A/N: Halo! Ini karya pertama saya yang berbahasa
Indonesia, jadi saya mohon saran, masukan, dan
komentar anda tentang cerita ini!
Disclaimer: Karakter-karakter dari The Penguins of
Madagascar bukan milik saya, melainkan milik
Nickelodeon dan DreamWorks. Lagu yang saya pakai
berjudul 'Bukan Cinta Biasa' dan bukan milik saya juga,
melainkan dipopulerkan dan dimiliki oleh Afgan.
Silahkan membaca...

-An Expression of Love-
"Baiklah, anak-anak. Ada yang ingin ku beritahu." kata
Skipper, yang sedang berdiri di hadapan timnya.
"apa itu, Skipper?" tanya Private.
Skipper mendesah. "mungkin kalian sudah menyadari ini.
Aku sering berlaku lebih lembut terhadap Marlene."
katanya.
"ya... Aku pikir itu karena dia seorang wanita." kata
Kowalski.
"itu salah satu alasannya. Tapi ada satu alasan lagi."
kata Skipper dengan gugup.
"katakan saja, Skipper. Mungkin ada yang bisa kami
bantu?" kata Private.
"aku... Aku menyukainya." kata Skipper.
Rico menjerit - bukan menjerit sih, tepatnya
bersendawa khas psikopatnya Rico.
"aku tahu kau punya pandangan yang sensitif tentang
cinta, Rico. Tapi kau juga harus tahu." kata Skipper.
"ta-tapi, bagaimana dengan Kitka dan Lola?" tanya
Kowalski.
"Kitka... Dia bukan untukku. Dia telah memangsa Erik,
walau sebenarnya aku tidak keberatan untuk itu. Dan
Lola, lupakan dia. Dia hanya sebuah boneka, dan ada
sesuatu yang tak mau kubicarakan tentang dia." kata
Skipper.
"baiklah..." kata Kowalski.
"kenapa tidak memberitahu kami lebih awal?" tanya
Private.
"pertama, kau masih terlalu muda untuk hal semacam
ini, Private. Kedua-"
"17 tahun! Aku sudah berumur 17 tahun dan dianggap
masih muda?"
"ya, jika dibandingkan dengan aku yang 30 tahun,
Kowalski yang 29 tahun, dan Rico 28 tahun."
"TUA!" kata Rico.
"oh, ya... Kau benar." kata Private, setengah kecewa.
"baik, kembali ke permasalahan." kata Skipper. "
sebelumnya aku mau bertanya, apakah ada yang
keberatan bila aku berhubungan dengan Marlene?"
"tentu tidak." kata Kowalski.
"tidak sama sekali." kata Private.
Rico menggeleng. "uh-uh."
Skipper tersenyum. "terima kasih, anak-anak."
Skipper berdeham dan melanjutkan kata-katanya. "
sekarang aku butuh bantuan kalian. Aku ingin
memberitahu Marlene bahwa... aku mencintainya. Tapi
bagaimana caranya?"
"memberikan bunga?" usul Kowalski, membaca papan
kerjanya.
"tidak, itu terlalu sederhana."
"cincin?"
"itu hanya bila kami akan menikah." kata Skipper,
mukanya memerah.
"membacakan puisi?"
"bukan gayaku."
"menyanyikan lagu?"
"YA!" seru Private tiba-tiba. "kau bisa menyanyi
untuknya! Di malam hari, seperti sebuah serenade!"
"entahlah, Private. Aku-"
"kami akan membantu!"
Skipper tersenyum. Timnya benar-benar pengertian.
"baiklah. Kerja bagus anak-anak!" seru Skipper.
Mereka melakukan tos, dan Rico memuntahkan dinamit.
"er... Tidak Rico, kali ini tidak pakai dinamit." kata
Skipper.

"aku tidak tahu, Private. Tapi..."
"ayo! Putrimu sudah di depan mata!"
Mereka berempat berada di depan habitat Marlene.
Bulan purnama bersinar dengan terang. Skipper
membawa sebuah gitar.
Skipper berdeham dan mulai memainkan gitarnya dan
bernyanyi.

Marlene sedang duduk di pinggir tempat tidurnya.
Tangannya memegang foto Skipper yang disimpannya
secara diam-diam.
"aku menyukaimu, Skipper... Tapi, apakah kau juga
menyukaiku?" bisiknya, sambil menatap foto itu.
Tiba-tiba terdengar nyanyian seseorang dari luar guanya.
Suara yang selalu dirindukannya.

"kali ini kusadari
aku telah jatuh cinta
dari hatiku terdalam
sungguh aku cinta padamu..."

Marlene berlari keluar. Hal pertama yang dilihatnya
adalah Skipper, sedang bernyanyi dan memainkan gitar.

"cintaku bukanlah cinta biasa
jika kamu yang memiliki
dan kamu yang temani ku
seumur hidupku"

Marlene takjub melihatnya. Orang yang dicintainya
menyanyi untuknya?

"terimalah pengakuanku
percayalah kepadaku
semua ini kulakukan
karna kamu memang untuk ku"

Marlene ikut bernyanyi dengan Skipper.

"cintaku bukanlah cinta biasa
jika kamu yang menemani
dan kamu yang temani ku
seumur hidupku
terimalah pengakuanku..."

Lagu selesai dan Marlene langsung memeluk Skipper.
"Skipper! Ini salah satu hal terindah dalam hidupku! Dan, kau bisa bermain gitar?" kata Marlene.
"ya, seseorang memaksaku untuk mempelajarinya." canda Skipper. "Marlene, aku ingin memberitahumu sesuatu." katanya lagi, dengan lebih serius.
"ya...?"
"aku menyukaimu, Marlene. Aku mencintaimu." kata Skipper, wajahnya memerah.
"aku juga, Skipper! Aku mencintaimu!" kata Marlene.
Skipper menatap Marlene. Mata biru esnya bertemu mata coklat Marlene. Dan mereka berciuman. Agak sulit sih, dengan yang satu memiliki paruh dan yang satu merupakan mulut. Tapi itu tidak masalah. Hal itu tetap menjadi pengalaman terbaik mereka, dan mereka menikmatinya.
Kowalski, Private, dan Rico meluncur pulang ke habitat mereka, meninggalkan pasangan baru tersebut dengan urusan mereka.

THE END