Hallow..^^

Jumpa lagi dengan Aoi disini, yei^^

Gimana kabarnya? Semoga sehat selalu ya^^

Aoi juga sehat kok *plak, ga nanya*

Ohya, Aoi bikin fict baru lagi nih, tapi masih tetep NaruHina!

Dibaca yah, semoga terhibur.^^

.

.

All characters cretaed and belongs to Masashi Kishimoto

Storyline by Aojiru

Warning: AU, and a little bit OOC

Summary: saat itu Naruto dan Hinata tengah dalam perjalanan pulang dari sekolah, ditengah perjalanan mereka ditawari untuk mencoba sebuah permainan model VR (Virtual Reality) yang baru saja selesai di buat, mereka pikir semuanya akan baik-baik saja, tapi ternyata dugaan mereka itu salah...

Aojiru mempersembahkan...

.

.

.

SOUL EXCHANGED

.

.

.

TENG TONG TENG TONG

Bunyi bel tanda berakhirnya jam pelajaran di sebuah sekolah swasta bernama Konoha Gakuen menggema diantara panasnya sore kala itu. Bunyinya yang terdengar cukup kencang itu, mampu untuk mengusir sekawanan burung yang tengah hinggap diantara rimbunnya pepohonan besar yang tumbuh dan tertata rapih di halaman depan sekolah tersebut.

Tak lama berselang, para siswa bergerak bergerumul menuju pintu gerbang dan meninggalkan sekolah setelah hampir setengah hari mereka berada didalamnya demi mengikuti pelajaran yang diberikan oleh para guru-guru disana.

Suasana terlihat begitu ceria, sesekali terdengar gelak tawa riang diantara kerumunan itu, walaupun setelah menerima pelajaran yang tentunya sangat menguras otak mereka, namun ternyata semangat pada diri mereka belumlah luntur sepenuhnya, bahkan mereka terlihat lebih bersemangat daripada ketika mereka sedang berada didalam kelas dan menerima pelajaran dari bapak ibu guru disana. Wajar saja, sebab kebanyakan dari mereka pasti menganggap bahwa belajar adalah sesuatu yang amat membosankan.

Lambat laun hiruk pikuk siang itu mulai hilang sedikit demi sedikit ditelan oleh kesunyian, hanya berselang beberapa menit saja sampai kekosongan kembali melanda lingkungan sekolah tersebut, lorong-lorong kelas nampak sepi tak bertuan, memberi isyarat bahwa tidak ada tanda kehidupan yang tersisa disana, hanya sesekali semilir angin yang berhembus menghasilkan sebuah bunyi yang terdengar halus di telinga.

Namun sebuah suara yang datangnya dari salah satu kelas di sekolah itu berhasil menggaduhkan suasana saat itu. Decitan halus antara kaki-kaki meja dan kursi yang bergesekan dengan lantai menghasilkan bunyi baru yang ikut mengisi keheningan selain semilirnya hembusan sang angin.

Nampaklah dua orang siswa berbeda gender tengah sibuk merapikan ruang kelas yang belum lama tadi ditinggalkan oleh para penghuninya.

Siswa pertama adalah seorang laki-laki energetik yang memiliki rambut kuning mengkilap dan ciri khas mata biru saphirnya yang seindah langit cerah, laki-laki periang yang selalu penuh dengan semangat ini memiliki tiga goresan yang seperti kumis yang terdapat di tiap-tiap sisi di kedua pipinya, membuatnya sangat mudah untuk dikenali, cukup populer dikalangan laki-laki karena selalu bikin ulah dan bertingkah konyol di dalam kelas.

Walaupun begitu, bukan berarti dia tidak populer dikalangan siswi perempuan. Banyak juga siswi yang menilai laki-laki ini memiliki paras yang cukup tampan, namun sayangnya laki-laki ini terlalu bodoh unuk memahami roman percintaan, ditambah lagi dengan sifatnya yang kurang peka terhadap perasaan perempuan, membuatnya tak pernah sekalipun merasakan sesuatu yang namanya pacaran sampai saat ini, tapi kelihatannya dia memang juga tidak terlau ambil pusing akan hal itu, mungkin dia adalah tipe orang yang menganut paham 'Anywhere The Wind Blows'. Dan nama laki-laki itu adalah Uzumaki Naruto.

