Disclaimer : Bleach © Tite Kubo

Rate : T

Genre : Romance, Drama

Pairing : Ichigo x Hitsugaya

Spoiler Warning : Alternate Universe (AU), Out Of Character (OOC), maleXmale, Shounen-ai, Don't like Don't read!

Summary : Di acara malam inagurasi itu dia bertemu dengan cowok nggak jelas. Hingga ada seorang cowok yang menolongnya. Dan ternyata cowok yang menolongnya itu seorang Dosen di kampusnya. Kali ini Hitsugaya terjerat masalah yang membahayakan nyawanya

.

.


Malam Inagurasi

.

Chapter 4


.

.

Itu tadi pembunuhan berencana. Damn! Kalau aku sampai ketahuan menguping pembicaraan tadi bakal tamat hidup aku, batin Hitsugaya dalam hati. Kedua kakinya dipacu untuk berlari menuruni tangga kampus. Pikiran dan perasaannya dihantui rasa kalut dan panik. Dua tangga terakhir, Hitsugaya melompat dan berbelok ke kanan.

Bruk!

Cowok mungil itu terhuyung ke belakang karena menabrak seseorang. Tapi sebelum tubuhnya menyentuh lantai. Sebuah tangan menangkap lengan kirinya.

"Ah!" Hitsugaya sedikit kaget dengan orang dihadapannya, "Kurosaki-sensei."

"Apa yang kamu lakukan disini? Kamu masih ada kuliah?"

Hitsugaya menggeleng cepat, "Nggak. Tadi saya ke ruangan kuliah untuk mengambil buku yang ketinggalan."

"Terus?" Kedua alis Ichigo terangkat, "Sudah dapat bukunya?"

Glek! Hitsugaya menelan ludah paksa. Itu dia yang jadi masalahnya. Hanya gara-gara sebuah buku yang tertinggal. Dia malah dalam bahaya sekarang.

"Toushiro…" panggil Ichigo, "Kamu sakit? Mukamu sedikit pucat." Ichigo memegang pipi kiri cowok mungil itu.

Muka Hitsugaya yang pucat berubah menjadi blushing,"Sa-saya… nggak apa-apa…" jawab Hitsugaya gagap, "A-anu… saya pamit duluan."

Cowok mungil itu pun dengan langkah sedikit berlari menjauhi Ichigo. Ichigo menatap punggung cowok mungil itu sampai hilang diujung koridor.

"Selamat sore, Kurosaki-san," sapa suara berat. Ichigo berbalik dan menatap orang yang berdiri itu. Seorang pria berumuran 30 tahun. Berambut cokelat tua dan memakai kacamata. Raut wajahnya dihiasi senyum kalem.

"Oh! Aizen-san."

"Baru selesai memberikan mata kuliah?"

"Iya."

"Setelah ini apa anda mau bersinggah disuatu tempat dulu? Saya mau mampir disebuah restoran," ajak Aizen.

"Hmm… boleh juga. Kebetulan hari ini saya tidak ada janji apa-apa,"

"Kalau begitu mari." Aizen berjalan duluan disusul dengan Ichigo.

.

.

.

BRAK! BLAAAM!

Bruuush!

Minuman yang diteguk Hinamori langsung tersembur keluar. Dengan muka jengkel dilongokkan kepalanya ke pintu rumahnya yang tadi terbuka dengan keras. Dilihatnya Hitsugaya bersandar di belakang pintu dengan napas terengah-engah.

"Shiro-chan, kamu kenapa sih? Buka pintunya kasar sekali!" bentak Hinamori. Cowok mungil itu menoleh dan menatap neesan-nya.

"Be-berisik…" kata-kata Hitsugaya masih tersengal karena napasnya yang masih memburu. Dengan sisa tenaga yang masih ada. Cowok mungil itu beranjak ke kamarnya. Meninggalkan Hinamori yang menatapnya dengan kening mengerut heran.

