Perjodohan

Naruto © Masashi Kishimoto

Story © My Imagination

Warning : AU, OOC, Misstypo's AND SASUSAKU Pair.

Hope You like it!

Chapter 10

Sakura hanya terdiam, sembari meremas sebuah minuman kaleng ditangannya. Dan sesekali Ia menggeleng dan menepuk pipi montoknya, itu membuat Sasori berkali menatap si gadis dengan wajah aneh dan alis kiri yang terangkat tinggi. Ada apa dengan Sakura? Batinnya bertanya.

"Hei, hei kau itu kenapa sih?" akhirnya pertanyaan itu keluar juga, pemuda itu menopang dagu mengamati Sakura dari seberang meja.

"Heh?"

Sasori merunduk menghela nafas rendah, kemudian kembali mengintrogasi Sakura lewat tatapannya. "Bukan 'heh' Sakura, aku mau ceritamu," gusarnya.

Gadis beriris jade itu menggaruk tengkuknya tersenyum, namun tampak seperti sebuah ringisan. "Cerita? Cerita apa Sasori?"

Mengangkat bahu Sasori berkata. "Entahlah. Menurutmu. Heh?"

Meletakkan minumannya yang sepertinya sudah tandas separuh, Sakura dengan wajah memerah mengulur kelingking mungilnya pada Sasori. Pemuda itu hanya menampilkan ekspresi bingung. Hey, hey. Tampaknya Sakura berhasil menampilkan wajah bingung Sasori berkali-kali, hm?

"Kau tidak akan menceritakan ini pada siapa-pun, janji?"

Mengaitkan kelingkingnya, Sasori mengangguk dengan mantap.

"Tidak pada, Konan?"

"Iya."

"Pada anak di kelas?"

"Ya?"

"Pada orang tuamu? Atau orang tuaku?"

"Aha."

"Pada guru-guru?"

"Pasti."

"Pada paman tukang rumput?"

Sasori geram memutar bola matannya bosan. "Ti-da-k. Pa-da. Si-a-pa. Pu-n. Sakura!"

"Baiklah-'' kedua kelingking berpaut itu terlepas, Sakura memulai ceritanya dengan sebuah helaan nafas. "-ini sebenarnya sangat pribadi, dan aku hanya ingin membaginya denganmu. Karena kau adalah sahabat dekatku."

"Terimakasih sebelumnya. Jadi?"

Sakura mengulum senyumnya. "Sasuke-" Sasori mengangguk."- dia melamarku." Sambungnya dengan nada pelan dan dalam, tentu saja dengan raut merah menjalar pada tulang pipinya.

Hazel itu terbelalak. Sebenarnya Ia tahu ini akan terjadi, cepat atau lambat sekalipun. Ia hanya tak menyangka bahwa Sakura akan menyandang dan mengganti nama klannya secepat ini. Tentu saja menjadi Uchiha Sakura. Dengan status syah milik Uchiha Sasuke.

Bukankah Sasuke tampaknya tak pernah serius pada Sakura? Dan melihat beberapa kejadian diawal Ia menjejakkan kaki di sekolah itu, Sasori dapat tahu bagaimana sikap Sasuke pada Sakura–yang menurutnya teramat sangat cuek. Dari awal Ia mencium sesuatu yang aneh diantara hubungan keduanya. Sakura yang selalu saja bersedih dan tampak enggan jika tengah berada –atau berpapasan dengan Sasuke. Disitu, dapat ditarik sebuah kesimpulan, bahwa Sakura memang mencintai Sasuke yang –Ia tahu atau tidak- bahwa pemuda itu tidak menganggap adanya si gadis. Miris.

"Dia melamarmu?" Tanya Sasori ulang mencoba memastikan sekali lagi. Kalau saja tadi pendengarannya salah.

Sakura tersenyum malu, mengangguk dalam-dalam.

Sasori menepuk kepala pink itu, ikut tersenyum. "Aku akan hadir di acara itu." Tuturnya tulus.

Senyuman itu kian merekah.

"Kau adalah tamu special untukku."

"Hmm."

Sasori mengangguk masih tersenyum.

'Berani menyakiti adikku, akan ku pastikan kau menderita Uchiha!'

"Sabaku!"

Merasa terpanggil, Gaara menoleh Ia mengernyit menoleh pada pemuda yang memanggilnya. "Apa?" sahutnya, sekenanya.

