Chapter 4! Huooo ternyata saya bisa juga bikin cerita panjang begini. Cerita ini juga jadi salah satu pencapaian yang sangat besar buat saya untuk saat ini. Karena sebelum sebelumnya sering bikin tapi gak pernah ada yang bisa selese kayak yang ini. Terima kasih saya tujukan kepada RyuunaChan dan Ryo Saman yang paling rajin review fanfic ini. Karena tanpa review kalian saya gak bakal punya semangat buat ngelanjutin, beneran deh u.u

Sekian openingnya, mari lanjut ke pokok cerita. Apakah Kanade akan menerima Otonashi? Apakah ia akan menolak? Atau Otonashi bakal digantungin sama Kanade? Ayo tebak sama-sama fufufu~


"Maukah kamu.. jadi pacarku?" Kanade merasa terkejut dengan pernyataan Otonashi yang terlalu langsung. Ia juga suka pada Otonashi, tapi apa ia siap untuk pacaran? Kanade belum pernah pacaran sebelumnya. Jadi, pacaran bisa jadi sesuatu yang dapat menambah pengalamannya. Tapi tapi tapi.. Apa ia sudah benar-benar siap untuk merasakan pahit manis sebuah hubungan?

"Kanade-chan, kau kah itu?" sebelum Kanade berpikir lebih jauh lagi, ibunya memanggil dari depan pintu. Mungkin karena mendengar suara-suara dari dalam rumah. Ibu pun mendatangi Kanade dan Otonashi yang masih berada di depan pagar. Secara refleks Kanade langsung memperkenalkan lelaki yang ada di sampingnya itu.

"A-a-ah ibu! Ini perkenalkan, Otonashi Yuzuru. Kami habis dari Akihabara."

"Salam kenal, saya Otonashi Yuzuru. Terima kasih telah mengizinkan Kanade pergi bersama saya" Otonashi pun memperkenalkan dirinya dengan formal. Ibu tersenyum senang melihat pemuda tampan nan sopan mengantar anaknya pulang. Sungguh pemuda yang bertanggung jawab.

"Ara ara~ Saya ibunya Kanade, salam kenal juga ya. Otonashi-kun mau masuk dulu?"

"Ah tidak usah bu, sudah malam. Kanade, aku pulang dulu. Terima kasih untuk hari ini." ujar Otonashi sembari memberikan strap hape itu pada Kanade. Setelah berpamitan pula dengan ibu Kanade, Otonashi pun berjalan kaki menuju apartemennya. Ternyata apartemennya hanya berjarak sekitar 8 blok dari rumah Kanade.

Setelah Otonashi menghilang, Kanade menghela napas panjang. Ia memandangi strap hape yang diberikan Otonashi padanya. Kanade pun kembali ke kamarnya untuk berganti pakaian. Ia berpikir apa jadinya kalau ibunya tidak keluar tadi. Mungkin ia akan membatu di depan Otonashi. Kanade tsebenarnya sudah tahu apa jawaban dari pertanyaan Otonashi tadi. Tapi ia masih ragu apakah itu keputusan yang benar. Ia takut kalau hal seperti ini akan membuatnya menyesal di masa depan. Pikiran itu terbawa hingga Kanade tertidur.

Jalanan penuh kabut, sejauh mata memandang tidak ada orang di sekitar jalanan itu. Kanade pun terdiam di jalanan itu karena tidak tahu harus kemana. Tidak lama ada seseorang yang datang, orang itu membawa sesuatu di tangannya. Orang itu berjalan mendekat hingga ada di depan Kanade. Ternyata itu Otonashi. Otonashi pun tersenyum manis saat melihat Kanade di hadapannya. Dan ternyata dia membawa pisau di tangannya. Otonashi mengarahkan pisau itu ke leher Kanade..

"!"

Kanade pun terbangun dari mimpinya. Mimpi buruk. Mimpi yang sangat menyeramkan karena Otonashi berusaha membunuhnya dengan pisau. Tetapi untung itu hanya mimpi dan semoga tetap menjadi mimpi yang tak akan pernah ia lihat lagi. Hal yang pertama kali Kanade lakukan adalah mengecek hapenya, oh tidak ada e-mail. Dari jendela terpancar cahaya matahari yang sangat terang dan panas pertanda hari sudah siang. Untung ini hari Minggu, batin Kanade.

Untuk mencerahkan suasana setelah mimpi buruk tadi, Kanade menyalakan radio dan kebetulan lagi Girls DeMo yang diputar. Kanade ikut menyanyikan lagu itu sambil merapikan kamarnya. Morning Dreamer, lagu untuk para pemimpi yang malas untuk bangun tidur.

mezamashidokei ga ga naritateteru
onegai mou sukoshi nemurasete

kinou wa GIG de sono ato nomikai de

mochiron osake wa nomenai nda kedo juusu na nda kedo

isogashii hibi o majime ni ikiru

kono atashime ni douka nemuri o

chanto okitara shinkyoku kikaseteageru

mochiron hikigatari de hamori wa onegai

tetoriashitori oshieteageru yo shinpainai

sou iya ichigen kireteta kattekite onegai!

