Wah, gak nyangka udah chap 7

Sebelumnya, saya minta maaf atas keterlambatan dan keleletan saya dalam mengupdate fic. Sebenarnya sih, nih chapter udah selesai tahun lau =3= = author gak tanggung jawab

Sesuai janji, chap ini bakalan ada crime nya.

WARNING : Sakura dissapeared, AU, (katanya) humor, BELIEVE IN HEAVEN -?-, BRING ME YOUR BLOOD *ngaco*, give me your MONEY! *makin nyasar*. Khusus untuk chap ini, DON'T LIKE DON'T READ! *akhirnya ada juga warn yang waras*.

Rated : semi M! pokoknya harus bisa bikin nangis! *semangat '45*

QUOTE : Jika anda terhibur membaca fic saya, maka saya juga akan lebih terhibur membaca riview anda; ART IS BLOOD~~ *Dibom Deidara*

Disclaimer: apapun yang terjadi~ kukan sla… eh… salah scene! Apapun yang terjadi, Naruto dan kawan-kawannya tetap punya Masashi Kishimoto.

"Sasori? Kau kenapa?" Sakura tampak begitu khawatir saat melihat Sasori yang pundung di sudut ruangan.

"Lepaskan aku! Aku Cuma mau sama dokter!" teriak Sasori. Sakura menghela nafas.

"Baiklah kalau kau tidak mau aku urus! Biar aku mengurus dokternya saja!" goda Sakura. Sasori langsung tertegun.

"Iya! Iya! Suster! Aku mau!" Sasori langsung bangkit.

"Na~ na~ na~" Sakura menyanyi kecil sambil mengancing piyama Sasori. Perasaannya tidak enak. Sejak sore tadi Deidara belum juga pulang. Tadi sore katanya dia mau beli es doger. Tapi nyatanya sampai jam sembilan malam Deidara tidak kunjung kembali.

"Suster! Dokter mana?" tanya Sasori.

"Ah, Sasori! Aku juga sedang mikirin pak dokter! Dari tadi belum pulang. Coba aku telpon ya!" Sakura mengeluarkan HP nya.

"Cih! Gak aktif…" Sakura mendecih.

Sasori masih dengan tatapan innocent nya.

Sakura melangkah keluar kamar itu. "Suster mau kemana?" tanya Sasori. Tapi Sakura hanya membalasnya dengan senyuman.

Sakura menuju kebun RSJK. Menuju ke pohon sakura tua yang terlihat lebih indah dimalam hari. Dia duduk di sela-sela akar itu. Dan mulai bersandar.

"Akhirnya kamu datang…" sebuah suara membuat Sakura tertegun. Suara yang sudah tidak asing lagi di telinganya.

"Ah, Deidara? Sejak kapan kau disitu? Mana es nya?" Sakura menagih hutang orang yang ternyata Deidara itu.

Deidara memberikan sebungkus es doger pesanan Sakura.

"Minumlah!" suruh Deidara.

"Kamu?" tanya Sakura sambil menyedot es cendol itu.

"Jangan ditelan!" suruh Deidara tiba-tiba. Membuat Sakura membungkam agar es doger di mulutnya tidak keluar.

Deidara ketawa gaje. "Aku juga haus tauk!" ucap Deidara. Kemudian dia menyatukan bibirnya dengan bibir Sakura. Meminum cairan pink dari dalam mulut Sakura. Membuat jantung Sakura serasa mau copot.

Bibir mereka terlepas begitu es doger di dalam mulut Sakura habis. Deidara menatap mata emerald Sakura.

"Percayalah pada surga…" kata Deidara dengan suara yang sangat lembut.

"Ma-maksudmu?" Sakura agak bingung dengan kata-kata Deidara.

Sementara itu, ditempat yang agak jauh, seseorang menguntit mereka. "Uh, harus segera aku hentikan!" batinnya.

Deidara tersenyum. Kemudian mencium kening Sakura.

"Kenapa selalu aku duluan? Aku ingin dicium… un…" ucap Deidara manja.

"Eeh…" Sakura sedikit tidak percaya.

Mereka kembali bertatapan. Semakin dekat… 3cm lagi…

Tiba-tiba darah segar keluar dari mulut Deidara. Membuat Sakura shock.

"Deidara?" Sakura tidak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini. Sebuah kusanagi menembus badan Deidara dari punggung ke perut. Darah yang tidak berhenti mengalir itu hampir mengubah warna baju putih mereka berdua menjadi merah.