Pemuda yang tadi memanggil Gaara, bersidekap. Wajah dingin itu terpancang jelas disana. "Aku ingin bicara padamu."

Gaara mengelap lengannya pada celana kain panjang coklat tua miliknya. "Bicara apa?" Ia bertanya sembari mengernyit. Kesempatan yang jarang terjadi diantara keduanya.

"Tentang Sakura."

Sebenarnya, Sasuke ijin tadi bukan untuk menemui guru atau semacamnya pada Sakura. Ya, dapat dilihat bukan, pemuda itu mendatangi Gaara. Musuh yang dingin namun bergerak cepat ingin mengambil hak miliknya. Haruno Sakura. Apa fakta kuat cincin yang digunakan Sakura dan Sasuke kurang akurat ya? Sampai pemuda berambut sama dengan Sasori itu masih berani datang dan menggoda Sakura-nya. Tipe pantang menyerah rupanya.

Biar pemuda itu sadar, maka Ia ingin membicarakan hal ini, secara khusus. Bahwa apapun itu, jika sudah menjadi miliknya, jangan pernah mencoba merebutnya. Sampai mati sekalipun hal itu tetap miliknya, apalagi ini menyangkut gadis yang dicintainya.

"Jauhi Sakura!" perintah telak dari Sasuke, Gaara tersenyum meremehkan.

"Jika tidak?"

"Kau akan menyesal karena sudah dilahirkan." Balas Sasuke, dengan nada dalam mengancam.

Gaara menyeringai, mendengus keras kemudian berkata. "Kau sombong Uchiha. Tapi asal kau tahu-" pemuda itu menatap tajam Sasuke yang tak mau kalah tengah membalas tatapan itu. "-Sakura akan memilih ku, karena dia mencintaiku, kau tahu, hmm?"

Onyx Sasuke berputar bosan. "Kisah lama. Sekarang dia akan menjadi milikku, dan kau-" Ia menunjuk Gaara sembari tersenyum menyebalkan, "-silahkan cari Sakura yang lain."

Melipat lengan baju hemnya, Gaara tampak tidak perduli akan asumsi Sasuke barusan. Namun secara tiba-tiba dan juga gerakan cepat tak terbaca, pukulan telak pada tulang pipi kiri Sasuke dilakukan oleh Gaara.

BUAGH

Pemuda itu tersungkur jatuh diatas tanah, Ia menggeram bangkit dan balas memukul Gaara. "Sialan!"

BUAGH

Tersungkur,Sasuke dengan sigap mencengkram kerah hem Gaara, dan menariknya mendekat dengan tangan kanannya. Sedang Gaara menatapnya tanpa ekspresi yang berarti.

BUAGH

"Sasuke!" Sakura berteriak, kemudian berlari mendekat. "Apa yang kau lakukan? Ya Tuhan, Gaara." Kaget, Sakura melepaskan cengkraman Sasuke pada kerah Gaara, membantu pemuda itu berdiri dengan mengalungkan lengannya pada pinggang Gaara dan lengan Gaara pada pundaknya.

"Hey Sakura!"

Sasuke meggeram memukul udara gusar. "Sial!" lalu tersenyum pahit. "Jadi ini jawabanmu, Sakura?"

"Dia kenapa?" Konan bertanya dengan nada berbisik kearah Sasori, sembari menunjuk Gaara yang tampak meringis saat Sakura menekan pelan perih diujung bibirnya.

"Berkelahi dengan Sasuke." Jawab Sasori sekenanya.

"Maafkan Sasuke, dia memang begitu." Sakura menatap Gaara yang mengangguk. "Tak apa, aku duluan yang memulainya."

Sakura mengernyit. "Kalian ada masalah?" Ia bertanya, tanpa tahu bahwa masalah dari semuanya adalah dirinya.

"Hanya masalah kecil-" Gaara beranjak, "-terimakasih sudah membantu."

Gadis itu mendongak, mengangguk setengah ragu. "Ya."

Detik berikutnya, Gaara sudah beranjak dari sana dengan tiga orang yang menatapnya bingung.

'Aku mundur.'

"Sasuke mana Saku? Dari tadi tidak ada, padahal sudah mulai senja."

