Disclaimer :
Tsubasa Chronicle © CLAMP
Coffee Bar Story © Ken

Note : (masih dan akan terus) typo, kacau membingungkan, bahasa dan tata tulis ngawur...


Fei Wong Reed telah mengajak Fai berkeliling rumahnya yang megah dengan arsitektur dan dekorasi Eropa klasik di sana-sini, bahkan meskipun mereka tengah tinggal di Jepang yang sangat kental dengan budaya Asia-nya. Tak hanya itu, Fai juga melihat para maid lengkap dengan seragam yang sering ia lihat hanya digunakan oleh pelayan-pelayan keluarga bangsawan British, berseliweran di tiap sudut rumah. Beberapa dari mereka bahkan menghentikan tur keliling rumah bersama pamannya itu, wajah mereka berbinar bahagia dan memberinya selamat datang untuk kepulangannya, bahkan dua-tiga kali Fai mendapat pelukan juga. Dan Fai tidak bisa tidak memberikan senyum terbaiknya meski itu cukup mengganggunya, tidak terbiasa diperlakukan sespesial itu dalam masa-masanya hilang ingatan.

Fai dan pamannya melanjutkan tur ke taman dalam yang terletak persis di pusat rumah. Taman itu luas dan elegan, bunga-bunga ditanam sesuai jenis dan warnanya, membentuk lingkaran besar mengelilingi taman. Satu air mancur tak kalah besar ada di tengah taman, dihiasi patung dewi mitologi Yunani yang Fai tidak tahu siapa namanya. Ada beberapa guci berbagai ukuran yang disusun mengelilingi kaki patung si dewi Yunani dan merupakan sumber air mancur.

Fai bergumam "Cantik…" tanpa suara, sementara pamannya masih sibuk melanjutkan cerita seperti apa masa-masa muda Fai—Yuui bagi Fei Wong. Mereka berhenti saat Fai tak melepaskan pandangan dari air mancur itu.

"Mengingat sesuatu?" tanya Fei Wong.

Fai menggeleng. Ia melangkah menjauh dari pamannya dan mendekat ke arah air mancur, disentuhnya satu guci yang paling dekat dengannya. Ia tidak mengingat apapun tentang air mancur ini, hanya sedikit de javu. Ada sensasi tak asing di taman ini, yang tidak ia rasakan di tempat-tempat lain di dalam rumah ini. Atau mungkin ini reaksi otaknya yang berusaha mengingat sesuatu.

"Kita akan ke kamarmu setelah ini," kata Fei Wong di tengah diamnya Fai.

Pria pirang itu hanya mengangguk sambil mendongak, menatap patung dewi yang tersenyum gamang, tak tahu pada siapa. Tak bisa ditangkap entah sedih atau bahagia.

.:xXx:.

Kurogane masih berdiri di tempatnya, belum menyambut uluran tangan pria yang baru saja berdiri dari duduknya dan memperkenalkan siapa dirinya. Pria berwajah sama dengan orang yang tinggal seatap dengannya, namun dengan aura berbeda. Fai yang lain.

Pria itu akhirnya, masih tanpa memudarkan senyum, menarik kembali uluran tangannya yang diabaikan oleh lelaki besar di hadapannya. "Kurasa Kurogane-san tidak mengharapkan kedatanganku."

Bola mata merah ruby Kurogane tidak lepas dari pria itu, mengawasi wajahnya dalam-dalam.

"Aku tidak berniat untuk membuat masalah." Pria pirang itu kembali menyamankan diri di kursi dan meraih telinga cangkir kopi miliknya untuk menyesap isinya sedikit. "Maksudku, belum."

Kurogane akhirnya bereaksi, ia mengangkat sebelah alisnya. "Apa maumu?"

Pria itu—yang mengaku bernama Yuui—meletakkan kembali cangkirnya pada tatakan. "Wahh kopi di kedai ini memang enak sekali. Kakakku lumayan menyukai kopi, jadi kurasa dia pasti betah sekali di sini."

"Kubilang apa maumu?" Kurogane menggeram rendah. Ditumpukan kedua tangannya pada meja bulat tempat Yuui duduk dan mencondongkan tubuhnya ke arah pengunjung kedainya itu, menatapnya tajam.

Tapi pria pirang itu masih tersenyum santai dan kini mendongak menatap Kurogane tanpa merasa terintimidasi. "Kurasa aku sudah mengatakannya tadi."

