Halo, Halo, Haalo~

sekali lagi perkenalkan, saia hanyalah author geje yang mempunyai 5 profesi lain. :)

dan ini adalah first fic saia di fandom Kuroshitsuji.

mohon dimaklumi segala ke geje-an, kegaringan, keanehan, cerita saia.

yosh~

happy reading!


Seperti biasa, masih belum tau judul utamanya apa. Udahlah, ini aja. :)

.

Kuroshitsuji

.

by : ariadneLacie

.

Disclaimer : Masa ga tau sih? Kuroshitsuji itu punya say—iya, iya, maaf. Punya Mba Yana Toboso. Puas?

Warning : maybe OOC (Out of Character), GaJe, OC (Original Character *iya kan itu artinya?*), bertele-tele, selebihnya... siapin aja bazooka deh, kalo mau bunuh ni author. XD


Phantomhive mansion, In the morning.

Pagi yang sangat cerah, tenang, damai, warahmah, mawadah, sakinah, di kediaman Phantomhive. Burung berkicau, bernyanyi, dan mengotori taman bunga di kediaman Phantomhive dengan 'sisa dari zat-zat makanan yang selesai dicerna oleh perutnya' yang berwarna putih seperti salju *hoek.

"Tuan muda." Panggil seorang butler setia berbaju hitam tinggi 186cm yang berspesies iblis bermata merah merona dengan warna kulit putih pucat rambut model belah tengah wajah tampan keren multi-talenta serba bisa misterius author ganteng ker—iya iya, maaf. Cukup bertele-telenya.

Yak! Ulangi.

"Tuan muda." Panggil Sebastian pada tuannya yang tengah tertidur pulas di ranjangnya.

"..."

"Tuan muda." Karena tak kunjung bangun, Sebastian mencoba memanggil sekali lagi. Dengan nada yang SEDIKIT lebih keras.

"..."

"Tuan muda.." Sebastian mulai kehilangan kesabarannya.

"..."

"Tuan muda..." Sebastian memanggil lagi. Kenapa sih, ia harus mempunyai majikan se-rese ini?

"..."

Yak! Sampai jumpa di chapter selanjutnyaa~ mari kita lihat apakah Sebastian berhasil membangunkan Ciel di chapter selanjutnya?

GaJe kan? Aneh kan? Singkat ya? Ya memang! Karena itu, mohon review! XD

.

.

.

.

*author dibantai karena membuang waktu pembaca

Maaf, bercanda.

.

Sebastian yang sudah kehilangan kesabarannya pun menghela nafas dan tetap berusaha untuk membangunkan tuannya yanng rese itu.

"Tuan muda." Suara Sebastian naik 2 oktaf.

"..."

"Tuan mu.." BUK! Kaki Ciel sukses mengenai wajah tampan *halah* Sebastian. Sebastian yang sangat kehilangan kesabarannya pun...

"TUAN DUDA!" teriak Sebastian dengan nada 8 oktaf tepat di telinga Ciel yang membuat Ciel tuli sesaat.

"Iya! Iya! Dan, gue bukan duda oke?" omel Ciel sambil cepat-cepat bangun sebelum telinganya benar-benar tuli permanen.

"Anda sudah bangun dari tadi, tuan muda?" tanya Sebastian sambil cengo, kesal, marah, dendam, jatuh, bangun, dudu—iya iya! Author Cuma nyoba buat lawakan doank, kok!

Readers : Lo ngelawak ato bikin puasa batal sih?

"Iya, terus?" kata Ciel manas-manasin Sebastian.

"..." Sabar, sabar... kata suara hati Sebastian.

"Teh-nya, tuan muda." Kata Sebastian sambil menyodorkan secangkir teh hangat pada Ciel.

Ciel pun mulai menyeruput teh-nya sambil memperhatikan Sebastian yang sedang memilihkan pakaian untuknya. Kenapa sih, teh mulu? Kenapa ga susu, coba? Biar gue cepet tinggi! Pikir Ciel kesal.

Author : padahal, lo tinggal minta aja Ciel… ga usah gengsi-gengsi amat, deh. Emang kenyataan kan? lo tu pendek. *ditendang Ciel

Setelah itu, seperti biasa, Ciel memulai pagi-nya dengan sarapan enak bin lezat buatan butler andalannya, Bar—Sebastian, maksudku. Setelah itu ia akan pergi ke toilet selama 10 menit untuk—tentu saja kau tahu apa yang ia lakukan tanpa harus kujelaskan, kan?

