UGLY GIRL UNDER THE RAINDROPS

.

.

.

Disclaimer : Masashi Kishimoto

mysticahime™

2010 ©

.

.

.

Kita tidak bisa menentang takdir...

.

.

.

Apa yang merupakan bagian terbaik dari sebuah hari?

Sinar keemasan matahari menembus pori-pori gorden biru tua yang menggantung membatasi bingkai jendela dengan udara di ruangan gelap gulita itu. Partikel-partikel sinar sang surya menyorot, menyilaukan dalam keterbatasan cahaya di ruangan itu, dan tepat jatuh pada kelopak mata seorang pemuda berkulit putih dan berambut emo yang masih menikmati bunga tidurnya setelah semalaman penuh menyusun daftar-daftar pertanyaan dari seminar yang akan dihadirinya pagi ini.

Sebuah benda elektronik berbentuk dadu berwarna hitam dengan dua puluh satu titik kongruen berwarna putih dengan salah satu permukaannya tertutup lensa plano dengan angka-angka digital berwarna hijau pupus menunjukkan angka 06.30. Dan sedetik kemudian, benda digital itu berbunyi nyaring, membuat sang pemuda menggeliat bangun.

Sebelah tangan putihnya meraba-raba meja tempat benda elektronik itu berada, kemudian menekan sebuah tombol yang sedikit menonjol pada bagian atasnya, dan benda itu berhenti berbunyi. Ruangan itu sunyi seketika.

Uchiha Sasuke terduduk di sisi tempat tidurnya yang berselubungkan bedcover berwarna hitam dengan pola abstrak berwarna biru muda dan putih. Rasa kantuk membuatnya malas bangun—mengingat semalam ia hampir tidak tidur—tetapi jam digital berbentuk dadu yang dihadiahkan oleh mantan pacarnya, Karin, enam bulan yang lalu. Sekelebat ingatan mengenai kegiatan hari ini mau tak mau membuat Sasuke beranjak dari posisinya semula dan berjalan gontai menuju kamar mandi untuk membilas tubuhnya dan menyegarkan pikiran.

Terdengar bunyi guyuran air yang lembut dari kamar mandi selama beberapa saat, dan beberapa menit kemudian terdengar bunyi pintu dibanting.

Sasuke berjalan menuruni tangga yang menghubungkan lantai tempat kamarnya berada dengan lantai dasar, di mana ruang makan yang sedang ditujunya berada. Pemandangan pertama yang dilihat oleh pemuda itu ketika tiba di ruang makan adalah... surat kabar berlengan. Itu pasti...

"Pagi, Sasuke~" Srek! Koran berlengan itu tersibak menutup dan menampilkan senyuman manis super lebar dari seorang pria berkuncir dengan guratan identik di kedua pipinya.

"Hn, pagi." Sasuke membalas sapaan aniki-nya dengan singkat, khas Sasuke. Kemudian pemuda itu mengambil setangkup french toast yang tersedia di atas meja makan dan memakannya tanpa menambahkan sirup apapun. Melihat hal yang dilakukan Sasuke, kakaknya yang bernama Itachi itu bereaksi, tentunya bukan reaksi yang diharapkan oleh semua orang.

"Itu rotikuuuuuuu~" Itachi menangkap lengan kiri Sasuke dengan gesit, namun Sasuke lebih gesit lagi untuk menggagalkan rencana Itachi mencegah roti itu mengunjungi kerongkongannya pagi ini. Dengan lidahnya, Sasuke menjilat tepian french toast itu sehingga Itachi melepaskan cekalannya pada pergelangan tangan Sasuke.

"Dasar licik," gerutu Itachi sambil meneruskan kegiatan membaca korannya. Sasuke hanya mengangkat sebelah alisnya.

"Hari ini kau ada seminar, kan?" tanya Itachi saat Sasuke bangkit dari tempat duduknya. Sasuke sedikit melirik kakaknya itu.

"Hn," jawabnya sambil menuju ke rak sepatu, mengambil sepasang sepatu sneakers kulit oleh-oleh ayahnya dari Eropa. "Ja, ittekimasu!"

"Odaijini...!" Itachi melambai ke arah pintu, walau Sasuke tidak melihatnya.

.

.

.

Stasiun Shinjuku, salah satu stasiun tersibuk di kota metropolitan Tokyo. Bahkan di pagi hari yang agak mendung itu pun, salah satu penghubung transportasi ke seluruh penjuru Tokyo itu tetap dipenuhi orang-orang yang berdesakkan menunggu kereta api listrik—densha.

