Warning : gaje, terkadang ceritanya ga nyambung, mungkin dapat membuat bosan, Apakah genrenya ngaco? Apa? Warning yang gaje? Err... baca aja deh. DLDR.

Pairing : UlquiRuki or RenRuki or HitsuRuki or IchiRuki! Yeah! XD


"Mencintai tidak berarti memiliki, kan?"

Itulah kata-kata yang biasa Rukia gunakan untuk menghibur dirinya. Tetapi, kali ini kata-kata itu sama sekali tidak mempan. Ia merasa sangat sedih dan sakit hati. Ternyata, harapan yang selama ini ia miliki, hanyalah harapan kosong belaka.

" Jangan berharap terlalu banyak atau kau akan terluka ketika tidak mendapatkan apa yang kau harapkan."

Ia sudah tahu benar kalimat itu. Bahkan, ia sendiri yang membuat kalimat itu dan mengucapkannya berkali-kali di saat ia sedang sendiri. Tetapi, tetap saja ia tidak dapat menyembunyikan perasaannya untuk berharap. Tetapi, sesuai dengan kalimat itu, itu hanya membuat ia makin terluka.

"Kau bisa menghindari kenyataan tentang masa lalumu. Tapi, akan datang saat kau harus menghadapi kenyataan itu."

Kali ini Rukia mengerti makna dari kata-kata itu. Karena, saat inilah ia harus menghadapi masa lalunya yang akan terulang kembali. Dimana saat dia akan merasa sangat kesepian, dan sendiri lagi.


Untitled

"When the rain started to falling down, the memories of my past started to opening back again... those painful, and also sweet memories.."

.

Disclaimer

.

BLEACH ©Kubo Tite

This Story © Me


CHAPTER 8

"Finally, I Understand."


"A-apa? Memang sebenarnya kau sakit apa, Rukia?" tanya Ichigo panik.

"...ngin..." kata Rukia lemah.

"Hah? Apa?" Ichigo semakin panik karena sekarang suhu tubuh Rukia semakin mendingin.

"...Di...ingin..." kata Rukia lagi. Ia terlihat menggigil hebat sekarang.

"Ah! Baiklah, lebih baik aku bawa kau ke rumah sakit saja..." kata Ichigo akhirnya. Ia pun menggendong Rukia dan bergegas lari ke pintu. Tapi...

"Sial, hujan! Mana mungkin aku membawa orang kedinginan menerobos hujan?" gumam Ichigo frustasi. Akhirnya ia pun memutuskan untuk membawa Rukia ke kamarnya.

Ichigo pun segera mencari-cari kamar Rukia. Karena di lantai satu tidak ada satupun kamar tidur akhirnya ia pergi mencari ke lantai dua.

Lantai dua rumah Rukia adalah sebuah ruangan besar yang hanya berisi sebuah TV flat besar dan sebuah sofa. Di bawah sofa tersebut adalah karpet bulu berwarna putih yang sangat halus dan empuk. Di sisi kanan sofa, seluruh bagian dindingnya adalah kaca, sehingga taman di luar terlihat sangat Ichigo tidak melihat detail lainnya dan bergegas mencari kamar Rukia.

Ichigo pun menemukan dua pintu. Ia mencoba membuka salah satunya.

Di dalam ruangan itu adalah kamar yang sangat berdebu. Kamar tersebut hanya berisi sebuah lemari dan juga sebuah double bed. Karena ini tidak mungkin kamar Rukia, Ichigo pun membuka kamar di sebelahnya.

Kamar yang kali ini sangatlah lucu. Dinding kamarnya berwarna putih bersih, tetapi ada beberapa gambar berupa motif berwarna hitam yang menghiasi beberapa sudut dinding. Motif tersebut seperti dilukis sendiri menggunakan kuas. Selain itu juga terdapat meja belajar berwarna putih, dan juga lemari besar di sebelahnya. Ada sebuah tempat tidur kecil di sudut ruangan, dengan meja kecil di ujungnya yang berisi beberapa boneka dan tumpukan buku. Sementara langit-langit nya miring, dan terbuat dari kaca. Ruangan ini terkesan serba putih.

"Waah..." Ichigo ternganga melihat kamar ini. Tetapi sayangnya kaca di atas hanya menunjukan pemandangan hujan lebat di luar.

Tiba-tiba Rukia yang sedang berada dalam gendongan Ichigo bergerak sedikit. Wajahnya terlihat sangat lelah, ia banyak mengeluarkan keringat dan napasnya tidak karuan.

"Rukia, kau panas sekali..." gumam Ichigo. Ia pun segera menurunkan Rukia ke atas tempat tidur dan menyelimuti Rukia. "Wah, kau basah sekali..."

Karena terlalu banyak berkeringat, baju seragam Rukia jadi agak basah.