.

.

.

Malamnya…

Tok tok tok!

"Shiro-chan, ayo makan!"

Tidak ada sahutan dari dalam kamar itu. "Shiro-chaaaaaaan~!" teriak Hinamori lagi. "Astaga~ otouto-ku ini sudah bisu ya? Cakep-cakep kok bisu sih?"

Cklek!

Pintu di depannya terbuka. Hitsugaya menatap Neesan-nya itu dengan muka kesal.

"Aku nggak bisu!" jerit Hitsugaya jengkel.

"Oh, baguslah! Bakal malu seumur hidup aku kalau punya Otouto yang bisu," ujar Hinamori dengan muka dibuat innocent.

Hitsugaya mendengus kesal, "Mau apa sih?"

"Makan. Kamu nggak makan juga aku nggak peduli. Tapi resikonya Okasaan yang bakal ngomelin aku."

Kedua kakak-adik itu pun turun ke bawah untuk menyantap makan malam mereka.

.

.

.

Diwaktu yang sama di tempat berbeda…

Ruangan besar disinari sebuah lampu yang cahayanya remang-remang. Sofa di tengah ruangan itu, di duduki oleh dua orang pria yang wajahnya tidak kelihatan jelas karena ruangan yang agak gelap itu.

"Kita tunda dulu rencana kita untuk membunuh si Yamamoto."

"Memangnya ada masalah apa?" tanya orang yang duduk di depannya.

"Ada yang mendengar pembicaraanku ditelpon tadi."

Orang yang duduk di depannya sedikit tersentak kaget, "Siapa dia?"

"Salah satu mahasiswa di fakultas kita. Dan…"

"Kau tahu siapa dia?" potong pria di depannya.

Pria itu menyeringai. Walau ruangan itu sedikit gelap. Bibirnya yang menyeringai kelihatan jelas.

"Ya. Tikus kecil yang sudah terjebak dalam karung." Tawa kecil meluncur keluar dari bibirnya.

"Mau dibereskan juga?"

"Tidak. Akan kumainkan dulu dia. Setelah itu…," Pria itu terdiam. Begitu juga pria di depannya, "akan kubunuh," ucapnya dengan nada dingin.

Angin malam yang dingin berhembus masuk ke dalam ruangan itu. Jendela yang terbuka lebar itu sedikit bergetar karena angin. Kedua pria di dalam ruangan itu terdiam. Hening. Tidak ada yang mengeluarkan suara. Ruangan yang menjadi saksi bisu. Adanya rencana pembunuhan.

.

.

.

Hitsugaya menatap langit-langit kamarnya. Diliriknya jam yang berada di layar HP-nya. Jam 23. 50. Cowok mungil itu berdecak. Sejak dia tidak sengaja mendengar pembicaraan di kampus tadi. Dia jadi tidak bisa tidur. Disudut hatinya rasa takut yang tadi sedikit redup mulai muncul dipermukaan dan menjadi-jadi.

Takut. Karena dia sudah masuk ke dalam masalah besar. Masalah yang menyangkut hidup dan matinya.

Tok tok tok!

Ketukan pelan di pintu. Membuat Hitsugaya menoleh.

"Shiro-chan…" panggil Hinamori pelan dan bisa dibilang berbisik. Kedua alis Hitsugaya mengernyit. Tumben banget. Biasanya panggil kayak tarzan. Lagi kesambet apaan nih anak!

Cowok mungil itu bangun dari tempat tidurnya dan berjalan ke pintu kamar. Dibukanya pintu kamar.

"Ada ap—"

Ucapan Hitsugaya terpotong. Karena Hinamori memasuki kamarnya dan langsung menghempaskan tubuhnya ke tempat tidur Hitsugaya.

Hitsugaya sweatdrop, "Hei! Kamu kenapa Neesan?"