Kurogane bukannya tidak mendengar ajakan pria itu untuk berbincang. Ia hanya ingin mendapatkan jawaban yang sebenarnya yang tersembunyi pada kata berbincang yang dilontarkan Yuui tadi. Karena jelas perbincangan mereka nanti bukanlah pembicaraan ringan yang bisa disambi dengan minum kopi.

"Baiklah, akan kutanyakan lagi," kata Yuui. "Keberatan untuk meluangkan waktu?"

"Iya," kata Kurogane, masih dalam posisi yang sama.

"Tapi jika ini menyangkut tentang Fai,"—dan mata kecil Kurogane sedikit melebar saat mendengarnya—"aku bertaruh Kurogane-san akan berubah pikiran."

.:xXx:.

Fai menghadap sebuah ruangan luas setelah Fei Wong membukakan pintu untuknya. Ruangan yang katanya adalah milik Fai dulu, sebelum dia lupa ingatan. Ia melangkahkan kakinya pelan. Dan begitu beberapa langkah masuk ke dalam, Fai menyadari rupanya ruangan ini tidak berbeda dengan keadaan kamar Kurogane saat ia pertama kali tinggal di sana dulu. Kamar Fai ini lebih mirip tempat kerja dengan satu ranjang \double size di ujung, tanpa banyak furniture-furniture sebagai aksesori.

"Kau ingin aku memberimu waktu sendirian?" tanya Fei Wong.

Fai menoleh dan memamerkan senyum ceria khasnya. "Bolehkah?"

"Ini ruanganmu, kau bebas melakukan apa pun yang kau mau termasuk jika ingin sendirian." Fei Wong terkekeh elegan. "Aku akan menyuruh seorang pelayan berjaga di depan jika kau butuh sesuatu."

"Hontou ni arigatou," kata Fai masih dengan senyum cerianya.

Fei Wong hanya tersenyum lantas melangkah keluar ruangan. Fai menghela napas kecil dan memutar badannya untuk kembali menghadap ruangan luas miliknya itu. Diberanikan dirinya mengeksplor ruangan itu lebih jauh. Ia duduk di meja kerjanya, disentuhkan jemari-jemari pucatnya ke permukaan meja, mencoba mengingat sesuatu lagi dan merengut kecil saat usahanya gagal. Kemudian ia membuka laci kerjanya dan menemukan diary bersampul kulit hitam tebal dari sana. Dibukanya diary itu lalu berdecak kagum pada jadwal-jadwal kerja yang tertulis di situ, jadwal yang seharusnya dia lakukan seandainya dia tidak lupa ingatan. Jadwal-jadwal itu tertulis rapi tiap bulannya, bahkan jadwal sampai dengan akhir tahun ini.

"Pasti dulu aku sangat stress berat," gumamnya pada diri sendiri saat menemukan tidak sekali dua kali ada jadwal yang harus dilakukannya dalam waktu hampir bersamaan.

Ia juga menemukan beberapa postcard ucapan natal dan tahun baru dari rekan kerjanya—itu yang ia terka—jadi satu diselipkan di sela-sela lembaran diary. Kebanyakan ditulis dalam bahasa Barat, namun juga tidak sedikit yang ditulis dalam bahasa Jepang, Cina, dan Korea. Ia mengira-mengira kenapa postcard ini disimpan dalam diary jadwalnya dan tidak dibuang, membuat diarynya menggembung hampir tak bisa ditutup.

Kembali Fai menggeledah laci kerjanya, berharap ada foto atau barang bukti lain yang meyakinkannya bahwa memang ruangan ini adalah benar-benar miliknya—sekalipun beberapa persen dalam hatinya, Fai mulai percaya bahwa ia adalah Yuui yang mereka cari. Namun hasilnya nihil, tidak ada apa-apa lagi dalam laci-laci meja kerjanya. Maka ia memutuskan untuk mengembalikan diary itu ke tempat semula dan beranjak dari meja kerjanya.

Kali ini ia berjalan ke arah almari berwarna almond lebar dan rendah dimana ada banyak laci di situ. Fai membuka salah satu laci dan mendapati bahwa laci itu adalah laci tempat celana dalamnya, membuatnya dia tertawa kecil. Dilanjutkan penelusurannya ke laci yang lain. Kali ini ia membuka laci yang ternyata di dalamnya ada tumpukan rapi atasan kerjanya. Ia membuka laci yang lain dan menemukan gulungan dasi-dasi kerja di situ. Fai menyerah, rasanya tidak ada yang bisa ia temukan di laci ini kecuali baju-bajunya.