The alarm clock is ringing loudly in my ears.
Please, let me sleep for a little more.
At the drinking party after yesterday's gig,
I couldn't drink alcohol, of course, but I had juice. Still...
I'm living seriously through busy days.
So somehow, let this kind of me sleep...
When I actually get up, I'll let you hear the new song.
Of course, when I sing and play, the harmony is all yours.
I'll teach you as attentively as I can, so don't you worry.
Ah, right, I broke a string. Go out and buy some, please!

Dan lagu pun berakhir saat Kanade selesai merapikan kamarnya.

'TRING!' bunyi tanda e-mail masuk. Ternyata dari Otonashi.

"Ohayou Kanade-chan, konser tadi malam sangat menyenangkan ya. Sepertinya aku juga semakin tertarik dengan lagu-lagu Girls DeMo. Kapan-kapan kita pergi ke konser mereka lagi ya~ Untuk pertanyaanku yang kemarin tidak usah dijawab. Aku tahu hal itu terlalu mendadak bagimu. Karena berada di sampingmu saja sudah cukup. Tidak usah dikhawatirkan ya. Dan untuk beberapa hari ke depan aku akan giat belajar karena ujianku diadakan hari Jumat. Ganbarimasu!" Huwaaaa ternyata Otonashi khawatir tentang yang kemarin. Kanade jadi mengingat lagi adegan yang terjadi semalam. Tetapi untungnya Otonashi sangat baik hati dan tidak memaksa Kanade untuk menjawab pertanyaan itu.

"Kanade, sarapan!" suara ibu memanggil dari dapur. Dengan langkah-langkah bahagia Kanade menghampiri meja makan. Tetapi di meja makan ada seseorang yang membuat pagi Kanade menjadi sedikit lebih suram.

"Naoi! Ada apa kau disini pagi-pagi?" Naoi hanya mengumbar senyum bodohnya dan kemudian menghirup susu coklat buatan ibu. Tetapi karena lapar, Kanade ikut duduk di depan meja makan dan mengoleskan selai di rotinya.

"Orang tuaku sedang ada urusan dan mereka kembali ke Hokkaido, jadi aku sendirian di rumah dan tante menyuruhku sarapan di sini." Oh begitu. Terserah lah kalau begitu. Sebenarnya aku juga tidak peduli kalau dia terlantar di dalam rumahnya, batin Kanade sinis.

"Oh iya, Kanade tolong buang sampah ini ke tempat pembuangan. Ibu takut semut menggerogoti plastiknya"

"Ah biar kubantu Kanade!" plastik-plastik sampah itu dibawa Naoi dengan wajah sok super hero. Mungkin ia juga merasa telah berhutang budi sama ibu Kanade karena telah berbaik hati menerimanya di rumah itu. Sambil berjalan menuju tempat pembuangan, Naoi bertanya mengenai Akihabara ke Kanade yang terlihat terganggu. Tetapi sepertinya Naoi tidak sadar dan terus bertanya dengan semangat.

"Kanade-chan, Akibarara itu tempat yang seperti apa?"

"Akihabara!"

"Oh iya Akirabahara, apa banyak toko disana?"

"Akihabara!"

"Aku dengar di Akibahara banyak toko yang menjual manga dan anime benarkah?"

"A-KI-HA-BA-RA!"

"A-ki-ra-ba-ra?"

"AKIHABARA! Cari saja sendiri di internet!" Naoi yang terbengong-bengong dengan polosnya pun akhirnya ditinggal oleh Kanade yang kesal karena ia terus salah saat menyebut Akihabara. Yare yare~

-oOo-

Di lain tempat, Otonashi sedang belajar dengan giat sambil melahap sarapannya. Ujian masuk ke Universitas Tokyo dimulai pada hari Jumat, sisa 5 hari lagi dari hari Minggu yang cerah ini. Jadi ia harus ekstra giat untuk beberapa hari ke depan. Meja belajar Otonashi terasa bergetar karena hapenya mendapatkan e-mail baru. E-mail dari Kanade.

"Un kapan-kapan kita pergi ke Akihabara lagi ya! Ganbatte ne Otonashi-kun, kau harus tetap makan dengan teratur dan juga istirahat yang cukup untuk hari ujianmu nanti. Dan kalau kau lulus ujian masuk aku ingin membicarakan sesuatu denganmu. Tetapi kau harus lulus dulu!" mau tidak mau Otonashi penasaran dengan apa yang ingin dibicarakan oleh Kanade. Tetapi sebelumnya ia harus lulus ujian dulu dan baru bisa bertanya lebih jauh. Otonashi menjadi semakin semangat untuk belajar dan tak terasa hari pun sudah semakin gelap~

-oOo-

-Hari Ujian-

Suhu udara yang biasa-biasa saja terasa menjadi lebih dingin untuk Otonashi di sepanjang jalannya menuju tempat ujian. Sesampainya di depan tempat ujian Otonashi merasa sakit perut yang luar biasa dan entah datang dari mana. Rasanya ia ingin membalikkan badan dan kemudian pulang ke rumah. Selain itu nomor ujian yang ia dapat terasa sangat tidak enak untuk dilihat, nomor 2013.