Sakura meremas tangannya yang berpaut, menggeleng dengan tampang kosong. Pikirannya melayang pada hal-hal buruk yang terjadi pada calon suaminya itu. Namun segera tertepis saat Sasuke datang dengan wajah dingin.

"Dari mana?" tannya-nya sembari berjalan kearah Sasuke.

"Aku capek!" pemuda itu berlalu tanpa menoleh kearah Sakura lalu mendudukan diri pada bangku bis.

Sakura merunduk. Dan itu membuat Sasori geram, Ia menghampiri Sakura dan menepuk pundaknya. "Sudahlah, dia sedang tidak baik. Istirahatlah."

Sakura mengangguk, kemudian beranjak kearah bangkunya yang ada tepat di sebelah Sasuke. Ia memperhatikan Sasuke yang tengah menatap keluar jendela. Ingin bertanya, tapi takut, itu membuat Sakura hanya dapat menghela nafas pelan. Tunggu waktu yang tepat saja pikirnya. Sakura hampir terlonjak ketika Sasuke melakukan gerakan kecil. Detik berikutnya, pemuda itu sudah terpejam.

Mata jade Sakura mendapati darah yang sudah mengering pada ujung bibir Sasuke, Ia menarik tas disisi kakinya, mengorek isi tas tersebut. Sebuah kapas dan sebotol alcohol pembersih luka. Menuangkan sedikit cairan itu pada si kapas, Sakura memasukan kembali si kapas beserta alcohol itu pada sisi bagian depan tasnya.

Ia berputar, menghadap Sasuke. Menekan pelan bagian luka itu dan itu membuat Sasuke spontan mencengkram lengan Sakura agar menghentikan kegiatan mengobati lukanya yang mengering.

"Itu harus di bersihkan Sasu."Sakura berujar pelan.

Sasuke melepas kasar tangan Sakura. "Tidak perlu!" tampiknya menatap sengit Sakura.

Sakura terpaku saat pemuda itu bangkit berdiri pergi meninggalkannya. Sikap itu, kembali lagi, batinnya. Apa ajakan yang kemarin itu hanya sekedar sebuah lelucuon yang tak penting? Kemana sikap manisnya selama beberapa minggu ini selalu baik dan memperhatikannya? Entah, Sakura hanya dapat menggigit bibir bawahnya. Menahan diri agar tak menangis dengan menimbulkan suara dan membuat semua orang di dalam bis yang mau kembali ini mendengarnya, terutama Sasori.

Setidaknya, Ia hanya tidak ingin orang lain untuk tahu bagaimana perasaannya yang hancur saat ini. Cukup. Cukup Sakura sendiri yang merasakannya.

Sasuke sudah kembali, dan mendapati wajah damai Sakura kala tertidur. Pelan Ia mendudukan diri di samping si gadis. Pemuda berambut raven itu melepas jaket miliknya lalu menyelimutkan benda hangat berwarna cream coklat itu pada Sakura, pelan Ia memajukan badannya. Pemuda itu memejamkan matanya seiring ciuman hangat pada kening Sakura, kemudian Ia menatap wajah itu seintents mungkin dengan gumaman 'maaf' kecil terlafas darinya.

Ia tahu, bahwa Sakura pasti kecewa padanya, pemuda itu akan menyerah dan merelakan Sakura menjadi milik Gaara. Dia terlambat, dan kalah cepat dari Gaara. Tidak bodoh, Sasuke juga tahu diri, Ia tidak akan memaksakan apapun itu untuk menjadi miliknya. Jadi, lupakan tentang pernikahan putih impiannya.

Mungkin ini menggelikan, Sasuke tahu itu. Ia pernah berfantasi tentang pernikahan mereka. Dimana ada Ia dan juga Sakura dengan kimono putih beraksen tebaran bunga sakura tengah berhadapan dengannya. Gadis itu tampak sangat bahagia bersamanya, menjadi pinangannya. Berpaut, saling menatap satu sama lain. Seolah tak percaya ini adalah kenyataan yang manis yang mutlak pertama kali Ia rasakan.

Itu hanya fantasi, khayalan kosong yang tampaknya tak akan mungkin terwujud jadi nyata. Seperti pangeran Sherk yang berharap dapat menjadi tampan.

Ia memperhatikan gumpalan awan memerah yang ada di luar di balik kaca bis.

"Semua lengkap, dan harap tenang selama perjalanan pulang!"