"Harus diganti bajunya..." gumam Ichigo. Lalu ia pun beranjak ke lemari besar dan membukanya. Ia melihat beberapa tumpukan baju dan juga baju yang digantung. "Hmm... yang ma—"

'Tu-tunggu! Masa aku mau... mau... mengganti baju Rukia? Siapa kau Ichigo! Apalagi kau baru kenal dengannya! Eh tapi, sudah kenal lama juga tetap saja tidak bisa!' batin Ichigo panik. Tiba-tiba ia jadi blushing sendiri.

"Sudahlah, tidak usah diganti kalau begitu. Lebih baik aku mencari kompresan sekarang," gumam Ichigo. Ia pun segera menuju dapur.

Beberapa saat kemudian, Ichigo kembali ke kamar Rukia dengan membawa baskom berisi air dingin dan juga dua handuk kecil. Ia mencelupkan handuk tersebut dan mengompres Rukia. Sementara handuk yang satu lagi ia gunakan untuk mengelap keringat Rukia dan noda-noda darah di sekitar muka dan tangan Rukia.

"Fiuh, sekarang bagaimana ya?" Ichigo pun melirik jam di handphone-nya. Pukul 15.00. Sudah sore. "Apa lebih baik aku menginap disini?"

"Menginap saja."

Tiba-tiba ada suara seseorang. Ichigo segera mencari sumber suara itu. "Toushiro?"


Ichigo menelusuri jalan yang sudah gelap dengan pikiran yang menerawang. Ia baru saja mengantarkan Rukia ke rumah sakit, dan karena hari sudah malam ia bergegas pulang. Kalau tidak, pasti ayahnya akan bertanya macam-macam. Tetapi yang lebih menjadi masalah sekarang adalah, Toushiro. Ya, Toushiro Hitsugaya.

Ichigo memang terlahir dengan kemampuan yang spesial. Yakni, ia bisa melihat arwah, atau bisa dibilang hal-hal yang gaib. Dan hari ini, ketika di makam, ia bertemu dengan Toushiro. Pacar Rukia di masa lalu yang sudah meninggal.

Flashback

"Menginap saja."

"Toushiro?" gumam Ichigo ketika ia mendapati sesosok bocah berambut putih di sampingnya.

"Yo," jawab Toushiro.

"Kenapa kau ada disini?" tanya Ichigo.

"Aku mengikuti kalian tadi. Lagipula sudah cukup lama aku tidak menengok Rukia," jelas Toushiro. "Lalu? Apa yang akan kau lakukan dengan Rukia sekarang?"

Ichigo pun terdiam. Ia menatap sosok Rukia yang sedang berbaring tidak berdaya di kasurnya. "Entahlah. Memangnya ia mengidap penyakit apa sih?"

"Sepertinya penyakitnya sama sepertiku. Seperti penyakit TBC, tapi sebenarnya bukan. Setahuku penyakit itu belum ada obatnya," kata Toushiro. Matanya menatap langit yang masih menangis dengan tatapan sendu. Sementara Ichigo tersentak.

"Tidak ada... obatnya? Berarti...?" kata Ichigo.

"Itu tergantung Rukia sendiri. Tetapi, mungkin seharusnya ia sudah pergi jika tidak ada yang mengekangnya di dunia ini," kata Toushiro.

"Memangnya apa yang mengekangnya?" tanya Ichigo.

"Kurasa kutukan itu. Ia masih merasa bersalah atas kutukan itu," kata Toushiro.

"Kutukan?"

End of Flashback

"Arrgh! Aku tidak tahu lagi!" seru Ichigo sambil menjambak rambutnya. Tiba-tiba handphone-nya bergetar, dan Ichigo segera membuka handphone-nya untuk melihat siapa itu.

From : Abarai Renji

Yo, Ichigo. Apa kabar? Dan, bagaimana kabar Rukia?

Ichigo menghela napas, dan cepat-cepat mengetik SMS balasannya.

To : Abarai Renji

Tidak terlalu baik, kurasa. Oh, dan aku lupa memberitahumu, bahwa sekarang Rukia ada di rumah sakit.

Ketika jarinya akan menekan tombol send, Ichigo teringat akan sesuatu. Lalu ia menambahkan di akhir SMS nya,

... oh ya, Renji, kau tahu tentang kutukan Rukia?


Renji yang sedang sibuk berkutat dengan buku pelajarannya menghentikan aktivitasnya setelah membaca SMS dari Ichigo. Ia menatapnya heran sambil berpikir, kenapa Ichigo bisa tahu soal itu? Setelah berpikir sejenak, ia pun segera menelepon Ichigo.


"Ichigooo! Dari mana saja kau malam-malam begini?" seru ayah Ichigo, Kurosaki Isshin dengan hebohnya. Padahal Ichigo baru saja membuka pintu, bahkan ia belum sempat mengucapkan tadaima.

"Kurasa itu tidak ada hubungannya denganmu," kata Ichigo dingin. Lalu ia lewat begitu saja meninggalkan ayahnya yang masih nyerocos. Dan handphone-nya bergetar lagi. Kali ini bukan SMS, melainkan telepon. Layar handphone-nya menampilkan nomor Renji.