"Si… siapa yang melakukan ini?"

Deidara masih mempertahankan senyumnya.

Srakk… Kusanagi itu ditarik secara tiba-tiba oleh si penusuk. Menambah jumlah darah yang keluar.

Dukk… Deidara tumbang. Kepalanya terjatuh ke pundak Sakura. Darah dari mulutnya sedikit membasahi rambut soft pink mendungak. Dia melihat kearah orang berjubah hitam itu. "KA—hmmphf," Sakura ingin berteriak, tapi mulutnya dibungkam Deidara dengan tangannya.

"Jangan teriak, Sakura… aku tidak ingin seorangpun mengganggu malam terakhir kita…" ucap Deidara dengan suara yang serak. Bulir-bulir air mata keluar dari pelupuk mata Sakura.

Sakura menggenggam tangan Deidara yang belum lepas dari mulutnya.

"Kalian ini! Jangan terus begitu didepanku kalau masih sayang nyawa!" kata orang itu. Srakk… orang itu menarik kerah jas Deidara dengan paksa dan tiba-tiba. Membuat Deidara sedikit tercekik. Dengan kasarnya orang itu menggeret Deidara.

"DEIDARA!" teriak Sakura.

Sakura berharap seseorang mendengarnya. Tapi percuma saja. Dari tempatnya ke rumah sakit agak jauh. Mengingat kebun RSJK yang begitu luas.

Wajah Deidara masih tersenyum. Menunjukkan ungkapan bahwa dia pasrah dengan apa yang terjadi. Sementara orang itu sedang menggeret tubuhnya dengan kasar menuju rumah kaca.

"Jangaaan~~" Sakura memeluk tubuh Deidara yang sudah mulai lemas.

"Pergi kau! Jangan mengganggu kesenanganku!" teriak orang itu sambil menendang kepala Sakura. Sakura tidak mampu menahan airmatanya. Dia masih memeluk Deidara walaupun kepalanya serasa mau pecah

"Uugh.. uhuk…" Deidara mengeluarkan darah lagi dari mulutnya. Membasahi rambut Sakura yang sekarang sudah berubah warna menjadi merah kehitaman. Tapi Sakura tidak peduli. Bau anyir itu tercium harum di hidungnya.

Dukh… orang itu melepas genggamannya dan membuat punggung Deidara terhempas ke tanah. "Cih…" orang itu mendecih.

"Hik… hik…" Sakura termehek-mehek. Apalagi saat Deidara kini berada dibawahnya. Dengan keadaan berdarah dan tinggal menunggu hitungan detik.

"Percayalah pada surga. Aku akan menunggumu disana…" ucap Deidara. Air mata mulai menetes keluar dari matanya. Tapi senyumnya masih bertahan. Senyum yang menggambarkan betapa dia pasrah akan takdirnya.

"Menjijikkan sekali!" kata orang yang menusuk Deidara tadi. Kilatan merah terlihat dari matanya. Dan secara keji dia menusuk bagian jantung Deidara.

Matanya tertutup. Dan nafasnya terhenti. Tidak terasa denyut lagi di dadanya.

"DEIDARA! Tidaak! Jangan tinggalkan aku!" teriak Sakura. Airmatanya mengalir makin deras menghujani wajah Deidara yang terlihat sangat damai.

Sakura mulai mendekatkan wajahnya. Kemudian mengecup bibir Deidara. Dia tidak peduli darah berjumlah banyak yang masih mengalir dari mulut Deidara. Sakura tetap menikmatinya. Permintaan terakhir Deidara.

"Hik… Hik…" Sakura masih tersendat saat Ino menyiram tubuhnya dengan air hangat. Berusaha menghilangkan darah yang menempel pada tubuh dan rambut Sakura.

Bukan hanya Sakura, Ino juga. Bagaimana tidak? Sejak Deidara masuk SMA di Amegakure, dia selalu menunggu kepulangan kakaknya. Dan tiga tahun setelahnya, dia harus menunggu setahun lagi wisuda kakaknya. Dan selama empat tahun itu dia sendiri dan kesepian dirumah. Orang tuanya sudah meninggal saat Deidara baru masuk SMA.

"Onii…" gumam Ino pelan sambil mengelap rambut Sakura yang masih berdarah dengan kain yang sudah direndam air panas. Air matanya tidak terbendung lagi.

"Sa… sakura… hik…" panggil Ino saat darah-darah itu sudah mengalir bersama air-air hangat itu.

