Memang mudah ketebak ya, yang datang itu Ulquiorra? Hihihi... Chapter ini 'mungkin' jadi chapter terakhir. Soalnya, bingung juga kalau terlalu larut, jadi kayak sinetron #pletak Yosh! Enjoy this fic, dan yang penting : dosa tanggung sendiri. :P


-Tarot-
Disclaimer : Bleach © Tite Kubo
Rated : M
Genre : Romance/Hurt/Comfort
Pairing(s) : GrimmNel
WARNING : AU, typo(s), (a bit) OOC, hard lemon inside (dosa tanggung sendiri *wink*), (almost) PWP
Summary : Ten Of Swords. Keterpurukanmu akan segera berakhir, Nel. Le Soleil. Akulah teman yang akan membahagiakanmu. Ten Of Cups. Kebahagiaan yang dari awal aku janjikan, pasti ku tepati.


"Hanya 12 jam Grimmjow? Well, well, Barragan. Sudah nakal kau, rupanya."

Suara seorang pemuda menghentikan aktifitas Barragan yang baru saja menghajar bagian perut Grimmjow dan membuat ia muntah darah. Suara itu, Grimmjow jelas sekali mengenalnya. Itu adalah suara milik seorang pemuda berambut kuning panjang. Tentu saja ia tidak sendiri, ada seorang pria bermata hijau yang sedikit lebih pendek dari pemuda berambut kuning itu—sikapnya tenang sekali.

"Hirako-sama? Schiffer-sama?" Barragan terkejut melihat kedatangan tamu tak diundang itu.

"Masih ingat padaku rupanya. Bagaimana jika aku ingatkan kembali akan luka diwajahmu itu?" pria bernama Hirako Shinji itu mengambil pisau kecil dari dalam sakunya.

"SIAPA KALIAN?" bentak Nnoitra geram pada dua tamu itu, Grimmjow—yang masih dipegangi—malah tertawa menyeringai.

"Hei, bisakah kau tenang sedikit?" protes Shinji.

"DIAM! KALIAN! TANGKAP MEREKA!" perintah Nnoitra pada sisa kawanan algojonya.

Alhasil, tiga orang—yang tersisa—berusaha menangkap Shinji dan Ulquiorra. Sayangnya, menangkap kedua pria itu tak semudah menangkap kucing-kucing yang penurut. Ulquiorra licin seperti belut, ia dengan mudah mengecoh ketiga algojo Nnoitra. Shinji pun sama, mudah berkelit, bahkan terpaksa menggunakan tendangannya.

"Kau pikir, semudah itu menangkap wakil dari Ulquiorra Schiffer sepertiku? Oh, jangan bercanda," Shinji menjulurkan lidahnya saat berhasil mendarat di sofa.

"BODOH! MENANGKAP MEREKA SAJA, KALIAN TIDAK BECUS!" Nnoitra semakin geram.

"Ayolah, bukan salah mereka, kok. Aku tahu siapa saja mereka. Barragan Luisenbarg, Zommari Leroux, Kensei Muguruma, ahh, halo, Yammy Rialgo! Itu Hachigen Ushouda dan Marechiyo Oomaeda," Shinji mengabsen satu persatu algojo suruhan Nnoitra.

"Kau!"

"Ah? Apa kau sendiri tidak mengenal mereka?"

"H-Hirako-sama," seorang algojo bernama Yammy—yang memegangi Grimmjow—tampak ketakutan.

"Tenang, tenang, kalau kau melepaskan si rambut biru itu, aku takkan menyentuhmu seujung kuku pun."

"Percuma banyak bicara, Shinji," Ulquiorra akhirnya angkat bicara.

"Oh iya, aku hanya menyelamatkan klien saja."

"Hhh, Grimmjow. Bersyukurlah kau sempat menghubungiku," Ulquiorra mendekati Barragan.

"Bisa cepat, Ulqui? Rasanya aku ingin muntah darah lagi karena dipukul barusan."

"Baiklah," Ulquiorra melirik Shinji.

