Mina-san... tak terasa For the Dearest mencapai lima belas chapter panjangnya

Dan akhirnya, fic ini mencapai chapter terakhir ini.

Arigatou untuk semua reader yang membaca fic ini sampai sejauh ini, dan terutama para reviewer yang selalu memberi semangat kepada kusa untuk melanjutkan fic ini sampai sejauh ini.

Disclaimer: BLEACH punya Tite kubo

For The Dearest

The last chapter

Toushiro menatap ke luar dari jendela klinik pribadi keluarga Kurosaki sambil mengerutkan dahinya dan melimpat kedua tangannya di depan dadanya. Sementara itu di sisi ruangan, Rangiku menatap putranya dengan tatapan khawatir. Sekarang ini mereka berdua berada dalam gigai mereka, menunggu Ichimaru Gin membuka matanya.

Rangiku menatap wajah tidur Gin yang tampak sangat tenang. Sudah dua hari berlalu sejak pertarungan dengan Kisaragi Naomi, sejak saat itu Gin masih belum membuka matanya. Sebagian besar luka Gin sudah sembuh oleh kidou penyembuhnya. Tetapi Gin masih belum membuka matanya.

Di dalam hati Rangiku sangat khawatir karena Gin belum sadarkan diri, tetapi di sisi lain dalam hatinya ia juga merasa khawatir jika Gin terbangun. Ia takut Toushiro akan marah besar kepada Gin nanti. Sejak dulu Toushiro tidak menyukai Gin. Dan sekarang ia tahu bahwa Gin adalah ayah kandungnya yang sudah menelantarkannya sejak ia baru lahir. Toushiro pasti sangat benci dan dendam kepada ayahnya, sama seperti ketika ia marah besar kepada Gin saat ia mengetahui bahwa putra yang ia kira sudah meninggal ternyata masih hidup dan selama ini berada begitu dekat dengannya. Ia pasti sangat dendam kepada ayah yang tidak pernah merawat dan ada ketika ia membutuhkan seorang ayah di sisinya.

Ruang klinik begitu sunyi dan tidak ada satupun antara Toushiro dan Rangiku yang berinisiatif untuk mengakhiri kesunyian itu. walaupun dalam hati Rangiku ingin berbicara kepada putranya, tetapi ia tidak tahu apa yang harus ia katakan kepadanya saat ini.

Ia adalah seorang fukutaichou, dan Toushiro adalah taichounya. Tiba-tiba saja ia mendapati taichounya kehilangan ingatannya dan mengetahui bahwa ia adalah putra yang ia kira sudah lama meninggal. Dan sekarang, tiba-tiba saja ingatan putranya kembali dan ia bersikap layaknya seorang taichou seperti sebelumnya.

Rangiku tidak tahu bagaimana ia harus bersikap dan berbicara kepada putranya. Ia bahkan bingung untuk memanggil putranya sendiri. Apakah ia harus memanggilnya Toushiro, atau memanggilnya taichou seperti sebelumnya. Ia bingung dengan hubungan mereka sekarang ini. Dan Toushiro sendiri pun sangat bingung harus bersikap seperti apa setelah mengetahui fukutaichounya adalah ibu kandungnya sendiri.

Tiba-tiba saja pintu ruangan itu terbuka dan Ichigo masuk kedalam, "Oi... Toushiro!" panggil Ichigo. lalu perhatian kedua shinigami dalam ruangan itu pun tertuju pada sang remaja berambut orange itu.

"Untukmu Hitsugaya-taichou, Kurosaki!" kata Toushiro kesal. Ia mengerutkan dahinya tambah dalam.

Ichigo menggaruk belakang kepalanya, "Terserah apa katamu, Toushiro." kata Ichigo tidak memperdulikan death glare yang Toushiro kirim kepadanya, "Yuzu membeli semangka, apa kau mau?" tanya Ichigo.

Mata emerald Toushiro berbinar mendengar nama salah satu makanan favoritnya. Lalu ia melirik ke arah Ichigo dan berusaha tidak terlihat senang dan bersikap seperti biasanya, "uh'uh... Iya."

"Bagaimana denganmu Rangiku-san?" tanya Ichigo kepada sang fukutaichou yang sejak tadi duduk diam di samping tempat Gin berbaring. Ichigo tidak biasa melihat sang fukutaichou yang biasa begitu ceria, duduk terdiam seperti itu.