Sakura hanya terdiam. Tapi suara hik-hik nya masih terdengar.

"Pemakaman akan dilakukan sejam lagi…" Ino berusaha menahan tangisnya. "Cepatlah bersiap…" Ino menyelimuti handuk biru itu ke tubuh Sakura.

Tanah perkuburan itu sudah mulai sunyi. Tapi Ino masih menangis tersedu-sedu sambil memeluk batu nisan Deidara. Sementara disebelahnya Sakura berusaha menahan tangisnya, tapi tidak bisa.

"Sakura, kau tidak sekolah? Semua sudah menunggumu! Anko-sensei mengizinkanmu masuk sehabis istirahat!" kata seseorang yang tiba-tiba muncul di belakang Sakura.

"Sa-Sa-Sasuke…?" ucap Sakura terbata saat melihat orang yang memanggilnya itu.

"Hn," Sasuke menghela nafas, kemudian berjongkok kesamping Sakura.

"Kau kelihatan sedih sekali, Sakura! Apa kau benar-benar menyayanginya?" tanya Sasuke dengan wajah yang terlihat tidak enak.

"Hik… hik… Deidara… di-dia mau menerimaku apa adanya hik… a… aku bukan hanya menyayanginya… hik… aku sangat mencintainya…hik… hik…" Sakura melepas tangisnya di pundak Sasuke.

Sasuke membelai pelan rambut Sakura. "Aku turut berduka…" bisik Sasuke pelan.

Suara isak itu masih terus terdengar. Walaupun didepan guru sedang menjelaskan.

Sasuke melirik kearah Sakura yang sedang terisak. 'Aku tidak boleh begini… aku harus lakukan sesuatu agar dia berhenti menangis…' batin Sasuke.

-Istirahat kedua-

Kelas sudah sunyi. Hanya ada Sakura yang masih larut dalam kesedihannya dan Sasuke disitu.

"Sakura… kau tidak bisa terus-terusan begini! Bagaimana kalau kau kubawa jalan-jalan pulang sekolah nanti?" Sasuke menawarkan jasanya. Kemudian dia menatap Sakura untuk meminta persetujuan. Sakura pun mengangguk pelan. Sasuke tersenyum puas. Setidaknya untuk sementara.

Bell tanda pulang sudah berbunyi. Semuanya berhamburan keluar kelas. Sementara Sasuke masih berusaha membuat Sakura bergerak dari tempat duduknya.

"Sakura… ayo kita pergi! Ada…" Sasuke menggantungkan kata-katanya. Wajahnya terlihat bimbang. Sementara Sakura yang sudah mulai lemas tidak mempedulikannya.

Sasuke menggeleng. Kemudian mengangkat tubuh Sakura pelan dan membawanya kemobil innova-nya. Sakura hanya pasrah. Yang dia pikirkan hanyalah cara untuk bertemu dengan Deidara dan membunuh orang yang telah membunuh Deidara.

Setelah mendudukkan Sakura, Sakuke menuju ke bangku supir dan mulai menjalankan mobilnya. Menuju tempat yang Sasuke kira bisa membuat Sakura melupakan Deidara.

Sakura terdiam sepanjang perjalanan. Tapi matanya tidak berhenti melihat kesana-kemari untuk menemukan benda yang bisa membuatnya bertemu dengan Deidara.

Tangannya mulai bergerak sedikit demi sedikit masuk ke tempat yang ada di pintu (susah bilangnya. Pokoknya tempat tempat yang ada di pintu kijang innova itu apalah namanya). Tangannya mendapatkan sesuatu. Sasuke yang sedang menyetir tidak terlalu memperhatikan gerak-gerik Sakura yang terbelalak melihat benda yang dipegangya. Pisau lipat.

Sakura membuka pisau itu dan mengarahkannya ke pergelangan tangannya. Sedikit lagi… dan…

"Sudah sampai, Saku… eh… Sakura! Apa yang kau lakukan?" Sasuke langsung merampas pisau lipat itu dari Sakura.

"Apa yang kau lakukan? Tidak perlu begitu juga, Sakura! Aku tau kau sedih, tapi dengan melakukan hal seperti itu, maka kau…"

"Apa? Kau tau apa tentang Deidara? Kau tau apa tentang perasaanku? Kau tidak tau bagaimana rasanya kehilangan orang yang kau cintai! Kau… kau hanya… hik… hik…" Sakura mengeluarkan air mata lagi. Sasuke memeluknya erat.

