Bones in the Tiles by Ardhan Winchester

Kaze no Stigma by Takahiro Yamato


Langkah kaki terhenti di hadapan pintu yang masih terbuka, alis menyatu dalam keterkejutan, tatapan mata terarah pada benda-benda yang teronggok, menggunung di ubin lantai.

Tulang.

Tulang yang besar, berbentuk pipa. Tulang yang kecil, seperti jemari. Tulang yang lebar… belikat? Oh, tak perlu menghafalkan segala macam tulang, intinya adalah seluruhnya seakan digeletakkan begitu saja di tengah ruangan.

Sang tamu terheran-heran. Tumben sekali tuan rumah di sampingnya ini tak membersihkan apartemen kebanggaannya. Apalagi… benda yang mengotori sedikit tak biasa. Tulang.

"Kau… pindah pekerjaan menjadi arkeolog, Kazuma?" Ayano bertanya bingung.

"Itu pekerjaan temanku," jawab sang pria datar. Ia beranjak menuju dapur, tanpa mempedulikan potongan-potongan tulang yang diam tanpa kata di dekat tiap langkahnya. Bahkan beberapa terinjak olehnya secara tak sengaja—mungkin.

Dengan kening masih berkerut, Ayano berjingkat mengikuti Kazuma—berhati-hati agar tak menginjak apapun. "Kau punya teman?"sahutnya tak percaya. Rambutnya bergoyang seirama dengan langkahnya.

Kazuma memilih tak menanggapi pertanyaan barusan. "Kau mau minum apa, Ayano?"

Sang gadis memutar bola matanya, menelan kekesalan akibat tak diacuhkan. "Lalu kenapa temanmu menyimpan penemuannya di sini?"

Sebuah helaan nafas panjang—dan berat—terdengar. "Nampaknya undangan menginap dariku dianggapnya sama dengan menjadikan apartemenku sebagai gudang penyimpanannya."

Ayano ternganga. Bukan mengenai nada jengkel dan sorot mata lelaki tersebut jelas-jelas menunjukkan betapa ia tak menyukai apartemennya yang mewah dikotori dengan tulang-belulang—yang sungguh khas Kazuma—tapi akibat 'undangan menginap' yang dikatakannya. Sudah cukup mengejutkan bagi Ayano saat mengetahui Kazuma memiliki teman, apalagi sepertinya 'teman' ini cukup dekat dengannya.

Tunggu. Kirika belum berganti profesi menjadi arkeolog kan?

"Hmmm?" Kazuma menoleh hanya untuk mendapati wajah Ayano yang murung. "Kenapa?"

Sang gadis buru-buru menggeleng. "Bu-bukan apa-apa," ujarnya cepat.

Raut wajah Ayano masih tetap aneh, sehingga Kazuma mulai cemas. "Kau benar-benar tak apa-apa?"

Ayano tergugu ditanya seperti itu. Sejujurnya, ia penasaran dengan 'teman' ini. "Te-temanmu itu…," akhirnya ia mengucap perlahan. Kepala ditundukkan, mata menatap lantai—tak mampu memandang lapisan merah gelap milik sang pria. Semburat merah mewarnai pipi. "Dia… apakah dia… perempuan?"

"Heh." Seringai sang pria mengembang dalam sekejap. "Apa? Kau cemburu, Ayano?"

"Ti-tidak!" Rona merah sekarang telah menutupi seluruh wajah, menyangkal apa yang baru saja dikatakan.

Melihat raut sang gadis, kali ini sang pria tertawa.

"Jangan tertawa!"

Bentakan sang gadis tak dihiraukan. Tawa masih bergema di apartemen yang luas.

"BERHENTI, KUBILANG!"

Teriakan sang gadis dikalahkan oleh tawa sang pria.

"KAAA-ZUUUU-MAAAAAAA~!"

Tulang-belulang yang terdapat di lantai ruang tamu apartemen tersebut menjadi saksi saat sang gadis mengeluarkan pedang apinya dan menebas sang pria tanpa ampun.

~end~


sebuah drabble ngaco yang saya bikin untuk memenuhi proyek bulan oktober: menulis satu fic untuk satu hari, sesuai dengan tema dari livejournal community 31days (bones in the tiles untuk tema tanggal satu oktober). uh, telat beberapa menit :(. not my best piece, but at least i write again, fellas :D.

concrit selalu diterima dengan tangan terbuka :)