Satu lagi adalah seorang siswi bernama Hyuuga Hinata. Kalau Naruto adalah sosok yang periang, maka gadis ini adalah kebalikannya, gadis ini benar-benar gadis yang pemalu diantara gadis pemalu, begitulah ia dikenal diantara para teman sejawatnya, setiap kali ia berbicara dengan laki-laki, sontak rona diwajahnya berubah warna menjadi merah semerah bunga mawar.

Sama seperti Naruto, gadis ini juga belum pernah sekalipun merasakan apa yang namanya pacaran. Padahal dengan paras wajahnya yang Innocent itu, juga sifatnya yang lugu serta polos yang mampu membuat setiap lelaki yang melihatnya menjadi bertekuk lutut mabuk kepayang dengan hidung berlumuran darah, dia mampu menaklukkan dan memiliki lelaki manapun yang ia sukai, apalagi kalau ditambah dengan bola mata lavendernya yang unik serta sentuhan lembut rambut panjangnya yang dijamin pasti akan membuat para lelaki tidak bisa tidur tujuh hari tujuh malam karena terus-terusan memikirkannya.

Banyak yang menyayangkan perihal kesendiriannya itu, namun tak ada yang berani, atau mungkin lebih tepatnya tak ada yang mampu untuk mengungkap lebih jauh alasan mengapa ia lebih memilih sendiri, karena memang kepribadiannya yang benar-benar sulit untuk didekati itu, pernah ada kabar angin yang mengatakan bahwa dia sudah memiliki seseorang di hatinya namun laki-laki itu menolaknya sehingga ia lebih memilih untuk terus mencintai laki-laki itu secara sepihak, atau alasan ia memilih sendiri karena ia sangat benci terhadap laki-laki, juga kabar-kabar angin lainnya yang tak pernah bisa dibuktikan kebenarannya, kabar-kabar angin itu pun hanya datang dan berlalu begitu saja tanpa pernah mencuat kepermukaan.

Dan kini dua orang dengan sifat yang bertolak belakang itu tengah berada dalam satu ruangan yang sama. Tak bisa di bayangkan apa yang akan terjadi disana. Walaupun memang suasana di dalam kelas itu terdengar ramai, tapi ramainya kelas itu bukan karena percakapan diantara mereka berdua, melainkan hanya karena decitan kursi dan meja yang sejak tadi sedang mereka geser kesana kemari untuk membersihkan seisi kelas.

Maklum, mereka berdua kebagian jatah piket hari ini, walapun sebetulnya masih ada dua orang lagi yang bertugas sama seperti mereka, namun hari ini kedua orang itu yaitu Sasuke dan Sakura tidak masuk secara bersamaan, juga tanpa alasan yang jelas pula, benar-benar suatu kebetulan yang aneh yang membuat mereka terjebak dalam suasana yang kaku nan dingin seperti ini dan membuat pekerjaan mereka yang seharusnya bisa selesai lebih cepat jadi bertambah lama.

Dan itulah alasan mengapa mereka berdua masih berada di dalam sekolah sampai saat ini.

_-0-_

"A- anu Hinata, bisa pinjam sapunya sebentar..." ujar Naruto mencoba memecah keheningan.

"I- i- iya.. ini.." ujar Hinata sambil memberikan sapu yang diminta oleh Naruto. Setelah itu ia kembali menjaga jarak dan beralih membersihkan kaca jendela yang letaknya berlawanan dengan tempat Naruto berdiri.

Naruto hanya memandang punggung Hinata yang sedang membelakanginya sambil terus menggerakan sapu di tangannya. Ia kembali memutar otaknya, mencoba mencari alasan lain lagi untuk mencairkan suasana membeku ini, tapi sudah tak ada cara lagi yang dapat ia pikirkan, semua rencana yang ia punya sudah ia pakai sejak tadi, namun kebekuan ini belum mencair sedikitpun.

Saat keringatnya mengalir deras di keningnya karena terlalu lelah memikirkan rencana berikutnya, Hinata mengagetkannya dengan menyapanya lebih dulu.

"A- a- anu... Na- Naruto.."

"I- i- ini... Hinata menyapaku... apa aku tidak salah dengar..." ujar batinnya.

