80515

Disclaimer: I'm not, in anyway, taking profits from this story. Naruto belongs to Masashi Kishimoto as always.

.

.

.

"Shikamaru, bangun. Sudah pagi."

"Tidak."

Ini bukan kali pertama Nara Yoshino menahan rasa jengkel melihat anaknya tetap bertahan di bawah selimut saat matahari mulai meninggi. Lupakanlah alasan matahari terbit lebih awal saat musim panas, jam dinding yang tergantung di dekat lemari pakaian menunjukkan waktu pukul setengah delapan pagi. Sudah cukup waktu untuk bangun pada hari-hari biasa. Terlebih lagi, semalam Shikamaru langsung masuk ke kamar untuk tidur setelah pulang dari rumah sakit untuk menjenguk Sakura. Puteranya tidak bercerita apa pun mengenai keadaan Sakura, melainkan berkata, "Aku capek," dan pintu kamar tidak terbuka lagi sampai pagi hari.

Seandainya barusan Yoshino tidakmencoba masuk ke kamar anak tunggalnya, ia tidak akan bisa menemui Shikamaru sama sekali.

"Bukankah hari ini kau ada latihan drama?"

Yoshino bertanya, bingung.

"Malas."

Shikamaru menarik selimutnya hingga menutupi kepala, menguap.

Alis Yoshino bertautan menciptakan kerut di tengah-tengah.

"IBU NGGAK MEMBESARKANMU UNTUK JADI ANAK PEMALAS!" Detik berikutnya, pemuda Nara itu diseret keluar kamar dan digusur ke arah dapur untuk sarapan.

Shikamaru menatap selimutnya yang tertinggal di depan pintu kamar lalu mendesah pelan.

"Haaah, mendokusei."

.

.

.

Último Ano du Melodioso
mysticahime

2016

.

.

Season 1: Primo
Chapter 13

.

.

Haruno Sakura mendengus setelah menekan-nekan tombol di samping tempat tidurnya tanpa hasil. Sejak pertama kali menemukan sejumlah tombol, ia bertanya-tanya apakah semua tombol itu dapat berfungsi dengan baik. Masalahnya, rumah sakit tempatnya dirawat bukanlah rumah sakit tercanggih yang pernah dikenalnya—Rumah Sakit Universitas Tokyo mungkin dapat dikatakan sebagai salah satu dari sekian rumah sakit yang sudah berdiri sejak Jepang mulai berkembang pesat—dan keraguannya kali ini terbukti benar. Sudah sejak tadi ia memanggil suster dari kantor perawat untuk mengganti botol infusnya yang kosong, gadis itu merasa ngeri begitu menyadari ada cairan berwarna merah pekat mulai menaiki selai infus. Itu dar—

Tok, tok.

Ketukan di pintu membuatnya mendongak, alisnya berkerut memberikan seraut wajah curiga. Pasca kedatangan Hatake Kakashi dan Uchiha Sasuke semalam, ia jadi ekstra berhati-hati. Bukannya tidak mungkin Yamanaka Ino akan mencoba mencelakainya lagi, bila semua orang mengatakan demikian. Dengan kondisinya yang sedang tidak siap seperti ini, bukannya tidak mungkin Sakura akan mendapatkan akibat yang lebih buruk, kan?

Kekhawatirannya terhapus begitu melihat pintu terbuka—dan orang yang tidak disangka muncul di sana.

"Sakura? Bagaimana keadaanmu?"

Serta-merta, Sakura melonggarkan kepalan tangannya yang tanpa sengaja sudah mengerat sejak mendengar ketukan di pintu kamar rawat inapnya. Wajahnya pun berubah cerah ketika menyadari siapa yang baru saja masuk ke dalam kamarnya.

"Ibu!"

.

.

.

.

Ketika Haruno Mebuki mengetahui keadaan Sakura dua hari yang lalu, ia sama sekali tidak bisa berhenti memikirkan anak semata wayangnya. Bertahun-tahun lamanya mereka hanya memiliki satu sama lain untuk saling bergantung, selama ini ia tidak pernah berpikir Sakura akan mengalami kecelakaan saat ia tidak sedang berada di sana. Selama ini, Sakura baik-baik saja. Mebuki baru saja menyelesaikan meeting dengan beberapa klien yang menyebabkannya harus terbang ke Kyoto selama beberapa waktu saat menemukan sejumlah missed call di ponselnya. Namun, setelah wali kelas Sakura yang bernama Mitarashi Anko menjelaskan bagaimana keadaan puterinya, ia bisa menarik napas lega dan menitipkan anak gadisnya kepada wanita itu.

