My Teacher My Husband

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Rate : gtw

Genre : Romance

Pair : MinaKushi

Chapter 6! Maaf kalo makin jelek. Saya author baru soalnya!

Setelah pesta selesai, Minato dan Kushina pulang ke rumah Minato. Tepatnya rumah mereka. Dan mereka akan terkejut melihat apa yang ada...

Chapter 6

Kushina belum pernah masuk ke kamar Minato. Karena Minato tidak mengijinkannya. Selain itu, semua ruangan sudah. Tapi hanya ada 1 kamar. Apalagi Kushina sudah setuju.

"Nyonya Namikaze," panggil Minato setengah menggoda,"selamat datang di rumah barumu."

"Biasa aja napa?" ujar Kushina acuh tak acuh. Kan bukan kali pertama dia ke sini.

"Tunggu dulu Kushina. Kau belum boleh masuk kamar."

"Kenapa? Aku udah capek! Mau tid-" Kushina baru ingat mulai sekarang dia harus tidur dengan Minato.

"Tidur? Nanti saja."

"Mau ganti baju tauuu. Ni baju udah ribet, berat, norak lagi!"

"Nggak norak, seperti yang sudah kubilang. Kau sangat cantik memakainya. Coba kalau kau tak galak, pasti cowok-cowok sudah banyak yang naksir padamu."

"Pujian atau ejekan?"

"Menurutmu?"

"Semuanya."

"Ya sudah. Ayo ke kamar. Tapi, kau harus menutup matamu dulu."

"Kenapa?"

"Ra-ha-si-a," Minato tersenyum misterius. Tangannya menutup mata Kushina dengan lembut. Kushina hanya bisa pasrah ketika senseinya itu menutup matanya. Minato terkekeh geli. Ia menggiring Kushina ke kamarnya.

"Sudah belum, sensei?"

"Ini bukan di sekolah, panggil saja Minato. Tanpa embel-embel apapun. Toh, kalau mau manggil suamiku juga boleh," ujar Minato dangan nada menggoda.

"Ck, baiklah. Baka Minato, udah belum?"

"Baka? Dasar, kau sendiri juga sama, Baka Kushina. Nah, sampai." Minato melepas tangannya dari mata Kushina. Perlahan Kushina membuka matanya.

Kamar Minato sudah didekor ulang. Lemarinya diperluas untuk 2 orang. Kamar mandi tersambung dengan kamarnya. Ada peralatan musik, seperti piano, biola dan gitar. Juga 2 meja, 1 berwarna biru untuk Minato dan merah untuk Kushina. Barang Kushina sudah di tata. Dan tempat tidurnya lumayan besar untuk 2 orang. Sepreinya berwarna kalem. Dinding kamarnya juga berwarna coklat pastel. Ada rak buku juga.

"Bagaimana? Kau suka?" tanya Minato lembut.

"Ya. Kamarmu sangat besar rupanya. Pantes nggak ada 2 kamar."

Minato terkekeh. Ia senang melihat Kushina menyukainya.

"Mulai sekarang, ini kamarmu juga. Di mejamu, kusiapkan CD-Cdmu. Dan foto keluargamu."

Kushina mengangguk. Ia terbawa oleh Minato.

"Nah, apa kau jadi ganti baju?" tanya Minato.

"Oh, iya. Sebentar."

Kushina mengambil baju dari lemarinya. Minato mendekatinya. Saat mereka sampai, rupanya sudah malam. Minato melepas sirkam Kushina dan menggerai rambut Kushina.

"Ng? Oh, terimakasih." Kushina kaget. Wajahnya tersipu malu.

"Hm..."

"Apa?"

"Apa perlu kubantu membuka bajumu juga?"

'BLETAK!'

Tonjokan Kushina telak mengenai kepalanya.

"Aduduh, sakit!"

"Salahmu! Dasar mesum!" Kushina ke kamar mandi. Mandi dan bersih-bersih. Mengganti bajunya dengan baju tidur.

'Galak amat. Harusnya aku tidak menggodanya. Aduh, sakit banget.' Batin Minato. Minato mengambil bajunya dan bersiap ganti di kamarnya.

Kushina pov~

Aku menyukai kamarnya. Bagus sekali. Tapi, kenapa aku terbawa olehnya ya? Apa aku sungguh-sungguh denagn perasaanku ini? Aku berdebar saat dia membantuku melepas sirkam dan menggerai rambutku. Tapi perkataan selanjutnya membuatku marah. Jadi kutonjok saja. Dasar menyebalkan! Mesum! Aku menyalakan shower. Airnya hangat. Kubasuh diriku. Hm... Segar. Selesai, aku mengenakan baju tidurku. Aku kembali ke kamar... TIDAAAAKKKK!