"Ya.. ada apa Hinata..." uja Naruto penuh senyum.

"Itu.. a- aku sudah selesai dengan pekerjaanku.. ja- jadi.. a- aku pulang duluan ya..."

"Ehh! Kenapa malah jadi begini..."

Hinata membungkukkan badannya, dan tanpa berkata apa-apa lagi ia berbalik pergi meninggalkan Naruto. Saat ia sudah tiba di penghujung kelas, Naruto memanggilnya.

"Tu- tunggu dulu Hinata.."

Hinata menghentikan langkahnya dengan sedikit terkejut, kemudian ia kembali berbalik kehadapan Naruto yang tadi memanggilnya, tanpa berani menatap wajah Naruto, Hinata berujar perlahan.

"A- ada apa N- Naruto..."

"A- anu.. begini.." ujar Naruto ragu-ragu. Hal itu membuat Hinata melirikkan matanya sesekali kehadapan Naruto.

"A- apa kau marah padaku..." ujar Naruto melanjutkan kalimatnya.

"Eehh!" Hinata terkejut mendengar pertanyaan itu, dan keterkejutannya itu tanpa sengaja membuatnya menatap langsung pada mata biru saphire milik Naruto yang terang benderang, sesaat ia merasa seperti terhipnotis oleh mata itu, namun buru-buru ia mengalihkan pandangannya ke arah lain agar tidak terperosok lebih jauh.

"Ke- kenapa a- aku harus marah pada Naruto.. a- aku tidak marah kok.." jelas Hinata menjawab pertanyaan Naruto sebelumnya.

Naruto balas bertanya kembali dengan tatapan penasaran. "Sungguh?"

"I- iya.. sungguh..." balas Hinata sambil menunduk mencoba untuk menyembunyikan rona merah diwajahnya.

Naruto lalu menghela nafas panjangnya. "Hahhh.. syukurlah, kupikir kau marah padaku.." ujarnya lega.

Hinata mulai memainkan jari jemarinya, masih dengan rona merah yang terukir jelas di kedua pipinya. "A- anu.. ke- kenapa Naruto berpikir seperti itu.."

"Habi~s, sejak tadi kalau kau ku ajak bicara kau hanya menjawabnya seperlunya dan setelah itu kau bersikap seolah seperti menjauhiku, selalu membelakangiku.. kau juga tidak pernah menatapku saat berbicara denganku..." ujarnya.

"Ti- tidak kok, a- aku bersikap seperti itu bu- bukan karena aku marah pada N- Naruto.. ta- tapi.. ka- karena.." Hinata menghentikan kalimatnya disitu.

Hal itu membuat Naruto menjadi penasaran dan balik bertanya. "Karena apa..."

DAG DIG DUG

Hinata dapat merasakan detak jantungnya yang memompa lebih cepat dari biasanya, pasti itu karena ulah Naruto yang terus mendesaknya dengan pertanyaan-pertanyaan yang menjebak baginya.

"I- itu.. ka- karena.. karena..."

"Ng!" Naruto memiringkan kepalanya ke arah samping, menandakan rasa penasarannya menanti jawaban Hinata yang malah berujar dengan terbata-bata mendengar pertanyaan darinya.

BLUSHH

Darah dalam tubuh Hinata bergejolak dahsyat dan membuat rona merah di wajahnya semakin menjadi-jadi, ia tau dari rasa panas yang ia rasakan di sekitar wajahnya.

"Ka- karena.. a- aku..."

. . . . . . .

Ia melirik Naruto yang terus menatapnya dengan tatapan yang seolah mendesaknya untuk segera menuntaskan kalimatnya itu.

"Ti- tidak jadi... aku mau pulang..." ujar Hinata sambil kembali membalikan tubuhhnya dari hadapan Naruto.

"Ka- kalau lebih dari ini.. a- aku pasti tidak akan tahan..." ujarnya dalam hati sambil terus melangkahkan kakinya bergerak maju.

Namun belum lagi ia bisa meninggalkan ruang kelas itu, langkahnya tiba-tiba terhenti seketika. Ia sadar bahwa ia menghentikan langkahnya bukan karena keinginannya sendiri, melainkan karena ada sebuah genggaman hangat di sekitar pergelangan tangan kirinya yang memaksanya untuk menghentikan langkahnya saat itu juga.