Rangiku menggelengkan kepalanya, "Aku tidak usah, terima kasih Ichigo-kun." jawab Rangiku dengan tersenyum tipis. Wajahnya terlihat begitu sedih dan bingung.

Ichigo menganggukan kepalanya mengerti. Ia menyadari wajah sedih dan bingung Rangiku. Lalu mata coklatnya bertemu dengan mata emerald Toushiro, memberinya isyarat untuk berbicara sesuatu kepada Rangiku. Setelah itu Ichigo pergi meninggalkan ruangan itu.

Toushiro mengerutkan dahinya lagi. Andai ia tahu apa yang harus ia katakan, tanpa diberitahu pun ia pasti mengatakan sesuatu kepada sang fukutaichou berambut pirang yang ternyata adalah ibu kandungnya sendiri.

Toushiro menelan ludahnya dan kemudian melirik kearah Rangiku, "Matsumoto.../Taichou..." panggil Toushiro dan Rangiku bersamaan. Kemudian mata mereka berdua bertemu dan terdiam.

"Uh'uh... silahkan duluan..." kata Toushiro dan Rangiku bersamaan lagi. Setelah itu mereka berdua kembali terdiam. Mereka berdua bingung untuk memulai pembicaraan dari mana, dan akhirnya ruangan itu kembali sunyi.

Sementara itu, di luar ruangan Rukia, Hinamori, Karin dan Yuzu menguping pembicaran mereka di balik pintu.

"Aku tidak mengerti, tetapi kenapa Toushiro-kun dan Rangiku-san saling diam seperti itu? Apa yang terjadi kepada mereka?" tanya Yuzu pelan, berusaha agar kedua shinigami di balik pintu tidak mendengarnya.

"Uh'uh... hubungan mereka sekarang rumit." Jawab Rukia pelan.

"Aku tidak menyangka bahwa Rangiku-san dan Ichimaru-san adalah orang tua Toushiro." kata Hinamori pelan. Sebenarnya para shinigami yang dikirim ke Karakura untuk membantu waktu penyerangan Kisaragi Naomi sudah kembali ke Soul Society, tetapi Hinamori tetap tinggal karena ia mengkhawatirkan Toushiro. Ia sudah membantu neneknya merawat dan membesarkan Toushiro sejak ia bayi. Hinamori menganggap Toushiro sebagai adiknya sendiri. Ia tidak ingin meninggalkan Toushiro sendirian dalam masalah seperti ini, "Aku sama sekali tidak ingat pemuda yang menitipkan Toushiro kepada nenek waktu ia bayi adalah Ichimaru-san."

"Uh'uh... bagaimana ini, apa tidak apa-apa kita biarkan mereka seperti ini?" tanya Karin. Rukia, Hinamori dan Yuzu terdiam sambil melipat kedua tangan mereka di depan dada mereka, memikirkan apa yang akan mereka lakukan untuk membantu memperbaiki hubungan Toushiro, Gin dan Rangiku.

Tiba-tiba Ichigo muncul di belakang mereka sambil membawa nampan berisi irisan semangka, "Hei... menguping pembicaraan orang lain itu tidak sopan." Kata Ichigo dengan suara cukup keras. Ia mengerutkan dahinya kepada keempat gadis di depan pintu itu.

"Shh..." desis Rukia, Karin, Yuzu dan Hinamori bersamaan sambil meletakkan telujuk mereka di depan bibir mereka kepada sang remaja berambut orange sambil menatapnya kesal.

"Biarkan mereka menyelesaikan masalah mereka sendiri, karena yang paling mengerti masalah mereka adalah diri mereka sendiri." Kata Ichigo. Setelah itu ia membuka pintu dan masuk ke dalam ruangan, meninggalkan keempat gadis yang mengangkat sebelah alis mereka kepadanya.

~H~

Beberapa jam kemudian...

Rangiku dan Toushiro masih belum menemukan kata-kata yang tepat untuk membuka pembicaraan mereka. Lalu perhatian mereka beralih kepada sang pria berambut perak yang terbaring di atas tempat tidur ketika mereka mendengarnya mulai terbangun, "Uh..." rintih Gin.