Normal pov~

Kushina masuk ke kamarnya. Dan melihat 'pemandangan'. Minato bertelanjang dada. Hendak memakai bajunya. Kushina terbelalak kaget. Minato yang sadar, langsung memakai bajunya.

Kushina pov~

YA AMPUNN! Kenapa aku salah waktu sih? Bego! Oke, Minato memang tidak sengaja kurasa, karena dia memegang bajunya. Ya ampun, badannya bagus banget. Mataku sampai terbelalak. Dadanya bidang, six pack pula! Kurasa Minato sadar. Dia cepat-cepat memakai bajunya.

"Ku-kushina..." Mukanya merah padam.

"Go-gomen. Aku tidak bermaksud. Aku salah waktu masuk. Go-gomen."

Minato melengos.

"Sudahlah," nadanya agak kasar," ayo tidur."

Aku menurut. Dia tidur di sisi kanan, dan aku kiri. Dia menyerahkan selimut.

"Nih, kau tidak mau satu selimut denganku kan?"

"I-iya." Aku menerima selimut itu. Aku ke tempat tidur. Aku berdebar-debar. Ini pertama kalinya aku tidur sama cowok. Aku tiduran dan menutup tubuhku dengan selimut. Kurasa, bukannya memperbaiki hubungan, tapi aku malah memperparahnya. Pernikahan ini akan hancur. Aku sedih memikirkannya. Dan, aku tertidur.

Minato pov~

Sial. Aku malah kasar hanya karena ia melihatku bertelanjang dada. Aku kesal pada diriku. Aku ke tempat tidur, jujur saja, aku gemetaran. Ini pertama kalinya bagiku tidur sama cewek. Apalagi, adik sahabatku yang merupakan istriku mulai hari ini. Aku memalingkan tubuhku. Aku menghadap ke arah kanan, dia kiri. Aku berpikir. Mulai kapan aku harus menerapkan peraturannya? Aku berusaha menyenangkannya. Tapi, tadi aku diberitahu. Sekarang dia makin terancam. Pokonya, aku harus menerapkan peraturan dan menjaganya. Cukup lama aku berpikir, aku menengok ke arahnya. Sudah tidur. Dia pasti lelah. Aku mendekatinya. Aku melihat wajahnya. Lembut, manis, tenang, seperti gadis normal lainnya. Andai kau tahu, mulai besok kau akan menderita karena aku yang wajib menerapkan aturan yang ketat. Aku mengelus rambutnya. Pelan, supaya ia tidak terbangun. Rambutnya halus, warna merahnya indah. Tapi, kudengar dari temannya dia benci rambutnya karena ejekan tomatnya itu. Aku berjanji pada diriku. Aku akan membuatnya menyukai rambutnya. Aku mengantuk. Aku kembali ke tempatku semula dan tidur.

Kushina pov~

Paginya.

Aku terbangun. Pukul 7. Aku tidur lama kurasa. Untung ini hari Minggu. Jadi tidak apa-apa. Aku menghela nafas. Statusku bukan lajang lagi. Tapi istri Minato Namikaze, senseiku, sahabat aniki. Dan, ia tidur seranjang denganku. Aku melihat ke arahnya. Masih tidur rupanya. Aku mendekat. Wajahnya lucu juga saat tidur. Seperti anak kecil. Kurasa, aku benar-benar jatuh cinta padanya. Aku menghela nafas. Padahal, aku baru mengenalnya beberapa hari.

Aku meninggalkan tempat tidur. Mengambil baju dan ke kamar mandi. Selesai mandi, ia masih juga tidur. Kuputuskan membuat sarapan. Aku ke dapur. Mengambil bahan makanan. Aku memasak. Aku dapat bocoran dari Kakashi, Minato suka makan sukiyaki. Jadi kubuatkan saja.

Minato pov~

Aku terbangun. Kulirik jam. Jam 8. Ha? Aku lama sekali tidurnya! Dan kulirik ke sebelah. Tempat harusnya istriku berada. Tidak ada? Sudah bangunkah? Aku tergesa-gesa mandi. Aku memakai kaos biruku dan celana jeans. Jangan-jangan dia menghilang.

Aku ke ruang makan. Kulihat ia menungguku. Syukurlah.

"Ohayou, baka," sapanya sambil tersenyum.

"Ohayou," balasku agak dingin.

"Ayo makan. Aku sudah membuatkan sukiyaki kesukaanmu," ujarnya ramah.

Kusangka dia marah karena semalam. Ternyata tidak. Tunggu, kenapa dia tahu makanan kesukaanku? Pasti baka otoutou membocorkannya. Dia juga sudah membuatkan kopi. Aku memakan sukiyakinya.

"Bagaimana? Enak?" tanyanya.

