"Loving its not always meaning having right?"

Itulah kata-kata yang biasa Rukia gunakan untuk menghibur dirinya. Tetapi, kali ini kata-kata itu sama sekali tidak mempan. Ia merasa sangat sedih dan sakit hati. Ternyata, harapan yang selama ini ia miliki, hanyalah harapan kosong belaka.

" Don't hope for something too much or you will get hurt when you didn't get what you're hoping for."

Ia sudah tahu benar kalimat itu. Bahkan, ia sendiri yang membuat kalimat itu dan mengucapkannya berkali-kali di saat ia sedang sendiri. Tetapi, tetap saja ia tidak dapat menyembunyikan perasaannya untuk berharap. Tetapi, sesuai dengan kalimat itu, itu hanya membuat ia makin terluka.

"You always can to put your past behind your back. But, remember. There will come a time when you have to face your past."

Kali ini Rukia mengerti makna dari kata-kata itu. Karena, saat inilah ia harus menghadapi masa lalunya yang akan terulang kembali. Dimana saat dia akan merasa sangat kesepian, dan sendiri lagi.

.

.

Untitled Story.

"When the rain started to falling down, the memories of my past started to opening back again... those painful, and also sweet memories.."

.

Disclaimer

.

BLEACH ©Kubo Tite

This Story © Me

.

CHAPTER 1

"I want to meet with them."

.

Tetes demi tetes air hujan turun membasahi bumi ini. Semua orang mulai berjalan dengan cepat untuk mencari tempat berteduh. Tetapi, waktu seakan terasa sangat lambat bagi Rukia. Tetesan hujan yang mengenainya terasa sangat lembut, dan seakan membuatnya merasa nyaman, basah kuyup di tengah hujan.

Rukia melihat ke sekelilingnya. Tidak ada siapapun. Ia benar-benar sendiri. Sendirian, di tengah lapangan basket sekolahnya. Suara yang bisa ia dengar hanyalah suara hujan yang bergemuruh di sekelilingnya. Ia pun lalu merentangkan tangannya lebar-lebar, memejamkan matanya, dan mulai menari-nari.

"Rukia!"

Suara orang yang memanggilnya membuat Rukia berhenti menari. Ia pun segera mencari sumber suara itu dan melihat seseorang sedang berdiri di bawah pohon dengan membawa sebuah payung coklat tua. Karena hujan yang deras, ia tidak dapat melihat wajah orang itu dengan jelas. Tetapi, yang pasti ia adalah seorang laki-laki.

"Hei, Rukia! Sedang apa kau disitu? Kau bisa sakit!" teriak laki-laki itu sambil berlari kecil mendekati Rukia.

Setelah cukup dekat, Rukia bisa melihat dengan jelas sosok laki-laki itu. Ia tinggi, lebih tinggi dari Rukia. Rambutnya gondrong. Baju seragamnya agak basah karena terkena air hujan. Sementara sepatu ketsnya sudah sangat basah karena ia berlari kecil di tengah hujan yang sangat deras.

"Apa? Renji?" tanya Rukia agak kesal setelah Renji berhasil untuk memayungi Rukia.

"Kau tahu kan penyakitmu! Kenapa kau hujan-hujanan seperti ini?" tanya Renji.

Rukia hanya terdiam mendengar kata-kata Renji itu. Ia pun menurut saja ketika ia ditarik Renji untuk berteduh dan menghangatkan badannya di ruang kelas.

Ruang kelas Rukia masih cukup ramai. Ada sekitar 7 anak yang berbincang dengan semangatnya. Sepertinya mereka masih menunggu untuk dijemput. Menyadari kedatangan Rukia dan Renji, mereka berhenti berbicara dan melihat ke arah Rukia yang basah kuyup. Rukia pun segera meraih tasnya yang tergeletak menyedihkan di lantai dan pergi ke luar kelas.

"Hei! Kau sudah mau pulang Ruk? Kau dijemput?" tanya Renji.