Mendengar suara Gin, Rangiku bangkit dari tempat duduknya dan berdiri di sisi tempat tidur Gin, "Gin..." panggil Rangiku sambil memegang tangan kekasihnya.

Perlahan, Gin membuka mata emeraldnya, "Ran..." kata Gin lemah ketika mata emeraldnya bertemu dengan mata biru Rangiku yang menatapnya dengan khawatir. Lalu tiba-tiba mata Gin terbelalak dan berusaha bangkit dari posisi tidurnya, "Toushiro!" teriak Gin khawatir teringat dengan kejadian sebelumnya.

"Tenang Gin. Ia baik-baik saja." kata Rangiku sambil menahan tubuh Gin agar ia tidak bangun. Ia menatap Gin dengan tatapan sedih.

"Syukurlah." Kata Gin sambil menghela nafasnya lega. Lalu mata emeraldnya mendapati Toushiro bersandar di sisi lain ruangan sambil melipat kedua tangannya di depan dadanya. Ia mengerutkan dahinya dalam dan menatapnya dengan tajam. Melihat ekspresi wajah Toushiro, Gin menyadari ingatan putranya sudah kembali. Gin menundukan kepalanya. Ia tidak berani menatap mata putranya. Sekarang ini pasti putranya sangat marah dan dendam kepadanya.

Toushiro perlahan berjalan mendekati Gin sambil menggeretakkan giginya dan mengepalkan tangannya dengan marah. Kemudian ia berdiri di samping Gin dan menatapnya dengan tajam, "Aku..." Gin ingin mengatakan sesuatu kepada Toushiro, tetapi tiba-tiba saja tenggorokannya menjadi kering dan pikirannya menjadi kosong. Ia tidak tahu apa yang harus ia katakan kepada Toushiro.

Kemudian, tiba-tiba saja Toushiro mencengkram kerah baju Gin dengan erat, "Kau tahu... kau adalah orang paling aku benci di dunia ini." kata Toushiro marah tepat di hadapan wajah Gin.

"Toushiro... dia ayahmu." kata Rangiku mengingatkan putranya. Lalu Gin mengangkat tangannya dan menggelengkan kepalanya kepada Rangiku, memberi isyarat bahwa ia baik-baik saja. Sejak awal dia sudah mengetahui hari seperti ini akan datang dan dia sudah siap menerima kemarahan putranya.

"Ayah...?" desis Toushiro sinis, "Orang seperti dia pantas dipanggil ayah." Kata Toushiro. Gin menyadarinya, Ia tidak pantas disebut seorang ayah. Ia sudah yang tega memisahkan bayi bayi yang baru lahir dengan ibunya dan menelantakannya di Rokungai. Gin benar-benar merasa bersalah dan menyesal saat ini.

Lalu mata Toushiro kembali menatap Gin dengan tajam, "Gara-gara kau aku mengalami banyak hal menyedihkan dan hidup menderita. Andai bukan karena Hinamori dan nenek, aku pasti tidak pernah merasakan apa itu bahagia." desis Toushiro marah.

"Sekarang Katakan kepadaku... Di mana dirimu saat aku kesepian? Dimana dirimu saat aku merasa sedih dan membutuhkan seseorang untuk menghiburku? Di mana dirimu saat aku membutuhkan kasih sayang orang tua?" Tanya Toushiro dengan marah. "Kau tidak pernah ada... kau tidak pernah ada di sisiku saat aku membutuhkanmu." Toushiro menundukan kepalanya. Pundaknya bergetar karena ia menahan emosinya.

"Toushiro... dia... melakukan hal itu untuk melindungimu." Kata Rangiku mencoba membantu Gin.

"Aku marah padamu... aku sangat marah kepadamu..." kata Toushiro dengan suara bergetar, dan tubuh mungilnya pun ikut bergetar, "Aku sangat marah sampai rasanya ingin membunuhmu, tetapi aku juga marah kepada diriku karena aku tidak benar-benar bisa membencimu."

Perlahan cengkraman tangan Toushiro di baju Gin melemah, "Aku marah pada diriku yang mengingat semua ucapan dan kasih sayangmu saat aku kehilangan ingatanku. Di matamu tak terbesit sedikitpun kebohongan kalau kau benar-benar menyayangiku dan rela melakukan apapun demi melindungiku." kata Toushiro lagi. Kali ini suaranya sedikit bergetar.