Sakura yang ada di depan matanya ini, yang dengan ringkas membereskan sejumlah perlengkapan yang akan dibawa pulang dengan sebelah tangan yang sehat, tidak terlihat depresi atau apa pun yang sempat terpikirkan olehnya.

"Ibu, kok melamun?"

Mebuki menoleh, menemukan Sakura menatapnya dengan bingung. Kegiatan mereka membereskan pakaian Sakura terhenti karenanya.

"Ibu tidak melamun," kepalanya digelengkan sebagai penegas. Ia melanjutkan melipat sehelai kemeja seragam sekolah yang tidak dapat dilipat oleh anaknya, kemudian memasukkannya ke dalam tas. "Kau sudah makan siang belum?"

Sakura menggelengkan kepalanya. "Ini baru jam sepuluh pagi, Bu. Kalau saja Ibu datang jam satu, aku pasti sudah kenyang," ujarnya sambil tertawa. Kemudian gadis itu bersuara 'ah' pelan tanda mengingat sesuatu. "Bu, tahu nggak, kemarin pelatih dramaku datang ke sini, menengok. Eeehh, tahunya ia makan semua jatah makan siangku! Keterlaluan nggak tuh, Bu? Masa tamu makan makanan pasien? Untungnya aku tidak terlalu lapar, jadi..."

Kalau sudah bercerita, Sakura terlihat sedemikian ekspresif. Mebuki tersenyum simpul saat melihat anaknya menceritakan bahwa si pelatih drama mencuekinya selama ia mengisahkan bagaimana ia dicelakai orang dan mulai melahap makanannya satu-persatu. "Jadi, siapa saja yang menjengukmu ke sini? Selain Mitarashi-sensei dan pelatih dramamu itu."

"Eh?" Sakura mengangkat alisnya tinggi-tinggi. "Oh! Kemarin sore, agak malaman begitu, Sasuke datang menjengukku. Dia bawa apel. Tapi Sasuke nggak menghabiskan makananku, kok. Malahan, Sasuke membantuku mengupas apel walau apelnya sempat hampir jatuh."

Sasuke? Mebuki belum pernah mendengar anak perempuannya bercerita mengenai seorang teman yang bernama Sasuke. Selama ini, Sakura selalu menyebut-nyebut soal Shikamaru dan Chouji, dua teman terdekatnya sejak awal semester musim semi. Ketika ia menanyakan soal Shikamaru dan Chouji, Sakura malah mengedikkan bahu.

"Mereka nggak datang, tuh." Bersamaan dengan itu, Sakura menutup risleting tasnya. "Selesai!"

Tumben sekali, pikir Mebuki sambil merapikan tempat tidur yang dipakai Sakura di rumah sakit. Tindakan yang sebenarnya tidak perlu, tetapi ia rasa sebaiknya ia tidak membiarkan seprainya kusut masai bekas ditiduri meski setelah ini akan diganti oleh set seprai yang baru. Ketidakhadiran Shikamaru dan Chouji justru merupakan tanda tanya—bagaimana mungkin ada laki-laki yang tidak setia kawan pada temannya yang baru saja mengalami kecelakaan?

"Bu, ayo pulang. Ibu sudah selesai membereskan administrasinya, kan?"

Mebuki mengangguk, menghentikan semua pemikirannya barusan. Dibalasnya senyuman Sakura dengan senyum lebar. "Bagaimana kalau sebelum pulang kita pergi makan pizza dulu? Jangan bilang kau sudah kenyang, Sakura."

Gadis berambut merah muda sebahu itu terkekeh. "Untuk pizza, selalu ada tempat!" ujarnya sambil menepuk-nepuk perut dengan tangannya yang sehat.

.

.

.

.

Sakura menepuk-nepuk dada untuk menenangkan jantungnya yang berdebar kencang. Baiklah. Oke. Seminggu sudah berlalu semenjak peristiwa naas itu terjadi—sekarang ia sungguh baik-baik saja. Betulan. Ia sudah jauh lebih baik—dan siap untuk menggunakan berjalan ke sekolah seperti biasanya. Kakinya sudah jauh lebih sehat, lebih enak untuk digerakkan sehingga ia tidak lagi memerlukan penopang untuk berjalan. Operasi minor untuk reposisi bahu kirinya tidak mengakibatkan efek apa pun, sementara lengannya yang retak... yah, tidak banyak yang bisa diperbuat. Untuk sementara, ia harus membiarkan support tercantel di bahu kanannya supaya lengan kanannya terfiksir.

Keberadaannya di sini sebenarnya menyalahi surat dokternya. Seharusnya ia berada di rumah, beristirahat untuk meminimalisir pergerakan dalam pengawasan penuh. Tulang yang retak tidak perlu gips atau apalah, tetapi sebaiknya mengamankan diri dari hal-hal yang tidak diinginkan, kan?

