Disclaiamer: Kuroshitsuji punya Yana Toboso, Bajaj punya Pemerintah DKI. Guling saya namanya Yakumo Asuka loh (gak ada yang nanya).

Warning: Ada penumpang bajaj anonim berinisial AM. Menurut kesepakatan saya sama Sayurii Dei-chan sih, AM tuh singkatan dari Anak Monyet.


Naik Bajaj 2

Jalan kaki ke Blok. M dari Ragunan sama sekali bukan ide bagus.

Walopun jarak Ragunan-Blok. M gak terlalu jauh kayak Makassar-London, tetep aja cuma orang purba pengangguran yang bakal jalan kaki nempuh perjalanan antar dua tempat itu.

Elah emang gak punya duit buat naik bajaj apa?

Jawabannya—kalo para pembaca yang cantik-cantik dan ganteng-ganteng ini masih inget isi chapter enam lalu—simple, emang gak ada.

Kan gara-gara Abang Alois yang seenak jidat nganterin AM ke Ragunan, padahal dimintanya ke Blok. M, duit Bang AM abis buat bayar ongkos bajaj.

Tapi sekali lagi biar saya ulangi, saya ini orang ketiga serba tahu nan budiman lagi berbakti pada orang tua yang super ganteng.

Jadi yah, cuma ongkos buat naik bajaj dari Ragunan ke Blok. M mah kecil. Tau yang namanya bank, kan? Nah, itu tempat nyimpen duit. Kalian pikir, duit siapa emangnya yang disimpen sama bank-bank itu? (belagunya najis amit-amit).

Yah terserahlah. Pokoknya daripada nih fic kagak tamat-tamat gara-gara AM nyangkut dulu di Ragunan, sungkeman sama nenek moyang, keliling silaturahmi sama sodara sedarah, bakal panjang lagi ceritanya, ye gak?

Jadi mau duit dari mana kek, Mas AM, cepetan naik bajaj. Sekarang!

DREGREDEGDREGEDEG DREGREDEGDREGREDEG

Akhirnya datang juga.. Berentiin bajaj itu, AM. Cepat!

"Bang berenti, Bang," kata AM bego. Ih! Ya mana denger abangnya! Maksud saya berentiin tuh, kamu ulurin tangan kamu, dadah ke bajaj-nya, terus nanti abang bajajnya berenti, deh!

"Oh gitu," ujar AM, "Ngomong dari tadi dong."

Ih sompret. Ni anak jadi ngelunjak gara-gara disiksa terus dari chapter satu. Sabar dikit lagi, napa. Ini terakhir deh. Serius, terakhir!

DREGREDEGDREGDREG DREG

Bajaj berenti dengan manisnya di depan AM. Mari kita longo—UWOOO! Silau, men! Ada apa ini gerangan? Orang ketiga serba tahu yang kece ini mendadak gak bias ngeliat, sodara-sodara! CLIIING!

"Tidak sopan. Ini dahiku," kata sebuah suara dari dalem bajaj.

Sapo tuh? Produsen lampu bohlam kah? Biar saya kucek-kucek mata dulu—Claude! Ya ampyun! Claude Faustus, kan? Yang sodaranya Ikang Fauzi itu? Kiyaaa harus dapet tanda tangan nich, harus! Poto-poto juga ya, Mas!~

"Bang, anterin saya ke Blok. M, dong," kata AM.

Claude ngeliat AM dengan tatapan nusuk tapi muka tetep datar, "..Boleh saja."

"Asik," respon AM gak kalah datar. Dia pun naik ke bajaj Claude.

Mas AM, Mas AM, kamu kok gak kesilauan sama jidat Claude sih? Dengan nistanya orang ketiga serba tahu pun nanya ke AM yang udah ngambil posisi wuenak di kursi penumpang.

"Gak apa-apa," jawab AM datar, "Gw udah biasa sama yang aneh-aneh, kok. Jidat silau dikit sih.. sama sekali bukan masalah. Yang penting gw nyampe Blok. M."

Ouch daku terenyuh. Sudah sebegitu pasrahnya-kah dirimu, Kang AM? Sampe-sampe saya ngelawak di kacangin? Hiks saya emang orang ketiga serba tahu yang gak berguna. Hiks, SROOOT!