Sekarang ia menuju ke ranjangnya, yang begitu ia duduk di sana, ia tahu bahwa ranjangnya lebih empuk dari ranjang Kurogane. Tapi tidak senyaman ranjang tuan besar itu. Dan Fai kembali tertawa kecil saat batinnya berkata tanpa perintah dan sempat-sempatnya wajah dingin laki-laki itu melintas dalam misinya menemukan ingatan.

Fai kembali fokus pada ranjangnya. Kemudian matanya menangkap sebuah snowglobe di meja nakas di sisi ranjang seberang. Ia membaringkan badannya melintang ke sisi ranjang yang lain untuk meraih benda itu dan mengamatinya. Ada satu tombol kecil di bawah bola kaca berisi imitasi salju, Fai menekannya namun tidak ada perubahan apapun pada benda di genggamannya itu. Setahu Fai harusnya benda itu memainkan lagu mirip music box dan imitasi salju akan melayang-layang liar dalam bola kaca berisi air itu.

"Mungkin rusak," katanya lagi pada diri sendiri.

Kemudian Fai membalik snowglobe itu untuk mengecek baterainya, membuat imitasi salju tumpah dari dasarnya. Menari-nari liar, dan semakin liar saat Fai membuat guncangan pada benda itu saat membuka penutup baterai dimana pengaitnya yang terbuat dari besi sudah mulai karatan sehingga butuh sedikit usaha. Fai menerka-nerka kapan terakhir kali ia menggunakan benda itu sebagai teman tidurnya.

Dan begitu penutup itu terbuka, Fai menemukan sesuatu di dalamnya. Kertas tebal putih usang yang dilipat menjadi beberapa bagian dan dijejalkan ke sana. Fai menariknya hati-hati agar tak rusak, sementara si kertas sudah sedikit lapuk termakan usia. Begitu berhasil dikeluarkan, Fai meletakkan snowglobe itu pangkuannya dan membuka lipatan kertas itu, masih dengan hati-hati. Semakin lebar dari lipatan sebelumnya, Fai menyadari bahwa itu adalah kertas foto. Sambil berdoa semoga foto ini bisa memberikan sedikit petunjuk, Fai akhirnya berhasil membukanya.

Mata biru lautnya melebar dan tangannya sedikit bergetar begitu ia mendapati seperti apa rupa foto itu.

Dua anak laki-laki dengan wajah serupa, bergandengan tangan dan tersenyum ceria padanya. Meski usang, Fai bisa melihat mata dua anak laki-laki itu, biru laut yang sama seperti miliknya. Rambut pirang yang sama seperti miliknya.

Fai merasa jantungnya berdetak satu kali lebih cepat. Mimpinya malam itu, tentang seseorang yang mirip dengannya dan memanggilnya Yuui dan kemungkinan yang diucapkan Kurogane bahwa ia kembar dibuktikan dengan foto ini. Fai benar-benar memiliki saudara, kembarannya. Lalu mengapa pamannya bersikeras bahwa ia tidak tahu tentang apapun tentang Fai saat berkunjung ke apartemen Kurogane waktu itu? Kenapa ia menyembunyikannya? Tidak mungkin pria paruh baya itu tidak tahu jika ia memang benar-benar paman Fai.

Jika memang orang dalam mimpi Fai memanggilnya dengan Yuui, maka besar kemungkinan dia adalah pemilik asli dari nama Fai. Lantas kenapa justru namanya yang kuingat saat aku bangun di rumah sakit?, batin Fai lagi.

"Ayo, ingatlah sesuatu!" kata Fai pada dirinya sendiri saat memaksa kepalanya memanggil memori apapun yang berhubungan dengannya maupun saudara kembarnya. Namun tidak membuahkan hasil, justru kepalanya sedikit berdenyut nyeri akibat paksaannya. Ia menarik ponsel dari saku celananya, merasa harus menghubungi seseorang. Ia menekan tombol satu—speed dial yang akan menghubungkannya dengan salah satu nomor di phonebooknya—dan menempelkan ponselnya ke telinga. Beberapa kali "tut" panjang dan berakhir dengan suara perempuan yang menceramahinya untuk meninggalkan pesan. Tetap seperti itu sampai panggilan yang kesekian kali.