Shinji hanya menunjukkan ekspresi bosan, lalu mereka berdua memulai perlawanan mereka. Ulquiorra mulai memelintir tangan Barragan dan menendang kaki pria besar itu, sementara Shinji mulai dengan menendang perut Oomaeda. Grimmjow yang saat itu dipegangi oleh Oomaeda dan Yammy langsung jatuh ke lantai. Tepat seperti yang ia katakan, selanjutnya, pria berambut biru itu muntah darah lagi.

"Ups, maaf, Grimmy. Bukankah kami agak terlambat?"

Lagi. Setelah Ulquiorra dan Shinji, datang Szayel dan Yylfordt—kakak beradik yang juga bawahan Ulquiorra—untuk membantu. Baiklah, anggap saja ini adalah surat kematian untuk Nnoitra, karena yang turun tangan langsung adalah petinggi-petinggi di kalangan mafia. Bukan melebih-lebihkan, memang kenyataan, pria-pria berbadan kecil itu sanggup mengalahkan para algojo suruhan Nnoitra.

Shinji, dengan wajah santai dan cenderung mengejek, menghadapi dua lawan sekaligus. Ulquiorra, dengan tenang dan tidak banyak gerakan, melumpuhkan dua lawan. Yylfordt dan Szayel? Oh, baiklah, masing-masing menghadapi satu lawan, tapi tetap saja mereka berdua terlihat hebat. Melumpuhkan enam algojo berbadan besar bukanlah hal yang begitu sulit. Nnoitra yang terpojok memutuskan untuk kabur, namun...

"Bergerak sedikit, ku bunuh kau," Grimmjow menodongkan pisau ke leher pria kurus itu.

"Tch!"

"Well, well, ternyata Grimmy sudah mulai berani, ya? Habisi saja!" seru Shinji setelah menghabisi dua algojo.

"Apa maumu, heh?" Nnoitra terdengar menantang.

"Aku ingin kau merasakan apa yang Neliel rasakan."

"Ap—akh!"

Grimmjow menjambak rambut Nnoitra, lalu menusuk kaki kanan pria itu. Tentu saja darah langsung mengalir deras dari kaki pemuda itu. Ulquiorra hanya menatap Grimmjow tanpa ekspresi, begitu pun Shinji. Szayel lebih tertarik dengan tarot Grimmjow yang tergeletak di atas meja, sementara Yylfordt mencari Neliel dan menyuruh gadis itu keluar.

"Ahh, gadis manis. Bagaimana kalau kau ikut menyiksa?" tawar Yylfordt.

"N-Nnoitra-sama?" Neliel tertegun melihat pemandangan di depannya.

"Ne—Akh!"

Grimmjow menusuk kaki kiri Nnoitra, dan sekarang pria berambut hitam itu jatuh tersungkur. Neliel hanya terpekik, semua rasa bercampur dalam hatinya, sakit, kasihan, dan lega.

"Nel, apa perlu ku bunuh orang ini?" tanya Grimmjow.

"Grimm..." ujar Neliel lirih.

"Neliel! Tolong!" jerit Nnoitra.

"Pengecut, rupanya. Minta tolong pada seorang perempuan. Cih!" ejek Szayel.

"Ku mohon, Grimm—" mata Neliel berkaca-kaca.

"Nel? Kenapa?" Grimmjow terlihat bingung.

"—lakukan sesukamu," Neliel tersenyum.

"Baiklah," Grimmjow tersenyum menyeringai.

Jleb. Pisau Grimmjow tepat menusuk dada Nnoitra, membuat Nnoitra berteriak kencang karena kesakitan. Neliel hanya bersembunyi di balik punggung Yylfordt, menangis lega. Sreet. Pisau itu melukai pipi Nnoitra, perlahan bergeser dan membuatnya berdarah.

"Arrghh!" Nnoitra memekik kesakitan, nafasnya sudah memburu.

