Disclaimer : Kocchimuitte Miiko! punya Ono Eriko.

~oOo~

TOK TOK!

Seorang wanita berambut pendek membukakan pintu untuk seorang pemuda-yang kisaran umurnya mungkin 16 tahun-memakai kemeja kotak-kotak santai dipadu dengan celana jeans. Rambut pirangnya yang dipangkas agak rapi dibiarkan begitu saja.

"Se-Selamat Malam, Tante. Yamada ada?" kata pemuda itu. Terlihat semburat merah di kedua pipinya.

"Malam. Tunggu sebentar ya. Tante panggil dia dulu."

Pintupun menutup sedikit dan beberapa menit kemudian, muncullah seorang gadis berambut pendek yang poninya dijepit ke samping.

Celana jeans dan kaus biasa.

Senyumnya juga malu-malu.

"Hai."

Sang pemuda juga menyambut sapaannya.

"Hai."

"Nah, pergilah kalian berdua. Sebelum filmnya habis."

"Baiklah. Tante, saya bawa Yamada dulu ya?"

Wanita itu tersenyum. "Selamat bersenang-senang!"

Pasangan itupun turun dari mansion sang gadis. Sampai di bawah, sang laki-laki mengulurkan tangannya pada sang gadis.

"Siap, Miiko?"

Miiko tersenyum lalu menyambut uluran tangan pemuda itu.

"Siap, Tuan Eguchi Tappei!"

~oOo~

Film yang membosankan bagi Miiko. Peperangan. Tusuk-tusukan. Ah. Mending main sama Mari-chan di toko buku. Baca komik bersama (tentunya tanpa membeli) !

Tappei yang melihat Miiko cemberut di kursinya menarik tangannya dan menuntunnya keluar ruangan bioskop.

"Kenapa? Kau masih mau nonton, kan?"

"Iya, tapi mana tenang aku melihatmu cemberut di kursi?"

"Makanya tadi aku bilang, jangan nonton itu! Kita nonton film yang itu saja!" tunjuk Miiko pada sebuah poster di kolom studio 2. Sebuah film anime anak-anak.

"Hei! Kau paling tahu aku tidak suka film anak-anak sepert itu!"

"Huh!"

Miiko tambah cemberut. "Aku pulang saja! Aku malas!"

Miiko keluar dari gedung bioskop dan berjalan di jalanan kota Tokyo yang agak ramai.

Tiba-tiba sebuah tangan menariknya. Miiko menoleh ke belakang. Tappei.

"Ikut aku!"

Tappei menarik paksa tangannya. Dan Miiko terpaksa mengikutinya.

~oOo~

Taman yang indah di tengah kota Tokyo. Hanya beberapa orang yang lalu lalang di sana.

Miiko terheran-heran.

"Ke-kenapa kau bawa aku ke sini?"

Tappei menoleh ke arahnya.

"Diam saja."

Tappei menarik tangan Miiko menuju kursi taman yang tepat berada di bawah pohon Sakura.

Setelah mereka duduk dengan baik, Miiko mencerocos tidak karuan lagi.

"Kau kenapa tidak menjawab pertanyaanku tadi?"

"Malas."

"Kau juga kenapa selalu cuek? Egois?"

"Itulah aku."

"Lalu, untuk apa kau ajak aku ke sini?"

"Gak usah tahu."

Miiko menghela nafasnya.

Tappei masih menatap lurus ke depan.

Miiko yang menatap sisi wajah sampingnya, hanya menatap dengan pelototan.

"Sudah?"

"Sudah."

"Giliranku sekarang. Kau mau tahu apa alasanku mengajakmu?"

"Iya."

"Kau mau tahu kenapa aku egois?"

"Iya."

"Dan bolehkah aku menciummu?"

"Iya. Eh-ap-?"

Terlambat. Bibir Tappei telah menempel erat pada bibir Miiko. Miiko dapat melihat bibir Tappei melumat bibirnya. Matanya masih terbuka lebar, tapi perlahan matanya mulai menutup. Merasakan semuanya dan ia tidak mau melewatkan satu momen pun.

Setelah mereka membutuhkan nafas, Tappei melepaskan bibirnya perlahan. Tangannya yang melingkar di pinggang ramping Miiko tidak lepas

Mata mereka bertemu dalam satu pandangan yang memancarkan aura kebahagiaan satu sama lain.

Pipi mereka menyemburatkan rona merah.

"Tadi itu-apa?"

Tappei menyunggingkan senyum nakalnya.

"Tidak apa-apa. Cuma mau merasakan bibirmu saja."

Miiko memukul lengan Tappei keras.

"Kau jahat!"

"Iya aku jahat," Tappei mencium singkat bibir Miiko lagi.

"Tapi aku mencintaimu, Miiko."

Miiko tersenyum.

"Aku juga."

~oOo~

A/N : Elaah, ini fic abal banget sih? Jelek dan alay banget. Bah! Fic pertama di /Manga. Jelek banget ya romance nya? Huhuhu. Tapi sumpah aku maluuuu banget nulisnya.

Oh ya, aku ganti PenName loh! Yey! -_-

Oke segitu aja!

:)

Nagisa