Rukia pun tersenyum dan berbalik. Membuat Renji tidak dapat melihat ekspresi wajah Rukia. "Kau... sudah tahu, kan? Aku.. tidak punya siapa-siapa lagi. Keluarga, maupun teman yang mengerti diriku." Rukia pun segera berjalan dengan cepat dan dalam hitungan detik, badannya yang mungil sudah menghilang di tikungan koridor.

"Teman? Kalau begitu.. kau anggap aku apa? Rukia?" gumam Renji.


Hampir setiap 5 menit, Rukia melirik pintu masuk. Sepertinya, ia sedang menunggu seseorang.

"Siapa yang kau tunggu sih Ruk? Ulquiorra yak?" tanya Nel, teman Rukia.

"Haha. Siapa lagi menurutmu?"

Tepat setelah itu, orang yang disebut-sebut dengan nama Ulquiorra itu masuk. Di mata Rukia, ia tetap keren seperti biasa. Tetapi, ada satu hal yang tidak Rukia suka pada dirinya. Entah kenapa, sudah lama, Ulquiorra agak dingin padanya.

Rukia pun menghela napas dalam-dalam dan memalingkan pandangannya dari Ulquiorra pada Nel. Ternyata, Nel sudah tidak ada lagi disitu.

Rukia kembali pada kesendiriannya. Ia pun mulai memandangi pemandangan halaman sekolah dari jendela kelasnya. Tiba-tiba, ia menyadari ada sesuatu yang salah pada dirinya. Napasnya terasa agak sesak sekarang.


"Hei Ruk? Kau tidak apa-apa?" tanya Renji pada Rukia yang sepertinya dari tadi tidak mendengar perkataan Renji.

"Oh? Maaf, tadi kau bilang apa?" kata Rukia yang baru saja tersadar dari lamunannya.

"Hhh... sudahlah... sepertinya kau sedang tidak mau mendengarkan ceritaku sekarang." Keluh Renji dengan wajah yang sedikit kesal. Dari tadi rasanya Rukia tidak terlalu memberi perhatian pada kata-katanya. "Kalau begitu, kau saja yang bercerita deh."

"Hah? Tapi aku tidak punya cerita yang menarik." Jawab Rukia.

"Baiklah, aku yang akan bertanya. Kenapa wajahmu sangat pucat sekarang? Nafasmu pun terdengar aneh." Tanya Renji.

"Eeh? Benarkah?" kata Rukia berusaha mengelak. Sebenarnya ia tahu bahwa ia mungkin memang sangat pucat, dari pagi tadi ia sudah sesak nafas. Apakah penyakit lamanya kambuh lagi? "Tapi, aku tak apa-apa kok. Ren..."

"Rukia? Apanya yang tak apa-apa? Kau hampir jatuh tadi!" seru Renji pada Rukia yang terhuyung-huyung mau jatuh dari kursinya.

"Maaf, Renji, aku juga tidak tahu. Tetapi, tolong biarkan aku sendiri dulu." Jawab Rukia sambil bangkit dari kursinya dan berjalan keluar kelas.

"Hhh... kenapa anak itu selalu menyembunyikan sesuatu.." keluh Renji.


Hujan turun lagi sore ini. Ini adalah saat yang paling disukai Rukia. Saat dimana hujan turun sangat besar, dan sekolah cepat sekali menjadi sepi karena semua cepat-cepat pulang. Dengan segera Rukia melepas jaketnya dan berlari ke tengah lapangan.

"Rukia!" seru Renji sambil menarik tangan Rukia sebelum Rukia sempat keluar kelas.

"Apa?" tanya Rukia sambil menatap Renji dengan tatapan kesal.

"Aku tahu apa yang mau kau lakukan, dan aku tidak akan mencegahmu, sampai kau memberi sebuah jawaban yang tepat." Kata Renji.

"Silahkan," kata Rukia sambi berbalik menghadap Renji.

"Kenapa kau senang berhujan-hujanan? Kau tahu, aku tahu penyakitmu. Kita sudah berteman lama Rukia!" Kata Renji sambil mencengkram bahu Rukia.