"Ehh!"

Dibalikkannya wajahnya dengan perlahan ke arah belakang, dilihatnya sebuah senyuman lebar di wajah Naruto dengan kedua mata yang hampir tertutup rapat. "Kalau begitu ayo kita pulang sama-sama.." ujar Naruto dengan senyum khasnya itu.

"Pu- pu- pu- pulang sama-sama!" tanya Hinata terbata-bata.

"Iya, memangnya kenapa.. kau tidak mau ya..." balas Naruto kembali bertanya.

Hinata menggeleng-gelengkan kepalanya berkali-kali. "A- a- aku mau kok.."

"Hehehehe.. kalau begitu tunggu sebentar ya, aku ambil tas ku dulu.." balas Naruto sambil berlari ke bangku tempat ia duduk dan mengambil tas yang tergantung di sebelah kiri mejanya itu. kemudian ia kembali ke arah Hinata.

"Nah.. ayo!" ujar Naruto.

"Hn," balas Hinata sambil mengangguk kecil.

_-0-_

Diperjalanan...

"Hahhaha.. lucu 'kan.." tanya Naruto.

"I- iya.. lucu sekali.." ujar Hinata sambil menyembunyikan senyumannya dengan tangannya. "Ada-ada saja ya si Kiba itu.." lanjutnya lagi.

"Iya.. apalagi saat Kiba secara tidak sengaja menumpahkan ramen panas di tubuhnya.., ketika ia berdiri karena terkejut, kepalanya malah terbentur atap kedai dan membuatnya terpelanting ke belakang dan membawa serta bangku panjang yang kami duduki.. alhasil kami semua pun ikut jatuh bersama-sama.. dan membuat kedai paman Teuchi berantakan..." timpal Naruto.

"Fufufufu..." balas Hinata yang tak mampu menahan tawanyaketika mendengar apa yang Naruto ceritakan barusan. "Ka- kalian benar-benar lucu yah," tambahnya.

Naruto hanya termangu menatap wajah tersenyum Hinata tanpa berkata apa-apa.

Hinata yang menyadari dirinya sedang diperhatikan, langsung menghentikan tawanya seketika. "Ng! A- ada apa Naruto? apa ada sesuatu di wajahku?" tanyanya dengan sedikit gugup.

"Ah, tidak kok, tidak ada apa-apa.." balas Naruto sambil memalingkan wajahnya ke depan.

Hinata terdiam sambil menundukan wajahnya.

"Hanya saja.. aku tidak tau kalau Hinata bisa tersenyum seperti itu..." sambung Naruto.

"E- eh!" ujar Hinata sambil menatapkan wajahnya pada Naruto.

"Iya.. selama ini kupikir kau adalah gadis biasa-biasa saja yang aneh dan hanya bisa termenung seorang diri saja..." balas Naruto singkat.

Kemudian ia menyimpulkan jari-jemarinya dan meletakannya di belakang kepala sambil menengadahkan wajahnya ke arah langit senja itu.

"Tapi setelah melihatmu tersenyum seperti itu, aku jadi merubah pandanganku terhadapmu lho..." ujar Naruto.

Hinata masih menatap Naruto, menunggu apa yang akan Naruto katakan berikutnya.

Dan saat itu Naruto berbalik dan menghadapkan wajahnya ke arah Hinata sehingga kedua mata mereka saling menatap bertautan. "Hinata yang tersenyum seperti itu sangat manis.. aku suka." ujar Naruto sambil tersenyum memamerkan gigi-gigi putihnya yang khas.

"E- eh!.. Na- Naruto su- su- suka.."

Tanpa sadar rona merah di wajah Hinata menjadi terlihat semakin jelas dari yang sebelumnya, bahkan warna senja langit kala itu pun tak mampu untuk membantunya menyembunyikan rona merah di wajahnya itu.

Ia segera memalingkan wajahnya dari Naruto, sekaligus menunduk mencoba menutupi blushing di wajahnya sambil memainkan jari jemarinya untuk mengusir rasa gugup yang singgah di hatinya.

"I- itu.. anu.. a- aku.."

"Oii.. pasangan muda yang ada disana!" teriak seseorang yang berdiri beberapa meter dari Naruto dan Hinata.