Sasuke melirik arlojinya. Dua puluh menit lagi seminar marketing yang diadakan oleh Konoha International University akan segera dimulai. Universitas tempatnya menuntut ilmu selama satu setengah tahun itu memang tidak pernah terlambat bila mengadakan acara. Acara-acara tersebut selalu dimulai tepat pada waktunya, seperti seminar kali ini, pasti akan dimulai tepat pukul setengah delapan. Dalam hati, Sasuke merutuki dirinya yang sulit untuk bangun pagi-pagi.

Kereta yang tercepat baru akan tiba sepuluh menit lagi—yaitu pukul tujuh dua puluh. Waktu yang diperlukan untuk sampai ke Shibuya adalah kira-kira tiga puluh menit. Ia menggerutu dalam hati. Pasti terlambat.

Tanpa berpikir panjang, Sasuke melangkahkan kakinya keluar dari Shinjuku-eki yang padat oleh calon penumpang kereta. Sasarannya kini hanya satu : halte bis. Satu-satunya cara untuk tiba di KIU tanpa terlambat adalah dengan menaiki bis. Mungkin tetap saja akan terlambat, namun ia tidak akan seterlambat bila menaiki kereta api.

Langit mulai terselimuti awan hitam yang bergulung-gulung. Pemuda berambut raven itu menatap ke atas dengan kedua mata onyx-nya.

"Hujan..." gumamnya, lalu ia mulai berlari menuju halte, diiringi oleh tetes-tetes air hujan yang mulai jatuh menerpa aspal yang semakin kelabu.

.

.

.

Tidak ada yang bisa menentang takdir, siapapun itu...

Se-tidak ingin apapun dirimu...

Tidak ada yang dapat mengalahkan kuasa Dewi Fortuna...

Ketika takdir mengikat, bahkan waktu dan jarak pun tak akan mampu memisahkan...

.

.

.

"Baka."

Sasuke berlari semakin cepat menuju halte bis. Jarak halte bis terdekat dengan Shinjuku-eki sekitar dua ratus meter, namun ia tidak dapat berlari terlalu cepat dalam hujan itu bila ia tidak mau tergelincir—yang pada akhirnya bisa mengakibatkannya terjatuh ke jalan dan membuatnya kehilangan harga diri. Pemuda Uchiha itu sedikit mendongak. Ia menyipitkan mata. Halte sudah tampak di depan ma—

BRUUKKK...

"Kyaaaaaa...!"

Brak! Brak! Bruk!

Detik berikutnya Sasuke baru menyadari bahwa ia telah terhempas, terduduk di atas aspal yang basah—jenis kecelakaan yang dibencinya. Dan di hadapannya, jatuh terduduk juga seorang gadis yang dikelilingi oelh berbagai macam barang yang berserakan. Err, apa itu, tongkat berbulu?

Gadis yang terduduk di hadapannya itu berambut bubble gum, terurai sampai ke bahunya. Pakaiannya terdiri dari celana terusan berbahan jeans selutut, pada bagian dalamnya ia mengenakan sebuah t-shirt berwarna kuning muda dengan gambar kodok aneh berwarna hijau kebiruan. Gadis itu mendongak menatap mata Sasuke. Matanya berwarna emerald, membuat Sasuke terpesona—

"DASAR BODOH!"

Sasuke nyaris terlonjak mendengar makian yang terlontar dari mulut gadis itu. Hilang sudah semua rasa terpesonanya pada gadis itu. Ekspresi marah tampak berkilat-kilat di wajahnya yang bening. Mungkin ia marah karena tongkat berbulu miliknya berserakan ke atas jalan yang becek.

"Kau yang menabrakku, hn." Sasuke berdiri. Ia menepuk-nepuk bagian belakang celananya yang sedikit kotor terkena air hujan yang menggenangi jalanan.

Gadis itu menyipitkan matanya dengan sinis. "Hei, rambut ayam! Jelas-jelas kau yang menabrakku! Lihat, barang-barangku jadi berceceran dan kotor terkena air hujan!"

Sasuke balas melirik gadis itu dengan tatapan paling merendahkan sedunia. "Asal kau tahu, pinkie, kau yang tiba-tiba muncul dan menabrakku!"

"Sudah bersalah, tidak mau minta maaf, lagi!" Gadis itu mulai memunguti benda-benda miliknya. "Dasar rambut ayam yang menyebalkan!"