Fai meringis saat kepalanya makin protes.

.:xXx:.

Kurogane melangkahkan kakinya masuk sebuah apartemen asing. Hal pertama yang dia lakukan adalah mengedarkan pandangannya, memeriksa setiap sudut ruangan untuk memastikan orang yang mengajaknya ke sini tidak membuat perangkap untuknya.

Jadi, pria besar ini ditarik oleh pria berambut pirang yang mengaku bernama Yuui padanya. Mengatakan bahwa berbincang di kedainya sangat riskan dikuping orang, Yuui pun akhirnya menawarkan untuk datang ke tempatnya yang adalah apartemen ini. Pria pirang itu sendiri sekarang tengah mengikuti langkah Kurogane masuk ke dalam, sementara pintu apartemen ditutup oleh Syaoran.

"Aku tidak hendak menyekapmu," kata pria pirang itu disusul tawa kecil.

Kurogane berbalik untuk menghadap pria pirang itu, mengamatinya sebentar. Mereka berdua sama-sama suka tersenyum seperti orang bodoh, hanya saja yang satu ini lebih wajar.

"Apa yang ingin kau bicarakan?" tanyanya.

Yuui tersenyum, ia berjalan melewati Kurogane dan duduk di sofa tak jauh jauh dari pria besar itu. "Bagaimana kalau sambil duduk? Akan nyaman jika kita bisa bicara dengan santai."

Kurogane mendesah gusar, namun dia juga tidak menolak ajakan pria pirang itu. Ia duduk di sofa di depan Yuui dan mengamati kembali pria pirang yang sudah duduk dengan menyilangkan kakinya elegan.

"Aku sedang berpikir dari mana aku harus mulai," kata Yuui.

"Cukup mulai dengan mengatakan kau ini siapa," sahut Kurogane dingin.

Yuui tersenyum lagi. "Apakah aku perlu mengenalkan diri sekali lagi?"

"Mengingat kalian berdua semacam bertukar identitas, aku tidak yakin kau berkata dengan jujur tadi."

Yuui terkekeh. "Jadi Kurogane-san juga tidak mempercayai Fai?"

Kurogane mengangkat sebelah alisnya kesal. Pria pirang di hadapannya bukannya menjawab pertanyaannya malah justru membuat pertanyaan lain yang menyeret nama pria pirang merepotkan yang satu lagi. Meski memang rasanya sulit untuk tidak melibatkan mereka berdua kini. Satu paket yang sama-sama menyebalkan, pikir Kurogane.

"Aku hanya mengikuti jalan cerita," kata Yuui. "Aku akan jadi Yuui jika memang dia mengaku pada Kurogane-san sebagai Fai, dan berlaku juga sebaliknya. Itu adalah permainan yang sering kami mainkan sejak kecil."

Kurogane menahan diri untuk tidak memuntahkan lahar emosi pada pria pirang yang akhirnya dia tahu sama menyebalkannya dengan saudaranya. Mati-matian dia berekspresi sebiasa mungkin. "Dia bilang kalian berencana bertukar identitas dalam suatu perjalanan."

"Ah, jadi Fai mengingatnya?"

"Bukan, dia bermimpi."

"Mimpi?" Yuui sedikit memiringkan kepalanya.

"Persetan dari mana dia tahu," Akhirnya Kurogane sedikit lepas kendali. "Cukup jelaskan kau ini siapa?"

Yuui tersenyum sambil menatap Kurogane. "Ini apartemen yang kami sewa, aku dan kakak kembarku."

Kurogane hendak menyela namun diurungkan, ia memilih untuk mendengarkan jalan ceritanya terlebih dahulu, jadi ia menelan kembali kata-kata yang hendak diucapkannya dengan berpura-pura berdehem.

"Kami tinggal di Eropa saat kami masih kecil, berdua," Yuui menghentikan kalimatnya sebentar. "tanpa mengenal orangtua kami. Lalu suatu hari seseorang bernama Fei Wong Reed datang ke panti asuhan tempat kami tinggal, mengaku sebagai paman kami."

Kurogane membulatkan mata. "Dia tahu kalian kembar?"

"Oh." Yuui tersenyum kalem. "Kurasa dia tidak mengatakan hal yang sebenarnya padamu dan Fai jika melihat ekspresi Kurogane-san."