"Eh! Pasangan muda?" ujar Naruto dengan sedikit terkejut. "Maksudnya kita ya?" tanyanya pada Hinata.

"Mu- mungkin.." balas Hinata malu-malu menimpali apa yang Naruto tanyakan padanya.

"Hey kalian.. kemarilah..." ujar laki-laki itu sambil melambai-lambaikan tangannya.

"Kami?" tanya Naruto sambil mengacungkan jari telunjukknya ke wajahnya sendiri.

"Iya.. tentu saja kalian.. cuma kalian kan pasangan muda yang ada di situ.." sambung laki-laki itu.

"Hehehe.. hei Hinata, bagaimana menurutmu.. kita disangka pasangan muda lho.. apa kita terlihat cocok satu sama lain ya?" tanya Naruto.

BLUSHHH..

Wajah Hinata kian bertambah merah, kata-katanya pun tak dapat keluar dengan baik. "A- anu.. itu.."

"Hey.. cepatlah..." ujar laki-laki itu kian tidak sabaran.

"Ayo Hinata.. kita kesana.. sepertinya dia butuh bantuan.."

"I-iya.."

Mereka berdua pun segera mendekati lelaki yang memanggil mereka itu.

Dilihatnyalah seorang lelaki paruh baya dengan rambut putihnya yang panjang terurai, dengan garis merah yang terukir dari masing-masing sudut di kedua matanya itu, membuatnya sedikit terlihat aneh, namun hal itu tidak membuat Naruto dan Hinata untuk mengacuhkannya.

"Ada apa paman? Apa kau butuh bantuan?" tanya Naruto sopan.

"Yah, bisa dibilang begitu.." jawabnya singkat dan menyisakan pertanyaan di benak Naruto dan Hinata.

"A- anu.. apa yang bi- bisa kami bantu.." tanya Hinata.

"Begini.. namaku Jiraiya, dan aku adalah seorang profesor.."

"Apa! profesor! tapi, kelihatannya tidak seperti itu.." ujar Naruto sangsi terhadap apa yang dikatakan oleh lelaki itu.

"Makanya.. kau jangan menilai seseorang hanya dari fisiknya saja.. gadis kecil ini pasti tau kalau aku mengatakan hal yang sebenarnya, ya kan gadis kecil?" tanya Jiraiya pada Hinata.

"A- anu.. kalau menurutku juga.." ujar Hinata dengan memberikan ekspresi meragukan.

"Ja- jadi kau juga meragukanku ya gadis kecil?" ujar Jiraiya lesu.

"Kan! paman ini tidak punya tampang untuk menjadi profesor sama sekali lho.." ujar Naruto.

Perkataannya itu langsung menusuk dalam pada jantung Jiraiya. "Ugh, jantungku... sakit sekali.."

"Memangnya profesor itu tampangnya seperti apa, hah? Apa kalian tidak melihat rambutku yang sudah mekar berwarna putih ini?" ujar Jiraiya.

"Iya juga ya," ujar Naruto sambil memijit-mijit dagunya. "Memang sih, sekilas rambut paman terlihat seperti Albert Einstein yang terkenal itu, ya kan Hinata?" tambahnya.

"I- iya juga sih.." balas Hinata singkat.

"Fufufufu.. akhirnya kalian sadar seberapa hebatnya diriku ini, karena itu aku berharap kalian berdua mau melakukan sesuatu untukku.." ujarnya.

"Apa itu.." tanya Naruto.

"Begini.. paman baru saja membuat sebuah game yang paling mutakhir yang pernah ada, sebuah game petualangan model VR yang rencananya akan dipublikaskan akhir pekan ini, tapi paman masih ragu karena ada beberapa hal yang sedikit mengganjal di pikiran paman.. jadi, maukah kalian berdua membantuku dan mencoba permainan itu.." ujar pria bernama Jiraiya itu.

"Heee.. jadi paman mau menjadikan kami kelinci percobaan ya?" tanya Naruto.

"Bu- bukan begitu maksudku! Aku ha- hanya.."

"Lagipula aku tidak suka bermain game, cuma buang-buang waktu.." balas Naruto dengan sedikit acuh.

"Kutraktir ramen deh.." sogok paman itu.