Masalahnya, ia perlu mengamankan hal lain. Mengamankan haknya, sehingga mau tak mau Sakura memaksa ibunya untuk membiarkannya bersekolah. Lagipula, ini hari Senin tepat tiga minggu sebelum pementasan diadakan—kalau keadaan memungkinkan, ia bisa merebut kembali apa yang seharusnya berada di tangannya.

Perannya!

"Oke, oke." Pembicaraan di telepon itu belum selesai. Sakura mengangguk pada Jiraiya, penjaga gerbang sekolah, sambil terus berbicara pada ponselnya. "Ibu tidak usah khawatir. Shikamaru dan Chouji paaaasti menjagaku. Tenang saja." Dua orang yang dimaksud memang berjalan di belakangnya, sengaja menjemput Sakura pagi-pagi benar supaya tidak perlu berdesakan di kereta. "Hu-uh. Daaaah."

Begitu Sakura selesai menyimpan ponsel dalam tasnya, Shikamaru menceletuk.

"Merepotkan sekali, kenapa harus ke sekolah hanya untuk minta Sensei mengembalikan peranmu?" Laki-laki itu tidak habis pikir mengapa orang sakit seperti Sakura mau mengorbankan jatah istirahatnya hanya untuk perkara tidak penting seperti ini. Shikamaru sendiri, kalau diizinkan, ingin ikut minta surat izin supaya tidak perlu ikut campur lagi dalam SMF yang ternyata lebih ribet daripada ujian akhir.

Chouji tidak berkomentar apa pun.

"Karena kita tahu siapa yang seharusnya mengalami kejadian begini." Sakura menjawab dengan enteng, melangkah lebar-lebar sampai kedua pemuda kesulitan menyejajarkan langkah mereka. "Sensei tidak bilang akan menjadikan Ino sebagai Belle sampai pementasan, bukan?"

Tidak ada satu orang pun yang menjawab pertanyaan Sakura sehingga gadis itu menoleh ke belakang dan menemukan Shikamaru dan Chouji saling berpandangan. "Hei, ada apa dengan tatapan itu?" Kedua anak laki-laki itu memang punya cara tersendiri untuk berkomunikasi satu sama lain tanpa diketahui olehnya.

"Bukan apa-apa," jawab Chouji cepat—terlalu cepat hingga Sakura menyipitkan kedua mata hijaunya. "Tapi, kurasa pertama-tama kau harus bertemu dengan Hatake-sensei terlebih dulu. Bagaimanapun juga, beliaulah yang akan menentukan siapa pemeran Belle setelah ini."

Untuk beberapa detik, Sakura mengatupkan bibirnya, mempertimbangkan usul Chouji. Benar juga, untuk apa ia mendatangi Ino dan mengomelinya—kalau perlu, menjambaknya—karena bukan Ino yang menentukan siapa-siapa yang dapat memperoleh peran di dalam drama musikal. Jauh lebih cepat bila ia menemukan Hatake Kakashi dan menyatakan bahwa ia masih sanggup menjalani drama musikal ini hingga tuntas. Tidak ada hal penting yang perlu dikhawatirkan mengenai kesehatannya; ibunya tidak memberikan larangan berarti seperti harus tinggal di tempat tidur sampai lengannya sembuh total.

"Baiklah," angguknya mantap. "Terima kasih sarannya, Chouji!"

"Anytime," jawab si pemuda sambil mengunyah roti isi kare-nya, tersenyum lebar walau sisa-sisa kunyahan roti masih menempel di sela-sela giginya. "Lebih baik be—hei, hei, mau ke mana kau?" serunya ketika Sakura mendadak berlari meninggalkan dirinya dan Shikamaru.

Gadis itu berbalik, mata hijaunya berkilat-kilat penuh tekad.

"Tentu saja ke auditorium," ujarnya sebelum kembali berlari menjauh meninggalkan dua orang laki-laki yang terbengong-bengong di tempatnya.

Shikamaru mengusap wajahnya dengan telapak tangan.

"Mendokusai…" dengusnya bosan.

.

.

.

.

"Hmm?"

Sakura tahu, ia tahu, bahwa mengajak Hatake Kakashi berbicara di awal latihan drama adalah suatu kesalahan besar. Hari ini, Hatake Kakashi berada dalam keadaan prima, berbalut setelan jas semiformal berwarna abu-abu dan celana dengan warna senada. Pria itu sedang menikmati sarapan paginya—setangkup toast dan kopi di gelas kertas yang dibuka penutupnya—saat Sakura mendatanginya dengan wajah datar untuk mengutarakan maksudnya.

"Kau yakin bisa menari dengan baik dalam keadaan seperti… itu?"

