Pagi ini aku pindah kota, lagi. Orang tuaku pergi ke luar negri dan menyuruhku pergi ke kota pamanku. Ku dengar tempat ini sunyi dan nyaman. Semoga saja benar.

Aku sampai di kota yang bernama Inaba, dan menemukan pamanku bersama anak perempuannya. Dojima dan Nanako. Itulah mereka. Kami beramah-tamah sebentar lalu langsung bergegas ke rumah mereka karena matahari sudah hampir tenggelam. Sedangkan perjalanannya agak jauh. Betul saja. Kami sampai pukul 8. Mari kita lewat hal-hal tidak penting dan sampai di bagian aku ke sekolah baruku.

Hmmm, segalanya berjalan seperti biasa. Aku lewat, gadis-gadis menoleh. Aku tersenyum, gadis-gadis meleleh. Aku terus berjalan, gadis-gadis mulai membicarakan aku.

SMA Yasogami. Di kelas 2-2, itulah tempatku akan belajar. Aku masuk bersama guru menyebalkan yang kalau tidak salah namanya Kinagawa Morooka? Ah, tak peduli. Aku masuk dan di suruh memperkenalkan diri. "Souji Seta. 16 tahun. Golongan darah O. Lahir 1 Januari. Hobi menyanyi." Aku bersikap cool seperti biasa. Dan berakhir dengan baik, karena mata gadis-gadis mulai bersinar-sinar padaku.

Aku di suruh duduk di sebelah anak perempuan berambut coklat. "Halo! Namaku Chie Satonaka! Met kenal souji." Gadis di sampingku memperkenalkan dirinya dengan bersemangat. Tapi ini bukan semangat seperti yang gadis-gadis biasa tunjukan padaku. Ini seperti ingin mengajak berteman. Jadi aku hanya mengangguk.

"Dia anak pindahan sepertimu, heh Yosuke?" Chie berbicara pada anak di belakangku. "Yeah..." Yang di panggil Yosuke sepertinya sedang sakit perut. "Kau tampak sekarat." Chie berkomentar.

"Aku sedang tidak ingin membicarakannya Chie. Omong-omong, met kenal. Namaku Yosuke Hanamura." Anak ini berkata lemah padaku.

"Chie! Hati-hati, King Moron nyaris mendengarmu." Anak perempuan yang duduk di depan Chie memperingati Chie. "Oh, maaf Yukiko. Eh, nama temanku ini Yukiko Amagi. Perkenalkan" Chie memperkenalkan gadis di depannya tadi. Yukiko menoleh "Met kenal." Well, kurasa bukan berlebihan jika aku mengatakan bahwa Yukiko manis. Aku tersenyum, "Met kenal." Sapaku pada mereka bertiga. Seakan belum cukup berkenalan dengan 3 orang ini, saat istirahat, aku di kerubuti oleh para gadis-gadis. Huuuh, capai sekali harus mengorbankan jam istirahat untuk di 'interview' oleh gadis-gadis kelas 2-2.

Pulangnya, aku mendaftarkan diri pada ekskul basket. Aku ini pendatang baru, tapi bukan di tahun ajaran baru. Aku sudah ketinggalan 2per5 pelajaran. Dan ekskul telah dibuka, lebih baik jika aku ikut aktif di sekolah ini, kan?

Tak tahunya, test masuk klub ini berlangsung hari ini! Well, mengingat aku selalu latihan di rumahku yang dulu, aku telah siap. Pertama test dribble, lalu passing, shooting, dan mulai sesi latihan. Omong-omong, aku mengincar jabatan sebagai kapten tim. Jadi di sesi latihan, aku unjuk gigi. Aku bisa melompat cukup tinggi agar bisa melakukan dunk atau slam dunk. Kulakukan. Lemparan 3 poin-ku cukup akurat untuk selalu masuk di bawah tekanan pemain lain. Kulakukan. Aku cukup sportif untuk bermain sebagai tim, tapi di sela-sela itu aku yang paling banyak memberikan poin. Kulakukan.

Kami selesai dan sang kapten tim yang dulu menyuruh kami untuk menunggu 2 hari lagi sebelum hasilnya di keluarkan. Aku berganti baju. "Bagus, anak baru." ini si kapten, namanya Kou.. Kou apa ya? Aku mengangguk sambil tersenyum bangga. "Aku setara denganmu. Aku juga kelas 2. Met kenal." ia mengulurkan tangan, aku menjabatnya. Selama ganti baju aku mengobrol dengan dia. Anaknya cukup asik.