Pemuda di hadapannya mendecih kesal. "Jangan bilang kau marah karena aku membuat tongkat berbulu milikmu berserakan."

Kali ini gadis itu benar-benar naik pitam.

"Tongkat berbulu, katamu?" Ia mengambil salah satunya dan mengacungkannya tepat di hadapan lawan bicaranya. "Ini adalah kuas kelas satu!"

Gadis itu mengharapkan pemuda yang berdiri di hadapannya segera meminta maaf, namun, di luar dugaannya, pemuda itu malah memperhatikan arloji—yang tampaknya mahal—yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.

"Dasar keras kepala!"

.

.

.

Haruno Sakura benar-benar kesal. Ia sedang terburu-buru untuk menyelesaikan tugas perdananya, tetapi pemuda yang seenaknya menabrak dirinya malah bersikap seolah-olah hanya Sakura yang bersalah—padahal jelas-jelas tadi pemuda itu yang menabraknya!

Dan sekarang, kuas-kuas pesanan teman-temannya berceceran di atas aspal yang basah. Benar-benar mengesalkan.

"Hei, kau harus bertanggung jawab!" bentaknya lagi. "Setidaknya, kau harus membantuku membereskan peralatan ini!"

Laki-laki itu menoleh dengan tatapan menyebalkan—jenis tatapan yang membuat Sakura ingin menendangnya habis-habisan. Ia menyeringai menyebalkan, kemudian pemuda itu mengambil sebatang kuasnya.

"Ini."

Setelah itu, laki-laki itu pergi begitu saja.

Sakura menggertakkan gigi dengan kesal. Dengan wajah merah padam menahan amarah dan malu, gadis itu cepat-cepat memunguti kuas-kuasnya, kemudian pergi dari tempat itu.

.

.

.

Seperti yang sudah diduga, Sasuke terlambat datang ke seminar itu. Puluhan—bahkan ratusan pasang mata menatapnya saat ia memasuki ruangan seminar. Bahkan sang presentator—Sarutobi Asuma, dosen mata kuliah Manajemen Pemasaran—hanya bisa memberikan death glare saat Sasuke dengan senyum kecut melangkah masuk ke dalam ruangan seminar.

Dengan langkah cepat, Sasuke segera duduk di kursi terdekat dengan pintu masuk, di bagian paling belakang. Ia segera mengeluarkan notes dari ranselnya, hendak mencatat hal-hal penting yang dikatakan dosennya dalam seminar ini, namun pikirannya melayang-layang, tidak fokus.

Ia masih mengingat dengan jelas siluet wajah gadis yang ditabraknya pagi tadi. Kulit yang putih dengan rona merah muda di bagian pipinya. Tulang pipi yang mata lentik yang membingkai sepasang mata berwarna emerald yang menakjubkan. Bibir mungil yang tertekuk ke bawah karena kesal. Dan ekspresi marahnya...

Sayang sekali gadis itu tidak bersikap manis pada Sasuke—seperti hal yang biasa dilakukan oleh sekumpulan gadis yang secara tidak resmi terdaftar dalam perkumpulan para penggemarnya. Padahal, bila ia bersikap sedikit manis, gadis pinkie itu pasti akan terlihat lebih can—oh, astaga, Uchiha Sasuke! Apa yang sedang kau pikirkan?

"... Dalam penentuan pasar sasaran—target marketing—ada lima pola dasar pemasaran. Seperti yang anda lihat di slide ini, kelima langkah tersebut adalah..." Sayup-sayup terdengar suara Sarutobi-sensei membawakan presentasi mengenai strategi pasar sasaran. Suara yang sebenarnya lantang itu hanya terdengar seperti bisikan di telinga Sasuke. Pikiran pemuda itu sedang bergulat dalam alam imajinernya.

"Satu. Konsentrasi pasar atau kebutuhan, misalnya dengan melakukan konsentrasi pada satu segmen tertentu, seperti mobil mahal atau makanan organik..."

Gadis berambut soft pink itu sebenarnya terlihat menawan, walau ia sepertinya tidak sedang berada dalam kondisi prima. Sekilas, tadi Sasuke melihat ada lingkaran gelap di bagian bawah matanya. Hmm, mungkin ia baru bergadang semalam—mungkin menyelesaikan tugasnya—itupun kalau gadis itu masih bersekolah, atau mungkin sudah kuliah?

"... Dua. Spesialisasi kebutuhan, yaitu dengan menyediakan kebutuhan tunggal untuk pasar, misalnya kayu dan besi..."