"Aku suka sekali Game!" teriak Naruto dengan tiba-tiba. "Ayo Hinata, kau juga ikut kan?"

"Eh! A- aku.."

"Ada apa? apa kau ingin segera pulang.." tanya Naruto.

"Ti- tidak juga sih.."

"Kalau begitu ayo, tunggu apa lagi.." ujar Naruto sambil menarik tangan Hinata mengikuti Jiraiya yang sudah lebih dulu berjalan masuk menuju rumahnya.

Dan tentu saja hal itu tidak bisa ditolak oleh Hinata.

_-0-_

"Nah, disinilah ruangannya.." ujar Jiraiya sesaat setelah membuka sebuah pintu.

Naruto dan Hinata tercengang melihat ruangan tempat game itu berada, seluruh dindingnya berwarna putih, dengan pencahayaan yang sangat luar biasa terang. Keadaan ruangan pun sangat bersih, seolah tak ada sedikitpun debu yang menempel disana, beberapa buah monitor nampak menghiasi salah satu sudut ruangan yang ada disana.

Dan yang paling mencolok adalah dua buah kursi dengan sandaran yang agak miring kebelakang yang ditempatkan sejajar tepat di tengah-tengah ruangan.

Beberapa buah kabel berukuran besar dan kecil tersambung dari masing-masing ujung pangkal kursi, dan sebuah benda yang menyerupai helm yang jumlahnya disesuaikan dengan jumlah kursi tersebut, helm itu tersambung pada sebuah tiang yang terdapat diantara dua kursi tersebut, dan dari tiang itu menjalarlah kabel-kabel berbagai ukuran yang tersambung pada monitor yang terdapat di sudut ruangan tadi.

"Whooaaaa.. hebat sekali paman.. jadi ini ya ruangannya.." ujar Naruto terpesona.

"Fufufufu... tentu saja, profesor hebat pasti butuh ruangan yang hebat juga kan?" ujarnya sedikit sombong.

"Ka- kalau begitu, a- apa yang harus kami lakukan.." tanya Hinata.

"Hmm.. Kalian berdua cukup duduk di kursi disebelah sana, dan pakailah helm yang tergantung di tiang itu, dan setelah itu aku akan mulai mengoperasikan mesinnya," ujar Jiraiya.

"Hanya itu?" tanya Naruto.

"Iya.. nanti setelah kalian berada didalam game, kalian akan dipandu oleh pemandu virtual yang ada disana, jadi tak perlu khawatir."

"Baiklah.." ujar Naruto yang kemudian melangkah menuju kursi itu, diikuti oleh Hinata dibelakangnya.

"Kami hanya perlu duduk dan mengenakan helm ini kan!" tanya Naruto dengan sedikit berteriak, karena jarak kursi itu dengan tempat paman Jiraiya berdiri memang agak jauh.

"Iya.." balas Jiraiya. "Oh ya, saat game dimulai nanti, akan ada sedikit guncangan, tapi cuma sebentar, jadi tak perlu khawatir, karena gamenya memang dibuat seperti itu, maksudnya biar terasa lebih menegangkan, tapi tetap jangan lupa untuk memakai sabuk pengamannya ya.."

"Iya," sahut Naruto singkat. Setelah itu ia dan Hinata segera menyandarkan tubuhnya di kursi dan mengenakan helm itu seperti yang Jiraiya perintahkan.

"Oke.." teriak Naruto menandakan kalau ia sudah siap.

"Baiklah , akan segera kumulai.." ujar Jiraiya sambil menjentikkan jari jemarinya pada tombol-tombol di keyboard yang terpasang diantara sekian banyaknya layar-layar monitor yang sedang menyala.

Naruto dan Hinata mengencangkan sabuk pengamannya masing-masing.

Jiraiya pun mulai mengambil aba-aba. "Dalam hitungan ketiga... 1.. 2.. 3.."

KLIKK (bunyi tombol yang di pencet)

Dan setelah itu, gemuruh mesin pun terdengar memenuhi seluruh ruangan.

WWUUUUNNGGGG...

Benar apa yang dikatakan Jiraiya, Naruto dan Hinata sama-sama merasakan getaran di kursi yang mereka duduki, namun bukannya hilang, tapi getaran itu semakin lama malah semakin terasa kuat dan berlangsung terus-menerus.

