Moshi-moshi minna-san, setelah sekitar sebulanan nggak update akhirnya… chapter 4! Yosh! Gomen lama update soalnya sibuk sih -_-' oke, selamat menikmati ^^


The Sims: Sasuke Uchiha

Chapter 4: Alone

Disclaimer: Masashi Kishimoto

T – rated

Science fiction, romance, slight humor

Warning: OOC, DEATH CHARA, AU, minim deskrip, gaje, abal, garing, typo(s), Misstypo(s), dkk

Don't like? Press ' back ' button


20.15, Konoha Time.

Normal POV

Satu lagi hari yang tidak biasa untuk gadis bernama Karin. Daritadi ia bolak-balik seraya ngeliat jam dengan rasa penuh keanehan. Seakan-akan ada sesuatu yang janggal dalam hatinya. Tetapi apa? Ia berusaha berpikir keras. Harusnya jam segini dia harus tidur soalnya besok kan pulang jam 5 sore karena harus ikut ulangan susulan dan remedial sejarah.

Tapi… bukannya tidur Karin malah mengganti baju rumahnya jadi baju renang. Entah apa yang merasukinya tiba-tiba Karin ingin sekali berenang. Seperti ada sebuah ' rasa ' dalam hatinya yang menyuruhnya berenang. Gadis berkacamata itu menyadari hal tersebut, tetapi kenapa saat ia melihat kolam renang di depan rumahnya matanya berkaca-kaca?

Hari ini orangtua Karin sedang tugas jadi pulang terlambat, meninggalkan cewek itu sendirian di rumah. "Berenang sebentar ah," kata Karin sambil berjalan ke kolam renang. Suasana malam itu kerasa horror banget karena lampu jalan kedap-kedip, tetangga udah pada tidur, kayak film horror yang menceritakan cewek malem-malem lagi mau berenang tiba-tiba ada kakek-kakek mesum yang bawa sabit semacam Freddy gitu? Ho, tapi tenang saja karena ini fict science fiction-romance jadi lupakan tentang kakek-kakek mesum tadi. (Jiraya: Kok kayak ada yang ngomongin gue ya? ==')

Byuuurrr!

Tanpa memerhatikan keadaan Karin pun loncat ke dalam kolam renang. Anehnya… ia tidak merasa dingin karena udah malem. Layaknya orang biasa, ia berenang-renang dengan bermacam-macam gaya di kolam renang. Ada gaya kodok, bebas, ikan -?-, lumba-lumba, gaya orang aneh -?-, ngapung, dan terakhir… gaya tenggelem (background sound horror).

"UWAAAAA!" tereak Karin panik terus langsung berenang ke tangga kolam renang, ajaibnya, tiba-tiba tangganya ilang! Udah tangga ilang tiba-tiba entah dari mana pagar putih tinggi mengurungnya di kolam renang itu. Langsung Karin nangis-nangis sambil tereak-tereak ke tetangganya. Lebih anehnya lagi, ada orang lewat tapi nggak bantuin seakan-akan orang itu nggak ngeliat Karin.

"Oi, oi!" panggil Karin ke kucing lewat di depannya. Kucing itu memang datang kearahnya tapi… kayak orang-orang lain, nggak bisa lihat Karin! Karin mulai frustasi dan badannya juga udah capek. Mukanya juga mulai pucet bener-bener mirip film horror. Akhirnya... Karin pun berhenti mengapung dan menutup matanya.

Sama persis seperti di game The Sims yang dimainkan Sakura.


Sasuke's POV

KRIIINGGG! KRRIIIINNGG!

Lama kelamaan aku sadar dari tidurku, namun masih malas membuka mata. Suara alarm Sakura yang ternyata ditaruh DIBAWAH bantalku terasa seperti meneriakiku. Sialan. Padahal aku masih ngantuk. Rasanya mataku sulit dibuka, badanku juga terasa berat dan penuh beban. Aku… masih ingin tidur.