Ada nada ragu-ragu dalam setiap kata yang diucapkan Kakashi—Sakura bisa menangkap dengan jelas keengganan itu dari gesturnya. Setelah percakapan mereka di rumah sakit tempo hari, gadis itu mulai bisa membedakan Hatake Kakashi yang jujur dan Hatake Kakashi yang sedang memutar-mutarkan pembicaraan agar lawan bicaranya lengah. Saat ini, selain karena Sakura mengusik waktu sarapannya, ia juga masih berutang sesuatu pada gurunya—karena masih ada yang harus diselesaikan sebelum masalah peralihan peran ini berlangsung.

Tapi, karena saat ini Sakura benar-benar yakin akan terus menggenggam peran Belle sampai SMF selesai, ia mengangguk, kuat-kuat, supaya Kakashi menaruh kepercayaan kepadanya. Lengannya sudah bisa digerakkan walau masih agak kaku, dan kakinya sudah tidak sakit sama sekali. Hanya dalam waktu tiga hari, ia yakin bisa kembali mengejar ketertinggalannya dalam semua latihan yang dilewatkannya selama masa penyembuhan kemarin. Bisa ditebak, kedua mata Kakashi melebar karena merasa—sedikit—terkejut.

"Aku tidak meragukan kemampuanmu, Haruno." Dalam dua tegukan, Kakashi menyelesaikan kopinya, kemudian terfokus seutuhnya pada gadis di hadapannya yang tampak canggung. "Hanya saja, Yamanaka sudah berlatih selama seminggu lebih untuk menjadi Belle, dan dia—"

"Dia yang mencelakaiku demi peran itu, Sensei." Sakura bukannya lupa dengan analisis yang diberikan Kakashi saat mengunjunginya di rumah sakit. Sambil makan, gurunya itu terus mengungkapkan pemikiran yang membuat Sakura hanya bisa manggut-manggut karena tidak pernah terpikirkan olehnya mengenai hal tersebut. "Kalau ia melihatku baik-baik saja—"

"…bukannya dia akan mencelakaimu lagi?" Ucapannya dipotong oleh Kakashi, yang membuat Sakura tersentak.

"M-maksudnya?"

Pria berambut perak itu bersandar ke punggung kursi. "Yamanaka mencelakaimu karena ingin mengambil peran Belle—setelah melihatmu baik-baik saja sekarang, tidakkan ia akan berpikir untuk melakukan sesuatu yang lebih parah dari, mm, mendorongmu jatuh dari tangga?"

Rasa dingin merayap di tengkuk Sakura, membuatnya merinding. Ia sesungguhnya tidak percaya bahwa Ino-lah yang mencelakainya—terutama karena selama ini gadis Yamanaka itu berlaku baik kepadanya. Meskipun baru kenal, Ino selalu menyapanya dan membantunya di kelas remedial kimia. Apakah orang sebaik itu bisa melakukan hal-hal kejam terhadapnya?

"Sebenarnya," Sakura yang terlalu tenggelam dalam pemikirannya sendiri kembali mendongak, menemukan Kakashi sedang menatapnya sambil menahan senyum, "ada cara lain untuk mengembalikan peran itu kepadamu tanpa perlu repot-repot bicara dengan anak itu—juga meminimalkan risiko apa pun yang akan kau hadapi."

Mata Sakura membulat. "Apa itu?"

Kakashi bersedekap dalam posisi duduknya. Kedua kakinya kini menyilang. "Masih ingat pembicaraan kita soal klub drama?"

"Tentu saja." Mana mungkin ia melupakan pembicaraan seajaib itu. Mengobrol panjang-lebar dengan Hatake Kakashi adalah satu hal yang nyaris mustahil dilakukan olehnya, namun mereka bisa membicarakan banyak hal dalam waktu satu jam. Sakura selalu mengingat hal-hal kecil yang terjadi di sekitarnya, jadi mana mungkin ia bisa lupa akan kejadian langka seperti itu. "Aku belum sempat memikirkannya—mengenai penawaran itu, jadi…"

"Kalau Yamanaka bukan anggota klub drama, ia tidak akan bisa berbuat apa-apa terhadap musikal ini."

Tepat saat itu, Shizune baru saja memasuki auditorium sambil membawa setumpuk map dalam pelukannya. Tatapannya tertuju kepada Kakashi dan Sakura yang sedang berbincang di bagian depan auditorium.

"Sepertinya latihan akan dimulai sebentar lagi," usai melirik ke arah rekan kerjanya, Kakashi membereskan sisa sarapannya dengan cepat. "Kau boleh ikut pemanasan, tapi jangan ikut latihan peran selama pembicaraan ini belum selesai. Nanti, kita akan mengobrol lagi."