"Aku tau, Sakura! Karena aku… mencintaimu…" ucap Sasuke pelan. Sementara dipelukannya Sakura sedang menangis tersedu-sedu. Perasaannya campur aduk.

"Sa-Sasuke… antar aku ke rumah sakit…" pinta Sakura.

"Tapi, Sakura… dari sini ke RSJK jauh! Memakan waktu sejam. Dan sekarang sudah jam enam!" Sasuke menolak permintaan Sakura dengan halus.

"Antarkan aku, Sasuke…"

Mobil itu sudah terparkir dengan sempurna. Dan pintunya mulai terbuka. Menampakkan sesosok pria bermata onyx yang keluar dari pintu (yaiyalah).

"Kau tidak keluar Sakura?" Sasuke mengetuk jendela di sebelah Sakura duduk.

Sakura mulai bergerak. Melepas safety belt nya. Secara tidak sengaja dia melihat kearah cermin yang berada di depannya. Apa itu? Semacam… Kusanagi?

Dengan terburu-buru, Sakura menghidupkan lampu dalam mobil dan segera melompat kebelakang. Menatap kusanagi itu. Sasuke yang menyadarinya langsung terkejut dan segera membuka pintu belakang. Saat pintu itu terbuka, ujung kusanagi tiba-tiba sudah standby di leher Sasuke.

"Sasuke… jangan terlalu memaksakan kehendak…" suara serak Sakura terdengar menggema di tempat parkir yang tidak ada seorangpun disana.

"M-maksudmu…" Sasuke gugup begitu kusanagi itu digeser sedikit. Sehingga leher Sasuke sedikit berdarah.

"Apa yang sudah kau lakukan pada Deidara?" tanya Sakura dengan nada horor.

"A-aku…"

"Apa yang kau lakukan? Seharusnya kau berterima kasih!" Sakura mulai menitikkan airmata lagi. Dan menjatuhkan kusanagi itu.

"Sakura… maksu…" kata-kata Sasuke terpotong begitu Sakura secara tiba-tiba berlari keluar tempat parkir. Sasuke ingin berlari menyusulnya. Tapi tiba-tiba lehernya terasa nyeri. Ternyata Sakura memutuskan urat arteri di leher Sasuke. Dan itu berarti hidup Sasuke tidak akan lama lagi.

Sakura berlari masuk rumah sakit. Tiba-tiba seseorang menangkapnya. Itu Ino.

"Sakura-chan! Tidak baik berlari-lari dirumah sakit! Lebih baik kita pergi ke pohon sakura tua saja! Mungkin itu bisa menenangkan hatimu!" ajak Ino. Dengan sedikit paksaan, akhirnya Sakura mau ikut dengan Ino.

Tap… tap… tap… mereka berdua melangkah pelan-pelan menuju pohon sakura dekat rumah kaca itu. Ino sedikit shock melihat rumput di sekitar situ.

"Da-darah?" ucap Ino histeris. Bukan karena dia takut darah. Tapi dia merinding memikirkan bahwa darah itu adalah darah kakaknya.

Mereka duduk di tempat dimana Deidara dan Sakura duduk berduaan tadi malam. Ino mulai menangis lagi. Biasanya disaat seperti ini Deidara selalu mengganggunya. Atau setidaknya menyapa dan duduk ditengah-tengah. Tapi tidak untuk kali ini.

Sakura menatap rumput yang berwarna merah itu. Tiba-tiba, seperti ada yang melangkah diatas rumput itu. Langkah yang dia sudah hafal iramanya. Langkah itu melangkah ke arah rumah kaca, dan masuk.

"Deidara…" gumam Sakura pelan.

"Sakura! Deidara sud…" kata-kata Ino menggantung begitu Sakura berlari secara tiba-tiba mengarah ke rumah kaca yang sedikit bercahaya.

"Sakura!" teriak Ino saat Sakura masuk ke rumah kaca. Pintu kaca itu tertutup. Dan cahayanya makin besar dan menyilaukan.

Mata Ino serasa buta dan tidak bisa melihat apa-apa lagi. Tapi dia tetap berusaha melawan kesilauan itu. Berusaha membuka pintu. Tapi, masalah lain datang. Pintu itu tidak bisa dibuka. Ino masih tetap berusaha. Sementara cahaya—yang entah dari mana asalnya—itu makin menyilaukan mata.

Ino terjatuh. Dan tidak lama kemudian cahaya itu menghilang.