Empat buah bis itu maju beriringan, di dalamnya, ada para siswa-dan siswi, serta para guru. Si supir-lah yang harus bertahan disini, menahan diri agar tidak mengantuk dan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Tapi tampaknya dari keempat bis itu hanya satu bis yang kita ambil sebagai tempat dimana kita memulai kisah pasangan Sasori dan juga Konan.

"Mungkin, hanya salah faham kecil-" si gadis menyahut, sembari membalik lembar novel. "-setidaknya, jika bicara, aku yakin semua akan clear." Tuturnya, matanya mengamati deret kata di sana.

Pemuda di sampingnya manggut, namun kemudian menoleh cepat kearah si gadis. "Kira-kira masalah mereka apa ya? Apa kau tak ingin tahu, Konan?" tanyanya dengan alis terangkat, dan menyeringai kearah Konan.

Konan mendengus, menutup si novel kasar. "Kau pikir aku ada jiwa penggosip, apa?" semburnya, matanya mendelik tak senang pada pertanyaan Sasori padanya barusan.

Sasori meringis, manggaruk tengkuknya. "Tidak juga."

Sebuah death glare dari Konan. Gadis itu kian menatap tak suka pada Sasori yang malah memencet hidung si gadis main-main.

"Kita jangan sampai seperti mereka ya, sayang~"

Detik berikutnya wajah Konan memerah, Ia melepas paksa tangan Sasori dari hidungnya.

"Apa maksudmu?" Ia bertanya dalam nada gugup, sembari mengusap batang hidungnya.

Mengangkat bahu cuek, Sasori kembali duduk santai menyandar pada bangkunya. "Kau jomblo, aku jomblo. Ya sudah, kita jadian saja."

Keputusan gila dari Sasori membuat Konan hanya bisa melebarkan bola matanya.

"Kau tidak-"

"Aku bisa mengatur segalanya." Sela Sasori. "Jadi-" Ia berbalik dan menatap Konan tajam, "-Kau adalah kekasihku, Ko-nan!"

Well si gadis menatapnya tak percaya. Demi Tuhan, apa pemuda berkepala merah ini sudah sinting?

"Sudah bangun, heh?"

"Eh?" Sakura mengerjap, mengusap matanya. Spontan si gadis menarik diri saat tahu bahwa kepalanya tadi tengah bersandar pada bahu pemuda di sebelahnya. "Maaf," gumamnya, pelan.

Sasuke menarik ujung alisnya.

"Ini, terimakasih. Maaf merepotkanmu Sa- um Uchiha." Sakura memberikan jaket itu pada Sasuke yang hanya diam terpekur ketika mendengar Sakura memanggilnya dengan nama clannya.

Hening.

Sakura sudah yakin akan ini, Sasuke memang berniat mempermainkannya. Ia hanya bisa menunduk dalam menahan airmatanya. Kenapa Sasuke sekejam ini padanya, apa Ia malu pada status Sakura yang anak pungut, sehingga pemuda itu dengan seenaknya mempermainkannya.

Jika ada tempat duduk yang kosong, mungkin Sakura akan pindah dari sini. Sikon ini membuatnya benar-benar mati rasa, susah bergerak. Bahkan untuk mengambil nafas dan mengeluarkanya saja Ia sudah takut.

"Kita baru sampai perbatasan."

Sakura menoleh, memandang aneh Sasuke dengan mata berkaca-kaca. Bahkan pemuda itu tidak mau memperhatikan dirinya yang mati-matian menahan tangis. Malah mengeluarkan sepatah kata yang Sakura tak ingin tahu.

"Hm."

"Kau kenapa?" pemuda itu kali ini bertanya, namun tanpa menatap kearahnya.

Sakura menggeleng. "Tidak!" sahutnya dengan nada bergetar. "Kau yang kenapa? Kau marah padaku?"

Sasuke menjawab dengan nada dingin. "Tidak."

Si gadis hanya tersenyum miris, kembali berucap dengan nada sama. "Kenapa kau selalu begini Sasuke?" tanyanya, menatap Sasuke yang masih pada posisinya. "Kau mau membuatku seperti ini terus? Iya?"

Kali ini Sasuke tersentak. Namun tetap menahan egonya untuk tak menoleh.

