DISCLAIMER: Kuroshitsuji punya Toboso Yana-sensei. Acara Termehek-mehek punya Trans Corp. Saia mah cuma minjem karakter en mlesetin nama-namanya aja.


Well, ini fic perdana saia di fandom Kuroshitsuji. Mohon bantuannya.

WARNING: Segala keabnormalan, kegajhean, keabalan, dan ke-OOC-an dalam fic ini adalah tanggung jawab Author *Author ngacir*. OC inside.

Selamat menikmati-eh, membaca...


.

Terbengek-bengek

.

Yay! Konnichiwa minna-san! Saya Rain dari acara Terbengek-bengek Teras-TV, hari ini siap membantu anda! Mulai dari mencari pacar anda yang menghilang sekian lama, sampai mencari kucing tetangga yang nyasar, pokoknya saya siap membantu anda! Ngomong-ngomong, sepertinya saya nyasar di tengah hutan belantara, ya? Ah, tapi di sana ada mansion, gede lagi! Tanya jalan ke sana aja, yuk!

"Sebastiaaan! Sebastiaaan!"

Lah, kayak ada suara anak kecil manggil-manggil orang?

"Sebastian~! Gug gug gug! Kemari~! Gug gug gug!"

(Ini manggil orang ato manggil anjing heli, sih?)

"Permisi… anda penghuni mansion ini?" akhirnya Rain nyoba nanya.

"Eh? Kau siapa?"

"Saya Rain dari Terbengek-bengek Teras-TV. Itu lho… acara yang menbantu klien mencari orang tersayang yang hilang, dsb…"

"Oh, kebetulan nih! Bisa bantu ga? Aku lagi nyari orang nih…"

YES! Akhirnya, klien pertamaX! "Bisa tolong deskripsikan seperti apa orang yang mau situ cari?"

"Dia ibli—maksudku, dia butlerku. Namanya Sebastian Michaelis. Rambutnya belah tengah item, bajunya item-item, pakai tailcoat item…"

"Kulitnya item juga, ga?" tanya Reyn frustasi, kebanyakan ngomong item sih…

"Putih banget malah kayak zombie! Udah ah, niat nyari ngga?"

"Oke-okeh… Tapi pertama-tama, terakhir kali anda ngeliat dia di mana?"

"Menegetehe! Kalo gue liat juga gue ga bakal nanya elo, kali!" seru Ciel sewot.

Oh, iya juga ya…

"Ya udah deh, ganti pertanyaan. Apa ada seseorang yang kira-kira ngeliat Sebastian terakhir kali?"

"Entahlah… Mungkin Tanaka tahu…" gumam Ciel. Yep, akhirnya kita langsung mulai pencarian…

.

PENCARIAN HARI KE-1

LOKASI: PHANTOMHIVE MANSION HOUSE

TARGET 1: TANAKA

Rain dan Ciel mendatangi tempat Tanaka biasa ngeteh ala Jepang. Biasalah…pose standar: duduk bersimpuh, satu set peralatan minum teh hijau, dan ga ketinggalan… "Ho Ho Ho…"

"Permisi Pak… Tanaka? Saya Rain dari Terbengek-bengek Teras-TV…"

"Ho Ho Ho…"

"Pak… numpang tanya, Bapak lihat Sebastian ngga?"

"Ho Ho Ho…" (nyodorin cangkir teh)

"Ah, iya. Makasih…" (malah ikut duduk lesehan sambil minum teh)

"Ehm… bisa kasih tau kita-kita kapan dan di mana terakhir kali Bapak liat Sebastian?"

"Ho Ho Ho…"

(mulai kesel) "Pak, Bapak sebenernya tau ga sih?"

"Ho Ho Ho…"

(kesel kuadrat) "PAK TANAKA, BISA NGOMONG YANG LAIN GA SIH SELAIN HA-HE-HO?"

"Ho Ho Ho…"

"Percuma saja, Rain. Tanaka ini memang hanya bisa bilang 'Ho Ho Ho'. Sebaiknya kita tanya saja pada Maylene, mungkin sekarang dia sedang bersih-bersih di aula depan…" kata Ciel sambil menghabiskan tehnya, yang langsung disambut death-glare ama Rain.

Ngomong dari tadi, kek!

.