Begitu pulang, aku tidak langsung pulang. Bukuku tertinggal di kelas. Jadi aku berpisah dengan Kou. Di kelas, aku mendapati Yukiko sedang tertidur. Aku membuka pintu kelas perlahan-lahan. Lalu duduk di mejaku sambil mengambil buku yang tertinggal. Setelah itu, aku mengamati posisi tidurnya. Ia menaruh dagu di tangannya yang dilipat di meja sambil menoleh ke arah kiri, jendela. Aku menyimpulkan bahwa dia sedang beristirahat lalu tertidur. Setega-teganya lelaki, aku tak mau meninggalkannya sendirian. Bagaimana kalau nanti ia terbangun dan sudah malam? Lagipula itu tidak lama, sekarang jam 5.

Sambil menunggunya bangun, aku membaca buku. Hei, bukankah lebih baik menjadi pintar daripada memperhatikan seorang gadis yang sedang terlelap? Menit-menit berlalu. Jam 6.00 akhirnya dia bangun. "Eh?" dia terlonjak melihatku sedang belajar di sampingnya. "Apa yang kau lakukan di sini?" dia curiga padaku. Heh! Memang tampangku seperti stalker? "Itu adalah pertanyaanku. Apa yang kau lakukan tidur sendirian di sini?" Waduh, gadis ini membuatku mengucapkan kalimat panjang. Tampaknya Yukiko mulai mencerna apa yang terjadi. "Oh, maafkan aku. Aku tidak seharusnya tidur di sini. Aku hanya lelah.." Ia menggosok-gosok matanya. Mungkin masih mengantuk. Aku berdiri. "Mari pulang." Aku menawarkan. "Tenang saja, aku bukan stalker." Tambahku saat melihat ekspresinya. "Ya."

Di jalan. "Mengapa kau menungguku bangun, Souji?" Yukiko bertanya. Aku menatap wajahnya, "Bukankah tidak aman jika kau pulang sendirian?" Ia tersenyum. "Terima kasih karena menghawatirkan ku. Sebetulnya, aku sudah biasa pulang sendiri." Aku mengangguk. "Walaupun begitu, aku tidak mau kau pulang sendirian." Itu sepenuhnya jujur. Aku tak mau dia di culik, kawan. Bagaimana jika laki-laki sesekolah pingsan begitu mendengarnya? Gadis ini adalah mawar sekolah kami. "Mengapa?" Yukiko bertanya. "Bukan sifatku untuk tidak peduli pada segala hal yang ada di sekitarku. Terutama jika perempuan." Eh, dia tertawa. "Pantas saja kau sangat populer di antara gadis-gadis. Padahal, kau baru beberapa jam di sekolah ini." Itu pujian, bukan? Aku tersenyum. Dia tersenyum. Kawan, hatiku bergetar... Apakah ini?

Kami mengobrol banyak hal. Yang dapat kusimpulkan darinya: gadis manis ini sama sepertiku (tidak terlalu suka banyak omong, tapi tetap baik), mudah merona, ia selalu di peringkat 1 dalam ujian, teman dekatnya hanya Chie, ia membanggakan Chie yang katanya sangat bisa di andalkan, ia tidak terlalu senang jika terlalu dekat dengan lelaki (makanya jarak aku dan dia saat berjalan cukup jauh), dan yang terpenting... Dia belum pernah berpasangan siapapun. Hei, sejak kapan itu menjadi yang terpenting! Lupakan apa yang kukatakan! Eh, kalian mau tahu bagaimana aku mendapatkan yang terakhir itu?:

"Yukiko, kau pernah mencintai lelaki sebelum ini?" aku berkata dengan tenang, tapi justru membuat gadis ini merona. "Jangan tertawakan aku. Belum..." Aku tersenyum hangat padanya. "Mengapa kau malu? Itu adalah sebuah rekor, kau tahu." Ia menoleh padaku. "Bagaimana denganmu, Souji?" Aku menjawab, "Sama denganmu." Kami berdua tersenyum bersama. Bro, tameng cool-ku rusak jika aku berada dekat dengan gadis ini. Ia membuatku ingin bertanya terus-menerus.

Apa yang harus kulakukan? Kami sudah berada dekat dengan rumahnya, kami berhenti. "Terima kasih, Souji. Slamat malam." Ia tersenyum berterima kasih padaku. Aku harus menahan perasaanku, perasaan yang ingin maju satu langkah dan melakukan 1 hal yang baru pertama kali ini kupikirkan, mencium keningnya. Hei! Dia bukan milikku. Dia masih bebas. Lagipula, aku belum pernah bertekuk lutut pada wanita manapun. Aku bertahan, "Selamat malam." Kami sama-sama berjalan menjauh, dan tidak menoleh lagi.