafal jalan di desa yang sedang ia pertahankan dari Gilbert dan Ludwig ini.

'Yah, sekalian menghindari kapten gila itu, lebih baik aku jalan-jalan'

Tapi Matthew tiba-tiba sadar, bahwa desa yang ia lindungi sekarang benar-benar sudah hancur, padahal waktu pertama kali ia mundur ke sini, keadaan desa ini tidak separah ini. Apa saja yang ia lakukan selama ini? Kenapa ia tidak bisa melindungi tempat ini?

Matthew mencoba menyusuri jalan di desa tersebut, tapi yang ia lihat hanya mayat, mayat dan mayat. Mayat-mayat tersebut bergelimpangan di pinggir jalan, dibiarkan begitu saja.
Semakin dalam ia menyusurinya, malah semakin banyak yang terlihat. Dan ini semua karena gas klorin yang dilepaskan di garis pertahanannya.

'Kalau aku menolak permintaan kapten itu berarti aku sangat egois'

'Tapi, rencananya itu sangat bodoh'

'Yah.. tak ada salahnya untuk mencoba bukan?'

'Bagaimana kalau rencana ini tidak berhasil? Ratusan, atau bahkan ribuan orang akan mati!'

'Sebalikinya, kalau rencana ini berhasil, kami bisa menyelamatkan banyak orang!' Pikiran Matthew berseteru, ia bingung sekali akan apa yang akan ia lakukan.

-OwO-

"K-ka-kapten!" Panggil Matthew gugup.

Kapten Alexander tersenyum lebar saat melihat Matthew dan berlari mendekatinya, "Huah! Syukurlah, kupikir anda mau kabur dari kewajiban anda!"

"Ahahahah," Matthew tertawa gugup, sambil berpikir bahwa memang itulah yang ia lakukan.

"Apa anda sudah membawanya?" Tanya Alexander.

Matthew tidak menjawab, dia hanya menunjukkan sebuah botol bekas dengan isi cairan kuning yang tak lain dan tak bukan adalah urin miliknya.

"Bagus, bagus sekali!"

"Ayo kita mulai percobaannya sekarang," Ucapnya setelah yakin bahwa tempat ia bicara dengan Matthew ini tidak ada orangnya.

Matthew menelan ludah, rasanya seperti akan bunuh diri, dengan catatan, bahwa ini akan menjadi cara bunuh diri paling konyol yang pernah ada.

Alexander kemudian menyiapkan 2 saputangan dan sesuatu yang sangat familiar bagi Matthew, sebuah alat yang akan mengeluarkan gas beracun –itu diberikan oleh Arthur kepada semua tentara Matthew-.
Kapten itu membasahi kedua saputangan tersebut dengan 'cairan kuning' yang Matthew bawa.

"Pakailah, tutupi mulut dan hidungmu dengan ini,"

Untuk kedua kalinya, Matthew menegak ludah, dan dengan ragu-ragu mengambil saputangan yang Alexander ulurkan padanya.

"Pada hitungan ketiga, aku akan membuka tabung yang berisi gas beracun ini," Alexander berkata dengan tegas, tatapan matanya terlihat serius.

"Kalau kita berdua mati dalam percobaan ini, kita akan mati secara terhormat."

'Yang benar saja!' Pikir Matthew kaget.

"1," Alexander mulai menghitung.

"2,"

"3." Alexander membuka tabung berisi gas beracun tersebut, suara gas bocor yang khas pun terdengar.

Di saat ini Matthew tidak tahu mana yang lebih baik, menghirup gas beracun atau menghirup urin miliknya sendiri, semuanya adalah pilihan buruk.

-OwO-

Matthew Williams langsung muntah begitu gas beracun tersebut hilang, saat ia bisa menghirup udara sear kembali –udara segar dengan campuran bau mesiu dan asap-. Scrimger hanya terdiam saat melihatnya, ia juga berhasil selamat.

"KITA BERHASIL!" Teriaknya tiba-tiba. Seringai lebar muncul di wajahnya, persis seperti Alfred. Sebuah seringai puas dan bahagia.

Matthew melirik ke arah Alexander, mengambil nafas panjang, dan mau tak mau juga ikut tersenyum senang.

"Ya, kita benar-benar berhasil."

'Aku akan mengorbankan diriku dalam percobaan aneh ini, asalkan tentara-tentaraku bisa selamat'

-OwO-

Pada tanggal 24 April1915 Jerman melepaskan awan gas klorin, dan langsung menuju garis pertahanan Kanada di sebelah barat desa St Julien.

Kapten Francis Alexander Carron Scrimger, VC, MD, memberikan perintah penggunaan urin untuk melawan gas, meskipun ada yang ragu akan hasilnya. Kapten Scrimger menerima mendali Victoria Cross untuk tindakannya pada tanggal 25 April.

-OwO-

Capek…. Ini Update-an kilat… Pas kemaren udah ngetik sebagian, tadinya mau begadang, tapi gak jadi, ketahuan Mutter…. OTL ;A;

Eh, iya-iya, saya tahu ini chapter lebih pendek dari biasanya… Maafkan saya…. *bows*

Nah, buh-bye~! (hiatus oh hiatus)
Saya bakal berkutat lagi sama buku IPS saya…. Kabinet Natsir, Sukiman, Wilopo, Ali Sastroamijoyo I, Kabinet Kerja, DPAS, asimilasi, akulturasi, delta, peta topografi, … orz

-OwO-