Sial.

Orang-orang Rusia itu menangkap suamiku di hari ulang tahun perkawinan kami..

Jantungku berdegup kencang. Mataku tidak fokus. Kepalaku cukup pusing.


"Ev!" teriak seseorang dari kejauhan.

Sahabatku, Ted, menghampiriku. Ia berjongkok di sebelahku dan merangkulku. Pria ini sebenarnya ditugasi oleh atasan kami untuk menangkapku. Well, kami adalah sahabat dekat. Tapi aku juga tidak tahu pasti apa alasan dia tidak menangkapku.

Kami berada di sebuah jalan yang sepi. Jalan yang hanya dipenuhi oleh barisan mobil tak bertuan. Banyak kertas berserakan dan berterbangan di jalan tersebut. Seperti di salah satu sudut kota mati.

"Kenapa kamu lari?" ucapnya. "Kamu tahu bahwa berlari dari polisi menunjukkan bahwa kamu memang punya salah."

Aku tidak menyahut. Aku tidak membalas perkataannya. Karena aku tahu bahwa semuanya itu benar. Aku bergidik. Angin yang berhembus membelai kulitku yang penuh luka.

"Ev..."

Air mata meleleh di pipiku. Mengalir sampai ke bibirku yang sobek dan daguku yang terluka akibat bertarung.

Evelyn Salt adalah wanita yang tangguh, gumamku. Aku tidak bisa membiarkan rekanku melihatku menangis.

Aku sama sekali tidak sadar bahwa Ted sudah pergi selama 6 menit untuk membelikanku sekaleng kopi. Dia baik. Aku tahu itu. Ted membukakan kaleng kopi tersebut dan menyodorkannya padaku.

"Kenapa?" ucapku. "Kenapa kamu menolongku? Mungkin aku benar-benar pengkhianat."

Ted tertawa. Dia mengacak-acak rambutku. Tersenyum padaku.

"Karena," katanya dengan suara tegas. "Aku tahu kau tidak bersalah."

Aku menghapus air mataku dan tersenyum.

Huh. Kataku dalam hati. Apa yang membuat dia yakin bahwa aku tidak bersalah?

Tak sampai hitungan detik kesunyian pun terpecahkan oleh deru peluru yang terpancar dari banyak arah.

"Lari!" Ted berteriak, mendorongku masuk ke dalam lorong sempit di antara dua gedung usang.

Lorong tersebut becek, lembab, dan berbau aneh. Aku hanya berlari. Terus berlari sambil mencengkeram kaleng kopiku. Tepat ketika jalan membelok. Aku menoleh ke belakang.

Ted merentangkan tangannya dan mendongakkan kepalanya. Mereka menembakinya. Ted tewas karena menghalangi jalan orang-orang itu dalam menangkapku. Aku membelok ke kanan, di mana jalan semakin sempit. Aku harus memiringkan tubuhku untuk menyusurinya.

Setelah berlari melewati belasan blok. Aku merasa aman.

Aku sekarang berada di sudut kota yang lain. Cukup ramai. Sebuah taman kecil dengan beberapa orang dan anak-anak bermain di situ. Ada pria tua penjual balon yang tampak lelah. Ada gadis pirang dengan rambut dikepang yang menjajakan iced lemonade kepada orang-orang. Ada pemain sulap di bawah pohon yang cukup rindang.

"I guess i miss this kind of normal life," pikirku. "Hidupku kuhabiskan untuk bertarung dan berlari."

Aku memandangi kaleng kopi yang dibelikan oleh Ted dengan lesu. Secepat itukah aku harus berpisah dengan sahabatku? Apakah aku cukup berharga untuk dia lindungi, bahkan dengan nyawanya? Kubalik kaleng itu, dan terdapat sebuah kunci dan peta kecil.

"Ted!"

Aku, Evelyn Salt, sadar bahwa hidupku memang untuk bertarung dan berlari.

This is my normal life.