"Aku tahu posisiku disini. Statusku. Dan aku sadar untuk tidak-" Sakura menangis dalam, melanjutkan katanya dengan pelan. "-untuk tidak jatuh cinta pada pangeran sepertimu."

Spontan Sasuke menoleh, Ia membelalak tak percaya. "A-aku-"

"Kau tak perlu khawatir-" gadis itu tersenyum dengan linangan aitmatanya, "-kejadian kemarin anggap saja hanya mimpi, dan aku-"

"Kau memotongku!" Sasuke menarik kepala si gadis pada dadanya, memeluknya, erat. "Kenapa kau tak pernah bilang, hah?" tanyanya, sembari mengecup puncak kepala Sakura. "Kau membuatku ragu, tahu!"

Sakura menggeleng makin mengisak.

"Hey, jangan menangis seperti itu. Kau mau membuat semua orang tahu, heh?"

Sesampai di sekolah Sasuke, Sakura, Sasori dan Konan menjejakkan kakinya pada lapangan. Tak lupa siswa-dan siswi lain juga ada disana. Semuanya bertampang letih namun lega.

"Selamat siang!" suara dari microfon di depan sana menyapa pendengaran mereka. Siapa-pun sudah tahu itu siapa. Tsunade, guru pembimbing mereka.

"Siang!"

"Terimakasih-" guru itu mendehem pelan, "-seperti yang kita tahu, untuk IPA observasi alam ini dinyatakan. Sukses!"

Spontan riuh terdengar dari barisan, dengan berbagai teriakan riuh sorak-soray. Dan ada juga yang hanya tersenyum lega.

"Ehmmmmm!"

Well barisan itu kembali menenang.

"Hasil dari pengamatan kalian akan dibagikan oleh wali kelas kalian masing-masing pada esok hari. Sekarang bubar dan langsung pulang, jangan mampir kemana-mana!"

"Baik bu!"

Sasuke mengulum senyum, melirik Sakura yang berjalan di sampingnya. Tangan keduanya berpaut.

Ini adalah kenyataan! Sasuke yakin akan itu, dan itu membuatnya tersenyum senang. Sakura mencintainya. Untung saja semuanya terungkap sebelum Ia benar-benar mundur dari masalah percintaannya. Airmata itu, Sasuke berjanji tidak akan pernah mau melihatnya lagi, gadis miliknya ini harus tersenyum. Bagaimanapun caranya! Ya, apapun itu.

"Sakura!"

"Ya?"

"Kau benar-benar mencintaiku, ya?"

Spontan langkah Sakura terhenti. Dengan wajah merona Ia mengangguk dalam.

Sasuke menyeringai. "Aku juga mencintaimu, apa kau tahu?" tanyanya, sembari mengangkat dagu Sakura.

Onyx dan emerald.

Sampai pada saat Sasuke memiringkan wajahnya, ingin mencium Sakura. Gadis itu menutup matanya. Namun . . .. . . .

CUP

Ciuman itu mendarat pada pipinya, dugaan si gadis salah. Dan Sasuke hanya menyeringai, menyentil jidat Sakura. "Apa yang kau harapkan nyonya Uchiha?"

Dan Sakura menggeleng gugup dengan wajah merah akut.

"Ciuman, heh!" dan tanpa diduga, Sasuke menariknya paksa dan menciumnya tepat di bibir.

Bukankah perjodohan ini adalah takdir rumit yang berakhir indah, heh? Semoga saja tidak ada yang tersakiti disini. Ya, semoga.

THE END

Bangga waktu nulis bagian 'THE END' berasa dicabut paku -lukatakuntilanak- OK! Maaf untuk ending yang GJ itu, tapi apa boleh buat –nebas author- saya awalnya, malas melanjutkan ini. Apalagi saya habis kehilangan laptop saya yang di bawa (BACA: ) oleh BAKA aniki. Dengan tabungan saya, akhirnya saya harus merogoh kantong lagi untuk membeli sebuah netbook. Awas kau aniki! –mukadendam-

Maaf jadi curcol –nyengir-disepak-

Dan terimakasih untuk yang setia pada fict saya yang satu ini, padahal saya tahu jika ini masih banyak kekurangannya. Terimakasih ya semua-BIGHUG-

Terimakasih untuk yang RnR, jenguk-?-, dan juga para silents reader sekalian.

Tunggu fanfict multhichap yang lain updet dengan sabar ya!

See you guys