Disclamer: SasuNaru selalu setia dengan Masashi-sensei... XP

Rated: T

Genre: Romance selalu menghiasi fic-ku...hehe

Pair: Apalagi kalo gak SasuNaru...Slight NejiGaa, ShikaKiba, ShinoHina

Warning: Sho-Ai, OOC, OC, MissTypo, AU, Garing, Gaje, Alur Super Duper Cepat, Kebanyakan dialog dari pada deskripsinya. Hehe...

A/N: Bila ada keanehan dalam cerita, mohon maaf! Dan Fi rasa, judulnya agak aneh atau emang aneh? =.='' Dan maaf juga kalau Fi masuk kedalam fic ini. Hehe... Dan mungkin, ini akan menjadi Multy-multyShot.(mungkin)

Don't Like? Don't Read

Electric Love Stings

(By: Fi suki suki)

(Capter 2)

Naruto POV

Pagi yang cerah. Hari ini adalah hari pertama kali aku mulai sekolah di Konoha High School. Sungguh membuat jantungku berdetak dengan cepat. Jujur saja, masih ada perasaan takut akan traumaku dengan sekolah yang dulu. Berputar kembali peristiwa itu dipikiranku. Harus kuacuhkan. Aku sudah yakin kalau aku harus bersekolah formal lagi.

Kupakai baju sekolahku yang baru ini. Kemeja putih berlengan panjang, dengan dasi hijau, dan switer tipis berwarna krem yang berlengan pendek. Sungguh serasi dengan celana panjang sekolah yang berwarna hijau tua yang indah dan cerah. Setiap detik kupandang diriku dengan baju sekolah baru ini, sangat menyenangkan. Kuputar-putar badanku untuk mengagumi baju seragam ini. Indah sekali. Kira-kira sudah sepuluh menit aku berada didepan cermin panjang yang berada di kamarku yang ada di atas. Benar-benar pagi yang menyenangkan. Aku benar-benar tak sabar bertemu deng..err... Sasuke. Tiba-tiba terdengar suara panggilan dari bawah.

"Naruto~ Cepat turun! Ayo sarapan! Sebentar lagi kamu harus berangkat kesekolah!" panggil okaasan dengan keras dari bawah.

"Hai' kaasan," ucapku sambil keluar dari kamar lalu turun menuju ruang makan.

"Ayo cepat makan roti panggangmu, dan ini jus jeruk hangatmu. Habiskan jangan sampai tersisa," ucap kaasan sambil terus menyodorkan banyak sarapan untukku. Aku langsung memakan 2 roti panggangku dengan lahap.

"Apa kau tidak mau kaasan antar ke sekolah?" tanya kaasanku sedikit cemas.

"Twidhak khusah khaassan,"(baca: Tidak usah Kaasan.) kataku dengan roti penuh dimulutku.

"Kau yakin?" tanya kaasan masih cemas.

Gluk. Kutelan roti yang tadi ku kunyah itu kedalam tenggorokanku.

"Iya kaasan. Aku kan sudah SMA. Umurku sudah 16 tahun. Badanku juga tidak sependek dulu. Dan lagi, Konoha High School juga tidak jauh," jawabku panjang lebar.

"Tapi kaasan hanya khawatir kalau kau diganggu dengan preman-preman tidak jelas yang bisa muncul dimana saja," balas kaasan masih dengan kecemasannya yang segudang.

"Preman? Menggangguku? Karena banyak yang bilang aku imut seperti perempuan?" tatapku tajam kepada kaasan.

Okaasan hanya mengangguk.

"Kaasanku sayang, aku tidak seimut itu! Hanya karena wajahku yang sering terlihat seperti anak kecil itu, jadi sering dibilang wajahku imut! Tapi aku tidak akan bersikap seperti anak kecil kok. Buat apa coba? Ya sudah ya kaasan, Naru berangkat dulu. Ittekimasu," ucapku sambil berlari keluar rumah.

"Iterasai," ucap kaasan lemas.

.

.