Nada tegas dalam kalimatnya menyatakan bahwa untuk sekarang tidak ada yang perlu dibahas lagi.

Sakura menelan kekecewaannya, kemudian berjalan menjauhi Kakashi untuk menghampiri teman-temannya yang lain sebelum Shizune mengomel.

.

.

.

.

Sasuke baru mendengar cerita Sakura saat istirahat makan siang berlangsung. Saat itu, mereka berdua baru saja mengantri makan siang mereka di kafetaria yang cukup kosong. Selain yang mengikuti Summer Music Festival, tidak ada lagi anak-anak yang mengikuti kegiatan klub selama musim panas di sekolah. Klub sepak bola mengikuti kamp pelatihan di Chiba, sedangkan sebagian besar anggota klub basket mengikuti pelatihan di klub luar sekolah masing-masing—mereka mengincar rekomendasi untuk beasiswa setelah lulus kelas tiga meski itu masih sangat lama.

"Pantas kau tidak ikut latihan barusan." Diambilkannya air mineral untuk Sakura karena gadis itu sudah cukup kepayahan membawa nampan makan siangnya dengan satu tangan. Sakura bergumam pelan untuk berterima kasih.

"Aku benar-benar tidak bisa menerka apa isi pikiran Sensei," ujar Sakura dongkol. Support di kakinya membuat jalannya lebih lambat dari biasanya, namun secara keseluruhan ia sudah merasa lebih sehat dibandingkan yang sebelum-sebelumnya. "Sensei bilang akan membentuk klub drama agar Yamanaka Ino tidak bisa macam-macam lagi terhadap pementasan yang ini. Maksudku, aku tidak mengerti apa hubungannya klub drama dan SMF." Seusai berkata begitu, Sakura menempatkan dirinya di salah satu meja yang tidak jauh dari jalur pengantrian makanan. Selama ini, Sakura selalu berusaha menempati meja terjauh dari bagian makanan, selain karena tidak suka ditatap oleh orang-orang yang mengantri, berada di sana juga membuat rambut dan pakaiannya berbau makanan. Nilai plus lainnya dari meja terjauh adalah di dekat sana ada vending machine kesukaannya, Chouji, dan Shikamaru.

Dua anak itu, Chouji dan Shikamaru, malah tidak tahu pergi ke mana setelah jam makan siang dimulai.

Sasuke mengambil tempat di seberang Sakura, sibuk menata makanannya sendiri sampai tidak menanggapi perkataan gadis berambut merah jambu itu. Kebiasaannya sejak kecil, ia harus mencampurkan sayur-sayuran dengan nasi, kemudian memisahkan daging hingga ke paling tepi. Sasuke baru menyadari Sakura sedang menonton kegiatannya ketika suara yang berceloteh itu menghilang setelah beberapa waktu.

"Lanjutkan saja." Berkata demikian, pemuda Uchiha membersihkan sisa makanan yang berceceran di tepi piring dengan sendok, menyeretnya kembali ke tengah. "Kudengarkan."

Namun, Sakura tidak lanjut membahas topik itu, melainkan mengganti subjek pembicaraan.

"Aku baru tahu caramu makan seperti itu." Telunjuknya mengarah pada nasi campur yang sudah disiapkan Sasuke dan menunggu disantap. "Saat makan gyoza waktu itu tidak terlihat, sih." Kemudian gadis itu tertawa. "Apa para penggemarmu tahu soal cara makan Uchiha Sasuke yang ini?"

Sasuke mendengus. "Aku tidak peduli."

Sakura tertawa lagi. "Aku peduli. Kau tidak menutupi kebiasaanmu saat makan bersamaku. Artinya kita 'teman', bukan?"

Saat itu, Sasuke berpikir bahwa satu-satunya anak perempuan yang tidak heboh atau membentuk kepribadian yang berbeda ketika bersama dengannya adalah Sakura ini. Ceplas-ceplos berbicara, menggerutu seperti anak kecil, mengomentari gaya makan Sasuke, plus meledeknya soal para penggemar dengan begitu santai.

Dan Sasuke, di luar kesadarannya, tersenyum untuk menimpali tawa Sakura.

.

.

.

.

Yamanaka Ino keluar dari ruang guru dengan wajah lesu. Koridor yang kosong menjadi salah satu keberuntungannya hari ini, ia tidak perlu berhadapan dengan orang-orang penuh rasa sok ingin tahu—tentu saja, setiap siswa akan berusaha mengorek informasi bila tahu ada teman sekelasnya yang baru saja muncul di ambang pintu neraka. Di sisi lain, ia merasa keramaian akan menyembunyikannya, membuatnya menyortir pikiran-pikiran yang meresahkan, membuatnya lupa untuk sementara akan masalah yang dihadapi.

