A/N: Yosh, I'm back from the hell! Hehe.. kgn g? Lma g nongol di fandom ES 21 ne.. So, gomeeeeeennasaaaai! Baru apdet stlh 3 bln lbh. Author'a mpe malu ngrim PM hehe.. #ditampol readers.

Sorry bgt ne, g ad mksud menelantarkan, cma aq lgi terkena virus crack pairing hehe.. *senyum innocent*

.

.

Thank you so much to:

.

Risna-Widya,

RunaRuna Higashi,

Matsura Akimoto,

pucca-darkblue,

Grth,

Princess Lawliet, Undine-yaha,

Yuriesha uchiha,

HashiyoRike,

Hiruma Mey-chan,

Muthiruma Youichi,

kuraishi cha22dhen,

Iin cka you-nii,

RiikuAyaKaitani,

Sizka Uzumaki,

Riiharu Sakura,

Natsuno Yurie Uchiha,

HirumaManda.

thank bgt jg buat yg udh bca (wlpn g review) n yg udh ninggalin tanda mata berupa fav author, story n alert. Hontou ni arigatou ne? and enjou this fic!

.

.

Eyeshield 21

.

Disclaimer:
Inagaki Riichiro & Yuusuke Murata

.

Story:
Cielheart Ie'chan

.

Pairing:
Hiruma Youichi

Anezaki Mamori

.

.

.

Hiruma berjalan tenang kearah Mamori, mengantongi kedua tangan di saku celana sambil memuntahkan bekas permen karet di mulutnya keluar jendela yang kebetulan ia lewati. Membuat gadis bermata safir itu mundur waspada hingga membentur tembok dibelakangnya.

Otak rasional dan segala keberanian si malaikat lenyap tak bersisa menyadari sang setan pantas membunuhnya.

Satu alasan sudah cukup untuk membuat Hiruma dengan senang hati melubangi tengkorak kepala Mamori yang akhir-akhir ini terlalu bodoh untuk sekedar dipakai melawan kejahatan.

Dan.. oh, Tuhan, terima kasih! Akhirnya Mamori menyesali semua kebodohan itu sebelum mati dan berharap semoga dikehidupan mendatang ia terlahir sebagai anak Einstein agar bisa balas dendam.

''Ka.. kau mau apa? Jangan terlalu dekat!'' Mamori panik sendiri. Celingak-celinguk mencari sapu, si partner kebanggaan untuk tameng. Dan sialnya, ia tidak menemukan apapun di wilayah itu. ''Mou, Hiruma-kun! Tetap berdiri di tempat.. mu.''

Terlambat!

Hiruma sudah berada tepat di depan Mamori. Menyandarkan telapak tangan di tembok, di samping kiri dan kanan kepala gadis itu yang membuat Mamori seakan terkurung di tengah-tengah.

Deg!

Celaka, Mamori memekik dalam hati. Mau tidak mau, ia harus mengakui adrenalinnya bergejolak hebat. Flashback kejadian di atap sekolah membuat tubuhnya beku seketika, disusul aliran panas yang serasa menumpuk di area pipi.

Otak Mamori siaga satu merasakan sinyal-sinyal tanda bahaya yang.. err, aneh? Namun ia juga tidak lupa masih ada hal penting yang harus ia perdulikan dari sekedar debaran jantung yang memacu lebih cepat.

Didepannya, Hiruma sedikit membungkukkan badan, berusaha menyamakan jarak pandang dengan Mamori yang masih setia menantang tatapan emeraldnya tanpa tahu paru-paru gadis itu mulai meronta-ronta meminta asupan oksigen akibat tingkah gilanya menahan nafas agar sang indra penciuman tak tercemar wangi mint yang menguar di tubuh musuh. Wangi yang terus terang bisa merusak fungsi saraf pusat dalam jangka waktu tak terhingga.

Fokus, Mamori! Fokus! Kalau tidak, kelemahanmu akan terlihat. Dan jika itu terjadi, kau hanya tinggal sejarah, Mamori mengingatkan diri sendiri.