Aku sungguh tak enak hati bila dia tahu mulai hari ini aku akan mengekangnya. Berat rasanya aku harus mengekangnya. Padahal dia masih muda, 17 tahun, harusnya dia menikmati masanya sebagai remaja. Dan berpacaran. Bukannya menikah denganku. Tapi, rasa masakannya sangat enak. Lebih enak daripada masakan Kaasan.

"Ng... Enak kok."

"Begitu?"

"Ya."

"Ya sudah. Makan saja."

Aku makan. Susah rasanya makan sambil memikirkan kemungkinan terburuk yang akan terjadi padanya. Dan aku yakin, dia akan semakin membenciku. Seandainya dia mengerti apa yang sebenarnya terjadi pada keluarganya...

Normal pov~

Esoknya. Di sekolah...

"Kushi-chan!" teriak Mikoto memanggil Kushina.

"Hm? Mikoto? Ada apa?" tanya Kushina begitu Kushina masuk ke kelas.

Ia menaruh tasnya di bangkunya.

"Gimana?"

"Apanya?"

"Itu lho... 'itu'"

"Oh, tidak ngapa-ngapain."

"He? Bukannya kalian pasangan pengantin ba-" mulut Mikoto dibekep tangannya Kushina.

"Jangan ngomong keras-keras!"

"Go-gomen. Masa ngga ngapa-ngapain? Bukannya harusnya maksudku 'itu'"

"Beneran kok. Aku masih 17 tahun, jadi nunda," Kushina bohong. 'Syaratnya'

"Sayang. Eh, yang kemarin belum jawab lho."

"Apa?"

"Gimana rasanya ciuman?"

Muka Kushina merah padam.

"Kushina? Eh, Nyonya Namikaze?"

"Miko, dibilangin!"

"Maaf."

"Hm... Gimana ya? Aneh."

"Aneh?"

"Aku berdebar-debar ketika dia menciumku."

"Fufufufufu. Benar dugaanku. Kau jatuh cinta padanya kan? Akui saja."

"Ssstt."

"Benar kan?"

Kushina mengangguk. Wajahnya merah. Malu.

"Iya, kurasa. Eh, kalau mau tahu rasanya ciuman, nyoba aja sana sama Fugaku."

"Ngawur."

"Siapa tau aja Fugaku uda ngebet pengen nyium. Wahahahahaha!" Kushina tertawa.

"Sssstttt. Bakoro dateng!" Padahal muka Mikoto merah kaya kepiting rebus.

"Hahahahaha. Iya-iya!"

Bakoro masuk ke ruangan.

"Ohayou, anak-anak!"

"Ohayou, Sensei!"

"Hari ini, kita belajar tentang perkembang biakan ular. Bla bla bla bla bla blablabla.."

"Yang benar saja! Aku capek tau, Bakoro! Malah dikasih tugas!"teriak Kushina dalam hati. Kushina sibuk terus. Meyelesaikan tetek bengek pernikahannya dan kemarin seharian marah-marah pada Minato. Minato menerapkan banyak aturan. Kushina dikekang. Tidak boleh pergi tanpa Minato. Kushina sakit hati, orang yang dicintainya terlalu mengekangnya. Tanpa ia tahu, perasaan Minato juga terluka karena aturan-aturannya. Karena itu, mereka bertengkar. Dia bohong pada Mikoto.

Di ruang musik...

Minato memainkan musik. Lagu yang sama. Lagunya untuk Kushina. Mengalun lembut dan sedih.

"Arashii, hukumlah aku. Aku menyakiti hati adikmu. Menyakiti istriku. Menyakiti orang yang kucintai. Aku tahu ini demi kebaikannya. Tapi ini terlalu kejam untuknya. Di usianya yang masih muda, harus menikah denganku. Arashii, apa kau akan mengampuniku? Bahwa aku tidak memberi tahu padanya bagaimana cara kematianmu yang sebenarnya? Maaf, Kushina, Arashii," gumamnya sambil terus memainkan piano. Air menggenang di matanya. Mengalir di pipinya.

Don;t try to live so wise

Don't cry 'cause you're so right

Don't dry with fakes or fears,

'Cause you will hate yourself in the end...

Lagu yang tepat untuk keduanya saat ini... Kesukaan Kushidate.

(Author nggak nyanyi lho, takut ntar kacanya pecah semua)

2 bulan lebih kemudian... Tepatnya tanggal 9 Juli, sebelum ulang tahun Kushina yang ke 18.

2 bulan lebih Kushina sudah hidup bersama sang suami, Minato. 2 bulan penuh sengsara karena dikekang. 2 bulan lebih dia bertengkar terus dengan Minato. 2 bulan lebih mereka memendam kesedihan pada orang yang mereka cintai. 2 bulan lebih mereka tidak pernah tertawa riang.

TBC

Review pleaseeeee...

Salam, Yugito...