DREGREDEGDREGREDEG DREGREDEGDREGREDEG

"Abang udah lama jadi tukang bajaj?" tanya AM ngebuka sesi tanya-jawab.

DREGREDEGDREGREDEG DREGREDEGDREG

"Tidak," jawab Claude dengan nada datar. "Baru saja tadi. Ada seseorang berpakaian hitam-hitam yang memaksa saya untuk mengendarai kendaraan aneh roda tiga ini."

DREGREDEGDREGEDEG DREGREDEGDREGEDEG

"Oh," kata AM gak kalah datar. "Orangnya pasti jelek ya, Bang?"

DREGREDEGDREGREDEG DREGREDEGDREGREDEG

"Entahlah. Saking buruk rupanya, saya tidak bisa mengingatnya."

Pu.. pura-pura gak tau. Siul-siul aja deh siul-siul.

"Gimana keadaan perekonomian Jepang akhir-akhir ini, Bang?" tanya AM lagi. Kok kagak nyambung dah pertanyaannya?

DREGREDEGDREGREDEG DREGREDEGDREGREDEG

"Biasa saja. Stabil," jawab Calude.

DREGREDEGDREGEDEG DREGREDEGDREGEDEG

Lah ini orang berduaan ngobrol dengan nada datar, intonasi datar, dan topik yang datar pula. Lagi ngelawak, ya?

"Es krim cokelat itu enak loh, Bang," kata AM lagi. "Tapi saya sih, sukanya vanila."

DREGREDEGDREGREDEG DREGREDEGDREGREDEG

"Saya juga suka vanila," kata Calude, "Tapi saya sih lebih menggemari rasa strawberry."

A.. aneh. Pembicaraan yang aneh!

DREGREDEGDREGREDEGDREGREDEG DREGREDEGDREGREDEG

"Liat deh, Bang. Itu Blok. M," tunjuk AM ke luar bajaj dengan muka masih datar.

"Anda benar."

SYUUU DREGREDEGDREGREDEG DREGREDEGDREGREDEG

Bajaj pun belok dengan datarnya. Dan berenti di jalan datar depan gedung datar dengan kecepatan yang datar pula.

"Berapa, bang?" tanya AM sambil turun dari bajaj. Ingat, dengan ekspresi datar.

"Dua puluh ribu saja," jawab Claude.

"Ini uangnya."

"Terima kasih."

DREGREDEGDREGEDEG DREGREDEGDREGREDEG

Dan bajaj pun mulai jalan lagi. Dengan muka datar dan lenggak-lenggok jalan yang datar, AM masuk ke toko buku.

"Syukurlah, kali ini keburu ke toko buku," kata AM datar.

..Loh? Fic-nya udah tamat, nih?

Tanya orang ketiga pada akhirnya dengan nada yang gak kalah datar.

Pesan moral: Kelelahan berlebihan dapat menyebabkan kehilangan semangat hidup, muka datar, dan lenyapnya gairah masa muda.


Selesai deh (datar). Makasih udah baca ya (datar).

Maaf buat yang udah request Hannah, Soma, Agni, delelel buat jadi tukang bajaj. Bukannya gak mau, tapi gak sempet. Waktu saya terbatas. Maaf, ya.

Makasih yang udah review di chapter sebelumnya: Jasune Hokairi, Lucia d' Neko-Kyuuketsuki, Orange Brust, Reyn-kun Walker, Asaka Shirou, Aletha-rizu09, Ciel L. Chisai Rokujo, Kagamiyo Neko, Kaito Akito, Heiwajima Beenbin Amewarashi, Yunoki touya, Sayurii Dei-chan, meshi-chan, Krad Hikari vi Titania, RoSeLapucell, Astrella Kurosaki, imappyon, dan ParadoxEmpressRui.

Yang udah baca tapi gak review juga makasih. Saya sayang kalian semua. Abis baca fic ini, sebelum review, ada baiknya buka profile saya dulu. Baca baik-baik, dan vote polling saya, ya *promosi* Okelah dadah. Review? (datar)