Entah bagaimana awal mulanya, Hatake Kakashi mengundangnya ke ruang guru untuk bicara empat mata saat jam istirahat. Berdua saja, dengan guru itu, selalu membuat Ino merasa merinding. Kakashi sangat pintar bicara dan memojokkan, dan ada satu hal lagi yang tidak akan pernah ia akui mengenai Hatake Kakashi: tatapan gurunya itu menyeramkan. Kakashi tidak memiliki jenis tatapan mesum atau killer yang banyak ditakuti murid perempuan, namun Ino tahu sekali sepasang mata yang berbeda warna itu mengawasi gerak-geriknya. Membaca. Menyelidik. Yamanaka Ino harus mati-matian menjaga ekspresi wajahnya agar terlihat lugu dan tidak tahu apa-apa selama bicara tadi. Menyembunyikan ketakutan bukanlah hal yang sulit, namun mengingat siapa yang dihadapi, ia tidak bisa salah langkah.

Ketika akhirnya keluar, belenggu-belenggu yang memberatkan kedua pundaknya seolah jatuh menimpa tanah. Dua tangannya masih gemetar, dirasakannya saat mengusap wajah yang terasa kaku dan kering.

Pembicaraan mereka tidak istimewa. Kakashi hanya membahas performa Ino selama latihan satu minggu ini, mengkritik di banyak bagian, kemudian berakhir pada ia harus berjuang lebih keras atau Kakashi akan mengembalikannya menjadi The Bimbettes. Dan,

"Aku yakin kau cukup bijaksana dalam mengatur langkah mempertahankan Belle-mu, Yamanaka."

Ino merasa bulu kuduknya meremang saat mendengar ucapan bernada manis yang disertai mata tersenyum membentuk tiga garis di bagian ekornya.

Tidak salah lagi, ia menggeram dalam hati, Kakashi sudah tahu semuanya. Insiden paku payung itu, pendorongan dari puncak tangga, dan kunjungannya ke rumah sakit waktu itu. Entah bagaimana, semuanya bisa disingkap dengan mudah oleh Hatake Kakashi. Tangan Ino yang gemetar mengepal, berusaha menghangatkan buku-buku jarinya yang dingin. Kakashi sudah tahu perbuatannya namun tidak menjatuhkan sanksi apa pun.

Maka, Ino memutuskan, sebelum kabar burung merebak di sekolah, ia harus menginisiasi langkah.

Ia harus membuat Sakura tidak memusuhinya.

Satu sisi otaknya yang logis menjerit: Sakura tidak akan memaafkanmu! Kalau Sakura tahu bahwa ialah yang menjadi pelaku kejahatan selama beberapa waktu terakhir, ia tahu Sakura akan langsung menjauhinya—dan kemungkinan seluruh partisipan pagelaran musikal akan berbaris di belakang Sakura. Minta maaf sambil menangis tidak akan banyak mengubah, kalau begitu ia harus melupakan rencana yang itu. Pendekatan seperti biasanya, ditambah memperlihatkan dirinya sendiri sebagai orang yang tersiksa karena keadaan Sakura, mungkin akan lebih baik. Mungkin bisa dimulai dari menceritakan bahwa perannya akan dicopo—

Ino mengembalikan pandangannya ke garis horizon ketika mendengar suara langkah menggema di koridor. Ia tidak tahu siapa yang cerdik menempatkan ruang guru di jalur menuju kafetaria sehingga bisa memantau siswa yang mencuri-curi waktu belajar dengan mampir ke kafetaria, tetapi saat ini Yamanaka Ino tidak membenci pencetus ide tersebut. Di sinilah, ia bisa langsung bertemu orang yang dicarinya tanpa banyak membuang waktu.

Haruno Sakura. Dan—oh, Uchiha Sasuke.

Nyaris, ia menggertakkan gigi, namun karena kebetulan Sakura melihat ke arahnya, Ino mengubah ekspresinya menjadi bersalut keterkejutan. Sebagai kekagetan karena menemukan Sakura setelah sekian lama tidak bertemu, kira-kira begitu.

Tangannya diangkat, melambai sedikit.

"Sakura! Senang melihatmu, kukira kau akan—"

Sapaan riang itu berhenti ketika Sakura berjalan melewatinya begitu saja, seolah tidak melihat ada sosok Yamanaka Ino berdiri di tengah koridor dan baru saja menyapanya. Tidak. Sakura tidak sedang sibuk mengobrol dengan Sasuke atau sedang membaca sesuatu sampai melewatkan teguran Ino. Jelas-jelas, gadis itu mengabaikannya. Membiarkan Ino berdiri canggung sambil melongo. Tak sedikit pun gadis berambut merah muda itu menoleh ke adanya.