"Sebastiaaan!" teriak Ciel dari dalam toilet untuk memanggil butler tercintah-nya itu.

"Ada apa tuan muda? Apakah anda mengalami sembelit lagi?" tanya Sebastian dari balik pintu kamar mandi.

"ceboook!"

"..."


Hari sudah agak siang sekarang. Sementara Ciel sedang bekerja di ruangan kerjanya, Sebastian berkeliling mansion untuk mengecek pekerjaan maid, tukang kebun, dan koki yang terkadang(selalu) mengkhawatirkan.

"Sebastiaaan!" seru seorang tukang kebun tersayang keluarga Phantomhive. Siapa lagi kalau bukan... Finny.

"Apa? Ada apa?" tanya Sebastian dengan 'agak' khawatir. Kira-kira kebun macam apalagi yang sudah dibuatmu? Pikir Sebastian. Sebastian pun hanya pasrah sambil harap-harap cemas ketika ditarik(seret) Finny menuju kebun.

Yak! Saudara-saudara, kira-kira bagaimanakah hasil kebun yang telah dibuat(dihancurkan) Finny? Simak chapter selanjutnya!

.

.

Bercanda, kok.

Readers : "lo ngelawak?"

Author : "iyak, ga lucu, ya?"

Readers : " emang dari awal juga udah ga lucu, kok!" *ngelempar garpu

Author menghindar dengan salto. "Ckckck, terlalu cepat 100 tahun bagi kalian untuk dapat melukai author ini! Wakakakak."

Readers : "Apa?" *merasa diremehkan

Author : "Iya donk! Mau dibuktiin?"

Readers : *nyiapin bambu runcing

Author : "eheheheh, jangan menyesal yak! Udah nantang author yang kuat dan kerennya melebihi Sebastian ini!"

Ciel : "Heh, lo, kapan ceritanya lanjut?"

Author : "kapan aja bolee~"

*BUAK*

*author tepar*

Ciel : "Sebastian, tolong kau lakukan sesuatu dengan author aneh yang pingsan itu.."

Sebastian : "Yes, My Lord."

Ciel : "Baiklah, sekarang saya yang akan melanjutkan fic ini."

Yak! Resume~


Tak lama kemudian Sebastian dan Finny pun sampai di kuburan padang pasir... loh? Mana kebunnya?

"Kau bawa aku kemana sebenarnya?" tanya Sebastian sweatdrop.

"Tentu saja, taman belakang, Sebastian." Kata Finny santai.

Taman belakang? Kau sebut ini taman belakang?

"Errr... Sebastian... jadinya... gimana?" tanya Finny

"Gimana apanya?" tanya Sebastian balik sambil meratapi nasib taman belakang yang baru saja ia tata ulang kemarin malam. Finny pun hanya menatap Sebastian dengan puppy eyesnya.

"Hhh... baiklah, cepat beli tanaman yang baru. Nih, uangnya." kata Sebastian akhirnya. Finny pun segera melesat pergi dengan membawa uang pemberian Sebastian.

"Padahal itu kan sisa gaji-ku yang terakhir…" ratap Sebastian.

"Huwaaaa!"

Tiba-tiba terdengar jeritan seorang wanita dari arah ruang utama. Sebastian pun segera melesat menuju ruang utama. Dan, dalam hitungan detik ia sudah berada di ruang utama… yang hancur.

"Ada apa, Maylene?"

"Errr… Se.. Sebastian-san…" kata Maylene gugup sambil membetulkan kacamatanya. "Aku hanya.. menabrak lemari kaca ketika sedang menggunakan penyedot debu, lalu.. penyedot debu-nya kehilangan kendali.. dan.. menghancurkan ruangan.."

Tugas seorang maid memang membersihkan ruangan dan membereskan rumah. Tapi bagaimana jadinya jika ia malah mengotori rumah dan menghancurkannya? Aku sama sekali tidak mengerti. Masyarakat mengatakan maid yang ceroboh itu sangat populer. Padahal aku malah sangat ingin membunuhnya. Omel Sebastian dalam hati.