"Telepon dari siapa itu Ichigo? Pacarmu?" tanya ayah Ichigo setelah melihat anaknya yang terdiam sambil menatap layar handphone-nya.

"Bukan. Ah, sampaikan pada Yuzu dan Karin bahwa aku tidak makan malam ya!" jawab Ichigo sambil berjalan cepat menuju kamarnya di lantai dua.

"Apa? Tunggu, Ichigoo! Makan bersama keluarga itu tradisi yang tidak boleh dilewatkan!"


Ichigo segera menutup pintu kamarnya dan menjawab teleponnya. Syukurlah, sambungannya belum terputus.

"Halo? Ada apa, Renji?" tanya Ichigo sambil menjatuhkan badannya ke kasur.

"Dari mana kau tahu soal kutukan Rukia?" jawab Renji.

"Ooh. Ternyata soal itu toh. Dari... arwah Toushiro. Kau tahu kan aku bisa melihat hal-hal gaib?" jawab Ichigo. Selang beberapa saat, Renji hanya terdiam. "Hoi? Renji?"

"Kalau begitu, kurasa... aku akan menceritakanmu tentang sejarah kutukan Rukia itu. Kau dengarkan baik-baik, ya."

.

Flashback

Hari pemakaman Toushiro. Semua orang terlihat memakai pakaian serba hitam. Bahkan langit juga mendung, seakan sedih melihat seseorang harus pergi lagi dari dunia ini.

Setelah semua orang pergi, sekarang hanya tinggal Rukia, Renji, Orihime dan Hinamori. Mereka masih terdiam menatap nisan Toushiro.

"Kenapa...? Kenapa, Kuchiki...?"

Rukia segera menengok ke arah sumber suara tersebut. Itu adalah... suara Hinamori. "Kenapa?" tanya Rukia heran.

"Kenapa kau mengambil semuanya dariku?" seru Hinamori. Rukia terbelalak kaget. Begitu juga dengan Renji dan Orihime.

"Apa... apa maksudmu?" tanya Rukia. Hinamori menatapnya dengan penuh kebencian.

"Aku... aku sudah menahan segala isi hatiku selama ini. Tapi kurasa inilah saatnya aku mengatakan yang sebenarnya. Sebenarnya, aku sangat tidak menyukaimu," kata Hinamori. Perlahan ada cairan bening mengalir melalui kedua pipinya.

"Kau sudah merebut Shiro dariku... padahal sejak dulu kami selalu bersama! Tetapi setelah mengenalmu ia jadi tidak peduli lagi padaku... bahkan kau juga memiliki banyak teman, dan juga prestasi yang bagus...

Kau sudah cukup bahagia! Tetapi kenapa kau masih mengambil kebahagiaan orang lain?"

Kali ini tangis Hinamori pecah. Ia melempar payung hitamnya pada Rukia, yang ditangkis oleh Renji. Sementara Rukia menatap Hinamori bersalah. Ia tidak tahu kalau Hinamori merasa seperti itu selama ini.

"Hinamori-san... maafkan aku... aku... aku tidak tahu mengenai hal itu," kata Rukia sambil berjalan mendekati Hinamori, memayunginya.

"Suatu saat.. kau juga.. akan kehilangan semuanya.. seperti aku.." kata Hinamori. Lalu ia pun berbalik, meninggalkan Rukia, Renji dan Orihime.

Dan setelah itu,Hinamori tewas karena tertabrak mobil.

End of Flashback

.

"Jadi, begitu ceritanya? Rukia merasa bersalah karena kutukan itu?" kata Ichigo setelah Renji mengakhiri ceritanya.

"Ya. Kurasa... dengan kemampuanmu, aku ingin kau melakukan sesuatu. Sudah saatnya Rukia lepas dari dunia ini."

Ichigo mengernyitkan dahinya begitu mendengar rencana Renji. "Apa? Apa kau benar-benar akan melakukan hal itu?"

"Ya."

Suara Renji terdengar yakin. Sepertinya Renji sudah lama memikirkan hal ini, tetapi ia tidak tahu caranya. Ichigo pun menutup teleponnya setelah mengatakan bahwa ia akan melakukan rencana itu, demi Rukia, ia, Renji dan juga Ulquiorra. Ia pun meletakkan hanphone-nya di meja belajarnya, dan membenamkan wajahnya ke bantalnya.

"Kuharap ini yang terbaik..."


To be Continued

Halo, setelah fic ini ga update... jangan-jangan udah ada setahun ya? ==' akhirnya update juga. Sekarang saya dalam misi menyelesaikan semua cerita multi chap sebelum saya UN!

Semoga saya bisa masuk SMA favorit ya! XD #kokcurhat

Special thanks for wu , KuchikiImmortal , aRaRaNcHa , Saya Keluar .

And, mind to review?