Sakura mengabaikannya!

Kali ini, telapak tangan Ino tertusuk oleh kuku-kukunya saking kuat ia mengepalkan jari-jemari.

Apakah itu berarti… Sakura sudah tahu segalanya?

Asam lambung Ino seolah naik dan membasahi bagian belakang lidahnya. O-oh, ini keadaan yang sangat buruk. Dalam skenario buatannya, tidak ada bagian Sakura mengetahui semua jejak kejahatannya.

.

.

.

.

"Kau tadi lihat wajah Ino, Sasuke?"

"Hn? Hn…"

"Itu ekspresi yang sangat bagus, bukan?"

"Hn…"

"Aku ingin tahu setelah ini rencananya apa."

Sasuke mengedikkan bahu. "Aku tidak mengerti kenapa perempuan selalu saling membalas dendam. Cukup tonjok dia saja satu kali, lalu semuanya impas."

Sakura mengernyitkan kedua alisnya.

"Lalu, sekarang apa rencanamu?" tanya Sasuke saat perjalanan mereka berakhir di depan pintu auditorium. Jam latihan sudah lama dimulai kembali, namun keduanya mengulur waktu agak lama sehingga baru kembali jauh melewati batas waktu yang dijanjikan.

"Apa lagi selain lanjut mengobrol dengan Sensei," dengus Sakura sambil membuka pintu auditorium. "Nanti akan kuceritakan detilnya padamu. Sekarang, ikutlah latihan supaya Ino tidak curiga pada kita berdua. Siapa yang bilang aku akan membalas dendam padanya? Yang kulakukan padanya ini tidak sejahat membuat lengan orang lain retak, tahu."

.

.

.

.

"Hmmmm…"

Kakashi memutar-mutar penanya. Pena itu adalah pena mahal pemberian salah satu alumnus yang disayangkan Kakashi karena tidak mau melanjutkan ke sekolah khusus seniman. Pada salah satu bagian pena itu terukir nama Hatake Kakashi dengan huruf latin berjenis Script dari warna emas. Konon, terbit legenda di antara para siswa bahwa Kakashi hanya mengeluarkan pena itu di saat-saat penting.

"Hmmmm…"

Di hadapannya, Sakura berwajah serius—atau kelihatannya seperti itu. Ia kelihatan tegang menunggu keputusan Kakashi, namun sebenarnya ia hanya tegang karena melihat pena legendaris itu keluar. Pembicaraan yang melibatkan keduanya hanyalah mendiskusikan klub drama yang masih berada dalam tahap wacana; jadi kenapa pena itu sampai keluar dan diputar-putar?

"Hmmmm…"

Sekali lagi Kakashi bergumam, namun kali ini nadanya agak terangkat sedikit, lebih terdengar seperti 'hmmmm…?' sehingga Sakura berdecak.

"Keputusannya apa, Sensei?" sergahnya tidak sabar. "Apakah Sensei tidak setuju kalau formatur timnya seperti itu?" Ia tidak akan maju menghadapi Hatake Kakashi yang menyeramkan dan pandai bersilat lidah kalau tidak punya rencana. Sesiangan tadi, bersama Sasuke, ia sudah menyiapkan deretan nama tim formatur untuk klub drama—belum ada kesepakatan apakah klub itu akan benar-benar dibentuk, namun ia lebih memilih untuk mengambil ancang-ancang sebelum Kakashi menjegalnya.

"Kau sendiri, Juugo, dan Karin—tiga orang apa tidak terlalu sedikit?"

Wajah Sakura memerah sedikit. "Well, aku tidak bisa menemukan orang lain yang kira-kira mau ikut. Sasuke sepertinya tidak berminat." Jelas, orang pertama yang ditawarinya saat menyusun daftar nama adalah Sasuke, tetapi pemuda itu menggeleng dan menolak namanya dicantumkan di sana.

"Aku sudah bergabung dengan basket," begitu alasannya sewaktu Sakura bertanya kenapa. Sakura sendiri masih heran. Setahunya, Sasuke sangat pandai berakting dan menyanyi. Sakura tidak tahu alasan di balik penolakan itu, juga tidak tahu alasan Sasuke nyaris mengundurkan diri. Selama tidak ada yang diceritakan, ia merasa tidak berhak bertanya.

Kakashi mengedikkan bahu.

"Sensei… sebenarnya aku merasa cara ini sedikit curang…" Ragu, itu yang dirasakannya saat ini. Kendati sudah hampir mencapai titik final—Kakashi pasti setuju, p-a-s-t-i!—tetap saja Sakura merasa tidak tenang. Apa yang dirundingkannya bersama sang guru akan membuat gadis itu tidak bisa mengganggu keberlangsungan drama musikal mereka, tapi… apakah itu cara yang benar?