Tep

Dengan satu tangan, aku berhasil mematikan alarm sialan itu. Tenang juga akhirnya. Aku akan terus tidur dan bermalas-malasan sepanjang hari kecuali kalau—

"BANGUN, SASUKE-KUN!" apa gadis ini pernah akan memberiku kenyamanan? Baru saja ia meneriaki telingaku dan mengguncang-guncangkan tubuhku. Tapi kalian harus tau kalau teriakannya mampu membuat kedua mataku terbuka lebar. Sakura… ternyata gadis pinky itu sudah bangun dan terlihat siap mengangguku.

"Hh… hah?" aku ngiler di depan Sakura.

"Cih… kau tidak lihat jamnya?" telunjuknya kini menunjuk jam kamarnya yang menunjukkan jam 8 pagi. Wajahnya terlihat panik tapi aku melihat jam tersebut dengan biasa saja. Hanya jam 8. Memang kenapa sih?

"Jam 8… lalu?" tanyaku malas.

"KITA TELAT."

"Hah?" butuh beberapa detik baru aku merespon perkataannya. "TELAT! YA UDAH KALO GITU AYO BANGUN!" aku langsung lompat dari tempat tidur, diikuti Sakura. Aku ingin mandi sih… tapi nanti nggak keburu lagian kata Sakura jam-jam pagi kayak gini nyokabnya kan lagi ' patroli ' di rumah. Kalau aku ketangkep basah bisa gawat. Apalagi kalo ketahuan tidur sama anaknya. "Eh, aku ganti baju nggak?" aku melihat baju yang kemarin aku pakai, ini kan baju ayahnya Sakura. Masa aku ke sekolah pakai ini sih?

Sakura yang memakai piyama pink dengan motif bunga langsung membuka lacinya dan mengambil jeans selutut dan T-Shirt putih polos. Bukannya menjawabku ia malah membuka piyamanya dan aku secara TIDAK SENGAJA melihat miniset putih miliknya. Y… ya ampun. Ternyata dadanya memang sangat rata. Langsung sepasang mata emerald menatapku cuek tapi pipinya memerah. "Apa sih? Kita kan telat. Tidak ada waktu untuk malu tau!" harus kuakui, ia benar. "Kau pakai baju itu saja. Lagian untuk satu minggu pertama sekolah kita kan pakai baju bebas. Jadi tidak apa-apa."

Karena tidak sempat, kami berdua pun loncat dari jendela kamar Sakura. Kami berlari ke bis tetapi bisnya sudah terlanjur jauh. Dengan kompak kami mendesah kesal tapi untungnya… di garasi Sakura ada dua sepeda. Yeah, bagus sekali.


"Kau yakin kita nggak bakal ketahuan?" bisikku ketika kami sampai di pintu kelas. Aku dan Sakura bersembunyi agar tidak kelihatan Kakashi-sensei. Kami telah melalui perjalanan yang lumayan melelahkan. Ngebut di jalan pakai sepeda, hampir nabrak orang pula.

"Aku tau. Kita merangkak ke dalam. Kakashi pasti tidak akan melihat kita."

Aku menggantungkan kantong plastik berisi buku ke leherku lalu membuka pintu pelan-pelan. Kuusahakan tidak membuat suara. Untungnya, Kakashi sedang berada di dunia Icha-Icha Paradise-nya dan seperti biasa, kelas kami seperti kapal pecah penuh dengan anak-anak nakal. Ada yang baca komik ero, smsan, ketawa autis, coret-coret dinding, bahkan yang tidur juga ada. Walaupun hancur seperti ini, yang penting kami selamat sampai meja kami tanpa ketahuan siapa-pun. Ah… mungkin hari ini adalah hari keberuntungan kami.

Tepat saat kami menghembuskan nafas lega Kakashi langsung menutup novelnya itu dan berjalan ke depan kelas. Murid-murid langsung duduk di tempat masing-masing. Dilihat dari tampangnya, sepertinya Kakashi ingin memberitahu kami sesuatu. Bukan sesuatu biasa, tapi sepertinya sangat penting.

"Anak-anak, saya punya kabar duka," ia berkata. Detik itu juga aku menoleh ke tempat duduk sebelahku. Gadis berkacamata itu tidak masuk hari ini. Tiba-tiba pikiran itu langsung muncul di kepalaku, "Karin meninggal seperti di game The Sims" ha, apa yang kupikirkan? Itu kan hanya game. Masa bisa menewaskan orang. Paling dia juga flu biasa.