"KENAPA KAU SAKITI NEL? BAGAIMANA JIKA KAU RASAKAN SAKIT YANG NEL RASAKAN?" Grimmjow terlihat kesal, tatapannya menakutkan.

Grimmjow menusukkan pisau itu ke badan Nnoitra bertubi-tubi, lagi dan lagi. Di mata Grimmjow, Nnoitra hanya sebuah boneka yang ia gunakan untuk pelampiasan kekesalannya saja.

"Argh! Akhh!"

Suara pekikan Nnoitra malah makin membuat Grimmjow senang. Tusukan terakhir Grimmjow tepat mengenai perut laki-laki itu, dan dengan sengaja Grimmjow tidak mencabutnya kembali.

"Kau merebut segalanya dari Nel! Kau harus membayar dengan nyawamu," Grimmjow membersihkan darah di wajahnya.

"Boleh ku bereskan?" tanya Shinji semangat.

"Biarkan saja ia mati menderita begitu," Grimmjow menghampiri Neliel dan memeluk gadis itu.

"Manisnya," Yylfordt berjalan menghampiri adiknya—yang masih asik dengan kartu tarot.

"Maaf membuatmu takut."

"Grimm," Neliel menangis sejadinya di pelukan Grimmjow.

"Bagaimana jika racun ini kusuntikkan?" tawar Szayel sambil menunjukkan cairan dalam botol kecil.

"Racun baru, eh?" tanya Shinji.

"Ya. Boleh?"

"Terserah. Buat ia lebih menderita."

"Kau takkan menyesal, Grimmy," Szayel memasukkan cairan itu ke dalam suntikkan.

"Argh! Jangan!" Nnoitra berusaha menghindar.

"Takkan sakit, kok. Sedikit," Szayel tersenyum menyeringai.

"Grimm," Neliel semakin membenamkan kepalanya.

"Aarggghh!"

"Shhtt..." Grimmjow membelai rambut Neliel lembut, lalu mengecupnya, membuat darah di tangan Grimmjow menempel di sana.

Entah racun apa yang dimasukkan oleh Szayel, namun memang membuat pria itu benar-benar menderita sebelum kematiannya. Kejang, lalu bola matanya menjadi begitu putih. Semua penderitaan Neliel yang dibuat oleh Nnoitra pun terasa berakhir ketika laki-laki itu akhirnya meninggal.

"Selesai, Nel."

"Grimm," Neliel masih gemetar.

"Ssshht..."

"Biar kami yang selesaikan semuanya, Grimm," kata Ulquiorra.

"Ya."

"Larilah! Shinji, tolong mereka!" perintah Ulquiorra.

"Ya, ya. Ayo!"

Grimmjow membimbing Neliel yang masih gemetar untuk mengikuti Shinji. Pria berambut biru itu hanya sempat mengambil kartu tarotnya, lalu segera ke depan rumah. Shinji pun sudah bersiap dengan mobil sedan hitamnya, lalu, Grimmjow dan Neliel masuk ke dalam mobil itu.

"Kita ke mana, Shinji?" tanya Grimmjow saat mobil mulai berjalan.

"Yah, tentu saja jauh dari sini. Repot juga ya membawa peramal terkenal," ejek Shinji.

"Hahaha... Sudahlah."

"Yah, setidaknya nona manis di sana tidak terluka lagi," Shinji melirik Neliel dari kaca di tengah mobil.

"Shinji!" tegur Grimmjow, memberikan deathglarenya.

"Woo, dia siapamu, Grimm? Kekasih? Aku tak yakin pengecut sepertimu bisa mendapatkan nona cantik itu."

"Yah, mungkin," Grimmjow menjulurkan lidah.

Neliel hanya tersenyum tipis, lalu menyandarkan kepalanya ke dada bidang Grimmjow. Pria itu hanya menghela nafas, lalu membelai rambut Neliel.

"Hei, hei, aku iri, nih! Bayaranku tidak termasuk menjadi penonton loh!"

"Aku saja tak membayarmu, Hirako-sama."