Hinamori bungkam. Hitsugaya yang melihat itu hanya bisa menghela napas. Ditutupnya pintu kamarnya dan mendekati tempat tidurnya.

"Perasaanku nggak enak, Shiro-chan," ujar Hinamori pelan, "Bolehkan aku tidur disini?"

"Baiklah. Kalau begitu aku tidur di kamarmu."

"Jangan!" jerit Hinamori tertahan, "tidur disini." Cewek itu menepuk tempat tidur disampingnya.

"Err~ kamu kesambet apaan sih Neesan?"

"Astaga! Kenapa kamu banyak bacot sih Shiro-chan? Tenang saja. Aku nggak bakal melakukan hal-hal aneh kok. Suer!" Hinamori mengacungkan jari peace.

"Hal-hal… aneh…?" suara Hitsugaya pelan dan sedikit syok.

"Alah~! Yang ada pasti kamu yang bakal melakukan hal-hal aneh ke aku. Iya kan?" goda Hinamori.

Hitsugaya tersentak. Cowok mungil itu mengeram kesal, "Ngapain juga aku melakukan hal-hal aneh ke kamu. Gila! Kamu pikir aku bakal embat kamu, kakakku?"

Hinamori terkikik geli. "Oke, oke! Aku percaya kamu nggak bakal melakukan hal aneh. Soalnya kamu 'kan belum ahli."

"Apa kamu bilang?" pekik Hitsugaya.

"Kamu belum ahli, belum ahli, belum ahli, belum ahli, belum ahli dalam hal begituan," ujar Hinamori dengan wajah tanpa dosa. Kedua rahang Hitsugaya mengatup keras. Tengah malam cari perkara nih!

"Maaf… aku cuma bercanda. Jangan dipikirkan ucapan aku tadi, Shiro-chan."

Perasaan marah dan jengkel Hitsugaya langsung hilang. Apalagi begitu dilihatnya raut wajah Hinamori yang sedikit lesu.

Cowok mungil itu merangkak naik ke tempat tidurnya dan tidur disamping Hinamori.

Detik demi detik terlewat. Keduanya terdiam lama.

"Kalau kamu ada masalah. Kamu bisa menceritakannya padaku," gumam Hinamori pelan. Tapi bisa di dengar Hitsugaya. Hati Hitsugaya tiba-tiba dijalari perasaan hangat. Perasaan takutnya mulai sedikit demi sedikit berkurang karena ada seorang kakak yang menemaninya.

Mulut Hitsugaya terbuka tapi segera diurungkan niatnya untuk menceritakan masalah yang sedang dipikirkannya. Cukup dia saja yang menanggung masalahnya. Dia tidak mau orang lain tahu.

"Tidak ada apa-apa. Terima kasih…"

Malam itu, kedua kakak-adik itu larut dalam keheningan. Hitsugaya yang sedang memikirkan nasipnya kedepan. Dan Hinamori, yang memikirkan perasaan cemas yang sedari tadi tidak bisa diutarakannya pada adiknya. Malam semakin larut. Kedua orang itu akhirnya tertidur.

Sebuah mobil sedan berwarna silver yang sudah dari tiga jam yang lalu mobil itu berhenti disitu. Sepasang mata tajam mengawasi rumah itu lekat-lekat dari dalam mobil. Getaran handphone membuat orang itu berjengit. Dikeluarkan handphone-nya dari saku celana. Satu pesan masuk. Dibacanya SMS itu. Seringaian mengembang di bibirnya.

.

.

.


To be continued…


A/N :

Saya sudah meng-edit dari chapter 1-4 kemudian me-replace-nya. Maaf kalau cerita ini garing dan lama update-nya. Saya kehilangan ide cerita ini. Kemungkinan besar akan saya discontinued-kan. Tapi itu baru rencana.

Terima kasih bagi kalian yang telah membaca dan memberi kritik, saran, dan kesan :)

.

.

.

xXx…

Regards,

Jeanne