LOKASI: PHANTOMHIVE'S HALL

TARGET 2: MAYLENE

Ajigileee… Kediaman Phantomhive itu ternyata luas banget, ya? Buktinya, untuk pergi ke aula depan aja, dari ruangan Tanaka harus jalan kaki sejauh 100 (kilo) meter. Buktinya lagi, kalau ke sana kita wajib bawa peta (Reyn sih ga perlu bawa cz udah ada peta hidup aka Ciel). Oke, itu ga penting.

By the way-anyway-busway, kita udah nyaris ngelilingin Mansion nih. Tapi yang namanya Maylene itu mana, ya?

"KYAAAAAAAAAAA! AWAAAAAS!"

Syuuuuuung…BRAAAAAAKKK!

Waaaah… Ada teko terbang… (?)

BYUUUURRRR!

"GYAAAAAA! PUANAAAASSS!" Rain jejeritan lantaran isi teko—teh super panas fresh from the oven—tumpah dengan cantik dan sangat tidak elitnya ke arahnya.

"MA-MA-MA-MA-MAAF! Saya tidak sengaja! Sini saya bersihkan!" Si maid berkacamata itu buru-buru ngambil sesuatu buat ngelap Rain.

"Ga usah! Makasih!" bukannya Rain ini sok baik hati binti sabar dengan menolak tawaran baik Maylene, lho. Ya terang ajalah, dia mau ngelap gue bukannya pake sapu tangan ato apalah, tapi kain pel! Yup, sekali lagi KAIN PEL! KAIN PEL SODARA-SODARA! Kain yang biasa dipake OB buat nginclongin lantai!

"Maylene, sudah kubilang kan supaya hati-hati saat berjalan di koridor saat membawa gerobak makanan? Lihat, tamuku jadi basah kuyup begini!" omel Ciel.

"Ma-maaf! Maaf! Saya tidak sengaja! Saya tidak terlalu memperhatikan jalan tadi…" Maylene udah bungkuk-bungkuk berkali-kali.

"Bukannya kemarin aku sudah memberikanmu kacamata baru, Maylene?"

"A-anu, sepertinya saya lupa naruhnya di mana… Akhirnya saya pakai lagi kacamata lama ini. Setidaknya, untung hari ini saya cuma nabrak 5 tong sampah, 3 rak piring, 7 kali kesandung sapu, belum sampai menyemir pegangan tangga dengan semir sepatu, atau turun dari lantai 3 lewat jendela…"

Maylene, kamu itu emang rabun atau udah setengah buta, sih?

"Haaah~~ sudahlah, Ciel. Eniwey, elo liat Sebas, ga?" Rain mulai nanya-nanya dengan logat anak gahol.

"Ti-tidak… Ah! Kalau tidak salah Sebastian tadi sempat ke dapur dulu untuk menyiapkan makan siang. Mungkin Bard tahu di mana dia…"

"YOSH! Baiklah! Kita langsung ke dapur aja!" Rain dengan semangat '98 (semangat kerusuhan) dengan senang hati meminta Ciel memandunya (lagi) ke dapur.

.

LOKASI: KITCHEN

TARGET 3: BARD

Baru berapa meter dari pintu dapur aja udah berasa aura-aura ga enak. Buktinya, baru radius 10 meter aja udah kecium bau-bau ga enak (ah, pantes! Ciel kentut! *diinjek Ciel*). Buktinya lagi, pintu dapur kediaman Phantomhive ini bukan seperti pintu-pintu dapur yang elegan, indah, harum semerbak mewangi… (apa, sih? Lo kira pintu surga?) tapi pintu dapur yang penuh tambalan dan retakan di sana-sini, garis polisi kuning (yang biasanya ada tulisan 'DO NOT ENTER'), kawat duri, tebaran ranjau, dan tulisan 'AWAS KOKI GALAK'. Well, oke, separuh ga bener sih, tapi pokoknya dari awal-awal Rain udah berasa hawa-hawa dan feeling ga sedap.

Mereka berdua berdiri mematung di depan pintu dapur, diam, termangu, bak Patung Selamat Data—*Author dicincang Rain & Ciel*

"…"

"…"

"Ciel, kau tidak masuk?" tanya Rain akhirnya.

"Sebaiknya kau masuk duluan saja," jawab Ciel. Tuh, kan! Yang punya rumah aja ogah masuk duluan!