"Ugh bagaimana ini.."

"Dan kenapa nomor ujianku sejelek ini?" kertas ujian itu digumpal-gumpalnya hingga berbentuk bola, tetapi kemudian ia kembalikan seperti semula walaupun bekas gumpalannya sangat terlihat.

Disaat genting seperti ini, datanglah sebuah e-mail dari Kanade yang berisi dukungan moral. Sakit perut bayangan itu pun perlahan mulai menghilang, dan dari kejauhan terdengar suara Kanade yang berteriak "Semangat Otonashi-kun!". Saat Otonashi melihat ke belakang, ternyata itu memang Kanade. Kanade menghampiri Otonashi dan memberikannya sesuatu.

"Ini jimat untuk keberhasilan ujianmu hari ini, aku mengambilnya di kuil pagi ini." Kanade kemudian menaruh jimat itu di tangan Otonashi dan kemudian kembali ke rumahnya dengan kata-kata terakhirnya.

"Kau pasti bisa!"

Setelah itu Otonashi pun pergi ke ruang ujian dengan tenang, dengan jimat dari Kanade ia percaya semua soal ujian dapat ia selesaikan. Waktu 3 jam untuk 100 soal yang terdiri dari beberapa mata pelajaran sangatlah sedikit. Apakah ia dapat menyelesaikan semua soal ujian yang dihidangkan untuknya?

"Yak kalian boleh mulai mengerjakan soal ujiannya." sang pengawas ujian telah memberikan izin untuk mengerjakan soal ujian. 3 jam yang menentukan telah dimulai. Otonashi mulai membuka halaman pertama dengan tenang dan mulai memilih jawaban satu persatu. Di sekelilingnya terlihat peserta ujian lain yang terlihat sangat pintar dan mengerjakan soal dengan kecepatan kilat. Hal tersebut tak menggoyahkan Otonashi sedikitpun. Mungkin hal ini berkat jimat dari Kanade. Ia menaruh jimat itu di saku kemejanya.

90 soal telah dikerjakan Otonashi dengan baik, sisa 10 soal lagi dan ia berhasil mengerjakan semua soal. Waktu yang semakin tipis juga menambah tegang suasana ujian tersebut.

"Baiklah waktunya sudah habis. Mohon kumpulkan kertas ujian dan segera meninggalkan ruangan ini." 3 soal lagi. Padahal sedikit lagi. Dengan pasrah Otonashi meninggalkan ruangan ujian dan berharap tiga soal itu tidak mengurangi nilainya. Untuk saat ini yang dapat dilakukannya hanya pulang ke rumah dan menunggu hasilnya tiga hari lagi.

-oOo-

-Hari Pengumuman-

Orang-orang berkerumun di sekitar papan pengumuman. Beberapa diantaranya berteriak senang dan mengepalkan tangannya ke udara. Beberapa lainnya terlihat sangat suram dan beberapa menangis karena gagal. Otonashi merasa ragu untuk maju dan melihat papan pengumuman itu. Kertas yang berisi nomor ujian 2013 tergenggam erat di tangan kanan Otonashi bersama dengan jimat yang diberikan Kanade.

"Yosh!" dengan langkah yang mantap Ia masuk ke dalam kerumunan itu dan berdesak-desakan hingga ia dapat melihat papan pengumuman. Karena papannya sangat besar dan orang yang berkerumun juga sangat banyak, Otonashi pun semakin kesulitan untuk mencari nama dan nomor ujiannya. Setelah berdesak-desakan dan mencari dengan teliti, akhirnya Otonashi menemukan nomor ujian yang hampir mendekati nomor ujiannya.

"Sedikit lagi.."

"!"

-To Be Continue-


Sampai situ dulu chapter 4-nyaaaa~ Untuk yang udah baca fanfic ini domo arigatou gozaimashita! Mohon review fanfic ini supaya bisa diperbaiki kesalahannya di chapter selanjutnya. Dan ngomong-ngomong sekarang saya sudah jadi anak kuliahan di salah satu universitas di Bogor~ Saya ambil sastra Jepang dan sekarang saya jadi bisa nonton anime sama dorama lebih banyak lagi fufu~ *digebukin massa*

Dan juga selamat liburan akhir tahun! Saya sendiri sebenernya ga punya banyak waktu libur mengingat hari kuliah yang sangat tidak teratur *jongkok di pojokan*

Untuk lagu-lagu Girls Dead Monsters silahkan cari di google! Lagu-lagu yang saya pake di fanfic ini semuanya lagu dari Girls Dead Monsters. Kalau kalian gak pernah denger lagu "Morning Dreamer" yang ada di chapter ini, silahkan download di tempat download kesayangan mungkin ada ._. Lagu ini enak banget didenger pagi-pagi, dijamin pengen tidur lagi abis itu lol.

Ya udah deh sekian dari saya, semoga kita bisa ketemu lagi di chapter selanjutnya ^^