"..." Rukia hanya terdiam mendengar kata-kata Renji. Ia pun memegang tangan Renji perlahan dan melepaskannya perlahan dari bahunya. "Benar. Itulah salah satu alasanku. Karena, aku ingin bertemu dengan seseorang." Jawab Rukia sambil menunduk.

"Siapa?" tanya Renji.

"Byakuya Nii-sama dan Hisana Nee-san." Jawab Rukia.

"Maksudmu!" Renji sedikit tersentak mendengar perkataan Rukia.

"Kau sudah berjanji untuk tidak akan mencegahku begitu aku mengatakan yang sebenarnya. Selamat tinggal, Renji." Kata Rukia sambil berlari ke arah lapangan.

Renji hanya bisa terdiam. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Ia hanya bisa berdo'a dan berharap, semoga tida terjadi apa-apa pada Rukia.


5 menit sudah berlalu. Rukia belum kembali. Hujan sudah mulai mereda. Renji pun segera berlari ke arah lapangan untuk melihat keadaan Rukia.

Mata Renji membulat seketika ketika melihat seseorang tergeletak di tengah lapangan. Renji segera berlari ke arah orang itu. "Rukia! Rukia!" seru Renji. "Bodoh!"

Dengan segera Renji menggendong Rukia ke ruang UKS dan membaringkan Rukia yang pingsan di kasur. Badan Rukia dingin sekali. Nafasnya juga sudah tidak jelas. Renji melihat sekeliling tetapi tidak ada siapa-siapa. Guru UKS sepertinya sudah pulang.

"Kenapa.. Rukia.." Renji yang kehabisan akal pergi ke luar ruangan UKS untuk mencari bantuan. Tak lama kemudian, Renji melihat Ichigo dan Ulquiorra di koridor, mereka sepertinya akan pulang. Dengan segera Renji mengajak mereka ke ruang UKS.

"Hah? Rukia pingsan?" kata Ichigo heran.

"Masa? Rasanya aku tadi melihat dia berjalan ke luar sekolah deh." Kata Ulquiorra.

"Apa?" Renji yang heran segera berlari ke arah ruang UKS.

"Hei, hei.. kau mau kemana?" tanya Ichigo heran melihat Renji yang panik.

Tidak ada orang. Kasurnya memang agak basah, berarti Rukia memang ada disitu tadi. Renji pun mengikuti jejak yang basah melalui koridor sekolah.

"Kalian melihat Rukia ke arah mana tadi?" tanya Renji pada Ichigo dan Ulquiorra yang berada di gerbang sekolah sekarang.

"Ke arah sana kukira. Memangnya kenapa? Kau panik sekali dari tadi." Tanya Ichigo heran sambil menunjuk ke arah yang dilalui Rukia.

"Kau antar aku." Kata Renji sambil menarik tangan Ichigo.

"Hei!"seru Ichigo sambil ikut berlari saat Renji menarik tangannya. Mau tidak mau, Ulquiorra pun ikut mengejar.

"Rukia!" Renji berteriak memanggil Rukia sambil melihat ke sekeliling untuk mencari Rukia.

"Itu, disana." Kata Ulquiorra sambil menunjuk ke arah orang yang sedang menyeberang jalan.

Dengan segera mereka bertiga menyusul Rukia. Untunglah jalan itu sedang sepi.

"Rukia! Kau mau kemana bodoh?" seru Renji sambil memegang tangan Rukia.

"Renji?" Rukia sedikit kaget melihat Renji di belakangnya. "Dan..."

"Lebih baik kita ke pinggir dulu," kata Ulquiorra sambil berjalan ke trotoar di samping jalan. Ichigo, Renji dan Rukia pun segera mengikuti mereka.

"Jadi, apa masalahmu sebenarnya, Rukia?" tanya Ichigo pada Rukia setelah ia duduk.

"..."

"Rukia?"