"Tapi Ciel, sebagai tuan rumah harusnya kau yang mengantar saya, kan? Bukankah tidak sopan kalau saya mendahului tuan rumah?" Rain coba-coba ngeles dengan sopan.

"Dapur adalah wilayah istimewa, Rain. Lagipula kau ini tamu kehormatanku, jadi sudah sepantasnya kau masuk duluan…"

Rain nyerah, deh. Dengan perasaan H2C (Harap-Harap Cemas), Rain memutar gagang pintu.

Krieeet…

Oke, sejauh ini aman-aman saja.

Syuuut… (SFX pintu kebuka—dikit)

Ga ada jebakan. Aman, aman… Rain mulai pede menjejakkan kaki di tanah suci milik Bard ini.

"Terlenaaa~~aa… Ku~ter~leee~naaa…"

Rain sweatdrop ngedengerin suara (cempreng) sang koki yang lagi entah-masak-apaan sambil nyanyi-nyanyi ga jelas ini.

"Permisi, Bard… Saya dari Terbeng—"

DUAAAARR!

Baru juga dua langkah dari pintu masuk, ada ranjau meledak gara-gara ga sengaja diinjek Rain. Angus bin gosong dah si Rain…

"Bard, sudah kubilang kan agar tidak memasang jebakan semacam itu di dapur lagi!" omel Ciel sambil ngelenggang kangkung ke dalam dapur. "Dan hentikan kebiasaan memasak dengan flamethrower itu!"

Brengsek nih si Ciel! Ternyata dia udah tau trus nyuruh gue masuk duluan buat jadi umpan, toh! KALAU GA INGET ELO KLIEN GUA, UDAH GUA SEKAP DI KANDANG KUCING LO! BO(T)CHA(N) SEMPRUL!


Reyn (Author): Sabar ya, Rain. Bulan puasa ga boleh marah, lho!

Rain: Abisnya~~ *ngerajuk bin manyun*

Author: Udah, lo jalanin aja dulu tugas lo. Entar gue kasih kesempatan elo berduaan ama Sebastian, deh!

Rain: *berbinar-binar* BENERAN? WOKEEEH! Makasih Author! *peluk-peluk Author*

Readers: HOEEEEKS! *muntah di tempat*

Oke, back to the TEE~KAAA~PEEE~~


"Bard, sudah kubilang kan agar tidak memasang jebakan semacam itu di dapur lagi!" omel Ciel sambil ngelenggang kangkung ke dalam dapur. "Dan hentikan kebiasaan memasak dengan flamethrower itu!"

"Tapi, Tuan Muda… Dapur adalah tempat suci bagi para koki yang bahkan butler anda tidak bisa sembarangan memasukinya! Sudah sewajarnya saya melindunginya dengan segenap jiwa dan raga! Sekalian saya mencoba senjata baru kiriman Mr. *piiiip* dari Amerika!" Bard ngeles dengan berapi-api dan semangat '98 *ah lebay dah lo Bard!*. "Lagipula, masakan itu adalah seni! Dan seni itu adalah ledakan!" (jiaaah… ketularan Deidara dia!)

"Sudah, sudah… kami kemari untuk menanyaimu, Mr. Bard," Rain akhirnya back to the topic. "Anda lihat Sebastian Michaelis?"

"Oh, si perfect-butler itu? Kukira dia tadi pergi ke taman, mengurusi taman yang dihancurkan Finny…"

Oke, tanpa ba-bi-bu, langsung aja ke TEE~ KAA~ PEE~~—eh, ke taman.

.

LOKASI: PHANTOMHIVE'S COURTYARD

TARGET 4: FINNIAN

Bener-bener, dah. Kediaman Phantomhive ini beneran luas! Tamannya aja udah kayak lapangan bola! Heran dah, bisa juga 3 pelayan dodol, 1 butler tampan nan perfect, plus 1 steward udzur yang cuma bisa bilang 'Ho Ho Ho' ngurusin (baca: ngerusakin) tempat ini…

"Ciel, apa benar tukang kebun bernama Finny itu ada di sini?" tanya Rain pada si-peta-hidup, Ciel.