Well! Sepertinya lumayan sukses karena sedetik kemudian pandangan Mamori mulai berkilat tajam dengan otak yang memutar cepat. Bersiap menghadang serangan apapun yang datang dari si peneror psikis di depannya.

''Ceh, tidak kusangka kau terjebak dengan bodohnya setelah menolak kuajak ke toilet.'' Hiruma bersuara. Sarkastis. Membuat Mamori hanya bisa menggeram sebal tanpa komentar.

Yup! Ini dia jawaban teka-teki itu. Jawaban yang sialnya telat disadari otak Mamori.

Hiruma memasang jebakan yang mengharuskan ia terperangkap disalah satu pilihan. Tinggal di club house ataupun ikut ke toilet, semua berujung pada satu kata.

Kalah!

Bagaimana tidak kalah? Kalau kau ikut ke toilet pria, kau akan di potret untuk bahan buku ancaman. Sementara jika kau tinggal di club house, ponsel penggoda iman sudah menunggu untuk diacak-acak tangan nakalmu sampai sang pemilik berhasil memergokimu seperti sekarang.

Oh, ya! Tolong jangan lupakan fakta penting bahwa Mamori bukan hanya 'mengacak', tapi juga 'membumi-hanguskan' si ponsel malang.

''Dan lagi... tumben kau lupa, aku punya ratusan ponsel?''

Ini dia jawaban kedua!

Bisa-bisanya Mamori melupakan hal sepenting itu.

Hiruma, kan punya segudang ponsel terkutuk yang entah ia curi dari siapa. Jadi jangan heran kalau si malaikat cantik itu tidak menemukan fotonya di folder manapun karena mungkin saja ponsel semalam dan hari ini berbeda.

Lagipula Hiruma bukan orang bodoh yang akan membawa-bawa foto bahan ancamannya, sementara si musuh berada tepat di depan mata. Menunggu ia lengah dan...

GAME OVER!

Oh, ayolah, Mamori! Hiruma-kun tidak sebodoh itu. Ralat, kecuali saat penculikan foto cheerleader dan otak jeniusnya jelas belajar dari kesalahan, inner Mamori mengutuki diri.

''Mou, Hiruma-kun! Kau benar-benar orang paling brengsek yang pernah kutemui!'' Mamori mendesis sinis, mengepal tangan kuat-kuat untuk menetralisir darah tinggi yang hampir menyerangnya.

''Hn?'' Hiruma mengangkat sebelah ali, aneh. Sedikit surprise mendengar Mamori mulai lepas kontrol berkata kasar.

Yah, setidaknya sang setan belum pernah mendengar kalimat 'wow' seperti itu dari si malaikat, walaupun belakang ini Mamori cukup sering menggerutu.

Sesaat kemudian, Hiruma menyeringai lebar.

''Ho, aku baru tahu seorang malaikat bisa bersifat setan juga?'' godanya yang membuat Mamori semakin bertampang medusa.

''Mou, Hiruma-kun! Kau- eh?'' Mamori terkesiap kaget. Membelalak lebar mendapati Hiruma meringsek maju. Semakin mengeliminasi jarak di antara mereka yang sukses membuat jantungnya mencelos sesaat, kemudian berdentum lebih cepat di sela-sela gerakan refleknya meletakkan tangan di dada jelmaan setan itu. Bermaksud mendorong tubuh Hiruma.

Tindakan yang bukan hanya tak berguna, tapi juga amat sangat fatal karena si tangan lentik jelas merasakan sensasi aneh dada bidang berstektur sang kapten Deimon Devil Bats beserta aliran hangat tubuh dibalik seragam amefuto merahnya yang seolah terserap di telapak tangan Mamori dan menjalar ke seluruh tubuh.

Payah! Mamori mengumpat di dalam hati.

Tapi mau bagaimana lagi? Sudah terlanjur! Ia tidak mungkin melepas tangannya dan membiarkan Hiruma menindihnya semakin dalam, kan?