"Aku marah pada diriku yang telah melihat dan mengetahui semua air mata, perjuangan, pengorbanan, kesedihan dan penderitaanmu saat kau harus berpisah dan menitipkanku di Rokungai. Kau rela mengorbankan segalanya dan menahan semua kesedihaanmu demi melindungiku dari Aizen... Air matamu telah menunjukan kalau selama ini kau sangat menderita karena tidak bisa berada di dekatku. Kau terus melindungiku walaupun kau sendiri terluka."

"Aku sangat marah padamu." Kata Toushiro dengan suara bergetar, "Orang tua macam apa kau? Pergi meninggalkannku begitu saja, dan menanggung semua beban sendirian."

Gin lalu meraih pundak putranya yang bergetar dan memeluknya dengan erat ke dadanya, "Maafkan aku." Kata Gin sambil mengelus-elus punggung kecil Toushiro dengan lembut.

"Otousan jahat! Aku sangat membencimu!" kata Toushiro sambil memukul-mukul Gin. Ia menangis.

"Ya... aku tahu." Kata Gin, Kata Gin sambil terus mengelus-elus pungung kecil Toushiro dengan lembut, mencoba menenangkannya, "Maafkan aku." Gin berulang-ulang mengucapkan kata itu di telinga Toushiro sampai tubuh mungil di pelukannya berhenti bergetar dan nafasnya kembali tenang.

"Dia tertidur..." kata Gin pelan melihat putranya tertidur di pelukannya. Lalu perlahan Gin memindahkan tubuh putranya ke pangkuannya dan menghapus air mata di pipi Toushiro dengan jari kurusnya sambil tersenyum lembut kepada wajah tidur di hadapannya.

"Ia kelelahan..." Kata Rangiku sambil tersenyum lemah, "Ia tidak beristirahat sedikitpun sejak pertarungan dengan Naomi. Mungkin karena ia sangat mengkhawatirkanmu."

"Ya..." jawab Gin singkat sambil tersenyum kepada Rangiku. Lalu ia memberi isyarat kepada Rangiku untuk lebih mendekat kepadanya. Ketika Rangiku duduk di sisi tempat tidurnya, Gin merangkul pundak Rangiku dan kemudian mencium pipinya. Setelah itu ia mencium kening Toushiro dengan lembut dan tersenyum kepada keluarga kecilnya.

"Aku sangat menyayangi kalian berdua." Kata Gin.

Sementara itu Rukia, Karin, Yuzu dan Hinamori menangis terharu di balik pintu.

~Epilogue~

Sudah lebih dari seminggu berlalu sejak Toushiro, Rangiku dan Hinamori kembali ke Soul Society. Sejak saat itu ia melalui hari-harinya seperti sebelumnya, pergi bekerja di cafe Tanaka dari pagi hari hingga petang kemudian kembali ke apartement kecilnya. Yang berbeda dan membuat Gin kesepian adalah bahwa Toushiro tidak ada di sisinya seperti sebelumnya.

Hari minggu...

Gin berbaring di atas futonya sambil membaca sebuah majalah mingguan tentang hubungan keluarga. Jam sudah menunjukan pukul satu tapi ia tidak memiliki motifasi sedikitpun untuk bangun dari futonnya dan membersihkan apartement kecilnya yang berantakkan. Hari ini cafe tutup karena pak Tanaka dan ibu Sanae pergi mengunjungi anak perempunnya yang baru saja melahirkan cucu pertama mereka di luar kota. Gin sama sekali tidak memiliki kegiatan lain dan ia terlalu malas membersihkan apartementnya yang berantakan karena hanya dia yang tinggal dalam apartement kecil itu. Akhirnya sepanjang pagi ia terus bermalas-malasan di atas futonnya.

Tok... tok...

Tiba-tiba seseorang yang mengetuk pintu apartementnya. Tak biasanya ada orang yang mengunjungi apartement kecilnya, 'Mungkin salesman atau tetangga sebelah yang ingin meminjam sesuatu.' pikir Gin. Lalu tanpa memperdulikan penampilannya yang hanya mengenakan kaos putih polos kusut dan celana pendek hitam, Gin bangkit dari futonnya.