Tangan kanannya yang sedari tadi memegang pena diam saja, tidak bergerak untuk mencatat penjelasan sang dosen atau sejenisnya. Uchiha Sasuke masih larut dalam pikirannya sendiri—memikirkan gadis pinkie aneh yang membawa-bawa banyak kuas itu.

Padahal, gadis itu adalah gadis yang menyebalkan—ia menyebut Sasuke dengan sebutan 'rambut ayam'—tetapi, mengapa wajah gadis itu terus menari-nari di dalam benaknya?

Entah berapa lama pemuda itu melamun menatap ke luar jendela yang masih didera tetesan-tetesan air hujan yang kian menderas, tiba-tiba saja salah seorang mahasiswa menghampirinya sambil menepuk pundaknya.

"Hei, Teme!" Mahasiswa berambut kuning dengan model rambut seperti duren itu menyapa Sasuke dengan akrab. Ia adalah Uzumaki Naruto, salah seorang mahasiswa fakultas bisnis manajemen seperti Sasuke jurusan banking management.

"Hn, Dobe," respon Sasuke seperlunya. "Ada apa?"

Naruto yang dipanggil 'Dobe' itu mengangkat kedua alisnya tinggi-tinggi dengan sikap hiperbolis—begitulah ia. "'Ada apa'?" tanyanya heran. "Ayo kita mengambil kopi di lounge. Sekarang waktunya istirahat!"

"Oh," kata Sasuke seraya bangkit dari kursinya. "Ayo. Maaf, aku sedang merasa kurang sehat hari ini," kilahnya.

"Karena kehujanan?" Naruto merangkul Sasuke dengan gaya akrab.

"Hn, begitulah."

.

.

.

Lounge yang berada di bagian depan aula yang sedang digunakan untuk seminar marketing itu tampak dipenuhi oleh sekitar dua ratus orang mahasiswa fakultas bisnis manajemen yang baru saja selesai mengikuti sesi satu seminar Sarutobi Asuma. Mereka semua sedang bersantai menikmati makanan kecil dan secangkir kopi panas—sungguh, kudapan yang sangat menyenangkan bila mengingat cuaca yang buruk disertai hujan dan suhu dingin yang menusuk kulit.

Bulan September akhir—sudah memasuki musim gugur. Hujan terus-menerus melanda kota Tokyo selama beberapa hari ini, seolah hendak menciptakan iklim regional baru bagi negara sakura itu.

Sasuke dan Naruto masing-masing baru saja selesai mengantri kopi dan sepiring kecil makanan ringan. Dengan kedua tangan dipenuhi makanan—well, tentu saja Naruto, karena Sasuke hanya mengambil makanan seperlunya—mereka mendatangi clique yang biasa nongkrong bersama mereka di sela-sela waktu kuliah. Kelompok yang mereka tuju berada di bagian belakang meja yang menyediakan kopi panas—lengkap dengan dua kompor elektrik yang ditenggeri oleh dua cerek berbahan fiberglass dengan uap putih mengepul di atasnya. Clique mereka terdiri dari Nara Shikamaru, Sabaku Gaara, Inuzuka Kiba, Temari—kakak perempuan Gaara, Uzumaki Naruto, dan tentu saja Uchiha Sasuke sendiri—walau ia tidak pernah meminta untuk bergabung, namun mereka tetap saja mengundangnya untuk berkumpul bersama.

Sabaku Gaara adalah salah satu dari 'KGB', yaitu 'Kuartet Ganteng Banget'—sama seperti Sasuke—yang selalu dianggap sebagai raja-raja di KIU. Jumlah fans-nya tidak cukup dihitung dengan jari delapan tanganpun. Dengan adanya Sasuke dan Gaara di clique itu, otomatis banyak sekali pandangan mata memuja yang dilemparkan para gadis ketika menunggu antrian kopi yang kian memanjang.

"Yo, Gaara!" Naruto menyapa Gaara dengan ramah, yang dibalas pemuda berambut crimson tanpa alis itu dengan anggukan tak kentara. Suatu gerakan kecil yang dapat membuat puluhan gadis penggemarnya roboh tak sadarkan diri akibat terlalu terpesona.

"Hei, Nanas!" Gantian Naruto menyapa Shikamaru yang tampak dengan jemu mengamati gadis-gadis fangirl yang berusaha mencuri-curi perhatian dua orang dari KGB itu.