Normal POV

TENG TENG TENG

Bel sekolah berbunyi. Murid murid Konoha High School memasuki kelas masing-masing. Dan diantaranya ada kelas 2-1 yang ramai oleh suara murid-murid karena kelas itu belum didatangi gurunya itu.

"Hah~ pasti Kakashi-sensei telat lagi," gumam Kiba sambil bersender di dinding sebelah kirinya yang berada tepat disamping kursinya.

"Hm, sepertinya tidak untuk kali ini," ucap Gaara datar yang berada di kursi yang ada didepan meja Kiba.

"Eh?" heran Kiba.

"Betul kata Gaara, Kiba. Tadi kudengar ada anak baru di sekolah ini. Huaa~," sahut menguap.

"Lalu? Apa urusannya dengan Kakashi-sensei?" tanya Neji datar.

"Ku dengar, kelas kita yang kedatangan murid baru," jawab Shikamaru malas, lalu tertidur di kursinya.

"Oh. Menurutmu cewek atau cowok, Sasuke?" tanya Kiba antusias sambil memandang Sasuke.

"Mana Sasuke tahu. Dasar Baka-Kiba," sahut Sakura sinis yang duduk sambil bergelayutan manja di lengan Sasuke. Dan Sasuke hanya terdiam dengan pikirannya.

"Aku tidak bertanya padamu, Baka-Sakura," balas Kiba dengan sinisnya.

"Cih," acuh Sakura yang tambah erat bergelayutan di lengan Sasuke.

Sasuke yang tambah erat digelayuti manja oleh Sakura masih tetap terdiam sambil memejamkan matanya. Entah kenapa dia seperti sedang memikirkan sesuatu. Shino, Hinata, dan Gaara yang melihat sikap acuh Sasuke yang sedikit berbeda dari biasanya, hanya terheran-heran sambil tetap terdiam tanpa membuka suara.

ZREK

Pintu kelas 2-1 bergerak tergeser. Muncul seorang lelaki bertubuh tinggi yang memakai maskar di mulutnya. Berambut jabrik keatas yang sedikit menyamping berwarna abu-abu, sambil membawa buku pelajaran Sejarah.

"Ohayou anak-anak," sapa pria bermasker itu yang dikenal sebagai Kakashi-sensei.

"Ohayou Kakashi-sensei," balas murid-murid di kelas itu malas, datar dan heran.

Kenapa heran? Karena bagi murid-murd itu, Kakasih-sensei yang sebagai wali kelas 2-1 itu sering sekali datang terlambat. Dan untuk pertama kalinya-mungkin-, Kakashi-sensei datang kekelas tepat pada waktunya. Sungguh rekor untuk wali kelas yang satu ini.

"Kenapa kalian terlihat malas? Cobalah semangat. Sensei membawakan murid baru yang cukup menarik," ucap Kakashi-sensei semangat sambil tersenyum mesum(?) yang tentunya tidak dapat dilihat murid-muridnya karena maskernya yang menutupi mulutnya itu.

"Laki-laki atau perempuan, sensei?" tanya Kiba pada Kakashi yang dibalas anggukkan dari beberapa murid lainnya.

"Menurut kalian apa? Kalian lihat saja sendiri. Ayo masuk anak baru," panggil Kakashi-sensei kepada anak baru yang sedari tadi menunggu di luar kelas.

Masuklah seorang anak laki-laki berambut pirang, bermata biru langit dan laut. Bertubuh sedang-yang dua senti lebih perndek dari Sakura-, berkulit tan lembut, yang memiliki tiga garis halus menyamping di kedua sisi pipinya. Yang tentunya kita kenal dengan nama, Namikaze Naruto.

Naruto berjalan kearah Kakashi dengan wajah gugup dan badan tegang. Kalian tentu masih ingat bahwa Naruto masih trauma dengan sekolah Formal karena kejadian Bullying. Wajah Naruto sedikit pucat. Dia amat sangat gugup. Saking gugupnya, jalannya sedikit terasa lambat. Kakashi yang melihat kegugupan Naruto sedikit mengerti.