"Baiklah, baiklah nanti biar…"

BUM! Terdengar sebuah suara ledakan yang berasal dari dapur. Ah, sudah pasti itu Bard. Sebastian pun meninggalkan Maylene dan segera melesat menuju dapur yang sudah tidak seperti dapur lagi.

"Kenapa kau ada disini Sebastian?" Tanya Bard innocent sambil memegang flame thrower kesayangannya.

Justru aku yang ingin bertanya, kenapa kau ada disini? Yang seharusnya ada di dapur itu adalah seorang koki, bukanlah seorang bod—seorang yang mengakui dirinya adalah koki padahal ia sama sekali tidak bisa memasak! Semua hal yang kau masak itu 80% jadi arang dan 20% nya lagi beracun. Omel Sebastian dalam hati.

"Sini, biar aku saja yang masak makan siangnya." Kata Sebastian sambil membuka tailcoatnya. Belum sempat Sebastian masuk ke dapur, terdengar seseorang berteriak dari kejauhan…

"Wuaah!"

BRUK BRUAK BUM BRAK KREK!

"Taman belakang, pasti Finny. Kenapa lagi sih, dia?" Sebastian pun segera berbalik menuju taman belakang, tapi..

PRANG CRANG BUM BRAK!

"Ruang tamu? Maylene, ya?" Sebastian pun mengubah arah tujuannya menjadi menuju ruang tamu. Tetapi.. lagi-lagi..

"Aah! Sebastian, awas!" Bard berseru kepada Sebastian. Tetapi, terlambat, sebelum Sebastian sempat menghindar… BUM!

Salah satu bom milik Bard meledak di dekat Sebastian, jadi sekarang Sebastian gosong deh. Wah, image-mu bisa rusak, nih kalo ada yang liat kau item gitu Sebas, XD.

"Sebastiaan… tolong aku! Aku tadi menabrak salah satu pohon.. lalu, pohonnya tumbang dan menimpa pohon yang lain.. jadi…" Finny tiba-tiba ada di samping Sebastian sambil menarik-narik tangan Sebastian.

Sebelum sempat mengatakan apa-apa, Maylene tiba-tiba muncul sambil membawa ember dan kain pel. "Se… Sebastian-san.. anu.. ruang tamu.. wuaah!" Entah karena apa, Maylene tiba-tiba terjatuh dan membuat isi dari ember itu tumpah dan mengenai Sebastian. "Se.. Sebastian-san! Ma.. maaf.. biar aku bersihkan!" Maylene pun sudah bersiap dengan kain pel-nya untuk mengelap baju Sebastian yang basah terkena air pel.

"Ho..ho..ho.." Tanak tiba-tiba muncul di belakang Sebastian.

"…." Sebastian hanya speechless. Kenapa aku harus berada di antara tiga idiot, seorang kakek alien, dan seorang bocah cebol di mansion ini?

'Butuh bantuan? Sebastian?'

"Eh?" rasanya tadi Sebastian mendengar suara seorang perempuan yang agak membuat merinding. Begitu sadar, ia berada di sebuah tempat yang berbeda.

"Ini bukan dimana-mana kok, tenang. Ini hanya di halaman depan Phantomhive Mansion." Kata seorang wanita yang wajahnya tidak terlalu jelas karena terhalang oleh rambutnya dan sebuah topi.

"Maaf, anda siapa?" Tanya Sebastian. Ia sudah siaga 1. Orang yang dapat membawanya berpindah dari dapur ke halaman depan dalam sekejap mata pasti bukanlah orang biasa.

"Perkenalkan, namaku Ariadne Lacie Phantomhive, Sebas-chan." Jawab wanita itu sambil membuka topinya dan memperlihatkan matanya yang berwarna merah darah.

-To Be Continued-


Akhirnyaaaa selesai juga. XD

oh ya, ada sebagian kata-kata Sebastian yang saia ambil dari komik. Mba Yana, sekali lagi, saya pinjam yak! kata-kata, tokoh, dan lain-lain dalam cerita anda.

Nah, karena ini adalah cerita saia yang paling pertama di fandom Kuroshitsuji, saia mohon kritik, saran, dan lain-lainnya.

Arigatou.

.

Mind to review?