''Hati-hati dengan status malaikatmu. Bila ternoda kegelapan bisa bahaya, kan?'' Hiruma mendesis tepat di telinga kiri Mamori. Pelan dan penuh penekanan. Sedetik kemudian, wajahnya kembali mundur untuk menatap si pemilik safir seraya menggerakkan tangan kanannya yang sedari tadi tetap menempel di tembok. Menyentuh pipi Mamori yang langsung memerah panas sembari mengelus lembut bibir Mamori dengan ibu jari. ''Sayang sekali kalau kau jadi penghuni neraka sepertiku.''

Blush!

Untuk yang kesekian kalinya, Mamori merasakan aliran panas menjalar ganas di sekujur tubuhnya. Menciptakan dentuman cepat di empat bilik jantung yang ia miliki dengan efek samping kerusakan fungsi saraf pusat.

Yah, untungnya hanya sementara. Karena sesaat kemudian lobus frontalis Mamori lebih mendominasi lobus parietalis-nya. Mengingatkan ia tentang adegan nonsense di atap sekolah.

Orang ini... uh, awas kau!

Dengan sisa-sisa keberanian konyol yang ia miliki, Mamori reflek membuka mulut. Bermaksud menggigit jempol sang setan yang masih setia mengelus bibir bawahnya.

Gerakan fatal nomor dua.

Hiruma jelas lebih awas dalam urusan memutar otak dan gerak reflek. Makanya Mamori tidak heran kalau tangan kanan Hiruma langsung menjauh dari mulutnya sembari mundur selangkah untuk mengamankan diri.

Yang ia tidak prediksi justru gerakan selanjutnya.

Tangan kiri Hiruma balas mencengkam dagu Mamori, menyusul tangan kanannya yang kembali maju, mendorong bahu si malaikat agar punggungnya semakin menempeli tembok bercat putih di belakangnya.

''Kau... emph!''

Skakmat!

Adegan yang tidak perlu diperjelas karena selain masih rated T, Mamori bahkan tidak tahu apa yang terjadi padanya. Yang ia ingat hanya...

Mamori menegang cepat, sontak mencengkram seragam di area dada Hiruma. Tubuhnya tersentak beku merasakan sesuatu yang panas dan basah menjalar liar di rongga mulutnya. Memberi efek pusing mendadak karena perasaan aneh yang seolah mengaduk-aduk isi perutnya, yang juga membuat persendian Mamori terasa lemas dan...

Brukk!

Mamori melorot jatuh dengan nafas ngos-ngosan saat Hiruma ―yang sadar dari tingkah gilanya― menjauh sembari menghilangkan kontak fisik di antara mereka.

''Ceh, manis cream puff sialan!''

Satu kalimat sinis yang mampu membuat gendang telinga Mamori berkedut nyeri dan langsung mengaktifkan fungsi sel-sel indra di tubuhnya yang sempat off.

Tidak ada blushing!

Tidak ada sport jantung!

Gadis berambut sebahu itu kontan mendongak dengan tatapan membunuh saat mendapati wajah sang iblis terlihat mengernyit jijik sembari melahap permen karet free sugar dari dalam saku celananya. Berharap aroma mint itu bisa menetralisir indra pengecapnya yang seakan terkontaminasi zat berbahaya.

''Hiruma-kun, kau...''

''HI-RU-MA!''

Drap... Drap... Drap...

Brakk!

Mamori yang masih ingin marah terpaksa menghentikan perubahan wujudnya dari angel jadi mak lampir begitu suara lantang Kurita menggema di luar club house, disusul gempa lokal dan bunyi pintu yang tergeser cepat ―kalau tidak mau disebut kasar.

''Kami sudah keliling lapangan 200 kali sesuai perintah!'' lapornya riang di depan pintu sembari berusaha masuk ke dalam ruangan kecil yang entah kenapa sliding door-nya tak pernah muat ia lewati. Mungkin aku harus diet? Atau minta Musashi memperlebar jalan masuk, ya? pikirnya santai setelah berhasil melewati rintangan dan...

Krekk!

Kurita yang menginjak 'sesuatu' di lantai langsung terdiam. Mengangkat kaki kanan dengan wajah pucat pasi begitu menyadari benda yang ia jadikan ''perkedel'' adalah sebuah ponsel tanpa casing yang super duper hiper tak berbentuk lagi.