"Oh, sudahlah. Ramal saja apa yang terjadi selanjutnya, Jeagerjaques-sama."

Grimmjow hanya tertawa lepas, lalu mengambil kartu tarot di dalam saku celananya. Neliel merebutnya, lalu mengocok tumpukan kartu itu, yang disambut senyuman Grimmjow.

"Mau jadi peramal juga, Nel?"

"Tidak juga."

"Kalau begitu, cukup mengocoknya."

Grimmjow menyebar teratur kartu—yang barusan dikocok Neliel—di sampingnya. Selanjutnya, ia memilih tiga kartu dan mulai merapikan sisanya. Grimmjow membuka kartu itu satu demi satu, lalu tersenyum saat melihatnya.

"Apa kata kartu itu?"

"Kartu pertama, Ten Of Swords. Keterpurukanmu akan segera berakhir, Nel."

"Lalu?"

"Kartu kedua, Le Soleil. Akulah teman yang akan membahagiakanmu."

"Dan kartu terakhir?"

"Kartu terakhir, Ten Of Cups. Kebahagiaan yang dari awal aku janjikan, pasti ku tepati," Grimmjow meletakkan kartunya kembali.

"Grimm..."

"Will you marry me?"

"Oh, Kami-sama... Neliel, terima saja lah lamaran orang itu!" seru Shinji yang mulai tak tahan dengan adegan romantis itu.

"Carilah pasangan, Hirako-sama! Kau berisik!" protes Grimmjow.

"Oh, baik baik, Jeagerjaques-sama, aku takkan mengganggu lagi. Tapi, izinkan aku untuk agak mengebut, bagaimana?"

"Pegangan, Nel. Dia gila," Grimmjow memeluk Neliel dengan erat.

Shinji tersenyum menyeringai, lalu mulai menaikkan kecepatan mobil yang dibawanya. Jam menunjukkan pukul sepuluh malam saat itu, dan kota Karakura sudah mulai sepi. Memang ada beberapa kendaraan yang berlalu, namun—seperti kata Grimmjow—Shinji memang gila kalau sudah mengebut.

"Grimm," Neliel menggenggam baju Grimmjow.

"Tak apa, kita aman."

"Aku takut..."

"Nel, kau aman di dekatku. Aku janji, tapi ku mohon kau juga berjanji selalu di sisiku."

"Ya, lindungi aku, Grimm..."

"Berjanjilah."

"Aku janji akan selalu ada di sisimu," Neliel memejamkan matanya ketika Shinji menambah kecepatan.

"Be my wife."

"Grimm! Kau sama tidak romantisnya dengan Shinji," omel Neliel.

"Ya, nona. Romantis itu memuakkan," sambar Shinji.

"Aishiteru," Grimmjow memeluk Neliel dan menenangkan gadis itu.

"Aishiteru yo," Neliel tampak lebih tenang dari pada tadi.

"Woo hoo! Grimm, selamat datang ke dunia biasamu. Selamat tinggal master Jeagerjaques! Selamat datang, Grimmjow!" ujar Shinji.

"Ya, selamat datang."

Grimmjow memandang ke luar jendela mobil, kota Karakura, tempatnya dikenal oleh orang banyak. Tempat ia dielu-elukan dan bahkan diidolakan oleh banyak fans. Sekarang, itu tidak penting lagi, yang terpenting, Neliel ada di sampingnya. Bagi Grimmjow, itu sudah lebih dari cukup.


Five month later...

Minggu pagi, Neliel baru saja terbangun dari tidurnya ketika ia melihat tempat tidur disampingnya sudah kosong. Ia mengelus perutnya yang semakin membuncit itu, lalu mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar. Ya, Grimmjow tidak ada di dalam kamar itu. Wanita berambut hijau panjang itu akhirnya memutuskan untuk beranjak dari tempat tidur, tepat ketika pintu kamar terbuka.

"Sudah bangun, sayang? Selamat pagi," sapa pria berambut biru yang baru saja masuk—Grimmjow.