Rukia hanya menunduk dan tidak menghiraukan pertanyaan Ichigo sama sekali. Renji yang merasa aneh dengan hal itu pun mengguncang Rukia.

"Rukia.. kau panas sekali.." gumam Renji.

"Bagaimana jika kita bawa dia ke rumahnya?" kata Ulquiorra.

"Itu lebih baik, lagi pula sepertinya akan turun hujan lagi." Kata Renji. Ia pun segera menggendong Rukia. "Ayo! Aku tahu rumahnya."


Langit sudah sangat gelap ketika mereka bertiga sampai di rumah Rukia. Di luar dugaan, rumah Rukia sangatlah bagus, sepertinya Rukia adalah orang kaya.

Rumahnya seperti villa. Dinding luarnya tidak di cat sehingga terlihat bata-bata merah yang tersusun rapi. Atapnya berwarna merah tua dengan dihiaskan sebuah cerobong asap. Halamannya yang luas tertata dengan sangat rapi. Ada banyak macam-macam bunga dan semak-semak. Ada juga jalan setapak lurus yang menuju pintu masuk yang terbuat dari kayu mahoni dan di cat berwarna coklat tua.

"Hmmm? Pintunya dikunci." Kata Ichigo sambil mencoba membuka pintu rumah Rukia. Tiba-tiba jari telunjuk Rukia bergerak perlahan dan menunjuk ke arah pojok bawah pintu. "Apa itu?"

"Lihat, ada benang disitu, coba tarik deh." Kata Ulquiorra.

"Mana?" tanya Ichigo.

"Dasar jeruk rabun! Sini, biar aku saja." Kata Ulquiorra sambil menarik benang tipis panjang yang terjulur keluar. Lalu, keluarlah kunci dari bagian bawah pintu yang ternyata sedikit bolong. Ulquiorra pun segera menggunakan kunci itu untuk membuka pintu.

"Waw," kata Ichigo takjub melihat ketajaman mata Ulquiorra.

Perlahan Ulquiorra membuka pintu rumah Rukia. Terdengar bunyi berderit kecil. Ternyata, di dalam sangat gelap.

"Hee..." gumam Ichigo sambil mengikuti Ulquiorra masuk ke dalam rumah Rukia. Ulquiorra segera mencari sakelar lampu.

Setelah lampu dinyalakan, rumah Rukia terlihat lebih jelas. Mereka sekarang sedang berada di ruang tamu yang luas, dengan 4 buah sofa yang panjang dan meja kaca di tengahnya. Terdapat gorden putih bersih yang berdebu menutupi jendela kaca besar yang menghadap ke arah halaman depan. Terdapat berbagai tanaman dekorasi di pojok ruangan dan lampu kristal yang tergantung di langit-langit ruangan. Dindingnya di cat dengan warna putih. Terdapat karpet beludru berwarna merah marun di bawah kursi itu. Dan entah kenapa, kursi, meja dan karpet itu sedikit berdebu. Seperti tidak dibersihkan selama 3 hari.

Renji menepuk-nepuk sofa nya agar tidak terlalu berdebu dan menurunkan Rukia. Sepertinya Rukia sudah tertidur. Ia, Ichigo dan Ulquiorra pun melihat-lihat ke sekeliling ruang tamu. Terdapat foto yang lumayan besar di dinding ruangan. Terdapat 2 orang perempuan yang wajahnya mirip dan seorang laki-laki yang tampan. Mereka tampak bahagia di foto itu. Sepertinya itu adalah Rukia dan keluarganya.

Mereka pun menghampiri lemari kayu yang menghalangi pandangan mereka menuju ruang tengah. Mereka melihat isinya. Terlihat berbagai souvenir dan barang-barang antik.