Nara Shikamaru adalah tipe orang yang selalu menganggap bahwa perempuaan adalah makhluk paling cerewet dan mengesalkan di dunia. Anggapannya itu diperkuat dengan kenyataan bahwa ibunya adalah orang yang cerewet sekali—selalu mengomeli Shikamaru dan ayahnya apabila kedua laki-laki itu terlalu asyik bermain catur dan segala permainan yang berhubungan dengan strategi dan pola pikir menyerang dan bertahan sekaligus.

Satu-satunya gadis yang masih dapat diterima oleh Shikamaru adalah Temari. Gadis yang sebenarnya berada satu tingkat di atas mereka semua itu adalah gadis periang yang tidak terlalu banyak bicara, namun berotak cerdas dan mampu mencerahkan suasana, mirip tipis dengan Naruto yang memang banyak bicara namun merupakan pencerah suasana juga. Dengan rambut pirang yang selalu dikuncir empat, sebenarnya Temari juga merupakan salah seorang primadona di KIU.

Ada tiga primadona di KIU, yaitu Temari—mahasiswi tingkat tiga jurusan bisnis, Karin—mahasiswi tingkat tiga jurusan psikologi, dan Hyuuga Hinata—mahasiswi tingkat dua jurusan kedokteran. Mereka bertiga disebut dengan sebutan '3 Diva'.

"Seperti biasa, kau rakus, ya, Naruto!" Yang setengah menyindir Naruto itu adalah Inuzuka Kiba, pemuda tampan dengan rambut coklat tua. Kiba secara tidak sengaja masuk ke jurusan bisnis karena putus asa tidak diterima di fakultas kedokteran hewan. Kiba bisa dibilang animalfreak—gila hewan. Karena tidak diterima di fakultas kedokteran hewan, Kiba memilih untuk masuk ke fakultas bisnis manajemen dengan dalih akan menjadi pengusaha yang mempunyai peternakan anjing terbesar di Jepang.

Naruto terkekeh mendengar sindiran Kiba yang sebenarnya bernada bercanda.

"Aku kelaparan, tahu! Si Asuma itu sudah bicara lama sekali, dan seminarnya dimulai terlalu pagi, pula! Aku kan jadi tidak sempat sarapan..." Ia mengerucutkan bibirnya. Mereka semua tertawa melihat aksi Naruto—kecuali Sasuke yang kelewat dingin untuk tertawa.

Uzumaki Naruto—seperti yang sudah dibilang tadi—adalah tipe orang yang banyak bicara dan suka menceriakan suasana. Naruto punya segudang lelucon yang siap diledakkan kapan saja. Dan ia adalah satu-satunya orang yang dekat dengan Sasuke selain kakaknya, Itachi.

"Si Sasuke enak, tuh!" celetuk Temari sambil mengelap mulutnya dengan tissue yang tadi digunakannya untuk memegang kue pastel. "Datang terlambat, jadi tidak perlu mendengar cuap-cuap kata pengantar dari rektor kita!"

Dan Uchiha Sasuke, bisa dibilang adalah pentolan dari clique itu. Dengan wajah tampan yang mengalahkan aktor-aktor pria kawakan dan kulit putih yang tampak seperti pualam, disertai oleh postur gagah dan tinggi serta perilaku cool yang tidak dibuat-buat, Sasuke menduduki peringkat pertama dalam KGB. Peringkat kedua diraih oleh Hyuuga Neji, sepupu Hinata di fakultas teknik sipil tingkat tiga. Gaara berada di posisi ketiga.

"Hn." Hanya itu respon yang diberikan Sasuke. Secara serempak, semua teman-temannya menoleh ke arahnya.

"Tidak biasanya kau terlambat, Tuan Uchiha..." Kiba mengedipkan sebelah matanya.

"Iya, Teme! Biasanya kau selalu datang paling awal!" Naruto ikut-ikutan.

"Apa alarm hadiah dari Karin sudah rusak?" tanya Temari dengan wajah sok polos.

"Mendokusei..." timpal Shikamaru, entah mengomentari Sasuke, atau mengomentari keisengan teman-temannya.

"..." Gaara diam saja. Ia bukan tipe orang yang ingin tahu urusan orang lain.

"Tidak," jawab Sasuke. "Tadi aku bertabrakan dengan seorang gadis yang menye—"

"GADIS?"