"Pagi. Ukh," Neliel memegangi perutnya yang agak sakit, terduduk di pinggir tempat tidur.

"Kenapa?"

"Nggak, cuma bayi kita nendang perutku," Neliel mengelus perutnya.

"Bayinya nakal, ya?" goda Grimmjow sambil berlutut di dekat Neliel.

"Sayang..."

"Hihihi... Iya, iya. Bercanda."

"Aku bahagia bisa mengandung anak kamu."

"Aku bahagia, bisa punya kamu, dan—"

"Dan?"

"—anak kita."

"Ya. Terima kasih, sayang."

"Harusnya aku yang berterima kasih, dan maaf, karena aku, kita harus tinggal di tempat seperti ini."

"Dibahas lagi, deh," Neliel mencubit pipi Grimmjow.

"Hmm..." Grimmjow mengecup perut Neliel, lalu menempelkan telinganya di sana, "Selamat pagi anakku."

Hening. Tak ada jawaban, hanya, Grimmjow dapat merasakan tendangan dari kaki-kaki kecil di dalam sana. Sejak lima bulan lalu, Ulquiorra memberinya rumah di pinggir kota Hueco Mundo, sebut saja Las Noches. Karirnya sebagai peramal pun sudah Grimmjow tinggalkan, dan namanya perlahan mulai dilupakan, bahkan tenggelam. Kasus besar tentang pembunuhan Nnoitra Jiruga juga tidak berkembang besar di media karena Ulquiorra. Ya, teman baiknya sejak SMA itu memang selalu mengerjakan semuanya dengan rapi. Grimmjow sekarang menikmati kehidupannya sebagai orang biasa yang bekerja di sebuah perusahaan kecil di Las Noches. Semuanya kembali seperti dulu, saat Grimmjow belum terkenal.

"Nel."

"Hmm? Rasanya sudah lama kamu nggak manggil nama aku, Grimm."

"Yah, aku hanya iseng saja."

"Iseng atau ada maunya?" Neliel memegang kedua belah pipi suaminya.

"Gitu sih sebenernya," Grimmjow tersenyum menyeringai, mulai mengecup tangan Neliel.

"Hmm? Bahaya nggak ya untuk si kecil?" Neliel tampak cemas.

"Nggak, kok. Aku nggak akan menyakiti anakku," Grimmjow mulai menyibakkan rambut di bahu Neliel.

"Emmhh," desah Neliel saat Grimmjow mulai memberi kiss mark di leher Neliel.

Grimmjow berhenti mengecup leher istrinya, lalu beralih mencium ke bibir mungil Neliel. Tangannya tidak diam, mulai meremas lembut dada Neliel yang masih di tutupi oleh baju tidurnya. Ciuman pasangan itu terhenti kala keduanya membutuhkan pasokan udara.

"Ukurannya lebih besar dari lima bulan lalu, Nel," goda Grimmjow.

"Grimm," Neliel memelototi suaminya.

"Hihihi... Biar kau yang diatas, Nel. Repot juga karena perutmu sudah membesar."

Neliel mengangguk, lalu melepaskan pakaiannya, begitu pula yang dilakukan oleh Grimmjow. Pria berambut biru itu pun mulai merebahkan tubuhnya ke atas tempat tidur. Selanjutnya, Grimmjow membimbing Neliel untuk berjongkok di atasnya—dengan kedua tangan berada di dada bidang Grimmjow—, lalu mulai memasukkan penisnya ke dalam vagina Neliel.

"Ssh... Sakit."

"Baru lima bulan, tapi kenapa sempit sekali jadinya, ya?"

"Grimmhh... Ssshh..." Neliel mendesah hebat kala penis Grimmjow sudah masuk seluruhnya.

"Tenang, ya," Grimmjow mulai membimbing Neliel untuk menaik turunkan pinggulnya.

"Ooh... Nghhh..."