"Karin meninggal."

Deg!

Aku dan Sakura bertukar pandang horror. Aneh. Apakah ini kesengajaan atau karena… game itu? "Tidak mungkin…" bisik Sakura. "K… kemarin aku kan hanya bermain biasa. Aku benar-benar tidak tahu kalau ini akan terjadi. Jangan bilang aku telah membu—"

"Sst," potongku ketika Sakura mulai merasa bersalah. Bisa dilihat dari tangannya yang bergetar ngeri dan matanya berkaca-kaca. "Ini bukan salahmu. Mungkin hanya kebetulan."

Gadis itu mengangguk. "M… mungkin kau benar."

Satu lagi hal yang menyangkut di pikiranku…

Game itu… ada yang aneh dengannya.


Waktu Istirahat.

Duak!

"Oi, murid baru!" aku menoleh ketika kurasakan sebuah tepukan mendarat di pundakku. Sakura yang kebetulan makan di sebelahku mendeathglare segerombolan cowok di belakangku. Mereka kelihatan seperti… err… preman?

"Kau mau ikut geng kami?" baiklah, setelah kuhitung ternyata ada 5 orang. "Kau kelihatannya bisa berguna!" cowok berambut cokelat tertawa. Kiba Inuzuka, Naruto Uzumaki, Sai, dan Chouji Akimichi? Mau apa orang-orang ini?

"Eh… entahlah. Namaku Sasuke by the way."

"Jadi begini kami akan mengadakan Slumber Party nanti malam di rumah Naruto. Biasa~ Boys Night Out! Kau mau ikut?" tawar Sai.

"Hah? Apa? Apaan tuh?"

"Acara pesta khusus cowok-lah! Seru lhoo!" timpal Naruto.

"Ya… boleh," setelah kupikir-pikir sepertinya seru juga. Aku kan belum pernah bersenang-senang jadi mungkin ini ide yang bagus. Semuanya tersenyum sepuas, hingga akhirnya…

Sakura berteriak dengan semangat '45 "Aku ikut!" Naruto, Kiba, Sai, dan Chouji bengong. "Tapi, ini kan khusus cowok! Kau tidak boleh ikut!" protes Chouji.

"Ayolah dia kan sim—" perkataan gadis itu terputus. "Ma… maksudku dia kan sepupuku! Lagian kalau ada apa-apa nanti aku yang disalahkan orang tuanya. Mengerti?" kelihatannya ia yakin tapi aku bisa meramalkan isi hatinya yang mengatakan, "Enak aja! Sasuke kan sim-ku! Nanti kalau kenapa-napa bagaimana? Aku kan yang membuatnya jadi aku berhak mengikutinya. Bukan hanya itu… cowok-cowok ini juga mencurigakan… apa sebenarnya mau mereka mengajak Sasuke?"

"Ya sudahlah terserah," kata Naruto lemas. "Kalau mau datang pergi ke Jalan Konoha 2 blok 15 ya. Jangan lupa, karena ini Slumber Party, kalian harus bawa snack yang banyak! Kutunggu di rumahku jam 7 malam nanti ya! Dah," kelima cowok itu pun pergi meninggalkan kami di meja kantin sambil melambaikan tangan mereka.

Slumber Party, ya? Sepertinya kelihatan asik. Walaupun ada ceweknya sih. Kalau dipikir-pikir rasanya aneh juga kalau tiba-tiba mereka mengajak orang yang baru mereka kenal tetapi ya sudahlah. Aku kan juga perlu bergaul –halah-

To be continued


Next chapter, trailer.

"Sasuke, aku takut…"

a… akhirnya =A=' selesai juga chapter 4 ini… gomennasai kalau terkesan terburu-buru ' terima kasih sebanyak-banyaknya kepada semua reviewer yang telah setia mengikuti fict ini! Maap kalo ceritanya gaje… jadi silahkan tuangkan semua kritikannya lewat review, hehe :)