Sebagai jawara KGB, sebenarnya bukan hal yang mustahil bila Sasuke berurusan dengan gadis. Penggemarnya ratusan, bahkan mungkin semua gadis di KIU menyimpan perasaan khusus padanya. Namun, bagi teman-temannya, 'gadis' dan Sasuke adalah salah satu topik paling spektakuler. Mengapa? Sejak putus dari Karin, salah satu 3 Diva yang juga merupakan mantan pacar Sasuke, Sasuke tidak pernah menyebut-nyebut mengenai seorang gadis manapun, yeah, kecuali ibunya. Menurut pengakuan Sasuke sendiri, ia dulu jadian dengan Karin karena cewek itu terus-menerus menerornya. Suatu keterpaksaan, yang pada akhirnya membuat Sasuke tidak mau berhubungan dengan gadis manapun setelah putus dari cewek berambut merah itu.

"Yeah," jawab Sasuke. "Dia menyebalkan."

"Siapa?"

"Dia bersekolah di mana?"

"Berapa umurnya?"

"Apakah ia cantik?"

Dan tiba-tiba Sasuke menyesal telah bercerita pada teman-temannya.

.

.

.

Cklek

Itachi menoleh dari layar televisi yang menampilkan gambar seorang pembawa berita sedang membacakan berita skala nasional terbaru. Laki-laki yang berusia awal duapuluhan itu tersenyum melihat Sasuke yang berjalan masuk menjauhi pintu depan yang telah ditutup kembali.

"Okaeri, otouto-ku sayang~" sapanya ceria. "Bagaimana seminar kali ini?"

"Mengerikan," jawab Sasuke dengan ekspresi sukar ditebak. Lalu ia berjalan menuju tangga dan menaikinya dengan langkah diseret-seret. Itachi langsung mengerti bahwa Sasuke sedang mengalami badmood. Entah apa yang terjadi, namun biasanya Sasuke akan marah bila ditanyai terus-menerus. "Aku mau mandi dulu," katanya muram.

"Baiklahhh~" Itachi bangkit dari sofa dan memencet salah satu tombol pada remote televisi. Muncul kilatan pada layar itu, dan seketika layarnya menjadi gelap. "Aku akan memasak makanan kesukaanmu. Bagaimana dengan nasi goreng tomat?" serunya agar Sasuke bisa mendengar suaranya dari lantai atas.

"Aku lebih suka spageti."

"Ah, baiklah, Sasuke..."

.

.

.

Sasuke melipat kemejanya dan meletakkannya di keranjang cucian. Entah mengapa ia merasa kesal karena teman-temannya terus mencercanya dengan pertanyaan-pertanyaan seputar gadis yang bertabrakan dengannya pagi tadi. Bahkan saat sesi kedua dan ketiga seminar marketing tadi, mereka semua memaksa Sasuke untuk duduk bersama mereka, tentu saja untuk menanyainya dengan pertanyaan-pertanyaan yang lebih mendetail. Padahal Sasuke kan tidak berkenalan dengan gadis itu, bagaimana mungkin ia bisa mengenal gadis itu?

"Pakai clairvoyance dong..." kata Naruto saat Sasuke menjawab 'tidak tahu' untuk kesekiankalinya.

Clairvoyance adalah cara untuk menebak kepribadian seseorang hanya dengan melihatnya, namun biasanya yang dilihat adalah foto dari orang tersebut, bukan figur aslinya.

Hhhh, Sasuke mendesah sambil menatap jendelanya yang mempertunjukkan kepekatan langit malam. Udara masih terasa dingin akibat hujan hampir seharian penuh ini.

Aku merasa bahwa peristiwa itu adalah takdir. Tapi... apakah benar? Ataukah hanya kebetulan saja?

~To Be Continued~

.

.

.

a-lo-haaaa~~~ *muncul dengan BGM ukulele ala Hawaii*

setelah lama tak mengeluarkan multicahp romance, akhirnya Cyan memutuskan untuk membuat multichap romance! Sekaligus untuk mengabulkan request dari Haruchi Nigiyama dan Caca!

Maaf kalo ceritanya aneh =w= saking kelamaan buat tipe-tipe gore, rasanya agak... aneh bikin light fict gini~ xP

Hehe~

Dengan bertambahnya fict Cyan, Cyan mau promosi lagi : PLEASE VOTING BUAT POLL DI PROFIL CYAN! Ya, ya, ya? :3 *puppy eyes*

Yosh , terlalu banyak bacot! Mari kita sudahi segala macam perbacotan yang gaje ini =w=V

RnR please ? :)

mysticahime™