Keduanya bergantian mendesah, merasakan kenikmatan yang selama lima bulan ini mereka tunda. Neliel menaik turunkan pinggulnya berirama, membuat payudaranya bergoyang dan menggoda untuk Grimmjow. Kini, pria berambut biru itu mulai meremas payudara wanita yang sedang bercinta dengannya.

"Nghh... Grimmhhh..."

Desahan Neliel bagai pemacu semangat untuk Grimmjow, ia semakin senang mempermainkan payudara istrinya itu, dan mulai melahapnya. Neliel mendesah semakin kuat dan meremas dada bidang Grimmjow.

"Grimmhhh, aku... sampai..."

"Nel..."

Keduanya klimaks bersamaan, dan dengan cepat, Grimmjow mengubah posisi mereka. Untungnya ia sempat mencabut penisnya, dan memindahkan tubuh Neliel ke sampingnya sebelum akhirnya kehabisan tenaga. Neliel mengatur nafasnya, lalu merebahkan kepalanya ke dada Grimmjow. Grimmjow membelai rambut hijau panjang istrinya itu.

"Terima kasih, sayang..."

"Ya. Terima kasih juga sempat menjaga bayi kita," Neliel tersenyum.

"Aihiteru, sayangku, Nel," Grimmjow mengecup rambut istrinya.

"Aishiteru yo."


Karakura Airport, 10.00

"Selamat datang, Tesla-sama," seorang wanita berkuncir dua menyambut seorang pria berambut blonde.

"Ah yaa, Loly. Terima kasih."

"Tesla-sama, ke mana tujuan anda?"

"Oh ya, tentu saja mencari pembunuh kakakku. Grimmjow Jeagerjaques. Si keparat itu."

.

.

~(Maybe) OWARI~

.

.


Yes readers, kelanjutan fic ini ada di tangan anda. Lanjutkan konfliknya nggak, ya? Pikiran anda pasti : Yah, bloody-nya kurang! Lemonnya kemanisan! (Author ga bakat!) #pletak Setelah Cha baca ulang, comment Cha sendiri cuma satu : Kenapa fic ini terkesan seperti sinetron atau pun reality show? =o= Yah, maafkanlah Cha yang tidak berbakat untuk membuat fic rated M.

Grimmjow : Berarti Cha gagal?

Cha : *pundung* Nii-san, ngomongnya jangan to the point gitu dong.

Neliel : Hayo loh Grimmjooow!

Grimmjow : Kok aku?

Szayel : Kamu yang bikin author pundung!

Nnoitra : *datang marah-marah* AKU MATI? Heh, kau tega sekali sih?

Cha : I-Itu...

Grimmjow : *minggat*

Nnoitra : Tanggung jawab! Ayo kuburkan jasadku!

Cha : Minta tolong Tesla!

Tesla : *bersin* Memang aku tukang gali kubur apa?

Cha : Arggh! Sudahlah! Ayo balas review yang nggak log in :

:: Ayano :: Hehehe... Memang Nnoitra disini dibuat 'tergila-gila' pada Neliel. Iyaaa, Ulqui dkk. ;)

:: Fay :: Makasih, Fay. Tapi aku sudah janji untuk cepat menyelesaikan fic ini, jadi masalahnya nggak dibikin terlalu kompleks. Yuph! Ulquiorra dkk ;)

:: razor :: Gigit B*lly! Gigit B*lly! (Kan katanya geregetan) XDD

:: AssassinsJr :: Yok! Bunuh! Bunuh! Mau dibikin sadis, tapi gue kan orangnya nggak tegaan #dikaplak Nggak bakat.

:: Rez :: Besok kalo kamu baca lagi, aku hukum, ya? Hihihi... Habis kamu juga yang iseng baca-baca. Nggak, ;P

:: Jeger :: Sebenernya sih diberani beraniin. Hehehe... Hee? Iya, Cha kurang sreg kalo buat fic yang berpusat pada satu scene saja. #disambit ;)

:: Dark-YachiRuki :: Selamat datang! #pletak Iyaaa! Permennya? Silahkan ambil di toko permen terdekat. Hehehe...

Nee, mind to RnR, readers?