Ketika Gin membuka pintu apartementnya, mata emerald terbelalak melihat Rangiku dan Toushiro berdiri di depan pintunya, sedang meributkan sesuatu. Lalu perhatian kedua shinigami pun itu beralih kepada pria berambut perak yang berdiri beku di depan pintu apartementnya sendiri sambil menatap mereka dengan mata terbelalak.

Gin sama sekali tidak menduga bahwa putra dan kekasihnya akan datang mengunjunginya hari ini, 'Gawat!' kata Gin dalam hati mengingat apartementnya sekarang sangat berantakkan.

"Gin..." kata Rangiku senang, tetapi kemudian ia menutup hidungnya dengan jarinya, 'Uh... bau menyengat apa ini?"

Toushiro mengerutkan dahinya kepada pria berambut perak di hadapannya, "Ia jadi hidup bermalas-malasan sejak tidak ada orang yang mengawasinya." kata Toushiro dingin sambil menutup hidungnya, "Lihat saja penampilannya yang berantakkan itu."

"Ran-chan... Chibi-taichou... kalian kejam." Kata Gin sambil pura-pura menangis.

"Toushiro!" kata Toushiro kepada Gin dengan suara tegas, "kau yang memberiku nama kan? Panggil aku dengan nama pemberianmu."

Gin tersenyum kepada putranya, "Kalau begitu kalian tidak perlu mengetuk pintu untuk masuk kan? Ini rumah kalian."

Toushiro menatap ayahnya dengan mata emeraldnya, "Aku tidak mau tinggal di rumah yang berantakkan seperti ini." kata Toushiro sambil menyengir kepada ayahnya yang jaw drop.

"Yosh... kalau begitu kita bersihkan rumah kita dulu, baru setelah itu kita pergi belanja!" Kata Rangiku semangat sambil mendorong Gin yang membeku di depan pintu, masuk kedalam.

"Hei... siapa bilang aku setuju kita pergi belanja!" protes Toushiro.

"Kita pergi belanja... belanja!" kata Rangiku tak menghiraukan ucapan Toushiro, dari dalam apartement.

"Tidak ada belanja hari ini!" kata Toushiro kesal sambil mengikuti ayah dan ibunya masuk ke dalam. Kemudian ia kembali lagi hanya untuk menutup pintu apartement kecil mereka.

Dengan ini kisah keluarga kecil mereka baru saja dimulai...

~For the Dearest End~

Hwe... akhirnya fic ini selasai juga... TT^TT

Kusa terharu banget karena ternyata banyak reader yang memfave fic ini

Bahkan di fic ini kusa dapet repiw dari author paling favorite kusa, Yemi Hikari

Walaupun dia orang luar, dia bersedia merepiw dan bahkan memfave fic ini *menangis bahagia*

Thanks buat yang udah memfave fic ini:

AnyaHanabi

Aoi LawLight

ARGENTUM F. SILVER-CHAN

Arisucci

Chessa1091

chocolatess

Fujikaze Akira

FujoshIchiHitsuHyukkiELFish

Hana Jenibelle Chrysanthemum

hitsuika kuchiki

Hotaru Jaegerjaquez

IchiRuki DarkTigrex-Slayerz

Just a human

Kard Hikari vi Titania

Kuro Sky

Light Lamperouge

MamoRu AYa

Megami Mayuki

Nisca31tm-emerald

Okasi

renzy 9x'y

Rufus Sinclair

symbion

Yemi Hikari

Yoshizo kurochi

Yuki-hime Hitsugaya

Thanks untuk para anony reviewer yang ga kebagian PM (Gomen ne):

FYLIN (arigatou)

Hhvt (Mii ga login.. mii ga kebagian PM... XP)

Zakiyyah (semangat ya ulangannya =3)

nibi (ha ha ha... kenapa takut diliatin orang tua? XD banyak istirahat ya)

yoseeibi (sukses ya ulangan TIKnya... ganbate ne...)

shiro x hyou (Arigatou... wah kusa juga iri ma temen hyou... pengen beli *nangis gluntung-gluntung. Hinamori kemungkinan masih hidup dilihat dari semangat Toushiro untuk jadi lebih kuat)

Special thanks for:

Karyn Schiffer (my beta)

Yemi Hikari (my best favorite author)

and

YOU ALL

Untuk yang terakhir For the Dearest. Mind to review?

-kusanagi-