"Dan kau tahu kami sudah saling bertemu?" Kurogane duduk gelisah. Pikirannya sudah lari pada teman seapartemennya yang saat ini ada di tempat pria paruh baya itu.

"Sebentar, biarkan aku melanjutkan ceritaku."

Ingin rasanya Kurogane berdiri dari duduknya. Meninggalkan tempat itu secepatnya dan menuju kediaman Fei Wong. Namun ia ingat bahwa ia datang ke sini bersama dengan si pirang dan entah siapapun itu yang bernama Syaoran. Terlebih lagi, cerita yang disampaikan Yuui ini masih belum tamat. Cerita yang mungkin akan sedikit menjelaskan identitas asli roommate Kurogane.

"Setelah ia datang ke panti asuhan," Yuui melanjutkan. "kami dibawa ke Jepang dan tinggal di mansion yang saat ini kutinggali, milik orangtua kami dulu."

Hening menyapa sejenak. Kurogane menanti kelanjutan kisah yang akan diceritakan pria yang identik dengan perusuh apartemennya itu dan berusaha menstabilkan emosinya di saat yang sama.

"Sampai saat kami menginjak usia…lima belas tahun kalau tidak salah," Yuui terlihat mengingat. "Paman kami berkata tentang perusahaan dan ahli waris. Berkata bahwa ia menemukan surat wasiat milik orangtua kami yang di dalamnya menuliskan kalau semua yang mereka miliki diwariskan pada Fai."

Kurogane mengernyit.

"Tidak ada namaku, kalau Kurogane-san ingin tahu," Yuui tertawa singkat sebelum melanjutkan. "Lalu kami dipisahkan. Fai diboyong untuk tinggal di rumah dimana Kurogane-san mengantarnya tadi."

Kembali Kurogane dibuat tersentak. "Kau tahu dia di sana?" Kali ini ia berdiri dari duduknya, emosinya kembali terpancing. "Kau bersekongkol dengan pria tua itu?"

"Dia akan baik-baik saja," kata Yuui. "Justru akan menyulitkan kalau Kurogane-san ke sana sekarang. Meski rasanya juga mustahil karena aku tidak akan membiarkan Kurogane-san keluar dari ruangan ini sebelum kita menyelesaikan ceritaku," Yuui mengakhiri kalimat panjangnya dengan satu senyum, tipis dan dingin.

Kurogane mengepalkan tangannya dan menoleh siaga saat Syaoran mendekat ke kursi tempat mereka duduk. Ia berjalan sambil mengenakan sarung tangan hitamnya, tatapannya fokus pada Kurogane. Ia berhenti pada jarak sekitar semeter dari mereka dan terlihat bersiap memasang kuda-kuda.

"Omae…" Kurogane mendesis marah.

.:xXx:.

Fai memutuskan untuk meninggalkan ruangannya. Dibukanya pintu kamarnya dan ia melihat laki-laki dengan setelan hitam lengkap dengan segala aksesori bodyguard seperti yang ia lihat pada orang-orang yang mengikuti Fei Wong dan Chii saat mereka berkunjung ke apartemen Kurogane.

"Ada yang bisa saya bantu?" tanya pria itu.

"Tidak, terimakasih," kata Fai sambil tersenyum.

Entah kenapa Fai perlu merasa perlu untuk waspada. Perasaan curiganya pada Fei Wong semakin besar. Dan kemungkinan para pengawalnya pun sudah diutus untuk memperhatikan gerak-gerik Fai, meski pria paruh baya itu berkata tujuan disuruhnya bodyguard itu untuk membantu Fai. Salah bicara atau bergerak sedikit saja bisa-bisa menimbulkan kecurigaan dan akan semakin susah untuk menemukan kebenaran tentang saudara kembar Fai.

"Ah, tapi saya akan berterimakasih kalau bisa diantarkan untuk bertemu Fei Wong-san," kata Fai lagi, masih dengan senyumnya.

Pria dengan setelan hitam tadi membungkuk sedikit lalu memimpin langkah untuk membawa Fai pada pamannya itu.