"Tentu saja, seharusnya dia ada di sini," jawab Ciel yakin. Kurang yakin? Mari kita telusuri ulang perjalanan kita mencari Sebastian…

Koridor, dapur, kebun belakang~

Koridor, dapur, kebun belakang~~

(baca kalimat di atas dengan nada Ciel the Explorer)

*Author ditimpuk botol Aqua*

Rain masih tercengang melihat hamparan taman di hadapannya. Bukan, bukannya karena dia terpesona dengan keapikan tamannya yang luar biasa itu, tapi karena kegersangannya yang luar biasa…

"Finnian! Kau di sana?" panggil Ciel.

"Yes, Tuan Muda!" dari kejauhan, muncul seorang pemuda berjepit rambut lari-larian ala film India menghampiri tuannya. Sialnya dia kesandung ama peralatan kebunnya sendiri dan jatuh nyusruk dengan indah, nabrak pohon beringin dengan muka duluan (He? Emang di Inggris ada ya pohon beringin? 'Au ah gelap *Author ngacir duluan*).

"HYAAAAA!"

Glundung-glundung-glundung…

BRUUK!

"Sudah kubilang jangan ceroboh begitu, Finny! Sejak kapan kau jadi ketularan Maylene gitu?" omel Ciel. "Terus, kenapa tamanku yang indah ini bisa jadi hancur begini?"

"Ehehehe… maaf, Tuan Muda…" Finny cuma cengar-cengir sambil garuk-garuk kepala. Rain cuma jawsdropped ngeliat kepalanya yang lebam-lebam dan pohon beringin yang patah jadi dua abis diseruduk kepala Finny. 'Ebuset ni anak kepalanya terbuat dari apa ya, kok pohon aja bisa kebelah dua begitu', pikir Rain.

"A-ano… boleh tanya sebentar? Apa kau lihat Sebastian Michaelis?" tanya Rain akhirnya.

"Sebastian? Ano, tadi kayaknya dia keluar membeli tanaman baru, tapi sampai sekarang dia belum kembali…"

Syuuuuut…NGUOOONG! JES GEJES GEJES GEJES GEJES GEJES! (?)

Ekh, apa itu? Ternyata itu Sebastian yang lagi lari dengan kecepatan nyaingin kereta api! TARGET DI DEPAN MATA! AYO KEJAR!

.

TARGET UTAMA: SEBASTIAN MICHAELIS!

KEJAR KEJAR KEJAR! Gile cepet banget ni butler larinya! Udah kayak iblis aja kecepatannya (emang iblis!). Jadi terbengek-bengek beneran kan gue!

"Hmph!"

Eh? Lho? Ternyata Sebastian tau-tau udah di belakang ngebekep Rain dan Ciel dan buru-buru menyeret mereka untuk bersembunyi ke lemari terdekat.

"Hmph! Hemphashihan! Hari hana hajya khau? (Hmph! Sebastian! Dari mana saja kau?)" gerutu Ciel di tangan Sebastian yang membungkam mulutnya.

"Pst!" bisik Sebastian, memberi isyarat agar mereka tidak bersuara. Dari kejauhan terdengar suara cempreng bak banci Taman Lawang berambut merah (tau kan siapa?).

"YUUUHUUUUUU~~~ Sebas-chan… Di mana dikau? Akuuu~ rindu~ setengah mati padamuuu…"

Mereka bertiga menahan nafas dan suara ketika shinigami maho itu *dihajar Grell* berjalan melewati lemari tempat mereka bersembunyi dan berlalu beberapa menit kemudian. Untung aja ga ada diantara mereka bertiga yang kentut di dalam kotak sempit itu.

"Haaah… ke mana saja kau, Sebastian! Aku mencarimu ke mana-mana, tahu!" omel Ciel setelah dirasa keadaan sekitar aman-nyaman-terkendali.

"Maafkan saya, Tuan Muda. Saat tadi saya hendak membeli tanaman-tanaman baru untuk taman belakang, saya tidak sengaja bertemu Grell Sutcliff. Makanya saya kabur dulu…" jelas Sebastian sambil membungkuk hormat.

"Kalau begitu, tidak masalah bukan kalau kau kembali melakukan tugasmu sekarang? Aku lapar, ingin makan cake manis!" perintah Ciel.

"Maafkan saya, Tuan Muda, tapi bisakah anda memberi saya waktu sebentar? Sebenarnya saya juga sedang mencari seseorang. Saya tidak akan bisa berkonsentrasi dalam pekerjaan kalau belum menemukannya, dan bisa dibilang saya masih punya satu tugas yang mengganjal…"

Mendadak Sebastian merasakan satu tatapan—umm… kagum?