Ya, Kakashi sempat diceritakan oleh Tsunade, Kepala sekolah KHS sekaligus nenek dari Naruto bahwa, Naruto sedikit trauma dengan sekolah Formal. Dan tentunya, Tsunade meminta Kakashi untuk mengawasinya di dalam kelas sebisa mungkin.

"Ayo sini Namikaze-kun, jangan gugup begitu," ramah Kakashi.

Naruto yang melihat keramahan Kakashi dari wajahnya, sedikit mempercepat langkahnya menghilangkan rasa gugupnya.

"Nah, begitu baru bagus. Sekarang, hadap kedepan kelas lalu perkenalkan dirimu,"

"A-ano~, namaku Namikaze Naruto. Yoroshiku ne," ucap Naruto sedikit gagap sambil tersenyum lalu membungkukkan badannya dengan sopan.

Sasuke yang sedari tadi memejamkan matanya karena asik dengan pikiran sendiri, langsung melepaskan gelayutan dari Sakura dan membuka matanya sambil memandang tajam pada murid baru karena mendengar nama "Naruto" yang disebutkan Naruto tadi.

'Dia,' batin Sasuke sambil memandang Naruto yang sudah mengangkat badannya lagi.

Serasa diperhatikan oleh seseorang, Naruto menegakkan tubuhnya lalu mencari siapa yang memandangnya. Alhasil, dia menemukan Sasuke yang tengah memandangnya.

'Dia kan-,' batin Naruto sambil memandang Sasuke yang sedang memandangnya tajam.

Kembali terjadi. Mata hitam Onix Sasuke dan biru Sapphire Naruto bertemu. Pandangan kehangatan. Pandangan seperti sepasang kekasih yang telah lama berpisah dan akhirnya berjumpa lagi. Pandangan yang mengingatkan tabrakkan di koridor sekolah saat festival itu. Pandangan yang memiliki sengatan listrik penuh cinta. Pandangan yang memiliki banyak arti.

Kakashi yang menyadari interaksi mata antara murid lamanya, Sasuke, dan murid barunya, Naruto, sedikit terkejut dengan penuh keheranan.

"Ehem," dehem Kakashi sedikit keras.

Sasuke dan Naruto yang sedari tadi asik sekali dengan pandangan penuh arti itu, langsung memalingkan wajah masing-masing.

DEG DEG DEG

Detak jantung Sasuke dan Naruto, berdetak cukup kencang. Serasa ingin meledak ledak.

"Ehm, Naruto," panggil Kakashi pada Naruto.

Naruto menghadap muka wali kelas barunya ini. "Ya, sensei?" tanya Naruto yang mencoba menghilangkan degupan kencang di dadanya.

"Kau bisa duduk di belakang kursi Inuzuka Kiba," ucap Kakashi sambil menunjuk meja di samping Kiba yang kosong tanpa penghuninya itu.

"Baik sensei," senyum Naruto cerah seperti anak kecil.

'Manis,' itulah yang dipikirkan beberapa anak perempuan maupun laki-laki yang melihat senyum childish khas Naruto itu. Oke, Naruto memang tidak semanis dan seimut itu dari wajahnya. Tapi apa pernah kalian pernah dengar? Seseorang yang memiliki sifat yang polos, akan mengeluarkan inner dan aura yang polos pula. Karena sifat Naruto yang polos, maka, Naruto terlihat imut dan manis dimata orang banyak. Walau sebenarnya Naruto bisa dibilang dalam kriteria wajah yang gagah dan tampan, tapi sifat tidak menunjukannya. Jadi… mau diapakan lagi.

Oke. Back to Story.

Naruto berjalan kearah belakang kursi Kiba. Kursi kosong itu berada di pojok kiri belakang kelas.