Fai menahan sakit kepalanya dan masih berusaha membuat kesimpulan-kesimpulan awal yang menyangkut tentang saudara kembarnya dan juga hilang ingatannya. Jika memang Fei Wong sesuai dengan dugaannya—memiliki tujuan terselubung mengapa ia menolak memberi tahu Fai tentang Fai, maka bukan tidak mungkin saudara kembarnya sedang dalam bahaya. Dan Fai mungkin adalah target selanjutnya. Mungkinkah Fei Wong adalah orang yang benar-benar membuatnya hilang ingatan seperti ini?

Dan semakin Fai memprediksikan kemungkinan-kemungkinan versinya, tanpa ia sadari langkahnya sudah terhenti di taman dalam rumah. Dimana Fei Wong tengah sibuk dengan teleponnya di sebelah air mancur, seperti membicarakan bisnis. Fai bisa mendengar beberapa kalimat tentang kerjasama dan tandatangan kontrak.

Pengawal dengan setelan hitam yang tadi memimpin langkah Fai maju untuk mendekat pada Fei Wong dan membungkuk pada pria paruh baya itu. Sementara yang bersangkutan segera mengerti dan mengakhiri teleponnya dengan rekan kerjanya lalu berbalik untuk melihat Fai.

Fai berusaha tersenyum dan mendekat pada pamannya itu. "Maaf, tapi rasanya saya agak lelah. Jadi saya memutuskan untuk pulang"

"Pulang?" Fei Wong menaikkan sebelah alisnya.

Fai mengangguk.

"Kau bisa istirahat di kamarmu," Fei Wong membujuk. "Ini rumahmu."

"Tidak, terima kasih," Fai masih dengan senyumnya. "Saya terlanjur berjanji untuk tidak menginap pada Kurosama."

Fei Wong terlihat berpikir sebentar. "Kalau begitu akan kusuruh orang untuk mengantarmu."

"Tapi…"

"Jangan menolak lagi," kata Fei Wong yang sekarang mencoba tersenyum. "Kurogane-san tidak akan keberatan. Bukankah aku ini pamanmu?"

Mendengar kalimat terakhir pria paruh baya itu, senyum Fai mengendur. "Iya."

.xXx:.

Yuui menyandarkan sisi kepalanya pada tangan yang sikunya ia tumpukan ke lengan kursi dan tersenyum melihat ekspresi kemarahan pada wajah Kurogane yang terlihat sangat jujur itu.

"Fai tidak akan suka jika kuhadiahkan beberapa lebam di wajah Kurogane-san. Jadi kenapa tidak kita selesaikan saja obrolan kita ini dengan damai?" tanyanya.

Kurogane tetap waspada pada setiap serangan. Mengingat Syaoran masih berdiri tak jauh dari mereka dengan ekspresi siap berkelahi, meskipun setelah mengenakan sarung tangan tadi masih belum ada gerakan lainnya dari pemuda itu.

"Kau benar-benar berkomplot dengan Fei Wong Reed?" tanya Kurogane dengan nada dalam.

Yuui terkekeh. "Apakah terlihat seperti itu?"

"Kau tidak terlihat prihatin dengan kondisi saudara kembarmu sendiri."

Yuui tidak menjawab, hanya senyumnya makin terkembang. Melihatnya, emosi dalam diri Kurogane semakin membuncah. Dan pada detik selanjutnya ia menarik kasar kerah baju Yuui, membuat pria itu sedikit terangkat dari duduknya. Syaoran beraksi tak kalah cepat. Ia sigap melompat ke arah penyerang majikannya dan mengunci leher Kurogane.

Namun bukan Kurogane namanya kalau ia menyerah. Meski napasnya mulai terengah akibat tenaga pada lengan yang mengunci lehernya lumayan kuat, ia masih menatap marah mata biru laut di hadapannya.

"Tahan, Syaoran," kata Yuui akhirnya. "Dia tidak akan menyakitiku."

Syaoran menatap Yuui melewati bahu Kurogane, kemudian melirik pria besar yang mulai terengah dalam kuasanya itu. Meski ekspresi enggan jelas kentara di wajah pemuda itu, Syaoran memilih untuk menuruti kata-kata Yuui dan melepaskan Kurogane yang masih mencengkeram erat kerah baju pria berambut pirang itu.

"Jangan berkata seolah-olah kau mengenalku," ujar Kurogane, mulai menguasai kembali napasnya.

"Aku tahu Kurogane-san tidak sekasar itu," Yuui menyahut. "Menjaga kakakku buktinya."