Setelah yakin cahaya itu sudah hilang, dia segera bangkit dan berusaha membuka pintu kaca itu lagi. Tapi, kali ini pintu itu terbuka dengan mudah. Gelap. Satu kata yang sangat cocok untuk menggambarkan suasana dalam rumah kaca saat itu.

Tukk… kaki Ino tersandung pot dan dia hampir terjatuh. Dia mulai meraba sekeliling. Dan ternyata selain gelap, isi rumah kaca itu berserak. Pot-potnya pecah dan obat-obatannya mati.

"Sa-Sakura!" panggil Ino. Tidak ada jawaban. Ino terus melangkah makin kedalam.

Matanya kini mulai bisa beradaptasi. Sedikit demi sedikit Ino mulai bisa melihat isi rumah kaca yang berserakan dengan disinari sinar rembulan.

Ino terus berjalan kesana kemari, sambil berteriak memanggil Sakura yang sejak tadi tidak menjawab.

"Hhuh…" Ino sudah capek. Dia mengambil sebuah papan dan duduk diatasnya. Dia berusaha mengatur nafasnya yang sudah tidak beraturan lagi.

"Haus?" tiba-tiba saja sebuah A*ua gelas muncul didepan matanya diikuti suara yang sudah tidak asing lagi di telinganya.

SIAPAKAH DIA?

Tunggu di chap berikutnya! *dikeroyok rame-rame*

.

"Itachi-san?" gumam Ino pelan. Tidak lama kemudian dia berdiri dan memeluk erat tubuh Itachi. Itachi tersenyum kecil.

"Mungkin kakakkmu kesepian disana. Dan, dia menginginkan Sakura untuk menemaninya…" jelas Itachi.

"Kenapa? Kenapa bukan aku? Hik… hik…" Ino menangis di pelukan Itachi.

Itachi hanya tersenyum. Berusaha menarik nafas dengan damai. Dan mulai berbicara.

"Seminggu yang lalu, aku sempat SMS-an dengan Deidara," kata Itachi sambil mengeluarkan hapenya. Dan ke pesan. Kemudian menunjukkan salah satu SMS dari Deidara. Menunjukkannya ke hadapan Ino.

From : Deidara

"Ino? Tentu saja aku menyayanginya. Dia adalah semangat hidupku. Aku ingin kau menjaganya dengan baik, Itachi! Jangan sakiti dia dan jangan biarkan orang menyakitinya. Sebab, kalau itu terjadi, aku akan menyakiti kembali orang itu. Kalau aku sudah tidak ada di dunia ini lagi, aku minta padamu untuk menjaganya. Aku percaya padamu, Itachi. Kalau kau menyakitinya, aku akan bilang pada tuhan untuk memendekkan umurmu dan aku balas perbuatanmu disana."

Ino hanya terdiam membacanya.

"Kau lihat, Ino? Dia mempercayakan aku untuk menemanimu. Dan, aku rasa, dia juga minta agar kita mengungkap tentang pembunuhnya!" kata Itachi sambil membelai rambut Ino.

"Baiklah. Aku mengerti sekarang…" ucap Ino pelan.

"Selain itu, Ino!"

"Ya?"

"Aku mencintaimu…"

"Ah…?"

"Sakura~"

"Deidara~"

"Sakura~"

"Deidara~"

"Sakura~"

"Deidara~"

"Sakura~"

"Deidara~"

"Hei, apa yang kalian lakukan disitu! Ayo ikut aku!"

Owari

Abalnya~~ *pundung*

Ternyata gak sedih,,

Apakah memuaskan, cukup memuaskan, atau malah menggantung?

Biarkanlah mereka berkembang biak -?-

Ps : kalau readers nangis baca fic saia, bilang-bilang yah! (Readers : kayak fic lo sedih aja!)

Balesan ripiww:

Akasuna no Nira Males login soal.a lg blajar (namanya ditulis secara komplit bah,) Iri ya? Kasiaaaaaaaaannnn~~~ #plakk

Oh-chan is Nanda Parno deh nih anak =="

Rincut Icut dilarang protes!

Emo'Reiryuuku I love crime too~~

Fun-Ny Chan D'JiNcHuUri-Q Aku suka signature mu, sayang!

Sackura haruno thanks

Rini ayu l e-mail saya: .com *kalau kamu kirim e-mail kesitu, pasti saya bales deh! Walau telat :p*

Yovphcutez bingung aku mau bales apa

Haruno Aya-chan maaf ya baru apdet! Salam kenal juga

Akasuna Aya-chan ini kamu juga kan?