Mari saya jelaskan dimana teman-teman Sasuke duduk:

Neji duduk disamping kanan Gaara. Shikamaru duduk di samping kanan Kiba. Shino duduk disamping kanan Shikamaru dan dibelakang Hinata. Hinata duduk disamping Neji dan didepan Shino. Sasuke duduk dibelakang Shikamaru dan di samping kiri Sakura. Sakura duduk di samping kanan Sasuke dan dibelakang Shino. Tidak rumit kan untuk mereka yang sering jalan bersama. Dan lagi, Naruto bukan cuma berada di kursi belakang Kiba. Tapi juga di meja samping kiri Sasuke.

Oke. Back to Story. (again)

"Hei Namikaze. Kenalkan, namaku Kiba. Panggil aku Kiba saja," ucap Kiba sambil mengulurkan tangannya yang badannya sedang menghadap belakang.

Naruto membalas uluran tangan Kiba. "Salam kenal Kiba. Eh, jangan panggil aku Namikaze. Panggil saja Naruto," balas Naruto sopan sambil tersenyum.

Tentunya, Kiba tidak begitu terpesona dengan senyum manisnya Naruto. Mungkin karena sesama 'golongan'.

Sasuke sedari tadi hanya memandang Naruto dengan teliti dan cermat. Sasuke memandang Naruto sambil berfikir tentang ramalan yang ia terima itu dari peramal yang ia temui saat festival.

"Ano~ kenapa kau memandangiku seperti itu?" tanya Naruto tiba-tiba kepada Sasuke. Sasuke sadar kalau Naruto menyadari tatapannya.

"Siapa yang memandangimu. Jangan ge-er deh, Dobe," ucap Sasuke –sok- ketus kepada Naruto sambil memalingkan wajahnya.

"Wah, maaf deh kalau aku 'ge-er', Teme," balas Naruto kesal tapi mencoba santai. Lalu ia duduk dikursinya.

"Cih, Dobe,"

"Teme,"

"Baiklah anak-anak, kita mulai pelajarannya,"

.

.

TENG TENG TENG

"Baiklah anak-anak, pelajaran cukup sampai sini. Selamat Siang," ucap Kakashi-sensei sambil pergi meninggalkan kelas.

'Kakashi-sensei sudah pergi. Bagaimana ini? Apa aku keatap saja ya? Baiklah,' batin Naruto cemas sambil membereskan buku.

Saat Naruto mulai berjalan keluar kelas dengan sedikit tergesa-gesa, dia tidak sengaja menabrak Sasuke dan Sakura yang berada didepan pintu kelas.

BUG (bukan serangga lho)

SREAK

Naruto dan Sasuke sedikit tersentak dengan sengatan yang mengalir dari badan mereka. Sasuke langsung membalikkan badan untuk melihat siapa yang menabraknya, dan Naruto langsung menjauh dari badan Sasuke.

Onyx bertemu Sapphire.

'Lagi,' batin mereka berdua bersamaan. Naruto sedikit mendongak untuk menatap Sasuke yang lebih tinggi sedikit darinya. Dan Sasuke harus sedikit menunduk untuk melihat Naruto yang lebih pendek darinya. Kembalilah terjadi tatap menatap antara Onyx dan Sapphire. Tapi kali ini lebih singkat. Karena Kiba berdehem untuk mengusik kesunyian yang ada di antara Sasuke dan Naruto.

"Ehem,"

Sasuke dan Naruto mengalihkan wajahnya kesamping.

DEG
DEG
DEG

Jantung mereka kembali berdetak dengan cepat. Wajah mereka sedikit bersemu merah. Tapi dengan cepat mereka hilangkan karena mereka berdua tidak ingin menarik perhatian teman sekelasnya itu.

"Sasuke-kun~, ayo kita kekantin," ajak Sakura dengan manja sambil bergelayutan di lengan Sasuke.

"Hn," ucap Sasuke walau jantungnya masih sedikit berdetak dengan kencang,

"Hey Naruto, kau mau ikut?" ajak Kiba sambil tersenyum ramah kearah Naruto.