Sementara Renji dan Ulquiorra melihat berbagai barang antik di lemari kayu, Ichigo berjalan ke arah ruang tengah. Ichigo melihat berbagai lukisan yang ada di dinding yang di cat putih, semuanya tidak karuan, tetapi Ichigo merasakan bahwa orang yang melukisnya melukisnya dengan sepenuh hati. Hanya terdapat beberapa gambar kelinci dan pemandangan yang tidak jelas, lalu, Ichigo tertegun saat melihat barisan lukisan yang selanjutnya. Terdapat seorang wanita yang sepertinya sangat kesepian, kali ini lukisannya terlihat agak lebih bagus dari sebelumnya.

"Hei! Ichigo! Sedang apa kau disitu?" seru Renji pada Ichigo dari balik lemari.

"Sebentar." Sahut Ichigo ia pun berbalik dan terkejut melihat benda yang berada di ruang tengah itu.

Sebuah grand piano berwarna hitam. Tidak ada apapun selain grand piano itu di tengah ruangan. Lantainya terbuat dari marmer dan langit-langitnya sangat tinggi, sampai ke lantai 2. Membuat ruangan ini menjadi lebih luas dari aslinya.

"Renji, Ulquiorra, coba kalian kesini!" seru Ichigo. Renji dan Ulquiorra pun segera menyusul Ichigo dan tertegun seketika melihat ruang tengah Rukia.

Ruang tengah yang dindingnya penuh lukisan dan bercat putih. Dengan langit-langit tinggi dan sebuah lampu kristal di atasnya. Lantainya terbuat dari marmer dan terdapat sebuah grand piano hitam di tengah ruangan. Terdapat beberapa ruangan di kiri-kanan yang terhubung langsung ke ruang tengah tanpa pintu, dan ada sebuah tangga batu yang lebar di depan grand piano dengan karpet beludru merah di anak tangganya. Ruangan di sebelah kiri adalah ruangan yang berisi tiga buah sofa, sebuah lemari buku, dan perapian. Terdapat dua jendela besar dan juga sebuah TV di antara kedua jendela itu. Ruangan itu berada satu anak tangga di bawah lantai marmer, dan lantainya pun terbuat dari kayu, bukan dari marmer. Sementara ruangan di sebelah kanannya adalah dapur dan ruang makan yang cukup luas.

"Kalian sedang apa?"

Jantung ketiga anak lelaki ini hampir saja copot ketika mendengar sebuah suara yang rapuh dan lembut dari belakang mereka. Ternyata Rukia sudah bangun.

"Ini sudah malam, lebih baik kalian pulang." Kata Rukia lagi. "Atau kalian mau menginap disini?"

"Tidak, lebih baik kami pulang saja sekarang." Kata Renji. "Kau sudah baikan kan? Rukia?"

"Ya. Berkat tidur sebentar tadi," kata Rukia sambil tersenyum lembut.

Renji, Ichigo dan Ulquiorra pun segera berjalan menuju pintu masuk yang terbuka sejak tadi. Mereka melambaikan tangan pada Rukia dan segera berjalan menembus malam yang dingin dan gelap.

Lalu, Rukia menutup pintu rumahnya dan berjalan gontai ke ruang tengah. Ia membuka tutup grand piano hitamnya dan melihat barisan tuts-tuts putih. Rukia mengernyitkan dahinya ketika melihat bercak-bercak merah yang terdapat di tuts-tuts pianonya itu. Seperti darah, dan kelihatannya masih baru. Menyadari sesuatu, Rukia segera berlari ke arah kamar mandi dan melihat cermin. Ia melihat pantulan dirinya sendiri disitu. Dirinya yang pucat, dan mengeluarkan darah dari hidungnya. Rukia pun segera melap darahnya dengan tissue, dan seketika terbatuk dengan hebat disertai dengan darah yang memaksa keluar dari mulutnya.

"Byakuya Nii-sama, Hisana Nee-san, mungkin sebentar lagi aku akan bertemu dengan kalian…" gumam Rukia sambil tersenyum.

-To Be Continued-


Moshi-moshi! minna-san!

:D

Saya author geje baru disini, tolong maklumi segala kegeje-an dalam cerita saya.

So, saya mohon kritik dan saran. RnR yak!

-Ariadne Lacie-