"Brengsek! Katakan rencana kotor macam apa yang kau buat dengan pria tua itu, HAH?" hardik Kurogane tepat ke muka Yuui.

.:xXx:.

Fai kembali menekan angka satu pada ponselnya, menghubungi nomor yang sama. Dan masih pula beberapa kali tersambung dengan mail box. Ia menghela napas, bertekad jika kali ini si pemilik handphone tidak mengangkatnya, ia akan menyerah. Ia menempelkan ponselnya kembali ke telinga dan mendengarkan nada sambung yang beberapa kali terdengar. Dan seakan tahu tekadnya, terdengar bunyi gemeresak di ujung lain telepon yang membuat bibir Fai tertarik untuk menciptakan senyum kecil. Akhirnya

"Pak Kuro," sapanya.

"Fai-san?" tanya seseorang di ujung lain. Suara yang berbeda dari yang biasanya Fai dengar.

"Oh? Moshi-moshi." Fai mengerutkan kening.

"Kurasa ini benar Fai-san," Lagi suara itu berkata. "Awalnya aku tidak mau angkat karena Kurogane-san menamai nomor ini dengan 'orang aneh'."

"Ini Fuuma?" tanya Fai.

"Iya, siapa lagi yang lancang menggeledah barang milik bos selain aku?" Suara itu—milik Fuuma—tertawa.

Fai kembali tersenyum dan memasang nada cerianya. "Bisa sambungkan aku dengan bosmu?"

"Eh? Kalian berpisah?" Fuuma iseng. "Kupikir kalian meninggalkan kedai untuk kencan."

"Meninggalkan kedai? Kencan?" Fai mengulangi. Kembali keningnya sedikit berkerut.

"Jadi dia benar-benar meninggalkan Fai-san? Wah wah~"

"Matte, Fuuma," sela Fai. "Siapa yang kau bicarakan?"

"Kuro-san dan Fai-san, tentu saja." Fuuma tertawa lagi. "Ah, Kamui, tunggu!" Fuuma sedikit berseru di seberang telepon, membuat Fai sedikit mengerjap kaget. "Fai-san, kuserahkan pada Tsukishiro saja ya?"

Dan sebelum Fai menjawab, kembali terdengar suara gemeresak. Sepertinya alat komunikasi itu berpindah tangan dengan agak kasar. Fai menunggu dengan sabar.

"Moshi-moshi, Fai-san?" Kali ini suara ramah menyapanya.

"Yukito-kun," sapa Fai. "Kurosama keluar kedai?"

Sepersekian detik tidak ada jawaban.

"Anoo," Akhirnya Yukito bersuara. "Bukankah Kurogane-san meninggalkan kedai dengan Anda tadi?"

Fai membenarkan duduknya di kursi belakang mobil yang dikemudikan salah satu pesuruh Fei Wong. "Aku tidak ke kedai seharian. Jadi bagaimana mungkin…"

Dan kalimat Fai terhenti saat sebuah kemungkinan terpikirkan oleh kepalanya. Fai tercekat, tidak mampu bersuara lagi. Tanpa sadar tangannya yang menggenggam handphone jatuh ke sisi tubuhnya, samar-samar masih terdengar suara Yukito yang memanggil namanya.

Ia tahu dengan siapa Kurogane meninggalkan kedai, ia tahu siapa orang itu.

"Anda baik-baik saja, Yuui-san?" tanya sang pengemudi yang sepertinya menyadari perubahan air muka Fai lewat spion tengah.

Fai menggeleng singkat. Detik berikutnya, ia bersumpah ia mendengar suara yang tidak terdengar seperti miliknya keluar dari mulutnya. "Tolong antarkan saya langsung ke apartemen Kurogane."

==To Be Continue==


Finally kelar juga chapter ini hauuu~

Maaf kalau apdetnya lama /bow/ saya cuma bisa ngetik pas weekend. Dan kadang pas ada mood ngetik, yang muncul di otak justru ide fic-fic baru. Seperti kasus Februari lalu yang saya malah publish dua fic, yakni untuk pair SeiSuba dan TouyaYuki hahaha~

Terimakasih untuk yang masih setia menunggu dan baca. Maaf kalau mengecewakan karena menelantarkan fic ini, nggak maksud menelantarkan sih sebenernya -_-

Oke, terimakasih sudah mampir dan baca. Meninggalkan jejak dalam bentuk review akan sangat berarti untuk saya :) /gelar tikar/