''Hi- Hi- Hiruma... HWAAA, AKU MERUSAK PUNYA ORANG! BAGAIMANA INI?'' Si nomor punggung 10 panik sendiri. Bahkan sampai menangis dan sembah sujud di depan si ponsel malang yang membuat Mamori sweatdrop di tempat.

Itu, kan salahku? innernya tidak nyaman seraya bangkit dari lantai tempatnya duduk.

''Ku- Kurita-kun, ano...''

''Ck, hentikan tangisan bodohmu, gendut! Ini salah wanita sialan di sampingku!'' Hiruma memotong ketus.

''Mou, Hiruma-kun! Jangan sebut aku 'wanita sialan'. Lagipula aku melempar ponsel itu juga karena kau membuatku kesal,'' bela Mamori tidak terima yang disambut letupan gelembung permen karet tanda cuek dari sang kapten Deimon Devil Bats. Si pemilik mata safir itu jelas menggeram sebal, namun ia memilih diam. Toh, percuma kalau lawannya setan. Akhirnya Mamori mengalihkan perhatian pada Kurita yang kini menghapus air mata.

''Yokatta na, ponsel-chan... jadi, bukan aku yang merusakmu sampai tak berbentuk begini, ya?'' ujarnya senang seraya memperhatikan ponsel hancur yang kini ia pegang.

"Haha..." Mamori tertawa garing tanpa komentar. Setidaknya ia tahu ponsel itu tidak separah sebelum diinjak si pemilik berat 160 kilo di depannya.

"Ne, Hiruma... Ini ponsel siapa?" Kurita jadi penasaran. "Sayang sekali. Sepertinya masih baru?" ratapnya tidak tega.

Mamori yang walaupun tidak ditanya langsung menunjuk Hiruma sembari menyeringai penuh kemenangan. Lumayan... bisa balas dendam, innernya usil. Sementara yang ditunjuk hanya mengangkat sebelah alis cuek. Lalu dengan santai menggeser arah telunjuk gadis berambut coklat di sampingnya kearah depan dan menyorot Kurita.

"Eh?"

"..."

"..."

"EEEHHH?"


''Mou, Hiruma-kun! Kau benar-benar membuatku gila!''

Mengomel sendiri, Mamori langsung berguling-guling di atas kasur. Frustasi mengingat wajah memelas Kurita yang menangis darah sambil makan 200 biji cream puff sebagai penghilang stress akibat HP kesayangannya yang sekarat di depan mata. Untungnya line backer baik hati itu tidak sampai hati meminta ganti rugi pada seseorang yang secara tidak langsung menjadi malaikat penghancur benda elektronik.

Namun lebih dari itu, Mamori juga belum lupa misi awalnya yang kini gagal total untuk menemukan foto 'suci'nya di antara kubangan -?- ponsel Hiruma yang entah ada di mana dan bagaimana cara mencurinya.

''Huft...'' Mamori menghela nafas lelah seraya memandangi langit-langit kamar. ''Masa aku harus mendatangi rumah Hiruma-kun lalu menggeledah seisi... Eeeh? BENAR JUGA! KENAPA TIDAK KEPIKIRAN?'' soraknya tiba-tiba seraya bangkit dari kasur. Sedetik kemudian, Mamori yang mulai berfikir aneh langsung menyambar ponsel flip b'corak pink-hitam di saku blazer hijaunya. Memencet beberapa tombol, lalu menempelkannya di telinga.

''Hallo?''

''Kurita-kun?'' Mamori menebak senang. Untung saja yang mengangkat telpon rumah Kurita, orang yang ia cari. ''Aku minta alamat Hiruma-kun,'' ujarnya santai yang disusul teriakan histeris di seberang sambungan.

''EEEHHH? KAU INGIN MENGANTAR NYAWA?''

.

.

.

^^Tsuzuku^^

.

.

.

Yosh, next chap: Petualangan di rumah hantu You-nii. Ada yg mau ikut ga? Ayo lindungi sang malaikat dari kegelapan! #Plak! *ditabok AK-47*