"Jadi… jadi ini yang namanya Sebastian… Ternyata kau tampan sekali…" gumam Rain dengan mata berbinar-binar. "Mau jadi butler saya? Atau jadi suami saya juga boleh…"

"Tidak masalah buat saya, asal anda mau membayar saya dengan nyawa anda," jawab Sebastian ramah.

"Nyawa saya ada sembilan, kok (emang kucing?). Mau ambil berapa juga boleh…"


EH? TUNGGU-TUNGGU-TUNGGU! Ini mah bukan kalimat saya! YANG DUA KALIMAT TERAKHIR ITU BUKAN KALIMAT SAYA!

Author: Ga pa-pa kan? Nyawa elu ini yang gue tuker biar Sebas mau kerja jadi butler gue…

Rain: ENAK AJA! Gue kan OC lo! Ga bisa gitu, dong!

Author: Masih bagus elo gue masukin di fic ini! Enak kan, bisa ketemu ama Sebastian?

Rain: I-iya juga, sih…

*Baik Author maupun OC-nya dirajam rame-rame ama Sebastian FC*

Udah ah, back to the story!


"Maafkan saya, umm… Rain-sama. Saat ini saya sedang dalam kontrak dengan Ciel Phantomhive, majikan saya sekarang. Benar kan, Tuan Mu—"

Siiiiing~~

"Lho, Tuan Muda? Anda di mana?"

Sepi, mendadak si Earl Phantomhive raib dari hadapan.

Satu suara memecah keheningan.

"Dasar kau keong racun~~ Baru ketemu eh ngajak tidur… Ngomong gak sopan santu—"

Buru-buru Sebastian menghentikan sumber suara yang ternyata ringtone hapenya Sebas (ketahuan dah ringtone hapenya *ditusuk garpu ama Sebas*). Eh, ternyata ada sms masuk!

"Sebentar… Sejak kapan di zaman Victoria ada HAPE?" seru Rain—yang masih cengo ngedenger nada dering yang ajaib bin aneh itu.

"Apa jadinya jika butler keluarga Phantomhive tidak punya handphone?" jawab Sebastian ga nyambung. 'Hari ginniiii gak punya hape~?'

"Bukannya gitu! Tau gini mah ngapain gue susah payah nyariin elo! Tanya aja nomor hape lo ke Ciel!" jerit Rain—mengenang kejadian-kejadian naas yang menimpanya selama mencari Sebastian.

"Tuan Muda tidak punya handphone, Rain-sama. Dia itu anak zaman Victoria. Anda sendiri yang bilang begitu kepada saya, kan?" jawab Sebastian. "Saat ini handphone hanya diciptakan untuk komunikasi antar sesama makhluk gaib saja, Rain-sama."

(Oh? Jadi para iblis di neraka udah pada punya hape, toh? Baru tahu, canggih juga… Bisa pesbukan ama twitteran ga ya ama Sebas di sana/PLAK!)

Rain speechless, gak bisa jawab. Udahlah, baca aja dulu isi sms-nya.

From: Grell Sutcliff

Aku tahu kau tidak akan muncul padaku kalau kukejar-kejar terus, jadi kuculik saja Tuan Muda-mu tercinta ini sebagai sandera.

Datanglah padaku kalau kau ingin dia selamat 3

"Ini gawat…" gumam Sebastian. "Padahal saya masih punya tugas mengganjal sebelum kembali bekerja…"

"Kita harus mencari Grell dan Tuan Muda!"

.

.

~T.B.C~

.


GYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA! SAIA EMANG GA BAKAT BIKIN FIC HUMOOOOOOR! ...MOOOR! ...moor! ...mor!

*nyemplung ke sumur*

Haiaiaiaiah~~ kelar juga bagian pertama...

Gimana kesan kalian? Kependekan? Gajhe? Aneh?

Keep or delete? It's up to you, readers!

Kalau kalian setuju, Insya Allah bakal saia lanjutin abis lebaran...

Cukup tuangkan segala saran, kritik, dan pendapat kalian di kotak review. FLAMEs will be accepted as well.

Thanks for reading...

Best regard,

Reyn-kun Walker