"Na- Naruto!" ujar Hinata sedikit gugup.

"Tenang saja Hinata.." ujar Naruto coba menenangkan Hinata yang suaranya terdengar sedikit gelisah. "Oi paman, getarannya tak mau berhenti-berhenti nih.. apa tidak apa-apa?" lanjutnya dengan sedikit khawatir.

"Iya.. tunggu sebentar.." ujar Jiraiya yang juga menunjukan ekspresi kebingungan sambil terus menekan tombol-tombol keyboardnya berkali-kali.

"Ada apa ini.. seharusnya tidak begini 'kan..." ujar Jiraiya pada dirinya sendiri.

Berkali-kali ia terus saja mencari cara agar semuanya bisa kembali berjalan lancar, namun tiba-tiba saja sebuah lampu berwarna merah menyala terang sambil membunyikan suara yang sangat memekakkan telinga.

TEEETT.. TEEETTTT... TEEETTTT... TEETTTT...

"Ga- gawa~t.." tutur Jiraiya.

"Kalau begini bisa berbahaya.. harus segera kubatalkan secepat mungkin..." ujarnya sambil menekan tombol untuk pembatalan.

Namun...

"PEMBATALAN DITOLAK... PEMBATALAN DITOLAK... PEMBATALAN DITOLAK..." seru mesin itu berkali-kali.

BRAAKKK

"Dasar barang rongsokan," ujar Jiraiya sambil menggebrak mesin miliknya itu.

Perlahan, asap tipis mulai mengepul dari dalam mesin itu, sepertinya terjadi kerusakan akibat ulah Jiraiya barusan.

DRRRTTT.. DRRRTTT.. DRRRTTT...

Jiraiya pun segera berlari mendekati Naruto. "GAWA~T.. Naruto.. Hinata.. cepat menyingkir dari sana.. mesinnya sebentar lagi akan mele-"

KAABOOOOMMM...!^^

Mesin yang tepat berada di belakang Jiraiya meledak, untung Jiraiya sudah sedikit menjauh dari mesin itu, ditambah lagi ledakannya yang memang tidak terlalu besar membuatnya tidak terluka parah.

Namun asap yang mengepul memenuhi ruangan itu benar-benar tebal, membuat pernapasan jadi terganggu, juga mengaburkan pandangan mata.

"Uhuk.. uhuk.. uhuk.. Naruto.. Hinata.. kalian tidak apa-apa? uhuk uhuk.." ujar Jiraiya mencoba memastikan.

"Iya.. aku tidak apa-apa.." ujar Naruto, kemudian ia merangsak mendekati kursi disebelahnya.

"Hinata.. apa kau tidak apa-apa.." ujar Naruto sambil mencoba melepas tali pengaman yang masih melekat pada Hinata.

"Sial, dua benda bulat ini menggangguku saja," gerutu Naruto yang sedang sibuk melepas ikatan di pergelangan tangan Hinata.

"Eh! Dua benda bulat?" ujar Naruto terkejut, perlahan ia menundukan wajahnya menatap dua buah benda bulat yang cukup besar mengatung di dadanya itu.

BOING.. BOING.. BOING..

"APAA INIIIII..." teriak Naruto.

Teriakan Naruto yang cukup kencang itu membuat Hinata tersadar. "A- ada apa Naruto? apa yang terjadi?" ujar Hinata yang masih bersandar di kursi itu.

Perlahan ia membuka helm yang masih terpasang di kepalanya. Wajah mereka saling berhadapan, kedua mata mereka pun saling bertautan, menatap tak percaya pada apa yang mereka lihat.

"Eh!" ujar Hinata terkejut.

"TTIIDAAAAAAAAKKKKKKKKK..."

T.B.C

.

Pojok Author.

.

Fuh, capek juga yah bacanya..^^

Gimana ceritanya..

Jelek ya, geje ya..

huhuhuhu..

.

Arrghhh, sial...*getok-getok pala*

Kapan ya Aoi bisa bikin Fict yang bagus...

Udah deh, kalo gitu minta rifyunya ajah, kasih tau yang masih kurang, okeh^^

.

Dan terima kasih sudah membaca^^

Sampai jumpa di chapter berikutnya..

CAO