Naruto yang diberikan senyum oleh Kiba membalas tersenyum. Walau perasaannya masih takut dan jantungnya masih berdetak cepat gara-gara insiden tadi, apa salahnya kalau kali ini ia memberanikan diri.

"Bolehkah?" tanya Naruto masih tersenyum walau ada guratan keraguan dari wajahnya.

"Tentu saja! Iya kan Gaara?" jawab Kiba sambil tersenyum dan menatap wajah Gaara yang berada di samping kirinya.

"Ya, tentu. Bolehkan Neji?" balas Gaara sambil tersenyum tipis dan menatap kekasihnya, Neji.

"Tentu saja. Itupun kalau Sasuke dan Sakura tidak keberatan," ucap Neji datar sambil menatap Sasuke dan Sakura bersamaan. (A/N: perasaan kok ngoper-ngoper ya?)

Sebelum Sakura memerotes, Sasuke mengangguk singkat sambil berjalan keluar kelas yang diikuti Sakura dengan gerutuannya yang tak jelas itu.

"Ayo," ucap riang Kiba sambil menarik tangan Naruto dan Gaara yang diikuti Shikamaru dan Neji di belakang.

.

.

"Haaah~ terima kasih atas makanannya," ucap Kiba riang sambil mengatupkan kedua tangannya tanda terima kasih pada tuhan(?). (A/N: ngerti gak?)

"Hm… ngomong-ngomong, kemana Naruto?" tanya Gaara sambil melirik ke sekitar kantin.

"Tadi dia bilang ingin ke toilet, huaaah~," jawab Shikamaru sambil menguap tanda mengantuk.

"Toilet? Tapi kan dia tidak tahu jalannya," seru Gaara dengan nada sedikit cemas.

"Bagaimana ini?" tanya Kiba ikut cemas.

"Bodoh," hanya itu satu patah kata yang di ucapkan Sasuke, lalu ia pergi meninggalkan tujuh orang temannya itu –termasuk Sakura pacarnya- yang keheranan akan sikapnya yang tiba-tiba berubah drastis.

.

"Di-di mana aku?" tanya Naruto pada diri sendiri yang sepertinya sudah menyasar ke tempat yang tentunya ia tidak tahu sebagai murid baru.

"Sepi sekali di sini!" panik Naruto lagi. "Kenapa aku selalu terpisah sih?" tanyanya pada diri sendiri.

Saat Naruto sedang sibuk dengan pikirannya sendiri, terlihat seperti seorang perempuan berjubah berjalan menghampiri dirinya.

Perempuan itu menepuk pundak Naruto pelan. Sontak Naruto terkejut dan reflek menepis tangan seseorang yang tadi ada di pundaknya. Ia membalikkan badannya untuk melihat siapa yang ada di belakangnya.

Mata Naruto membulat setelah melihat siapa yang ada di hadapannya.

"Ka-kamu kan…"

TBC

Yup. Cukup sekian disini dulu. Kita akan lanjutkan lagi tahun depan. Da-da~ (ditendang pada reader yang udah nunggu ampe Jamuran #PLAK) Uhuhu… Kejamnya hidup ini.. #kicked

Fi hanya mau berterima kasih kepada:

Kyukei Hieru, pppeppermint, keyzha angelica miaw-miaww(sabar ya, nanti mucul di chap selanjutnya), Thy She Blue-cat042310, Han-kun, Hikarii Hana, Kiroikiru no Mikazuki Chizuka, Naruels, Ling-Ling Chinese, Lavender Hime-chan,

Dan para Reader tanpa akun:

Sasuchi ChukaCukhe, White, NhiaChayang, Cucupida, Hyuzura Namikaze Hyuuga, Vipris, nama tidak penting(saya tahu kau siapa X3), Matsuo Emi, Oky, K, ichigo.

Maaf kalau chap ini Aneh, lagian Fi tiba2 maksain Updet sih. PAYAH! Dan Fit au kalau ini pendek. Hanya iseng saja kok #kicked#

Please Review if you Done Read it (inggris ngaco)