Tatapan sepasang mata yang berbeda warna itu membuat Sakura berjengit.

"Katakan padaku," postur Kakashi menegak, "…bagaimana caranya membuat seorang licik menyerah bila kita tidak mempersiapkan taktik?"

Sakura menelan ludah. Selama ini ia tidak pernah berniat untuk mencurangi sistem apa pun—hanya kali ini saja, kenapa rasanya begitu mengerikan?

Terlebih lagi, di antara mereka berdua terdapat sebuah kertas HVS yang sudah selesai ditulisi oleh Kakashi. Apabila stempel bertinta biru sudah dicapkan ke atasnya, maka pengumuman ini akan bersifat resmi. Mereka hanya tinggal menyepakati keputusan akhirnya.

"Jadi, ya atau tidak, Haruno?"

Ini bukan curang, …kan?

Kedua matanya dipejamkan sejenak, berusaha memikirkan sebisa mungkin mengenai sisi positif dan negatifnya. Ini adalah awal mula pertaruhan. Antara dirinya dan Kakashi. SMF ikut dipertaruhkan di sini—mereka tidak tahu siapa yang akan menang sekarang.

"Ya."

Stempel dihunjamkan, kini menyisakan jejak tinta biru di atas tanda tangan Hatake Kakashi.

"Sekarang, pengumumannya bisa kita tempelkan." Kakashi beranjak dari tempat duduknya, menyisakan Sakura yang masih meringis di kursinya sendiri.

Sejak tadi, keduanya berbincang di bagian belakang auditorium, berharap tidak ada peserta yang mencuri dengar obrolan kritis ini. Suara-suara riuh-rendah yang semula terdengar selama latihan berlangsung surut seketika. Sakura mengintip dari tempat duduknya dan melihat Kakashi menempelkan pengumuman itu di sebelah panggung. Puluhan anak langsung menyemut untuk membaca—tidak halnya dengan Sakura yang sudah tahu apa isi pengumuman tersebut.

Yang didengarnya hanyalah suara-suara keterkejutan.

Awal yang baik, benarkah begitu?

.

.

.

.

Dengan ini, disahkan:

KLUB DRAMA KONOHA HIGH

Formatur:
Haruno Sakura
Juugo
Akagami Karin

Dengan terbentuknya klub drama ini, maka pada setiap drama/musikal hanya diperbolehkan anggota klub drama untuk menjadi pemeran utama.

Disahkan 17 Juli 20xx
Pembina,

H. Kakashi

.

.

.

.

ABA: waduhek did I write? *headdesk* *lol*

Eh, hai…? Setahun lebih rasanya, hehehehehe. Iya, setahun lebih 28 hari kalau gak salah hitung. Itu tanggal yang di atas itu awal saya ngetik chapter ini, sengaja gak dihapus supaya kalian tahu betapa lamanya frekuensi saya apdet sekarang #dor

I was terribly depressed; antara koas dan nulis itu susah akur banget jadwalnya. Saya bener-bener sakaw pengen nulis, but even RP couldn't help me much. Saya makin uring-uringan dan tulisan saya makin kacau, hehe *grin*

Chapter ini, anyway, di luar dugaan, sangat susah ditulis. Kenapa ya... rasanya nulis kemarahan Sakura dan penyusunan rencananya ini agak mengerikan, tapi karena akhirnya selesai juga, saya publish dulu aja deh. Lumayan buat ngobatin kangennya kalian *kepedean* Mungkin lain kali kalo ada waktu (dan ide) yang lebih oke, chapter ini bakalan diedit supaya gak kaku banget…

Thanks banget untuk semua yang masih nyempetin review meski ini udah lama banget ya chapter sebelomnya nongol. Pembaca setia, wuff you, lah! *pede gile* Percaya atau gak, salah satu alesan aku masih nulis adalah karena kalian masih nyemangatin aku!

Jangan takut di-PHP lagi, ya. Abis ini koas aku masuk bagian yang rada santai. Yah masih harus belajar sih, tapi jauh lebih menyenangkan daripada kemaren-kemaren. Apa tuh dua mayor non stop jaga malam?! Kzl. Pengen bikin janji sih: apdet seminggu sekali. Masih dalam perencanaan, semoga bisa terealisasikan, ya? Tapi kayaknya ga akan panjang-panjang banget sekali apdet. Bisa tepar gueeeeeee :(

Sip deh. Review? SAY YOU MISS ME! *metaaallll* \m/

Me ke aloha,
mysticahime
06062016 #EAAAAAAA